Pages

Free Personal signatures - cool!

TEXTAREA_ID

Easy management

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean.

Read more
image01

Revolution

A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth.

Read more
image01

Warm welcome

When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane.

Read more
image01

Quality Control

Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar.

Read more
image01

Thursday, March 26, 2015

Joy, Please Stay

Joy, Please Stay
Oleh Ifnur Hikmah



Joy, Joy, please stay
I will give you all my heart and soul and everything
Joy, Joy, please stay
I know it’s hard but I will try to understand that you just wanna do the right thing
But deep in my heart I will always hope you to stay with me
Joy, Joy, please stay
**

The Barfly, 49 Chalk Farm Road, Camden Town, London. Saturday, March 28th, 2015. 23:03
Masih ada satu jam menjelang pergantian hari.
Happy birthday, Louis. I hope you’ll have a wonderful year ahead.
Aku mengangkat gelas berisi bir itu tinggi-tinggi, menganggukkan kepala ke sekeliling ruangan, meski tidak ada seorang pun yang kukenal. Permohonan yang sederhana, tapi hanya bisa kuucapkan seorang diri. Aku tidak tahu, apakah udara pekat di pub ini bisa mengantarkan permohonanku kepada Louis yang entah di mana sekarang.
Setidaknya, di dalam pub yang penuh sesak oleh orang-orang dan raungan gitar yang makin memekakkan telingaini, aku bisa merasakan kehadirannya. Aku bisa menatap foto dirinya berada di bawah sorotan lampu sambil memegang gitar dan urat-urat bertonjolan di dahinya saat dia menggapai nada tinggi sewaktu foto itu diambil.
Juga, dari alunan lagu yang tengah dimainkan The Average Boys di atas stage. Lagu yang dulu dinyanyikan Louis di hadapanku saat aku memutuskan pergi dari hidupnya. Lagu yang kemudian melambungkan nama Louis dan membuatku terkenal sebagai Joy the Heartbreaker.
Joy, Joy, please stay.
Setelah gelas ke sekian, aku merasa Louis-lah yang menyanyikan lagu itu. Tepat di hadapanku. Memohon agar aku tetap tinggal.
Aku menutup mata. Berharap ketika membuka mata, dia benar-benar ada di depanku. Dengan cengiran lebar khasnya.
Namun, aku tahu, harapan itu tidak akan mungkin terkabul.
**

Joy, Joy, please stay…
Sebut aku bodoh karena terus memutar lagu tersebut di sepanjang Chalk Farm Road. Aku tahu, seharusnya aku mematikan lagu itu. Namun, aku tidak bisa berpisah dari Louis. Untuk saat ini, hanya suaranya yang kumiliki.
Dan, hanya lagu itu satu-satunya cara agar aku bisa mendengar dia memanggil namaku.
Joy, Joy, please stay.
Dan memintaku untuk tinggal.
Aku merapatkan jaket yang kupakai. Udara malam Camden terasa menusuk kulit. Satu lagi kebodohan yang kulakukan—berjalan tak tahu arah di bawah pengaruh alkohol yang membuat kepalaku terasa berat di saat seharusnya aku beristirahat untuk mengejar penerbangan pukul enam pagi ke New York. Namun, aku tetap bertahan di sini. Menelusuri jalan yang dulu kujelajahi dengan tanganku berada di genggaman Louis.
Camden Lock Market terpampang di hadapanku. Malam ini, pasar itu masih ramai. Langkahku menuju ke sana. Teringat dulu aku dan Louis sering berada di sana. Selalu saja ada barang unik yang kami temukan di sana—penjual baju bekas yang menawarkan pakaian murah, koleksi piringan hitam atau CD penyanyi kesukaan Louis, pelukis jalanan yang melukis kami, dan makanan. Ada banyak penjual makanan yang dulu selalu mengisi perutku dan Louis.
Pasar itu ramai, tapi aku merasa sepi. Sepi yang selalu menghantuiku semenjak aku memutuskan untuk mengakhiri semua yang sudah kujalani bersama Louis selama lima tahun terakhir demi impian yang ingin kuraih.
Aku berhenti di depan penjual kopi. Aku tahu, seharusnya aku tidak menambah beban kepalaku dengan kafein. Namun, aku butuh sesuatu untuk mengembalikan kehangatan yang sudah hilang semenjak aku meninggalkan Louis dua tahun lalu.
**

Louis tengah memainkan gitarnya di The Barfly. Dia akan tampil sebentar lagi. Untuk ukuran pub lokal, The Barfly sangat terkenal—terutama bagi para calon musisi yang berharap bernasib sama seperti Blur, Oasis, atau Coldplay yang mengawali karier di sini. Termasuk, Louis. Dia berharap pub ini bisa melemparkannya ke panggung besar di O2 Arena.
Menemani Louis selalu terasa menyenangkan. Dia dengan gitarnya, dan aku bersama buku gambarku. Aku akan menggambar apa saja, tapi seringnya aku melukis para pengunjung pub. Aku juga melukis Louis. Sudah tidak terhitung berapa banyak lukisan Louis terpampang di flat sederhana yang kami sewa bersama.
Namun malam itu, ada sesuatu mengganjal benakku. Selembar kertas berisi pemberitahuan aku menerima beasiswa di New York. Aku punya dua pilihan; terima atau tolak—setiap pilihan pasti akan menyakitiku atau Louis.
“It’s my turn.”
Aku mendongak dan tersenyum mengiringi kepergian Louis menuju panggung. Aku terdiam cukup lama, merekam semua momen itu ke dalam benakku.
Entahlah. Malam itu aku merasa aku akan menyakitinya.
**


Aku melakukannya. Menyakiti Louis.
Gig itu sukses. Louis bahkan menerima beberapa tawaran untuk tampil di pub lain di London. Dia terlihat sangat bersemangat saat kami berjalan menelusuri Chalk Farm Road. Gitarnya ikut terayun seiring langkah kakinya.
Cuaca malam Camden menusuk tulang. Louis menggenggam tanganku dan menyimpannya ke dalam saku coat yang dikenakannya.
“Sudah lebih hangat, kan?”
Aku mengangguk. Sementara satu tanganku berada di dalam saku coat Louis, tanganku yang lain sibuk memainkan selembar kertas di dalam saku jaketku. Kertas itu terasa berat, tapi cepat atau lambat, aku harus membawanya ke hadapan Louis.
Begitulah. Aku berhenti di depan sebuah barbershop. Louis menatapku heran saat aku mendadak berhenti.
“Ada apa, Joy?”
“Aku…” aku tergagap. “Aku menerima beasiswa di New York.”
Louis tahu betapa aku ingin menjadi seorang pelukis. Betapa aku menginginkan kesempatan ini. Namun saat itu, aku melihat sebaris luka di wajahnya.
**

