Pages

Free Personal signatures - cool!

TEXTAREA_ID

Easy management

Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts. Separated they live in Bookmarksgrove right at the coast of the Semantics, a large language ocean.

Read more
image01

Revolution

A small river named Duden flows by their place and supplies it with the necessary regelialia. It is a paradisematic country, in which roasted parts of sentences fly into your mouth.

Read more
image01

Warm welcome

When she reached the first hills of the Italic Mountains, she had a last view back on the skyline of her hometown Bookmarksgrove, the headline of Alphabet Village and the subline of her own road, the Line Lane.

Read more
image01

Quality Control

Even the all-powerful Pointing has no control about the blind texts it is an almost unorthographic life One day however a small line of blind text by the name of Lorem Ipsum decided to leave for the far World of Grammar.

Read more
image01

Monday, July 13, 2015

[Book Review] Critical Eleven by Ika Natassa

Critical Eleven
Ika Natassa



Maybe this is the most anticipated book of the year. Gimana enggak, teaser demi teaser yang dikeluarkan Ika selama 2 tahun akhirnya terbayar ketika kita bisa PO. Enggak nyangka bisa dapat (sempat ada dramanya juga hihi).
Mungkin, karena title the-most-anticipated itu juga aku jadi memasang high expectation untuk buku ini. Come on, ini masterpiece terbarunya Ika gitu. Buku dia enggak pernah enggak bikin kagum (kecuali Twivortiare 2 yang jujur aja aku enggak minat). Karena itu, jadi enggak sabar buat baca.
Pertama-tama, aku enggak punya gambaran soal isi ceritanya kayak apa. Oke... sejujurnya, aku sempat menebak-nebak dengan tebakan klise some guy and some girl ketemu di bandara berkali-kali lalu kisahnya berlanjut di bandara. Or the handsome passenger with beautiful stewardess. Tapi, ketika baca, ternyata temanya enggak se-shallow bayanganku. Enggak nyangka kalau Ika menyorot masalah pernikahan. Di awal-awal, sempat bertanya-tanya apa yang membuat Tanya dan Ale jadi seperti orang asing.
Ternyata...
Dealing with grief. Tema yang mungkin biasa tapi jadi luar biasa karena cara Ika menyampaikannya yang luar biasa. Ya udah sih ya, kalau urusan gaya menulis enggak usah dibahas. Aku masih suka dengan gaya menulisnya Ika yang lugas dengan suguhan informasi di sana-sini. Dan, suguhan itu enggak terkesan menggurui. Mungkin beberapa orang merasa keberatan, bilang Ika show off dengan semua name dropping-nya itu. But i'm fine with that.
Cara Ika membangun chemistry antara Tanya dan Ale juara. Kerapuhan mereka, pergolakan bathin mereka. Aku suka. Ika berhasil menggambarkan konflik bathin Tanya dan Ale, masing-masing dengan cara yang berbeda. Susah lho nulis dari sudut pandang cowok, dan Ika berhasil.
Jadi, apa aku suka dengan novel ini?
I like it. Tapi, enggak terlalu menikmatinya.
Why?
Simply because of the characters.
Tanya dan Ale enggak jauh beda dengan karakter Ika sebelumnya. Keberatanku sama kayak tokoh-tokohnya Christian Simamora yang selalu berada di pakem itu. Tanya kerasa kurang istimewa karena aku melihat ada Keara di sana, ada Alex juga. Ale pun juga, ada Beno dan Ruly di sana. Makanya, ketika aku siap-siap untuk dibikin kesengsem sama Ale, ternyata enggak karena aku melihat dia sebagai Beno dan Ruly. MUngkin Ika harus keluar dari pakem cool-independent-modern kind of girl dan cowok-pendiam-tapi-romantis. Buat pembaca baru, karakter ini mungkin biasa-biasa aja, tapi buat yang mengikuti Ika dari awal, lama-lama bosan juga disuguhinya yang begini-begini terus (untung Tanya enggak bankir haha).
Oh, sepertinya Ika kecele di novel ini. Bagian Tanya bilang dia suka toko buku dan toko buku dengan segala keberagamannya, itu kan pernah dibikin di Antologi Rasa bagian Ruli?
Jadi, kesimpulannya, aku suka Critical Eleven tapi enggak terlalu menikmati. Sejauh ini, favoritku dari Ika tetap Antologi Rasa.

(Oh bahkan di sini Harris lebih mencuri perhatian dibanding Ale).

Monday, May 18, 2015

Charli XCX & Meghan Trainor Concert, First Experience, and Random Talk With Singaporean Teenagers

Oke, this is supeeer late.

