Thursday, March 26, 2015

Joy, Please Stay

Joy, Please Stay
Oleh Ifnur Hikmah



Joy, Joy, please stay
I will give you all my heart and soul and everything
Joy, Joy, please stay
I know it’s hard but I will try to understand that you just wanna do the right thing
But deep in my heart I will always hope you to stay with me
Joy, Joy, please stay
**

The Barfly, 49 Chalk Farm Road, Camden Town, London. Saturday, March 28th, 2015. 23:03
Masih ada satu jam menjelang pergantian hari.
Happy birthday, Louis. I hope you’ll have a wonderful year ahead.
Aku mengangkat gelas berisi bir itu tinggi-tinggi, menganggukkan kepala ke sekeliling ruangan, meski tidak ada seorang pun yang kukenal. Permohonan yang sederhana, tapi hanya bisa kuucapkan seorang diri. Aku tidak tahu, apakah udara pekat di pub ini bisa mengantarkan permohonanku kepada Louis yang entah di mana sekarang.
Setidaknya, di dalam pub yang penuh sesak oleh orang-orang dan raungan gitar yang makin memekakkan telingaini, aku bisa merasakan kehadirannya. Aku bisa menatap foto dirinya berada di bawah sorotan lampu sambil memegang gitar dan urat-urat bertonjolan di dahinya saat dia menggapai nada tinggi sewaktu foto itu diambil.
Juga, dari alunan lagu yang tengah dimainkan The Average Boys di atas stage. Lagu yang dulu dinyanyikan Louis di hadapanku saat aku memutuskan pergi dari hidupnya. Lagu yang kemudian melambungkan nama Louis dan membuatku terkenal sebagai Joy the Heartbreaker.
Joy, Joy, please stay.
Setelah gelas ke sekian, aku merasa Louis-lah yang menyanyikan lagu itu. Tepat di hadapanku. Memohon agar aku tetap tinggal.
Aku menutup mata. Berharap ketika membuka mata, dia benar-benar ada di depanku. Dengan cengiran lebar khasnya.
Namun, aku tahu, harapan itu tidak akan mungkin terkabul.
**

Joy, Joy, please stay…
Sebut aku bodoh karena terus memutar lagu tersebut di sepanjang Chalk Farm Road. Aku tahu, seharusnya aku mematikan lagu itu. Namun, aku tidak bisa berpisah dari Louis. Untuk saat ini, hanya suaranya yang kumiliki.
Dan, hanya lagu itu satu-satunya cara agar aku bisa mendengar dia memanggil namaku.
Joy, Joy, please stay.
Dan memintaku untuk tinggal.
Aku merapatkan jaket yang kupakai. Udara malam Camden terasa menusuk kulit. Satu lagi kebodohan yang kulakukan—berjalan tak tahu arah di bawah pengaruh alkohol yang membuat kepalaku terasa berat di saat seharusnya aku beristirahat untuk mengejar penerbangan pukul enam pagi ke New York. Namun, aku tetap bertahan di sini. Menelusuri jalan yang dulu kujelajahi dengan tanganku berada di genggaman Louis.
Camden Lock Market terpampang di hadapanku. Malam ini, pasar itu masih ramai. Langkahku menuju ke sana. Teringat dulu aku dan Louis sering berada di sana. Selalu saja ada barang unik yang kami temukan di sana—penjual baju bekas yang menawarkan pakaian murah, koleksi piringan hitam atau CD penyanyi kesukaan Louis, pelukis jalanan yang melukis kami, dan makanan. Ada banyak penjual makanan yang dulu selalu mengisi perutku dan Louis.
Pasar itu ramai, tapi aku merasa sepi. Sepi yang selalu menghantuiku semenjak aku memutuskan untuk mengakhiri semua yang sudah kujalani bersama Louis selama lima tahun terakhir demi impian yang ingin kuraih.
Aku berhenti di depan penjual kopi. Aku tahu, seharusnya aku tidak menambah beban kepalaku dengan kafein. Namun, aku butuh sesuatu untuk mengembalikan kehangatan yang sudah hilang semenjak aku meninggalkan Louis dua tahun lalu.
**