Pada akhirnya, aku meninggalkannya. Ketika mengepak barang-barangku, dia menyanyikan lagu itu, untuk pertama kalinya.
Joy, Joy, please stay.
Aku menulikan telinga karena aku yakin lagu itu bisa mengubah pendirianku jika terus mendengarnya.
I’m sorry, Joy. Aku enggak bermaksud membebanimu,” Louis memelukku. “Creativity is great. Dan, kepergianmu membuatku berhasil memecahkan rekor membuat lagu dalam waktu sepuluh menit.” Louis menyengir lebar, tapi aku tahu hatinya merasa sakit. “Pergilah. It’s your dream. Bukankah kita sudah berjanji akan menggapai mimpi masing-masing?”
Aku mengangguk pelan. “I know it’s hard but in the end I understand that you just wanna do the right thing,” bisiknya.
**

Aku merapatkan jaket dan memeluk tubuhku sendiri untuk mengusir rasa dingin. Aku menangadah, menatap langit gelap di atasku ketika aku kembali berada di The Barfly. Louis sudah selesai menyanyikan Joy, Please Stay dan keheningan menyergapku.
Aku mengeluarkan iPod dan kembali memutar lagu itu. Perlahan, aku membuka pintu The Barfly dan disambut oleh foto Louis.
Aku tidak tahu di mana dia. Namun aku tahu, seperti diriku, dia juga sudah berhasil menggapai impiannya.
***



Salah satu tokoh yang menarik perhatianku adalah Tyrion Lannister. Selain keadaan fisiknya yang langsung menarik perhatian, aku mengagumi karakternya yang ambisius. Sepertinya, di antara semua keluarga Lannister, hanya Tyrion yang bisa diajak kompromi. Di balik kekurangan fisiknya, dia punya banyak akal, strategi dan kecerdasan untuk bertahan di tengah konflik yang terjadi di Westeros, termasuk saat menjadi Hand of the King dan menghadapi King Joffrey Baratheon yang semena-mena.

Wednesday, March 4, 2015

[random though] Cowok-Cowok Yang Sukses Bikin Delusional

Cowok-Cowok Yang Sukses Bikin Delusional

Berawal dari pembahasan di saat rapat tentang tipe cowok ideal. Jadi ingat waktu masih remaja dulu, gue sempat berada di masa harus banget punya daftar-cowok-ideal. Kebiasaan ini berlanjut sampai kuliah. Ketika diteliti lagi, tipe ini pun berubah seiring dengan pertambahan usia dan pengalaman. Ya, samalah kayak baca wawancara seleb tentang cewek/cowok idolanya ketika dia berumur belasan, early 20s, dan masuk ke usia matang. Terlihat dengan jelas perubahan itu, kan?
By the way, inti tulisan ini bukan tentang menggambarkan seperti apa, sih, tipe cowok ideal gue sekarang? Karena jujur, ini pertanyaan yang susahnya ngalahin SPMB, haha. Maksudnya, beranjak dewasa, wajar, kan, kalau suka kesulitan mendefinisikan seperti apa tipe cowok ideal itu?
Back to topic.
Gue suka nonton. Film, serial, Korea, Jepang, Inggris, Hollywood, bahkan sesekali iseng nonton serial Australia. Selain jalan cerita, tentunya gue juga merhatiin cowok-cowok di sana. Dan, ketika rapat ngebahas tipe cowok ideal, gue jadi ingat cowok-cowok yang gue temuin di layar tv (dan layar laptop) ini. Betapa mereka digambarkan sedemikian rupa sehingga membuat kita, para penonton, jadi gampang delusional. Balik lagi ke masa dulu, jadi ingat kalau tipe cowok ideal juga dipengaruhi oleh mereka-mereka ini (Hello Dawson, hehe).
Mumpung lagi iseng, pengin mendaftar beberapa cowok yang bikin delusional dan mempengaruhi tipe ideal. Biar enggak banyak, dibatasi di beberapa cowok yang baru nongol 1-2 tahun terakhir atau serial lama tapi masih berlanjut sampai sekarang.
1. Spencer Reid

Spencer adalah cowok yang menyita perhatian di Criminal Minds. Terlepas dari kasus-kasusnya yang bikin merinding, kehadiran Spencer serasa angin segar. Yang bikin delusional adalah otaknya. Gila, ini orang kan jenius banget. Sampai sekarang, cowok ideal gue maunya sih yang cerdas. Meski enggak sejenius Spencer ya, secara susah banget nyari cowok sejenius ini. Dan, Spencer itu setia kawan. Contohnya, betapa dia peduli banget sama JJ. Meski dia aneh, punya dunia sendiri sebagai konsekwensi dari kejeniusannya itu, justru itulah yang bikin gue makin suka sama Spencer Reid. Jika orang-orang menunggu kasus kriminal apa lagi, nih, yang bakal dibahas, gue malah penasaran dengan hal absurd apa lagi yang bakal disajikan Spencer?

2. Mac Taylor

Butuh pria matang, dewasa, cakep, bijaksana, selalu berpikiran logis, teliti, dan tegas, tapi di sisi lain bisa diajak having fun dan main bass di bar jazz? Semuanya ada di sosok Mac Taylor. Setiap kali melihat Mac nongol di CSI: New York, bawaannya tuh adem. Gue memang suka sama Horatio yang seksi, tapi ada sesuatu di sosok Mac Taylor yang bikin kita betah lama-lama di dekat dia. Gue sering ngebayangin berada di dekat Mac Taylor dan dilindungi oleh aura kebapakan yang dipancarkannya. Sosok pria matang dewasa, maka lihatlah Mac Taylor.

