Pages

Free Personal signatures - cool!

TEXTAREA_ID

Easy management

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean.

Read more
image01

Revolution

A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth.

Read more
image01

Warm welcome

When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane.

Read more
image01

Quality Control

Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar.

Read more
image01

Tuesday, January 20, 2015

#3 Sejoli by Wangi Mutiara Susilo

Sejoli
Wangi Mutiara Susilo



Rayya dan Kenya bersahabat tapi diam-diam saling memendam cinta. Masalahnya, Kenya adalah si anti komitmen yang meski cinta setengah mati sama Rayya tetap aja enggak mau meningkatkan hubungan mereka dari sahabat jadi pacar. ketika Rayya bertanya ‘What are we, Kenya?’ eh ini cowok malah kabur dan ngenalin Rayya ke gebetan barunya.
Intinya, novel ini masih mengangkat tema klasik: are-we-dating-or-just-a-friend?
Jadi ingat lagunya JunggiGo X SoYou yang Some. Iya, ini lagu jadi soundtrack ketika lagi baca novel ini.
First of all, congratulations Unge for your debut. Yeaiii akhirnya Unge debut juga sebagai novelis solo *tebar confetti*. This is one of expecting novel buat gue karena udah sejak kapan tau itu kenal Unge dan kenal tulisan-tulisannya dan suka tapi belum debut-debut juga.
Finally.
Sekarang mari kita bedah novelnya Unge. No offense ya, Nge, he-he.
I love this. Metropop banget alias mencerminkan hal yang yah biasalah kejadian di usia *uhuk* kita sekarang (kita di sini merujuk ke generasi seangkatan sama gue dan penulis hihi). Ceritanya yang related ke kehidupan sehari-hari jadi nilai plus novel ini. meski premisnya klasik banget, which is udah sering diangkat dan enggak ada hal baru diangkat di sini.
Kekuatan Unge terletak di pemilihan kata-katanya, terutama di dialog. Meski minim deskripsi *gue rasa bakal lebih oke jika deskripsi ditambah* dialog-dialognya keren. Quoteable banget. Di tiap halaman pasti ada kalimat yang hakjleb di hati dan pengin langsung di-post di sosmed, he-he.
Enggak bermaksud ngebandingin, tapi maaf sebesar-besarnya, gue enggak bisa mengusir Antologi Rasa dari otak gue sepanjang baca novel ini. There are a lot of Antologi Rasa moment. Rayya yang Keara banget. Kenya yang Harris. George as Dinda. Dan penggalan adegan ketika Kenya merasa hubungannya saat itu sudah dirasa cukup ngingetin gue ke this-is-enough-nya Harris.
Gangguan utama gue ketika baca novel ini adalah setting tempat dan waktu yang enggak jelas. Waktunya berasa loncat-loncat. Di awal pacingnya lama dan santai, eh setengah ke akhir cepet banget kayak dikejar setan. Coba ada tambahan adegan sehingga perpindahannya enggak secepat ini. Tapi ini bagus buat yang suka baca cerita to the point dan enggak menye-menye karena dijamin pasti bakal enjoy baca meski pacing enggak sama dari awal sampai akhir.
Ngomong-ngomong soal setting tempat, ini pendapat gue. Rayya ini tinggal di mana, toh? Dilihat dari dia belanja bulanan di Karawaci, oh mungkin aja dia tinggal di Karawaci. Di apartemen di Karawaci. Tapi kerjanya di Sudirman? Bukannya orang milih tinggal di apartemen biar dekat dengan tempat kerja ya? Atau bisa aja dia tinggal di Sudirman trus belanja bulanannya di Karawaci? Hmm…
Dan banyaknya nyebutin nama tempat makan dan tempat2 hits lain yang menurut selera gue pribadi agak show off. Semacam name dropping buat memperkuat lifestyle si tokoh yang tinggi. Tapi esensi ke cerita enggak ada.
Oh ya, nama Kenya juga ganggu. Awalnya gue bingung Kenya ini cewek apa cowok? Haha.
Intinya, menurut gue novel ini Unge banget. Tepatnya, Rayya itu Unge banget. mungkin karena gue kenal Unge secara personal kali ya jadi nangkep kalo Rayya itu Unge, hehe.

Sebagai novel debut, novel ini cukup oke karena benar-benar Unge. Ditunggu novel selanjutnya yang lebih witty dari ini ya, Kak Unge.