Louis tengah memainkan gitarnya di The Barfly. Dia akan tampil sebentar lagi. Untuk ukuran pub lokal, The Barfly sangat terkenal—terutama bagi para calon musisi yang berharap bernasib sama seperti Blur, Oasis, atau Coldplay yang mengawali karier di sini. Termasuk, Louis. Dia berharap pub ini bisa melemparkannya ke panggung besar di O2 Arena.
Menemani Louis selalu terasa menyenangkan. Dia dengan gitarnya, dan aku bersama buku gambarku. Aku akan menggambar apa saja, tapi seringnya aku melukis para pengunjung pub. Aku juga melukis Louis. Sudah tidak terhitung berapa banyak lukisan Louis terpampang di flat sederhana yang kami sewa bersama.
Namun malam itu, ada sesuatu mengganjal benakku. Selembar kertas berisi pemberitahuan aku menerima beasiswa di New York. Aku punya dua pilihan; terima atau tolak—setiap pilihan pasti akan menyakitiku atau Louis.
“It’s my turn.”
Aku mendongak dan tersenyum mengiringi kepergian Louis menuju panggung. Aku terdiam cukup lama, merekam semua momen itu ke dalam benakku.
Entahlah. Malam itu aku merasa aku akan menyakitinya.
**


Aku melakukannya. Menyakiti Louis.
Gig itu sukses. Louis bahkan menerima beberapa tawaran untuk tampil di pub lain di London. Dia terlihat sangat bersemangat saat kami berjalan menelusuri Chalk Farm Road. Gitarnya ikut terayun seiring langkah kakinya.
Cuaca malam Camden menusuk tulang. Louis menggenggam tanganku dan menyimpannya ke dalam saku coat yang dikenakannya.
“Sudah lebih hangat, kan?”
Aku mengangguk. Sementara satu tanganku berada di dalam saku coat Louis, tanganku yang lain sibuk memainkan selembar kertas di dalam saku jaketku. Kertas itu terasa berat, tapi cepat atau lambat, aku harus membawanya ke hadapan Louis.
Begitulah. Aku berhenti di depan sebuah barbershop. Louis menatapku heran saat aku mendadak berhenti.
“Ada apa, Joy?”
“Aku…” aku tergagap. “Aku menerima beasiswa di New York.”
Louis tahu betapa aku ingin menjadi seorang pelukis. Betapa aku menginginkan kesempatan ini. Namun saat itu, aku melihat sebaris luka di wajahnya.
**

Pada akhirnya, aku meninggalkannya. Ketika mengepak barang-barangku, dia menyanyikan lagu itu, untuk pertama kalinya.
Joy, Joy, please stay.
Aku menulikan telinga karena aku yakin lagu itu bisa mengubah pendirianku jika terus mendengarnya.
I’m sorry, Joy. Aku enggak bermaksud membebanimu,” Louis memelukku. “Creativity is great. Dan, kepergianmu membuatku berhasil memecahkan rekor membuat lagu dalam waktu sepuluh menit.” Louis menyengir lebar, tapi aku tahu hatinya merasa sakit. “Pergilah. It’s your dream. Bukankah kita sudah berjanji akan menggapai mimpi masing-masing?”
Aku mengangguk pelan. “I know it’s hard but in the end I understand that you just wanna do the right thing,” bisiknya.
**

Aku merapatkan jaket dan memeluk tubuhku sendiri untuk mengusir rasa dingin. Aku menangadah, menatap langit gelap di atasku ketika aku kembali berada di The Barfly. Louis sudah selesai menyanyikan Joy, Please Stay dan keheningan menyergapku.
Aku mengeluarkan iPod dan kembali memutar lagu itu. Perlahan, aku membuka pintu The Barfly dan disambut oleh foto Louis.
Aku tidak tahu di mana dia. Namun aku tahu, seperti diriku, dia juga sudah berhasil menggapai impiannya.
***



Salah satu tokoh yang menarik perhatianku adalah Tyrion Lannister. Selain keadaan fisiknya yang langsung menarik perhatian, aku mengagumi karakternya yang ambisius. Sepertinya, di antara semua keluarga Lannister, hanya Tyrion yang bisa diajak kompromi. Di balik kekurangan fisiknya, dia punya banyak akal, strategi dan kecerdasan untuk bertahan di tengah konflik yang terjadi di Westeros, termasuk saat menjadi Hand of the King dan menghadapi King Joffrey Baratheon yang semena-mena.