3. Healer aka Park Bong Soo aka Seo Jung Hoo

Gue baru kelar nonton Healer. Setelah sekian lama enggak suka banget sama satu tokoh di drama Korea, akhirnya ada satu sosok yang bikin gue kesengsem. Gue jatuh cinta sama Seo Jung Hoo atau Park Bong Soo atau Healer, bukan sama Ji Chang Wook. Bagi gue, sosok ini tuh paket lengkap. Kita akan merasa aman, bahkan ketika harus keluar rumah tengah malam sekalipun karena ada Healer yang siap mengawasi. Kita akan merasa simpati dan pengin melindunginya ketika dia menjadi Seo Jung Hoo yang punya masa lalu kelam. Dan di sisi lain, kita akan dibuat ketawa oleh awkward-nya Bong Soo. Jika selama ini ada aja sosok hero di drama Korea yang bikin gue jadi enggak suka, maka dia pengecualian. Welcome to my delusional world, haha.

4. Do Min Joon

Simply, because he’s an alien. I have a thing for alien or someone from the future or someone from the past. Ya, yang aneh-aneh gitulah. Dan karena Do Min Joon ini alien, itu sudah cukup jadi alasan kenapa gue sampai delusional pengin punya pacar kayak dia. Kebayangnya diajak tinggal di planet lain, hehe. Urusan bisa atau enggak tinggal di planet lain, enggak usah dipikirin. Namanya juga ngayal babu, haha.

5. Jang Jae Yeol

Jo In Sung emang cakep. Enough said. Tapi, fakta kalau dia punya teman khayalan bikin gue gregetan. Gue yakin bisa nyambung ngomong sama dia, karena kita pernah sama-sama punya teman khayalan. Dan satu lagi, dia penulis. Penulis pastinya rajin baca buku. Itu cukup jadi alasan kenapa Jang Jae Yeol bikin delusional.

6. Augustus Waters

Witty, smart, perhatian, funny, absurd. Oke, itu cukup jadi alasan kenapa Augustus Waters jadi cowok idaman semua orang. Jarang-jarang ada cowok remaja yang bikin gue naksir (hanya dua, Augustus dan Etienne st. Clair). Sayang, umurnya Augustus pendek, hiks. Gue ingat banget masih nangis dua hari setelah selesai baca TFIOS karena enggak rela pisah sama Augustus. I do, Augustus. I do.


So far enam dulu. Mungkin nanti, kalau ketemu lagi, bisa kita bikin part 2. Dan, siapa cowok yang berhasil bikin kamu delusional?

Monday, March 2, 2015

#JualBuku

Jual Buku

Yup, sudah saatnya beres-beres lemari dan mengurangi timbunan buku. Kalau ada yang berminat bisa email ke ifnur_hikmah@yahoo.com atau sms/whatsapp ke 085692056645 ya.

Thanks
NB: yang dicoret berarti udah enggak ada lagi.

Judul Penulis Harga Keterangan
Divergent Veronica Roth 80000 Bahasa Inggris, cover film, segel
Anak-anak Ibrahim Imam Shamsi Ali 10000 nonfiksi
Bidadari Santa Monica Alexandra Leirisa Yunadi 20000
Lost & Found Sisca Spencer Hoky 20000
Beauty Sleep Amanda Inez 20000
Heart Attack (#1 Heartbreaker Series) Clara Canceriana 20000
1000 Muism Mengejar Bintang Charon 20000
Grey & Jingga Swetakartika 25000
Dramaturgi Dovima Faris Rachman Hussain 25000
Metamorforlove Nora Umres 20000
Hipster Dyahtri NW Astuti 20000
Fade In fade Out Wiwin Wintarto 25000
He Was Cool (1&2) Guiyeoni 50000 Korea, terjemahan
Litle Lady Big Apple Hester Browne 15000 terjemahan
Something Borrowed (Cinta Terpendam) Emily Giffin 15000 terjemahan
The Accidental Bestseller Wendy Wax 20000 terjemahan
Too Hot To Handle Robin Kaye 20000 terjemahan
Wallbanger Alice Clayton 20000 terjemahan
Jill & Jill Karen Ya,polsky 10000 terjemahan
Practice Makes Perfect Julie James 20000 terjemahan
Just The Way You Are barbara Freethy 20000 terjemahan
4 Blondes Candace Bushnell 10000 terjemahan
Just The Sexiest Man Alive Julie James 20000 terjemahan
you're the one that I don't want alexandra Potter 20000 terjemahan
sweet misfortune kevin alan milne 20000 terjemahan
baby proof Emily Giffin 20000 terjemahan
the nine lessons kevin alan milne 20000 terjemahan
kleting kuning maria a sardjono 10000
keep holding on susane colasanti 20000 terjemahan
red riding hood blakley Cartwright/Johnson 20000 terjemahan, cover film
being 20 something is hard dewi pravitasari 20000
prelude (festival series) sam umar 20000
XX AR Arisandi 20000
writer vs editor  ria n badaria 20000
de buron maria jaclyn 10000
four season in belgium fanny hartanti 10000
and baby makes two dyan sheldon 10000 terjemahan
my friends my dream ken terate 10000
the devil loves cinnamon ima marsczha 10000
3600 detik charon 10000
seperti bintang regina feby 10000
between you and me julia clarke 10000 terjemahan
sparkle eve shi 20000
love you anyway alamanda hindersah 20000

Jessica & Jonah: Es Krim

Jessica & Jonah: Es Krim

Note: Cerita ini terinspirasi dari promotional picture Baskin Robbins Korea versi Jonghyun.
Note 2: Tokoh Jessica & Jonah merupakan pasangan yang ada di salah satu draft yang aku tulis sekarang (untuk sementara judulnya Jessica & Victoria). Karena males nyari tokoh baru, dan masih dalam rangka mendalami karakter untuk novel tersebut, jadi dipinjam saja.
Note 3: Udah lama enggak nulis flash fiction. Jadi harap maklum yak kalo absurd, hehe.

