Pages

Free Personal signatures - cool!

TEXTAREA_ID

Easy management

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean.

Read more
image01

Revolution

A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth.

Read more
image01

Warm welcome

When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane.

Read more
image01

Quality Control

Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar.

Read more
image01

Friday, August 19, 2016

Cerita Dari Secangkir Kopi

Cerita Dari Secangkir Kopi
Ifnur Hikmah

 Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com



Asap yang sejak tadi mengepul dari cangkir kopi di atas meja di hadapanku ini sudah lenyap. Aku yakin kopi itu sudah dingin. Namun, aku masih bertopang dagu di sini. Melihat layar laptop yang masih menampakkan halaman kosong.
Dan John Mayer sudah menyanyikan beberapa lagu.
Dari jendela di depanku, aku bisa melihat semua kejadian di luar coffee shop ini. Motor yang terparkir rapi. Tukang parkir yang mengibaskan topi lusuhnya, berusaha mengusir panas yang luar biasa menyengat siang ini. Sepasang bule paruh baya yang berjalan pelan sambil berpegangan tangan. Remaja cewek yang tengah merajuk di depan seorang cowok—mungkin pacarnya. Seorang cewek memakai high heels yang kesulitan memegang payung dan beberapa buku sekaligus. Ibu-ibu dengan plastik belanjaan. Musisi jalanan dengan kaos putih dan jins belel.
Ada banyak cerita terjadi di luar sana.
Ada banyak cerita bermain di benakku.
Kuteguk cangkir berisi kopi hitam pekat itu. Sudah dingin. Tapi aromanya masih tercium tajam.
Kopi dingin sudah menjadi temanku menunggu.
**

Apa yang terjadi sebelum secangkir kopi hangat berubah menjadi dingin?
“Kopi Aceh Gayo.”
Aku mengangkat kepala dari layar laptop yang selama beberapa jam terakhir memenuhi pandanganku. Mataku sedikit menyipit menyambut cahaya matahari sore yang menyala terang dari jendela lebar di belakangnya.
“Kapan kamu datang?”
“Ck ah…” Dia mendecakkan lidah, seraya meletakkan secangkir kopi hangat ke genggamanku. Aromanya kuat dan wangi. Menusuk tapi juga menenangkan.
Kudekatkan hidung ke atas cangkir dan menghirup aromanya dalam-dalam.
Aku tidak terlalu menyukai kopi—juga bukan penggemar berat kopi. Kopi yang aku tahu hanyalah kopi sachet yang suka diseduh papa dulu sore-sore sepulang kerja atau kopi Starbucks yang suka kupesan kalau lagi bertemu Val, editorku.
Namun dia? Dia berbeda. Penggila kopi yang isi otaknya hanya dua, kopi dan kerja. Karena dia, aku jadi ikut mencicipi banyak kopi. Termasuk ini. Kopi Aceh Gayo. Favoritnya. Alasan sentimental karena almarhumah ibunya berasal dari Aceh seringkali diungkapkannya setiap kali datang membawakan kopi ini untukku.
“Baru, sih,” ujarnya seraya duduk di depanku, dengan secangkir kopi yang sama.
Aku ikut meneguk kopi itu. Aromanya yang pahit tapi terasa gurih mengaliri kerongkonganku.
“Bagaimana Aceh?”
“Seperti biasa. Aku hanya mampir sebentar, ketemu Papa, trus ke Jakarta karena deadline.”
Aku mengangguk. Pahit kopi di lidahku mungkin enggak sama seperti pahit yang kurasakan di dalam hati.
Pergi dan datang begitu saja. Aku pernah menyebutnya begitu. Tidak pernah menetap di suatu tempat dalam jangka waktu lama. Alasan klasik atas nama pekerjaan selalu diungkapkanya, membuatku kesal dan mengutuk diri sendiri karena tahu aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuatnya bertahan.
Aku menatap kopi di hadapanku. Sebelum kopi ini dingin, aku yakin, dia akan pergi lagi.
“Rash, aku pergi dulu, ya. Si bos nunggu, ada editan yang bermasalah katanya.”
Aku tersenyum tipis tapi meringis dalam hati. Kopi di hadapanku masih mengepulkan asap, tapi dia sudah pergi.
Selalu seperti itu.
**

