Pages

Free Personal signatures - cool!

TEXTAREA_ID

Easy management

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean.

Read more
image01

Revolution

A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth.

Read more
image01

Warm welcome

When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane.

Read more
image01

Quality Control

Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar.

Read more
image01

Thursday, January 14, 2016

[fanfiction] The Voice Who Bring Happiness

The Voice Who Bring Happiness
Ifnur Hikmah

(NB: This is my first fanfiction. The casts are JB 'GOT7' and Seulgi 'Red Velvet')








“Aku duluan…,” Selintas lalu aku melambai ke arah Juhyun yang masih sibuk membereskan peralatan sekolahnya, lalu berlari keluar kelas, tak lama setelah bel pulang berbunyi.
Ya, Seulgi-ah. Kamu mau ke mana?” teriak Juhyun.
Aku sudah sampai di pintu ketika teriakan itu terdengar. Kubalikkan tubuh menghadap Juhyun yang berdiri di mejanya. “Noraebang,” jawabku, ikut berteriak.
Tanpa menunggu Juhyun berkomentar, aku sudah berlari kencang di sepanjang koridor.
***

Sudah dua bulan aku bekerja paruh waktu di tempat karaoke ini. Ini bukan tempat karaoke favorit yang suka disinggahi anak-anak sekolah seusiaku ketika mereka punya waktu luang. Juga bukan tempat karaoke keren yang sering disinggahi orang-orang terkenal atau para trainee yang membutuhkan waktu latihan tambahan. Ini hanya tempat karaoke kecil—saking kecilnya, hanya ada tujuh ruangan di sini—dengan kondisi yang sangat jauh dari kata mewah. Tempatnya pun ada di dalam gang yang tidak terlalu ramai.
Jika boleh memilih, aku tidak akan mau bekerja paruh waktu di sini. Waktuku tersita banyak, dan uang yang kuterima tidak seberapa. Tapi pemilik tempat karaoke ini, pamanku sendiri, membutuhkan bantuan dan dia tidak sanggup membayar karyawan sungguhan. Sementara itu, aku butuh uang tambahan untuk membayar les dance yang kuikuti karena orangtuaku juga tidak terlalu punya banyak uang. Karena pamanku butuh karyawan yang bisa digaji rendah, dan aku butuh pekerjaan—percayalah, mencari pekerjaan paruh waktu untuk murid SMA sepertiku sangatlah sulit—makanya aku menerima pekerjaan ini.
Namun ada yang berubah sejak dua minggu lalu. Aku tidak menyangka kalau tempat karaoke yang semula terlihat seperti rumah hantu karena kesannya yang suram dan sepi, akan berubah 180 derajat hanya karena sebuah suara.
Aku menyebutnya suara yang bisa mendatangkan kebahagiaan.
***

