Sunday, September 29, 2013

[cerpen] Side Effect

Side Effect

(sumber gambar: weheartit.com)

“Kenapa lagi?”
Lana menyodorkan sekotak tisu ke hadapanku. Sambil menahan sesenggukan yang membuatku susah bicara, aku menyambar tisu itu. Lalu mendekatkannya ke pipi dan menghapus air mata yang mengalir di sana.
“Gus…”
Sebelum sempat melanjutkan ceritaku, Lana membuatku terdiam hanya dengan satu kali rolling eyes. Dia tidak usah bicara, aku sudah tahu kalau dia keberatan mendengar ceritaku.
“Lo enggak mau dengerin cerita gue, ya?” Rasanya sakit saat mengetahui sahabatmu satu-satunya, orang yang dulu pernah mendeklarasikan sumpah bahwa dia akan selalu ada untukmu, for better or worse, rela menampung semua curhatanmu, tapi pada akhirnya terang-terangan menunjukkan keengganannya mendengar ceritamu. Lagi. Lana melakukannya lagi, tepat di hadapanku.
Aku kembali menangis. For Old God and New God, aku masih sedih karena semalam mengetahui Augustus Waters yang sangat charming dan punya seribu satu cara yang unpredictable untuk menghibur Hazel Grace, akhirnya terpaksa mengalah dari osteosarcoma yang sudah lebih dulu mengambil sebelah kakinya. Memang bukan aku yang ditinggalkan, dan aku pun baru mengenalnya tiga hari ini, tapi aku sudah seperti mengenal Augustus seumur hidupku. Dan aku hanya bisa menangis sesenggukan mengetahui bahwa dia akhirnya menyerah.
Tapi Lana malah menunjukkan wajah bosan ketika aku ingin berbagi.
Kemarin-kemarin, dia hanya menunjukkan wajah setengah bosan ketika aku mencerocos panjang lebar tentang betapa manis dan charming-nya Gus.
“Gue pikir ada something important terjadi sama lo.”
“Ini penting, Na…”
“Enggak penting…..” Lana menjerit tepat di kupingku, membuatku refleks menjauhkan tubuhku darinya. “Wake up, Tiasssss…. Mau sampai kapan, sih, lo hidup di imajinasi lo terus? Lo enggak capek apa tiap hari merasa senang atau sedih cuma gara-gara tokoh fiktif? Hah? Hah? Hah?” Dan sebagai penutup, Lana menoyor kepalaku.
Aku memberengut. Masalahnya, Lana tidak mengerti bahwa di hidupku, mereka yang dianggap Lana fiktif dan tidak penting itu nyatanya sangatlah penting.
For me, it just side effect of reading.
Bukan salahku jika aku terlalu larut dalam sebuah bacaan sampai-sampai menganggap mereka itu nyata dan benar-benar ada. Dan aku merasa berkewajiban untuk ikut bahagia atau sedih untuk mereka.
Dan aku merasa sah-sah aja kenapa sekarang aku menangisi Gus. Dia sangat baik, manis, perhatian. Dan demi Eru Iluvatar, he just seventeen years old. Kenapa dia harus meninggal di usia semuda itu?
Tapi Lana tidak mengerti. Tidak ada yang bisa mengerti.
“For twenty something girl like you, you have to have a real life.”
Real life? Bagiku, hidupku ini sah-sah aja. Aku hanya tidak menemukan orang lain yang punya pemikiran sama denganku.
Oh, mungkin belum.
**
Terakhir kali aku pacaran itu tahun lalu. Namanya Tito. Hubungan kami awalnya berjalan lancar, tapi hanya bertahan enam bulan. Kami putus karena ketidaksamaan pandangan.
Tepatnya, aku diputuskan.
Alasannya? Tito menganggapku gila.
Masalahnya, waktu itu aku menelepon Tito tengah malam hanya untuk mencari teman bicara yang mampu meredakan kesedihanku setelah episode Red Wedding di Game of Throne season tiga yang sangat menyesakkan itu. Aku hanya butuh teman untuk mendengarkan kesedihanku akibat kematian Robb Stark. Aku hanya butuh orang yang setuju bahwa Robb tidak seharusnya meninggal dengan cara mengenaskan seperti itu. Aku hanya butuh orang untuk berdiskusi tolol tentang bagaimana kemungkinan reuni keluarga Stark nanti.
Namun yang kudengar hanyalah dengkuran Tito setelah aku berbusa-busa bercerita.
Besoknya, aku menemui Tito dengan mata bengkak.