Penantian. Itu yang terjadi ketika kopi yang tadinya panas mulai kehilangan kehangatannya.
“Bagus, katamu kamu mau pulang minggu ini. Buktinya?” Telepon malang ini jadi pelampiasan amarahku.
Sementara seseorang yang mengusik emosiku hanya tertawa, di seberang sana.
“Minggu depan. Aku janji bakalan pulang minggu depan.”
Kali ini cangkir putih berisi kopi hitam yang sejak tadi kuanggurkan menjadi sasaran kekesalanku. Aku meneguk kopi itu, membuat mataku langsung menyala lebar begitu cairan pahit itu mengaliri kerongkonganku.
“Kamu tahu…” Aku berusaha berkata setelah menelan kopi itu. “Aku udah enggak percaya padamu lagi. Minggu depan katamu? Sampai kamu muncul di depan pintu rumahku, aku enggak akan pernah percaya.”
Sekali lagi, dia hanya tertawa.
“Rashi, aku kangen kamu.”
Meski aku masih ingin menyemburkan omelan, ucapan itu membuat hatiku berdebar. Tanpa bisa dicegah, sebaris senyum menghias bibirku.
Tanganku terulur meraih cangkir kopi yang hampir habis. Perlahan, aku meneguk kopi itu. Kali ini dia tidak datang. Aku tidak perlu menunggu kopi ini hingga dingin untuk melihat kepergiannya.
**

Kesabaran. Itu yang terjadi ketika secangkir kopi tidak lagi mengalirkan kehangatan.
“Sama kayak kopi. Kalau dibiarin gitu aja, enggak disentuh, lama-lama juga jadi dingin. Hati lo itu persis kopi yang dicuekin abis dipesan.” Val berkata tajam.
Aku hanya menyunggingkan senyum tipis, tapi dalam hati membenarkan ucapan Val.
“Kapan terakhir dia enggak terburu-buru? Kapan terakhir kali lo ngabisin waktu berdua sama dia tanpa terganggu panggilan bosnya atau jadwal penerbangan yang harus dia kejar? Gue yakin lo pasti udah lupa, saking lamanya.” Val masih terus mencecarku.
Hubunganku dengan dia memang tidak seperti hubungan pasangan kekasih lainnya. Tidak ada cerita bersama dalam waktu lama, aku yang sekadar bermanja di pelukannya, atau dia yang menemaniku saat merasakan sakit perut setiap bulan ketika haid. Tidak ada dia yang punya banyak waktu untuk mendengarkan aku menuturkan soal cerita yang tengah kutulis, atau menghiburku ketika otakku mampet dan enggak mampu menghasilkan kata-kata.
Tidak ada cerita manis.
Awalnya hubungan ini terasa menantang. Seperti kopi hangat yang disuguhkan di sore hari di tengah hujan lebat. Menantang untuk diteguk karena bisa mengalirkan kehangatan. Dia seperti itu, hadir ketika aku dilanda bosan dan diajak bertualang mengikuti pekerjaannya yang enggak kenal waktu. Naik turun gunung demi sebuah tayangan selama 30 menit di televisi, mengunjungi pantai demi pantai demi tayangan sebanyak satu episode, memasuki perkampungan yang tidak pernah kukenal demi sebuah video untuk stasiun televisi tempat dia bekerja.
Awalnya itu semua menyenangkan.
Namun, lama-lama jadi melelahkan.
Aku tidak bisa mengikutinya terus menerus. Hingga akhirnya aku menyerah dan memilih untuk menunggu dia datang. Namun menunggu juga menjadi sesuatu yang melelahkan.
Kopi di depanku sudah kehilangan asapnya. Sama seperti hatiku yang sudah kehilangan kepercayaan untuk melanjutkan hubungan dengan dia.
**

Kehilangan. Ketika akhirnya kopi sudah menjadi dingin dan aku harus merasa kehilangan.
“Bali Kintamani. Rasanya enggak sepahit Kopi Aceh. Tapi bikin segar banget.” Sebaris senyum menyudahi ucapannya.
Aku menatap cangkir putih berisi cairan hitam pekat di atas meja dengan tatapan kosong. Asap masih mengepul dari sana. Namun tidak ada lagi kehangatan di hatiku.
Kali ini, aku tidak perlu menunggu kopi itu hingga dingin sebelum melihat dia pergi, karena di tegukan pertama, aku sudah menatap punggungnya yang menjauh.
Begitu pintu menutup, aku membanting cangkir kopi itu ke lantai. Cairan itu menggenangi lantai putih di hadapanku. Aku jatuh berlutut, dengan bahu berguncang akibat isak tangisku yang tidak bisa dibendung.
Mataku meradang ketika melihat kopi yang tergenang di lantai. Detik ini kuputuskan untuk membenci kopi.
Aku membenci dia.
**

