Thursday, December 22, 2016

When a Snail Falls in Love: Singa, Siput, dan Human Trafficking Antar Negara


Another Chinese crime drama. When a Snail Falls in Love based on Chinese best seller novel who also wrote Love Me If You Dare (read reviews here). The main lead is Wang Kai who caught my eyes when he played as Li Xun Ran at Love Me If You Dare. Because I looove Love Me If You Dare so much, so I give this drama a chance. Simply because I believe that this will be a good drama. Also, I read a positive review about this.
So, I think there are a lot of reasons why I had to watch this drama.
And I think I made a good choice.

A Snail and A Lion

First of all, I think this is another serial killer drama, like Love Me If You Dare. But it’s wrong. Snail (for short) has a different story and case with Dare (for short) so it’s not good if we made a comparison.
Dari segi tone aja, drama ini beda banget dengan Dare. Snail, at least, enggak se-gloomy Dare. Isunya lebih kompleks, tentang drugs dan human trafficking. Setting cerita ada di sebuah kota kecil di Cina, disebut Lin City, bukan di Beijing. Later that I know kalau kota ini dekat perbatasan dengan Myanmar sehingga isu yang disorot ternyata juga masalah yang sering dihadapi saat ini.
Snail bercerita tentang Xu Xu, cewek lamban dan lemah tapi jago dalam hal analisa prilaku. Dia baru lulus akademi kepolisian dan ditempatkan sebagai karyawan magang di crime unit yang dipimpin oleh Kapten Ji Bai. Ji Bai enggak suka karena menurut dia Xu Xu enggak pantas ada di unit itu. Ji Bai dan Zhao Han (his right hand also his best friend) taruhan dan memberi Xu Xu waktu tiga bulan buat membuktikan diri kalau dia mampu untuk menjadi bagian dari crime unit.
Xu Xu punya hobi menggambar, dia membuat ilustrasi kesehariannya ke dalam bentuk gambar. Dirinya digambarkan sebagai seekor siput dan Ji Bai sebagai singa. Frankly speaking, her drawing is so cute I like it. Drama ini berlangsung sekitar tiga bulan, dengan kasus satu per satu bermunculan. Kasus yang awalnya terlihat berdiri sendiri tapi lama-lama saling sambung menyambung dan berujung ke satu kasus besar.

Drugs & Human Trafficking

Kasus yang sebenarnya sudah mulai diincar sejak belasan tahunlalu.
Kasus pertama berupa penculikan menantu di Ye Family (lupa namanya). Kasus ini kemudian membuka fakta soal pencucian uang yang dilakukan Ye Zi Yi, sahabat baik Ji Bai dan masalah di perusahaan Ye Group. Ye Zi Yi membawa kita ke masa dia kecil dulu ketika dia yakin ayahnya dibunuh, bukan meninggal karena kecelakaan. Pencucian uang ini membawa kita masuk ke dalam keluarga Ye dan masalah antara Ye Zi Yi dan sepupunya Ye Qiao yang suaminya selingkuh dengan Ye Zi. Masalah makin rumit ketika Ye Zi terbunuh dan tersangkanya antara si menantu yang dulu diculik slash selingkuhan Ye Zi slash suami Ye Qiao atau Ye Qiao yang sejak dulu cemburu sama Ye Zi atau kakaknya Qiao yang ingin menyelamatkan perusahaan.
Lalu, apa hubungannya antara perusahaan Ye dengan drugs dan human trafficking?
Kita masuk ke kasus kedua. Brother Lu, big boss yang menjual cewek-cewek yang sebelumnya diculik. Masalah ini berawal dari ditemukannya mayat seorang cewek di bawah umur. Namun Xu Xu membuat kesalahan dengan menggiring opini kalau Brother Lu itu cowok. Ketika mereka berhasil menggrebek markas, mereka menyelamatkan semua cewek yang disekap, termasuk salah satu yang belakangan diketahui sebagai Brother Lu yang sebenarnya.
Brother Lu berhasil kabur ke Myanmar dan berada di bawah perlindungan seorang Jendral Myanmar.
Balik lagi ke perusahaan Ye. Ternyata Uncle Hu, orang kepercayaan di sana menyalahgunakan perusahaan buat membangun bisnis drugs. Uncle Hu berhasil kabur.
Dan ujung-ujungnya, kasus ini berakhir di satu sosok yang merupakan sang criminal mastermind.

Kejahatan Antar Negara

Menonton drama ini berasa ngeri karena banyak tentaranya. Bukan tentara cakep macam Yoo Si Jin, tapi tentara yang bikin ngeri. Serasa nonton film jaman dulu. Gue enggak masalah nonton seri pembunuhan berdarah-darah atau serial killer super kejam, tapi gue enggak sanggup nontonin tentara-tentara dengan senjata laras panjang dan naik tronton.
Masalahnya, setengah drama ini ceritanya mereka udah ke Myanmar, di kota perbatasan dengan Cina. Ji Bai kerjasama dengan tentara Myanmar dalammenyelesaikan misi ini. Gue pengin udahan nontonnya, tapi sayang aja enggak selesai nonton cuma demi ketakutan gaje gini.
Oh ya, untung masalah Bahasa digambarkan apa adanya di sini. Ketika tim Ji Bai dan tim Myanmar ngomong, mereka pakai Bahasa Inggris meski ngaco. Beda dengan Dare yang ketika kerjasama dengan FBI, tim Taiwan tetap pakai Bahasa Mandarin dan tim US pakai Bahasa Inggris dan mereka bercakap-cakap seolah mengerti satu sama lain. Detail yang lumayan mengganggu.
(Tapi yang paling epic tetap film Cina-nya Lee Joon Gi, Never Said Goodbye. Junki ngomong Korea, si cewek ngomong Cina logat mainland, Ethan Ruan ngomong Cina logat Taiwan. Eaaa)

Kota Kecil yang Apa Adanya

Satu hal yang patut diacungi jempol adalah keadaan kota kecil yang apa adanya. Mungkin kita bosan dengan cerita berlatar di kota besar metropolitan. Snail mengajak kita menjejak kota kecil dan juga kota perbatasan, karena di sini banyak banget terjadi kasus kejahatan. Bahkan, kota perbatasan selalu menjadi sumber kejahatan antar negara.
Sungai Mekhong. Pertama kali gue dengerin nama sungai ini waktu belajar IPS saat SD dulu, gue merinding. Entahlah, the more I want to know about Indocina, the more I feel uneasy in my heart. I don’t know how to explain it, tapi gue merasa ngeri aja dengan nama sungai ini, terlebih kalau udah menyangkut militer. Gue juga enggak tahu kapan pertama ngerasain perasaan ngeri ini tiap kali melihat militer + Cina + Indocina. Tapi kepo juga, gimana dong? (That’s why I bought The Symphatizer, a book who won Pulitzer and written by Vietnamese author about Vietnam War).