“Boom…!”
Teriakan itu menyambutku ketika membuka pintu apartemen di lantai 30 ini. Otomatis, teriakan itu membuatku memutar bola mata.
“Watch out…!”
Teriakan kedua yang berhasil membuatku melemparkan tawa tipis.
“Jong?” panggilku sambil membuka sepatu dan meletakkannya di rak sepatu di dekat pintu, lalu menggantinya dengan sandal rumah yang nyaman. Rasanya lega bisa mengistirahatkan kakiku setelah sehari penuh berjalan ke sana kemari menggunakan sepatu super tinggi ini.
“Di sini,” sahut sebuah suara dari dalam apartemen. “Arghh…”
“Kamu lagi ngapain, sih?” tanyaku seraya masuk ke dalam apartemen.
Ruang tamu itu kosong, tidak ada sosok Jonah di sana. Namun, aku masih mendengar gumaman-gumaman random dari arah dalam apartemen.
“Aku di sini Sica. Kamu ke… Agh… kok kebalik sih?”
Lagi-lagi aku memutar bola mata. Kalau Jonah sudah berkomentar random seperti itu, ini tandanya dia sedang asyik dengan dunianya sendiri.
Asyik dengan dunianya sendiri berarti…
“Jong, what are you doing?”
Aku berhenti di rak buku yang membatasi ruang tamu dengan ruang santai di apartemen Jonah. Pacarku itu sedang duduk bersila di atas karpet, dengan sendok tergantung di mulut, semangkuk es krim terletak di antara kedua pahanya, dan tatapan fokus ke sebuah benda beroda empat tidak jauh dari tempatnya duduk. Di sekelilingnya, bertebaran buku-buku yang sepertinya sengaja diletakkan di sana sebagai rintangan.
Jonah mengangkat wajahnya. Ketika matanya bersitatap denganku, dia menyengir lebar.
Sambil tetap menggigit sendok.
“Yess…!” Dan detik selanjutnya, dia kembali fokus pada mobil-mobilannya.
Kusandarkan tubuhku ke rak buku, sambil berpikir. Apa aku pacaran dengan cowok dua puluh tahun atau lima tahun? Karena yang ada di hadapanku ini sama sekali enggak cocok disebut sebagai cowok middle 20s. Kelakuannya enggak jauh beda dengan Lewis, keponakanku yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.
Sepanjang hari ini aku menghubungi Jonah dan dia memberitahuku kalau dia sedang sibuk. Memang, sih, tumben-tumbenan dia bisa berada di apartemen seharian, tidak bekerja, tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau sibuk versi Jonah adalah main mobil-mobilan.
Mungkin benar kata orang-orang. Selalu ada sisi kanak-kanak di diri setiap cowok.
“Kamu ngapain berdiri di sana?” tanya Jonah tanpa mengalihkan perhatian dari mobil-mobilan yang sekarang sedang mencoba menaiki sebuah tumpukan yang terdiri atas lima buku.
Aku menyeret tubuhku mendekati Jonah, lalu duduk di atas karpet di sampingnya. “Jadi kamu seharian main ginian?”
Lagi-lagi dia menyengir lebar—cengiran yang membuatku hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Kamu kayak bocah.”
Jonah melirikku dengan ujung matanya. “Daripada kamu ngomel-ngomel gitu, mending kamu ambil mobil-mobilan di sana,” ucapnya sambil menunjuk satu lemari penuh berisi koleksi mobil-mobilannya dengan menggunakan dagu. “Kita tanding. Oke?”
“He?”
Jonah mendecakkan lidahnya. “Relax, Sica. Mukamu itu kayak orang mau perang aja.” Dia terkikik.
“Lagi banyak kerjaan di kantor,” sahutku seraya memijit tengkuk. Dari jarak sedekat ini, aku bisa memperhatikan Jonah. Sebersit rasa iri muncul di hatiku ketika melihat betapa enaknya hidup Jonah.
Dia bekerja untuk dirinya sendiri. Dia melakukan pekerjaan yang disukainya. Dan ketika punya waktu luang sedikit, dia bisa bersenang-senang seperti ini. main mobil-mobilan sambil makan es krim.
Sedang aku? Bukannya aku tidak menyukai pekerjaanku. Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Hei, di usiaku yang baru 26 tahun, aku sudah jadi salah seorang produser yang diperhitungkan, gimana aku enggak bangga? Namun, aku tidak bisa santai seperti Jonah. Benar-benar memanfaatkan waktu luang untuk bersantai. Karena selama ini, meski di hari libur, otakku masih berkelana ke pekerjaan.
Jonah melirikku. Dengan isyarat dagu dia menunjuk lemari kaca di belakangku. “Ayo. Aku bosan, nih, main sendirian.”
Aku berdiri sambil tersenyum. Sebelum beranjak menuju lemari kaca, aku memperhatikan Jonah. Sosoknya tampak santai dengan kaos dan jins dan mobil-mobilan dan es krim. Namun, ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatku sangat bersyukur memiliki dia.
Karena Jonah selalu berhasil membuatku berpikir normal dan enggak dibuat gila oleh pikiran-pikiranku yang selalu mengkhawatirkan semua hal. Jonah selalu punya cara untuk membuatku bersantai di saat aku mulai dibuat gila oleh pekerjaan—meski dia seringkali tidak menyadaraninya.
Jonah selalu berhasil membuatku tetap waras.
“Sica…” gumamnya.
“Oke, oke,” sahutku sambil beranjak menuju lemari. “Tapi, aku mau es krim itu.”
Jonah mendongak dan memamerkan cengiran lebarnya. “Deal.”
Detik ini, bertambah satu alasan kenapa aku head over heels terhadap cowok ini.