Merelakan. Secangkir kopi dingin menjadi saksi usahaku dalam merelakan kepergiannya.
Aku tidak lagi meminta dia untuk kembali. Aku tidak lagi bertanya dia di mana. Aku masih peduli, dalam hati aku masih mengingat dia, meski lidahku mengatakan sebaliknya. Namun, aku tidak pernah meminta dia kembali.
Dan dia tidak pernah kembali.
Aku meneguk kopi dingin yang sejak tadi menemaniku. Rasa pahit mengaliri kerongkonganku, bersatu dengan rasa pahit di hatiku.
Perlahan, jariku bergerak di atas keyboard. Menuliskan sebuah cerita.
Tahukah kamu arti sebuah rasa pahit? Bukan, pahit bukan ketika kamu meneguk secangkir kopi karena setelahnya, tubuhmu akan terasa hangat. Ini rasa pahit yang sebenarnya.
Aku akan menceritakan rasanya.
Pertama-tama, siapkan secangkir kopi di dekatmu. Sebelum kopi itu dingin, aku akan menceritakannya.

Semua berawal dari seorang perempuan dan laki-laki yang saling jatuh cinta.

Wednesday, February 17, 2016

Perjalanan Tiga Tahun

Perjalanan Tiga Tahun



Tahun 2013 bisa dibilang sebagai tahun-paling-produktif seorang iif. Selain pindah kerja ke tempat yang lebih bagus, tahun itu aku berhasil menyelesaikan tiga naskah novel. TIGA. Jelas, itu sebuah pencapaian yang luar biasa.
Ketiga naskah itu aku ikutkan lomba. Satu dari penerbit Qanita dan hanya berhasil masuk 20 besar. Satu lagi di Bukune dan Alhamdulillah berhasil jadi juara satu (meski masih terus menunggu hingga sekarang untuk diterbitkan). Ketiga, Bentang Pustaka, dan enggak berhasil menang.
Awalnya aku kira, begitu gagal, ya sudah. Berhenti di situ, tanpa ada kelanjutan apa-apa.
Februari 2014. Ingat banget waktu itu aku lagi ada kerjaan di Abu Dhabi ketika membuka email dan dapat pemberitahuan kalau naskah yang aku ikut sertakan untuk lomba akan ditindaklanjuti. Email itu juga menanyakan kesediaanku, apakah aku ingin menerbitkan novel itu?
Tentu saja jawabannya mau. Siapa coba yang menolak tawaran dan kesempatan sebagus ini?
Namun ternyata perjalanannya enggak segampang itu. Setelah aku membalas email itu, minggu selanjutnya aku dikirimin revisi. Berhubung naskahnya kelarnya sudah lama sebelum itu, aku jadi lupa ini ceritanya kayak apa. Revisi awal tergolong lama, karena aku harus baca ulang, memahami lagi isi ceritanya kayak apa, dan mengembalikan mood agar bisa melakukan revisi.
Which is, that’s not easy man.
Mengembalikan mood dan mencerna lagi tulisan itu terasa sulit. Terlebih, aku ngerasa kalau gaya menulisku udah berubah. Ditambah lagi naskah ini berangkat dari sudut pandang orang ketiga dan ketika revisi (bahkan sampai sekarang) aku enjoy menulis dari sudut pandang orang pertama—my bad.
Perjalanan enggak berhenti sampai di sana. Berbulan-bulan aku menunggu kabar yang enggak kunjung datang (oh ya, sebelumnya aku sudah tanda tangan surat kontrak penerbitan) sampai akhirnya lupa sama sekali. Lalu, tiba-tiba, suatu hari, aku menerima email kalau editor yang memegang naskahku dipindahkan ke bagian lain, dan naskah yang sebelumnya dia pegang, dialihkan ke editor lain. Okelah, aku siap untuk bekerja dengan editor baru.
Butuh waktu berbulan-bulan lagi hingga akhirnya editor baru ini—sebut saja mbak D—menghubungiku dan kita balik lagi ke awal. Ini pengalaman pertamaku bekerja dengan penerbit ini, jadi aku masih harus mengira-ngira seperti apa sistem yang berlaku di sini. Begitu juga dengan bekerja bersama Mbak D ini, istilahnya masih PDKT lah. Kita mengobrol lagi dari awal, membahas ceritanya kayak apa, which is… aku udah lupa lagi, he-he-he. Untung mbak D orangnya sabar dan menghadapiku yang lupaan.
Akhirnya, aku kembali membaca naskah ini dan mengeditnya. Semua terasa kembali ke awal. Lagi-lagi, menyamakan gaya menulis dan tone cerita dengan naskah yang sudah ada susah banget karena sekarang gaya menulisku sama sekali berbeda dengan ketika aku menulis naskah ini. Sekali lagi, untung Mbak D editor yang kece sehingga masukannya ngebantu banget.
Awal 2016, aku seperti mendapatkan titik terang ketika Mbak D dan aku membahas soal beberapa kemungkinan judul. Juga ketika mbak D memberikan revisi terakhir—katanya sih terakhir, moga-moga benar, ya. Aku jadi makin optimis ketika mbak D dan editor satunya lagi memberikan kesan positif tentang naskah ini.
Aku jadi enggak sabar melihat naskah ini berubah wujud jadi buku.
Aku belum mendapat tanggal terbit, tapi perjalanan super panjang ini membuatku optimis kalau hasilnya—Insya Allah—bisa memuaskan. Aku percaya, enggak ada yang namanya sia-sia jika dalam perjalanannya kita serius dan benar-benar menuangkan perhatian di dalamnya. Meski aku lupaan, ketika menyelami kembali ceritanya, berkenalan lagi dengan tokoh-tokohnya, aku jatuh cinta lagi dengan cerita ini.
Saat ini, aku belum bisa memberitahu ceritanya tentang apa dan diterbitkan di mana. Namun, aku cuma ingin sharing tentang proses di belakang layar yang—menurutku—penuh liku. Tsaaahhh…
Namun, ini juga seperti tamparan buatku. Setelah bertahun-tahun, kapan aku bisa seproduktif tahun 2013 ini lagi?

