Pages

Free Personal signatures - cool!

TEXTAREA_ID

Easy management

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean.

Read more
image01

Revolution

A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth.

Read more
image01

Warm welcome

When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane.

Read more
image01

Quality Control

Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar.

Read more
image01

Thursday, August 28, 2014

Review #23 Paris by Prisca Primasari

Paris
Prisca Primasari



Aline yang lagi bete karena gebetannya jadian dengan cewek lain, memutuskan untuk cuti dari pekerjaannya sebagai waitress di sebuah restoran Indonesia di Paris. Di perjalanan pulang, dia menemukan pecahan vas yang kelihatannya mahal. Hanya ada satu petunjuk, nama Aeolus sena. Setelah dicari, Aline menemukan email Sena. Mereka pun janjian ketemu, tengah malam, di penjara Place de la Bastille. Tapi, Sena malah membatalkan pertemuannya saat Aline sudah ada di sana selama dua kali berturut-turut. Karena penasaran, Aline mau bertemu Sena lagi, kali ini ditemani Kak Ezra, tetangganya sekaligus mahasiswa Indonesia di Paris. Ternyata, sosok Sena sangat nyentrik. Sebagai balasan, Sena berjanji akan mengabulkan permintaan Aline.
Oke, gue telat banget baca buku ini. Banget banget banget. Ini kan buku pertama di seri STPC dan sekarang aja seri STPC udah berakhir, he-he.
Ini buku STPC keempat yang gue nikmati (setelah London, Bangkok, dan Melbourne). Dan ini buku yang paling enggak bisa gue nikmatin. Padahal sebelumnya gue suka bukunya Prisca, terutama Eclairs. Menurut gue ceritanya terlalu mengada-ada. Memang sih awalnya gue penasaran dengan background Sena, tapi setelah tahu, gue ngelihat something missing di sana. Kenapa Sena baru bergerak sekarang setelah bertahun-tahun terkurung? Toh dulu dia bisa keluar buat kuliah, memang segitu enggak ada waktunya? Apa Sena bertindak sekarang karena cinta? Well, mungkin gue udah enggak se-hopeless romantic dulu kali ya jadi enggak merasa tersentuh dengan perjuangan cinta Sena, he-he.
Tapi, terlepas dari ceritanya yang kurang nendang, gaya menulis Prisca masih gue suka, seperti biasa. Lembut dan detail tapi enggak menye-menye. Dan detail tentang Paris juga pas, enggak lebay, dan enggak terlalu kaku. Pokoknya jauh dari kesan promosi tempat wisata deh.
Karakternya juga, meski gue kurang related sama Aline yang sooooo pesimis, menye-menye, dan kelam. Gue tertarik dengan karakter Sena yang nyentrik dan lucu. Oh, sayang aja Kak Ezra porsinya terlalu dikit dan pengakuan Kak Ezra menurut gue terlalu tiba-tiba.

Meski ini bukan buku Prisca favorit gue, dan bukan favorit gue juga di seri STPC, baca buku ini lumayan buat mengisi waktu. Bukunya juga tipis, semalam kelar (sebagai obat insomnia hehe). Ditunggu buku selanjutnya Prisca. Tapi jangan Paris lagi ya. Cukup dua buku aja yang di Paris, he-he. Tapi kalau Rusia lagi enggak apa-apa. Suka banget sama Eclairs soalnya, he-he.