Not My Cup Of Tea

Snail punya cerita yang kompleks dan dark. Karena isu yang diangkat lebih humanis ketimbang Dare yang isunya lebih ke masalah pribadi. Snail punya cerita yang menegangkan sampai akhir, literally sampai menit-menit akhir. Gue suka tokoh-tokohnya yang meski banyak tapi punya ciri khas tersendiri sehingga enggak ngebingungin, kecuali masalah nama yang butuh ingatan ekstra keras buat hafal semua.
Namun dari segi cerita, this is not my cup of tea. I enjoy it but I don’t love it. Balik ke masalah isu yang diangkat sih karena isu ini bukan selera gue.
But I recommend this drama for you if you want to try another thrilling drama.
Dan Wang Kai terlalu ganteng buat dilewatkan, he-he.

Bonus
Drama Asia & Gadget
Oke, ini cuma hasil pengamatan kurang penting sekaligus kurang kerjaan gueaja. Setiap kali nonton drama, gue selalu merhatiin gadget yang dipakai. Setiap gadget ngegambarin dari negara mana drama itu. Berikut hasil penelitian kurang penting gue.
Drama Korea: HP kalau enggak Samsung ya LG. Chatting pakai Line atau Kakao Talk. Search engine yang dipakai Naver. SNS mirip Instagram atau Weibo.
Drama Cina: HP-nya Oppo. Search engine: Baidu. SNS: Weibo. Chat: WeChat
Drama Jepang: HP-nya Sony. Chat: Line atau KaTalk (udah lama enggak nonton dorama Jepang jadi hasil nalisa masih minim).
Dan yang lucu ada di drama Taiwan: HP-nya iPhone. Chat: WhatsApp. Search engine: Google.

So? Yah, itulah hasil analisa kurang penting gue he-he.

Thursday, December 1, 2016

Love Me If You Dare: Kisah Criminal Psychologist, Serial Killer dan Esensi Dasar Cerita Kriminal

(Makin tua, gantengnya makin mateng)

Dulu banget, gue salah satu penggemar berat drama Taiwan. Yup, efek Meteor Garden juga, sih. Waktu itu, stasiun TV di Indonesia seakan berlomba-lomba buat nanyangin drama Taiwan, sehingga kita lumayan mudah terpapar drama Taiwan. Beberapa judul sempat jadi favorit gue, di antaranya At Dolphin Bay, MVP Lovers, Hot Shot, Twins, Westside Story dan yang menjadi drama favorit sepanjang masa—hingga sekarang, Lavender. Gue juga menggandrungi aktor Taiwan. Vanness Wu adalah bias pertama gue, he-he. Gue juga suka 5566 dan Fahrenheit. Untuk aktor, gue suka Ambrose Hsu dan Wallace Huo sementara Penny Lin dan Tammy Chen menjadi my first girl crush.
Ketika akhirnya mengikuti drama Korea, gue sama sekali enggak melirik drama Taiwan. Sesekali cuma mengikuti filmnya. Aktornya pun enggak seintens dulu, kecuali Ambrose Hsu, masih lumayan sering gue cari tahu infonya. Sampai beberapa bulan lalu, gue melihat di Instagram Vanness Wu (yup, he’s still my bias) soal drama The Princess Weiyoung yang dia bintangi. Terlintas di benak gue soal drama Taiwan sekarang.
Apalagi, gue sering berkunjung ke Dramafever.com buat mencari ide tulisan untuk artikel. Di sana lagi heboh diomongin soal drama When a Snail Falls In Love. Gue jadi penasaran. Usut punya usut, gue sampai ke drama berjudul Love Me If You Dare.
Dan gue teringat masa lalu.
Semua karena Wallace Huo.

(Waktu masih muda di At The Dolphin Bay)

Karena melihat nama Wallace Huo di Love Me If You Dare. Setelah menelisik lebih jauh, ternyata di Cina dan Taiwan Wallace masih high demand banget, di usianya yang hampir mencapai 40 tahun. Gila, keseringan main sama dedek-dedek Korea, gue serasa menemukan dunia baru ketika mencari tahu soal drama Taiwan. Masa iya drama rom-com Taiwan dikuasai Aaron Yan? Dia kan orang lama juga, anggotanya Fahrenheit dulu.

Wallace Huo dan Kisah Kriminal

Pada akhirnya, bukan nama Wallace Huo yang bikin gue memutuskan menonton Love Me If You Dare. Melainkan karena ini drama kriminal. Tentang seorang criminal psychologist dan asistennya yang berusaha memecahkan kasus kriminal. Damn, that’s my favorite. Gue sendiri lupa kapan pertama kali tertarik sama crime series, tapi gue betah menghabiskan waktu berjam-jam maraton Criminal Mind atau CSI meski ceritanya selalu diulang-ulang saat menonton di TV.
Love Me If You Dare bercerita tentang cowok super jenius, Profesor Bo Jin Yan (Simon Bo) yang di usianya yang baru 30 tahunan sudah menjadi profesor. Meski dia jenius, EQ-nya rendah banget, makanya dia terlihat misterius, aneh dan enggak bisa mengekspresikan diri. Di sisi lain, ada Jian Yao, cewek yang baru lulus kuliah dan melamar pekerjaan sebagai translator buat Jin Yan. Setelah bekerja sama, Jin Yan merasa cocok dengannya dan menawarinya pekerjaan sebagai asisten karena saat itu dia tengah membantu kepolisian lokal mengusut kasus hilangnya anak-anak kecil.
Prinsip Jin Yan adalah dia hanya mau mengusut kasus kejahatan besar dan menangkap penjahat paling kejam. Di saat polisi lokal beranggapan kasus ini ada hubungannya dengan child trafficking, Jin Yan berpikiran lain. Ini adalah kasus serial killer.
Dan serial killer adalah makanan favoritnya Jin Yan (and my favorite too karena kasus cerita yang melibatkan serial killer selalu kompleks dan si serial killer biasanya seseorang yang jenius).
Satu kasus selesai, lanjut ke kasus lain. Namun ada satu clue yang menggelitik Jin Yan. Karena itu mengingatkannya pada kasus Flower Cannibal, kasus serial killer yang dulu ditanganinya di Amerika. Demi menangkap si pelaku, Tommy, Jin Yan sampai rela ditangkap Tommy dan enam bulan berada di dalam sekapan si serial killer. Pada akhirnya, masa lalu Jin Yan kembali menghantuinya dan membuatnya kembali berhadapan dengan penjahat yang sama, juga penjahat lain yang lebih berbahaya.