Pukul empat sore. Sebentar lagi dia pasti datang. Seperti hari-hari sebelumnya, selama dua minggu terakhir, dia selalu datang di jam yang sama. Setiap kali dia datang, dia akan menyapaku, membungkukkan badan, lalu dengan sopan menanyakan apakah ada ruangan yang kosong. Tentu saja ada. Di jam seperti ini, di tempat ini, tidak banyak orang yang datang untuk karaoke.
Pertama kali melihatnya, kupikir dia hanya cowok iseng yang punya banyak waktu luang dan suka main. Menurutku, dia lebih cocok bermain di sepanjang sungai Han atau di arcade, daripada mengunjungi tempat karaoke lusuh seperti ini. Aku pun tidak terlalu menggubrisnya. Setelah mengantarnya ke ruangan pertama, aku kembali ke tempatku dan sibuk memainkan handphone.
Lagipula, mana ada cowok yang pergi ke tempat karaoke seorang diri?
Lima menit setelahnya, aku pun melupakan handphone karena samar-samar mendengarnya bernyanyi. Aku tidak menyangka suara seperti itu keluar dari sosoknya yang—jujur saja—terlihat menyeramkan jika dia tidak tersenyum. Wajahnya terlihat dingin, dengan rahang tegas dan tulang pipi tinggi. Dia juga tidak banyak bicara. Tapi ketika bernyanyi, aku seperti terhipnotis.
“Anyeonghaseyo…”
Aku terlompat berdiri dari tempatku. Refleks sebaris senyum tersungging di bibirku begitu sosok itu muncul dari balik pintu. Tampilannya masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Sweter agak besar berwarna gelap, celana pendek selutut dan running shoes. Serta snapback yang dipasang terbalik.
“Ada ruangan yang kosong?” Pertanyaan yang sama yang selalu ditanyakannya setiap hari.
Aku mengangguk penuh antusias. “Ruangan yang sama seperti kemarin?”
Dia tersenyum, membuat matanya yang sudah sipit tertarik hingga membentuk garis lurus. Eye smile. Aku suka itu.
“Kamsahamnida.”
Sebagai karyawan yang baik, aku mengantarnya ke ruang satu yang terletak paling depan, tidak jauh dari meja tempatku bekerja—maksudku bekerja adalah menunggu pengunjung. Karena itu, aku bisa mendengarkannya bernyanyi dengan jelas. Jujur saja, aku penasaran dengan pilihan lagu yang akan dinyanyikannya hari ini.
Setelah memastikan mikrofon dalam keadaan menyala dan komputer bisa digunakan, aku bersiap untuk meninggalkannya. Di pintu, aku berhenti sebentar, berbalik menatapnya. Dia sudah sibuk memilih-milih lagu, sama sekali tidak menggubrisku.
“Ada lagi yang kamu butuhkan?” Aku mencoba mengulur waktu, agar bisa sedikit lebih lama menatap wajahnya.
Dia mengangkat wajah dari buku lagu, tersenyum tipis dan menggeleng. “Kamsahamnida.”
Ah, sangat sopan. Aku suka cowok yang sopan.
Dengan wajah memerah, aku menutup pintu. Tidak sepenuhnya. Sengaja aku meninggalkan sedikit celah sehingga aku bisa mendengarnya dengan jelas.
Lagu pertama. That Woman.
***

Kakiku terhenti di depan pintu ruang nomor satu. Seharusnya aku kembali ke mejaku, menunggu pengunjung yang aku yakin tidak akan ada yang datang. Namun langkahku malah terpaku di sini. Dari celah pintu yang sengaja kubiarkan terbuka, aku mengintip ke dalam ruangan. Dia tidak lagi mengenakan snapback, sehingga rambut hitam lurusnya terlihat dengan jelas. Dia tengah berkonsentrasi menyanyikan sebuah lagu—dan ekspresinya berhasil membuatku terpaku.
Dia seperti… entahlah. Aku tidak tahu kata yang tepat.
Terluka?
Ya, sepertinya begitu. Dia terlihat seperti seseorang yang tengah menanggung kesedihan. Hal itu terlihat jelas di wajahnya. Terlebih ketika dia menutup mata, aku yakin, jika mata itu terpejam lebih lama, sebaris air mata akan mengaliri pipinya. Begitu juga ketika dia menghela napas panjang begitu lagu itu selesai dan layar komputer menunjukkan nilai sempurna. Dia sama sekali tidak terlihat senang, malah ekspresi itu terlihat semakin sedih.
Apa yang terjadi padanya?
Larut dalam pemikiranku sendiri, aku tidak menyadari pintu di hadapanku terbuka. Hampir saja sosoknya menabrak tubuhku yang terpaku di depan pintu. Kejadian itu refleks membuatku tersadar dan terhuyung ke belakang. Sku membungkukkan badan, mengucapkan maaf berkali-kali, sebelum akhirnya kembali ke mejaku.
Jangan sampai dia berpikir macam-macam tentangku. Misalnya, penguntit? Tukang intip? Tidak, aku tidak ingin dilabeli negatif seperti itu.
Lama aku tertunduk di meja, merutuki kebodohanku sendiri.
“Hai,”
Sebuah suara mengagetkanku. Jarang-jarang ada yang menyapa, karena pengunjung yang tidak seberapa. Aku mengangkat wajah dan langsung berhadapan dengan sosok yang membuat lidahku kelu seketika.
“Aku lihat kamu selalu sendirian di sini.”
Aku tidak menjawab. Hanya menelan ludah sambil berusaha untuk tersenyum—dan sama sekali tidak berhasil karena aku malah meringis.
“Kenapa kamu tidak karaoke bersamaku di dalam?”
Ajakan itu berhasil membuat bola mataku membola. “Jinjja?”
Dia mengangguk, dengan wajah serius. Ekspresi sedih yang tadi kulihat sama sekali sudah hilang.
“Ayo. Aku masih punya waktu setengah jam lagi, kan?”
Otakku berusaha untuk berpikir, tapi hatiku sudah membuat keputusan. Ayo sana, ikuti ajakannya. Kapan lagi kamu bisa melihatnya lama dan jelas, bukan lewat celah pintu? Jangan bodoh, Kang Seulgi.
Akhirnya, aku mengangguk dan mengikutinya ke dalam ruang nomor satu.
***