Jangankan mendapat penghiburan, Tito malah memutuskanku.
“Aku enggak tahan sama kamu. I mean, you’re living in fantasy world and I’m living in a real world. For God sake, I don’t know who is Robb Stark, Lord Bolton, Hobbit, Sherlock, Etienne St. Clair and whoever they are. Demi Tuhan, Tias, aku enggak bisa punya pacar yang enggak siang enggak malam selalu bercerita tentang tokoh fiktif seolah-olah mereka itu nyata. Aku enggak bisa punya pacar yang childish seperti kamu, enggak bisa berpikir rasional. Aku mau kita putus.”
Rasa-rasanya, pagi itu Lord Bolton ikut menikamkan pisau ke dadaku diiringi lagu Rain of Castamere.
Begitulah, tanpa mendengarkan penjelasanku, Tito pergi. Begitu saja. seperti mantan-mantan pacarku yang lain. Yang juga meninggalkanku dengan alasan yang sama.
**
Aku benci Kugy. For Lord of Light, bagaimana bisa dia menemukan Keenan, cowok sempurna yang bisa menerima semua kegilaannya? Nyatanya, dalam kehidupan nyata Keenan itu tidak akan pernah ada. Never.
Yang ada hanya cowok seperti Ojos. Seperti Tito. Seperti mantan pacarku lainnya.
Aku mengomel panjang lebar meski aku membaca buku itu bertahun-tahun lalu. Patah hati karena Tito kembali memunculkan rasa iri itu.
I hate Kugy. I really really really hate her.
“Gue cuma mau cowok kayak Keenan, Na. Atau setengahnya aja boleh, deh. Gue cuma mau cowok yang enggak menganggap gue gila karena side effect of reading ini.”
Lana menatapku dengan wajah serius. Bukan sekali ini aku mengungkapkan keinginanku itu. Nyatanya, sampai sekarang aku selalu bertemu cowok tipikal seperti Ojos atau Tito. Tidak ada yang seperti Keenan.
“Gue enggak muluk-muluk, kok. Gue cuma mau cowok kayak Keenan yang enggak menganggap Kugy aneh, atau cowok kayak Etienne St. Clair yang mau nemenin gue baca seperti dia nemenin Anna nonton padahal selama dua jam dia dicuekin sama Anna karena Anna fokus nonton untuk membuat reviewnya nanti. Atau Cricket Bell yang enggak pernah menganggap Lola aneh meski gaya fashion dia sangat absurd dan dia enggak bisa keluar rumah tanpa wig. Atau kayak Gus, yang mau dengerin Hazel cerita di telepon tentang buku AIA favoritnya, juga obsesi dia sama Peter van Hoten. Gue cuma mau cowok yang nerima gue apa adanya gue meski mungkin gue emang gila.” Aku menghela napas panjang setelah mengeluarkan semua uneg-unegku. Aku enggak berharap yang terlalu muluk, kan? Intinya, aku hanya mau pendampingku nanti menerima yang seperti ini.
“Mungkin lo harus introspeksi diri.”
Aku mengernyitkan dahi.
“Maksud gue, coba deh, lo sedikit aja mengurangi kebiasaan lo itu. Jujur nih ya, gue rasa lo udah kelewatan. Tito’s right. We live in a real world, Tias.”
Dan Lana pun mulai menganggapku gila.
“Coba, deh, dikurangi.”
**
Aku mengikuti saran Lana.
Malam ini, aku ada janji makan malam dengan Robyn. Aku sengaja meninggalkan buku Perfect Chemistry yang kubaca di meja kantor. Padahal sebenarnya aku tidak mau meninggalkan buku itu. Aku penasaran dengan akhir kisah Alex dan Brittany. Aku sudah tidak sabar menunggu apakah akhirnya Alex rela keluar dari Latino Blood demi memperjuangkan cintanya pada Brittany?
Fuck you, Brittany. Aku cemburu padanya karena dicintai Alex. Sedangkan aku mencintai Alex.
Oh lupakan. Aku buru-buru menepikan pikiran itu di benakku ketika melihat sosok Robyn muncul di pintu Sushi Tei. Sudah tiga bulan ini aku dekat dengan Robyn, berawal dari pertemuan yang tidak disengaja ketika aku datang meliput acara yang digagas kantornya. Sejak saat itu, Robyn sering datang ke kantorku, sekadar mengajak makan siang bareng atau mengantarku pulang.
Robyn sangat pengertian, dengan caranya sendiri, mengingatkanku kepada perhatian yang diberikan Gus kepada Hazel. Atau Etienne kepada Anna. Atau Cricket kepada Lola.