Monday, January 12, 2015

#2 I Heart Paris by Lindsey Kelk

I Heart Paris
Lindsey Kelk



Buku ketiga dari #IHeart Series karya Lindsey Kelk
Di buku ketiga ini, petualangan Angela berlanjut ke Paris. Berawal dari Alex yang bareng band-nya The Stills, ada show di festival di Paris, Angela mendapat tawaran dari BELLE Magazine untuk meliput tempat hipster di Paris. Belle ini majalah yang ada di Spencer Media, tempat The Look berada. Dan Angela diminta langsung untuk tugas ini oleh Rob Spencer, bos besar Spencer Media.
Namun petualangan Angela enggak mudah. Baru sampai bandara, kopernya tertahan di JFK karena ada something yang enggak lolos imigrasi. Baju-baju kece high label pinjaman dari Jenny, charger laptop dan hasil research awal tentang tempat hipster di Paris ada di sana.
Enggak hanya itu, Angela juga bertemu Selene, mantan pacar Alex yang terang-terangan pengin merebut Alex lagi.
Dan kerjaannya juga enggak gampang. Untung ada Virginie, karyawan Belle Paris yang menolong Angela di Paris. Tapi ada juga konspirasi yang ingin menjatuhkan Angela dan membuatnya dipecat.
Sama seperti dua buku sebelumnya (I Heart New York dan I Heart Los Angeles. Gue udah baca tahun lalu tapi males bikin reviewnya, hehe), ceritanya masih manis dan dreamy banget. dan banyak kejadian tiba-tiba. tiba-tiba Angela dapat kerjaan dari bos besar ke Paris bareng pacarnya, Alex.
Ceritanya khas chiclit alias dreamy. Bikin emosi para jomblo. Bikin emosi rekan media karena kehidupan Angela sebagai wartawan yang enak banget. gaya menulis Lindsey masih seperti biasa, mengalir, detail dan penuh emosi. Lindsey selalu berhasil menggambarkan emosi dan perasaan para tokohnya.
Namun tokoh Angela makin lama kok makin gengges, ya. insecure-nya itu, lho. enggak habis-habis. Di buku pertama dan kedua bolehlah Angela terlihat gamang, insecure, minderan, selalu memikirkan yang terburuk, dan selalu butuh bantuan teman-teman dan pacarnya. Namun di buku ketiga ini dia enggak menunjukkan perkembangan apa-apa padahal dia sudah satu tahun lebih dewasa dibanding awal kemunculannya di buku pertama.
Konfliknya klise sik. Mantan yang manas-manasin. Sebenarnya bukan masalah besar kalau aja Angela enggak gengges dan nanya langsung ke Alex. Eh ini malah kabur ke London. Pas disadarin Jenny, baru deh buru-buru balik lagi ke Paris. Untung ada konflik dengan Virginie dan Cici sehingga ceritanya enggak klise dari awal sampai akhir.

So far gue masih bertahan baca buku keempat, I Heart Vegas. Mungkin kalau Angela makin gengges di buku ini gue bakal berhenti baca I Heart London dan I Heart Christmas, hehe.

Friday, January 9, 2015

#1 Gone Girl by Gillian Flynn

Gone Girl
Gillian Flynn



This book is making me crazy. Aslik. Sakit jiwa ini buku.
Gone Girl bercerita tentang sepasang suami istri, Nick and Amy Dunne. Di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke lima, tiba-tiba Amy menghilang. Setelah penyelidikan demi penyelidikan, Nick dicurigai telah membunuh Amy.
And the rest is history.
Ini bukan novel baru, terbit 2012. Tapi baru bisa baca sekarang, Sebagai buku pertama di awal tahun. kebetulan juga sekarang sedang heboh filmnya yang dibintangi Ben Affleck dan Rosamund Pike.
Sebelum ini, gue enggak pernah melirik Gone Girl. This book is not my cup of tea. Gue paling males baca buku thriller, apalagi psychological thriller. Bukan apa-apa, takut aja. soalnya gue kan anaknya imajinatif ya, jadi abis baca yang tipe begini pasti kepikiran trus mimpi buruk trus hidupnya enggak tenang. Tapi, karena anaknya FOMO, jadilah akhirnya baca. Sekaligus memenuhi resolusi 2015 gue: be fearless than ever.
*malah curhat*
So, this is my review.
Surprisingly, I loooove this book. Ceritanya benar-benar gila. Tokoh-tokohnya gila semua.
Dari segi cerita: idenya amazing. Sebenarnya simpel: apa kita benar-benar mengenal orang yang hidup degan kita? Atau malah yang selama ini kita kenal hanyalah ‘persona’ yang dibuat orang itu? Dari ide ini, Gillian berhasil menghasilkan cerita yang seru, menegangkan, dan bikin menganga di setiap twist yang dihadirkannya.
Kedua, tokoh-tokohnya. Asli, semua tokohnya bikin gemes. Let’s talk about Nick. Awalnya kita dibuat simpati sama Nick. Lalu fakta demi fakta terkuak dan bikin kita sadar, apa Nick pantas dikasihani seperti itu? Ada masa gue tiba-tiba benci sama Nick meski ujung-ujungnya gue enggak tahu harus bereaksi kayak apa sama Nick.
And so does Amy. Meski perasaan gue yang dominan adalah benci sama cewek ini, tapi takjub juga sama kepintarannya. Emang, deh, enggak boleh cari gara-gara sama cewek macam Amy.
Dari segi tokoh, Gillian berhasil menghadirkan tokoh yang enggak biasa. enggak hitam putih. Tokoh yang berwarna dan bikin pembaca mikir berulang kali untuk benci atau suka sama satu tokoh. Setiap tokoh punya karakter yang kuat dan pergerakan sendiri yang enggak disangka-sangka. Termasuk, tokoh pendamping sekalipun.
Buat aspiring writer, novel ini bagus banget untuk belajar tentang karakterisasi dan pola menempatkan twist yang nendang.
Gaya bercerita Gillian juga oke. Berangkat dari sudut pandang pertama dua tokoh utama, kita diajak untuk menyelami pemikiran keduanya sehingga hasilnya lebih terikat sama semua tokoh. Karena kita mengenal apa yang ada di isi kepalanya. Hasilnya, jadi tambah gemes sama buku ini.
Gone Girl is a page-turning book. Ceritanya bikin adiktif. Ketika baca, enggak terasa udah jam berapa aja gitu, dan bikin kepikiran kalau lagi berhenti baca.
Ada banyak pelajaran yang bisa ditarik dari novel ini. yang paling utama yang bikin gue mikir panjang ketika selesia baca buku ini (ada kali 15 menit gue bengong mikir begitu selesai baca): who am i? Apa yang gue perlihatkan selama ini benar-benar diri gue atau persona yang gue bikin ketika berhadapan dengan orang lain? Karena kita, tanpa disadari, pernah bikin persona di hadapan orang dan sesuai dengan yang diinginkan orang tersebut.
Begitu juga dengan orang yang selama ini kita rasa kita kenal baik. apa iya kita sudah mengenal dirinya yang sebenarnya atau malah kita hanya mengenal ilusi yang dia ciptakan di balik dirinya?
Let’s think about that. Dari novel ini gue juga belajar buat lebih mengenal diri gue: who am I, what I need, what I want. Karena enggak mau berakhir seperti Amy, he-he.