Wednesday, March 4, 2015

[random though] Cowok-Cowok Yang Sukses Bikin Delusional

Cowok-Cowok Yang Sukses Bikin Delusional

Berawal dari pembahasan di saat rapat tentang tipe cowok ideal. Jadi ingat waktu masih remaja dulu, gue sempat berada di masa harus banget punya daftar-cowok-ideal. Kebiasaan ini berlanjut sampai kuliah. Ketika diteliti lagi, tipe ini pun berubah seiring dengan pertambahan usia dan pengalaman. Ya, samalah kayak baca wawancara seleb tentang cewek/cowok idolanya ketika dia berumur belasan, early 20s, dan masuk ke usia matang. Terlihat dengan jelas perubahan itu, kan?
By the way, inti tulisan ini bukan tentang menggambarkan seperti apa, sih, tipe cowok ideal gue sekarang? Karena jujur, ini pertanyaan yang susahnya ngalahin SPMB, haha. Maksudnya, beranjak dewasa, wajar, kan, kalau suka kesulitan mendefinisikan seperti apa tipe cowok ideal itu?
Back to topic.
Gue suka nonton. Film, serial, Korea, Jepang, Inggris, Hollywood, bahkan sesekali iseng nonton serial Australia. Selain jalan cerita, tentunya gue juga merhatiin cowok-cowok di sana. Dan, ketika rapat ngebahas tipe cowok ideal, gue jadi ingat cowok-cowok yang gue temuin di layar tv (dan layar laptop) ini. Betapa mereka digambarkan sedemikian rupa sehingga membuat kita, para penonton, jadi gampang delusional. Balik lagi ke masa dulu, jadi ingat kalau tipe cowok ideal juga dipengaruhi oleh mereka-mereka ini (Hello Dawson, hehe).
Mumpung lagi iseng, pengin mendaftar beberapa cowok yang bikin delusional dan mempengaruhi tipe ideal. Biar enggak banyak, dibatasi di beberapa cowok yang baru nongol 1-2 tahun terakhir atau serial lama tapi masih berlanjut sampai sekarang.
1. Spencer Reid

Spencer adalah cowok yang menyita perhatian di Criminal Minds. Terlepas dari kasus-kasusnya yang bikin merinding, kehadiran Spencer serasa angin segar. Yang bikin delusional adalah otaknya. Gila, ini orang kan jenius banget. Sampai sekarang, cowok ideal gue maunya sih yang cerdas. Meski enggak sejenius Spencer ya, secara susah banget nyari cowok sejenius ini. Dan, Spencer itu setia kawan. Contohnya, betapa dia peduli banget sama JJ. Meski dia aneh, punya dunia sendiri sebagai konsekwensi dari kejeniusannya itu, justru itulah yang bikin gue makin suka sama Spencer Reid. Jika orang-orang menunggu kasus kriminal apa lagi, nih, yang bakal dibahas, gue malah penasaran dengan hal absurd apa lagi yang bakal disajikan Spencer?

2. Mac Taylor

Butuh pria matang, dewasa, cakep, bijaksana, selalu berpikiran logis, teliti, dan tegas, tapi di sisi lain bisa diajak having fun dan main bass di bar jazz? Semuanya ada di sosok Mac Taylor. Setiap kali melihat Mac nongol di CSI: New York, bawaannya tuh adem. Gue memang suka sama Horatio yang seksi, tapi ada sesuatu di sosok Mac Taylor yang bikin kita betah lama-lama di dekat dia. Gue sering ngebayangin berada di dekat Mac Taylor dan dilindungi oleh aura kebapakan yang dipancarkannya. Sosok pria matang dewasa, maka lihatlah Mac Taylor.