Sebenarnya kejadian ini udah hampir sebulan lalu, tepatnya 21 April 2015. Masih ingat banget di ingatanku waktu itu hari Selasa, beberapa menit menjelang jam 12 siang alias jam makan siang, ketika Mbak TZ, pemimpin majalah X tempatku bekerja, memanggil ke ruangannya. Di ruangannya, Mbak TZ—sambil ketawa—bilang, “Jadi, harusnya besok NN ke Singapur buat liputan. Tapi, paspor dia abis bulan September jadi enggak bisa pergi. Kamu paspornya masih ada kan? Kamu yang pergi, yah.” (ya kira-kira begitulah ucapannya mbak TZ, secara udah lama, jadi lupa-lupa ingat).
Reaksiku waktu itu, jeng jeng… ketawa garing. Kenapa? Soalnya, berangkatnya itu besok pagi dan ini mendadak banget. juga kasihan sama NN yang udah persiapan super matang buat berangkat, lalu batal berangkat karena kesalahan teknis, sedang aku enggak ada persiapan apa-apa. Jadilah sore itu kalang kabut nyiapin semua kebutuhan buat berangkat besok subuh.
Gila, interview di daerah Jakarta aja bisa dibikin kalang kabut kalau waktunya mendadak begini. Apalagi ini? Liputan di negeri orang, artis bule, konser, dan semuanya serba mendadak? Jadinya, malam itu enggak bisa tidur. ditambah dengan kebiasaanku yang emang enggak bisa tidur nyenyak setiap kali mau naik pesawat pagi besoknya.
Long story short, sampailah di Singapura. Jadwalnya hari itu press conference Charli, dilanjutin Meet and Great lalu malamnya konser. Untungnya sih enggak sendiri, ada temen dari majalah Z dan radio P dan temen-temen dari labelnya Charli di Indonesia. Okelah, meski deg-degan dan persiapan seadanya, kita hajar aja.
I know Charli from The Fault of Our Stars. Hei, I am John Green biggest fans. I like everything about John, termasuk soundtrack TFIOS. Jadilah, aku excited begitu mau ketemu Charli. Terlebih, dari hasil riset berupa tontonan dan baca-baca interview dia, ketahuan kalau anaknya cuek tapi yakin dengan yang dia mau. And she also loves Britney Spears and her biggest influence is 90s music. Oke, dua kesamaan yang bikin aku makin semangat buat ketemu Charli.
Ketika press conference, jawaban-jawaban Charli yang witty tapi nancep bikin aku makin takjub sama dia. Di balik sikapnya yang terlihat cuek dan imej rebel doi, tersimpan jawaban-jawaban yang fun dan cerdas. Wow.

Malamnya, adalah konser Charli. Untuk liputan konsernya sendiri bisa dibaca di majalah kaWanku edisi #203 yang terbit 13-27 Mei 2015 dengan kover Raisa (oke, ini pure promosi ceritanya, he-he). Yang jadi highlight sebenarnya bukanlah konser Charli (hei, konsernya udah ditulis di majalah), tapi pengalaman nonton konser. Ini pertama kalinya nonton konser di luar negeri soalnya, he-he.
Ketika menunggu di media pit, sempat ngobrol-ngobrol dengan abege-abege Singapur. Begitu aku minta foto mereka, dengan excited mereka pasang gaya paling gokil. Pas aku bilang aku dari majalah, mereka makin menjadi-jadi girangnya. Padahal, ini kan bukan majalah di negara mereka. Malah, ada satu anak, langsung manggil teman-temannya biar ikutan foto. enggak jaim dan apresiatif banget.
Jadi ingat pengalaman minta foto penonton konser di Jakarta yang sebelum bilang mau selalu punya banyak alasan. “Jangan ah, kak. Malu.” Atau “jangan deh kak, lagi kucel, enggak cantik,” dan sejuta alasan lain. Masalahnya, ini kan konser. Lo panas-panasan antri lama, gerak ke sana ke mari, heboh-hebohan menunggu idola lo, wajar dong kalau jadi kucel? Lalu, kenapa harus malu? Malah, kekucelan itu jadi bukti betapa excited-nya lo ketemu sama idola lo.

Okay, back to the topic. Gue sempat ngobrol-ngobrol panjang dengan Beau, dkk. Empat cowok Singapur. Mereka excited nanya-nanya soal pekerjaan gue. Sampai ada satu cewek di belakang mereka yang dari tadi nguping bilang ‘you have the coolest job ever. I wanna be like you.’
Detik itu, aku terdiam. Bahkan enggak denger Beau nanya apa. Celetukan itu bikin aku mikirin lagi pekerjaan yang aku geluti.
Anak lain bertanya. “Have you met your idol?”
Pertanyaan itu bikin aku mengangguk senang. Yess, I have.
Anak itu menimpali, “I want to have a job like you, so I can meet my idol, interview her/him, watch her/him performance, and go to another country.”
Aku cuma tersenyum. Andai kamu tahu dek kalau kenyataannya enggak seperti itu.
Tapi, dia ada benarnya juga. Mereka harus keluar duit banyak demi ketemu idola, itu pun enggak semuanya bisa tatap muka langsung. Dan masih banyaaak anak-anak di luar sana yang enggak bisa nonton konser idola mereka. And, here I am. Kalau dilihat dari kacamata fangirl, jelas pekerjaan ini adalah ANUGERAH BESAR.
So, this is one of many reasons why I love my job.
Begitu aku keluar dari media pit, Beau sempat teriak, “Please ask Charli, what is her favorite food? Thank you.” And I keep that question in my mind, I will ask her tomorrow. Soalnya, besok jadwalnya ketemu Charli.

Hari pertama berjalan dengan lancar. Yang awalnya enggak yakin bisa, hari ini jadi semangat. Hari pertama udah dilewatin tanpa halangan berarti, lalu hari kedua pasti bisalah, he-he.
Hari kedua di Singapura. Jadwalnya, interview Charli lalu berlanjut ke press conference Meghan Trainor dan malamnya nonton konser Meghan di lokasi yang sama dengan Charli malam sebelumnya. Setelah ada drama kehujanan dan muter-muter demi nyari hotelnya Charli, akhirnya ketemulah sama Charli. Sempat deg-degan begitu mau masuk ke ruangan tempat Charli, menunggu. Namun, deg-degan itu hilang begitu Charli menyambut dengan senyum dan celetukan, “Hei, we meet again.” Gilak, enggak nyangka kalau dia masih ingat kemarin pernah ketemu di press conference dan sempat foto bareng waktu meet and great.
Ngobrol dengan Charli seru. Anaknya enggak jaim dan jawaban-jawaban dia bikin aku akhirnya menyingkirkan daftar pertanyaan yang udah disiapin. Karena, lebih enak ngobrol sama dia daripada tanya jawab. (Lengkapnya, bisa dilihat di majalah kaWanku 204 yang terbit 28 Mei 2015 kover Charli XCX). Dan, enggak lupa nanyain pertanyaannya Beau.

