Sunday, March 12, 2017

Satu Bulan Tanpa Drama Korea, Menjadi Lebih Produktif


Oke, ini pengakuan. I’m Korean drama addict. Addict di sini maksudnya sudah benar-benar parah. Terutama beberapa waktu terakhir, bisa paralel menonton beberapa judul sekaligus. Kalau dilihat-lihat, ada beberapa faktor yang bikin kenapa gue jadi addict banget.

1.                  Pengaruh Pekerjaan

No, it’s not an excuse. Ini beneran. Pekerjaan ‘mengharuskan’ gue untuk selalu update dan tahu soal drama Korea. Dengan begitu, gue bisa menulis artikel soal ini. Satu judul bisa diolah jadi banyak judul dan tema. Satu genre bisa diolah jadi belasan artikel. Kenapa? Karena ini salah satu jenis tulisan yang disukai pembaca. Sehingga tertantang untuk mengolah banyak ragam tulisan dari satu judul. Sekadar recap aja udah basi. Sekadar hard news aja udah basi. Harus pintar mengolah. Life lesson and love lesson are two must-have-things yang harus dibikin. Fashion, beauty, friendship, location, anything, ada banyak banget yang bisa diolah. Dan untuk ngedapetin itu semua mau enggak mau ya harus nonton. Kalau cuma tahu aja, berasa kok di tulisannya. Kering, sekadar nerjemahin dari website luar. Lagipula, dengan nonton banyak judul, ragam tulisan yang bisa dibikin jadi lebih banyak. Bisa ngegabungin beberapa judul sekaligus, misal genre, tema, pemainnya, ceritanya, anything.

2.                  Cerita yang Makin Beragam

Drama Korea itu enggak bikin lo bisa istirahat. Belum juga satu judul selesai, penggantinya sudah ada. Drama yang akan tayang bulan Mei 2017 aja, November 2016 udah ada beritanya (contoh: The King’s Love). Itu baru di satu stasiun TV. Itu baru di satu hari. Itu baru di satu jam penayangan. Kalau dijumlahin setiap hari di semua stasiun TV, ya wassalam deh banyak banget yang bisa ditonton. Untung gue masih menyortir dari genre dan pemain, sehingga enggak maksa harus nonton semua.

3.                  Teman-Teman Nonton Semua

Sumpah, kalau untuk yang satu ini gue enggak ngerti. Kenapa tiba-tiba teman-teman gue di Twitter belakangan ini ngomonginnya drama Korea mulu. Seingat gue dulu jaraaang banget ada temennya buat diskusi. Sekarang kayaknya semua tumpah ruah pada nonton juga. Contohnya kayak waktu Goblin tayang. Semuanya ngomongin Goblin. Sampai-sampai temen gue yang enggak ngerti dan enggak nonton drama aja tahu ceritanya Goblin kayak apa, mengingat semua orang ngomongin. Ya kalau banyak temennya gini kan asyik, bisa diskusi bareng. Enggak harus menderita histeris dan gila sendiri.

Anyway, itu hanya sebagian alasannya. Dan emang, drama Korea ini candu banget. Buat pengin tahu kenapa kita betah banget nonton drama Korea, bisa cek artikel gue di cewekbanget.id. Ini link-nya: Menurut ahli entertainment Korea, 6 alasan kita suka banget menonton drama Korea.


Back to the topic. Di akhir Januari 2017, waktu itu gue lagi nonton Defendant dan Voice. Ini salah dua drama yang gue tunggu-tunggu karena genre thriller-criminal. Defendant ada Ji Sung, one of my favorite actor dan Yuri, one of my girl crush. Sinopsisnya menjanjikan ketegangan. Juga Voice, meski pemainnya bukan favorit gue, tapi dari sinopsisnya itu menjanjikan adegan kriminal sadis yang seru. Benar saja, dua episode pertama bener-bener bikin gue terjerat sama drama ini. Itu baru dua. Ada Tomorrow With You, Hong Gil Dong, dan lainnya. Kalau diturutin, waktu gue habis sama judul-judul ini.
Waktu lagi nonton itu, pandangan gue enggak sengaja terarah ke rak buku. Gue jadi bertanya-tanya sendiri, kapan terakhir kali gue membaca buku? Yang ada buku-buku itu cuma jadi pajangan. Lalu, gue melihat laptop, yang akhir-akhir ini lebih sering dipakai buat nonton ketimbang menulis—padahal tujuannya punya laptop kan buat nulis?
Intinya, gue jadi tersadar kalaus udah banyak membuang-buang waktu. Dan jadi enggak produktif. Enggak 100% buang-buang waktu sih karena gue menghasilkan beberapa tulisan untuk kerjaan. Namun tulisan pribadi? Nihil.
Akhirnya gue memutuskan buat satu-bulan-tanpa-drama-Korea.

Hasilnya?

Susah. Karena gue terlanjur notnon Defendant dan Voice. Reviewnya bagus banget, dan yang ada bikin gue makin penasaran. Belum lagi kalau main ke Twitter dan baca twit temen-temen gue. Godaan buat buka laptop dan nonton itu kuat banget.
Pada akhirnya gue berhasil menjalani satu bulan tanpa drama Korea. Gue menyelesaikan membaca lima novel dan menulis tiga bab. Sebuah pencapaian luar biasa, menurut gue. Tapi ini belum optimal, karena Red Velvet comeback aja gitu Februari dan rajin live di V apps, jadinya sesekali terdistraksi sama mereka. Juga main Supersar SMTOWN yang nagih, he-he.