Monday, August 25, 2014

Review #22 Melbourne by Winna Efendi

Melbourne
Winna Efendi





This is the story about the one that got away.
Max kembali ke Melbourne, kota yang dulu ditinggalkannya. Dia pun bertemu dengan Laura lewat sebuah siaran radio. Hal itu memutar kembali kenangan yang pernah dilewatinya bersama Laura di kota itu. Mereka kembali bersahabat.
Bisakan sepasang mantan kekasih bersahabat?
Setidaknya, itulah tema besar dari novel Melbourne karangan Winna Efendi ini.
Fix, telat banget gue baru baca novel ini sekarang, setelah hype STPC selesai. And I like this novel. Very very very like it. Kesan yang gue tangkap selama membaca novel ini tuh sendu, sesuai dengan gaya menulis Winna yang lembut dan unsur di dalam novel itu sendiri (perasaan yang sama yang gue rasain setelah membaca London karangan Windry Ramadhina).
I’m not a huge fans of Winna Efendi. Malah pengalaman pertama gue baca buku Winna, Ai, sama sekali enggak berbekas. I don’t like Ai. Baru di Remember When gue mulai suka sama Winna. Tapi di Melbourne ini, gue head over heels sama Winna. Gue serasa beneran dibawa ke sana oleh Winna, nongkrong tengah malam di Prudence atau keliling Melbourne dengan mobil.
I love Max and Laura. Kedua karakter ini memang gampang banget membuat siapa saja jatuh cinta kepadanya. Giant-real-size Teddy Bear aka Max yang selalu ada buat Laura, cewek yang dicintainya. Juga Laura, quirky girl yang lovable. Gue suka dengan Laura, enggak gengges meski miserable. Gue suka selera musiknya yang aneh tapi bikin dia makin berkarakter.
Dan gue suka sama suasana Melbourne yang ditampilkan Winna. Memang sih kota ini menarik banget sehingga cerita apapun pasti jadi menarik, he-he. Tapi gue suka tone cerita yang sesuai dengan keadaan kota itu. Beberapa tempat digambarkan pas, enggak terlalu mendetail sehingga enggak kayak baca buku panduan wisata.
Satu hal yang bikin gue iri adalah gaya menulis Winna. Dia bisa menulis dengan lembut tanpa menye-menye dan enggak lebay. Pengin sih suatu hari nanti menulis kayak gini.
Oh, kelebihan lainnya, profesi yang enggak pasaran. Two thumbs up buat riset Winna soal arsitek cahaya ini. Kece. Bikin gue jadi mikirin konser-konser yang pernah didatengin dan terpukau sama lighting. Mungkin, ada Max di sana *ngarep haha*
Kalau ada kekurangan, mungkin skip di satu hal aja. Winna menuliskan tentang lagu Someday We’ll Know yang dia dengar dinyanyiin oleh Mandy Moore di film A Moment To Remember. Kak, filmnya A Walk To Remember. A Moment To Remember mah film Korea yang syedih banget itu, he-he. *bener kan ya?* Skip di hal simpel tapi fatal sik (dan kenapa pula gue tumben-tumbenan bisa teliti haha)
Overall, gue puas sama novel ini. sukaaa banget. terutama lagu-lagunya, he-he.