Selesai interview, saatnya beranjak ke tempat selanjutnya buat preskon Meghan Trainor. Jika sebelumnya pas Charli ada teman, untuk Meghan, I do it by myself. Alias, teman dari majalah Z dan radio P udah pulang karena mereka enggak liput Meghan. Deg-degan yang sempat hilang kembali muncul. Tapi, pede aja. pikirannya, Hari pertama bisa lancar, maka hari kedua pun pasti bisa. Untung enggak lama ketemu mbak dari label Meghan di Indonesia sehingga enggak kayak anak hilang deh.
Hmm… Meghan? She’s sooo beautiful. Aslik, cantik gilak. I love her, lagu-lagunya yang punya banyak pesan positif dan kepercayaan dirinya yang patut diacungi jempol. Selama beberapa saat, sempat bengong akibat jawaban dia selama preskon. Dia enggak kayak para motivator yang penuh kalimat bersayap demi memotivasi orang, tapi Meghan memberikan kalimat cablak yang terkesan realistis dan penuh humor tapi malah efek memotivasinya lebih dahsyat dibanding ucapan para motivator. Enggak jarang ucapan Meghan bikin orang yang dengerin dia waktu mengangguk setuju, termasuk aku, yang berkali-kali bilang, ‘you’re right, girls.’ (Baca cerita selengkapnya di kaWanku edisi 205 yang akan terbit bulan Juni nanti*promo lagi*).

Highlight terbesar malam ini juga terjadi di lokasi konser. Aku ketemu dengan anak-anak yang super excited begitu mau menonton Meghan. Beberapa anak yang ketemu semalam di konser Charli juga ketemu lagi malam ini. Mereka bahkan mengajak ngobrol duluan begitu aku bengong nunggu konser mulai di media pit. Seperti kemarin, mereka bertanya aku dari mana, pekerjaanku, dan pendapat mereka tentang pekerjaan.
Back to the days when I was a naïve teenager for a small town. Waktu itu, mengandalkan koran dan majalah, aku membaca info soal idolaku (Britney Spears, The Moffatts, etc). Sejak saat itu, aku pun sudah memiliki rasa iri pada wartawan-wartawan itu yang berkesempatan ketemu sama artis idolaku (ya, aku pun masih iri sama mbak M dari majalahku yang pernah ke LA dan ketemu The Moffatts. Gilaaakkk, gimana enggak iri cobak? They are my childhool hero). And that night, at The Coliseum Hard Rock Café Singapore, I know that I am one of the lucky girl who can accomplish her childhood dream and make a living from what she loves.
Malam itu aku juga ketemu Amy (ternyata, dia berulang tahun dan malam itu diajak Meghan ke atas panggung. Liputan konser Meghan bisa dibaca di kaWanku 203 terbit 13-27 Mei 2015 kover Raisa). Amy and the gank remind me of my past. Mereka yang masih bersemangat menggapai impian dan punya cita-cita yang seru. Hei Amy, wherever you are, I believe someday you will be whatever you want. Dan, hal yang paling diingat justru malah ngobrol-ngobrol bareng anak-anak ini.

Oh, di saat ngobrol sama Amy, Beau nyamperin dan nagih pertanyaan dia.
Dan, sebelum keluar dari media pit, Amy ngacungin tangan sambil bilang, ‘high five’. Setelah high five, Amy bilang ‘see you again’.
Yess, see you again, Amy.
People said that you will never forget your first experience. Dan aku enggak akan pernah lupain pengalaman deg-degan liputan jauh mendadak dan berakhir ke ngobrol-ngobrol seru bareng abege-abege yang masih polos ini. Dan tentu saja, nonton konser Charli dan Meghan, he-he.

And… I’m ready for new challenge, haha

Thursday, April 9, 2015

Giveaway Novel Reborn

#Reborn: Karena Setiap Orang Membutuhkan Kawan Bicara.



Enggak ada yang lebih menyenangkan selain menyaksikan proses kelahiran sebuah buku. Proses berdarah-darah *oke, lebay*, kurang tidur, kurang main, dan lain-lain akhirnya terbayar begitu memegang novel yang baru terbit. Rasanya, tuh, sama kayak mendapati sepatu yang udah lama diincar tapi harganya selangit ada di rak sale tiga bulan kemudian *okay, enough with this metaphore*.
Seperti biasa, aku enggak pengin ngerasain momen-momen bahagia ini sendiri. I want to share it with you guys. Jadi, di post ini, aku mau ngadain giveaway berhadiah novel terbaruku, REBORN, plus beberapa novel lain pilihanku.
How:
1. Jawab pertanyaan berikut: Kalau kamu terlahir kembali sebagai seseorang, kamu pengin jadi siapa?
2. Ada dua cara menjawab:
Lewat twitter: mention jawaban + foto orang yang kamu pengin ke akun @iiphche. Maksimal 3 twit.  Di twit terakhir tambahkan nomor hadiah yang kamu mau. Sertakan hashtag #RebornGiveaway.
Lewat Instagram: tag foto dan sertakan alasan kamu memilih dia di caption ke @ifnurhikmah plus hashtag #RebornGiveaway. Sertakan juga nomor hadiah yang kamu mau. Maksimal, 2X tag.
3. Kamu boleh memilih salah satu dari dua cara tersebut.
4. Periode giveaway: 10 April 2015-20 April 2015.
5. Pengumuman akan dilakukan tanggal 21 April 2015.
6. Berikut hadiah yang bisa kamu pilih:
A. Reborn + 2 novel pilihan (Sparkle by Eve Shi dan Love You Anyway by Alamanda Hendarsyah)
B. Reborn + 2 novel pilihan (My Friends My Dreams by Ken Terate dan Being 17 by Amalia)
C. Reborn + 2 novel pilihan (Practice Makes Perfect by Julie James dan Too Hot To Handle by Robin Kaye)
D. Reborn + 2 novel pilihan (Wallbanger by Alice Clayton dan The Accidental Best Seller by Wendy Wax)
E. Reborn + 2 novel pilihan (Bidadari Santa Monica by Alexandra Leirisa Yunadi dan Dramaturgi Dovima by Faris Rachman Hussain).