Two Thumbs Up For Wallace Huo

Menonton Love Me If You Dare membuat gue jatuh cinta lagi kepada Wallace Huo. Yup, sama seperti cerita soal Lee Joon Gi (yanggue tulis di sini) dulu dia enggak terlihat terlalu mempesona. Di At Dolphin Bay, gue lebih suka Xu Ze Ya ketimbang Zhong Xiaogang. Semata karena yang memerankan Ze Ya adalah Ambrose Hsu, my childhood crush after I watched him in Lavender. Xiaogang di mata gue hanya sebatas flower boy, that’s it.
Lalu, gue enggak terlalu ngikutin soal dia lagi. Sampai akhirnya dia muncul sebagai Bo Jin Yan. Sama seperti Wang So yang memberi gue heart attack, efek yang ditimbulkan Bo Jin Yan juga sama. Di sini dia kurus banget, efek jangka panjang dari masa-masa ditahan Tommy. Totalitas Wallace dalam hal ini patut diacungi jempol.
Wallace sukses memainkan sosok dingin super jenius tanpa ekspresi ini. Namun, ketika Jin Yan mulai suka sama Jian Yao dan dia bingung gimana cara mengungkapkannya, itu terlihat lucu. Awkward-nya Jin Yan bikin ngakak.
Tapi enggak lama, karena setelah itu, dia kembali membuat gue bergidik ngeri dengan ekspresi dinginnya ketika menjadi Allen. Allen ini personality yang dia bangun di hadapan Tommy buat mengulur waktu agar enggak dibunuh, jadi dia seakan-akan mengalami split personality. Prefosor Simon Bo Jin Yan yang berkepala dingin dan pintar, Bo Jin Yan yang awkward saat jatuh cinta pertama kali, dan Allen yang berhati dingin dan seakan-akan bisa jadi serial killer. Tiga karakter beda. Diperankan dengan apik oleh satu orang.
Angkat topi buat Wallace Huo.

Esensi Dasar Cerita Kriminal

Oke, ini cuma teori gue. Dalam menikmati sebuah cerita kriminal, gue punya patokan sendiri soal cerita mana yang menurut gue bagus dan sukses menyajikan sebuah cerita menarik. Crime series bukan sekadar si baik menangkap si jahat. Crime series lebih dari sekadar bag big bug polisi dan penjahat. Crime series is very complicated.
Karena itu, gue mempunyai beberapa esensi dasar yang harus dimiliki oleh sebuah cerita kriminal. Ini yang bikin gue senang karena Love Me If You Dare memenuhi semua esensi dasar versi gue ini.

Hero And Their Backstory
Setelah mengikuti berbagai jenis crime series, gue jadi fokus pada backstory para hero. Biasanya backstory ini diambil di masa kecil atau di satu masa di hidupnya, dan kejadian traumatis ini yang membentuk karakter dirinya di masa sekarang. Misalnya Mac Taylor (CSI:NY) yang kehilangan istrinya di peristiwa 9/11.
 Love Me If You Dare punya backstory yang kuat. Domestic abusive masa kecil yang dialaminya membentuk karakter Bo Jin Yan. Terlebih soal kematian ayahnya, yang menjadi alasan kuat bisa saja karakter Allen beneran ada. Juga pengalaman berhadapan langsung dengan Tommy, a legendary serial killer, benar-benar mempengaruhinya.

Profiling Is The Best
Momen yang paling gue suka dari cerita kriminal adalah saat profiling. Gue selalu amaze pada saat profiling. Makanya, momen ketika tim FBI menjabarkan profil calon tersangka di Criminal Mind selalu bikin gue geleng-geleng kepala. Mereka orang-orang jenius yang bisa menebak profil seseorang dari temuan bukti di lapangan. Dan seringkali, profil yang mereka bentuk selalu tepat. Karena itu, belajar profiling selalu (dan akan selalu) menjadi isi bucketlist gue, he-he.
Di Love Me If You Dare, gue suka dengan profiling yang dilakukan Bo Jin Yan. Meski di beberapa scene gue harus menonton berkali-kali buat mencernanya. Karena dia kelewat jenius dan susah mengekspresikan diri sehingga enggak bisa menjelaskan dengan bahasa manusia kenapa dia mengambil kesimpulan itu. Li Xun Ran dan polisi lain aja sampai cengo depan dia, apalagi gue yang cuma penonton biasa? Enggak heran ketika akhirnya Jin Yan perlahan mengajar Jian Yao, ini jadi momen favorit gue. Dia menunjukkan kepeduliannya dengan cara enggak biasa—mengambil kasus paling gampang, which is ini bertentangan dengan prinsipnya yang hanya mau menangkap penjahat paling kejam, karena kasus itu cocok ditangani oleh pemula seperti Jian Yao.

Hero Enggak Maksa Kerja Sendiri

Gue suka malas dengan karakter hero yang maksa menyelesaikan semua masalah sendiri.Oke, dia tokoh utama, dia punya kemampuan lebih dibanding anggota tim lainnya, sehingga make sense jika dia akhirnya mencari penyelesaian sendiri. Sosok seperti ini terlihat seperti dewa. Bahkan, Sherlock aja butuh Watson.
Ini yang bikin gue betah mengikuti Love Me If You Dare, karena Jin Yan enggak ‘makan’ semuanya sendiri. Dia tahu kapasitasnya hanya seorang criminal psychologist, dia bukan polisi, jadi tugasnya hanya mengawasi dan membimbing. Bukan menangkap, karena itu tugas polisi. Jadi, setiap bukti dan temuan baru, selalu dibagi kepada polisi. Juga kebalikannya, polisi menghormati dia sebagai pembimbing. Kerjasama ini bikin cerita terlihat lebih manusiawi. Bukan hanya itu, Jin Yan juga punya sidekick, Fu Zi Yu, yang siap membantu dia.

Criminal Mastermind
Kenapa crime series itu kompleks, itu karena penjahatnya enggak selalu yang nyata di depan mata kita. Kadang ada cerita yang menggiring persepsi penonton untuk menebak siapa si pelaku. Namun, si criminal mastermind misterius yang serasa jadi pain in the ass bagi karakter hero kita jadi kejutan paling ditunggu-tunggu. Moriarty, my friend, is the great example.
Love Me If You Dare mempunyai sosok criminal mastermind yang benar-benar jadi kayak bisul yang siap meletus. Bikin kesal. Bahkan kita yang nonton aja kesal, apalagi Bo Jin Yan. Serunya, cerita ini memiliki sosok penjahat berlapis, yang bikin kita mendapat kejutan baru di setiap beberapa episode. Awalnya mengira Tommy, eh ternyata muncul sosok Xie Han. Namun ternyata Xie Han bukan tersangka final karena masih ada kejutan lainnya. Ketika si criminal mastermind ini muncul, gue cuma bisa jambak-jambak rambut, he-he.

Doubt Is Your Worst Nightmare

Cerita kriminal umumnya berpusat pada satu kelompok. Jumlah orang dalam kelompok ini bermacam-macam. Karena itu, agar kerja tim bisa sukses, semua anggota harus kompak. Ini bisa jadi kekuatan sekaligus kelemahan. Kekuatan karena kalau bekerja bersama-sama, si pelaku bisa cepat tertangkap. Namun, ini bisa jadi kelemahan ketika si pelaku berniat mengacak-acak isi tim.
Pada akhirnya, keraguan dan ketidakpercayaan bisa jadi bumerang. Ada satu kalimat di drama ini yang menggambarkan dengan tepat situasi ini. Kurang lebih, Jin Yan ngomong gini, “Ya, tidak ada yang saya miliki sekarang selain teman-teman yang mempercayai saya.”