“Hai.”
Aku membalas sapaan Robyn dengan sebaris senyuman. He’s soooo handsome. Dia melipat lengan kemejanya hingga siku dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Dia tidak serapi ketika mengajakku makan siang atau mampir ke kantorku pagi-pagi. Mungkin karena dia merasa letih setelah bekerja seharian. Tapi aku suka penampilannya yang berantakan ini. Berantakan tapi seksi. Mengingatkanku kepada tokoh-tokoh rekaan Julia James dan Rachel Gibson.
“Aku pesenin tamago maki kesukaan kamu,” seruku sambil menyodorkan piring itu ke hadapannya.
“Thank you.”
Sepertinya hubunganku dengan Robyn berjalan lancar.
Tapi, ada yang mengganjal pikiranku. Aku tidak sepenuhnya menjadi diriku sendiri ketika bersama Robyn. Aku memang mencoba saran Lana, untuk meminggirkan tokoh-tokoh fiktif yang membuatku selama ini ditinggalkan pacarku. Sejauh ini semua berjalan lancar. Kami bercerita tentang apa saja, dan aku hanya menyentuh hal-hal umum,
Di situlah letak kesalahan yang kurasakan. Aku tidak memperlihatkan diriku yang sebenarnya. Bisa saja Robyn menyukaiku karena apa yang kucitrakan sekarang, tapi tidak dengan diriku sebenarnya.
Dan aku tidak tahu apakah Robyn tipikal Ojos atau Keenan.
Meski aku berharap dia adalah jelmaan Keenan di kehidupan nyata.
“Aku mau mampir ke Kinokuniya dulu. Enggak apa-apa, kan?”
Mataku membola mendengar ajakan itu ketika kami melangkah keluar dari Sushi Tei. I love Kinokuniya. Juga Aksara. Periplus. Gramedia. Bookdepository.com, dan semua hal berlabel toko buku. Aku seperti orang sakau setiap kali mengunjungi mereka, dan mereka seperti geng Latino Blood yang punya banyak jenis drugs untuk mengobati sakauku.
Aku membiarkan Robyn berlalu ke deretan majalah sementara aku terpaku di depan rak New Release.
“The Longest Ride,” seruku saat melihat buku terbaru Nicholas Sparks. I love him. Aku sudah tidak sabar mencari tahu kisah romantis apa lagi yang dihadirkannya. Oh, malam ini aku harus membeli tisu karena Mr. Sparks yang terhormat ini tidak pernah membiarkanku lepas dari ceritanya tanpa air mata.
Aku berbelok ke rak lain dan memekik kegirangan.
“Tias, are you okay?” Tiba-tiba saja Robyn sudah berdiri di sampingku.
Aku masih melompat kegirangan seperti anak kecil kebanyakan makan gula. Dengan senyum terkembang lebar, aku menyambar sebuah buku tebal dengan kover perempuan mengenakan topeng. Days of Blood and Starlight.
“Akiva. I found him.”
“Akiva?” Robyn menatapku aneh.
Aku memperlihatkan buku itu di hadapan Robyn. “Hampir satu tahun aku menunggu Akiva. Aku udah enggak sabar menunggu apa yang terjadi di Eretz. Dan, oh…” aku terpana saat mataku menatap ke buku lain. “Fangirl. Oh my God, I can’t breathe.” Aku menyambar buku lain dan mendekapnya di dada bersamaan Days of Blood and Starlight.
“Tias, kamu kenapa, sih?”
“Levi dan Akiva. Aku sudah pernah mengenal Akiva tahun lalu, tapi aku baru kenal Levi dari cerita orang-orang. Katanya, dia jauh lebih charming dibanding Etienne. Oh my Etienne. Aku penasaran, benar enggak Levi ini lebih charming dari Etienne.”
Robyn menatap ke sekeliling. “Siapa yang lagi kamu omongin, sih?”
“Akiva, seraphim di buku ini.” aku menunjuk Days of Blood and Starlight. “Levi itu cowok di buku ini,” aku menunjuk Fangirl. “Etienne itu cowok di buku Anna and the French Kiss.
Robyn menatapku seolah-olah aku ini alien yang nyasar ke bumi. “Jadi, dari tadi kamu kegirangan seperti ini karena tokoh fiktif?”
Aku mengangguk.
Upss… sepertinya sandiwaraku sudah terbongkar. Bukan salahku. Aku memang tidak sabar bertemu Akiva dan Levi.
“Kamu aneh.”
Begitu saja. setelah melemparkan tatapan tidak percaya, Robyn berlalu meninggalkanku.
And I realize one thing. He is the next Ojos.