Ditunggu partisipasinya, ya, girls. Info selanjutnya bisa ditanyain lewat komen di postingan ini atau mention aku di @iiphche.


Enjoy this giveaway!!!

Thursday, March 26, 2015

Joy, Please Stay

Joy, Please Stay
Oleh Ifnur Hikmah



Joy, Joy, please stay
I will give you all my heart and soul and everything
Joy, Joy, please stay
I know it’s hard but I will try to understand that you just wanna do the right thing
But deep in my heart I will always hope you to stay with me
Joy, Joy, please stay
**

The Barfly, 49 Chalk Farm Road, Camden Town, London. Saturday, March 28th, 2015. 23:03
Masih ada satu jam menjelang pergantian hari.
Happy birthday, Louis. I hope you’ll have a wonderful year ahead.
Aku mengangkat gelas berisi bir itu tinggi-tinggi, menganggukkan kepala ke sekeliling ruangan, meski tidak ada seorang pun yang kukenal. Permohonan yang sederhana, tapi hanya bisa kuucapkan seorang diri. Aku tidak tahu, apakah udara pekat di pub ini bisa mengantarkan permohonanku kepada Louis yang entah di mana sekarang.
Setidaknya, di dalam pub yang penuh sesak oleh orang-orang dan raungan gitar yang makin memekakkan telingaini, aku bisa merasakan kehadirannya. Aku bisa menatap foto dirinya berada di bawah sorotan lampu sambil memegang gitar dan urat-urat bertonjolan di dahinya saat dia menggapai nada tinggi sewaktu foto itu diambil.
Juga, dari alunan lagu yang tengah dimainkan The Average Boys di atas stage. Lagu yang dulu dinyanyikan Louis di hadapanku saat aku memutuskan pergi dari hidupnya. Lagu yang kemudian melambungkan nama Louis dan membuatku terkenal sebagai Joy the Heartbreaker.
Joy, Joy, please stay.
Setelah gelas ke sekian, aku merasa Louis-lah yang menyanyikan lagu itu. Tepat di hadapanku. Memohon agar aku tetap tinggal.
Aku menutup mata. Berharap ketika membuka mata, dia benar-benar ada di depanku. Dengan cengiran lebar khasnya.
Namun, aku tahu, harapan itu tidak akan mungkin terkabul.
**

Joy, Joy, please stay…
Sebut aku bodoh karena terus memutar lagu tersebut di sepanjang Chalk Farm Road. Aku tahu, seharusnya aku mematikan lagu itu. Namun, aku tidak bisa berpisah dari Louis. Untuk saat ini, hanya suaranya yang kumiliki.
Dan, hanya lagu itu satu-satunya cara agar aku bisa mendengar dia memanggil namaku.
Joy, Joy, please stay.
Dan memintaku untuk tinggal.
Aku merapatkan jaket yang kupakai. Udara malam Camden terasa menusuk kulit. Satu lagi kebodohan yang kulakukan—berjalan tak tahu arah di bawah pengaruh alkohol yang membuat kepalaku terasa berat di saat seharusnya aku beristirahat untuk mengejar penerbangan pukul enam pagi ke New York. Namun, aku tetap bertahan di sini. Menelusuri jalan yang dulu kujelajahi dengan tanganku berada di genggaman Louis.
Camden Lock Market terpampang di hadapanku. Malam ini, pasar itu masih ramai. Langkahku menuju ke sana. Teringat dulu aku dan Louis sering berada di sana. Selalu saja ada barang unik yang kami temukan di sana—penjual baju bekas yang menawarkan pakaian murah, koleksi piringan hitam atau CD penyanyi kesukaan Louis, pelukis jalanan yang melukis kami, dan makanan. Ada banyak penjual makanan yang dulu selalu mengisi perutku dan Louis.
Pasar itu ramai, tapi aku merasa sepi. Sepi yang selalu menghantuiku semenjak aku memutuskan untuk mengakhiri semua yang sudah kujalani bersama Louis selama lima tahun terakhir demi impian yang ingin kuraih.
Aku berhenti di depan penjual kopi. Aku tahu, seharusnya aku tidak menambah beban kepalaku dengan kafein. Namun, aku butuh sesuatu untuk mengembalikan kehangatan yang sudah hilang semenjak aku meninggalkan Louis dua tahun lalu.
**

Louis tengah memainkan gitarnya di The Barfly. Dia akan tampil sebentar lagi. Untuk ukuran pub lokal, The Barfly sangat terkenal—terutama bagi para calon musisi yang berharap bernasib sama seperti Blur, Oasis, atau Coldplay yang mengawali karier di sini. Termasuk, Louis. Dia berharap pub ini bisa melemparkannya ke panggung besar di O2 Arena.
Menemani Louis selalu terasa menyenangkan. Dia dengan gitarnya, dan aku bersama buku gambarku. Aku akan menggambar apa saja, tapi seringnya aku melukis para pengunjung pub. Aku juga melukis Louis. Sudah tidak terhitung berapa banyak lukisan Louis terpampang di flat sederhana yang kami sewa bersama.
Namun malam itu, ada sesuatu mengganjal benakku. Selembar kertas berisi pemberitahuan aku menerima beasiswa di New York. Aku punya dua pilihan; terima atau tolak—setiap pilihan pasti akan menyakitiku atau Louis.
“It’s my turn.”
Aku mendongak dan tersenyum mengiringi kepergian Louis menuju panggung. Aku terdiam cukup lama, merekam semua momen itu ke dalam benakku.
Entahlah. Malam itu aku merasa aku akan menyakitinya.
**