An Open Ending

Ending tentunya jadi indikator kesuksesan sebuah cerita sampai ke hati dan pikiran pembaca atau penonton. Salah satu ending favorit gue adalah open ending. Namun, enggak gampang buat membuat open ending. Salah-salah, malah kerasa maksa. Open ending favorit gue itu Signal. Damn, I still need an explanation about that series. Signal season 2, please?
Back to Love Me If You Dare. Di episode 23 (2 episode terakhir) gue mulai mikir ending kayak apa yang bakal dihadirkan? Akan basi banget kalau ternyata akhirnya hanya happy ending standar Jin Yan bahagia bareng Jin Yao dan si penjahat mati. Ini sih bikin kesal. Untungnya, si criminal mastermind enggak mati, meski penjahat lain mati itu agak bikin kesal sih. Sempat agak kecewa ketika kamera menghadirkan sosok demi sosok pendamping yang juga menemukan kebahagiaan, sehingga mikir, so this is it?
Untungnya, ada kejutan di akhir. Ketika wajah Jin Yan tampil close up di layar kaca. Sekali lihat ini sih biasa aja. Namun ketika diperhatikan, gue jadi mikir. Who is he? Simon? Or Allen?
Damn! Gue langsung jambak rambut begitu lagu penutup diputar. Gemas gila, mikirin endingnya. Bisa aja gue beranggapan itu Simon, but no. Gue masih berharap itu Allen. Tapi, Allen kan aslinya enggak ada?
Well, meski dibilang Allen enggak ada, tapi ada beberapa unsur sejak awal yang kalau dipikir-pikir ulang bisa bikin kita mikir kalau mungkin saja Allen itu ada. Seperti kata Jian Yao, dia kadang enggak ngerti dengan pola pikir Jin Yan, karena Jin Yan terlihat sangat mengerti isi pikiran serial killer. Gimana dia bisa ngerti banget? Dan yang terjadi selama disekap Tommy, toh hanya Jin Yan yang tahu.
Ending seperti ini emang sukses bikin gila.
Tapi juga bikin bahagia karena menemukan satu drama seru dan menegangkan hingga episode akhir.

#Sidenote
Gue pengin berandai-andai kalau drama ini dibikin remake versi Korea. Pilihan gue jatuh pada Lee Dong Wook untuk jadi Bo Jin Yan.




Sementara Jian Yao, gue pengin Hwang Jung Eum, tapi dia ketuaan. Dan, entah kenapa gue melihat Irene cocok jadi Jian Yao. Dia cewek yang cantik dan terlihat biasa-biasa saja, tapi di sisi lain terlihat dingin dan detik selanjutnya, dia terlihat fragile. Also, I see Irene in Sandra Ma.
(Sandra Ma)

(Irene. Cocok kan jadi Jin Yao? He-he-he)

Wednesday, November 30, 2016

Two Weeks: CLBK Dengan Lee Joon Ki, Pelarian Dua Minggu dan Janji Seorang Ayah Pada Anaknya


Lee Joon Ki itu ibarat gebetan waktu sekolah. Dulu dia terlihat lucu dan gebet-able, sehingga masa remaja lo diisi dengan ngegebet dia. Lalu, perjalanan waktu membuat lo mengenal orang baru dan perlahan melupakan dia. Sampai suatu hari, dia muncul kembali, dalam sosok yang masih lucu, tapi kali ini jauh lebih matang dan mempesona di usia dewasa. Saat itu juga, dia menjerat hati lo. Mencengkeramnya jauh lebih kuat ketimbang dulu, saat dia cuma sekadar gebetan-masa-sekolah. Detik itu juga, lo merasakan cinta lama yang dulu ada, kini muncul kembali. Tapi bukan cinta monyet masa sekolah. Melainkan cinta masa dewasa.
(Forgive me dengan pengandaian super lebay itu)
Gue pertama mengenal Junki (panggilan sayang gue haha) around 2008 lewat Iljimae. Saat itu, dia masih berupa seorang flower boy, si kkonminam yang seolah-olah keluar dari manga. Saat itu dia gebet-able, tapi hanya sebatas itu. Gebetan yang lucu buat dipandang lama-lama. Gue sempat ngelupain dia karena sibuk fangirling dengan aktor lain. Gue hanya ngikutin dia sekilas, ketika dia masuk wamil dan akhirnya keluar wamil, tapi enggak ada perasaan apa-apa. Baru ketika dia muncul di Two Weeks, gue kembali melirik dia. The original flower boy yang kali ini sudah lebih matang, meski dia masih agak cantik.
Junki kembali menjerat hati gue ketika dia muncul di Scarlet Heart: Ryeo. Drama yang gue tonton sebagai hasil cap-cip-cup dan enggak nonton for the sake of Junki. I know that Junki will play a main role and I believe in his acting, but actually gue enggak tertarik buat nonton. Because it’s sageuk. Later that I know he made me head over heels with him. Wang So menjerat gue dan bikin gue terjebak pesona Junki. The original flower boy yang masih sama—ceria, flirty but at the same time have deep thinking. Si kkonminam yang masih cantikbut at the same time, dia lakik banget. Sama seperti Ji Chang Wook, gue enggak bisa mengelompokkan dia ke mana. He’s not just another flower boy. He has something in his face that makes him stand out. Mungkin dagu lancipnya. Atau mata sipit-sipit tajamnya. Mungkin kuping caplangnya. Entahlah. His face is unique. Feminine but manly at the same time. Meski karena Wang So, dia nurunin berat badan sampai 30pon dan jadi cungkring banget. I miss my chubby Junki.
But I can’t believe he’s 35 years old. How come people like this will turn 36 next year?

Ketika akhirnya gue fangirling lagi sama Junki, gue lihat dia beda. Masih pecicilan, masih flirty, tapi ada sisi dewasa dia juga. Yang pasti, dia udah sukses ngebuang jauh-jauh image kkonminam. Sebenarnya sejak di Time Between Dog and Wolf udah keliatan laki, tapi ketika dia menginjak usia 30, kayaknya dia baru nemuin jati dirinya dan semakin nyaman dengan dirinya. Dan di usia 35 sekarang, dia terlihat seksi dalam kematangannya. Tsaahhh…
Enough with Junki.
Jadi, karena belum bisa move on dari Wang So, berencana buat nonton ulang drama Junki lagi. Sebenarnya pengin nonton ulang Iljimae meski aktingnya masih belum total di sana, tapi filenya susah dicari. Dan bosan dengan vintage-Junki dalam balutan hanbok. Secara drama modern dia dikit, akhirnya milih Two Weeks. Drama underrated padahal bagus banget. Dan ya, drama ini sama aja dengan Scarlet Heart: Ryeo, pengin meluk Junki karena kasihan nasibnya ngenes banget.

