Pages

Free Personal signatures - cool!

TEXTAREA_ID

Easy management

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean.

Read more
image01

Revolution

A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth.

Read more
image01

Warm welcome

When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane.

Read more
image01

Quality Control

Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar.

Read more
image01

Wednesday, July 23, 2014

Review #18 Grey & Jingga: The Twilight by Sweta Kartika



Grey & Jingga: The Twilight
Sweta Kartika

 

Grey dan Jingga adalah sahabat masa kecil. Tapi terpisah ketika mereka lulus SD. Tanpa sengaja, ketika kuliah mereka pun bertemu lagi di klub teater. Jingga yang kuliah di Sastra Indonesia pengin jadi penulis naskah sementara Grey kuliah di jurusan musik dan mengatur musik di teater itu. Mereka pun dekat, bersahabat, dan diam-diam saling suka.
Literally diam-diam meski mungkin mereka saling merasa. Sampai-sampai sahabat mereka, Zahra, gemes sendiri. terus ada Martin, anak basket dari jurusan hukum yang PDKT sama Jingga, dan Nina, cewek masa lalu Grey yang bergabung di teater dan pengin dapetin Grey lagi. Lalu, Grey dan Jingga gimana, ya?
Setelah sekian lama akhirnya gue baca komik lagi he-he.
Dulu, waktu awal-awal Grey & Jingga hype, gue sempat ngikutin komik stripnya. Tapi enggak bertahan lama karena males nungguin tiap minggunya. Lalu lupa deh sama komik ini sampai ketemu kabar kalau akhirnya dibukuin. Wohoo… jadi bisa ngikutin cerita Grey & Jingga lagi deh.
Ceritanya sih simpel. Galau-galau khas remaja gitu. Cuma ya bagi seorang hopeless romantic sikap cool-cool Grey, plus rambut gondrongnya, plus cueknya, plus gitarnya bikin gemes. Aw aw aw, haha. Tokoh pendampingnya juga lucu-lucu. Porsinya pas, enggak lebay. Gue suka sama Zahra dan Dharma yang punya drama sendiri dan itu lucu banget sumpah. Juga ada Zaki yang kocak. Bobby dan Tuti juga. Plus si krucil Zahwa haha. Meski ceritanya simpel dan ketebak, kehadiran tokoh-tokoh yang realistis dan lucu ini menambah seru cerita.
Ini komik Indonesia pertama yang gue baca. Dan secara gue enggak terlalu suka komik (kecual serial cantik Jepang haha). Gambarnya memang enggak kayak gambar komik Jepang meski di beberapa part ada yang penempatannya terkesan Jepang gitu. But it’s okay-lah.
Dan yang paling gue suka adalah quotes di bawah setiap halaman. Quotable banget haha. Lumayanlah komik ini buat pengisi kegalauan. Ditunggu lho om Sweta Kartika komik berikutnya.

