Tuesday, February 28, 2017

Bertemu Kembali Dengan Galih dan Ratna, Ketika Masa Lalu Bersentuhan Dengan Masa Sekarang

Sebelum Rangga dan Cinta dipisahkan oleh bandara, ada Galih dan Ratna yang dipisahkan oleh stasiun.
Galih dan Ratna, pasangan iconic dari perfilman Indonesia. Mereka muncul di film Gita Cinta Dari SMA yang tayang tahun 1979 lalu. Karakter ini melekat banget pada sosok Rano Karno dan Yessy Gusman. Hampir empat puluh tahun berlalu, Galih dan Ratna muncul kembali. Di era modern, tapi tetap berpegang pada cinta mereka.

Galih & Ratna Versi Millennials


Ketika tahu Galih & Ratna akan difilmin lagi, penasaran dengan interpretasi yang akan dilakukan oleh Lucky Kuswani. Sempat kepikiran kalau ini kayak film remake biasa. Untunglah Lucky menghadirkan sesuatu yang baru, tapi tetap membawa esensi dasar dari Galih dan Ratna itu sendiri.
Di Gita Cinta Dari SMA, konflik Galih dan Ratna disebabkan oleh ayah Ratna. Sementara Galih dan Ratna versi modern punya konflik lain. Iya di sini kita enggak akan ketemu dengan konflik beda suku antara Galih dan Ratna dan perjodohan yang menghalangi mereka buat bersatu. Konflik antara Galih dan Ratna juga enggak jadi cetek, dengan hadirnya orang ketiga, maybe?
No, it’s more than that. Passion and dream, we talk about that. Latar belakang keluarga Galih lebih digali lagi, dan di sanalah dua hal ini terasa jelas. Juga pada Ratna. Maybe we see ourself in Ratna. Bertemu orang lain yang tiba-tiba nyadarin kita passion kita di mana dan membuka mata kita untuk menjalani passion itu. Mungkin juga kita seperti Ratna, ketika tahu akhirnya ingin menjadi apa, tapi enggak didukung oleh keluarga. Menurut gue ini masalah yang enggak akan pernah basi, terutama di masa sekarang. Ketika gap antara generasi orang tua dan generasi kita masih besar. Apa yang dilihat orangtua dan apa yang kita lihat terkait masa depan kita itu berbeda banget. Contohnya Ratna dan Galih yang enggak bisa dipisahkan dengan musik. Sayang, di mata orang tua mereka, musik enggak bisa ngasih makan.
Ketika premier film ini, ada kalimat Lucky Kuswandi yang nempel banget di benak gue. “Semoga banyak remaja yang berakhir seperti Ratna, dan semakin sedikit yang menjadi seperti Galih.” Ratna, yang memperjuangkan mimpinya. Dan Galih, yang terhalang realita sehingga harus mengubur mimpinya.
I remember that day, when I asked my mom, like what Galih did. “Pernah enggak, Bu, sekali aja dalam pikiran ibu terlintas aku itu maunya apa?” Memang enggak sefrontal Galih, tapi gue pernah mempertanyakan hal yang sama.
“Pernah enggak, Ma, Mama ngelihat apa yang aku jalanin sekarang dari sudut pandang aku? Mencoba buat paham soal kerjaan yang aku jalani sekarang?”

Indahnya Cinta Pertama


First love does matter. Memang, sih, semua yang pertama itu terasa spesial. Begitu juga dengan cinta pertama. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, yakin, deh, urusan cinta pertama bakalan selalu teringat. I do remember my first love. My senior in high school, when I watched him from window or cheer for him when he played basketball. Momen-momen yang kadang mendatangkan senyum ketika tiba-tiba teringat cinta pertama ini.
Menonton Galih dan Ratna memberi efek cinta pertama. Terlebih buat kita-kita in mid 20s – almost 30 ini. Cerita cinta anak SMA yang penuh semangat, dengan hal-hal manis yang dirasakan oleh anak remaja. Sepanjang menonton, gue enggak henti-hentinya tersenyum. Selain karena Refal yang ganteng banget, juga karena sepanjang film feel-nya adalah mengajak kita buat nge-recall kembali momen-momen cinta pertama dulu.