Aku melakukannya. Menyakiti Louis.
Gig itu sukses. Louis bahkan menerima beberapa tawaran untuk tampil di pub lain di London. Dia terlihat sangat bersemangat saat kami berjalan menelusuri Chalk Farm Road. Gitarnya ikut terayun seiring langkah kakinya.
Cuaca malam Camden menusuk tulang. Louis menggenggam tanganku dan menyimpannya ke dalam saku coat yang dikenakannya.
“Sudah lebih hangat, kan?”
Aku mengangguk. Sementara satu tanganku berada di dalam saku coat Louis, tanganku yang lain sibuk memainkan selembar kertas di dalam saku jaketku. Kertas itu terasa berat, tapi cepat atau lambat, aku harus membawanya ke hadapan Louis.
Begitulah. Aku berhenti di depan sebuah barbershop. Louis menatapku heran saat aku mendadak berhenti.
“Ada apa, Joy?”
“Aku…” aku tergagap. “Aku menerima beasiswa di New York.”
Louis tahu betapa aku ingin menjadi seorang pelukis. Betapa aku menginginkan kesempatan ini. Namun saat itu, aku melihat sebaris luka di wajahnya.
**

Pada akhirnya, aku meninggalkannya. Ketika mengepak barang-barangku, dia menyanyikan lagu itu, untuk pertama kalinya.
Joy, Joy, please stay.
Aku menulikan telinga karena aku yakin lagu itu bisa mengubah pendirianku jika terus mendengarnya.
I’m sorry, Joy. Aku enggak bermaksud membebanimu,” Louis memelukku. “Creativity is great. Dan, kepergianmu membuatku berhasil memecahkan rekor membuat lagu dalam waktu sepuluh menit.” Louis menyengir lebar, tapi aku tahu hatinya merasa sakit. “Pergilah. It’s your dream. Bukankah kita sudah berjanji akan menggapai mimpi masing-masing?”
Aku mengangguk pelan. “I know it’s hard but in the end I understand that you just wanna do the right thing,” bisiknya.
**

Aku merapatkan jaket dan memeluk tubuhku sendiri untuk mengusir rasa dingin. Aku menangadah, menatap langit gelap di atasku ketika aku kembali berada di The Barfly. Louis sudah selesai menyanyikan Joy, Please Stay dan keheningan menyergapku.
Aku mengeluarkan iPod dan kembali memutar lagu itu. Perlahan, aku membuka pintu The Barfly dan disambut oleh foto Louis.
Aku tidak tahu di mana dia. Namun aku tahu, seperti diriku, dia juga sudah berhasil menggapai impiannya.
***



Salah satu tokoh yang menarik perhatianku adalah Tyrion Lannister. Selain keadaan fisiknya yang langsung menarik perhatian, aku mengagumi karakternya yang ambisius. Sepertinya, di antara semua keluarga Lannister, hanya Tyrion yang bisa diajak kompromi. Di balik kekurangan fisiknya, dia punya banyak akal, strategi dan kecerdasan untuk bertahan di tengah konflik yang terjadi di Westeros, termasuk saat menjadi Hand of the King dan menghadapi King Joffrey Baratheon yang semena-mena.

Wednesday, March 4, 2015

[random though] Cowok-Cowok Yang Sukses Bikin Delusional

Cowok-Cowok Yang Sukses Bikin Delusional

Berawal dari pembahasan di saat rapat tentang tipe cowok ideal. Jadi ingat waktu masih remaja dulu, gue sempat berada di masa harus banget punya daftar-cowok-ideal. Kebiasaan ini berlanjut sampai kuliah. Ketika diteliti lagi, tipe ini pun berubah seiring dengan pertambahan usia dan pengalaman. Ya, samalah kayak baca wawancara seleb tentang cewek/cowok idolanya ketika dia berumur belasan, early 20s, dan masuk ke usia matang. Terlihat dengan jelas perubahan itu, kan?
By the way, inti tulisan ini bukan tentang menggambarkan seperti apa, sih, tipe cowok ideal gue sekarang? Karena jujur, ini pertanyaan yang susahnya ngalahin SPMB, haha. Maksudnya, beranjak dewasa, wajar, kan, kalau suka kesulitan mendefinisikan seperti apa tipe cowok ideal itu?
Back to topic.
Gue suka nonton. Film, serial, Korea, Jepang, Inggris, Hollywood, bahkan sesekali iseng nonton serial Australia. Selain jalan cerita, tentunya gue juga merhatiin cowok-cowok di sana. Dan, ketika rapat ngebahas tipe cowok ideal, gue jadi ingat cowok-cowok yang gue temuin di layar tv (dan layar laptop) ini. Betapa mereka digambarkan sedemikian rupa sehingga membuat kita, para penonton, jadi gampang delusional. Balik lagi ke masa dulu, jadi ingat kalau tipe cowok ideal juga dipengaruhi oleh mereka-mereka ini (Hello Dawson, hehe).
Mumpung lagi iseng, pengin mendaftar beberapa cowok yang bikin delusional dan mempengaruhi tipe ideal. Biar enggak banyak, dibatasi di beberapa cowok yang baru nongol 1-2 tahun terakhir atau serial lama tapi masih berlanjut sampai sekarang.
1. Spencer Reid

Spencer adalah cowok yang menyita perhatian di Criminal Minds. Terlepas dari kasus-kasusnya yang bikin merinding, kehadiran Spencer serasa angin segar. Yang bikin delusional adalah otaknya. Gila, ini orang kan jenius banget. Sampai sekarang, cowok ideal gue maunya sih yang cerdas. Meski enggak sejenius Spencer ya, secara susah banget nyari cowok sejenius ini. Dan, Spencer itu setia kawan. Contohnya, betapa dia peduli banget sama JJ. Meski dia aneh, punya dunia sendiri sebagai konsekwensi dari kejeniusannya itu, justru itulah yang bikin gue makin suka sama Spencer Reid. Jika orang-orang menunggu kasus kriminal apa lagi, nih, yang bakal dibahas, gue malah penasaran dengan hal absurd apa lagi yang bakal disajikan Spencer?