Monday, July 7, 2014

Review #17 My Life Next Door by Huntley Fitzpatrick

My Life Next Door
Huntley Fitzpatrick





Satu hal terlarang bagi Samantha Reed adalah The Garretts, alias tetangga di sebelah rumah. Bagi ibunya yang seorang calon senator, The Garretts adalah bukti bentuk ketidakpedulian terhadap masa depan karena punya banyak anak. Ada Joel, Alice, Jase, Duff, George, Harry, Andy, dan Patsy. Soalnya dulu ayah Samantha juga berasal dari keluarga besar dan meninggalkan ibunya yang sedang hamil dirinya dan punya anak berumur satu tahun, Tracy.
Diam-diam, Samantha suka mengintip aktivitas The Garretts. Sampai suatu hari Jase menghampirinya yang sedang mengawasi keluarga itu di balkon kamarnya. Jase tahu tentang kebiasaan Samantha. Sejak malam itu, mereka jadi dekat. Samantha juga dekat dengan anggota keluarga lain, bahkan bekerja sebagai babysitter di sana. Tapi Samantha menyembunyikannya, termasuk dari sahabatnya, Nan.
Sampai suatu kejadian membuat hubungan Samantha dan Jase terancam bubar. Enggak hanya sekadar larangan ibunya, tapi ada nyawa yang terancam di sana.
Finally. Selesai juga baca buku ini. Awal mula baca ada kali tahun lalu terus stop. Padahal dulu sengaja beli buku ini abis baca Lola And The Boy next Door dan gue yang terobsesi dengan cerita-seputar-cowok-tetangga. Sempat bawa juga buat dibaca waktu di pesawat ke Abu Dhabi, tetap enggak ada progress. Enggak ngerti kenapa semangatnya drop. Pas mau mulai lagi, lupa udah baca sampai mana. Akhirnya mulai dari awal lagi. Entah kenapa, agak lama baca buku ini. Mungkin karena pace yang datar. Padahal reviewnya buku ini lumayan.
Tapi cara menulisnya Huntley gue suka. Buat yang cepat bosan dan suka mencari tantangan, enggak cocok dengan buku ini. Soalnya isinya benar-benar menceritakan keseharian Samantha.
Ada banyak isu diangkat di sini. Mulai dari Samantha dan ibunya yang snobbish dan perfeksionis. Ibunya ini calon senator sehingga pengin semuanya terlihat sempurna. Mau enggak mau hidup Sam pun dipolitisasi. Apalagi ada Clay, juru kampanye sekaligus pacar ibunya yang melakukan apa aja asal ibu Sam menang. Pokoknya, semuanya bisa dipolitisasi sama Clay.
Tentang Samantha dan Jase yang sama-sama saling jatuh cinta. Lucu deh mereka ini. mulai dari malu-malu, nge-date berkali-kali, ciuman, sampai coba-coba having sex. Apalagi ada bagian mereka belanja kondom bareng. Jadi inget film First Time, tentang sepasang remaja yang penasaran kayak apa sih having sex untuk pertama kalinya itu. Awkward, pastinya.
Ngomong-ngomong soal Jase, I love him. Tipe boy next door yang sangat bertanggungjawab. Uniknya, Jase ini kamarnya kayak kebun binatang. Semua binatang ada di sana. Termasuk ular. Hiyuuuhhh… secara pribadi, gue enggak bakal pacaran sama Jase. Gila aja lo lagi ciuman dipelototin ular, ha-ha.
Juga ada hubungan Samantha dan Nan, sahabatnya. Ini twist yang enggak disangka-sangka. Tapi gue setuju dengan sikap Nan. Sebaik apapun hubungan persahabatan, pasti ada rasa irinya. Apalagi kalau sahabat kita have a perfect life like a princess, makin menjadi-jadi deh irinya. Gue rasa wajar jika Nan butuh waktu menjauh dari Samantha, apalagi ketika Samantha tahu Nan suka nyontek dan semua nilai bagus selama ini bukan kerjaan dia, melainkan saudara kembarnya yang dicap looser, Tim. Soalnya Nan pasti drop banget.
Ketegangan cerita baru terasa di seperempat akhir. Ketika suatu kejadian yang mengubah semuanya. Gue penasaran dengan penyelesaiannya. Dan tipikal YA ya, penyelesaian pasti manis. Dengan tokoh utama yang bahagia. Semuanya pun bahagia. Bahkan The Garretts pun bahagia.
Banyak yang menyamakan Huntley Fitzpatrick dengan Stephanie Perkins. Meski gue suka novel ini dan gaya menulis Huntley, I prefer Steph. But this book is worth to read. Such a nice and light story.