Thursday, January 14, 2016

[fanfiction] The Voice Who Bring Happiness

The Voice Who Bring Happiness
Ifnur Hikmah

(NB: This is my first fanfiction. The casts are JB 'GOT7' and Seulgi 'Red Velvet')








“Aku duluan…,” Selintas lalu aku melambai ke arah Juhyun yang masih sibuk membereskan peralatan sekolahnya, lalu berlari keluar kelas, tak lama setelah bel pulang berbunyi.
Ya, Seulgi-ah. Kamu mau ke mana?” teriak Juhyun.
Aku sudah sampai di pintu ketika teriakan itu terdengar. Kubalikkan tubuh menghadap Juhyun yang berdiri di mejanya. “Noraebang,” jawabku, ikut berteriak.
Tanpa menunggu Juhyun berkomentar, aku sudah berlari kencang di sepanjang koridor.
***

Sudah dua bulan aku bekerja paruh waktu di tempat karaoke ini. Ini bukan tempat karaoke favorit yang suka disinggahi anak-anak sekolah seusiaku ketika mereka punya waktu luang. Juga bukan tempat karaoke keren yang sering disinggahi orang-orang terkenal atau para trainee yang membutuhkan waktu latihan tambahan. Ini hanya tempat karaoke kecil—saking kecilnya, hanya ada tujuh ruangan di sini—dengan kondisi yang sangat jauh dari kata mewah. Tempatnya pun ada di dalam gang yang tidak terlalu ramai.
Jika boleh memilih, aku tidak akan mau bekerja paruh waktu di sini. Waktuku tersita banyak, dan uang yang kuterima tidak seberapa. Tapi pemilik tempat karaoke ini, pamanku sendiri, membutuhkan bantuan dan dia tidak sanggup membayar karyawan sungguhan. Sementara itu, aku butuh uang tambahan untuk membayar les dance yang kuikuti karena orangtuaku juga tidak terlalu punya banyak uang. Karena pamanku butuh karyawan yang bisa digaji rendah, dan aku butuh pekerjaan—percayalah, mencari pekerjaan paruh waktu untuk murid SMA sepertiku sangatlah sulit—makanya aku menerima pekerjaan ini.
Namun ada yang berubah sejak dua minggu lalu. Aku tidak menyangka kalau tempat karaoke yang semula terlihat seperti rumah hantu karena kesannya yang suram dan sepi, akan berubah 180 derajat hanya karena sebuah suara.
Aku menyebutnya suara yang bisa mendatangkan kebahagiaan.
***