Jong lagi main mobil-mobilan sambil makan es krim, hihi

Friday, February 20, 2015

#8 Audrey, Wait! By Robin Benway

Audrey, Wait!
Robin Benway



Audrey enggak pernah menyangka kalau putus dari Evan akan bikin dia terkenal. Terkenal di sini enggak hanya di sekolah, atau di kotanya, tapi di seluruh dunia. Yah, setidaknya di setiap sudut di dunia yang bisa menonton MTV dan ngecek internet. Semua karena Evan membuat lagu tentang Audrey yang mutusin dia dan seketika dia dilirik seorang produser dan bandnya jadi terkenal. Begitu juga lagu Audrey, Wait!
Akibatnya, Audrey ikut-ikutan terkenal. Ada yang jadi fans dia, ada juga yang jadi haters. Sampai-sampai banyak wartawan yang menelepon ke rumahnya, fans yang datang ke sekolah, dan paparazzi yang ngikutin Audrey waktu nge-date sama James. Belum lagi setelah itu dia datang ke konser the Lolita dan vokalisnya ngedeketin Audrey. Akhirnya, keadaan tambah parah ketika Simon Lolita berharap Audrey bisa menginspirasi dia plus manajer Lolita yang diam-diam ngerekam mereka pas lagi make out.
Bagi Audrey, sebuah lagu mengubah kehidupannya jadi sangat drastis. Namun, dia masih berusaha—atau setidaknya berharap hidupnya bisa kembali normal.
Mungkin, perasaan Audrey sama dengan perasaan yang dialami mantan-mantannya Taylor Swift, he-he.
Gue ngebayangin Do Gooders ini kayak 5 Seconds of Summer, band anak muda yang mendadak terkenal. Bayangin kalau Ashton atau Luke bikin lagu tentang pacar mereka, dengan nama si mantan sebagai judul, maka seperti itulah Audrey, Wait!
I love this novel. Meski sebenarnya agak lebay, sih, mengingat Audrey ini enggak ngapa-ngapain dan enggak ada andil apa-apa dalam terkenalnya Do Gooders. Selain fakta Evan minjem nama dia. That’s it. Lagipula, nama Audrey ini nama yang umumlah di Amerika, jadi ya enggak semasuk akal itu jika Audrey jadi terkenal banget. Dan ada banyak fans. Akan lebih masuk akal jika Audrey punya banyak haters yang tentunya berasal dari fans Do Gooders, terutama Evan. Tapi kalau fans? Hmm… enggak make sense. Mereka bilang terinspirasi dari Audrey? Hmm…. Audrey enggak ngapa-ngapain, cuma mutusin Evan. Jadi, kenapa bisa terinspirasi?
Awalnya, gue suka tokoh Audrey. Tapi lama-lama ini anak jadi gengges. Sibuk sendiri sama pikirannya yang diada-adain. Gimana dia pusiiiing banget mikirin pendapat orang lain tentang dia, padahal sebenarnya ngapain juga dipikirin? Gue suka dengan sahabat Audrey, Victoria. Mungkin Victoria terlihat seperti seorang teman yang berusaha memanfaatkan kesempatan. Tapi, Victoria Cuma berusaha untuk menikmati keadaan. Ucapannya yang bilang kalau Audrey jadi egois, self-sentris, dan mencoba untuk membuat semuanya kembali normal itu benar. Kenapa pula Audrey enggak mencoba untuk menerima kenyataan?
Intinya, sih, accepting.
Se-suck apa pun kenyataan, satu-satunya cara yang bisa kita lakukan toh cuma menerima, kan? Berdamai dengan kenyataan. Bukannya memusuhinya atau mencoba mengingkari kenyataan. Ujung-ujungnya pasti bakal bikin capek sendiri, seperti Audrey.
Ini, sih, inti paling penting yang gue tangkap dari novel ini. Menerima kenyataan dan mencoba berdamai, meski itu susah. Untunglah di akhir Audrey menerimanya.
Untuk hero, James lumayan ngegemesin, sih. James ini sama seperti Victoria, antitesisnya Audrey. Bedanya, jika Victoria mencoba menerima kenyataan dengan bersenang-senang, James menerima kenyataan dengan menjadikan kenyataan itu sebagai lelucon. Enggak ada yang lebih menyenangkan ketimbang menertawakan diri sendiri dan bercanda dengan kenyataan yang suck. James berhasil digambarkan sebagai cowok yang berhati besar—hei siapa, sih, yang tahan kehidupan gebetan lo jadi konsumsi semua orang? Walaupun ujung-ujungnya James sama seperti Victoria, capek dengan sifat self-sentris Audrey.
Tapiii… yang bikin betah baca novel ini terletak di narasinya. Aslik, lucuk. Kata-katanya tuh kekinian banget. Deksripsi kejadian juga kekinian bangetlah, khasnya anak muda gitu. Belum lagi karakter Audrey yang music-geek bener-bener gila musik. Dan James PDKT dengan ngasih mix tape? Di era digital seperti sekarang, sesuatu yang klasik kayak gini selalu sukses bikin mupeng.
Novelnya ringan banget. khas remaja bangetlah. Yah, gampangnya, bayangin 5SOS ketemu Taylor Swift, itulah Audrey, Wait.