Kesimpulan

Ketika menulis blog ini, gue sampai ke satu kesimpulan. Akar dari masalah ini adalah gue yang enggak bisa mengendalikan rasa malas. Dan ngebiarin diri gue terlarut-larut dalam rasa malas. Yang namanya malas kan kalau dibiarin bakalan terus menjadi-jadi. Dia enggak akan berkurang dengan sendirinya, kecuali kalau kita berusaha untuk melawannya.
Malas, itu dia pokok masalahnya. Drama Korea hanya alasan, karena gue pengin bermalas-malasan, jadilah menontonnya. Di februari ini, gue juga sempat diserang rasa malas yang lain, yaitu pengin tidur aja. Sesekali emang kalah, tidur aja gitu padahal belum ngantuk dan akhirnya berjam-jam cuma berbaring enggak ngapa-ngapain atau scrolling Instagram.
Agar bisa produktif dan menghasilkan sesuatu, rasa malas itu memang harus dilawan. Terakhir gue baca banyak buku itu 2014, bisa mencapai sekitar 80-an buku setahun. Terakhir gue menyelesaikan novel itu 2014. Selebihnya? Hmmm… I blame you, malas.
Pengalaman ini mungkin terdengar cetek, but at least I learned something. Gue enggak akan mencapai breakthrough yang gue impi-impikan kalau selamanya tetap gini-gini aja.
I have to do something.
Wish me luck.
XOXO,
Iif


PS: Pengin ngelanjutin tantangan ini sih, tapi Maret, dramanya Joy tayang. As a RV-trash, ya wajiblah menonton The Lover and His Liars.

Tuesday, February 28, 2017

Bertemu Kembali Dengan Galih dan Ratna, Ketika Masa Lalu Bersentuhan Dengan Masa Sekarang

Sebelum Rangga dan Cinta dipisahkan oleh bandara, ada Galih dan Ratna yang dipisahkan oleh stasiun.
Galih dan Ratna, pasangan iconic dari perfilman Indonesia. Mereka muncul di film Gita Cinta Dari SMA yang tayang tahun 1979 lalu. Karakter ini melekat banget pada sosok Rano Karno dan Yessy Gusman. Hampir empat puluh tahun berlalu, Galih dan Ratna muncul kembali. Di era modern, tapi tetap berpegang pada cinta mereka.

Galih & Ratna Versi Millennials


Ketika tahu Galih & Ratna akan difilmin lagi, penasaran dengan interpretasi yang akan dilakukan oleh Lucky Kuswani. Sempat kepikiran kalau ini kayak film remake biasa. Untunglah Lucky menghadirkan sesuatu yang baru, tapi tetap membawa esensi dasar dari Galih dan Ratna itu sendiri.
Di Gita Cinta Dari SMA, konflik Galih dan Ratna disebabkan oleh ayah Ratna. Sementara Galih dan Ratna versi modern punya konflik lain. Iya di sini kita enggak akan ketemu dengan konflik beda suku antara Galih dan Ratna dan perjodohan yang menghalangi mereka buat bersatu. Konflik antara Galih dan Ratna juga enggak jadi cetek, dengan hadirnya orang ketiga, maybe?
No, it’s more than that. Passion and dream, we talk about that. Latar belakang keluarga Galih lebih digali lagi, dan di sanalah dua hal ini terasa jelas. Juga pada Ratna. Maybe we see ourself in Ratna. Bertemu orang lain yang tiba-tiba nyadarin kita passion kita di mana dan membuka mata kita untuk menjalani passion itu. Mungkin juga kita seperti Ratna, ketika tahu akhirnya ingin menjadi apa, tapi enggak didukung oleh keluarga. Menurut gue ini masalah yang enggak akan pernah basi, terutama di masa sekarang. Ketika gap antara generasi orang tua dan generasi kita masih besar. Apa yang dilihat orangtua dan apa yang kita lihat terkait masa depan kita itu berbeda banget. Contohnya Ratna dan Galih yang enggak bisa dipisahkan dengan musik. Sayang, di mata orang tua mereka, musik enggak bisa ngasih makan.
Ketika premier film ini, ada kalimat Lucky Kuswandi yang nempel banget di benak gue. “Semoga banyak remaja yang berakhir seperti Ratna, dan semakin sedikit yang menjadi seperti Galih.” Ratna, yang memperjuangkan mimpinya. Dan Galih, yang terhalang realita sehingga harus mengubur mimpinya.
I remember that day, when I asked my mom, like what Galih did. “Pernah enggak, Bu, sekali aja dalam pikiran ibu terlintas aku itu maunya apa?” Memang enggak sefrontal Galih, tapi gue pernah mempertanyakan hal yang sama.
“Pernah enggak, Ma, Mama ngelihat apa yang aku jalanin sekarang dari sudut pandang aku? Mencoba buat paham soal kerjaan yang aku jalani sekarang?”