Pelarian Dua Minggu

Premis drama ini tentang Jang Tae San, gangster kecil-kecilan yang sudah dua kali ngegantiin bos besar masuk penjara. Kali ini, dia kembali dijebak dan dijadikan tersangka pembunuhan. Namun, dia enggak tahu bakal dijebak. Masalahnya, di saat yang sama, mantan pacarnya menemui dia lagi dan bilang kalau anak mereka butuh donor sumsum tulang belakang karena menderita leukemia. Dulu, Tae San memaksa pacarnya aborsi karena diancam akan dibunuh oleh bos besar karena dia akan gantiin si bos masuk penjara. Tapi si pacar enggak tahu. Ternyata dia cocok sebagai donor dan jadwal operasinya dua minggu lagi. Naas, dia ditangkap dan difitnah. Untung dia bisa kabur.
Jadi, setiap episode kita akan mengikuti perjalanan satu hari Tae San dalam pelarian. Gimana dia pengin membersihkan namanya sehingga anaknya enggak dicap sebagai anak pembunuh. Tae San harus kejar-kejaran dengan polisi, terutama detektif Im Seung Woo, detektif super lurus yang ternyata tunangannya Seo In Hye, mantan pacar Tae San. Di sisi lain ada Teacher Kim, pembunuh bayaran suruhannya big boss.
Enggak disangka, Tae San terjebak dalam kasus yang jauh lebih besar dibanding pembunuhan biasa yang melibatkan bos besar dan senator yang dihormati tapi ternyata korup.
Juga ada Park Jae Kyung, jaksa yang memulai semua ini, sejak delapan tahun lalu, dan meski dia pengin membantu Tae San, dia juga menyimpan agenda sendiri.
Menonton drama ini, kita sudah tahu endingnya bakal gimana. Tae San enggak salah dan dia pasti bisa membuktikan dirinya enggak salah. Big Boss akan menanggung akibat perbuatannya. Operasinya berhasil. That’s it. Udah ketebak bakalan gimana. Namun, bukan itu yang bikin drama ini menarik. Justru perjalanan Tae San selama dua minggu inilah yang menjadi daya tarik utama. Kita diajak ke sana ke mari, mengikuti Tae San. Dan Tae San enggak digambarkan sebagai sosok heroic yang too good to be true. Dia hanya orang biasa yang nasibnya sial aja. Malah, dia sendiri bilang kalau dua sekrup penting di otaknya udah hilang, he-he. Karena dia enggak super pintar, justru kecerdikannya bikin dia terlihat manusiawi. Kurang manusiawi apa coba pas kabur berusaha nyari ide lewat referensi film action yang dia tonton? Belum lagi di beberapa scene, Tae San terlihat putus asa. Jadi, dia makin terlihat manusiawi.
Juga, drama ini terasa padat. Mungkin karena satu episode satu hari, jadi detailnya benar-benar ditampilin. Konfliknya terjaga rapi dari awal hingga akhir, sehingga terasa menegangkan. Dan yang pasti, bikin sesak napas sepanjang nonton.
Ada satu kalimat yang bikin gue berkaca-kaca.
“I was trash, I was born trash, and lived as trash. I never believed the heart that died when I sent In Hye away would beat again. Not until I met that little child. For once in my life, just once, I want to live as a person.”

Jang Tae San & Seo Soo Jin, The Real OTP

Junki sempat hampir menolak drama ini. Alasannya karena dia sendiri belum menikah, jadi gimana mungkin dia bisa memerankan seorang ayah? Beruntung PD-nim berhasil meyakinkan Junki kalau dia pasti akan berhasil memerankan karakter Jang Tae San. Tebakan itu benar karena sepanjang drama, father-daughter relationship hook me up.
Gue suka ide memunculkan Soo Jin di hidup Tae San. Saat sudah putus asa, Tae San akan memunculkan sosok imajiner Soo Jin, sehingga mereka bisa bercakap-cakap. Semuanya hanya ada di dalam kepala Tae San, tapi cara ini sukses membuat penonton melihat perubahan sikap Tae San yang awalnya hanya happy go lucky guy dan gangster kecil-kecilan tanpa tujuan hidup, menjadi seseorang yang rela melakukan apa saja demi memenuhi janji yang sudah dia buat dengan orang yang dia cintai. Juga, dengan memunculkan Soo Jin di dalam sosok imajiner ini, itu bikin kewarasan Tae San tetap terjaga.
Salah satu momen favorit gue, ketika akhirnya Tae San bisa ketemu dan ngobrol dengan Soo Jin. It breaks my heart but at the same time there is a huge smile in my face. Tae San deserves this very special moment. That’s why, I give a big thank-you-nod to Park Jae Kyung.

Pada akhirnya, Junki enggak hanya sukses memerankan seorang ayah. Dia bahkan jatuh cinta beneran dengan anak kecil ini, Lee Chae Mi. Mereka masih akrab, bahkan Junki dan Park Ha Sun (pemeran In Hye, ibu Soo Jin) pernah berebut perhatian Chae Mi. Ketika gue iseng scrolling Instagram Junki, gue nemuin komentar Chae Mi yang masih manggil ‘daddy’, he-he.


*Sepertinya situ sudah pantas jadi bapak, haha)*

Setelah Belasan Episode, Akhirnya Junki Cakep Lagi
Sepanjang enam belas episode, kita mengikuti perjalanan Tae San dalam pelariannya. Jadi, jangan heran kalau tampangnya amburadul. Enggak mandilah, keringatan kucel, belum lagi nyamar dengan pakai kumis palsu. Meski Junki aslinya cakep, kecakepannya enggak terlalu kentara. Jadi jangan harap bakal adaeye candy di drama ini.
Momen Junki cakep hanya dua. Episode awal, ketika dia masih belum kena masalah dan suka pakai suit meski kerjanya cuma di toko gadai. Alasannya, dia enggak pernah menebak bakal ketemu siapa jadi tampil on point is a must. Juga ketika Tae San whoring himself sama tante girang he-he.
He looks like this.


Momen cakep kedua ada di episode terakhir. Setelah semua masalah selesai dan dia bisa bernapas lega. Juga ketika akhirnya bisa main sama Soo Jin. Sebuah penantian yang enggak sia-sia, termasuk buat penonton. Karena pada akhirnya, kita bisa melihat Tae San jadi cakep lagi dan senyum bahagia di wajahnya.


Ending realistis

Concern utama gue ketika menonton drama Korea adalah ending. Seringnya stop di episode dua menjelang akhir karena entah kutukan apa yang ada di dunia perdramaan Korea sehingga episode terakhir seringnya bikin turn off. Happy ending yang dipaksakan sehingga sukses bikin garuk dinding saking kesalnya.
Baik saat menonton dulu atau sekarang, gue cuma pengin satu hal. Awas aja kalau bikin Tae San balikan sama In Hye dan In Hye ninggalin Seung Woo sehingga mereka bisa hidup sebagai keluarga bahagia. Atau lebih maksa lagi, bikin Tae San jadian sama Park Jae Kyung.
Untunglah itu enggak kejadian.
Dan ending ini juga yang bikin gue makin suka sama Two Weeks. Karena ini akhir yang realistis buat mereka. Setelah semua pengorbanannya, Tae San akhirnya punya kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Jadi, sebelum dia benar-benar bisa berdiri di depan Soo Jin dengan kepala tegak, he needs time to himself. To figure out what he should do next. To figure out what he really really wants in his life. Senangnya, In Hye mengerti itu. Dan dia dan Seung Woo also need a time to make everything between them back to normal again, back to the moment before In Hye pay someone to looking for Tae San.
Mereka semua butuh waktu.