Wednesday, August 20, 2014

Review #21 Heart Attack by CLara Canceriana

Heart Attack
Clara Canceriana





Heartbreakers, sebuah boiben yang sedang naik daun tiba-tiba ditinggalkan oleh leader sekaligus lead vocal mereka, Dima. Popster Entertainment langsung mencari pengganti Dima. Ketika menonton konser sebuah sekolah musik, Dedy, managing director Popster suka sama Axel dan menawarkan Axel untuk bergabung dengan Heartbreakers.
Axel yang pemalu, rendah diri, dan enggak tahu impiannya apa menerima tawaran itu semata karena kecengannya dia suka sama Heartbreakers. Axel pun pindah ke apartemen Heartbreakers dan beradaptasi dengan dunia baru yang enggak pernah dibayangkannya sebelumnya. Belum lagi sikap member lain, Sandro dan Leon, yang kurang bersahabat. Dan para anti-fans yang ingin dia mundur. Plus skandal-skandal lain, membuat Axel bertanya-tanya apa iya dia pantas ada di Heartbreakers?
And the rest is history.
Gue baca novel ini iseng aja, karena pengin baca novel ringan yang bisa langsung dikelarin semalam. Heart Attack adalah pilihan yang tepat. Novel ini ringan, ditujukan buat remaja delusional yang suka mengidolakan seseorang (baca: fangirl), dan konflik yang ada pun sudah sering diangkat. Meski gue bukan remaja lagi tapi masih delusional aka fangirl, gue rasa gue akan menikmati novel ini.
Sorry to say, but I’m not. Gue dulu suka sama tulisan Clara di Rain Affair, tapi kenapa gue enggak bisa nyambung dengan gaya menulis Clara di sini? Clara memakai kalimat pendek-pendek dan minim deksripsi. Bahkan deskripsi tokoh-tokohnya aja kurang jelas sampai-sampai gue mengira-ngira sendiri. Oke, mungkin nanti ada buku sendiri buat Leon dan Sandro, tapi gue enggak bisa mengira-ngira Axel ini gimana. Masalahnya, ketika baca novel ini, dengan posisi mereka di boiben itu, menggiring pikiran gue ke beberapa idol Korea (gue jelasin nanti).
Kedua, konflik yang diangkat itu-itu aja. Skandal dan masalah dengan pers dan fans, plus di antara anggota. Gue lebih suka jika Clara fokus membangun chemistry antara member Heartbreakers ini. Dan Kirana, apa-apaan tuh. Selain gue enggak nangkep chemistry antara Kirana-Axel, keberadaan dia yang tipikal cewek Korea (lemah-oh-so-miserable) bikin gue eneg haha *ini sih persoalan pribadi gue yang enggak pernah suka sama cewek kayak begini*.
Concern utama gue ketika baca novel ini adalah, gila, sense of Korea-nya berasa banget. Tanpa setting di sana dan memakai tokoh dari sana, cita rasa Korea kerasa banget di sini. Pertama, pemakaian konsep boiben ala-ala Korea. Kenapa sih enggak bikin boiben ala-ala Indonesia. Toh boiben Indonesia juga enggak kalah keren (for example: 5Romeo). Pembagian posisi seperti ada leader, ada lead vocal, lead rapper, sub rapper, penyebutan personil dengan sebutan member, dan tinggal bareng di apartemen. Dooh, itu kan Korea banget. Western boyband enggak kenal tuh yang kayak gitu. Masalahnya, di boiben Indo juga enggak ada. (Untung enggak bikin mereka tinggal di dorm, haha). Soalnya dari awal gue berharap ini cerita boiben rasa Indonesia. Coba deh Clara riset soal boiben Indonesia dan menggali kehidupan boiben Indonesia kayak gimana, mungkin bisa ngasih pengetahuan baru sama pembaca tentang industri musik Indonesia, khususnya boiben.
Dan juga, seperti yang dibilang di atas, deskripsi yang minim bikin gue mengawang-awang mikirin tokoh-tokoh ini kayak apa. Jika lo punya basic experience atau basic knowledge soal Korea, gampang banget lo mengasosiasiakan tokoh-tokoh ini sebagai siapa. Let’s say, Dima as Kris EXO. Why? Karena dia leader yang ninggalin boiben yang ngebesarin namanya (oke, mungkin ini karena timing yang pas aja antara kasus Kris dan ketika gue baca novel ini). Sandro as Suho EXO. Why? Karena dia leader yang sakit hati ditinggal (Meski Suho bukan leader pengganti, tapi kan dia teman baiknya Kris, hehe). Axel as Jonghyun SHINee. Why? Karena gue suka sama Jonghyun dan enggak ada deskripsi soal Axel jadi Jonghyun dengan gampangnya memenuhi otak gue dan bikin gue mikir Axel is Jonghyun. Simply because he is lead vocal, jago bikin lagu, anak mami, punya kakak cewek yang sayang sama dia, dan sikap kekanak-kanakannya. That’s so Jonghyun. Masalahnya, gue enggak pernah suka membaca dalam keadaan kayak gini. Gue pengin ketika membaca, tokoh di novel itu muncul sebagai dirinya sendiri, bukan sebagai orang lain. *oke, ini masalah pribadi sih*. Makanya gue selalu suka dengan karakter yang kuat dan jelas, karena dia bisa muncul sebagai dirinya sendiri.
*sigh*
Tapi, salut untuk tim promosi dan pencetus ide serial ini. Karena pasarnya jelas dan promosinya sesuai pasar jadi hype deh ini serial. Mana lagunya beneran ada lagi (meski gue geuleuh baca liriknya, Ewww…) Gue sih berharap di novel-novel selanjutnya mengalami peningkatan dan bisa bikin pembaca mengenal Heartbreakers as in Heartbreakers. Bukan Heartbreakers as another boyband.
(Dan secara anaknya paling anti berhenti baca serial di tengah-tengah, gue masih menunggu buku selanjutnya).
Terutama cerita Dima.

