Tuesday, September 16, 2014

Review #24 Beautiful Liar by Dyah Rinni

Beautiful Liar
Dyah Rinni



Lunetta terbiasa tinggal bersama ayahnya sejak orangtuanya bercerai. Ayahnya ini penipu sehingga mereka harus tinggal berpindah-pindah. Entah untuk menghindari kejaran polisi, atau menghindar dari korban yang ditipu ayahnya. Lalu suatu ketika, Lunetta harus tinggal bersama ibunya karena posisi ayahnya yang berbahaya.
Lunetta enggak suka dengan ibunya sehingga dia memutuskan untuk mencari masalah agar bisa kembali ke ayahnya. Begitu juga ketika Lunetta sekolah di sekolah swasta elit yang seperti istana kerajaan Yunani. Dia pun memutuskan untuk jadi ‘penipu’ agar dikeluarkan dari sekolah dan kembali ke ayahnya. Tapi kehidupan normal yang diberikan ibunya lama-lama membuat dia betah. Begitu juga teman-temannya di sekolah. Termasuk cowok ngeselin yang sering jadi penghalang rencananya, Badai.
Jadi, Beautiful Liar ini salah satu pemenang lomba 7 Deadly Sins yang diadain GagasMedia tahun lalu.
Gue udah lama nunggu-nunggu novel ini. Alasannya simply karena pemenang lomba. Ketika lomba itu diadain, sempat kepikiran buat ikut. Tapi mundur karena susah dan enggak tahu mau nulis apa. Makanya gue penasaran sama hasil pemenangnya (Psst, salah satunya karya temen gue, mbak Yuska Vonita. Can’t hardly wait for her debut novel). Apalagi nama mbak Dyah Rinni yang udah mumpuni bangetlah.
Begitu tahu novel ini berlatar remaja, makin kagetlah gue. Gimana caranya bisa menulis novel SMA dengan tema serius begini?
Hasilnya? Gue speechless.
This novel is perfect. With capital P.
Tema yang diangkat unik banget. Bedalah dibanding novel-novel remaja umumnya. Untuk urusan tema, two thumbs up-lah buat mbak Dee. Cewek penipu yang dibentuk oleh keadaan. Alasan Lunetta melakukan tindakan tersebut sesuai dengan umurnya, yaitu kangen sama ayahnya dan merasa sulit beradaptasi dengan kehidupan baru yang ditawarkan ibunya.
Selain itu, unsur-unsur pendukung juga khas remaja banget. persahabatan dan cinta, juga masalah keluarga. Tapi semuanya mendukung tema utama novel ini yang mengangkat dosa greed.
Unsur-unsur lain juga patut diacungi dua jempol, seperti alur yang lancar bak jalan tol, chemistry antar tokoh yang kuat banget, bahkan tokoh minor sekalipun, dan bahasa yang enak dibaca. Emang sih ceritanya sinetron banget, tapi kalau sinetron kayak begini mah gue mau mantengin tv he-he.
Kekurangannya mungkin di editing. Eh itu banyak typo (as usual. We talk about GagasMedia, remember?) dan yang ganggu pas baca sih pengulangan kata. Maksudnya gue ngerti, salah satu buat dihapus tapi kayaknya skip jadi ya enggak sempat dihapus, deh. Contoh (lupa halaman berapa karena gue selesai baca udah lama banget): … saat ini ….. ….. …. Saat ini. nah, yang kayak begitu tuh sering kejadian.
Kalau kekurangan lumayan major sih ya penulis yang membiarkan tokoh Bella menghilang entah ke mana menjelang akhir. Padahal peran dia penting, lho. dan subkonflik Bella itu sering banget terjadi di kehidupan nyata.

Jadi, secara keseluruhan, aku puas dengan novel ini. sebuah pembuka yang manis. Dan cover yang kece. Kalau dijembrengin ketujuh seri ini cakep kali, ya. Dan gue menasbihkan mbak Dyah Rinni sebagai penulis novel young adult Indonesia nomor satu yang aku suka. Yihhaaa….