“Suaramu bagus. Tahu begitu, sejak awal aku sudah mengajakmu.”
Aku meringis kecil sambil menunduk dan memainkan ujung rambutku. “Tidak sebagus suaramu pastinya.”
Dia tertawa. Tawa yang renyah.
“Terima kasih sudah menemaniku hari ini.”
Aku mengangguk.
“Sampai jumpa lagi.”
Dia memukul pundakku pelan sebelum akhirnya keluar dari tempat karaoke ini.
Begitu sosoknya menghilang dari pandanganku, aku tersadar satu hal. Kenapa aku begitu bodoh sampai-sampai tidak menanyakan namanya?
Kang Seulgi, pabo.
***

Ada yang berbeda sore ini. Tempat karaoke ini ramai. Maksudku, empat dari tujuh ruangan terisi. Malah, satu ruangan diisi oleh empat orang nenek-nenek yang sepertinya tengah bernostalgia, kalau dilihat dari pilihan lagu mereka yang dirilis empat puluh tahun lalu. Mereka membuatku sibuk dengan pesanan minuman atau makanan atau meladeni pertanyaan mereka yang suka kebingungan menggunakan komputer. Atau meminta bantuanku memilihkan lagu karena angka-angka kecil di buku lagu tidak terlalu jelas di penglihatan mereka.
Belum pernah aku sesibuk ini.
Saking sibuknya, aku sampai menolak ajakannya untuk karaoke bersama sore ini. Tentu saja, hal itu membuatku kecewa. Nenek-nenek ini masih terus memanggilku, sehingga aku bahkan tidak sempat mengintipnya dari celah pintu.
“Kamu sudah mau pulang?” aku baru saja mendudukkan tubuhku ketika sosoknya muncul di hadapanku. Sore ini dia tetap memakai sweter kebesaran—bedanya sekarang berwarna putih—celana pendek putih, running shoes. Dan tanpa snapback. Sehingga rambutnya terlihat jelas. Dengan poni menutup seluruh keningnya, dia terlihat lucu.
“Aku harus pulang cepat hari ini, jadi tidak bisa lama-lama di sini.”
Aku mengangguk, dalam hati merasa kecewa mengapa hari ini sangat tidak bersahabat denganku?
“Sampai ketemu lagi, ya.” Dia melambai sebelum keluar dari pintu.
Melihatnya pergi, aku teringat kebodohanku kemarin. Dan, aku tidak ingin mengulanginya.
“Tunggu,” seruku, tepat sebelum dia menutup pintu.
Dia menatapku dengan wajah penasaran. “Ada apa?”
“Kalau boleh tahu…”
“Seulgi!” Sebuah seruan menelan ucapanku. Seruan itu berasal dari belakang tubuhnya. Pamanku.
Pamanku menerobos masuk, menggeser tubuhnya hingga tidak menghalangi pintu. Tanpa mendengar kelanjutan pertanyaanku, dia pun berlalu—setelah sebelumnya sempat tersenyum padaku.
Ugh, kenapa paman harus datang sekarang? Ini, kan, satu-satunya kesempatanku.
“Kamu bereskan ruang satu, ya. Sebentar lagi teman-teman Paman datang, dan kami mau memakai ruangan itu.”
Dengan malas-malasan, aku mengikuti perintah Paman. Bagaimanapun, aku masih kesal padanya.
Ruangan satu tidak terlalu berantakan. Dia menggunakan ruangan itu sendiri, tentu saja ruangan itu tidak jadi kacau. Aku cukup mengganti pembungkus mikrofon, itu saja. Namun, sebuah buku yang tergeletak di atas meja menarik perhatianku.
Aku mengambil buku itu. Buku musik. Sepertinya ini milik dia. Melihat buku ini, juga kerajinannya datang ke tempat ini utnuk bernyanyi, aku jadi berpikir kalau dia sebenarnya pengin jadi musisi.
Dengan jantung berdebar hebat, aku membuka buku itu. Di halaman pertama, terdapat jawaban atas pertanyaan yang tadi tidak sempat kuselesaikan.
Im Jaebum.
Namanya Im Jaebum.
Im Jaebum. Berkali-kali aku mengulang nama itu. Nama yang bagus. Mirip nama penyanyi terkenal yang juga kusukai. Dan dia pun menyanyi sama bagusnya dengan Im jaebum si penyanyi terkenal.
Aku membuka halaman berikutnya. Halaman itu berisi coretan lagu yang belum selesai. Begitu juga halaman setelahnya. Sepertinya, dia mengalami kesulitan ketika membuat lagu. Di halaman terakhir, mataku menyapu sebaris lirik lagu yang membuatku terpaku.