Hidup Dalam Pita Kaset


Film ini berusaha menggabungkan masa lalu dan masa sekarang. The millennials Galih and Ratna. Unsur masa lalu dimunculkan lewat Nada Musik dan kaset-kaset lama yang mulai terlupakan. Masa sekarang diwakilkan oleh tokoh-tokohnya. Kedua masa ini kemudian saling beririsan lewat Galih dan Ratna. Kaset yang mulai terlupakan tapi dibawa kembali ke permukaan oleh Galih.
Jujur saja, gue suka dengan ide menghadirkan kaset ini. Bahkan filosofi kaset Galih itu nempel banget di otak gue. Karena hidup itu seharusnya seperti kaset. Butuh proses untuk sampai ke lagu favorit kita dan ketika akhirnya sampai di lagu favorit, otomatis kita akan merasa senang banget. Dalam hidup juga kayak gitu. Butuh proses sampai akhirnya kita bisa meraih yang selama ini diimpi-impikan dan ketika berhasil, pasti bakalan senang banget.
Dan Ratna. “Kalau bisa menghindari hal yang enggak enak, kenapa enggak?”
Dan well, gue setuju dengan Galih. “Kadang kita butuh ngerasain yang enggak enak dulu buat tahu enak itu kayak apa.”
Enggak persis banget sih, tapi kurang lebih kayak gitu.
Dan di sinilah salah satu keunggulan film ini. Story telling yang dihadirkan Lucky terjalin dari awal hingga akhir, dan kita enggak akan merasa bosan didongengin oleh Galih dan Ratna.
Kehadiran kaset ini bukan sekadar tempelan. Banyak filosofi yang dihadirkan dalam kaset. Seakan menampar kita, dengan semua kemudahan yang kita rasakan saat ini, kadang kita lupa menikmati momen. Dan momen itu ada hanya untuk satu saat itu saja, seperti kaset yang di-protect dan enggak bisa direkam ulang, momen berharga kadang memang enggak bisa diulang. Kita cuma bisa memutarnya di kepala dan untuk bisa memutarnya di kepala, tentu kita harus menikmati momen itu.
Living in the moment, ini yang kadang mulai kita lupain, termasuk gue. Thanks to Galih for remind me biar gue mulai benar-benar menikmati momen.

Bonus: Hati Menggigil Oleh Refal Hady


I know him when Ika Natassa announce who will be Harris Risjad. Sosok yang selalu jadi pertanyaan semenjak kabar kalau Critical Eleven akan difilmin. Later that I know kalau dia yang akan jadi Galih. Well, I know Galih & Ratna lagi dibikin ulang tapi enggak pernah pay attention sama dia. Dan ketika mulai ngepoin siapa ini si Harris—dan wajahnya yang tengil emang Harris banget—siap-siap aja, deh, terjebak pesonanya Refal.
Sebelum menonton Galih & Ratna, sempat diingetin sama teman. “Semoga dia enggak bikin lo drop ya mbak. Kayak si RK itu, ganteng sih tapi aktingnya bikin…” Yeah well, RK si cowok ganteng tapi aktingnya bikin gue pengin berkata-kata…
Anyway, untunglah Refal enggak bikin gue drop. Ini film pertama doi, dan di beberapa scene terlihat kalau dia masih struggling sama ekspresinya. But so far oke lah, lumayan meski kadang ekspresinya masih harus dipertanyakan. Situ lagi mikir apa sedih, mas? He-he. Sekarang jadi enggak sabar menunggu Mei, karena ketika melihat Refal waktu interview kemarin, I see Harris in him. Semoga dia pas memerankan Harris, mengingat Harris is one of my favorite character.

Bonus 2: Soundtrack-nya Gokil Parah
UNTUK MUSIC DIRECTOR FILM INI, GUE ACUNGIN EMPAT JEMPOL *dua minjem jempol teman*
Kalau ada bagian yang bikin gue puas banget sama film ini, itu adalah soundtrack-nya. 10 out of 10 lah. GAC bisa membawakan Galih & Ratna yang fenomenal itu dengan sentuhan kekinian dan tetap asyik. Tapi, bukan cuma mereka aja yang menonjol. Lagu-lagu lain di film ini juga keren.
Rendy Pandugo. Man, itu adegan ketika lagu Hampir Sempurna ini diputar benar-benar pas. Ditambah dengan adegan yang agak slow, makin terasa syahdu dengan iringan suara Rendy.
Lagu lain juga keren. Ada White Shoes & The Couples Company yang sukses bikin senyum sendiri karena ingat masa muda. Agustin Oendary dan Ivan Gojaya juga keren banget. Now I ask you to go to Spotify, search for Galih & Ratna playlist and listen to it while you sip your tea. Perfect!