Monday, September 1, 2014

Happy Birthday To Me

Welcome To 25



Actually, this is a late post because my birthday was at August 30th.
Ada beberapa usia yang bikin orang-orang deg-degan ketika memasukinya. Bagi gue, ada empat tahapan usia. 17, 25, 30, dan 40. 17 karena katanya itulah titik awal kita menuju kedewasaan. Saatnya punya KTP dan itu sebuah bukti kalau kita udah gede. 25 menurut gue titik kedewasaan sebenarnya. Blame on quarter-life-crisis syndrome. 30 karena menurut gue saat itu kita sudah settle dan 40 saat untuk menetapkan, what’s next.
Dua di antaranya udah gue lewatin. Gue masih ingat waktu norak-noraknya memasuki usia 17. Sweet seventeen (yang setelah dilewatin enggak sweet-sweet banget). Gue punya KTP dan mencoba untuk dewasa. Hasilnya? Failed. Haha.
Sekarang gue memasuki masa norak kedua beberapa saat menjelang umur 25. Memasuki awal Agustus, gue bertanya-tanya, apa aja sih yang udah gue lakuin di 25 tahun kehidupan gue? Nothing special, I know it. Beberapa hari menjelang usia 25, gue freak out sendiri. Sudah sampai umur segini dan gue semakin minder karena enggak banyak hal yang bisa gue banggain. Jujur, perasaan minder itu sering menghampiri gue akhir-akhir ini dan semakin besar menjelang ulang tahun. When I look at my friends, semua pencapaian mereka, kehidupan mereka, akulah merasa hanya sebatas debu di pinggir lukisan saja *tsahhh*
Tapi gue sadar kalau selamanya minder enggak mengakibatkan apa-apa kan? Malah yang ada cuma bikin makin drop. So, I reread my wishlist and review it. Here are some my dreams-do-come-true moment.

Hidup Mandiri
Proudly to say, yess, gue bangga bisa bilang hidup mandiri. Mandiri di sini, gue menanggung kehidupan gue sendiri. *meski pas-pasan hehe. Salahin sifat boros gue yang makin parah*. Gue pernah ketemu teman yang mengasihani gue saat tahu bayar uang kos sendiri padahal dia udah kerja dan kosan dibayarin mama. Menurut gue, justru gue yang seharusnya mengasihani dia.
Back to the days that I was a kid, gue enggak pernah kepikiran bakal tinggal sendiri. Bagaimana mungkin gue bisa sendirian secara selama ini gue selalu tergantung kepada orang lain? Bahkan saat udah kuliah pun gue masih tergantung kepada kakak. Padahal, target gue adalah hidup mandiri setelah tamat SMA, he-he. Tapi ternyata, setelah dijalani, gue bisa. Yeaiii… happy for me.

Do Something I Love
Bagi gue, ini juga pencapaian terbesar. Bisa hidup dari apa yang gue suka. Setiap hari menjalani pekerjaan seperti ngelakuin hobi. Entah itu prime job gue ataupun side job. Gue pernah berpikir, kalau seandainya gue enggak bisa jadi penulis, apa lagi yang akan gue lakuin? Karena gue enggak punya bakat atau kemampuan di bidang lain. Jadi, gue beruntung banget bisa bekerja di bidang yang gue suka.
Gue bekerja sebagai reporter di salah satu majalah yang dulunya waktu gue masih remaja, gue baca majalah itu. Gue pernah bermimpi bekerja di Kompas and the gank semata karena bokap gue suka banget sama Kompas. Dan sekarang gue berada di dalamnya. Happy for me.
Jadi, gue bersyukur banget bisa mendapatkan pekerjaan ini karena gue enggak tahu gimana hidup gue kalau enggak jadi penulis.
And I am certified published writer now. Haha. Alhamdulillah udah dua novel gue terbit. Insya Allah akan menyusul novel berikutnya, aminnn…
Perjalanan gue mewujudkan impian ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Gue enggak mengambil jalan kayak yang kebanyakan orang lain ambil. Gue gabung di klub yang isinya orang-orang dengan mimpi sama kayak gue, bikin proyek bareng, ketemu teman menulis duet yang oke dan klop, lalu dia mengajak gue nulis bareng dan mengirim novel itu ke penerbit. Karena sebelumnya I am a looser, cewek yang selalu mundur duluan dan enggak pernah ngirim tulisannya dengan alasan takut. Kalau enggak ada teman-teman ini, mungkin sampai sekarang gue masih dihantui perasaan takut itu.

Menang Lomba
Gue selalu iri dengan teman-teman yang punya banyak penghargaan di rumahnya. Menang lomba inilah. Itulah. Apalah. Sementara gue? Piala gue bisa dihitung dengan jari. I am not a straight A student. Gue bukan murid berjiwa seni yang sering ikut lomba. Gue juga enggak ahli di bidang olahraga. Jadi ya wajar kalau enggak ada penghargaan yang gue dapat. Sampai akhirnya gue menang lomba menulis novel. Mungkin kedengeran norak, tapi bagi cewek 25 tahun yang enggak pernah menang apa-apa, ini sebuah pencapaian besar. Haha.

So far dari hasil review, itu hal besar yang bikin gue senang. Sebagian wishlist masih berupa wish, menunggu untuk diwujudkan.
Setelah melewati ultah ke-25, gue merasa siap menunggu tahap ketiga. Usia ke-30. Gue berharap kehidupan gue lebih membaik, enggak minderan lagi, enggak sering takut-takut alias lebih berani, dan lebih produktif.
Once again. Happy belated birthday for me.