Intinya, novel ini benar-benar recommended (meski gue bacanya termasuk telat). Jadi tertantang buat baca novel Gillian yang lain, Sharp Object dan Dark Places yang reviewnya juga bagus.

Monday, January 5, 2015

2015 Reading Challenge

2015 Reading Challenge


Reading Challenge
Jadi, selama dua tahun berturut-turut gue bikin target bisa baca 100 buku. Sounds ambitious, right? Awalnya, sih, rajin baca. Sebulan bisa beberapa. Tapi ujung-ujungnya jadi males. Tahun lalu apa lagi, Cuma berhasil sekitar 30an.
Jadi, tahun ini kembali ngeset target di Goodreads jadi 100 buku. Lucky me, I found this reading challenge in somewhere when I was browsing. This challenge sounds funny because there are a lot of kind of book that we have to read.
Here’s it is.


-                      A book with more than 500 pages: The Silkworm (Robert Galbraith)
-                      A Classic Romance: one of Jane Austen’s novel. Belum mutusin yang mana.
-                      A book that became a movie: The Duff (Kody Keplinger)
-                      A book published this year: to be confirmed, tergantung buku yang seru apa. Targetnya baca lima di kategori ini.
-                      A book with a number in the title: tbc
-                      A book written by someone under 30: tbc
-                      A book with nonhuman characters: Days of Blood and Starlight & Dreams of Gods and Monsters (Laini Taylor)
-                      A funny book: Koala Kumal (Raditya Dika)
-                      A book by female author: tbc. Minimal 5 buku dari Stephanie Perkins, Sarah Dessen, Windry Ramadhina, etc.
-                      A mystery or thriller: Gone Girl (Gillian Flynn)
-                      A book with a one word title: Sejoli (Wangi MS)
-                      A book of short stories: My True Love Gave To Me: Twelve Holiday Stories (Stephanie Perkins dkk)
-                      A book set in a different country: Some Korean novel maybe? Looking forward to Asian Chiclit.
-                      A nonfiction book: Staying Strong 365 Days a Year (Demi Lovato) & Thrift (Arianna Huffington)
-                      A popular author’s first book: Looking For Alaska (John Green)
-                      A book from an author you love that you haven’t read yet: Children of Hurin (JRR Tolkien)
-                      A book a friend recommended: tbc
-                      A Pulitzer-prize winning book: The Goldfinch (Donna Tartt), pemenang Pulitzer 2014.
-                      A book based on a true story: tbc, tapi pengin tentang serial killer, haha.
-                      A book at the bottom of your to-read-list: uhmm… let me check firts.
-                      A book your mom loves: tbc
-                      A book that scares you: something horror, I think.
-                      A book more than 100 years: tbc, tapi pengin baca roman Indonesia.
-                      A book based entirely on it’s cover: Gagasmedia’s book
-                      A book you were supposed to read in school but didn’t: Salah Asuhan (STA)
-                      A Memoir: I Am Malala: The Girl Who Stood Up For Education and Was Shot By Taliban (Malala Yousafzai)
-                      A book you can finish in a day: Indonesian chiclit, minimal 5 buku di kategori ini.
-                      A book with antonyms in the title: tbc
-                      A book set somewhere you’ve always wanted to visit: Sophie Kinsella’s book.
-                      A book that came out the year you were born: oke, mesti browsing buku-buku terbitan 1989.
-                      A book with bad reviews: 50 shades of Grey trilogy? Maybe something else, kekeke.
-                      A trilogy: The 5th Wave (Rick Yancey) & Autumn Falls (Bella Thorne)
-                      A book from your childhood: Eva Ibbotson’s book, STOP series.
-                      A book with love triangle: looking forward for new young adult book in 2015.
-                      A book set in the future: Rebels: City of Indra (Kendall & Kylie Jenner)
-                      A book set in high school: nyari wangsit dulu di paperbacktreasure.com (blog buku favoritku)
-                      A book with a color in the title: tbc
-                      A book that made you cry: Yess!!! Saatnya selesaiin baca novel Nicholas Sparks yang belum dibaca.
-                      A book with magic: tbc.
-                      A graphic novel: Ed Sheeran: A Visual Journey (Ed Sheeran)
-                      A book by an author you’ve never read before: tbc. Minimal lima buku di kategori ini.
-                      A book you own but you have nerev read: ini mah banyak banget, kekeke.
-                      A book that takes place in your hometown: Bingkai Memori (Petronela Putri)
-                      A book that was originally written in different language: secara ngertinya Cuma Inggris, jadi baca novel YA Inggris aja, minimal lima buku.
-                      A book set during Christmas: tbc, minimal 3 buku.
-                      A book written by an author with your same initials: Oke, saatnya nyari penulis dengan huruf depan I.
-                      A play: A Midsummer Night’s Dream (William Shakespeare)
-                      A banned book: Tanya mbak Yuska kalo ini, kekeke.
-                      A book based on or turned into a TV show: Saatnya nyelesaiin atau mulai baca serial A Song of Ice and Fire (George RR Martin)
-                      A book you start but never finished: ini mah banyak, hehe.