Indahnya Cinta Pertama


First love does matter. Memang, sih, semua yang pertama itu terasa spesial. Begitu juga dengan cinta pertama. Meski sudah bertahun-tahun berlalu, yakin, deh, urusan cinta pertama bakalan selalu teringat. I do remember my first love. My senior in high school, when I watched him from window or cheer for him when he played basketball. Momen-momen yang kadang mendatangkan senyum ketika tiba-tiba teringat cinta pertama ini.
Menonton Galih dan Ratna memberi efek cinta pertama. Terlebih buat kita-kita in mid 20s – almost 30 ini. Cerita cinta anak SMA yang penuh semangat, dengan hal-hal manis yang dirasakan oleh anak remaja. Sepanjang menonton, gue enggak henti-hentinya tersenyum. Selain karena Refal yang ganteng banget, juga karena sepanjang film feel-nya adalah mengajak kita buat nge-recall kembali momen-momen cinta pertama dulu.

Hidup Dalam Pita Kaset


Film ini berusaha menggabungkan masa lalu dan masa sekarang. The millennials Galih and Ratna. Unsur masa lalu dimunculkan lewat Nada Musik dan kaset-kaset lama yang mulai terlupakan. Masa sekarang diwakilkan oleh tokoh-tokohnya. Kedua masa ini kemudian saling beririsan lewat Galih dan Ratna. Kaset yang mulai terlupakan tapi dibawa kembali ke permukaan oleh Galih.
Jujur saja, gue suka dengan ide menghadirkan kaset ini. Bahkan filosofi kaset Galih itu nempel banget di otak gue. Karena hidup itu seharusnya seperti kaset. Butuh proses untuk sampai ke lagu favorit kita dan ketika akhirnya sampai di lagu favorit, otomatis kita akan merasa senang banget. Dalam hidup juga kayak gitu. Butuh proses sampai akhirnya kita bisa meraih yang selama ini diimpi-impikan dan ketika berhasil, pasti bakalan senang banget.
Dan Ratna. “Kalau bisa menghindari hal yang enggak enak, kenapa enggak?”
Dan well, gue setuju dengan Galih. “Kadang kita butuh ngerasain yang enggak enak dulu buat tahu enak itu kayak apa.”
Enggak persis banget sih, tapi kurang lebih kayak gitu.
Dan di sinilah salah satu keunggulan film ini. Story telling yang dihadirkan Lucky terjalin dari awal hingga akhir, dan kita enggak akan merasa bosan didongengin oleh Galih dan Ratna.
Kehadiran kaset ini bukan sekadar tempelan. Banyak filosofi yang dihadirkan dalam kaset. Seakan menampar kita, dengan semua kemudahan yang kita rasakan saat ini, kadang kita lupa menikmati momen. Dan momen itu ada hanya untuk satu saat itu saja, seperti kaset yang di-protect dan enggak bisa direkam ulang, momen berharga kadang memang enggak bisa diulang. Kita cuma bisa memutarnya di kepala dan untuk bisa memutarnya di kepala, tentu kita harus menikmati momen itu.
Living in the moment, ini yang kadang mulai kita lupain, termasuk gue. Thanks to Galih for remind me biar gue mulai benar-benar menikmati momen.

Bonus: Hati Menggigil Oleh Refal Hady


I know him when Ika Natassa announce who will be Harris Risjad. Sosok yang selalu jadi pertanyaan semenjak kabar kalau Critical Eleven akan difilmin. Later that I know kalau dia yang akan jadi Galih. Well, I know Galih & Ratna lagi dibikin ulang tapi enggak pernah pay attention sama dia. Dan ketika mulai ngepoin siapa ini si Harris—dan wajahnya yang tengil emang Harris banget—siap-siap aja, deh, terjebak pesonanya Refal.
Sebelum menonton Galih & Ratna, sempat diingetin sama teman. “Semoga dia enggak bikin lo drop ya mbak. Kayak si RK itu, ganteng sih tapi aktingnya bikin…” Yeah well, RK si cowok ganteng tapi aktingnya bikin gue pengin berkata-kata…
Anyway, untunglah Refal enggak bikin gue drop. Ini film pertama doi, dan di beberapa scene terlihat kalau dia masih struggling sama ekspresinya. But so far oke lah, lumayan meski kadang ekspresinya masih harus dipertanyakan. Situ lagi mikir apa sedih, mas? He-he. Sekarang jadi enggak sabar menunggu Mei, karena ketika melihat Refal waktu interview kemarin, I see Harris in him. Semoga dia pas memerankan Harris, mengingat Harris is one of my favorite character.

Bonus 2: Soundtrack-nya Gokil Parah
UNTUK MUSIC DIRECTOR FILM INI, GUE ACUNGIN EMPAT JEMPOL *dua minjem jempol teman*
Kalau ada bagian yang bikin gue puas banget sama film ini, itu adalah soundtrack-nya. 10 out of 10 lah. GAC bisa membawakan Galih & Ratna yang fenomenal itu dengan sentuhan kekinian dan tetap asyik. Tapi, bukan cuma mereka aja yang menonjol. Lagu-lagu lain di film ini juga keren.
Rendy Pandugo. Man, itu adegan ketika lagu Hampir Sempurna ini diputar benar-benar pas. Ditambah dengan adegan yang agak slow, makin terasa syahdu dengan iringan suara Rendy.
Lagu lain juga keren. Ada White Shoes & The Couples Company yang sukses bikin senyum sendiri karena ingat masa muda. Agustin Oendary dan Ivan Gojaya juga keren banget. Now I ask you to go to Spotify, search for Galih & Ratna playlist and listen to it while you sip your tea. Perfect!



