Review #23 Paris by Prisca Primasari

Paris
Prisca Primasari



Aline yang lagi bete karena gebetannya jadian dengan cewek lain, memutuskan untuk cuti dari pekerjaannya sebagai waitress di sebuah restoran Indonesia di Paris. Di perjalanan pulang, dia menemukan pecahan vas yang kelihatannya mahal. Hanya ada satu petunjuk, nama Aeolus sena. Setelah dicari, Aline menemukan email Sena. Mereka pun janjian ketemu, tengah malam, di penjara Place de la Bastille. Tapi, Sena malah membatalkan pertemuannya saat Aline sudah ada di sana selama dua kali berturut-turut. Karena penasaran, Aline mau bertemu Sena lagi, kali ini ditemani Kak Ezra, tetangganya sekaligus mahasiswa Indonesia di Paris. Ternyata, sosok Sena sangat nyentrik. Sebagai balasan, Sena berjanji akan mengabulkan permintaan Aline.
Oke, gue telat banget baca buku ini. Banget banget banget. Ini kan buku pertama di seri STPC dan sekarang aja seri STPC udah berakhir, he-he.
Ini buku STPC keempat yang gue nikmati (setelah London, Bangkok, dan Melbourne). Dan ini buku yang paling enggak bisa gue nikmatin. Padahal sebelumnya gue suka bukunya Prisca, terutama Eclairs. Menurut gue ceritanya terlalu mengada-ada. Memang sih awalnya gue penasaran dengan background Sena, tapi setelah tahu, gue ngelihat something missing di sana. Kenapa Sena baru bergerak sekarang setelah bertahun-tahun terkurung? Toh dulu dia bisa keluar buat kuliah, memang segitu enggak ada waktunya? Apa Sena bertindak sekarang karena cinta? Well, mungkin gue udah enggak se-hopeless romantic dulu kali ya jadi enggak merasa tersentuh dengan perjuangan cinta Sena, he-he.
Tapi, terlepas dari ceritanya yang kurang nendang, gaya menulis Prisca masih gue suka, seperti biasa. Lembut dan detail tapi enggak menye-menye. Dan detail tentang Paris juga pas, enggak lebay, dan enggak terlalu kaku. Pokoknya jauh dari kesan promosi tempat wisata deh.
Karakternya juga, meski gue kurang related sama Aline yang sooooo pesimis, menye-menye, dan kelam. Gue tertarik dengan karakter Sena yang nyentrik dan lucu. Oh, sayang aja Kak Ezra porsinya terlalu dikit dan pengakuan Kak Ezra menurut gue terlalu tiba-tiba.

Meski ini bukan buku Prisca favorit gue, dan bukan favorit gue juga di seri STPC, baca buku ini lumayan buat mengisi waktu. Bukunya juga tipis, semalam kelar (sebagai obat insomnia hehe). Ditunggu buku selanjutnya Prisca. Tapi jangan Paris lagi ya. Cukup dua buku aja yang di Paris, he-he. Tapi kalau Rusia lagi enggak apa-apa. Suka banget sama Eclairs soalnya, he-he.

Comments

Popular Posts