Tuesday, August 27, 2013

[book review] Crazy On You by Rachel Gibson

Crazy On You
Rachel Gibson

(Suka covernya. Texas banget. Sepatu bootsnya ngingetin gue sama koboy haha)

The Crazy Lily Darlington pernah menabrakkan mobilnya ke rumah mantan suaminya sehingga apapun yang dilakukannya selalu mengundang omongan miring orang-orang di Lovett, Texas. Ketika bercerai sepuluh tahun lalu, Lily mengalami ketidakstabilan emosi sehingga sering bertingkah gila. Namun lama-lama dia mulai membenahi hidupnya. Punya salon yang cukup terpandang dan ibu yang baik bagi Phillip “Pippen” Darlington.
Namun orang-orang sudah terlanjur mencapnya sebagai si Crazy Lily.
Tucker Matthews, deputi sheriff di Lovett, baru seminggu ini tinggal di kota itu dan bertetangga dengan Lily. Mengalami masa kecil yang enggak menyenangkan dan lima kali tertembak ketika bertugas di US Army membuat Tucker ingin menjalani kehidupan yang menyenangkan.
Namun dia dibuat gila oleh tetangganya sendiri.
Wohaaa another story about the guy next door. Masih terobsesi tentang cerita tipe begini sih sejak baca Lola and The Boy Next Door tapi ini versi dewasa dan panasnya, hehe.
I love Rachel Gibson so much. Tapi, begitu gue menerima buku ini, wow, kok tipis banget. Dengan ukuran kecil dan cuma 102 halaman, gue udah pesimis ini pasti ceritanya enggak memuaskan. Tapi, secara gue udah jatuh cinta setengah mati sama tulisannya Rachel, jadi gue pun baca buku ini. lima jam tamat dan gue dibanjiri keringat dingin. Panas bo.
Kali ini Rachel mengajak kita ke kota kecil, Lovett, di Texas. Ada tiga buku di seri Lovett, Texas ini: Daisy’s Back In Town, Crazy On You, dan Rescue Me. Ceritanya, sih, stand alone, ya, cuma ada kesamaan latar dan tokoh-tokoh antarbuku suka jadi cameo.
About this book. I love it. Cuma sayangnya karena buku ini tipis jadi karakteristik tokoh kurang tergali. Ujug-ujug mereka udah making love aja. Atau mungkin karena udah lama enggak baca romance dewasa dan keseringan baca Young Adult di mana proses jatuh cinta itu lama, jadi ketika baca novel dewasa yang lebih mementingkan sex more than love jadi berasa cepat aja. But, meski terasa kurang greget, gue suka karakternya. Tucker is sexy and big and beautiful and hairy, ciri khas cowok karangan Rachel, hehe.
Gue suka latar Lovett yang disajikan. Kehidupan southern America yang ternyata enggak jauh beda sama kita, apalagi kota kecil. Everybody knows about everybody’s business. Telinga orang sana, tuh, ternyata sama aja kayak orang kita kalau soal gosip. Mulutnya juga. Makanya Lily jaga sikap banget karena enggak pengin digosipin tetangga-tetangganya. Kirain cuma orang kita aja yang suka gosipin tetangga, hehe.
Karakter pendukung kayak Pippen juga lucu. Gue suka interaksi Tucker dengan Pippen meski enggak banyak. Bikin Tucker berasa kayak FILF banget, haha.
Endingnya, sama kayak komentar gue tentang True Love And Other Disaster, nanggung banget. Secara orang Lovett tukang gosip, dan Lily akhirnya mau open up tentang hubungannya dengan Tucker, gue jadi pengin tahu gimana pendapat orang-orang. Tapi, setelah gue pikir-pikir, Rachel enggak mau menambah-nambah masalah. Jadi, masalah utamanya hanya hubungan Lily dan Tucker, begitu selesai, ya, udah. Enggak usah ditambah drama lagi. Tapi, secara gue suka tulisannya Rachel, gue merasa masih haus dengan drama racikannya, hehe.
Dan, ya, novel ini masih diselingin adegan seks yang bikin panas dingin. Jadi, kalau belum cukup umur atau udah cukup umur tapi enggak kuat mental dan enggak punya objek pelampiasan, jauh-jauh dari novelnya Rachel Gibson. Tapi, seperti yang gue bilang, adegan seksnya enggak terasa geuleuh, hiyuh, gross, atau gimana gitu meski di sini lebih detail dibanding buku lain yang pernah gue baca. Adegan seks yang seksi, begitulah kalau boleh disebut, hehe.