Jadi, selamat kembali merasakan indahnya cinta pertama bersama Galih dan Ratna.
XOXO
Iif

*Promo colongan*

Jangan lupa mampir ke cewekbanget.id yak dan baca alasan kenapa Galih itu cocok banget jadi pacar idaman di sini. Juga bisa kenalan dan dibikin menggigil hatinya sama Refal Hady kalau masuk ke artikelini.

Sunday, February 26, 2017

Boots and Books: Two Things That I Can't Live Without


Boots and Books

There are two things that I can’t say no. A pair of boots and good books.
Setiap orang punya mood booster masing-masing. Kalau buat gue, salah satu mood booster itu sepatu yang kece dan nyaman. Kalau misal ada liputan atau kerjaan yang mengharuskan ke luar kantor, I will wear my favorite shoes. Jadi gue yakin bisa nge-handle macet, panas, gerah, dan segala hal yang punya tendensi buat bikin mood drop.
Ngomongin sepatu, sebagian besar sepatu gue adalah boots. Dari ankle boots sampai knee length boots, ada. Sisanya satu high heels buat kondangan dan satu chunky heels. Sejujurnya gue lupa kapan pertama kali suka pakai boots. Boots pertama yang gue beli itu ankle boots tanpa heels warna abu-abu. Beli pake duit hasil kerja magang. Barang mahal pertama yang dibeli (500rb kalau enggak salah) dan berasa keren banget tuh pas pakai itu sepatu ke kampus. Later that I know, kalau ke toko sepatu, selalu ngeliriknya boots.
Sekarang ada dua boots favorit gue. Knee length boots selutut dengan aksen tali warna hitam dan heels lumayan tinggi. Ini sepatu andalan kalau nonton konser. Secara gue tingginya terbatas, jadi butuh bantuan biar bisa leluasa melihat ke arah stage. Dan boots ini ngebantu banget. Sebenarnya beli ini juga enggak sengaja. Waktu itu lagi di H&M dan pas bayar, ada mbak-mbak di kasir sebelah membeli boots hitam sepaha yang keren parah. Curi dengar, boots itu lagi diskon. Dari sekitar hampir sejuta cuma jadi 250. Yang tadinya mau balik eh malah tergoda buat ke tempat sepatu. Dan ketemulah si boots ini. Mau tahu harganya? Dari 750 ribu jadi 150 saja, he-he-he. Kebetulan knee length boots yang punya kulitnya sudah mulai mengelupas so I think I need new shoes.




And this is my second favorite. Belinya lagi-lagi enggak sengaja dan tergoda diskon yang luar biasa. Waktu itu lagi jalan dadakan sama Ira (iya, dadakan, karena Ira ngajaknya udah jam 6 sore) dan di Zara ketemulah boots ini. Awalnya Ira yang nyoba tapi penasaran dan ikutan nyoba. Tapi kok bagus? Dan enak aja di kaki meski tinggi? Udah gitu diskonnya gila banget. Dari 1.5 juta jadi 400 ribu doang? Kapan lagi, ya, kan? Jadilah, tanpa basa basi, I bought that boots.




And now, the question is, why I love boots so much? Setelah sering beli boots, gue mulai menyadari kenapa gue suka boots. Pertama tentu saja karena dipakainya enak dan bisa memberi ilusi sedikit lebih tinggi. Kaki jadi terlindungi. Karena boots terlihat cantik tapi tough. Somehow boots terlihat feminin, but in other time ya manly juga. Perpaduan yang pas. Namun yang gue pahami, boots meningkatkan self confidence gue.
Years ago, mungkin gue enggak bakalan pede memakai something yang draw other people’s attention. Dan boots, itu draw attention banget. Terlebih knee length boots, ya. Omongan ‘lagi banjir mbak?’ or ‘ini Indonesia mbak. Enggak salah pakai gituan?’ or ‘minjem sepatu tukang bangunan ya mbak?’ itu udah sering banget gue denger. Awalnya mikir ‘apa sih ini orang norak banget’ tapi lama-lama jadi ‘yeah well, whatever’. Perlahan-lahan, gue mulai belajar yang namanya i-don’t-care attitude karena ya enggak semua orang omongannya harus didengerin. Sama halnya seperti lisptik (readabout that here), boots also improves my self esteem. Sepatu itu bikin gue pede dan dengan gue merasakan hal itu, gue yakin kalau hari gue akan berlangsung baik-baik saja.
I am as simple as that.
So, that’s why I love boots.