Dan aku terdiam di tempatku. Memegang tiga buku favoritku. Still dreaming of my Keenan.

Saturday, September 28, 2013

[book review] Indonesia Romance Reading Challenge #38 Hawa - Riani Kasih

Hawa
Riani Kasih



Hawa membatalkan pernikahannya hanya karena tunangannya, Abhirama, membatalkan sesi foto pre wedding mereka di Bali dengan alasan kesibukan. Hawa menyadari kalau selama ini Abhirama selalu menomorsatukan pekerjaan ketimbang dirinya. Untuk mengobati patah hati, Hawa dan keluarganya—ayah dan adiknya, Luna—pindah ke Desa Sejiram, ke rumah Oma-nya, tempat dia menghabiskan masa kecil dulu. Tanpa sengaja Hawa bertemu Landu, polisi yang bertugas di sana. Pertemuan pertama mereka berlangsung kurang menyenangkan tapi mereka tidak bisa menolak takdir yang seolah menyatukan mereka. tapi, Abhirama kembali ke hidup Hawa.
Ini novel juara dua Lomba Penulisan Novel Amore Gramedia. Dengan embel-embel juara dua dan Gramedia, gue berkespektasi tinggi terhadap novel ini. Apalagi blurb-nya sangat menjanjikan sebuah drama. Tapi, gue serasa jatuh dari ketinggian seratus meter karena ekspektasi gue ketinggian.
Gue kecewa dengan buku ini.
Karena gue antimainstream, gue mau mulai dari kenapa gue kecewa dengan buku ini.
Konflik: enggak jelas. Dari blurb, gue menangkap akan ada drama antara Hawa-Landu-Abhirama. Tapi, enggak ada, tuh. Gue merasa karakter Abhirama ini hanya tempelan. Alasan pembatalan pernikahan Hawa dan Abhirama enggak terlalu dieksplor, hanya dibilang karena Abhirama terlalu sibuk. Bahkannnnn sampai akhir gue enggak tahu apa pekerjaan Abhirama sampai-sampai dia jauh lebih sibuk dari presiden. Harusnya pertemuan mereka kembali bisa menimbulkan konflik luar biasa, ditambah twist yang dikasih penulis kalau Abhirama ini teman SMA Landu—jujur, gue terganggu dengan twist ini—tapi malah enggak ada konflik. Penyelesaiannya udah gitu aja. Abis Hawa menolak Abhirama, dia ke rumah Landu karena bingung. Ngapain bingung coba, lha dia udah mutusin buat jalan sama Landu. Dan, udah, nikah aja gitu.
Cewek yang batal menikah enggak akan semudah itu untuk mau menikah, apalagi dengan cowok yang baru ketemu 3-4 kali dan menghabiskan satu kali weekend saja. Dia sama Abhirama pacaran empat tahun, lho. Cuma karena diajak naik speedboat dan memanen madu, lalu itu berarti Landu is the one? Mana chemistry-nya? Interaksi di antara mereka enggak menumbuhkan chemistry itu. Fiksi pun harus realistis, tapi ini enggak realistis sama sekali.
Oh, ada bagian kedua. Dan… apa hubungan bagian kedua ini dengan bagian pertama? Dear Riani Kasih, kalau gue jadi elo, gue akan mengeksplor kemungkinan konflik di bagian pertama, menambah interaksi Hawa dan Landu, dan juga memperkuat karakter Abhirama dan enggak hanya bikin dia kayak tempelan, dan membuang bagian kedua ini. Enggak guna dan enggak ada hubungan dengan bagian pertama. Kalau masih mau ada bagian kedua, please, kuatin dulu bagian pertama.
Gaya menulis seperti ini bikin gue ingat The Choice Nicholas Sparks. Ada dua bagian juga. Tapi, Sparks memulai dengan sedikit inti bagian kedua, yaitu si istri kecelakaan. Lalu perlahan-lahan pembaca diajak mengikuti kisah pertemuan kedua tokoh sejak awal sampai mereka menikah, dengan konflik yang pas dan interaksi yang pas, lalu masuk ke bagian kedua, pembuktian cinta sang suami. Tapi, di novel Hawa ini kehadiran bagian kedua terlalu tiba-tiba di seperlima akhir dan enggak ada hubungan dengan pertama.