I remember when I was a kid
I just want to sing and dance
I remember when I was a kid
I want to stand at the biggest stage in Seoul
But why, when I look at my reflection in a mirror
All I see is just a loser

Lirik yang begitu sedih.
Entah setan apa yang merasuki, aku membawa buku itu ke meja kerjaku. Aku membongkar isi tas, mencari bolpoin atau apa saja yang bisa kugunakan untuk menulis. Ketika menemukannya, aku mencoret bagian terakhir lirik itu.
Dan menuliskan sesuatu di sana.
***

“Jangan menyerah. Sekarang aku hanya melihatmu dari celah pintu yang sengaja kubiarkan terbuka setiap kali kamu datang ke sini. Namun aku yakin, suatu hari nanti, aku akan melihatmu menyanyi di atas panggung terbesar di Seoul. Bahkan di dunia.
Percayalah padaku, Im jaebum-ssi. Karena kamu memiliki suara yang bisa membuat orang lain (setidaknya aku) bahagia.
Dari fans nomor satumu, Kang Seulgi.”
***

“Pokoknya, pastikan Paman memberikan buku itu jika dia datang. Paman masih ingat ciri-cirinya, kan? Dia pasti datang setiap jam empat, atau mungkin lebih sedikit. Dia terlihat dingin, tapi sebenarnya dia tidak seperti itu. Oh ya, dia suka memakai sweter kebesaran dan celana pendek selutut. Juga snapback, atau mungkin juga dia tidak memakai snapback hari ini karena kemarin dia tidak memakainya. Pokoknya, paman pasti langsung tahu siapa dia begitu dia muncul. Satu lagi, ajak dia ke ruang nomor satu, dia selalu memakai ruangan itu.” Aku berbicara panjang lebar di telepon dalam satu kali tarikan napas.
“Ini sudah kesepuluh kalinya kamu mengingatkan paman.”
Aku tahu pamanku berlebihan—atau malah aku yang berlebihan?
Aku menggeleng. “Pokoknya, pastikan paman memberikan buku itu padanya.”
“Iya, kamu tenang saja. Sudah ya, ada yang datang.”
Aku menutup telepon. Meski sudah berkali-kali mengingatkan paman, tetap saja aku khawatir. Bagaimana jika paman lupa, lalu tidak memberikan buku itu padanya? Atau malah memberikannya ke orang yang salah?
Seharusnya aku ke tempat karaoke itu sekarang. Tapi, ada tugas sekolah yang harus kukerjakan sehingga aku pun terpaksa menghabiskan sore ini di perpustakaan bersama Juhyun.
Selama dua jam ini, aku tidak bisa berkonsentrasi. Setengah pikiranku ada di tempat paman. Ingin rasanya menelepon paman, tapi Juhyun terlanjur menyimpan ponselku yang dianggapnya sebagai alasan mengapa aku tidak bsia berkonsentrasi.
“Kita lanjutin besok aja,” putus Juhyun ketus.
“Mianhae,” seruku pelan. Ini salahku. Sudah berkali-kali dia mengingatkanku untuk berkonsentrasi, tapi aku tidak pernah bisa mengikuti permintaannya.
“Kamu pulang duluan aja. Aku masih harus mencari buku lagi.”
“Tapi…”
“Seulgi-ya…” Juhyun memegang kedua pundakku dan memutar tubuhku hingga menghadapnya. “Dari tadi kamu sudah terlihat tidak betah di sini. Jadi, aku tidak mau memaksamu tinggal lebih lama.”
“Mianhae, Juhyun-ah…”
Juhyun hanya melambaikan tangan di depan wajahku dan berlalu menuju rak bbuku, mencari buku entah apa.
Buru-buru aku membereskan peralatan sekolahku dan berlari keluar dari perpustakaan. Aku harus sesegera mungkin sampai di tempat paman, memastikan paman menyampaikan pesanku ke orang yang benar.
“Kang Seulgi.”