Meski belum puas, untung aja gue udah punya buku lain di seri ini, Rescue Me, jadi bisa lanjut baca. Cuma kurang Daisy’s Back In Town aja. Dan, ya, gue masih ingin melengkapi koleksi Chinook Hockey Team Series juga.

Sunday, August 25, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #35 Fly To The Sky by Nina Ardianti dan Moemoe Rizal

Fly To The Sky
Nina Ardianti dan Fly To The Sky






Edyta
Edyta has a quarter life crisis when she got 26 years old. A mess-maker, doesn’t have a boyfriend, brothers complex, sembrono, ceroboh, pelupa, punya dua kakak yang punya segudang jebakan batman untuk mengecek setiap cowok yang dibawa Edyta ke rumah, juga Ihsan, sahabat kakaknya Ilham yang juga tetangganya dan teman sekantornya. Abang-abangnya ini juga enggak pernah bosan-bosan menyomblangkan Edyta dengan teman-temannya.
Suatu ketika Edyta dikenalkan sahabatnya, Syianna, kepada Radit, sahabat pacarnya Syianna, Yudha. Radith yang punya senyum breathtaking sehingga dijuluki Mr.Take-My-Breath-Away oleh Edyta ini perlahan-lahan dekat dengan Edyta,
Di sisi lain, Edyta dicomblangin abangnya Ferro dengan temannya Bara. Dua jam nunggu sampai Edyta bete, Bara enggak datang dengan alasan buntut anjingnya kejepit pintu. Pas mau pulang, hari hujan. Jadi, deh Edyta mampir ke restoran CandraKirana. Lagi-lagi dia berbuat kekacauan dengan nyerobot meja orang. Tapi Edyta malah kenalan dengan cowok itu. Ardian.
Ardian
Ardian, pilot Indonesia Airbridge yang terkenal playboy tapi sedang dalam keadaan jomblo sekarang. Punya OCD, meski dikit, sehingga semua yang dilakukannya selalu rapi dan teratur. Sahabatnya, Leila yang juga pramugari ngecomblangin dia dengan pramugari baru, Mawar.
Ardian punya kebiasaan mengenang kematian ibunya di restoran CandraKirana di meja yang sama. Tapi, semua rencana yang sudah dia susun dengan matang malah berantakan gara-gara Edyta. Dalam pertemuan pertama, Ardian sudah tahu kalau Edyta enggak memenuhi semua checklist tentang cewek idaman yang dia punya. Tapi, ketika Ardian dekat dengan Mawar yang notabene memenuhi semua checklist itu, dia malah terus kepikiran Edyta.
Masalahnya, takdir seolah-olah sedang mempermainkan mereka dengan ada-ada saja kejadian yang bikin mereka enggak ketemu padahal udah deket.
Tahun lalu Gagas Duet sempat menyita perhatian gue tapi parahnya, gue cuma baca satu, Bittersweet Love. Itu pun gara-gara ditulis Adit, haha. Tapi, dari bisik-bisik tetangga di Goodreads banyak yang memuji Fly To The Sky. Kenapa akhirnya gue baca buku ini karena gue suka tulisan Nina dan Moemoe. Ketika satu buku ditulis mereka berdua, combo attack banget ya bo, haha.
Ketika baca buku ini gue langsung ingat film Serendipity, salah satu film romcom yang bikin gue gregetan sepanjang nonton. Buku ini juga bikin gue gregetan sepanjang baca. Gue suka sikap Edyta yang dengan kecerobohannya itu bikin dia real banget. Part Edyta ini khas chicklit banget. Udah gitu percakapan-percakapannya juga lucu. Udah gitu tokoh-tokohnya udah pernah gue kenal di Simple Lie. Dan gue tahu juga kalau Ilham ternyata udah putus sama Rere, haha. Dan gue juga baru tahu kalau mereka pindah rumah, ya? di Simple Lie mereka tinggal di Tanjung Barat, tapi sekarang di Pejaten toh, hehe.
Bagian Moemoe juga seru. Two thumbs up untuk risetnya Moemoe tentang penerbangan. Ceritanya juga ringan dan enak buat diikutin. Kalau dari segi gaya menulis enggak usah dibahaslah ya. gue emmang suka sama mereka. Toh alasan gue membaca buku ini karena gue sudah kepalang suka dengan gaya menulis mereka.
Oh ya, gue suka judul tiap bab. Yang Edyta chikclit banget. Ardian bahasa penerbangan banget. Kesukaan Ardian ngasih nada di tiap gadget ala-ala penerbangan gitu bikin OCD-nya makin keliatan, hihi. Lucu.
Cuma satu komentar gue: TYPO DIMANA-MANA. Ampun banget, deh.
Mengenai ending, gue, sih, berharapnya Moemoe atau Nina mau berbaik hati gitu bikin kelanjutannya. Penasaran gimana Ardian yang OCD ketika pacaran saam Edyta yang mess-maker. Memang, sih, kata Ardian, Edyta is a mess-maker and I am a cleaner, tapi tetap aja penasaran, hehe.
Moral lesson: pasangan itu kayak puzzle. Ada yang menonojol, ada yang melengkung, jadi saling melengkapi.