Lee Junki, Totalitas

As one of respected actor in South Korea, totalitas Junki emang enggak usah diragukan. Tapi, Two Weeks menjadi salah satu momen penting dalam hidupnya. Gue kaget ketika membaca interview dia soal Two Weeks. Karena peran Tae San, dia harus menyendiri biar dapat feel Tae San. Sutradara juga meminta dia buat enggak banyak ngomong dan berinteraksi dengan orang lain. Hingga akhirnya dia beneran larut dalam peran, hingga selesai syuting.
Akibatnya? Dia jadi stres dan terkena post traumatic syndrome. Untung cepat ditangani sehingga depresinya enggak berlarut-larut. Two thumbs up for Junki meski penerimaan Two Weeks kurang bagus. I don’t know about Korean rating system. Karena drama yang dapat rating tinggi kadang biasa aja dan drama bagus malah kurang diapresiasi. Dua contoh: Two Weeks dan It’s Okay That’s Love. Bisa aja dramanya mengikuti apa yang sedang tren di pasar, memasang aktor dan aktris kenamaan, tapi pada akhirnya rating enggak bagus-bagus amat.
Dan pada akhirnya, masa bodo dengan rating. Yang penting terhibur setelah menontonnya.

Bonus: Perkara Menonton Ulang

Kadang, menonton ulang diperlukan untuk memberikan perspektif baru dalam menilai sebuah cerita. Atau hanya sekadar ingin bernostalgia. Karena itu, gue sering menonton ulang beberapa drama yang gue suka.
Tentu saja, efek saat menonton ulang berbeda dengan menonton untuk pertama kalinya. Menonton untuk pertama kalinya, otak kita fresh, enggak ada perbandingan apa-apa. Palingan hanya perbandingan dengan drama yang dimainkan si aktor sebelumnya. Kalau aktornya sukses, kita bisa melihat sosok baru di dirinya (alasan kenapa gue enggak suka Lee Min Ho. Selain City Hunter, he just being himself, he just being Gu Jun Pyo).
Menonton ulang Two Weeks, perasaannya berbeda dibanding saat pertama dulu. Kali ini mendapat banyak gangguan. Misalnya Teacher Kim yang diperankan Song Jae Rim. Dulu gue takut sama dia. Sosoknya yang dingin dan tanpa ekspresi. Namun, setelah melihat lovey dovey Jae Rim di We Got Married, gue sering giggling sendiri ketika melihat dia di sini.
Juga Park Jae Kyung. Gue suka akting dia, karena ini cewek emang keren banget. Sejak jaman Iris, dia udah mencuri perhatian. Namun gue kurang suka dia di We Got Married. Cewek 30-an kok ya labil. Imagebadass yang selama ini melekat di benak gue ambyar sudah. Ketika melihat dia kembali badass di sini, itu berhasil mengembalikan persepsi gue soal dia.
Dan Park Ha Sun. Dulu, gue cuma terganggu dengan ekspresi dia pas senyum dan bahagia. Untung aja dia jarang senyum. Namun, dia jadi super gengges di Drinking Solo (baca reviewnya di sini) jadi ketika menonton Two Weeks, dia kelihatan gengges aja. Apalagi pas nangis dan ketawa, arghhhh #SorrynotsorryParkHaSun
Anyway, gue menonton drama ini demi menghilangkan rasa baper akibat Scarlet Heart: Ryeo. Nyatanya, ini drama enggak bisa dijauhin dari SHR. Selain Kang Ha Neul yang jadi cameo, Moon Il Suk, si big boss dan musuh utamanya Tae San adalah yang main jadi King Taejo di SHR. Eaaa moment banget, he-he.

Akhir kata, gue makin stres setelah menonton ini. Mari kita peluk Junki karena nasibnya yang selalu super ngenes.

Friday, November 25, 2016

Drinking Solo, Me Time & Alasan Kenapa Kadang Kita Butuh Makan Atau Minum Sendiri

Foto: koreandrama.org

Salah satu drama Korea favorit gue adalah Let’s Eat, drama ringan tapi sedikit menyentil dan kisah tokoh-tokohnya bisa diterima di kehidupan sehari-hari (Let’s Eat 1 dengan original cast karena enggak terlalu dapet feel Let’s Eat 2). Ketika tahu akan dibikin spin off, Let’s Drink atau Drinking Solo atau Drinking Alone (sumpah, ini yang masih belum gue pahami dari drama Korea dengan seabrek-abrek judul) jujur aja gue semangat. Kali ini, kita diajak minum-minum. Terlebih begitu tahu Key akan main di sini, motherly instinct gue langsung keluar (I saw SHINee as my child, he-he-he).Tentu saja, sebagai seorang ibu yang baik, gue akan memonitor Key di sini.
Drinking Solo bercerita tentang kehidupan di Noryangjin. Tentang mereka yang ingin ikut tes CPNS dan belajar di sebuah pusat lembaga belajar. Juga persoalan guru-guru di sana.
Ngomongin soal tokoh-tokohnya, gue lebih suka tokoh pendamping ketimbang tokoh utama. Sepanjang episode, gue menunggu kisah apalagi yang akan dihadapi tokoh pendamping, dan enggak ambil pusing dengan dua tokoh utama Jin Jung Suk dan Park Ha Na. Kisah mereka standar dan udah ketebak endingnya gimana. Terlebih gue enggak suka dengan ekspresi Park Hana, entah pas ketawa atau nangis (later, ini juga yang mengganggu gue ketika menonton ulang Two Weeks—review menyusul). Juga dengan pengulangan yang dilakukan Jin Jung Suk setiap episode soal tiga-aturan-penting-saat-minum yang selalu disebut di setiap episode. Sorry Professor Jin, I have to skip it.