Hampir saja aku terjatuh karena berhenti mendadak ketika seseorang memanggil namaku, tepat ketika aku keluar dari gerbang sekolah. Aku berbalik dan… ya Tuhan… apa penglihatanku bisa dipercaya?
Tidak mungkin dia ada di sini.
“Kamu? Kenapa kamu ada di sini?”
Dia—maksudku Jaebum—mengangkat sebelah tangannya. Di sana, ada buku musik miliknya yang kemarin tertinggal di tempat karaoke. Aku menghela napas lega begitu tahu paman benar-benar mengembalikannya ke orang yang tepat.
“Pamanmu bilang kamu sekolah di sini.”
“Oh…” Aku kehabisan kata-kata. Kenapa di saat seperti ini, aku malah bertingkah seperti ini? Ayo, pikirkan satu kata saja, Kang Seulgi. Ajak dia bicara.
“Ngomong-ngomong, terima kasih buat dukungannya. Itu sangat berarti untukku,” ucapnya sambil menunjuk buku musiknya.
Tentu saja aku memahami maksudnya. Ucapannya itu membuatku refleks menunduk karena malu. Aku hanya bisa memainkan kepangan rambut karena tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapannya. Sejujurnya, aku tidak terlalu yakin tulisanku akan memberikan efek apa-apa, mengingat kami yang tidak bisa dibilang saling mengenal. Aku tidak menyangka dia akan menganggap serius tulisan dari orang asing sepertiku.
“Kamu sudah makan?”
Pertanyaan itu membuat tanganku berhenti memainkan kepangan rambut. Aku mengangkat wajah, menatapnya dengan ekspresi melongo. Apa itu artinya dia mengajakku makan?
Tidak, jangan berpikiran terlalu jauh, Kang Seulgi.
“Aku mau mengajakmu makan. Anggap saja itu ucapan terima kasih dariku. Kamu mau?”
Sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak kuduga tapi mampu membuat jantungku berdebar hebat. Perlahan-lahan, bibirku terangkat membentuk sebuah senyuman. Hanya orang bodoh yang akan menolak ajakan ini.
Dan aku, Kang Seulgi, tentu saja bukan orang bodoh itu.
Lalu, aku pun mengangguk.

Friday, October 16, 2015

Bayangan di Pintu Elevator

Note: cerita ini terinspirasi dari lagu terbaru Jonghyun berjudul Elevator yang dirilis di acara Mnet Monthly Live Connection. Lagu ini terinspirasi dari masa kecil Jonghyun yang bisa dibilang menyedihkan, dan ketika dia menatap bayangannya di pintu elevator, dia teringat masa kecilnya dan pencapaiannya hingga sekarang.



Bayangan di Pintu Elevator
Ifnur Hikmah



Tatapan sayu di pintu elevator itu balas menatapku. Terlihat menantang di balik wajah kuyu. Dia terlihat sangat letih, dengan bercak-bercak peluh bercucuran menetes di pelipis mengalir hingga ke garis rahangnya. Matanya yang sayu terlihat makin redup dengan adanya kantong gelap menggantung di bawah sana.
Aku mengangkat tangan, mengusap peluh yang menetes di keningku. Bayangan di pintu elevator itu pun melakukan hal yang sama.
Aku tersenyum tipis. Bayangan di pintu elevator itu juga melakukan hal yang sama.
“Bagaimana kabarmu?” tanyaku berbisik, berharap bayangan di pintu elevator itu mendengar pertanyaanku. “Apa kamu tidak letih setiap hari harus pulang tengah malam seperti ini? Demi apa?”
Aku menggeleng pelan. Wajah yang tengah menatapku itu terlihat semakin sendu.
“Lihat dirimu. Kamu tidak ada ubahnya seperti mayat hidup.”
Seolah mendengarkan ucapanku, bayangan itu tertawa sinis.
Aku tertawa sinis.
Dan bayangan di pintu elevator itu terus menatapku, membuatku bertanya, benarkah yang kulakukan sekarang?
*