Intinya, konflik kurang tergali dan banyak kemungkinan drama malah dibuang.
Karakter: enggak jelas. Awalnya gue memikirkan akan menemukan another-Tucker Matthew seperti yang dihadirkan Rachel Gibson. Polisi di kota kecil yang suka sama tetangganya. Tapi… karakter Landu kurang kegali. Awalnya dia dihadirkan sebagai sosok polisi muda yang serius, lalu di tengah-tengah jadi centil, dan di belakang jadi pede jaya dan gombal. Hawa lumayan tergali meski gue merasa banyak self insert penulis di sini. Kebanyakan penulis pemula memang suka self insert. Hawa yang baru lulus kuliah, sudah menerbitkan antologi pertama, dan penulis novel, persis sama dengan biodata penulis. Enggak masalah, sih, cuma ya paling enggak kasih tahu gitu dia umur berapa. Ini enggak ada, dan ciri-ciri fisik juga enggak disebutin. Yang paling kasihan adalah Abhirama. Udah cuma jadi tempelan, eh enggak dikasih tahu lagi fisiknya kayak apa. Cuma dibilang super sibuk tanpa tahu kerjaannya apa.
Karakter lain juga mengganggu. Praba, bokap Hawa, terasa feminin banget. Gue merasa Hawa malah ngomong sama mamanya ketimbang papanya. Oma Naning juga terasa mirip Praba. Enggak ada pembeda yang jelas. Buku ini mengambil PoV3 dan seolah-olah penulis mau masukin semua yang diketahui tokoh. Perpindahan antartokoh kurang smooth. Dan, yang paling ganggu adalah detail enggak penting seperti nostalgia Praba tentang almarhum istrinya yang panjang banget dan enggak ada hubungannya dengan kisah Hawa.
Chemistry: minus. Gue rasa ini karena prosesnya terlalu cepat jadi kurang tergali sifat masing-masing tokoh yang mampu memunculkan chemistry. Itulah kenapa gue bilang di awal kalau saja konfliknya lebih dimatangin, mungkin chemistry bisa terbentuk dengan sendirinya.
Lalu, kenapa buku ini bisa jadi juara dua?
Gue rasa karena idenya fresh. Desa Sejiram yang thank to this book karena kalau enggak gue enggak akan tahu ada desa ini. Juga Danau Sentarum yang indah banget. Riani Kasih benar-benar juara menggambarkan deskripsi tempat ini. Adegan naik speedboat di sini manis banget. Coba adegan manis ini ditambah, dan interaksi ditambah, deegan mengeksplorasi daerah lain di Kapuas Hulu, pasti makin oke.
Dan, polisi. Ini menurut gue jadi salah satu nilai plus. Tokoh polisi jarang diangkat di novel roman lokal, enggak kayak novel roman luar yang polisi bisa jadi romantis atau bahkan kinky. Sebuah angin segar aja menurut gue.
Lalu, gaya menulisnya? Ini subjektif karena gue enggak suka gaya yang mendayu-dayu seperti ini. Gue malah suka interaksi Landu dengan anak-anak local dalam bahasa local.
Sebagai pemenang lomba, jujur gue kecewa kenapa ini bisa jadi pemenang. Well, bukan berarti gue merendahkan Riani Kasih, ya, cuma rasanya ini kurang aja untuk jadi pemenang kedua. Gue malah prefer Heart Quay, yang jadi pemenang ketiga. Buktinya, gue masih bisa mengingat dengan jelas seperti apa Kenneth Yang. Sedang gue udah lupa Landu kayak apa padahal baru baca semalam, kecuali dia suka banget keluar dari kamar mandi dengan rambut basah.
That’s it.