Pukul empat sore. Sebentar lagi dia pasti datang. Seperti hari-hari sebelumnya, selama dua minggu terakhir, dia selalu datang di jam yang sama. Setiap kali dia datang, dia akan menyapaku, membungkukkan badan, lalu dengan sopan menanyakan apakah ada ruangan yang kosong. Tentu saja ada. Di jam seperti ini, di tempat ini, tidak banyak orang yang datang untuk karaoke.
Pertama kali melihatnya, kupikir dia hanya cowok iseng yang punya banyak waktu luang dan suka main. Menurutku, dia lebih cocok bermain di sepanjang sungai Han atau di arcade, daripada mengunjungi tempat karaoke lusuh seperti ini. Aku pun tidak terlalu menggubrisnya. Setelah mengantarnya ke ruangan pertama, aku kembali ke tempatku dan sibuk memainkan handphone.
Lagipula, mana ada cowok yang pergi ke tempat karaoke seorang diri?
Lima menit setelahnya, aku pun melupakan handphone karena samar-samar mendengarnya bernyanyi. Aku tidak menyangka suara seperti itu keluar dari sosoknya yang—jujur saja—terlihat menyeramkan jika dia tidak tersenyum. Wajahnya terlihat dingin, dengan rahang tegas dan tulang pipi tinggi. Dia juga tidak banyak bicara. Tapi ketika bernyanyi, aku seperti terhipnotis.
“Anyeonghaseyo…”
Aku terlompat berdiri dari tempatku. Refleks sebaris senyum tersungging di bibirku begitu sosok itu muncul dari balik pintu. Tampilannya masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Sweter agak besar berwarna gelap, celana pendek selutut dan running shoes. Serta snapback yang dipasang terbalik.
“Ada ruangan yang kosong?” Pertanyaan yang sama yang selalu ditanyakannya setiap hari.
Aku mengangguk penuh antusias. “Ruangan yang sama seperti kemarin?”
Dia tersenyum, membuat matanya yang sudah sipit tertarik hingga membentuk garis lurus. Eye smile. Aku suka itu.
“Kamsahamnida.”
Sebagai karyawan yang baik, aku mengantarnya ke ruang satu yang terletak paling depan, tidak jauh dari meja tempatku bekerja—maksudku bekerja adalah menunggu pengunjung. Karena itu, aku bisa mendengarkannya bernyanyi dengan jelas. Jujur saja, aku penasaran dengan pilihan lagu yang akan dinyanyikannya hari ini.
Setelah memastikan mikrofon dalam keadaan menyala dan komputer bisa digunakan, aku bersiap untuk meninggalkannya. Di pintu, aku berhenti sebentar, berbalik menatapnya. Dia sudah sibuk memilih-milih lagu, sama sekali tidak menggubrisku.
“Ada lagi yang kamu butuhkan?” Aku mencoba mengulur waktu, agar bisa sedikit lebih lama menatap wajahnya.
Dia mengangkat wajah dari buku lagu, tersenyum tipis dan menggeleng. “Kamsahamnida.”
Ah, sangat sopan. Aku suka cowok yang sopan.
Dengan wajah memerah, aku menutup pintu. Tidak sepenuhnya. Sengaja aku meninggalkan sedikit celah sehingga aku bisa mendengarnya dengan jelas.
Lagu pertama. That Woman.
***