And now, it’s time to talk about another B. Books. B-O-O-K-S. Harus pakai ‘s’ karena gue yakin gue enggak bakal puas hanya dengan satu buku. Satu tempat yang langsung gue tuju begitu habis gajian adalah toko buku. Thanks to my company id card, diskon di Gramedia bikin gue makin kalap, he-he.
Gue sudah suka membaca sejak kecil. Malah, di keluarga atau teman-teman sepantaran gue termasuk yang paling cepat bisa baca. Dulu, gue suka baca karena enggak ada hiburan lain di rumah, mengingat waktu kecil TV suka bermasalah. Makin gede gue udah jatuh cinta sama buku. Gue bisa berubah jadi dingin sama teman yang memperlakukan buku semena-mena, seperti melipat buat tanda lagi baca sampai mana, membaca sambil bagian depan dilipat ke belakang, dicoret-coret dan tindakan kejam lainnya. Gue bisa berubah jadi super annoying kalau buku yang pas gue pinjemin dalam keadaan bagus, mulus tanpa lipatan tapi pas dibalikin dalam keadaan hancur. Gue bisa berubah jadi lebih cerewet dari rentenir kalau minjemnya kelamaan dan enggak dibalikin.
Bagi gue, buku itu sesuatu yang holly. No wonder gue memperlakukannya dengan sangat hati-hati. Gue sampulin, gue taroh di rak yang disusun rapi, pas baca juga diusahain enggak kena makanan dan pas disimpan di dalam tas juga diusahain biar enggak kelipet. Dengan semua usaha itu, wajar dong kalau gue berharap yang minjam juga memperlakukannya sama?
Okay, enough with my rant.
Setiap bulannya, gue pasti ke toko buku. Dulu kakak gue sempat bercanda, ‘udah beli buku, pasti udah dikirimin mama uang jajan,’ pas masih kuliah dulu. Sampai sekarang terus terbiasa. Itu baru yang rutin. Yang enggak rutin dan dadakan, sih, enggak bisa dihitung pakai jari. Bahkan, pas lagi bokek aja, tahu-tahu udah order e-book, he-he (untuk urusan buku gue anti bajakan soalnya).



Koleksi gue memang didominasi oleh romance. Terserah apa kata book snob yang suka mandang remeh novel populer, tapi novel populer itu juga dihasilkan dengan kerja keras. Enggak cuma bengong depan laptop trus langsung jadi. So, sorry-sorry aja kalau gue enggak setuju dengan mereka yang so-called-bookish tapi memandang sebelah mata novel populer. Karena bookish sejati tentunya enggak pilih-pilih buku. Dia pembaca segala, karena dari setiap buku, pasti ada something positive yang bisa didapat.
Dan juga, buku itu urusan selera. Enggak ada buku yang jelek menurut gue, dan yang bisa kita komentari adalah hal teknis. Selain baca, gue emang suka review. Jadi ingat kata Puput kalau gue ngereview rada kejam. My defensive side said, gue cuma pengin jujur aja, kok, he-he.
Kalau boots ada hubungannya dengan percaya diri, maka books ada hubungannya dengan perspektif. Banyak membaca pastinya bikin wawasan kita makin luas, bikin kita terbiasa memandang sesuatu dari banyak perspektif, jadi ini tentunya akan mempengaruhi kita dalam bertindak di dunia nyata. Membaca membuka wawasan gue sehingga Alhamdulillah, gue bisa terhindar dari kemungkinan punya pemikiran yang sempit dan picik. Terlebih di saat sekarang, di saat kita harus kritis dan enggak gampang termakan emosi lalu tiba-tiba mengeluarkan komentar bodoh (yang mana sekarang banyak banget yang kayak gini). Dengan adanya buku, at least gue sadar kalau dunia ini luas dan ada banyak beragam orang tinggal di dalamnya.
Oh, sebagai seorang penulis in my daily life, tentu membaca jadi sebuah keharusan.
That’s why I think that I can’t live without boots and books. Because I need something to makes me feel confident and broaden my horizon.

And you, what is the most important thing in your life?

Monday, January 23, 2017

Selamat Datang di Produce 101, Selamat Tinggal di Time Slip. Perjalanan Satu Tahun Bersama I.O.I, Yess I Love It

Yess I Love It. We Are I.O.I!
Welcome to 2017. This is my first post in 2017 and I give it to IOI. Yup, my little adorable baby, eleven angels who brought tears and joys for almost one year. IOI.

Perkenalan di Produce 101



I always have a thing for girl group. Mulai dari jamannya Spice Girls dulu sampai Red Velvet sekarang. I might be a fangirl, suka sama musisi atau aktor cowok, tapi ada beberapa cewek yang sukses draw my eyes into them and makes me be their fans.
But I don’t have a plan to watch Produce 101. At first, I don’t have any expectation. Harus diakui, nama Jeon Somi bikin saya sedikit penasaran dengan acara ini. Namun, mengikuti 101 cewek saling bersaing demi mendapatkan posisi 1 – 11? Nope, I don’t like it. We talk about Korean and their drama, pasti deh ini bakalan dibikin jadi semacam arena cat fight yang mengadu cewek-cewek remaja ini.
But that’s wrong. Salah besar.
Semula berawal dari ketidaksengajaan. Ketika iseng gonta ganti channel TV malam-malam dan end up di Channel M yang lagi nayangin Produce 101. Sudah agak telat sih, karena yang waktu itu ditonton episode di tantangan kedua. Tepatnya ketika Rap Position dan Dance Position lagi diadu. Ketika Somi and the team tampil nge-dance dengan lagu Bang Bang, I felt shock.
Sumpah, itu keren banget.
Ini dia video yang dimaksud.



Somi and her craziness, Chungha and her sexiness, Yoojung and her captivating eyes. Detik itu, saya mutusin buat mulai menonton dari awal. And this is the right choice I’ve ever had *lebay*. Produce 101 dan IOI merupakan one of the best thing that happened in 2016 in my life.