Wednesday, February 11, 2015

#7 Stealing Parker by Miranda Kenneally

Stealing Parker
Miranda Kenneally



Parker Shelton punya hidup yang hampir sempurna. Valedictorian di sekolahnya. Cantik. Jago softball dan jadi andalan tim softball cewek di Hundred Oaks High School. Punya keluarga yang bahagia. Hampir keterima di Vanderbilt.
Namun semuanya berubah ketika ibunya came out sebagai lesbian dan cerai dari ayahnya untuk tinggal bareng pacarnya, Theresa. Keluarga Parker yang relijius dan rajin ke gereja, mendadak jadi bahan omongan di gereja. Ibu-ibu melarang anaknya main sama Parker karena takut anaknya ketularan Parker yang dicurigai bisa ngikutin jejak ibunya. Teman-teman orangtuanya di gereja berbalik membelakangi mereka. Dia dianggap sebagai anak seorang pendosa.
Saat Parker stres, teman baiknya, Laura, bitchy-ing her. Parker jadi enggak punya teman, bahkan dibully di tim softball sehingga terpaksa keluar. Kakaknya nge-drugs. Ayahnya berada di state denial karena menganggap semua baik-baik saja. Untuk membuktikan kalau dia enggak kayak ibunya, Parker jadi sering gonta ganti gebetan dan make out di depan umum.
Sampai akhirnya Parker kenalan dengan Brian, asisten pelatih tim baseball tempat Parker menjabat sebagai manajer. Brian yang sudah 23 tahun dianggap seksi dan dewasa di mata Parker. Namun, seiring dengan kedekatannya yang makin serius sama Brian, Parker jadi deg-degan berada di depan Will alias Corndog, kapten tim baseball, sekaligus salutatorian di sekolahnya. Di lain sisi, Parker jadi ragu dengan hubungannya dengan Brian.
Di saat semua masalahnya makin menumpuk, Parker selalu mempertanyakan di mana Tuhan saat dia benar-benar membutuhkannya?
Asli, baca novel ini bikin banjir air mata.
Sebenarnya, gue salah baca. Harusnya baca Catching Jordan dulu, buku pertama dari Hundred Oaks series. Tapi, gue terlanjur terhipnotis oleh kisah Parker. Dan… mau pamer dulu. Buku ini berhasil diselesaikan dalam waktu sehari. Plus, bacanya ebook. Jadi, meski mata perih, bukunya terlalu menarik untuk diistirahatkan.
Konfliknya rumit banget, untuk ukuran anak 18 tahun. Di saat hidupnya sempurna, suatu kenyataan membuat hidupnya hancur. Ditambah, enggak ada yang membantu karena semua orang sibuk judging mereka. Parker jadi marah sama hidupnya, bahkan sama gerejanya dan Tuhan, karena kenapa dia ditinggalkan sendiri?
Dan Laura. Asli, bitchy banget. Mantan sahabat baik yang berubah nge-bully Parker, semata karena akhirnya dia punya kesempatan untuk menunjukkan dirinya oke. Dari awal udah dikasih lihat kalau Laura tipe jealousy yang selalu iri sama temannya. Jadi, ketika ada celah buat menonjol, jadi deh ngebitchy. Tapi jatohnya malah ngeselin dan dibenci. Adegan favorit gue adalah ketika Parker teriak di koridor bilang kalau Laura Cuma iri dan enggak penting. Mampus lo, Laura. Haha.
Selain itu, romance-nya juga bikin gregetan. Makin ke belakang, makin susah nebak akhirnya Parker bakal sama Brian atau Will? Awalnya hubungan Parker dan Brian lucu-lucu unyu. Brian digambarkan sebagai sosok cowok dewasa yang ngertiin Parker dan ngemong. Tapi lama-lama jadi ngeselin dan kelihatan kalau dia cuma cowok childish yang menolak tua sehingga ketika dekat sama Parker, dia bisa keep up dengan jiwa mudanya. Kasian Parker diajak make out di truk Brian tanpa ada keberanian dari Brian untuk negasin hubungan mereka gimana. Di lain sisi, Parker terbuai dengan sosok Brian karena cowok dewasa di hidupnya, ayah dan kakaknya, sama-sama masih struggling dengan masalah mereka sehingga Parker pun mencari perhatian di luar.
Yang sama sekali enggak disangka-sangka itu Will atau lebih sering dipanggil Corndog. Dengan mudahnya dan enggak diduga sama sekali, Parker terbuka di depan Will dan bisa percaya cowok itu.
Selain cerita yang menarik, gaya menulisnya Miranda juga asyik untuk diikuti. ada bagian tulisan berisi curhatan Parker di sini (curhatan yang setiap kali habis ditulis sering dibakar atau dibuang sama Parker. Kadang dia menulis di kertas, serbet, atau di kertas apa pun). Nah, bagian ini nih yang bikin sedih. Ketika Parker mempertanyakan keberadaan Tuhan karena dia merasa ditinggalkan sendiri. sampai akhirnya, dia mendapatkan jawabannya.
It’s all about forgiving and accepting. Dua hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Namun, ketika sudah bisa melakukannya, perlahan, sedikit demi sedikit, permasalahan kita terurai dengan sendirinya.
That’s why I love this novel. Because Miranda taught me to learn to forgive someone and accep everything. forgiving and accepting. Easy to say but hard to do.

Sekarang, mari kita kembali ke buku pertama, Catching Jordan, yang konon kabarnya enggak seberat isu Parker. Sebenarnya ending CJ udah ketebak karena pasangan di novel itu jadi cameo di Stealing Parker. Namun tetap aja. Miranda caught my eyes with her sense of writing. Jadi, itu cukup jadi alasan kenapa novel-novel Miranda jangan dianggap enteng.

Monday, February 9, 2015

#6 Chasing Daisy by Paige Toon

Chasing Daisy
Paige Toon



Daisy bekerja sebagai in-front-house girl alias di bagian hospitality yang ngurusin catering dan makannya sebuah tim F1. Atau istilahnya bun tart. Karena pekerjaannya ini, Daisy bisa keliling dunia, ke negara tempat racing sedang berlangsung. Enggak ada yang tahu kalau sebenarnya Daisy ini anak orang kaya terkenal gitu, deh, di Amrik.
Karena pekerjaanya juga Daisy berkenalan dengan Will, salah seorang racer. Dan Luis Castro, second racer di tim itu yang dijuluki si anak ajaib karena di tahun pertamanya tampil di F1 udah memukau.
Daisy diam-diam mencintai Will. Seiring perjalanan waktu, Will juga menyukai dia. Mereka pacaran diam-diam karena Will udah punya pacar, Sarah, dan seluruh dunia tahu soal pasangan ini. Di sisi lain, Daisy terlibat hubungan benci-benci-butuh-tapi-lama-lama-cinta pada Luis.
Gue termasuk lama membaca novel ini. Setahunan ada kali. Awalnya karena pengin menulis novel Do Rio Com Amor (novel keduaku *pamer dikit*) yang setting Brazil, jadilah aku nyari-nyari novel setting Brazil dan nyasar ke sini. Langsung semangat karena background-nya balap, salah satu hal yang aku suka juga. Sayangnya, ketika baca novel ini sering ke-distract novel lain sehingga baru bisa diselesaikan sekarang.
Oke, satu hal yang bikin lama baca novel ini mungkin karena minim deskripsi dan kebanyakan dialog. Termasuk dialog yang sebenarnya enggak penting. Makanya, jadi rada malas di awal-awal. Tapi, makin ke tengah jalan ceritanya makin seru sehingga enggak bisa berhenti baca.
Di balik kelemahan di atas, kekuatan utama di novel ini terletak di twist di tengah cerita. Kirain cuma George RR Martin yang berani membunuh karakter utama di tengah cerita. Paige juga termasuk berani membunuh tokoh utama. Yup, adegan meninggalnya Will di tengah cerita itu sukses bikin kaget. Two thumbs up buat Paige yang menyajikan realita dunia balap. Di mana ada ajal menunggu di setiap tikungan. Scene ini benar-benar mengingatkan kita untuk cherish every moment. Karena hal yang kita suka, bisa saja membunuh kita. Seperti Will yang cinta mati sama balap dan meninggal ketika melakukan hal yang dicintainya itu.
Maybe it’s a coincidence. Ketika baca scene ini, saat itu lagi nonton MotoGP dan Marc Marquez jatoh. Saat itu lagi tanding di sirkuit Simoncelli. Pembalap yang meninggal di sirkuit. Dan seminggu sebelumnya abis nonton Rush, film biopic tentang Niki Lauda yang kecelakaan di sirkuit. Jadi, rasanya tambah lebih ngilu saat baca novel ini.
Novel ini bisa dibilang terbagi ke dua part. Part pertama Daisy-Will yang berakhir di meninggalnya Will. Part kedua dimulai di masa mengasingkan dirinya Daisy lalu perlahan dekat dengan Luis yang sama-sama berbagi duka.
Oh ya, sedikit komentar juga. Novel ini pacing-nya kurang teratur. Di awal sampai ¼ akhir itu lamaaa banget. Santai bangetlah. Trus ¼ akhir berasa diburu-buru, serba cepat.
Terus, pujian juga untuk Paige yang berhasil menyajikan apa yang ada di balik dunia balap. Seru, euy. Jadi kepengin kerja sebagai bun tart juga biar bisa keliling dunia. Biar kata cuma jadi pelayan, enggak apa-apalah, selama bisa nonton balap di garage dan hangout sama pembalap. Oh my God. This is the glamorous job I’ve ever known.
Salah satu efek nyata abis baca novel ini, jadi ingat satu isi bucketlist aku. Nonton F1 live. Nyesek, sih, waktu ke Abu Dhabi kemarin lagi enggak ada jadwal balap, jadinya cuma bisa foto depan sirkuit kosong doang. Mungkin, F1 Singapore masih bisa dijangkau, ya. Someday, if, Someday (kebanyakan bucketlist sik haha).