Kakiku terhenti di depan pintu ruang nomor satu. Seharusnya aku kembali ke mejaku, menunggu pengunjung yang aku yakin tidak akan ada yang datang. Namun langkahku malah terpaku di sini. Dari celah pintu yang sengaja kubiarkan terbuka, aku mengintip ke dalam ruangan. Dia tidak lagi mengenakan snapback, sehingga rambut hitam lurusnya terlihat dengan jelas. Dia tengah berkonsentrasi menyanyikan sebuah lagu—dan ekspresinya berhasil membuatku terpaku.
Dia seperti… entahlah. Aku tidak tahu kata yang tepat.
Terluka?
Ya, sepertinya begitu. Dia terlihat seperti seseorang yang tengah menanggung kesedihan. Hal itu terlihat jelas di wajahnya. Terlebih ketika dia menutup mata, aku yakin, jika mata itu terpejam lebih lama, sebaris air mata akan mengaliri pipinya. Begitu juga ketika dia menghela napas panjang begitu lagu itu selesai dan layar komputer menunjukkan nilai sempurna. Dia sama sekali tidak terlihat senang, malah ekspresi itu terlihat semakin sedih.
Apa yang terjadi padanya?
Larut dalam pemikiranku sendiri, aku tidak menyadari pintu di hadapanku terbuka. Hampir saja sosoknya menabrak tubuhku yang terpaku di depan pintu. Kejadian itu refleks membuatku tersadar dan terhuyung ke belakang. Sku membungkukkan badan, mengucapkan maaf berkali-kali, sebelum akhirnya kembali ke mejaku.
Jangan sampai dia berpikir macam-macam tentangku. Misalnya, penguntit? Tukang intip? Tidak, aku tidak ingin dilabeli negatif seperti itu.
Lama aku tertunduk di meja, merutuki kebodohanku sendiri.
“Hai,”
Sebuah suara mengagetkanku. Jarang-jarang ada yang menyapa, karena pengunjung yang tidak seberapa. Aku mengangkat wajah dan langsung berhadapan dengan sosok yang membuat lidahku kelu seketika.
“Aku lihat kamu selalu sendirian di sini.”
Aku tidak menjawab. Hanya menelan ludah sambil berusaha untuk tersenyum—dan sama sekali tidak berhasil karena aku malah meringis.
“Kenapa kamu tidak karaoke bersamaku di dalam?”
Ajakan itu berhasil membuat bola mataku membola. “Jinjja?”
Dia mengangguk, dengan wajah serius. Ekspresi sedih yang tadi kulihat sama sekali sudah hilang.
“Ayo. Aku masih punya waktu setengah jam lagi, kan?”
Otakku berusaha untuk berpikir, tapi hatiku sudah membuat keputusan. Ayo sana, ikuti ajakannya. Kapan lagi kamu bisa melihatnya lama dan jelas, bukan lewat celah pintu? Jangan bodoh, Kang Seulgi.
Akhirnya, aku mengangguk dan mengikutinya ke dalam ruang nomor satu.
***

“Suaramu bagus. Tahu begitu, sejak awal aku sudah mengajakmu.”
Aku meringis kecil sambil menunduk dan memainkan ujung rambutku. “Tidak sebagus suaramu pastinya.”
Dia tertawa. Tawa yang renyah.
“Terima kasih sudah menemaniku hari ini.”
Aku mengangguk.
“Sampai jumpa lagi.”
Dia memukul pundakku pelan sebelum akhirnya keluar dari tempat karaoke ini.
Begitu sosoknya menghilang dari pandanganku, aku tersadar satu hal. Kenapa aku begitu bodoh sampai-sampai tidak menanyakan namanya?
Kang Seulgi, pabo.
***