Friday, August 23, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #34 Camar Biru - Nilam Suri

Camar Biru
Nilam Suri



Sepuluh tahun lalu, ketika patah hati, Nina membuat sumpah konyol dengan sahabatnya, Adith, jika sepuluh tahun lagi mereka masih single, mereka akan menikah. Perjanjian itu ditandai dengan sebuah paper bird warna biru.
Sepuluh tahun berlalu, mereka sama-sama single dan memutuskan untuk menikah.
Nina dan Adith sudah bersahabat sejak kecil. Mereka bertetangga. Dulu mereka berempat. Ada Narendra, kakak Nina, dan Sinar, kakak Adith. Sinar ini juga jadi cinta monyet Nina. Narendra dan Sinar akrab banget sehingga Nina lebih sering bareng Adith. Ketiga cowok ini juga overprotective terhadap Nina yang sampai udah kerja pun masih diperlakuin kayak anak kecil. Sampai lima tahun lalu, ketika menjemput Nina pulang kerja, kecelakaan itu terjadi. Narendra meninggal. Sinar yang enggak sanggup menahan kesedihannya memutuskan kabur ke London.
Tinggal Adith yang selalu ada di sisi Nina di saat terapuhnya itu.
Begitu juga ketika Nina pergi dari rumah. Sejak awal, Nina memang diperlakukan seperti anak yang enggak diharapkan sama orangtuanya. Berbeda dengan Narendra yang seperti putra mahkota. Jadi, ketika Narendra meninggal, dan ibunya menimpakan kesalahan kepadanya, Nina memutuskan untuk pergi. Lagi, ada Adith di sisinya.
Nina pun berubah. Putri dari negeri gulali yang centil mendadak jadi putri kelabu yang berantakan, enggak pernah dandan, cuek, dan semrawut. Tapi ternyata ada alasan kenapa Nina berubah. Enggak cuma karena kematian Narendra. Rahasia yang selama sepuluh tahun disimpannya, bahkan dari kakaknya sendiri.
Cuma butuh waktu beberapa jam untuk membaca buku ini. Thanks to Nilam atas gaya menulisnya yang seru dan mudah diikuti. Apalagi saat ini gue sedang terobsesi dengan cerita tentang the boy next door setelah membaca Lola And The Boy Next Door, jadi ketika tahu cerita ini juga tentang sahabat sekaligus tetangga, gue semakin semangat.
Cerita ini diangkat melalui dua PoV, yaitu Adith dan Nina serta sesekali PoV 3. Permainan multiple PoV ini udah pas. Cuma, satu kritik gue yaitu ketika Nilam membahasakan Nina dengan gue. Okelah gue dikira pas dengan karakter Nina yang cuek dan berantakan. Cuma, gue ngerasa kurang pas. Nina memang cuek dan berantakan tapi itu cuma di permukaan. Deep in their heart, dia itu gloomy banget. So far sih efek gloomy and blue udah dapet cuma kalau dibahasakan pake aku pasti akan lebih dapet feel-nya. Selain, tentu saja, buat ngebedain dengan Adith karena jujur saja enggak jauh beda mereka ini.
Isi cerita sendiri lumayan kompleks dengan konflik berlapis dan semua berhasil dieksekusi dengan baik. Di beberapa part gue sampai menitikkan air mata, apalagi tentang orangtua Nina. Sumpah, ada ya orangtua sejahat itu? Gue setuju sama Adith. Di saat satu orang anak meninggal, seharusnya mereka menjaga satu-satunya anak yang tersisa, bukannya ngejauhin anak itu. Gue juga suka dengan ending konflik Nina dan orangtuanya ini. Terlalu too good to be true jika mereka berbaikan jadi gue salut sama Nilam yang tetap ngebiarin mereka seperti ini. Hell, reality bites, right?
Tapi, keasyikan gue agak terganggu dengan tokoh Sinar. Ini cowok ngomongnya formal enggak sampai. Maksudnya, dia bermaksud untuk formal tapi keserimpet pake nonformal. Lagian, sama sahabat dari kecil kok formal banget, sih? Kesannya mereka, tuh, enggak ada dekat-dekatnya. Dan formal enggak sampainya ini juga gengges. Misal pas Sinar ngomong, “kalau kamu laki-laki, saya sudah menonjok kamu.” Bo, kalo formal beneran bisa kali diganti pake meninju. Gue suka ketika Sinar ngobrol sama Adith, lebih luwes. Soalnya diceritain kalau mereka dekat tapi dari gaya ngomongnya Sinar ini, enggak kerasa kedekatan itu. Gue lebih suka Sinar ngomong bahasa Inggris, deh, sama Nina ketimbang formal nanggung ini.
Lagi, bromance Sinar dan Narendra aneh. Otak gue yang ngaco malah nangkep mereka lebih cocok jadi pasangan gay ketimbang sahabat, sumpah. Soalnya, kalau sahabat enggak sampai segininya kali. Email-email Sinar untuk Narendra kebaca kayak email seseorang yang patah hati ditinggal mati pacarnya. Seriously.
Oh, beberapa typo dikit enggak masalah.
Di beberapa review gue sempat membaca banyak yang protes Nilam memakai sapaan Si Kunyuk, Monyet, Beruk, dll. Tapi gue enggak bermaksud ikut protes. Kenapa? Sometimes I found it’s funny dan berasa dekat aja, hehe.
Kritik terbesar gue mungkin cuma di ending, ya. Gue suka ending berakhir di Nina pergi. Menurut gue itu udah jadi konklusi yang pas dan happy. Nina memang pergi, tapi dia bilang akan pulang dan Adith akan menunggu. So, udah jelas kan kesimpulannya? Jadi, ketika gue baca bagian epilog, gue menyesal baca bagian itu karena gue langsung drop. Kalau tahu gitu, gue akan mengakhiri buku ini di bab Nina pergi.