Teenage Girl and Their Problem



Umumnya, peserta Produce 101 memang masih muda banget. Yeah, right, ada Hwang Insun alias Hwang Ahjumma sebagai peserta tertua dan dipanggil ahjumma (come on, she was born on 1989, same age like me, but people called her ahjumma, hahaha). But overall, they’re so young.
Menonton acara ini rasanya sama seperti menonton film atau series anak sekolah yang saling bersaing demi mencapai mimpinya. Mereka bukan cuma muda dari segi umur, tapi gaya dan ekspresinya juga. Karena ini memperlihatkan keseharian mereka, jadi enggak ada deh itu flashy makeup or costume, yang ada cuma mereka dengan rambut diikat acak-acakan dan sweatpants. Kesederhanaan ini yang bikin saya tertarik dan selesai menonton sampai akhir.

Determination


One thing that I adore from them is their determination. Let’s take a look on Sohye’s case.  Mungkin ini masih menjadi misteri kenapa Sohye bisa masuk 11 besar dan salah satu popular girl sejak awal karena kalau dilihat dari skill, ini anak minus banget. She can’t sing. She can’t dance. Dia awalnya training untuk jadi aktris dan entah kenapa terjebak di sini. But her determination is no joke. Dia tahu usaha teman-temannya untuk sukses dan maju. Itu mendorongnya buat melakukan hal yang sama. Kalau orang lain berusaha 100%, dia berusaha 200%. Siapa sangka kalau Sohye yang awalnya enggak bisa ngikutin koreo tapi akhirnya malah ngajarin temennya?
Determination is key point to success. Ini terlihat banget di Produce 101. Kegigihan mereka untuk memberikan penampilan terbaik itu terlihat jelas di sini. Berlatih sampai pagi udah jadi hal biasa. Not just IOI, another group also have great determination. Dan kegigihan ini memberikan hasil nyata bagi mereka. Ada usaha, ada hasil, itu benar banget.

Self Pity & Jealousy



Namun, enggak seru dong kalau enggak ada drama? Drama juga ada. Namun, saya kurang sreg dengan drama ini. Ada dua drama yang bikin saya rolling eyes selama menonton. Self pity. Terutama anak-anak yang berada di posisi bawah. Bukannya terpacu untuk maju dan berusaha keras, mereka malah mengasihani diri sendiri dan berharap orang lain ikut mengasihani mereka. Juga jealousy, yang berkembang dari self pity ini.
Salah satu contoh yang jelas itu ada di dance position ‘Say My Name’. Saya lupa namanya, tapi ada dua anak yang selalu mengasihani diri mereka karena posisinya yang berada di bawah. Nayoung pernah berkata, ‘kalau kalian ingin mendapatkan sesuatu, at least usaha untuk mempelajari dengan maksimal apa yang sudah dipunya.’ Kasarnya begitu. Gimana mau jadi center kalau nge-dance aja suka salah?
Tapi, kan, wajar dong self pity karena nasib di ujung tanduk?
Kita lihat contoh lain. Vocal position, tim My Best. Itu juga isinya bukan trainee populer. Malah rangkingnya juga enggak bagus-bagus amat. Mereka milih lagu itu karena enggak ada pilihan lain. Lagu itu enggak dikenal, dan trainee lain enggak ada yang milih. Mereka terpaksa memilih lagu itu. Sesuai judulnya, mereka memberikan penampilan terbaik. Dan Kang Sira sukses jadi salah satu trainee yang disukai setelah penampilannya.



You will get your spot when you try to earn it. Ini yang saya pelajari. (Selain hair goals-nya Park Siyeon)

Welcome To IOI



Sejak awal, saya memang rooting for Somi. Dia memang bukan penyanyi dengan vokal memukau seperti Sejeong atau Yeonjung. Dia juga bukan dancing machine seperti Chungha. Dia juga bukan visual super cantik yang langsung menarik perhatian seperti Doyeon or Chaeyeon. But, there is something in her yang bikin dia itu stand out. Di penilaian awal, di saat trainee lain ekspektasinya langsung drop setelah melihat penampilan Somi yang biasa-biasa aja, JeA bilang kalau Somi punya sesuatu yang membuat dia bisa jadi center.
She’s such a stan atractor.
Namun di perjalanan sempat cheating juga sih. Empat jagoan saya adalah Somi, Chungha, Jeon Soyeon, dan Kang Sira. Sayang Soyeon dan Sira enggak berhasil lolos. (Tapi saya senang karena sebentar lagi mereka akan debut sebagai penyanyi solo).
Saya sempat memutuskan untuk enggak ngefans sama siapapun lagi setelah GOT7 dan Red Velvet. Tapi IOI terlalu berharga untuk dilewatkan. Jadilah akhirnya saya mengikuti perjalanan mereka. From one show to another show. From one gig to another gig.
Dan akhirnya saya mengerti mengapa mereka jadi salah satu rookie group fenomenal. Meski berasal dari berbagai agensi, mereka terlihat kompak. Mereka saling melengkapi satu sama lain. Beagle line Doyeon-Yoojung-Somi-Chungha, powerful vocalist Sejeong-Yeonjung, cutie little girl Sohye-Mina, pretty girls Chaeyeon – Kyulkyung, best leader stone Nayoung. They compliment each other. Sesuai nama mereka, Ideal of Idols, ya mereka ini idol yang ideal.