Ada yang berbeda sore ini. Tempat karaoke ini ramai. Maksudku, empat dari tujuh ruangan terisi. Malah, satu ruangan diisi oleh empat orang nenek-nenek yang sepertinya tengah bernostalgia, kalau dilihat dari pilihan lagu mereka yang dirilis empat puluh tahun lalu. Mereka membuatku sibuk dengan pesanan minuman atau makanan atau meladeni pertanyaan mereka yang suka kebingungan menggunakan komputer. Atau meminta bantuanku memilihkan lagu karena angka-angka kecil di buku lagu tidak terlalu jelas di penglihatan mereka.
Belum pernah aku sesibuk ini.
Saking sibuknya, aku sampai menolak ajakannya untuk karaoke bersama sore ini. Tentu saja, hal itu membuatku kecewa. Nenek-nenek ini masih terus memanggilku, sehingga aku bahkan tidak sempat mengintipnya dari celah pintu.
“Kamu sudah mau pulang?” aku baru saja mendudukkan tubuhku ketika sosoknya muncul di hadapanku. Sore ini dia tetap memakai sweter kebesaran—bedanya sekarang berwarna putih—celana pendek putih, running shoes. Dan tanpa snapback. Sehingga rambutnya terlihat jelas. Dengan poni menutup seluruh keningnya, dia terlihat lucu.
“Aku harus pulang cepat hari ini, jadi tidak bisa lama-lama di sini.”
Aku mengangguk, dalam hati merasa kecewa mengapa hari ini sangat tidak bersahabat denganku?
“Sampai ketemu lagi, ya.” Dia melambai sebelum keluar dari pintu.
Melihatnya pergi, aku teringat kebodohanku kemarin. Dan, aku tidak ingin mengulanginya.
“Tunggu,” seruku, tepat sebelum dia menutup pintu.
Dia menatapku dengan wajah penasaran. “Ada apa?”
“Kalau boleh tahu…”
“Seulgi!” Sebuah seruan menelan ucapanku. Seruan itu berasal dari belakang tubuhnya. Pamanku.
Pamanku menerobos masuk, menggeser tubuhnya hingga tidak menghalangi pintu. Tanpa mendengar kelanjutan pertanyaanku, dia pun berlalu—setelah sebelumnya sempat tersenyum padaku.
Ugh, kenapa paman harus datang sekarang? Ini, kan, satu-satunya kesempatanku.
“Kamu bereskan ruang satu, ya. Sebentar lagi teman-teman Paman datang, dan kami mau memakai ruangan itu.”
Dengan malas-malasan, aku mengikuti perintah Paman. Bagaimanapun, aku masih kesal padanya.
Ruangan satu tidak terlalu berantakan. Dia menggunakan ruangan itu sendiri, tentu saja ruangan itu tidak jadi kacau. Aku cukup mengganti pembungkus mikrofon, itu saja. Namun, sebuah buku yang tergeletak di atas meja menarik perhatianku.
Aku mengambil buku itu. Buku musik. Sepertinya ini milik dia. Melihat buku ini, juga kerajinannya datang ke tempat ini utnuk bernyanyi, aku jadi berpikir kalau dia sebenarnya pengin jadi musisi.
Dengan jantung berdebar hebat, aku membuka buku itu. Di halaman pertama, terdapat jawaban atas pertanyaan yang tadi tidak sempat kuselesaikan.
Im Jaebum.
Namanya Im Jaebum.
Im Jaebum. Berkali-kali aku mengulang nama itu. Nama yang bagus. Mirip nama penyanyi terkenal yang juga kusukai. Dan dia pun menyanyi sama bagusnya dengan Im jaebum si penyanyi terkenal.
Aku membuka halaman berikutnya. Halaman itu berisi coretan lagu yang belum selesai. Begitu juga halaman setelahnya. Sepertinya, dia mengalami kesulitan ketika membuat lagu. Di halaman terakhir, mataku menyapu sebaris lirik lagu yang membuatku terpaku.

I remember when I was a kid
I just want to sing and dance
I remember when I was a kid
I want to stand at the biggest stage in Seoul
But why, when I look at my reflection in a mirror
All I see is just a loser

Lirik yang begitu sedih.
Entah setan apa yang merasuki, aku membawa buku itu ke meja kerjaku. Aku membongkar isi tas, mencari bolpoin atau apa saja yang bisa kugunakan untuk menulis. Ketika menemukannya, aku mencoret bagian terakhir lirik itu.
Dan menuliskan sesuatu di sana.
***

“Jangan menyerah. Sekarang aku hanya melihatmu dari celah pintu yang sengaja kubiarkan terbuka setiap kali kamu datang ke sini. Namun aku yakin, suatu hari nanti, aku akan melihatmu menyanyi di atas panggung terbesar di Seoul. Bahkan di dunia.
Percayalah padaku, Im jaebum-ssi. Karena kamu memiliki suara yang bisa membuat orang lain (setidaknya aku) bahagia.
Dari fans nomor satumu, Kang Seulgi.”
***