Masih banyak yang tbc sih. Ada rekomendasi judul yang oke?
Cheers,

iif

Friday, January 2, 2015

#2015IWill

#2015IWill

#2015IWill
Many great things happened to me in 2014. Meski ada juga beberapa hal yang mengecewakan dan kegagalan mencapai tujuan yang gue tetapin di awal tahun. Mumpung masih awal tahun, pengin nge-highlight lagi beberapa hal yang membuat gue setingkat lebih tinggi di tahun 2014.

1. Published my own book. Yup, finally my biggest dream came true. Kali ini, gue berhasil nerbitin novel atas nama gue sendiri. Bukan lagi buku antologi ataupun duet. Just me. Haha. I am so proud of myself.
2. Being an editor. Yup, gue beruntung bisa mencicipi hal lain, yaitu jadi editor. Total, gue udah ngedit dua novel. So far genrenya remaja. Actually, I’m into teenage things right now. Gue pun suka nulis cerita remaja saat ini.
3. Going abroad. With myself. Actually, ini bagian dari pekerjaan. Ketika gue ditugasin ke luar negeri sendiri. Sebenarnya ada dua orang lagi dari Indonesia tapi kita baru kenal sekitar sebulan sebelum berangkat, jadi secara unofficial ini bisa dibilang sendirian. Dan keluar negeri sendiri, dibayarin pulak, jelas jadi hal paling mengasyikkan. Karena kalau pake uang sendiri, kapan gue bisa sampai ke Abu Dhabi? Once more, gue ngerasa setingkat lebih dewasa ketika berhasil menginjakkan kaki di tempat asing sendirian. Karena selama ini, ketakutan terbesar gue adalah pergi sendirian.
4. Having a great time with my family. Secara semua keluarga gue udah di Jakarta, enggak ada alasan lagi buat enggak kumpul bareng. Apalagi sekarang ada dua ponakan lucu yang sering nanyain gue kapan pulang, jadinya ya makin sering pulang. Highlight terbesar terjadi Desember kemarin, ketika gue lagi di Makassar karena kerja dan dapat telepon kalau bokap masuk rumah sakit. Di tempat asing sendirian, gue cuma bisa nangis di reruntuhan Fort Rotterdam waktu dapat kabar itu. Saat itu gue sadar kalau keluarga adalah hal nomor satu dalam hidup kita dan jadi menyesal karena selama ini gue lebih senang sendirian daripada bareng-bareng mereka.
5. Nekat. Seriously, I’m not a risk taker. Bisa dibilang cemen malah. Jadi ketika gue dengan impulsifnya sewa perahu sendirian di Makassar, kelilingin tiga pulau dan berhenti di satu pulau, itu adalah keputusan terbaik di akhir tahun 2014. Pertanda kalau sudah saatnya untuk berani.
6. Having a great time with friends. Tahun ini gue sering ngerandom bareng teman-teman. Which is sesuatu yang langka dilakukan semenjak lulus kuliah. Dan, juga bareng teman-teman sekolah dulu. I’m happy because I have peoples like them.
7. Losing and forgiving. Gue kehilangan dua orang teman di tahun ini. Satu teman kuliah dan satu lagi sahabat saat SMA. Kehilangan yang enggak disangka-sangka dan bikin shock saat dapat kabar itu. Juga, kehilangan yang ngajarin gue buat memaafkan. Cici, sahabat gue yang meninggal, sempat terjadi miskomunikasi antara kita yang bikin kita menjauh selama enam tahun. Tapi kepergian dia bikin gue belajar satu hal: betapa pentingnya memaafkan karena bisa bikin kita lebih tenang.
8. Pindah. Akhirnya gue pindah dari kosan yang udah gue tempati lima tahun. Kalau kantor enggak pindah, mungkin gue bakal tetap stuck di sana. Gue ingat di salah satu episode CSI, Horatio pernah bilang. “Kadang, keadaan yang memutuskan sesuatu untuk kita.” Yup, keadaan yang memutuskan gue harus pindah. Kadang, di saat kita enggak bisa memutuskan sesuatu, keadaan memegang peranan dengan mengambil keputusan tersebut.
9. Say goodbye to Middle Earth. After 17 years, finally it’s time to say goodbye. 17 waktu yang dihabiskan Peter Jackson sejak syuting LOTR: FOTR. Dan 12 tahun waktu yang gue habis menunggu film terakhir tayang. Meski petualangan gue di Middle Earth belum berakhir, tetap aja rasanya sedih sesuatu yang selama belasan tahun gue ikuti tiba-tiba berakhir. Sama sedihnya kayak say goodbye sama Doraemon meski setelah film terakhir ini tayang, gue yakin RCTI bakal terus nayangin serialnya, he-he.
10. Happy fangirling. Ini buat ngegenapin. Cheesy sih, tapi hei, it’s me. Cheesy is my middle name, right? Jadi, yah, makin terjebak dalam dunia fangirling, I mean, bukan terjebak lagi tapi udah nyemplung sedalam-dalamnya. If you follow me on twitter or Path, taulah ya seberapa gilanya gue. Umm… why don’t we write an article about that? Ha-ha.
That’s all. Gue rasa itu highlight pentingnya. Dan, karena ini tahun baru, kayaknya jadi semacam kewajiban bikin semacam resolusi. Dan karena katanya sebaiknya resolusi itu spesifik, mari kita break down daftar keinginan sespesifik mungkin.
#2015IWill Baca 100 buku. Come on, dua tahun berturut-turut bikin target ini dan selalu gagal. Tahun ini harus berhasil.
#2015IWill Nulis minimal satu cerpen 1 bulan.
#2015IWill Nyelesain draft ‘Portrait’ di triwulan pertama 2015.
#2015IWill Next nulis ‘Keeping Up’ di empat bulan selanjutnya.
#2015IWill Triwulan terakhir 2015 nyelesaiin ‘Plastic’. Jadi, trilogi impianku itu semuanya selesai.
#2015IWill Olahraga. Jogging pagi-pagi sebelum ngantor. Wajib.
#2015IWill Sering pulang ke rumah, minimal dua minggu sekali.
#2015IWill Nonton di bioskop minimal sebulan sekali –DAN BUKAN KARENA LIPUTAN. Come on, you need a rest, right?
#2015IWill Tabungan ditambah. So far 2014 udah mulai agak terkendali jadi 2015 harus lebih terkendali lagi.
#2015IWill Aktif nge-blog lagi, minimal seminggu sekali. Entah itu review buku, random things, atau cerpen.
#2015IWill Ke Makassar lagi. Sumpah, Malino masih memanggil-manggil.
#2015IWill Ke Cirebon. I don’t know why but I want to go there. Wisata kota dan sejarah di Cirebon.
#2015IWill Nerbitin satu novel.
#2015IWill Ngedit novel lagi.
#2015IWill Ngerandom bareng teman-teman minimal sebulan sekali.
#2015IWill Beli album solo perdana Jonghyun *oke, ini biar ada sisi cheesy aja biar enggak serius-serius amat*
#2015IWill Nonton konser Ed Sheeran. Ini wajib.
So far itu dulu. List ini tentatif, akan bertambah seiring perjalanan waktu.

And, welcome 2015. I’m ready for new challenge!