Dan, ini jadi buku pertama yang gue banting begitu abis baca karena emosi saking kecewanya.

Tuesday, September 24, 2013

[boook review] Chain Reaction by Simone Elkeles

Chain Reaction (Perfect Chemistry #3)
Simone Elkeles






Meet Luis Fuentes, the good one in Fuentes family. Punya cita-cita untuk kuliah di jurusan neuroaerotics di Purdue lalu nantinya bekerja di NASA. Luis belajar banyak dari kakak-kakaknya untuk tidak terlibat dalam geng. Tapi, jauh di dalam dirinya, Luis merasakan adanya adrenaline rush yang menguasainya, sehingga membuatnya diam-diam menjadi seorang adrenaline junkie.
Meet Nikki Cruz, a Mexican girl who doesn’t know everything about her heritage. Nikki lebih merasa sebagai seorang Amerika ketimbang Mexican. Apalagi dia tinggal di north side, bukan south side seperti kebanyakan orang Mexico. Di usianya yang 15 tahun, Nikki hamil dan dicampakkan oleh pacarnya, Marco, yang lebih memilih Latino Blood ketimbang dirinya. Nikki keguguran dan hampir kehilangan nyawanya.
They met at Alex and Brittany’s wedding. Luis enggak menutup-nutupi dirinya seorang player dan menggoda Nikki. Nikki yang sedang bad mood refleks menendang Luis tepat di asetnya, hihihi.
Dua tahun kemudian, mereka bertemu lagi ketika Luis dan ibunya pindah dari Colorado dan kembali ke Fairfield, Chicago. Mereka bertemu di Faiffield High School, dan satu kelas di kelas Kimia. Juga oleh guru yang sama dengan yang mengajar Alex-Brittany dulu, Mrs. Petterson.
Luis dan Nikki yang awalnya saling membenci perlahan mulai dekat. Nikki membenci Luis karena merasa Luis sama seperti Marco. Apalagi mereka berteman. Namun Luis yang tidak mau berhenti menggodanya diam-diam membuat Nikki menyukai Luis.
Namun akhirnya Luis harus memilih antara Nikki, keluarganya, dan masa lalunya. Chuy Soto, pemimpin geng Latino Blood sepeninggal Hector Martinez, keluar dari penjara dan kembali mengumpulkan geng LB. Fairfield enggak lagi aman.
Welcome to third book of Perfect Chemistry series. Luis yang masih kecil dan lugu di Perfect Chemistry udah tumbuh jadi cowok ganteng dan berbahaya seperti kakak-kakaknya.
Gue lebih tertarik baca buku ini ketimbang Rule of Attraction karena setting yang balik ke Fairfield dan ada tokoh Chuy Soto. Gue penasaran dengan kelanjutan Latino Blood ini setelah Alex memutuskan jadi traitor dan meninggalnya Hector Martinez. Apalagi Luis, geek yang pinter banget dan belum pernah terlibat apa-apa dengan geng ini. Karena ini buku terakhir, maka bisa dibilang ini semacam kesimpulan juga. Kesimpulan untuk hubungan Alex-Brittany, mereka menikah meski enggak dihadiri orangtua Brittany, pindah ke Chicago karena Alex dapat beassiwa di Northwestern, punya anak bernama Paco—nama sahabat Alex yang meninggal di Perfect Chemistry—dan Brittany hamiil anak kedua. Juga kesimpulan hubungan Carlos dan Kiara, Carlos masuk militer lalu terluka dan pulang ke Chicago serta melamar Kiara. Juga kesimpulan dari geng Latino Blood dan masa lalu keluarga Fuentes.
Karena kesimpulan itulah makanya buku ini kerasa kompleks banget. Banyak side story tentang pasangan lain di sini, tapi enggak meminggirkan cerita utamanya.
Karakternya sendiri kompleks banget. Luis si cerdas tapi diam-diam adrenaline junkie. Nikki sendiri juga kompleks. Dia enggak mau lagi gaul sama anak-anak south side dan menutup diri dari cowok. Interaksi mereka, as usual, juara. Menurut gue ini kekuatan utama Simone dalam setiap ceritanya. Jujur, gue merasa gemes dengan karakter Luis ini jadi bukti nyata kalau pintar dan bodoh itu beda tipis. Udah tahu bahaya, eh dia malah gabung sama Latino Blood karena penasaran dengan apa yang direncanain Chuy karena pengkhianatan Alex. Ini juga bikin gue penasaran enggak bisa berhenti baca buku ini.
Sejak buku pertama, gue suka sama penggambaran kedekatan keluarga Fuentes ini. Apalagi di buku ini mereka banyak banget family bonding-nya. Dan waktu Luis diospek sama geng LB, Alex dan Carlos enggak menyalahkan Luis tapi diam-diam menjaga Luis meski berusaha bersikap biasa aja. Gue sampai teriak kesenengan waktu Alex dan Carlos datang nyelametin Luis ketika Luis face to face di warehouse sama Chuy.
Karakter Nikki juga bikin gemes. Gue pengin benci sama Nikki karena gengges banget, tapi in the end, ketika secara heroic Nikki datang dan membantu Luis, meski itu cuma impulsif karena dia cinta Luis, gue enggak bisa benci Nikki. Gue malah suka sama dia, hehehe.
Ada satu twist di buku ini yang bikin gue menjerit saking kagetnya. Tentang masa lalu Luis dan keluarga Fuentes. Sumpah, karena twist ini, seperempat bagian akhir jadi menegangkan. I like it.
Tapi, kepuasan gue agak sedikit terganggu karena ada dua unfinished question yang enggak terjawab. Satu, alasan kenapa ibu Luis sampai punya anak dari Hector. Memang, sih, kata Alex ibunya dimanipulasi Hector dan sebaiknya Luis nanya langsung. Awalnya gue pikir akan ada adegan Luis nanya dan dapat jawaban, ternyata enggak. Ini bikin gue penasaran. Dua, ketika Nikki bertanya ke ayahnya kenapa keluarga mereka seperti mengingkari darah Mexico mereka dan hidup ala orang Amerika. Ayahnya akhirnya setuju akan bercerita dan Nikki menunggu kapan orangtuanya siap bercerita. Gue juga penasaran dengan masa lalu keluarga Nikki. Tapi, sampai akhir enggak ada jawaban untuk itu.
After all, gue suka dengan buku ini, juga sama serial ini. Tapi, kalau boleh memilih, buat gue paling the best tetap Perfect Chemistry. Juara banget. Apalagi bagian Alex disiksa di akhir. Bikin nangis. Walaupun di Chain Reaction ada satu tokoh—tokoh lama dari Perfect Chemistry—yang meninggal, enggak bikin gue sesenggukan kayak waktu Paco meninggal.
Setelah ini, gue akan kangen sama keluarga Fuentes.