Katanya rumah adalah istana buat kita. Sesederhana apapun, rumah adalah istana terindah yang kita miliki.
Namun, rumah kecil ini membuatku sesak. Ketika aku berlari keluar rumah pun, aku tidak merasakan kelegaan. Malah, sesak di dadaku semakin menjadi-jadi. Jalanan kecil di depan rumah, yang langsung berbatasan dengan rumah lainnya, anak-anak kecil seusiaku yang berlarian kian kemari, ibu-ibu yang sibuk menawar sayuran di kios sayur kecil di depan rumahku—ibuku ada di sana, meladeni ibu-ibu yang sibuk menawar harga itu. Di dekat sana ada kursi kayu seadanya, tempat nenekku sibuk merajut dengan tatapannya yang menerawang entah ke mana sampai nanti tiba saatnya dia beranjak kembali ke dalam rumah saat matahari mulai tenggelam dan kembali mengulang hal yang sama keesokan harinya. Beliau selalu membawa benang dan jarum rajut.
Namun, rajutannya tidak pernah selesai.
Aku menengadah, membiarkan mataku menantang sinar matahari di atas sana. Kuhela napas panjang, berharap aku dapat merasakan ketenangan.
Namun, teriakan anak kecil yang saling berantem berebut kelereng, ibu-ibu yang semakin ganas dalam menawar sayuran, dan adik laki-lakiku yang terus menerus memutar kaset tua hadiah dari ibu di ulang tahunnya beberapa bulan lalu, membuat dadaku kembali sesak.
Ini rumahku. Namun, ini bukan istanaku.
Aku ingin segera pergi dari sini. Pergi dari tempat yang membuatku merasa terjebak di tempat sempit seperti ini. Aku ingin pergi bersama nenek ke tempat yang nyaman sehingga dia bisa menyelesaikan merajut syal itu. Aku ingin pergi bersama ibu sehingga beliau tidak lagi harus menghadapi ibu-ibu menyebalkan yang selalu menawar sayuran kami dengan harga rendah. Juga adik laki-lakiku, ke tempat dia bisa menyanyi dengan tenang dan tidak perlu lagi mendengarkan lagu lama dari kaset tua itu.
Namun, ketika aku menatap kedua kaki kecilku, aku tahu keinginanku itu sangat mustahil.
*
Pintu itu membuka, membuatku segera berlari keluar. Aku menarik napas lega ketika akhirnya bisa keluar dari tempat sempit itu.
Aku ingat perasaan ini. ketika akhirnya aku, adik laki-lakiku, ibu, dan nenek berhasil keluar dari lingkungan sempit yang menyesakkan itu.
Aku menatap lorong di depanku. Lorong yang sudah akrab dalam hidupku karena selama  bertahun-tahun ini aku selalu melewatinya.
Sebaris senyum terkembang di bibirku.
Aku berbalik, dan menatap bayanganku di pintu elevator yang menutup di belakangku. Mata sayu itu masih ada. Wajah kuyu itu masih ada. Tubuh letih yang tak ada ubahnya seperti mayat hidup itu masih ada. Dan sosok itu masih menatapku, menantangku.
“Kamu tahu? Aku pernah memikirkan akan jadi seperti ini, tapi aku tidak menyesalinya. Kenapa? Karena di sini, aku tidak pernah merasa sesak lagi,” bisikku, pada bayangan di depanku.
Aku masih terus berdiri di sana hingga pintu elevator itu kembali terbuka dan memperlihatkan sosok adik laki-lakiku yang sudah tumbuh dewasa. Dia tersenyum hangat dan merengkuhku ke dalam pelukannya.
“Ayo kita pulang. Aku lapar,” ujarnya, dan menuntunku menyusuri lorong di hadapanku menuju ibu yang siap menyambut kami dengan sayuran yang dimasaknya, serta nenek yang masih terus melanjutkan rajutannya dengan senyuman terkembang di wajahnya.