2. Mac Taylor

Butuh pria matang, dewasa, cakep, bijaksana, selalu berpikiran logis, teliti, dan tegas, tapi di sisi lain bisa diajak having fun dan main bass di bar jazz? Semuanya ada di sosok Mac Taylor. Setiap kali melihat Mac nongol di CSI: New York, bawaannya tuh adem. Gue memang suka sama Horatio yang seksi, tapi ada sesuatu di sosok Mac Taylor yang bikin kita betah lama-lama di dekat dia. Gue sering ngebayangin berada di dekat Mac Taylor dan dilindungi oleh aura kebapakan yang dipancarkannya. Sosok pria matang dewasa, maka lihatlah Mac Taylor.

3. Healer aka Park Bong Soo aka Seo Jung Hoo

Gue baru kelar nonton Healer. Setelah sekian lama enggak suka banget sama satu tokoh di drama Korea, akhirnya ada satu sosok yang bikin gue kesengsem. Gue jatuh cinta sama Seo Jung Hoo atau Park Bong Soo atau Healer, bukan sama Ji Chang Wook. Bagi gue, sosok ini tuh paket lengkap. Kita akan merasa aman, bahkan ketika harus keluar rumah tengah malam sekalipun karena ada Healer yang siap mengawasi. Kita akan merasa simpati dan pengin melindunginya ketika dia menjadi Seo Jung Hoo yang punya masa lalu kelam. Dan di sisi lain, kita akan dibuat ketawa oleh awkward-nya Bong Soo. Jika selama ini ada aja sosok hero di drama Korea yang bikin gue jadi enggak suka, maka dia pengecualian. Welcome to my delusional world, haha.

4. Do Min Joon

Simply, because he’s an alien. I have a thing for alien or someone from the future or someone from the past. Ya, yang aneh-aneh gitulah. Dan karena Do Min Joon ini alien, itu sudah cukup jadi alasan kenapa gue sampai delusional pengin punya pacar kayak dia. Kebayangnya diajak tinggal di planet lain, hehe. Urusan bisa atau enggak tinggal di planet lain, enggak usah dipikirin. Namanya juga ngayal babu, haha.

5. Jang Jae Yeol

Jo In Sung emang cakep. Enough said. Tapi, fakta kalau dia punya teman khayalan bikin gue gregetan. Gue yakin bisa nyambung ngomong sama dia, karena kita pernah sama-sama punya teman khayalan. Dan satu lagi, dia penulis. Penulis pastinya rajin baca buku. Itu cukup jadi alasan kenapa Jang Jae Yeol bikin delusional.

6. Augustus Waters

Witty, smart, perhatian, funny, absurd. Oke, itu cukup jadi alasan kenapa Augustus Waters jadi cowok idaman semua orang. Jarang-jarang ada cowok remaja yang bikin gue naksir (hanya dua, Augustus dan Etienne st. Clair). Sayang, umurnya Augustus pendek, hiks. Gue ingat banget masih nangis dua hari setelah selesai baca TFIOS karena enggak rela pisah sama Augustus. I do, Augustus. I do.


So far enam dulu. Mungkin nanti, kalau ketemu lagi, bisa kita bikin part 2. Dan, siapa cowok yang berhasil bikin kamu delusional?

Monday, March 2, 2015

#JualBuku

Jual Buku

Yup, sudah saatnya beres-beres lemari dan mengurangi timbunan buku. Kalau ada yang berminat bisa email ke ifnur_hikmah@yahoo.com atau sms/whatsapp ke 085692056645 ya.

Thanks
NB: yang dicoret berarti udah enggak ada lagi.

Judul Penulis Harga Keterangan
Divergent Veronica Roth 80000 Bahasa Inggris, cover film, segel
Anak-anak Ibrahim Imam Shamsi Ali 10000 nonfiksi
Bidadari Santa Monica Alexandra Leirisa Yunadi 20000
Lost & Found Sisca Spencer Hoky 20000
Beauty Sleep Amanda Inez 20000
Heart Attack (#1 Heartbreaker Series) Clara Canceriana 20000
1000 Muism Mengejar Bintang Charon 20000
Grey & Jingga Swetakartika 25000
Dramaturgi Dovima Faris Rachman Hussain 25000
Metamorforlove Nora Umres 20000
Hipster Dyahtri NW Astuti 20000
Fade In fade Out Wiwin Wintarto 25000
He Was Cool (1&2) Guiyeoni 50000 Korea, terjemahan
Litle Lady Big Apple Hester Browne 15000 terjemahan
Something Borrowed (Cinta Terpendam) Emily Giffin 15000 terjemahan
The Accidental Bestseller Wendy Wax 20000 terjemahan
Too Hot To Handle Robin Kaye 20000 terjemahan
Wallbanger Alice Clayton 20000 terjemahan
Jill & Jill Karen Ya,polsky 10000 terjemahan
Practice Makes Perfect Julie James 20000 terjemahan
Just The Way You Are barbara Freethy 20000 terjemahan
4 Blondes Candace Bushnell 10000 terjemahan
Just The Sexiest Man Alive Julie James 20000 terjemahan
you're the one that I don't want alexandra Potter 20000 terjemahan
sweet misfortune kevin alan milne 20000 terjemahan
baby proof Emily Giffin 20000 terjemahan
the nine lessons kevin alan milne 20000 terjemahan
kleting kuning maria a sardjono 10000
keep holding on susane colasanti 20000 terjemahan
red riding hood blakley Cartwright/Johnson 20000 terjemahan, cover film
being 20 something is hard dewi pravitasari 20000
prelude (festival series) sam umar 20000
XX AR Arisandi 20000
writer vs editor  ria n badaria 20000
de buron maria jaclyn 10000
four season in belgium fanny hartanti 10000
and baby makes two dyan sheldon 10000 terjemahan
my friends my dream ken terate 10000
the devil loves cinnamon ima marsczha 10000
3600 detik charon 10000
seperti bintang regina feby 10000
between you and me julia clarke 10000 terjemahan
sparkle eve shi 20000
love you anyway alamanda hindersah 20000

Jessica & Jonah: Es Krim

Jessica & Jonah: Es Krim

Note: Cerita ini terinspirasi dari promotional picture Baskin Robbins Korea versi Jonghyun.
Note 2: Tokoh Jessica & Jonah merupakan pasangan yang ada di salah satu draft yang aku tulis sekarang (untuk sementara judulnya Jessica & Victoria). Karena males nyari tokoh baru, dan masih dalam rangka mendalami karakter untuk novel tersebut, jadi dipinjam saja.
Note 3: Udah lama enggak nulis flash fiction. Jadi harap maklum yak kalo absurd, hehe.