Thursday, November 20, 2014

#MyBucketList 1. Ed Sheeran

“Aku enggak pernah menyangka akan jadi terkenal karena dulu aku sangat jauh dari image seorang idola.” – Ed Sheeran.
Jadi, dalam rangka pengin menghidupkan kembali blog yang sudah lama hiatus, plus mengembalikan mood menulis seperti semula, gue jadi pengin berbagi something in my bucket list with #mybucketlist post. There are many things and dreams in my bucketlist that I want to achieve and I want to share it here to motivate me.
For the first post, I want to write about Ed Sheeran. Simply because I am falling in love with his song, especially Tenerife Sea, and he is one of my bucketlist.
So, here is the history.
Sudah lama sejak terakhir kali gue mengidolakan seseorang karena karyanya benar-benar menyentuh hati gue. Sampai gue berkenalan dengan Ed Sheeran dan Lego House. Lagu itu langsung masuk ke hati dan pikiran gue karena enak di kuping. Lalu gue mulai mengenal lagu-lagu Ed yang lain. Terhitung tiga tahunan sampai sekarang dan gue menasbihkan diri: I’m the massive fans of him.
He’s different with any other teen idol. Seperti yang Ed bilang di kalimat pembuka post ini, dia memang sangat jauh dari sosok idola, secara fisik. Rambut merah, chubby, mengalami masalah pendengaran, dan enggak terlalu cakep. Tapi ketika mendengar dia nyanyi, oh my God, gue sampai speechless. Hal pertama yang bikin gue makin respect sama dia adalah, cara Ed mengawali karier. From one gig to another gig. Enggak kayak idola kebanyakan sekarang yang memulai dari YouTube. Ed sendiri bilang, di salah satu interviewnya, kalau dia masih konvensional dalam hal karier.
Lalu gue makin jatuh cinta setelah membaca lirik-liriknya. Memang, sih, lagu-lagunya tuh curhat banget. Tapi liriknya enggak cheesy dan enggak kayak baca diari. Cara Ed mengolah kata itu keren banget. Cara Ed memilih kata-kata yang dia pakai itu bikin lagu curhat jadi enggak cheesy. Ini dia kekuatan Ed, di liriknya.
For example:
So I’ll take you to the beach/ and walk along the sand/ and I’ll make you a heart pendant/ with a pebble held in my hand/ and I’ll carve it like a necklace/ so the heart falls where your chest is/ and now a piece of me is a piece of the beach/ and it falls just where it needs to be/ and rests peacefully/ so you just need to breathe/ to feel my heart against yours now (Wake Me Up)
Atau ini
And all of the voices surrounding us here/ They just fade out when you take a breath/ just say the word and I will disappear/ into the wilderness (Tenerife Sea) à Lagu ini bikin gue googling Tenerife Sea,
Di salah satu artikel yang gue baca, disebutkan kalau para hopeless romantic pasti jatuh cinta dengan Ed Sheeran karena kepiawaiannya merangkai kata. Tipikal cowok romantis yang bisa bikin cewek meleleh.
And it’s true.
Tapi itu hanya satu alasan. Semakin gue mengenal Ed, semakin gue menemukan banyak alasan kenapa gue begitu mengidolakan dia. He’s such a smart person. Cowok smart memang gampang bikin gue meleleh, he-he. Dan, ini yang paling penting, dia punya kesukaan yang sama dengan gue dan hal itu bikin gue makin related aja sama dia. Dua contoh: The Lord of The Rings dan Game of Throne. Jadi, begitu tahu tahun 2013 lalu Ed nyanyiin soundtrack The Hobbit: Desolation of Smaug, gue excited banget. Ed dan Hobbit adalah paket kombo.
Dan setelahnya? All of The Stars from The Fault In Our Stars. Satu lagi paket kombo: Ed dan novel favoritku.
Lalu pertanyaannya, apa hubungan Ed dengan bucketlist?