3. Healer aka Park Bong Soo aka Seo Jung Hoo

Gue baru kelar nonton Healer. Setelah sekian lama enggak suka banget sama satu tokoh di drama Korea, akhirnya ada satu sosok yang bikin gue kesengsem. Gue jatuh cinta sama Seo Jung Hoo atau Park Bong Soo atau Healer, bukan sama Ji Chang Wook. Bagi gue, sosok ini tuh paket lengkap. Kita akan merasa aman, bahkan ketika harus keluar rumah tengah malam sekalipun karena ada Healer yang siap mengawasi. Kita akan merasa simpati dan pengin melindunginya ketika dia menjadi Seo Jung Hoo yang punya masa lalu kelam. Dan di sisi lain, kita akan dibuat ketawa oleh awkward-nya Bong Soo. Jika selama ini ada aja sosok hero di drama Korea yang bikin gue jadi enggak suka, maka dia pengecualian. Welcome to my delusional world, haha.

4. Do Min Joon

Simply, because he’s an alien. I have a thing for alien or someone from the future or someone from the past. Ya, yang aneh-aneh gitulah. Dan karena Do Min Joon ini alien, itu sudah cukup jadi alasan kenapa gue sampai delusional pengin punya pacar kayak dia. Kebayangnya diajak tinggal di planet lain, hehe. Urusan bisa atau enggak tinggal di planet lain, enggak usah dipikirin. Namanya juga ngayal babu, haha.

5. Jang Jae Yeol

Jo In Sung emang cakep. Enough said. Tapi, fakta kalau dia punya teman khayalan bikin gue gregetan. Gue yakin bisa nyambung ngomong sama dia, karena kita pernah sama-sama punya teman khayalan. Dan satu lagi, dia penulis. Penulis pastinya rajin baca buku. Itu cukup jadi alasan kenapa Jang Jae Yeol bikin delusional.

6. Augustus Waters

Witty, smart, perhatian, funny, absurd. Oke, itu cukup jadi alasan kenapa Augustus Waters jadi cowok idaman semua orang. Jarang-jarang ada cowok remaja yang bikin gue naksir (hanya dua, Augustus dan Etienne st. Clair). Sayang, umurnya Augustus pendek, hiks. Gue ingat banget masih nangis dua hari setelah selesai baca TFIOS karena enggak rela pisah sama Augustus. I do, Augustus. I do.


So far enam dulu. Mungkin nanti, kalau ketemu lagi, bisa kita bikin part 2. Dan, siapa cowok yang berhasil bikin kamu delusional?

Monday, March 2, 2015

#JualBuku

Jual Buku

Yup, sudah saatnya beres-beres lemari dan mengurangi timbunan buku. Kalau ada yang berminat bisa email ke ifnur_hikmah@yahoo.com atau sms/whatsapp ke 085692056645 ya.

Thanks
NB: yang dicoret berarti udah enggak ada lagi.