“Boom…!”
Teriakan itu menyambutku ketika membuka pintu apartemen di lantai 30 ini. Otomatis, teriakan itu membuatku memutar bola mata.
“Watch out…!”
Teriakan kedua yang berhasil membuatku melemparkan tawa tipis.
“Jong?” panggilku sambil membuka sepatu dan meletakkannya di rak sepatu di dekat pintu, lalu menggantinya dengan sandal rumah yang nyaman. Rasanya lega bisa mengistirahatkan kakiku setelah sehari penuh berjalan ke sana kemari menggunakan sepatu super tinggi ini.
“Di sini,” sahut sebuah suara dari dalam apartemen. “Arghh…”
“Kamu lagi ngapain, sih?” tanyaku seraya masuk ke dalam apartemen.
Ruang tamu itu kosong, tidak ada sosok Jonah di sana. Namun, aku masih mendengar gumaman-gumaman random dari arah dalam apartemen.
“Aku di sini Sica. Kamu ke… Agh… kok kebalik sih?”
Lagi-lagi aku memutar bola mata. Kalau Jonah sudah berkomentar random seperti itu, ini tandanya dia sedang asyik dengan dunianya sendiri.
Asyik dengan dunianya sendiri berarti…
“Jong, what are you doing?”
Aku berhenti di rak buku yang membatasi ruang tamu dengan ruang santai di apartemen Jonah. Pacarku itu sedang duduk bersila di atas karpet, dengan sendok tergantung di mulut, semangkuk es krim terletak di antara kedua pahanya, dan tatapan fokus ke sebuah benda beroda empat tidak jauh dari tempatnya duduk. Di sekelilingnya, bertebaran buku-buku yang sepertinya sengaja diletakkan di sana sebagai rintangan.
Jonah mengangkat wajahnya. Ketika matanya bersitatap denganku, dia menyengir lebar.
Sambil tetap menggigit sendok.
“Yess…!” Dan detik selanjutnya, dia kembali fokus pada mobil-mobilannya.
Kusandarkan tubuhku ke rak buku, sambil berpikir. Apa aku pacaran dengan cowok dua puluh tahun atau lima tahun? Karena yang ada di hadapanku ini sama sekali enggak cocok disebut sebagai cowok middle 20s. Kelakuannya enggak jauh beda dengan Lewis, keponakanku yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.
Sepanjang hari ini aku menghubungi Jonah dan dia memberitahuku kalau dia sedang sibuk. Memang, sih, tumben-tumbenan dia bisa berada di apartemen seharian, tidak bekerja, tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau sibuk versi Jonah adalah main mobil-mobilan.
Mungkin benar kata orang-orang. Selalu ada sisi kanak-kanak di diri setiap cowok.
“Kamu ngapain berdiri di sana?” tanya Jonah tanpa mengalihkan perhatian dari mobil-mobilan yang sekarang sedang mencoba menaiki sebuah tumpukan yang terdiri atas lima buku.
Aku menyeret tubuhku mendekati Jonah, lalu duduk di atas karpet di sampingnya. “Jadi kamu seharian main ginian?”
Lagi-lagi dia menyengir lebar—cengiran yang membuatku hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Kamu kayak bocah.”
Jonah melirikku dengan ujung matanya. “Daripada kamu ngomel-ngomel gitu, mending kamu ambil mobil-mobilan di sana,” ucapnya sambil menunjuk satu lemari penuh berisi koleksi mobil-mobilannya dengan menggunakan dagu. “Kita tanding. Oke?”
“He?”
Jonah mendecakkan lidahnya. “Relax, Sica. Mukamu itu kayak orang mau perang aja.” Dia terkikik.
“Lagi banyak kerjaan di kantor,” sahutku seraya memijit tengkuk. Dari jarak sedekat ini, aku bisa memperhatikan Jonah. Sebersit rasa iri muncul di hatiku ketika melihat betapa enaknya hidup Jonah.
Dia bekerja untuk dirinya sendiri. Dia melakukan pekerjaan yang disukainya. Dan ketika punya waktu luang sedikit, dia bisa bersenang-senang seperti ini. main mobil-mobilan sambil makan es krim.
Sedang aku? Bukannya aku tidak menyukai pekerjaanku. Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Hei, di usiaku yang baru 26 tahun, aku sudah jadi salah seorang produser yang diperhitungkan, gimana aku enggak bangga? Namun, aku tidak bisa santai seperti Jonah. Benar-benar memanfaatkan waktu luang untuk bersantai. Karena selama ini, meski di hari libur, otakku masih berkelana ke pekerjaan.
Jonah melirikku. Dengan isyarat dagu dia menunjuk lemari kaca di belakangku. “Ayo. Aku bosan, nih, main sendirian.”
Aku berdiri sambil tersenyum. Sebelum beranjak menuju lemari kaca, aku memperhatikan Jonah. Sosoknya tampak santai dengan kaos dan jins dan mobil-mobilan dan es krim. Namun, ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatku sangat bersyukur memiliki dia.
Karena Jonah selalu berhasil membuatku berpikir normal dan enggak dibuat gila oleh pikiran-pikiranku yang selalu mengkhawatirkan semua hal. Jonah selalu punya cara untuk membuatku bersantai di saat aku mulai dibuat gila oleh pekerjaan—meski dia seringkali tidak menyadaraninya.
Jonah selalu berhasil membuatku tetap waras.
“Sica…” gumamnya.
“Oke, oke,” sahutku sambil beranjak menuju lemari. “Tapi, aku mau es krim itu.”
Jonah mendongak dan memamerkan cengiran lebarnya. “Deal.”
Detik ini, bertambah satu alasan kenapa aku head over heels terhadap cowok ini.