 

Friday, September 20, 2013

[book review] Rule of Attraction by Simone Elkeles

Rule of Attraction
Simone Elkeles



Meet Carlos Fuentes, brother of Alejandro Fuentes. The rebel one. Setelah hidup tenang di Meksiko, Carlos diajak pindah ke Colorado oleh kakaknya, Alex, agar bisa diawasi. Carlos memilih untuk stay numb karena semua orang meninggalkannya, ayahnya, Destiny pacarnya, dan Alex yang sekarang enggak lagi dikenalnya karena berubah banget. Karena suatu kesalahan yang enggak dilakukannya, Carlos dipenjara dan atas bantuan Profesor Westford, dosen Alex, Carlos tinggal di rumah profesor itu. And then he met Kiara Westford.
Meet Kiara Westford. The extraordinary girl. Gagu setiap kali gugup atau emosi tapi memutuskan di tahun seniornya ini dia enggak akan pemalu lagi. Suka mendaki gunung cuma untuk membuat PR. Suka pakai baju kedodoran. Ngerti banget soal mobil. Suka olahraga. Diputusin pacarnya, Michael, lewat SMS. Berkat bantuan sahabatnya, Tuck, Kiara membuat Rule of Attraction berisi cowok impiannya. Namun semua peraturan itu terabaikan karena Carlos.
Lalu ada Wes Devlin, Bandar narkoba yang ingin merekrut Carlos karena enggak punya koneksi dengan Bandar di Meksiko. Carlos menyadari semua orang dekatnya dalam bahaya. Enggak cuma keluarganya di Meksiko, tapi juga keluarga Westford yang jadi guardian buatnya. Terlebih Kiara, yang tanpa sadar dicintainya.
Another Fuentes story.
Gue masih dalam mood missing-Alejandro-Fuentes-so-much sehingga memutuskan lanjut baca buku ini tanpa istirahat. Di Perfect Chemistry Carlos muncul beberapa kali, termasuk bikin Alex sakit kepala karena Carlos kepengin masuk geng Latino Blood seperti Alex. Di sini lebih dilihatin betapa rebelnya Carlos. Kerjaannya cuma pengin cari masalah karena dengan begitu dia jadi enggak bisa ngerasa apa-apa. Secara konflik gue lebih suka Perfect Chemistry. Cerita Rule of Atraction lebih simpel meski tokoh yang terlibat lebih banyak.
Karakter. Gue enggak suka karakter Carlos. Mungkin karena gue terlanjur jatuh cinta sama Alex dan di sini Carlos cuma nyusahin Alex makanya gue benci Carlos, haha. Tapi, entahlah. Sejak awal gue udah enggak suka aja sama Carlos. Bandelnya enggak beralasan. Memang, sih, dalam satu keluarga selalu ada the bad one. Tapi gue enggak suka aja karena Carlos nyusahin kakaknya. Kiara Westford. Tipikal cewek yang gampang di-bully padahal sebenernya menarik. Cuma dia menyembunyikan sisi menarik itu dibalik keunikannya. But she still a girl. Pas Kiara pengin banget dateng ke homecoming dan bener-bener nyiapin diri untuk pesta itu, gue ngerasa kalau sebenarnya Kiara cuma remaja biasa. Gagunya bikin Kiara ini makin unik. Tapi, ketika udah bareng Carlos, ada sisi liarnya juga, haha. Tapi di akhir Kiara berubah gengges dengan ikut campur urusan Carlos dan bokapnya. Untung enggak terjadi apa-apa sama dia. Gue enggak suka cewek gengges, makanya gue lebih suka karakter Brittany.
Gue suka karakter Tuck yang riang dan lucu. Memberi warna baru di buku ini. memang, sih, gay is a women best friend, hehe. Gue juga suka karakter Brandon, bocah lima tahun adik Kiara yang lucu tapi bisa bikin Carlos tanpa disadari Carlos menampakkan dirinya yang sebenarnya. Interaksi Carlos-Brandon ini gue suka banget. Carlos berusaha tampil like a pendejo—jerk—tapi sebenernya dalam hati manis banget dan peduli sama Bran. Apalagi waktu Carlos mendapati Bran main game online tentang drug dealer dan waktu mereka dalam misi mencari tempat persembunyian cokelat rahasia di dapur. Kocak.
Lucky for me, di sini ada subkonflik Alex-Brittany jadi bisa ngelepas kangen dengan pasangan itu. Di buku ini kelihatan banget kalau mereka sudah dewasa padahal baru 20 tahun.
Chemistry. Simone Elkeles sepertinya juara banget memunculkan chemistry yang berawal dari rasa saling benci. Interaksi Carlos dan Kiara, juga Carlos dan Profesor Westford, serta Carlos yang sering dibikin kesel sama Tuck itu juara. Two thumbs up for Elkeles.
Konflik. Enggak semendebarkan dan semenegangkan Perfect Chemistry. Enggak bikin nangis juga. Enggak bikin sesak napas juga. Di sini Carlos enggak nyelesaiin konfliknya sendiri karena dibantu Alex dan Prifessor Westford. Kalau Alex, kan, nyelesaiin masalahnya sendiri dan itu bener-bener bikin nangis kejer. Dan untunglah enggak ada yang meninggal karena gue takut keulang kejadian waktu Paco meninggal dan gue deg-degan takut Profesor Westford ketembak.
Meski kurang greget dibanding Perfect Chemistry, Rule of Atraction tetap worth to read, kok. Di sini juga bertebaran banyak adegan manis. Pesta homecoming, waktu Carlos cium Kiara dari jendela mobil, waktu mereka mendaki gunung, atau di dermaga danau. Manis…

Sekarang gue udah mulai baca Chain Reaction, buku ketiga, tentang Luis Fuentes, the youngest. Mereka kembali ke Chicago dan katanya musuh lama Alex balik lagi. Sepertinya lebih menegangkan.

Wednesday, September 18, 2013

[book review] Perfect Chemistry by Simon Elkeles

Perfect Chemistry
Simon Elkeles

(Covernya, sih, enggak banget, hihihi. Tapi yang versi terjemahan manis)