Judul Penulis Harga Keterangan
Divergent Veronica Roth 80000 Bahasa Inggris, cover film, segel
Anak-anak Ibrahim Imam Shamsi Ali 10000 nonfiksi
Bidadari Santa Monica Alexandra Leirisa Yunadi 20000
Lost & Found Sisca Spencer Hoky 20000
Beauty Sleep Amanda Inez 20000
Heart Attack (#1 Heartbreaker Series) Clara Canceriana 20000
1000 Muism Mengejar Bintang Charon 20000
Grey & Jingga Swetakartika 25000
Dramaturgi Dovima Faris Rachman Hussain 25000
Metamorforlove Nora Umres 20000
Hipster Dyahtri NW Astuti 20000
Fade In fade Out Wiwin Wintarto 25000
He Was Cool (1&2) Guiyeoni 50000 Korea, terjemahan
Litle Lady Big Apple Hester Browne 15000 terjemahan
Something Borrowed (Cinta Terpendam) Emily Giffin 15000 terjemahan
The Accidental Bestseller Wendy Wax 20000 terjemahan
Too Hot To Handle Robin Kaye 20000 terjemahan
Wallbanger Alice Clayton 20000 terjemahan
Jill & Jill Karen Ya,polsky 10000 terjemahan
Practice Makes Perfect Julie James 20000 terjemahan
Just The Way You Are barbara Freethy 20000 terjemahan
4 Blondes Candace Bushnell 10000 terjemahan
Just The Sexiest Man Alive Julie James 20000 terjemahan
you're the one that I don't want alexandra Potter 20000 terjemahan
sweet misfortune kevin alan milne 20000 terjemahan
baby proof Emily Giffin 20000 terjemahan
the nine lessons kevin alan milne 20000 terjemahan
kleting kuning maria a sardjono 10000
keep holding on susane colasanti 20000 terjemahan
red riding hood blakley Cartwright/Johnson 20000 terjemahan, cover film
being 20 something is hard dewi pravitasari 20000
prelude (festival series) sam umar 20000
XX AR Arisandi 20000
writer vs editor  ria n badaria 20000
de buron maria jaclyn 10000
four season in belgium fanny hartanti 10000
and baby makes two dyan sheldon 10000 terjemahan
my friends my dream ken terate 10000
the devil loves cinnamon ima marsczha 10000
3600 detik charon 10000
seperti bintang regina feby 10000
between you and me julia clarke 10000 terjemahan
sparkle eve shi 20000
love you anyway alamanda hindersah 20000

Jessica & Jonah: Es Krim

Jessica & Jonah: Es Krim

Note: Cerita ini terinspirasi dari promotional picture Baskin Robbins Korea versi Jonghyun.
Note 2: Tokoh Jessica & Jonah merupakan pasangan yang ada di salah satu draft yang aku tulis sekarang (untuk sementara judulnya Jessica & Victoria). Karena males nyari tokoh baru, dan masih dalam rangka mendalami karakter untuk novel tersebut, jadi dipinjam saja.
Note 3: Udah lama enggak nulis flash fiction. Jadi harap maklum yak kalo absurd, hehe.