Because I want, someday, I can meet him. And ask him about his inspiration. Gue pengin tahu apa yang dia lakukan setiap kali menulis, siapa penulis idolanya, buku-buku puisi yang dia baca. Siapa tahu jawabannya bisa memotivasi gue untuk terus menulis.

So, what about your bucketlist?

PS: Masih berharap tahun depan Ed ke Indonesia. Secara Singapur, Filipin, dan Malaysia udh confirm kan ya bakal konser di sana, hehe

Tuesday, September 16, 2014

Review #24 Beautiful Liar by Dyah Rinni

Beautiful Liar
Dyah Rinni



Lunetta terbiasa tinggal bersama ayahnya sejak orangtuanya bercerai. Ayahnya ini penipu sehingga mereka harus tinggal berpindah-pindah. Entah untuk menghindari kejaran polisi, atau menghindar dari korban yang ditipu ayahnya. Lalu suatu ketika, Lunetta harus tinggal bersama ibunya karena posisi ayahnya yang berbahaya.
Lunetta enggak suka dengan ibunya sehingga dia memutuskan untuk mencari masalah agar bisa kembali ke ayahnya. Begitu juga ketika Lunetta sekolah di sekolah swasta elit yang seperti istana kerajaan Yunani. Dia pun memutuskan untuk jadi ‘penipu’ agar dikeluarkan dari sekolah dan kembali ke ayahnya. Tapi kehidupan normal yang diberikan ibunya lama-lama membuat dia betah. Begitu juga teman-temannya di sekolah. Termasuk cowok ngeselin yang sering jadi penghalang rencananya, Badai.
Jadi, Beautiful Liar ini salah satu pemenang lomba 7 Deadly Sins yang diadain GagasMedia tahun lalu.
Gue udah lama nunggu-nunggu novel ini. Alasannya simply karena pemenang lomba. Ketika lomba itu diadain, sempat kepikiran buat ikut. Tapi mundur karena susah dan enggak tahu mau nulis apa. Makanya gue penasaran sama hasil pemenangnya (Psst, salah satunya karya temen gue, mbak Yuska Vonita. Can’t hardly wait for her debut novel). Apalagi nama mbak Dyah Rinni yang udah mumpuni bangetlah.
Begitu tahu novel ini berlatar remaja, makin kagetlah gue. Gimana caranya bisa menulis novel SMA dengan tema serius begini?
Hasilnya? Gue speechless.
This novel is perfect. With capital P.
Tema yang diangkat unik banget. Bedalah dibanding novel-novel remaja umumnya. Untuk urusan tema, two thumbs up-lah buat mbak Dee. Cewek penipu yang dibentuk oleh keadaan. Alasan Lunetta melakukan tindakan tersebut sesuai dengan umurnya, yaitu kangen sama ayahnya dan merasa sulit beradaptasi dengan kehidupan baru yang ditawarkan ibunya.
Selain itu, unsur-unsur pendukung juga khas remaja banget. persahabatan dan cinta, juga masalah keluarga. Tapi semuanya mendukung tema utama novel ini yang mengangkat dosa greed.
Unsur-unsur lain juga patut diacungi dua jempol, seperti alur yang lancar bak jalan tol, chemistry antar tokoh yang kuat banget, bahkan tokoh minor sekalipun, dan bahasa yang enak dibaca. Emang sih ceritanya sinetron banget, tapi kalau sinetron kayak begini mah gue mau mantengin tv he-he.
Kekurangannya mungkin di editing. Eh itu banyak typo (as usual. We talk about GagasMedia, remember?) dan yang ganggu pas baca sih pengulangan kata. Maksudnya gue ngerti, salah satu buat dihapus tapi kayaknya skip jadi ya enggak sempat dihapus, deh. Contoh (lupa halaman berapa karena gue selesai baca udah lama banget): … saat ini ….. ….. …. Saat ini. nah, yang kayak begitu tuh sering kejadian.
Kalau kekurangan lumayan major sih ya penulis yang membiarkan tokoh Bella menghilang entah ke mana menjelang akhir. Padahal peran dia penting, lho. dan subkonflik Bella itu sering banget terjadi di kehidupan nyata.