Meet Brittany Ellis. Blonde-hair-big-blue-eyes who pretend to be a perfect queen. Brit selalu bisa mengontrol dirinya demi menjaga citra sempurna yang melekat di dirinya. Padahal sebenarnya dia enggak sesempurna itu. Kakaknya satu-satunya, Shelley, menderita Cerebral Palsy. Ibunya over-anxiety dan controlling banget serta suka freak out. Ayahnya sibuk banget. Belum lagi pacarnya si kapten football, Colin Adams yang isi otaknya cuma pengin ngajakin Brit having sex.
Meet Alejandro “Alex” Fuentes. Imigran dari Mexico yang harus jadi pengganti ayahnya karena sang ayah ditembak di depan mata kepalanya sendiri waktu umur enam tahun. Alex bergabung ke dalam geng Latino Blood demi melindungi ibu dan kedua adiknya. Alex ingin adiknya memiliki kehidupan yang layak dan keluar dari lingkungan itu. Akhirnya Alex tumbuh jadi cowok yang kasar dan berandalan.
Brit comes from north side and Alex comes from south side. Jadi di Fairfield, Chicago, status seseorang ditentukan dari mana dia berasal, North side or South side. Kedua sisi ini enggak bisa bertemu. Tapi Alex malah bertemu Brit ketika Mrs. Peterson memasangkan mereka di kelas Kimia. Mereka yang sudah termakan stereotype masing-masing langsung melontarkan hinaan di pertemua pertama. Tapi ketika mereka saling mengenal, mereka malah menemukan fakta bahwa mereka sangat mirip satu sama lain.
Bahwa apa yang mereka tampilkan hanyalah pencitraan saja.
“We’re an actor in our life. Pretending to be like what they want us think we are,” –Alex Fuentes.
Oke, finally I read this book. Lagi-lagi gue ketinggalan buku yang hype sejak lama. Tapi gue beruntung pernah mengenal Alex dan Brit. Dan, congratulation Alex, lo sukses menggusur Etienne St. Clair dari benak gue.
Like this title, this book really really really perfect.
Karakter. I love both of them, bahkan tokoh pendampingnya. Elkeles menulis cerita dari PoV 1 kedua tokoh, berganti-gantian antara Brit dan Alex. Karena penulisan seperti ini kita bisa benar-benar mengenal karakter ini. Malah menurut gue inilah kekuatan utama cerita ini, Cara Elkeles menyuarakan pikiran masing-masing tokoh. Kita bisa tahu kalau Brit enggak sesempurna itu, dan Alex enggak seberandalan itu. Perbedaan tone bercerita di kedua tokoh juga kerasa banget, sehingga kalau pun di awal bab enggak ada nama, kita bisa langsung tahu siapa yang bercerita. Karakter pendampingnya juga gue suka, apalagi Paco. Dan gue benci Elkeles karena membuat nasib Paco seperti itu *nangis*.
Konflik. It’s complicated. Kalau dipikir-pikir semuanya berasal dari masalah keluarga. Kedua tokoh berusaha menyembunyikan apa yang terjadi di dalam keluarga mereka dengan menampilkan citra tertentu. Konflik cintanya juga menarik. Unyu-unyu manis bittersweet. Kadang gue ketawa karena di beberapa bagian lucu banget, seperti waktu di perpustakaan Alex digoda Brit yang mau mencium dia sampai deg-degan, atau permainan lempar-lemparan kunci, waktu di galeri di Lake Geneva, dan kadang manis banget seperti waktu Alex nerima keputusan Brit buat enggak making out, atau Alex respek sama Brit waktu di atas motor, atau waktu Alex ngajarin Brit nyetir dan mereka saling terbuka, dan permainan take-off-your-clothes-while-you-ask. Manis banget. Dan kelihatan sifat asli mereka seperti apa, terutama Alex. Lalu ada bagian sedih, terutama interaksi dengan keluarga. Dan ya, Paco. Menjelang akhir tensi meningkat dan ada ketegangan waktu Alex berhadap-hadpaan dengan Hector, ketua Latino Blood. Juga waktu Alex dihajar karena kepengin keluar dari geng demi cinta pada Brit.
Interaksi antartokoh keren banget. Sesuai judul, chemistry dapet banget. Gue suka waktu Alex dengan santainya deketin Shelley, atau waktu di pernikahan Elena, sepupu Alex, atau bonding antara Alex dan Doug, pacar Sierra, sahabat Brit. Pokoknya gue suka soal chemistry ini. even interaksi dengan Mrs. P pun keren banget.
Cuma satu pertanyaan gue yang enggak kejawab, siapa, sih, yang membuat tanda Latino Blood di gym dan mencoret-coret motor Alex? Curiganya gue, sih, Colin. Tapi enggak dibahas. Ya, enggak penting juga, sih. Go to hell, deh, si Colin ini.
Setting. Perfect. Penggambaran north side dan south side yang beda banget. Juga party ala anak SMA di Lake Michigan. Keren.
Plot. Perfect. Enggak ada plothole. Alur maju yang dipakai smooth banget.
Cara menulisnya engaging banget sejak di halaman pertama. Bikin gue gemes dan enggak sabaran. Masalahnya, gue baca ebook jadi setiap kali gue gemes enggak mungkin, kan, gue ngebanting handphone gue? Coba baca buku, mungkin udah hancur karena gue banting, gue peluk, gue cium-ciumin, atau basah karena gue tangisin, hehehe.
Emosi gue benar-benar diaduk ketika baca buku ini. gue nyelesaiin ini di kereta. Tiba-tiba gue enggak bisa nahan tangis sampai-sampai mbak-mbak di sebelah gue heran, hehehe.
Ending. Manis banget… tanpa atau ada epilog enggak masalah. I really really really love it. Enough said.
Mungkin keberatan gue Cuma satu, karena gue baca ebook, enggak ada catatan kaki untuk Bahasa Spanyol, which is, itu banyak banget. Tapi so far itu enggak mengurangi keasyikan baca buku ini. Kita masih cukup ngerti meski enggak paham arti bahasa Spanyol itu.
Ada banyak hal yang bisa aja gue tulis di sini saking sukanya gue sama buku ini but I keep it by myself, hehehe. Intinya, buku ini very recommended. Memang, sih, genrenya young adult tapi ada beberapa konten yang menurut gue terlalu dewasa untuk remaja di sini. Ah, forget it. Intinya buku ini bagus bangettttt…
Thank you Simon Elkeles to bring a wonderful story.