Jadi, selamat kembali merasakan indahnya cinta pertama bersama Galih dan Ratna.
XOXO
Iif

*Promo colongan*

Jangan lupa mampir ke cewekbanget.id yak dan baca alasan kenapa Galih itu cocok banget jadi pacar idaman di sini. Juga bisa kenalan dan dibikin menggigil hatinya sama Refal Hady kalau masuk ke artikelini.

Sunday, February 26, 2017

Boots and Books: Two Things That I Can't Live Without


Boots and Books

There are two things that I can’t say no. A pair of boots and good books.
Setiap orang punya mood booster masing-masing. Kalau buat gue, salah satu mood booster itu sepatu yang kece dan nyaman. Kalau misal ada liputan atau kerjaan yang mengharuskan ke luar kantor, I will wear my favorite shoes. Jadi gue yakin bisa nge-handle macet, panas, gerah, dan segala hal yang punya tendensi buat bikin mood drop.
Ngomongin sepatu, sebagian besar sepatu gue adalah boots. Dari ankle boots sampai knee length boots, ada. Sisanya satu high heels buat kondangan dan satu chunky heels. Sejujurnya gue lupa kapan pertama kali suka pakai boots. Boots pertama yang gue beli itu ankle boots tanpa heels warna abu-abu. Beli pake duit hasil kerja magang. Barang mahal pertama yang dibeli (500rb kalau enggak salah) dan berasa keren banget tuh pas pakai itu sepatu ke kampus. Later that I know, kalau ke toko sepatu, selalu ngeliriknya boots.
Sekarang ada dua boots favorit gue. Knee length boots selutut dengan aksen tali warna hitam dan heels lumayan tinggi. Ini sepatu andalan kalau nonton konser. Secara gue tingginya terbatas, jadi butuh bantuan biar bisa leluasa melihat ke arah stage. Dan boots ini ngebantu banget. Sebenarnya beli ini juga enggak sengaja. Waktu itu lagi di H&M dan pas bayar, ada mbak-mbak di kasir sebelah membeli boots hitam sepaha yang keren parah. Curi dengar, boots itu lagi diskon. Dari sekitar hampir sejuta cuma jadi 250. Yang tadinya mau balik eh malah tergoda buat ke tempat sepatu. Dan ketemulah si boots ini. Mau tahu harganya? Dari 750 ribu jadi 150 saja, he-he-he. Kebetulan knee length boots yang punya kulitnya sudah mulai mengelupas so I think I need new shoes.




And this is my second favorite. Belinya lagi-lagi enggak sengaja dan tergoda diskon yang luar biasa. Waktu itu lagi jalan dadakan sama Ira (iya, dadakan, karena Ira ngajaknya udah jam 6 sore) dan di Zara ketemulah boots ini. Awalnya Ira yang nyoba tapi penasaran dan ikutan nyoba. Tapi kok bagus? Dan enak aja di kaki meski tinggi? Udah gitu diskonnya gila banget. Dari 1.5 juta jadi 400 ribu doang? Kapan lagi, ya, kan? Jadilah, tanpa basa basi, I bought that boots.




And now, the question is, why I love boots so much? Setelah sering beli boots, gue mulai menyadari kenapa gue suka boots. Pertama tentu saja karena dipakainya enak dan bisa memberi ilusi sedikit lebih tinggi. Kaki jadi terlindungi. Karena boots terlihat cantik tapi tough. Somehow boots terlihat feminin, but in other time ya manly juga. Perpaduan yang pas. Namun yang gue pahami, boots meningkatkan self confidence gue.
Years ago, mungkin gue enggak bakalan pede memakai something yang draw other people’s attention. Dan boots, itu draw attention banget. Terlebih knee length boots, ya. Omongan ‘lagi banjir mbak?’ or ‘ini Indonesia mbak. Enggak salah pakai gituan?’ or ‘minjem sepatu tukang bangunan ya mbak?’ itu udah sering banget gue denger. Awalnya mikir ‘apa sih ini orang norak banget’ tapi lama-lama jadi ‘yeah well, whatever’. Perlahan-lahan, gue mulai belajar yang namanya i-don’t-care attitude karena ya enggak semua orang omongannya harus didengerin. Sama halnya seperti lisptik (readabout that here), boots also improves my self esteem. Sepatu itu bikin gue pede dan dengan gue merasakan hal itu, gue yakin kalau hari gue akan berlangsung baik-baik saja.
I am as simple as that.
So, that’s why I love boots.