Tuesday, June 17, 2014

Review #16 You Had Me At Hello by Mhairi McFarlane

You Had Me At Hello
Mhairi McFarlane





What happens when the one that got away comes back?
Ben dan Rachel bersahabat sejak kuliah. Sepuluh tahun kemudian, mereka bertemu lagi di perpustakaan di Manchester. Rachel seorang wartawan. Ben seorang pengacara. Rachel baru saja putus dari tunangannya, Rhys, setelah pacaran 13 tahun. Ben sudah menikah dengan Olivia.
Mereka kembali bersahabat, meski Caroline, sahabat baik Rachel, memperingatkan Rachel untuk enggak terlalu dekat dengan Ben karena status Ben. Rachel juga dekat dengan Simon, sahabat sekaligus atasan Ben. Tapi… ada perasaan lain dalam hati Rachel.
Perasaan untuk Ben.
Perasaan untuk Ben sejak sepuluh tahun lalu.
Because he is the one that got away.
This is my first experience with Mhairi McFarlane.
I know nothing about this book when I bought it. I want to have this book simply because of the title. You had me at hello. I love that phrase since Dorothy said “you had me at hello” to Jerry Maguire.
*and I want someone said “you had me at hello” to me*
*abaikan*
Jadi, berbekal judulnya yang adalah frasa favorit gue, tanpa pertimbangan apa-apa langsung beli. Untunglah tindakan impulsif kali ini berakibat poisitif karena gue suka sama bukunya.
Ceritanya simple. About the one that got away. Buku ini menggunakan sistem flashback, di mana setiap adegan di masa lalu berhubungan dengan apa yang sedang dialami Rachel di masa sekarang. Berangkat dari PoV satu, kita diajak untuk mengikuti perjalanan hidup Rachel, mulai dari sepuluh tahun lalu sampai sekarang.
Ada satu pertanyaan di benak gue ketika membaca buku ini: kalau memang Ben dan Rachel sedekat itu waktu kuliah, kenapa mereka malah kepisah tanpa kabar selama sepuluh tahun? It have to be something between them. Pertanyaan ini yang membuat gue bertahan membacanya—selain gaya menulis Mhairi yang asyik banget.
Dan, tebakan gue benar. There is something between them. Tapi hal ini baru kebuka di belakang. Pas cerita hampir selesai. Penjelasan yang membawa kita kembali ke pertanyaan lama: benar enggak sih hubungan platonik, sahabatan cewek dan cowok tanpa cinta, itu benar-benar ada? Hasilnya? Ah, baca aja, haha.
Yang paling juara dari novel ini adalah gaya menulisnya Mhairi yang witty, sarcasm, dan lugas. Meski di beberapa bagian deskripsinya kurang. Padahal kalau deskripsi ditambah jadi bakalan lebih seru sih. Selain itu, setting cerita yang enggak biasa juga menambah daya tarik cerita. Manchester. Biasanya kan kalau Inggris ya London. Dan ini Mhairi mengambil kota lain yang jarang dipakai.
Dalam jurnalistik, ada istilah proximity, alias kedekatan. Sebuah berita akan bernilai lebih bagi seseorang karena unsur kedekatan tersebut. Hal itu gue rasain di sini. Kedekatan dengan background pekerjaan Rachel. Wartawan. Hehe. Hal ini di luar ekspektasi gue, makanya kaget gitu begitu tau pekerjaan Rachel. Jadi, makin suka deh sama buku ini.
Pokoknya, Mhairi bakalan jadi penulis yang karyanya nanti akan gue baca. Lumayan kak buat selingan di antara tulisan-tulisan young adult yang gue konsumsi sekarang. Good job, Mhairi.