Thursday, February 5, 2015

#5 Isla and the Happily Ever After by Stephanie Perkins

Isla and the Happily Ever After
Stephanie Perkins



Isla akhirnya bisa ngobrol bareng Josh, kecengannya selama tiga tahun terakhir. Di suatu malam di musim panas, ketika Isla enggak bisa tidur karena sakit gigi, dia pun menyelinap keluar rumah tengah malam dan ke Kismet. Dia ngobrol ngalor ngidul sampai akhirnya ketiduran waktu Josh melukisnya. Kisah mereka pun berlanjut ke Paris, tempat mereka sama-sama sekolah di School of America Paris (SOAP).
Finally I read this book. Setelah sekian lama menunggu-nunggu kisah Josh-Isla. Mereka sendiri sempat muncul di Anna and the French Kiss (Josh sahabatnya Etienne yang pacaran sama Rashmi) sedang Isla adalah anggota geng Amanda yang waktu itu musuhan sama geng Anna. Enggak nyangka, sih, kalau Stephanie bakal nyatuin mereka berdua.
Seperti novel-novel Stephanieyang sebelumnya, Isla and the Happily Ever After dipenuhi dengan banyak adegan yang maniiiis. Gue suka chemistry antara Josh dan Isla yang perlahan-lahan tumbuh. Dua orang loner yang kemudian saling mengerti satu sama lain. Dan saat mereka ke Barcelona, New York, dan keliling Paris itu sweet banget.
Jika ada yang enggak gue suka yaitu insecurities-nya Isla. Memang, sih, seumur itu kita sering insecure. Apalagi kalau punya pacar kayak Josh, ya makin menjadi-jadilah insecure-nya. Dan Josh juga, sih, pake bawa-bawa Rashmi segala, makin insecure ajalah.
Tapi, setelah dipikirin lagi, insecure si Isla ini gengges juga. Josh udah mati-matian berusaha meyakini dia, eh malah didepak aja karena insecure. Soalnya, insecure ini lebay dan semacam diada-adain gitu sama Isla.. Kalau aja dia pede dikit, enggak bakallah mereka kepisah lama nyakitin diri sendiri.
My favorite part di voicemail Josh. Ada satu kalimat yang nendang.
“Take a risk. Take a fucking risk. If you keep playing it safe, you'll never know who you are
That’s right. Gimana kita bisa tahu apa yang sebenarnya kita inginkan atau siapa diri kita yang sebenarnya jika enggak berani mengambil resiko dan tetap bermain aman? Thanks for slapping me, Joshua Wasserstein.
Satu lagi yang gue suka, ketika Stephanie menyelipkan tokoh-tokoh dari novel sebelumnya. Etienne-Anna. Lola-Cricket. Bahkan Meredith dan Calliope. Aish, sukaaaa. Dan enggak maksa. Juga, surprise yang diselipkan Stephanie di menjelang ending (clue: Etienne dan Anna) itu sukses bikin gue menjerit senang karena Etienne yang aaaarghhhh manis banget, sih? He maybe short, but he’s so hot (just like Jjong. Short but hot, hehe)
Meski suka, gue sempat meringis juga, sik? Mereka masih terlalu muda, kak, untuk menjalin hubungan serius seperti ini.
But, afterall. Aku suka. Suka banget malah. Dan sebagai penutup dari Anna series, Isla and the Happily Ever After sukses menghadirkan penutup yang manis dan sesuai dengan judul.
And you, Stephanie Perkins. Looking forward for your new book. Yakin, deh, si mbak Steph ini pasti punya banyak stok cowok lucu manis lainnya.