“Pokoknya, pastikan Paman memberikan buku itu jika dia datang. Paman masih ingat ciri-cirinya, kan? Dia pasti datang setiap jam empat, atau mungkin lebih sedikit. Dia terlihat dingin, tapi sebenarnya dia tidak seperti itu. Oh ya, dia suka memakai sweter kebesaran dan celana pendek selutut. Juga snapback, atau mungkin juga dia tidak memakai snapback hari ini karena kemarin dia tidak memakainya. Pokoknya, paman pasti langsung tahu siapa dia begitu dia muncul. Satu lagi, ajak dia ke ruang nomor satu, dia selalu memakai ruangan itu.” Aku berbicara panjang lebar di telepon dalam satu kali tarikan napas.
“Ini sudah kesepuluh kalinya kamu mengingatkan paman.”
Aku tahu pamanku berlebihan—atau malah aku yang berlebihan?
Aku menggeleng. “Pokoknya, pastikan paman memberikan buku itu padanya.”
“Iya, kamu tenang saja. Sudah ya, ada yang datang.”
Aku menutup telepon. Meski sudah berkali-kali mengingatkan paman, tetap saja aku khawatir. Bagaimana jika paman lupa, lalu tidak memberikan buku itu padanya? Atau malah memberikannya ke orang yang salah?
Seharusnya aku ke tempat karaoke itu sekarang. Tapi, ada tugas sekolah yang harus kukerjakan sehingga aku pun terpaksa menghabiskan sore ini di perpustakaan bersama Juhyun.
Selama dua jam ini, aku tidak bisa berkonsentrasi. Setengah pikiranku ada di tempat paman. Ingin rasanya menelepon paman, tapi Juhyun terlanjur menyimpan ponselku yang dianggapnya sebagai alasan mengapa aku tidak bsia berkonsentrasi.
“Kita lanjutin besok aja,” putus Juhyun ketus.
“Mianhae,” seruku pelan. Ini salahku. Sudah berkali-kali dia mengingatkanku untuk berkonsentrasi, tapi aku tidak pernah bisa mengikuti permintaannya.
“Kamu pulang duluan aja. Aku masih harus mencari buku lagi.”
“Tapi…”
“Seulgi-ya…” Juhyun memegang kedua pundakku dan memutar tubuhku hingga menghadapnya. “Dari tadi kamu sudah terlihat tidak betah di sini. Jadi, aku tidak mau memaksamu tinggal lebih lama.”
“Mianhae, Juhyun-ah…”
Juhyun hanya melambaikan tangan di depan wajahku dan berlalu menuju rak bbuku, mencari buku entah apa.
Buru-buru aku membereskan peralatan sekolahku dan berlari keluar dari perpustakaan. Aku harus sesegera mungkin sampai di tempat paman, memastikan paman menyampaikan pesanku ke orang yang benar.
“Kang Seulgi.”
Hampir saja aku terjatuh karena berhenti mendadak ketika seseorang memanggil namaku, tepat ketika aku keluar dari gerbang sekolah. Aku berbalik dan… ya Tuhan… apa penglihatanku bisa dipercaya?
Tidak mungkin dia ada di sini.
“Kamu? Kenapa kamu ada di sini?”
Dia—maksudku Jaebum—mengangkat sebelah tangannya. Di sana, ada buku musik miliknya yang kemarin tertinggal di tempat karaoke. Aku menghela napas lega begitu tahu paman benar-benar mengembalikannya ke orang yang tepat.
“Pamanmu bilang kamu sekolah di sini.”
“Oh…” Aku kehabisan kata-kata. Kenapa di saat seperti ini, aku malah bertingkah seperti ini? Ayo, pikirkan satu kata saja, Kang Seulgi. Ajak dia bicara.
“Ngomong-ngomong, terima kasih buat dukungannya. Itu sangat berarti untukku,” ucapnya sambil menunjuk buku musiknya.
Tentu saja aku memahami maksudnya. Ucapannya itu membuatku refleks menunduk karena malu. Aku hanya bisa memainkan kepangan rambut karena tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapannya. Sejujurnya, aku tidak terlalu yakin tulisanku akan memberikan efek apa-apa, mengingat kami yang tidak bisa dibilang saling mengenal. Aku tidak menyangka dia akan menganggap serius tulisan dari orang asing sepertiku.
“Kamu sudah makan?”
Pertanyaan itu membuat tanganku berhenti memainkan kepangan rambut. Aku mengangkat wajah, menatapnya dengan ekspresi melongo. Apa itu artinya dia mengajakku makan?
Tidak, jangan berpikiran terlalu jauh, Kang Seulgi.
“Aku mau mengajakmu makan. Anggap saja itu ucapan terima kasih dariku. Kamu mau?”
Sebuah pertanyaan yang sama sekali tidak kuduga tapi mampu membuat jantungku berdebar hebat. Perlahan-lahan, bibirku terangkat membentuk sebuah senyuman. Hanya orang bodoh yang akan menolak ajakan ini.
Dan aku, Kang Seulgi, tentu saja bukan orang bodoh itu.
Lalu, aku pun mengangguk.