Jong lagi main mobil-mobilan sambil makan es krim, hihi

Friday, February 20, 2015

#8 Audrey, Wait! By Robin Benway

Audrey, Wait!
Robin Benway



Audrey enggak pernah menyangka kalau putus dari Evan akan bikin dia terkenal. Terkenal di sini enggak hanya di sekolah, atau di kotanya, tapi di seluruh dunia. Yah, setidaknya di setiap sudut di dunia yang bisa menonton MTV dan ngecek internet. Semua karena Evan membuat lagu tentang Audrey yang mutusin dia dan seketika dia dilirik seorang produser dan bandnya jadi terkenal. Begitu juga lagu Audrey, Wait!
Akibatnya, Audrey ikut-ikutan terkenal. Ada yang jadi fans dia, ada juga yang jadi haters. Sampai-sampai banyak wartawan yang menelepon ke rumahnya, fans yang datang ke sekolah, dan paparazzi yang ngikutin Audrey waktu nge-date sama James. Belum lagi setelah itu dia datang ke konser the Lolita dan vokalisnya ngedeketin Audrey. Akhirnya, keadaan tambah parah ketika Simon Lolita berharap Audrey bisa menginspirasi dia plus manajer Lolita yang diam-diam ngerekam mereka pas lagi make out.
Bagi Audrey, sebuah lagu mengubah kehidupannya jadi sangat drastis. Namun, dia masih berusaha—atau setidaknya berharap hidupnya bisa kembali normal.
Mungkin, perasaan Audrey sama dengan perasaan yang dialami mantan-mantannya Taylor Swift, he-he.
Gue ngebayangin Do Gooders ini kayak 5 Seconds of Summer, band anak muda yang mendadak terkenal. Bayangin kalau Ashton atau Luke bikin lagu tentang pacar mereka, dengan nama si mantan sebagai judul, maka seperti itulah Audrey, Wait!
I love this novel. Meski sebenarnya agak lebay, sih, mengingat Audrey ini enggak ngapa-ngapain dan enggak ada andil apa-apa dalam terkenalnya Do Gooders. Selain fakta Evan minjem nama dia. That’s it. Lagipula, nama Audrey ini nama yang umumlah di Amerika, jadi ya enggak semasuk akal itu jika Audrey jadi terkenal banget. Dan ada banyak fans. Akan lebih masuk akal jika Audrey punya banyak haters yang tentunya berasal dari fans Do Gooders, terutama Evan. Tapi kalau fans? Hmm… enggak make sense. Mereka bilang terinspirasi dari Audrey? Hmm…. Audrey enggak ngapa-ngapain, cuma mutusin Evan. Jadi, kenapa bisa terinspirasi?
Awalnya, gue suka tokoh Audrey. Tapi lama-lama ini anak jadi gengges. Sibuk sendiri sama pikirannya yang diada-adain. Gimana dia pusiiiing banget mikirin pendapat orang lain tentang dia, padahal sebenarnya ngapain juga dipikirin? Gue suka dengan sahabat Audrey, Victoria. Mungkin Victoria terlihat seperti seorang teman yang berusaha memanfaatkan kesempatan. Tapi, Victoria Cuma berusaha untuk menikmati keadaan. Ucapannya yang bilang kalau Audrey jadi egois, self-sentris, dan mencoba untuk membuat semuanya kembali normal itu benar. Kenapa pula Audrey enggak mencoba untuk menerima kenyataan?
Intinya, sih, accepting.
Se-suck apa pun kenyataan, satu-satunya cara yang bisa kita lakukan toh cuma menerima, kan? Berdamai dengan kenyataan. Bukannya memusuhinya atau mencoba mengingkari kenyataan. Ujung-ujungnya pasti bakal bikin capek sendiri, seperti Audrey.
Ini, sih, inti paling penting yang gue tangkap dari novel ini. Menerima kenyataan dan mencoba berdamai, meski itu susah. Untunglah di akhir Audrey menerimanya.
Untuk hero, James lumayan ngegemesin, sih. James ini sama seperti Victoria, antitesisnya Audrey. Bedanya, jika Victoria mencoba menerima kenyataan dengan bersenang-senang, James menerima kenyataan dengan menjadikan kenyataan itu sebagai lelucon. Enggak ada yang lebih menyenangkan ketimbang menertawakan diri sendiri dan bercanda dengan kenyataan yang suck. James berhasil digambarkan sebagai cowok yang berhati besar—hei siapa, sih, yang tahan kehidupan gebetan lo jadi konsumsi semua orang? Walaupun ujung-ujungnya James sama seperti Victoria, capek dengan sifat self-sentris Audrey.
Tapiii… yang bikin betah baca novel ini terletak di narasinya. Aslik, lucuk. Kata-katanya tuh kekinian banget. Deksripsi kejadian juga kekinian bangetlah, khasnya anak muda gitu. Belum lagi karakter Audrey yang music-geek bener-bener gila musik. Dan James PDKT dengan ngasih mix tape? Di era digital seperti sekarang, sesuatu yang klasik kayak gini selalu sukses bikin mupeng.
Novelnya ringan banget. khas remaja bangetlah. Yah, gampangnya, bayangin 5SOS ketemu Taylor Swift, itulah Audrey, Wait.