#4 The Duff - Kody Keplinger

The Duff
Kody Keplinger



DUFF. Designated. Ugly. Fat. Friend.
Dalam sebuah lingkup pertemanan, pasti ada satu ornag yang biasa aja, unattractive, enggak menarik, dan jomplang banget dibanding teman-temannya yang lain. Duff ini sering jadi pijakan buat ngedeketin temen yang cantik/ganteng.
Itulah definisi Duff menurut Wesley.
Bianca enggak pernah tahu tentang label yang diberikan ke setiap teman-temannya, termasuk dirinya. Sampai ketika Wesley ngedeketin dirinya di The Nest dan menyebut dirinya Duff. Bianca melihat temannya, Jessica dan Casey yang cantik dan seksi. Beda bangetlah sama dirinya.
Sejak saat itu, Bianca merasa minder karena dia Duff.
Apalagi label itu diberikan oleh cowok yang paling dibencinya, Wesley. A playboy. A man-whore. Cowok yang enggak pernah terlihat tanpa cewek. Tapi, suatu hari, Bianca mencium Wesley untuk mengusir pemikiran buruknya karena hidupnya yang bermasalah. Ciuman berujung ke have sex. Sampai akhirnya Bianca menemukan pelarian sementara dari masalahnya, Wesley.
Namun, yang terjadi adalah munculnya masalah baru.
Oke, gue telaaat banget baru baca buku ini sekarang.
Pertanyaan pertama yang terlintas di pikiran gue adalah: man, gue lagi baca young adult apa Rachel Gibson, sik?
Karena ada banyaaak banget adegan having sex. Dan, ini tuh novel young adult, lho. Murid SMA. Oh my…
Tapi, terlepas dari semua itu, gue suka novel ini. Pertama, ide labeling. Telisik punya telisik, ide Duff berasal dari si penulis yang waktu sekolah adalah Duff. Jadi, dia kepengin menulis novel tentang Duff, sosok yang sering dilupakan karena ada sosok sempurna di dekatnya. Dalam kehidupan nyata, tentunya kita sering bertemu Duff ini. atau malah kita sendiri yang Duff?
Bisa jadi.
Namun, gue sedikit kecewa. Ekspektasi gue, novel ini akan membahas tentang Duff dan gimana si Duff ini struggling di kehidupan remaja yang penuh labeling. Namun realitanya, novel ini bercerita tentang Bianca yang bingung sama masalahnya dan memilih pelarian berupa cowok. Enggak ada efek dari labeling atau bullying yang gue pikir bakal ada di cerita ini. Tapi, ini enggak ngurangin keasyikan pas baca, kok.
Gue suka interaksi antar tokoh. Bianca dan teman-temannya, Jessica dan Casey. Persahabatan yang tulus. Gue suka cara Kody menuliskan dinamika persahabatan mereka yang naik turun. Gue juga suka hubungan Bianca dan Wesley. Manis-manis lucu, hi-hi.
Ini juga jadi bukti kalau novel yang seru itu enggak mesti penuh konflik lebay dan tokoh-tokoh lebay. Apalagi untuk young adult. Tokoh-tokoh yang biasa dan membumi, dengan konflik sederhana tapi dalam, dan dikemas dengan cara menulis yang bagus, hasilnya bisa luar biasa.
Duff ini sudah diangkat jadi film yang bentar lagi tayang. Untuuung aja gue bacanya sebelum lihat traillernya karena gue enggak suka dengan yang jadi Wesley, haha. Jadi, ketika baca, imajinasi gue soal Wesley enggak keganggu, deh. Dan satu lagi, gue kok curiganya filmnya dibikin jadi dramatis karena ada sosok Madison (Bella Thorne) yang di trailer bicthy banget. seingat gue, sosok Madison ini enggak ada (please correct me if I’m wrong).

And now, I’m officially a Kody Keplinger’s fans. Looking forward to read her another book.

Tuesday, January 20, 2015

#3 Sejoli by Wangi Mutiara Susilo

Sejoli
Wangi Mutiara Susilo



Rayya dan Kenya bersahabat tapi diam-diam saling memendam cinta. Masalahnya, Kenya adalah si anti komitmen yang meski cinta setengah mati sama Rayya tetap aja enggak mau meningkatkan hubungan mereka dari sahabat jadi pacar. ketika Rayya bertanya ‘What are we, Kenya?’ eh ini cowok malah kabur dan ngenalin Rayya ke gebetan barunya.
Intinya, novel ini masih mengangkat tema klasik: are-we-dating-or-just-a-friend?
Jadi ingat lagunya JunggiGo X SoYou yang Some. Iya, ini lagu jadi soundtrack ketika lagi baca novel ini.
First of all, congratulations Unge for your debut. Yeaiii akhirnya Unge debut juga sebagai novelis solo *tebar confetti*. This is one of expecting novel buat gue karena udah sejak kapan tau itu kenal Unge dan kenal tulisan-tulisannya dan suka tapi belum debut-debut juga.
Finally.
Sekarang mari kita bedah novelnya Unge. No offense ya, Nge, he-he.
I love this. Metropop banget alias mencerminkan hal yang yah biasalah kejadian di usia *uhuk* kita sekarang (kita di sini merujuk ke generasi seangkatan sama gue dan penulis hihi). Ceritanya yang related ke kehidupan sehari-hari jadi nilai plus novel ini. meski premisnya klasik banget, which is udah sering diangkat dan enggak ada hal baru diangkat di sini.
Kekuatan Unge terletak di pemilihan kata-katanya, terutama di dialog. Meski minim deskripsi *gue rasa bakal lebih oke jika deskripsi ditambah* dialog-dialognya keren. Quoteable banget. Di tiap halaman pasti ada kalimat yang hakjleb di hati dan pengin langsung di-post di sosmed, he-he.
Enggak bermaksud ngebandingin, tapi maaf sebesar-besarnya, gue enggak bisa mengusir Antologi Rasa dari otak gue sepanjang baca novel ini. There are a lot of Antologi Rasa moment. Rayya yang Keara banget. Kenya yang Harris. George as Dinda. Dan penggalan adegan ketika Kenya merasa hubungannya saat itu sudah dirasa cukup ngingetin gue ke this-is-enough-nya Harris.
Gangguan utama gue ketika baca novel ini adalah setting tempat dan waktu yang enggak jelas. Waktunya berasa loncat-loncat. Di awal pacingnya lama dan santai, eh setengah ke akhir cepet banget kayak dikejar setan. Coba ada tambahan adegan sehingga perpindahannya enggak secepat ini. Tapi ini bagus buat yang suka baca cerita to the point dan enggak menye-menye karena dijamin pasti bakal enjoy baca meski pacing enggak sama dari awal sampai akhir.
Ngomong-ngomong soal setting tempat, ini pendapat gue. Rayya ini tinggal di mana, toh? Dilihat dari dia belanja bulanan di Karawaci, oh mungkin aja dia tinggal di Karawaci. Di apartemen di Karawaci. Tapi kerjanya di Sudirman? Bukannya orang milih tinggal di apartemen biar dekat dengan tempat kerja ya? Atau bisa aja dia tinggal di Sudirman trus belanja bulanannya di Karawaci? Hmm…
Dan banyaknya nyebutin nama tempat makan dan tempat2 hits lain yang menurut selera gue pribadi agak show off. Semacam name dropping buat memperkuat lifestyle si tokoh yang tinggi. Tapi esensi ke cerita enggak ada.
Oh ya, nama Kenya juga ganggu. Awalnya gue bingung Kenya ini cewek apa cowok? Haha.
Intinya, menurut gue novel ini Unge banget. Tepatnya, Rayya itu Unge banget. mungkin karena gue kenal Unge secara personal kali ya jadi nangkep kalo Rayya itu Unge, hehe.

Sebagai novel debut, novel ini cukup oke karena benar-benar Unge. Ditunggu novel selanjutnya yang lebih witty dari ini ya, Kak Unge.