“Boom…!”
Teriakan itu menyambutku ketika membuka pintu apartemen di lantai 30 ini. Otomatis, teriakan itu membuatku memutar bola mata.
“Watch out…!”
Teriakan kedua yang berhasil membuatku melemparkan tawa tipis.
“Jong?” panggilku sambil membuka sepatu dan meletakkannya di rak sepatu di dekat pintu, lalu menggantinya dengan sandal rumah yang nyaman. Rasanya lega bisa mengistirahatkan kakiku setelah sehari penuh berjalan ke sana kemari menggunakan sepatu super tinggi ini.
“Di sini,” sahut sebuah suara dari dalam apartemen. “Arghh…”
“Kamu lagi ngapain, sih?” tanyaku seraya masuk ke dalam apartemen.
Ruang tamu itu kosong, tidak ada sosok Jonah di sana. Namun, aku masih mendengar gumaman-gumaman random dari arah dalam apartemen.
“Aku di sini Sica. Kamu ke… Agh… kok kebalik sih?”
Lagi-lagi aku memutar bola mata. Kalau Jonah sudah berkomentar random seperti itu, ini tandanya dia sedang asyik dengan dunianya sendiri.
Asyik dengan dunianya sendiri berarti…
“Jong, what are you doing?”
Aku berhenti di rak buku yang membatasi ruang tamu dengan ruang santai di apartemen Jonah. Pacarku itu sedang duduk bersila di atas karpet, dengan sendok tergantung di mulut, semangkuk es krim terletak di antara kedua pahanya, dan tatapan fokus ke sebuah benda beroda empat tidak jauh dari tempatnya duduk. Di sekelilingnya, bertebaran buku-buku yang sepertinya sengaja diletakkan di sana sebagai rintangan.
Jonah mengangkat wajahnya. Ketika matanya bersitatap denganku, dia menyengir lebar.
Sambil tetap menggigit sendok.
“Yess…!” Dan detik selanjutnya, dia kembali fokus pada mobil-mobilannya.
Kusandarkan tubuhku ke rak buku, sambil berpikir. Apa aku pacaran dengan cowok dua puluh tahun atau lima tahun? Karena yang ada di hadapanku ini sama sekali enggak cocok disebut sebagai cowok middle 20s. Kelakuannya enggak jauh beda dengan Lewis, keponakanku yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak.
Sepanjang hari ini aku menghubungi Jonah dan dia memberitahuku kalau dia sedang sibuk. Memang, sih, tumben-tumbenan dia bisa berada di apartemen seharian, tidak bekerja, tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau sibuk versi Jonah adalah main mobil-mobilan.
Mungkin benar kata orang-orang. Selalu ada sisi kanak-kanak di diri setiap cowok.
“Kamu ngapain berdiri di sana?” tanya Jonah tanpa mengalihkan perhatian dari mobil-mobilan yang sekarang sedang mencoba menaiki sebuah tumpukan yang terdiri atas lima buku.
Aku menyeret tubuhku mendekati Jonah, lalu duduk di atas karpet di sampingnya. “Jadi kamu seharian main ginian?”
Lagi-lagi dia menyengir lebar—cengiran yang membuatku hanya bisa geleng-geleng kepala.
“Kamu kayak bocah.”
Jonah melirikku dengan ujung matanya. “Daripada kamu ngomel-ngomel gitu, mending kamu ambil mobil-mobilan di sana,” ucapnya sambil menunjuk satu lemari penuh berisi koleksi mobil-mobilannya dengan menggunakan dagu. “Kita tanding. Oke?”
“He?”
Jonah mendecakkan lidahnya. “Relax, Sica. Mukamu itu kayak orang mau perang aja.” Dia terkikik.
“Lagi banyak kerjaan di kantor,” sahutku seraya memijit tengkuk. Dari jarak sedekat ini, aku bisa memperhatikan Jonah. Sebersit rasa iri muncul di hatiku ketika melihat betapa enaknya hidup Jonah.
Dia bekerja untuk dirinya sendiri. Dia melakukan pekerjaan yang disukainya. Dan ketika punya waktu luang sedikit, dia bisa bersenang-senang seperti ini. main mobil-mobilan sambil makan es krim.
Sedang aku? Bukannya aku tidak menyukai pekerjaanku. Aku menyukainya. Sangat menyukainya. Hei, di usiaku yang baru 26 tahun, aku sudah jadi salah seorang produser yang diperhitungkan, gimana aku enggak bangga? Namun, aku tidak bisa santai seperti Jonah. Benar-benar memanfaatkan waktu luang untuk bersantai. Karena selama ini, meski di hari libur, otakku masih berkelana ke pekerjaan.
Jonah melirikku. Dengan isyarat dagu dia menunjuk lemari kaca di belakangku. “Ayo. Aku bosan, nih, main sendirian.”
Aku berdiri sambil tersenyum. Sebelum beranjak menuju lemari kaca, aku memperhatikan Jonah. Sosoknya tampak santai dengan kaos dan jins dan mobil-mobilan dan es krim. Namun, ada sesuatu di dalam dirinya yang membuatku sangat bersyukur memiliki dia.
Karena Jonah selalu berhasil membuatku berpikir normal dan enggak dibuat gila oleh pikiran-pikiranku yang selalu mengkhawatirkan semua hal. Jonah selalu punya cara untuk membuatku bersantai di saat aku mulai dibuat gila oleh pekerjaan—meski dia seringkali tidak menyadaraninya.
Jonah selalu berhasil membuatku tetap waras.
“Sica…” gumamnya.
“Oke, oke,” sahutku sambil beranjak menuju lemari. “Tapi, aku mau es krim itu.”
Jonah mendongak dan memamerkan cengiran lebarnya. “Deal.”
Detik ini, bertambah satu alasan kenapa aku head over heels terhadap cowok ini.


Jong lagi main mobil-mobilan sambil makan es krim, hihi