Thursday, June 12, 2014

Review #15 Goodnight Tweetheart by Teresa Medeiros

Goodnight Tweetheart
Teresa Medeiros





TOP: What are you wearing today?
Me: Little black dress like Audrey Hepburn in Breakfast at Tiffany with old sweater. You?
TOP: Simple navy shirt with fedora.
Me: Let me guess. The fedora who you always wear in your concert?
TOP: My favorite one.
Me: Wanna wear that too.
TOP: You can wear it if you want. *cough* What about your book? Any progress?
Me: If I say that sitting in front of laptop, daydreaming about you, listening to your music and found that I don’t write anything as a progress. *sigh*
TOP: Don’t push yourself. You need to take a rest, you know that.
Me: I don’t know, actually.
TOP: So, come to my house and I will help you to make some rest.
Me: Can I?
TOP: Yeah
Me: *jump into a bus*
TOP: *waiting for you*
Me: Goodnight Sherlock.
TOP: Goodnight Watson.
Me: Goodning Doctor.
TOP: Goodnight Amy Pond.
Me: Goodnight St. Clair
TOP: Goodnight Anna.
Me: Goodnight Sebastian.
TOP: Goodnight Tweetheart.
*dan kemudian hening*
Percakapan di atas hanya delusional semata. Gabungan antara daydreaming yang enggak kunjung usai dan efek romantis abis baca Goodnight Tweethart.
Meet Abigail Donovan. Penulis yang buku pertamanya sukses besar dan membuatnya jadi terkenal, plus terpilih dalam Oprah Book Club. Sekarang Abby tengah pusing karena stuck di bab lima buku keduanya dan terus-terusan mengalami writer’s block. Sampai akhirnya publisher dia ngenalin Abby ke Twitter.
Di Twitter, Abby enggak sengaja bertemu Mark Baynard. Profesor sastra Inggris yang sedang cuti dan liburan keliling Eropa. Mereka pun DM-DMan yang selalu diawali dengan pertanyaan Mark tentang pakaian yang dikenakan Abby dan dibalas Abby dengan pertanyaan yang sama. Mereka langsung akrab. Mulai dari mengobrol tentang hal umum, balas-balasan seputar pop culture (book, movie, tv serial, etc) sampai ke pembicaraan serius tentang Mark yang selalu menyemangati Abby untuk enggak menyerah menyelesaikan buku keduanya.
Tapi, ada sesuatu yang enggak disangka-sangka Abby disembunyikan Mark darinya.
I LOVE THIS BOOK SO MUCH.
Sumpah, baca buku ini serasa nonton romcom ala-ala Nora Ephron gitu deh. Perasaannya sama kayak abis nonton When Harry Met Sally atau Sleepless In Seattle gitu. Sukaaakkk…
Dan bukunya kekinian banget meski kayaknya ditulis di awal-awal maraknya Twitter. Oke, gue memang telat karena baca buku ini sekarang, tapi seruuu. Formatnya unik, dibikin percakapan ala-ala Twitter. Dan dari percakapan itu kita bisa menebak sifat kedua tokoh utama ini. Tapi isi bukunya enggak melulu kayak twitter. Ada juga bagian kehidupan Abby di luar Mark dan DM-DM mereka, seperti Abby dan buku keduanya, Abby dan nyokapnya yang bipolar sekaligus dementia, Abby dan sahabatnya Margo, Abby dan publisher serta editornya, plus kucing-kucing Abby yang lucu, Willow Tum Tum dan Buffy The Mouse Slayer.
Deskripsi Teresa di beberapa bagian pas. Awalnya gue sempat skeptis enggak akan mengenal kedua tokoh karena cuma berupa dialog 140 karakter. Ternyata gue salah. sifat keduanya tergambar dengan jelas. Good job, Teresa.
Mark Baynard. Sumpah, gue kehabisan kata-kata tentang cowok ini. GIMANA GUE ENGGAK KESENGSEM SAMA COWOK YANG TAHU SEMUA HAL KETIKA NGOMONGIN FILM, BUKU, DAN SERIAL TV? AAKKKK… Mau bangetlah ketemu cowok yang ketika gue ngomongin Gandalf malah bisa nyamber dengan hal lain, bukannya bengong dan menatap gue aneh *curhat dikit*.
Dan endingnya yang super duper manis tapi enggak lebay.
Buku ini termasuk tipis dan ringan. Cocok dibaca saat santai, apalagi jika lo Twitter addict *like me* dan penulis yang struggling sama buku berikutnya karena otak yang mendadak mandeg *like me*. Teresa Medeiros membuat gebrakan hebat ketika menulis dengan format seperti ini. Me likey…
Jadi penasaranlah baca bukunya Teresa yang lain.
(Dan gue beli buku ini di diskonan Periplus dengan harga 10.000 saja. Wohooo…)