Sejak semula sudah diberitahu kalau IOI hanya akan bersama-sama selama satu tahun. Ada time limit yang membatasi mereka. Namun selama satu tahun ini, pencapaian mereka beyond expectation banget. Karena tahu ada time limit, saya (dan mungkin fans lain) sudah menekankan pada diri masing-masing kalau di akhir Januari mereka akan berpisah. Saya pun sudah menyiapkan diri.
Namun saya sudah attach terlalu dalam dengan mereka. Sehingga ketika saat itu tiba, tetap saja ada rasa enggak rela. Ketika menonton fancam konser terakhir mereka, Time Slip, rasanya baru kemarin saya enggak sengaja nonton penampilan Bang Bang, dan sekarang udahan aja gitu?
Ugh, I hate it.
Namun, ya, kita enggak bisa berharap apa-apa juga. Impossible mereka bisa bersama, karena dari awal mereka sudah berasal dari tempat berbeda. Masing-masing agensi sudah menyiapkan yang terbaik buat mereka. Chaeyeon dan DIA. Chungha dan rencana debut solo. Sejeong dan Mina dengan Gu9udan. Nayoung dan Kyulkyung dengan PRISTIN. Doyeon dan Yoojung dengan Fantagio new girl group. Sohye dan akting. Yeonjung dan WJSN. Serta Somi dengan rencana apapun itu yang disiapkan oleh JYP.
Dan pada akhirnya, yang terbaik sekalipun harus mencapai titik akhir.
But this is not the end. This is just another beginning for them.
So , with this post, I want to say thank you IOI for joyful ride. See you again, in your new adventure.
Last but not least, their last song, Downpour.




Thursday, December 22, 2016

When a Snail Falls in Love: Singa, Siput, dan Human Trafficking Antar Negara


Another Chinese crime drama. When a Snail Falls in Love based on Chinese best seller novel who also wrote Love Me If You Dare (read reviews here). The main lead is Wang Kai who caught my eyes when he played as Li Xun Ran at Love Me If You Dare. Because I looove Love Me If You Dare so much, so I give this drama a chance. Simply because I believe that this will be a good drama. Also, I read a positive review about this.
So, I think there are a lot of reasons why I had to watch this drama.
And I think I made a good choice.

A Snail and A Lion

First of all, I think this is another serial killer drama, like Love Me If You Dare. But it’s wrong. Snail (for short) has a different story and case with Dare (for short) so it’s not good if we made a comparison.
Dari segi tone aja, drama ini beda banget dengan Dare. Snail, at least, enggak se-gloomy Dare. Isunya lebih kompleks, tentang drugs dan human trafficking. Setting cerita ada di sebuah kota kecil di Cina, disebut Lin City, bukan di Beijing. Later that I know kalau kota ini dekat perbatasan dengan Myanmar sehingga isu yang disorot ternyata juga masalah yang sering dihadapi saat ini.
Snail bercerita tentang Xu Xu, cewek lamban dan lemah tapi jago dalam hal analisa prilaku. Dia baru lulus akademi kepolisian dan ditempatkan sebagai karyawan magang di crime unit yang dipimpin oleh Kapten Ji Bai. Ji Bai enggak suka karena menurut dia Xu Xu enggak pantas ada di unit itu. Ji Bai dan Zhao Han (his right hand also his best friend) taruhan dan memberi Xu Xu waktu tiga bulan buat membuktikan diri kalau dia mampu untuk menjadi bagian dari crime unit.
Xu Xu punya hobi menggambar, dia membuat ilustrasi kesehariannya ke dalam bentuk gambar. Dirinya digambarkan sebagai seekor siput dan Ji Bai sebagai singa. Frankly speaking, her drawing is so cute I like it. Drama ini berlangsung sekitar tiga bulan, dengan kasus satu per satu bermunculan. Kasus yang awalnya terlihat berdiri sendiri tapi lama-lama saling sambung menyambung dan berujung ke satu kasus besar.

Drugs & Human Trafficking

Kasus yang sebenarnya sudah mulai diincar sejak belasan tahunlalu.
Kasus pertama berupa penculikan menantu di Ye Family (lupa namanya). Kasus ini kemudian membuka fakta soal pencucian uang yang dilakukan Ye Zi Yi, sahabat baik Ji Bai dan masalah di perusahaan Ye Group. Ye Zi Yi membawa kita ke masa dia kecil dulu ketika dia yakin ayahnya dibunuh, bukan meninggal karena kecelakaan. Pencucian uang ini membawa kita masuk ke dalam keluarga Ye dan masalah antara Ye Zi Yi dan sepupunya Ye Qiao yang suaminya selingkuh dengan Ye Zi. Masalah makin rumit ketika Ye Zi terbunuh dan tersangkanya antara si menantu yang dulu diculik slash selingkuhan Ye Zi slash suami Ye Qiao atau Ye Qiao yang sejak dulu cemburu sama Ye Zi atau kakaknya Qiao yang ingin menyelamatkan perusahaan.
Lalu, apa hubungannya antara perusahaan Ye dengan drugs dan human trafficking?
Kita masuk ke kasus kedua. Brother Lu, big boss yang menjual cewek-cewek yang sebelumnya diculik. Masalah ini berawal dari ditemukannya mayat seorang cewek di bawah umur. Namun Xu Xu membuat kesalahan dengan menggiring opini kalau Brother Lu itu cowok. Ketika mereka berhasil menggrebek markas, mereka menyelamatkan semua cewek yang disekap, termasuk salah satu yang belakangan diketahui sebagai Brother Lu yang sebenarnya.
Brother Lu berhasil kabur ke Myanmar dan berada di bawah perlindungan seorang Jendral Myanmar.
Balik lagi ke perusahaan Ye. Ternyata Uncle Hu, orang kepercayaan di sana menyalahgunakan perusahaan buat membangun bisnis drugs. Uncle Hu berhasil kabur.
Dan ujung-ujungnya, kasus ini berakhir di satu sosok yang merupakan sang criminal mastermind.