And now, it’s time to talk about another B. Books. B-O-O-K-S. Harus pakai ‘s’ karena gue yakin gue enggak bakal puas hanya dengan satu buku. Satu tempat yang langsung gue tuju begitu habis gajian adalah toko buku. Thanks to my company id card, diskon di Gramedia bikin gue makin kalap, he-he.
Gue sudah suka membaca sejak kecil. Malah, di keluarga atau teman-teman sepantaran gue termasuk yang paling cepat bisa baca. Dulu, gue suka baca karena enggak ada hiburan lain di rumah, mengingat waktu kecil TV suka bermasalah. Makin gede gue udah jatuh cinta sama buku. Gue bisa berubah jadi dingin sama teman yang memperlakukan buku semena-mena, seperti melipat buat tanda lagi baca sampai mana, membaca sambil bagian depan dilipat ke belakang, dicoret-coret dan tindakan kejam lainnya. Gue bisa berubah jadi super annoying kalau buku yang pas gue pinjemin dalam keadaan bagus, mulus tanpa lipatan tapi pas dibalikin dalam keadaan hancur. Gue bisa berubah jadi lebih cerewet dari rentenir kalau minjemnya kelamaan dan enggak dibalikin.
Bagi gue, buku itu sesuatu yang holly. No wonder gue memperlakukannya dengan sangat hati-hati. Gue sampulin, gue taroh di rak yang disusun rapi, pas baca juga diusahain enggak kena makanan dan pas disimpan di dalam tas juga diusahain biar enggak kelipet. Dengan semua usaha itu, wajar dong kalau gue berharap yang minjam juga memperlakukannya sama?
Okay, enough with my rant.
Setiap bulannya, gue pasti ke toko buku. Dulu kakak gue sempat bercanda, ‘udah beli buku, pasti udah dikirimin mama uang jajan,’ pas masih kuliah dulu. Sampai sekarang terus terbiasa. Itu baru yang rutin. Yang enggak rutin dan dadakan, sih, enggak bisa dihitung pakai jari. Bahkan, pas lagi bokek aja, tahu-tahu udah order e-book, he-he (untuk urusan buku gue anti bajakan soalnya).



Koleksi gue memang didominasi oleh romance. Terserah apa kata book snob yang suka mandang remeh novel populer, tapi novel populer itu juga dihasilkan dengan kerja keras. Enggak cuma bengong depan laptop trus langsung jadi. So, sorry-sorry aja kalau gue enggak setuju dengan mereka yang so-called-bookish tapi memandang sebelah mata novel populer. Karena bookish sejati tentunya enggak pilih-pilih buku. Dia pembaca segala, karena dari setiap buku, pasti ada something positive yang bisa didapat.
Dan juga, buku itu urusan selera. Enggak ada buku yang jelek menurut gue, dan yang bisa kita komentari adalah hal teknis. Selain baca, gue emang suka review. Jadi ingat kata Puput kalau gue ngereview rada kejam. My defensive side said, gue cuma pengin jujur aja, kok, he-he.
Kalau boots ada hubungannya dengan percaya diri, maka books ada hubungannya dengan perspektif. Banyak membaca pastinya bikin wawasan kita makin luas, bikin kita terbiasa memandang sesuatu dari banyak perspektif, jadi ini tentunya akan mempengaruhi kita dalam bertindak di dunia nyata. Membaca membuka wawasan gue sehingga Alhamdulillah, gue bisa terhindar dari kemungkinan punya pemikiran yang sempit dan picik. Terlebih di saat sekarang, di saat kita harus kritis dan enggak gampang termakan emosi lalu tiba-tiba mengeluarkan komentar bodoh (yang mana sekarang banyak banget yang kayak gini). Dengan adanya buku, at least gue sadar kalau dunia ini luas dan ada banyak beragam orang tinggal di dalamnya.
Oh, sebagai seorang penulis in my daily life, tentu membaca jadi sebuah keharusan.
That’s why I think that I can’t live without boots and books. Because I need something to makes me feel confident and broaden my horizon.

And you, what is the most important thing in your life?