Jadi, secara keseluruhan, aku puas dengan novel ini. sebuah pembuka yang manis. Dan cover yang kece. Kalau dijembrengin ketujuh seri ini cakep kali, ya. Dan gue menasbihkan mbak Dyah Rinni sebagai penulis novel young adult Indonesia nomor satu yang aku suka. Yihhaaa….

Monday, September 1, 2014

Happy Birthday To Me

Welcome To 25



Actually, this is a late post because my birthday was at August 30th.
Ada beberapa usia yang bikin orang-orang deg-degan ketika memasukinya. Bagi gue, ada empat tahapan usia. 17, 25, 30, dan 40. 17 karena katanya itulah titik awal kita menuju kedewasaan. Saatnya punya KTP dan itu sebuah bukti kalau kita udah gede. 25 menurut gue titik kedewasaan sebenarnya. Blame on quarter-life-crisis syndrome. 30 karena menurut gue saat itu kita sudah settle dan 40 saat untuk menetapkan, what’s next.
Dua di antaranya udah gue lewatin. Gue masih ingat waktu norak-noraknya memasuki usia 17. Sweet seventeen (yang setelah dilewatin enggak sweet-sweet banget). Gue punya KTP dan mencoba untuk dewasa. Hasilnya? Failed. Haha.
Sekarang gue memasuki masa norak kedua beberapa saat menjelang umur 25. Memasuki awal Agustus, gue bertanya-tanya, apa aja sih yang udah gue lakuin di 25 tahun kehidupan gue? Nothing special, I know it. Beberapa hari menjelang usia 25, gue freak out sendiri. Sudah sampai umur segini dan gue semakin minder karena enggak banyak hal yang bisa gue banggain. Jujur, perasaan minder itu sering menghampiri gue akhir-akhir ini dan semakin besar menjelang ulang tahun. When I look at my friends, semua pencapaian mereka, kehidupan mereka, akulah merasa hanya sebatas debu di pinggir lukisan saja *tsahhh*
Tapi gue sadar kalau selamanya minder enggak mengakibatkan apa-apa kan? Malah yang ada cuma bikin makin drop. So, I reread my wishlist and review it. Here are some my dreams-do-come-true moment.

Hidup Mandiri
Proudly to say, yess, gue bangga bisa bilang hidup mandiri. Mandiri di sini, gue menanggung kehidupan gue sendiri. *meski pas-pasan hehe. Salahin sifat boros gue yang makin parah*. Gue pernah ketemu teman yang mengasihani gue saat tahu bayar uang kos sendiri padahal dia udah kerja dan kosan dibayarin mama. Menurut gue, justru gue yang seharusnya mengasihani dia.
Back to the days that I was a kid, gue enggak pernah kepikiran bakal tinggal sendiri. Bagaimana mungkin gue bisa sendirian secara selama ini gue selalu tergantung kepada orang lain? Bahkan saat udah kuliah pun gue masih tergantung kepada kakak. Padahal, target gue adalah hidup mandiri setelah tamat SMA, he-he. Tapi ternyata, setelah dijalani, gue bisa. Yeaiii… happy for me.