Kejahatan Antar Negara

Menonton drama ini berasa ngeri karena banyak tentaranya. Bukan tentara cakep macam Yoo Si Jin, tapi tentara yang bikin ngeri. Serasa nonton film jaman dulu. Gue enggak masalah nonton seri pembunuhan berdarah-darah atau serial killer super kejam, tapi gue enggak sanggup nontonin tentara-tentara dengan senjata laras panjang dan naik tronton.
Masalahnya, setengah drama ini ceritanya mereka udah ke Myanmar, di kota perbatasan dengan Cina. Ji Bai kerjasama dengan tentara Myanmar dalammenyelesaikan misi ini. Gue pengin udahan nontonnya, tapi sayang aja enggak selesai nonton cuma demi ketakutan gaje gini.
Oh ya, untung masalah Bahasa digambarkan apa adanya di sini. Ketika tim Ji Bai dan tim Myanmar ngomong, mereka pakai Bahasa Inggris meski ngaco. Beda dengan Dare yang ketika kerjasama dengan FBI, tim Taiwan tetap pakai Bahasa Mandarin dan tim US pakai Bahasa Inggris dan mereka bercakap-cakap seolah mengerti satu sama lain. Detail yang lumayan mengganggu.
(Tapi yang paling epic tetap film Cina-nya Lee Joon Gi, Never Said Goodbye. Junki ngomong Korea, si cewek ngomong Cina logat mainland, Ethan Ruan ngomong Cina logat Taiwan. Eaaa)

Kota Kecil yang Apa Adanya

Satu hal yang patut diacungi jempol adalah keadaan kota kecil yang apa adanya. Mungkin kita bosan dengan cerita berlatar di kota besar metropolitan. Snail mengajak kita menjejak kota kecil dan juga kota perbatasan, karena di sini banyak banget terjadi kasus kejahatan. Bahkan, kota perbatasan selalu menjadi sumber kejahatan antar negara.
Sungai Mekhong. Pertama kali gue dengerin nama sungai ini waktu belajar IPS saat SD dulu, gue merinding. Entahlah, the more I want to know about Indocina, the more I feel uneasy in my heart. I don’t know how to explain it, tapi gue merasa ngeri aja dengan nama sungai ini, terlebih kalau udah menyangkut militer. Gue juga enggak tahu kapan pertama ngerasain perasaan ngeri ini tiap kali melihat militer + Cina + Indocina. Tapi kepo juga, gimana dong? (That’s why I bought The Symphatizer, a book who won Pulitzer and written by Vietnamese author about Vietnam War).

Not My Cup Of Tea

Snail punya cerita yang kompleks dan dark. Karena isu yang diangkat lebih humanis ketimbang Dare yang isunya lebih ke masalah pribadi. Snail punya cerita yang menegangkan sampai akhir, literally sampai menit-menit akhir. Gue suka tokoh-tokohnya yang meski banyak tapi punya ciri khas tersendiri sehingga enggak ngebingungin, kecuali masalah nama yang butuh ingatan ekstra keras buat hafal semua.
Namun dari segi cerita, this is not my cup of tea. I enjoy it but I don’t love it. Balik ke masalah isu yang diangkat sih karena isu ini bukan selera gue.
But I recommend this drama for you if you want to try another thrilling drama.
Dan Wang Kai terlalu ganteng buat dilewatkan, he-he.

Bonus
Drama Asia & Gadget
Oke, ini cuma hasil pengamatan kurang penting sekaligus kurang kerjaan gueaja. Setiap kali nonton drama, gue selalu merhatiin gadget yang dipakai. Setiap gadget ngegambarin dari negara mana drama itu. Berikut hasil penelitian kurang penting gue.
Drama Korea: HP kalau enggak Samsung ya LG. Chatting pakai Line atau Kakao Talk. Search engine yang dipakai Naver. SNS mirip Instagram atau Weibo.
Drama Cina: HP-nya Oppo. Search engine: Baidu. SNS: Weibo. Chat: WeChat
Drama Jepang: HP-nya Sony. Chat: Line atau KaTalk (udah lama enggak nonton dorama Jepang jadi hasil nalisa masih minim).
Dan yang lucu ada di drama Taiwan: HP-nya iPhone. Chat: WhatsApp. Search engine: Google.

So? Yah, itulah hasil analisa kurang penting gue he-he.