Spotlight for Supporting Role
Foto: imgur.net

Yup, para supporting role inilah yang bikin drama ini menarik. Setiap episode, gue menunggu impersonasi apalagi yang akan dilakukan Professor Min. Dia jadi salah satu bumbu penghangat cerita, dengan segudang bakatnya dalam meniru karakter di drama atau film. He’s super funny, dan kalau lagi impersonasi beneran total, enggak tanggung-tanggung. Hebatnya, dia melakukan ini bukan buat dirinya, melainkan agar muridnya enggak bosan saat dengerin pelajaran di kelas dia. Favorit gue ketika dia meniru Park Hae Young dan ngobrol dengan detektif Lee Jae Han ala-ala lewat walkie talkie yang mirip banget dengan yang dipakai di Signal (paling juga ini property Signal).
Ada satuhal yang menggelitik dari Prof. Min. Kita enggak pernah bisa menebak isi hati seseorang. Di balik pembawaannya yang riang dan sifatnya yang seolah-olah takut sama istri dengan alarm yang selalu bunyi setiap jam sepuluh malam, itu memberikan twist tersendiri. Twist yang enggak disangka-sangka. Dan bikin kita mikir kalau jauh di dalam hatinya, bahkan orang paling ceria sekalipun, menyimpan masalah. Mungkin kita memang butuh untuk menyimpan masalah itu sendiri, se-suck apa pun itu, ketimbang membaginya dengan orang lain—yang mungkin juga mempunyai masalah.

Tiga Sekawan Kesayangan
Foto: dramabean.com

Tokoh pendamping lain yang juga menyita perhatian adalah tiga sekawan Gong Myung, Kim Kibum dan Dong Young. Ini bukan karena gue Shawol trus gue subjektif, tapi Key di sini benar-benar natural. Dengan logat kampungnya yang lucu, Key benar-benar bertransformasi jadi pemuda nanggung pengangguran kebanyakan duit dari kampung. I live for your satoori, Kibum-ah.
Tiga sekawan ini mewakili masalah yang umum dimiliki para pencari kerja. Gong Myung yang baru keluar dari wajib militer dan sejujurnya enggak tahu apa yang ingin dia lakukan. Ketika teman-temannya belajar di Noryangjin untuk jadi pegawai negeri, dia ikutan. Apalagi ibunya juga memaksa dia melakukan sesuatu. Dia sering dipandang useless oleh kakaknya yang sempurna. Padahal, dia hanya enggak tahu apa yang dia inginkan. Bukan hal yang salah, kan, ketika kita masih belum tahu apa sebenarnya yang ingin kita lakukan di dalam hidup di usia 20-an? Meski orang-orang di sekitar kita tahu apa yang dia inginkan, bukan berarti kita juga harus tahu? Life is a process, a big process, am I right?
Kibum mewakili anak-orang-kaya yang manja dan kebanyakan duit dan sering dipandang remeh serta useless. Dari luar, dia memang tipikal happy go lucky guy, yang seolah hidupnya enggak punya masalah. Bahkan, si happy go lucky pun punya masalah, meski mungkin bagi orang lain, masalahnya cetek. Dia mungkin terlihat useless dan kekanak-kanakan, tapi ketika dia menghadapi sesuatu, justru dirinya bisa bersikap dewasa dan menerima kekalahan.
Dong Young menggambarkan anak dari keluarga pas-pasan yang bertekad tahun ini harus lulus dan dapat kerjaan. Biar dia enggak lagi jadi pengangguran dan mengurangi beban keluarga. Gue yakin, banyak yang berada di posisi Dong Young sehingga enggak heran jika kita gampang bersimpati pada sosok ini.
Persahabatan mereka bertiga jadi bumbu menarik di sini. We feel happy and relieved when we know that we have someone to rely on. Meski saling bersaing dan kadang berantem, mereka selalu ada satu sama lain. Mereka saling menguatkan. And I live for their bromance.

Sometimes We Need a Time to Drinking Alone
Foto: yonhap.news.com

Terlepas dari gue yang enggak suka kalimat berulang-ulang yang disampaikan Jin Jung Suk, gue setuju dengan pemikirannya. Kadang, kita butuh waktu untuk makan atau minum sendiri. Bukannya biar kita terlihat pathetic atau menyedihkan. Simply because everyone need their me time. We need our ‘me time’. Karena ketika kita makan sendirian, kita enggak perlu dengerin keluh kesah orang lain yang sebenarnya enggak kita butuhkan. Kita enggak harus dengerin curhatan teman dan bikin kita makin mumet setelah seharian bekerja. Bukannya enggak setia kawan, tapi enggak mungkin juga kan setiap hari harus dengerin keluh kesah orang?
Dengan makan sendiri, kita bisa terhindar dari keharusan berbasa basi. Gue pernah mengalaminya, saat sedang makanrame-rame, at that time I want to be alone. Hal yang manusiawi jika sesekali kita merasa malas berbasa basi dengan orang lain, terpaksa tertawa for the sake of biar orang enggak tersinggung, dengerin cerita orang lain biar enggak dibilang ‘lo enggak pedulian banget sih?’ dan segala tetek bengek basa basi lainnya.
Dengan makan sendiri, kita bisa fokus pada diri kita dan isi pikiran kita.
Sesekali, makan bareng memang menyenangkan. Namun, itu harus diimbangi dengan waktu untuk diri sendiri. Masalahnya, banyak yang menganggap aneh orang yang makan sendiri di suatu café, misalnya. Dulu gue berpikiran kayak gitu. Anti makan sendiri atau nonton sendiri. Sampai akhirnya muncul kesadaran kalau enggak selamanya teman lo available buat lo dan kalau selalu nunggu teman, lo enggak bakal mendapat apa-apa dan cuma buang-buang waktu. Akhirnya gue memberanikan diri buat sendiri. Hasilnya ternyata enggak semengerikan itu.

Seperti kali ini, gue berhasil menyelesaikan tulisanini (dan satu chapter novel) dengan duduk sendirian di Starbucks.

Monday, November 14, 2016

The K2: Rollercoaster Kehidupan Keluarga Calon Presiden Korea dan 5 Alasan Kenapa Kim Jeha dan Anna Pantas Bahagia


I love Ji Chang Wook after I watched his epic drama, Healer. By the time I read that Ji Chang Wook will be on new action drama, I feel happy. Apalagi ini dramanya TvN, stasiun TV yang punya sejarah nayangin drama-drama keren. Jadi, bertambah alasan untuk ngikutin The K2.
Later I know that YoonA will be a part of this drama. Ngomongin soal visual, pasti cakep banget. Ji Chang Wook dan YoonA, pasangan yang pas. Tapi YoonA masih agak diragukan di drama. Katanya, di drama God of War Zhao Yun, YoonA oke, tapi karena enggak nonton, jadi enggak bisa komentar apa-apa. Terakhir nonton dia di Prime Minister and I, tapi karena di sana dia jadi another-ordinary-bubbly-girl, meski aktingnya sedikit meningkat, tapi kurang berkesan. Begitu tahu karakter Go Anna bukan tipikal girl next door, dan sedikit dark, I have a little hope for YoonA.
Hasilnya? Amazing, YoonA membantah semua prejudice yang dilekatkan ke dia. I never see YoonA in Anna. Dan chemistry dia dengan Ji Chang Wook itu juara. Ramyun scene will always be my favorite, karena bikin gemes aja nonton JCW ngomel-ngomel sendiri pas lihat kepolosan Anna lewat CCTV, he-he.