Do Something I Love
Bagi gue, ini juga pencapaian terbesar. Bisa hidup dari apa yang gue suka. Setiap hari menjalani pekerjaan seperti ngelakuin hobi. Entah itu prime job gue ataupun side job. Gue pernah berpikir, kalau seandainya gue enggak bisa jadi penulis, apa lagi yang akan gue lakuin? Karena gue enggak punya bakat atau kemampuan di bidang lain. Jadi, gue beruntung banget bisa bekerja di bidang yang gue suka.
Gue bekerja sebagai reporter di salah satu majalah yang dulunya waktu gue masih remaja, gue baca majalah itu. Gue pernah bermimpi bekerja di Kompas and the gank semata karena bokap gue suka banget sama Kompas. Dan sekarang gue berada di dalamnya. Happy for me.
Jadi, gue bersyukur banget bisa mendapatkan pekerjaan ini karena gue enggak tahu gimana hidup gue kalau enggak jadi penulis.
And I am certified published writer now. Haha. Alhamdulillah udah dua novel gue terbit. Insya Allah akan menyusul novel berikutnya, aminnn…
Perjalanan gue mewujudkan impian ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Gue enggak mengambil jalan kayak yang kebanyakan orang lain ambil. Gue gabung di klub yang isinya orang-orang dengan mimpi sama kayak gue, bikin proyek bareng, ketemu teman menulis duet yang oke dan klop, lalu dia mengajak gue nulis bareng dan mengirim novel itu ke penerbit. Karena sebelumnya I am a looser, cewek yang selalu mundur duluan dan enggak pernah ngirim tulisannya dengan alasan takut. Kalau enggak ada teman-teman ini, mungkin sampai sekarang gue masih dihantui perasaan takut itu.

Menang Lomba
Gue selalu iri dengan teman-teman yang punya banyak penghargaan di rumahnya. Menang lomba inilah. Itulah. Apalah. Sementara gue? Piala gue bisa dihitung dengan jari. I am not a straight A student. Gue bukan murid berjiwa seni yang sering ikut lomba. Gue juga enggak ahli di bidang olahraga. Jadi ya wajar kalau enggak ada penghargaan yang gue dapat. Sampai akhirnya gue menang lomba menulis novel. Mungkin kedengeran norak, tapi bagi cewek 25 tahun yang enggak pernah menang apa-apa, ini sebuah pencapaian besar. Haha.

So far dari hasil review, itu hal besar yang bikin gue senang. Sebagian wishlist masih berupa wish, menunggu untuk diwujudkan.
Setelah melewati ultah ke-25, gue merasa siap menunggu tahap ketiga. Usia ke-30. Gue berharap kehidupan gue lebih membaik, enggak minderan lagi, enggak sering takut-takut alias lebih berani, dan lebih produktif.
Once again. Happy belated birthday for me.

Thursday, August 28, 2014

Review #23 Paris by Prisca Primasari

Paris
Prisca Primasari



Aline yang lagi bete karena gebetannya jadian dengan cewek lain, memutuskan untuk cuti dari pekerjaannya sebagai waitress di sebuah restoran Indonesia di Paris. Di perjalanan pulang, dia menemukan pecahan vas yang kelihatannya mahal. Hanya ada satu petunjuk, nama Aeolus sena. Setelah dicari, Aline menemukan email Sena. Mereka pun janjian ketemu, tengah malam, di penjara Place de la Bastille. Tapi, Sena malah membatalkan pertemuannya saat Aline sudah ada di sana selama dua kali berturut-turut. Karena penasaran, Aline mau bertemu Sena lagi, kali ini ditemani Kak Ezra, tetangganya sekaligus mahasiswa Indonesia di Paris. Ternyata, sosok Sena sangat nyentrik. Sebagai balasan, Sena berjanji akan mengabulkan permintaan Aline.
Oke, gue telat banget baca buku ini. Banget banget banget. Ini kan buku pertama di seri STPC dan sekarang aja seri STPC udah berakhir, he-he.
Ini buku STPC keempat yang gue nikmati (setelah London, Bangkok, dan Melbourne). Dan ini buku yang paling enggak bisa gue nikmatin. Padahal sebelumnya gue suka bukunya Prisca, terutama Eclairs. Menurut gue ceritanya terlalu mengada-ada. Memang sih awalnya gue penasaran dengan background Sena, tapi setelah tahu, gue ngelihat something missing di sana. Kenapa Sena baru bergerak sekarang setelah bertahun-tahun terkurung? Toh dulu dia bisa keluar buat kuliah, memang segitu enggak ada waktunya? Apa Sena bertindak sekarang karena cinta? Well, mungkin gue udah enggak se-hopeless romantic dulu kali ya jadi enggak merasa tersentuh dengan perjuangan cinta Sena, he-he.
Tapi, terlepas dari ceritanya yang kurang nendang, gaya menulis Prisca masih gue suka, seperti biasa. Lembut dan detail tapi enggak menye-menye. Dan detail tentang Paris juga pas, enggak lebay, dan enggak terlalu kaku. Pokoknya jauh dari kesan promosi tempat wisata deh.
Karakternya juga, meski gue kurang related sama Aline yang sooooo pesimis, menye-menye, dan kelam. Gue tertarik dengan karakter Sena yang nyentrik dan lucu. Oh, sayang aja Kak Ezra porsinya terlalu dikit dan pengakuan Kak Ezra menurut gue terlalu tiba-tiba.

Meski ini bukan buku Prisca favorit gue, dan bukan favorit gue juga di seri STPC, baca buku ini lumayan buat mengisi waktu. Bukunya juga tipis, semalam kelar (sebagai obat insomnia hehe). Ditunggu buku selanjutnya Prisca. Tapi jangan Paris lagi ya. Cukup dua buku aja yang di Paris, he-he. Tapi kalau Rusia lagi enggak apa-apa. Suka banget sama Eclairs soalnya, he-he.