Salam,
Fangirl yang gagal dibikin delusional oleh Heartbreakers tapi masih menunggu gebrakan mereka selanjutnya.

Friday, August 8, 2014

Review #20 Can You Keep a Secret? By Sophie Kinsella

Can You Keep a Secret?
Sophie Kinsella





Saking paniknya saat pesawat yang ditumpanginya mengalami turbulence, Emma Corrigan malah membeberkan semua rahasia yang selama ini dipendamnya kepada orang asing yang duduk di sebelahnya. Yang ada di benaknya adalah dia akan meninggal sehingga dia enggak akan bertemu si orang asing itu lagi.
But they met again. Besoknya, di kantor Emma. Ternyata si orang asing adalah bos besar, pemilik perusahaan tempatnya bekerja, an international multimillionaire, Jack Harper.
Emma pun panik karena sebagai bos, Jack tahu kalau dia mengubah nilai di CV. Emma pun memohon agar Jack enggak memecatnya. Jack setuju. Jack pun meminta Emma merahasiakan kalau mereka pernah bertemu sebelumnya di pesawat dari Glasgow.
For a story short, mereka pun dekat. Dengan Jack tahu semua hal tentang Emma. Sampai di suatu interview tv, Jack tanpa sengaja membeberkan semuanya. Demi kepentingan bisnis. Emma menjadi bahan olok-olok teman kantornya. Persahabatan puluhan tahun dengan Lissy terancam. Dia merasa dikhianati dan dimanfaatkan.
Oke, ini emang telat banget baru baca novel ini sekarang. Gue pun enggak bakalan tahu punya novel ini kalau enggak iseng beres-beres, he-he *iya, anaknya ignorance bingit*. Dan seperti biasa, Sophie Kinsella always got my heart.
Can you keep a secret? adalah tipikal chicklit biasa. Fun, witty, love and job and friendship and family. A nothing-special-girl kind of story tapi kebanyakan cewek mengalami hal ini. Seperti biasa, karakter heroine ciptaannya Sophie selalu menarik. Mungkin karena digambarkan sebagai cewek biasa jadi gampang related ke gue. Seolah-olah Emma ini ya cewek middle 20s umumnya yang ditemui sehari-hari.
Tapi beda halnya dengan sang hero. An international multimillionaire Jack Harper. As usual, too good to be true. Tapi yah namanya juga chicklit, tokoh tgtbt udah pasti ada. Tapi ada yang gue enggak ngerti dari si Jack ini. uUmurnya berapa ya? Enggak dibilangin. Let’s say dia pengusaha sukses, bisa 30 akhir atau 40 kan? Masalahnya, meski enggak dibilangin, penggambaran dari Emma aja enggak bisa membuat gue ngebayangin Jack ini kayak apa. Atau mungkin karena deskripsi dari Emma kebanyakan ya ngeces liat Jack, he-he. Oh satu lagi, alasan kenapa Jack deket banget dan seolah-olah kayak orang ikutan mati waktu Pete Laidler, rekan bisnisnya, meninggal juga enggak digali.
Untuk konflik sendiri, standar ya. Di beberapa poin gue gemes banget sama Emma yang enggak berani ngomong dan biarin orang-orang di sekitarnya menyetir dia. dooh! Apalagi pas lagi hadap-hadapan sama Jemima. Duh ya itu si Jemima pengin gue sumpel sambel mulutnya biar diam haha. Dan Emma ini baru bisa gerak atau memperjuangkan haknya demi kehidupan yang lebih baik setelah bertemu Jack. Putus dari Connor? Karena Jack. Melawan Kerry? Atas bantuan Jack. Untung buat karir enggak ada campur tangan Jack. Agak kesel sih sebenernya sama cewek kayak begini. Untung masih banyak hal menarik lainnya jadi enggak misuh-misuh pas baca, he-he.
Overall, I love this book. This is fun and light book. Dan yang makin bikin happy, gue nyelesaiinnya agak cepet, 3 malam saja. Yihaaa…

Monday, August 4, 2014

Review #19 Paper Towns by John Green

Paper Towns
John Green

 Gue punya yang cover ini, UK Edition. Soalnya covernya lucu, kayak gambar anak-anak.