Rollercoaster ala The K2

Ketika berita soal The K2 muncul, terdapatlah nama penulis skenario Yong Pal yang bikin cerita ini. Banyak yang khawatir karena Yong Pal emang bikin trauma. Selain akting Kim Tae Hee yang bikin emosi jiwa, ceritanya juga ambyar di tengah jalan. Enam episode awal menjanjikan, lalu tiba-tiba byaaar jadi enggak jelas.
Jadi, gue pun menyimpan kekhawatiran yang sama.
The K2 mempunyai awal yang menjanjikan. Kelihatan ini drama ber-budget besar, dengan permainan kamera yang keren dan bikin adegan action makin menegangkan. Dari episode 1, JCW udah bag big bug babak belur. Meski sudah berdarah-darah, JCW masih cakep.
Oh sedikit out of topic. Menurut gue, JCW ini tipe cowok yang gue susah buat ngejelasin dia masuk kelompok mana. He’s not your typical flower boy like Lee Joon Ki or Lee Min Ho. Dia juga bukan tipikal cowok yang ganteng kelar. He looks like a flower boy but at the same time he looks so manly. Dia bisa dibilang ganteng kelar tapi di saat yang sama ada sesuatu di diri dia yang bikin enggak bisa berpaling. Susah dijelasinlah cakepnya dia kayak apa. Dan JCW ini gerak-genic, karena di foto dia enggak terlalu breathtakingly beautiful, tapi kalau sudah di gambar bergerak, he took my breath away ha-ha. Apalagi kalau udah akting, two thumbs up.
So, back to The K2. Di tengah-tengah, kelihatan cerita mulai keteteran. Entahlah, mungkin penulisnya pengin memuaskan imajinasi JeNa shippers karena adegan manis mereka makin banyak. Not that I am complaining, gue suka sih sama mereka, tapi bukan berarti cerita awal jadi keteteran. Masuk episode sepuluh, celah untuk jalan keluar dari semua masalah belum kelihatan. Tinggal enam episode lagi, pasti deh semua diburu-buru.

#JusticeForAnna

Menjelang akhir, cerita masih agak keteteran. Untung akting semua cast nyelametin cerita, jadi ceritanya enggak keteteran amat. Sebagai perbandingan, Yong Pal literally based on Joo Won. He carried that drama alone. Jadi, meski cerita keteteran, akting Joo Won tetap enggak bisa nyelametin dramanya. Keuntungannya The K2 adalah, meski cerita keteteran, sinematografi dan cast bisa menutupi. Terutama cast. Mereka berempat, ditambah Choi Sung Won dan Park Kwang Soo, bisa nutupin celah itu.
Sesuai judul subbab ini, concern gue ada di karakter Anna. Di sinopsis awal, dibilang kalau Anna mengalami masalah psikologi dan menjadikan Jeha sebagai sarana untuk balas dendam. Harapan gue sempat meningkat ketika Anna kabur dengan pura-pura jadi Miran. Juga pas Anna bantuin Jeha ketika diserang di lokasi photoshoot. Saat itu mikir, oke Anna akan balas dendam sama Choi Yoo Jin dan manfaatin Jeha. Tapi apa? Setelah itu, karakter Anna berubah total jadi damsel in distress. Dikit-dikit, Jeha. Dikit-dikit, Jeha. Ini, sih, enggak kayak yang dijanjiin sejak awal. That’s why I need #JusticeforAnna

A Bittersweet Ending

Oke, this is spoiler alert
Terlepas dari cerita yang keteteran, actually I love the last episode. Masih menegangkan, dan semua tokoh utama berada di satu tempat. You-and-I-will-die momen yang benar-benar bikin sesak napas. Dan untungnya, semua tokoh utama memiliki kejelasan akhir di sini (meski random killing di akhir cerita agak bikin turn off. I rather they root in jail. Karena mereka harus membayar semua kesalahan).
Choi Yoo Jin. Gue suka karakternya. Kejam but at the same time, fragile. And in the end, she got her husband love, eventought it just for five minutes. Dan Jang Se Joon akhirnya berbuat satu hal yang benar. Gue nangis sambil tersenyum di bagian ini.
Jeha and Anna. After all these years, they deserve to be happy. Especially Jeha. Gue sempat baca interview Ji Chang Wook kalau di skenario pertama yang dia terima, Jeha harusnya meninggal. Trus, entah kenapa akhirnya Jeha batal meninggal. I have mix feeling about that. Kalau Jeha meninggal, itu bagus buat dia dan ending ini realistis. Tapi, ini pasti bakal bikin penonton nangis darah. Kalau Jeha selamat, ending-nya enggak serealistis kalau dia meninggal, tapi ini juga bagus, because in the end of the day, he found his happiness with Anna.

Jadi, gue cukup puas menerima ending seperti ini.


5 Alasan Kenapa Kim Jeha dan Anna Pantas Bahagia

Enggak Punya Identitas
Cerita K2 berawal ketika Jeha difitnah sehingga dia jadi buronan, bukan cuma di Korea, tapi juga internasional. Akibatnya, hidupnya luntang lantung enggak jelas. Dan yang pasti, dia enggak punya identitas. Identitas dia yang sebenarnya enggak bisa dipakai, sehingga dia harus bersembunyi di balik identitas Kim Jeha yang diberikan Choi Yoo Jin buat dia.

Mencari Cinta Ayah
Seumur hidupnya, Anna cuma pengin ketemu ayahnya. Karena itu, dia mencoba kabur berkali-kali demi bisa bertemu ayahnya. Adegan Anna di gereja, menyanyikan lagu Amazing Grace sambil melihat ayahnya, that was my favorite part. In the end of the day, Anna finally had her father love. Meski cuma untuk sedetik, akhirnya dia bisa ngerasain cinta ayahnya.

Kehilangan Orang yang Dicintai
Dendam Kim Jeha didasari pada Raniya. Kegagalannya melindungi Raniya mendorongnya untuk melindungi Anna. Semakin dia kenal Anna, semakin dia pengin melindungi Anna. Di sisi lain, Anna selama ini dikurung sendirian. Kehadiran Jeha memberinya sedikit harapan. Mereka saling memberi harapan, that’s why they deserve their happiness.

Enggak Sengaja Kecemplung
Paling ngenes emang nasib Jeha. Dia cuma orang biasa yang enggak minta apa-apa, tapi nasib malah membawa dia terlibat dalam jeratan Choi Yoo Jin dan intrik politik. Kasian enggak, sih, lihat Jeha kelempar-lempar antara Choi Yoo Jin, Jang Se Joon, Park Kwang Soo, dan Choi Sung Won juga, plus Anna. Poor him. Let me hug you, Chang Wook, oppa, eh Kim Jeha.

They Deserve It
Enggak hanya karena mereka pantas bahagia setelah menjalani semua ketidakadilan dalam hidup, mereka juga pantas bahagia atas ketidakadilan yang diberikan si penulis skenario kepada karakter mereka. Dan pada intinya, I live for Jeha and Anna happiness.

Last but not least, my dear PD-nim, who is Kim Jeha real name?
Only Anna knows, he-he.