Meet Quentin ‘Q’ Jacobsen. Cowok yang hidupnya lempeng bak jalan tol. Enggak neko-neko. Anak mami papi yang jelas jadi kebanggan orangtuanya. Punya sahabat yang seru, Ben dan Radar, meski jadi outcast di sekolah.
Meet Margo Roth Spiegelman. The queen bee from school. Sekaligus tetangga Q. Waktu kecil mereka akrab tapi jadi berjarak setelah mereka remaja. Mereka pun punya lingkungan pertemanan sendiri-sendiri yang beda banget.
Lalu suatu malam, Margo menyelinap ke kamar Q dan meminta Q menemaninya melakukan aksi balas dendam. Semalaman mereka keliling Jefferson Park untuk balas dendam ke pacar Margo yang selingkuh dengan sahabatnya. Dan orang-orang yang membuatnya kesal. Setelahnya, mereka menyelinap masuk SeaWorld.
Ketika pulang ke rumah paginya, Q sadar kalau sejak dulu sampai sekarang dia suka sama Margo. Dia pun berharap nanti siang di sekolah mereka bisa hangout bareng. Tapi Margo malah menghilang. Cuma ninggalin teka teki seputar kepergiannya.
Bareng Q dan Radar, plus Lacey, sahabat Margo, mereka mencoba mencari keberadaan Margo.
Pengakuan: butuh waktu dua bulan buat nyelesaiin novel ini. Semata karena daya baca gue yang sedang payah-payahnya.
Semula gue pikir novel ini kayak TFIOS yang romantis. Ternyata enggak. Novel ini malah semi detektif, he-he. Paper Towns terbagi atas tiga bagian. Bagian pertama berisi misi balas dendam Margo dibantu Q yang terjadi dalam semalam. Bagian kedua adalah misi pencarian Q berdasarkan clue yang ditinggalkan Margo. Bagian ketiga berisi misi mengejar Margo yang juga terjadi dalam waktu sehari semalam. Jika bagian pertama dan ketiga full of adrenaline, bagian kedua gue rasa agak ngebosenin. Makanya agak lama pas baca bagian kedua ini.
Gue suka dengan konsep Paper Towns. Paper girl. Paper boy. Kota yang palsu, enggak semua hal yang dilihat itu sama dengan apa yang terjadi. Sebagai paper girl, cewek idola di sekolah yang ternyata bermasalah dengan orangtuanya dan ingin dapat perhatian, menemukan ketenangan saat berada di pseudovision, sebuah tempat, bisa berupa bangunan, yang direncanakan akan dibangun tapi akhirnya terbengkalai. Dari luar tempat ini seperti diabaikan dan terbuang, tapi Margo malah menemukan ketenangan di sana. Di sanalah dia merencanakan untuk pergi. Pergi dari Paper Towns dan berhenti jadi Paper Girl. Kepergian Margo juga mengubah hidup Q. Dia jadi belajar untuk berani, reckless, dan enggak hanya mikirin dirinya sendiri plus hidupnya yang sempurna.
Novel ini bagus, meski minim unsure romance. Dan bikin gue pengin ikutan road trip bareng mereka, he-he. Sama seperti Isaac, scene stealer di TFIOS, di sini ada Ben yang juga jadi scene stealer. Plus Radar. Sama seperti TFIOS, ada banyak pesan dan pelajaran yang kita ambil dari novel ini. Worth to read lah pokoknya.
Novel ini juga udah dibeli right untuk difilmin oleh FOX. Dan, Nat Wolff, pemeran Isaac di TFIOS, udah fix jadi Q. Wohoo... See you next year, the real Q.