Sebagai debut, buku ini bisa dibilang bagus banget. Dan real, itu yang paling penting. Oh, lagu-lagu yang diselipin juga gue suka karena tipe lagu-lagu gue, jadul maksudnya, hehe, dan iseng gue bisa menebak nih Mbak Nilam angkatan berapa dari lagu-lagunya, hihi. This book is my cup of tea dan gaya menulis Nilam juga. Can’t wait for your next book, ya, Mbak.

Thursday, August 22, 2013

Scene on Three 3 Camar Biru - Nilam Suri




Jadi bagaimana cara berpartisipasi dalam Scene on Three :
  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

Judul Buku: Camar Biru
Penulis: Nilam Suri
Penerbit: GagasMedia




Gue sekarang lagi berada di sebuah restoran fancy di Pacific Place yang gue dah lupa namanya—sesuatu tentang kentang—dan gue lagi nunggu Danish. Kalau aja tadi gue nggak ada keperluan ke Japan Foundation, gue nggak bakalan mau diajak Danish janjian di mal pretentious ini. Sumpah, ini mal apa kantor, sih? Suasananya kaku dan dingin, dan gue bakalan heran sama orang-orang yang betah lama-lama di mal ini. Tapi, mungkin orang-orang dengan gaya hidup seperti Danish akan suka. Gue menunggu para pelayan restoran datang dan menunggu minuman gue. Teh manis aja, kepala gue dah pusing duluan ngeliat nama-nama di menu mereka yang gue nggak ngerti satu pun juga.
Memang orang Jakarta tuh sekarang seperti ini ya pergaulannya? Kalau sudah begini, lagi-lagi gue mensyukuri pekerjaan gue yang menurut sebagian besar orang, membosankan. At least, gue nggak perlu basa basi nongkrong atau makan di restoran-restoran mahal dengan menu yang namanya aneh-aneh, dan dengan dekorasi yang bikin lo ngerasa harus ngomong bisik-bisik. Gue yakin, beberapa orang makan di tempat-tempat kayak gini sebenarnya juga nggak ngerti, apa keren dan bagusnya tempat ini sampai-sampai mereka harus memesan makanan yang harganya sama dengan sepasang sepatu Converse. Cuma karena pergaulan mereka, atau tuntutan pekerjaan aja makanya mereka datang secara teratur ke tempat model begini.


Oke, ini Scene on Three ketiga gue dan Scene on Three pertama gue dari novel Indonesia. Kebetulan memang gue lagi baca buku ini. Kebetulan juga malam sebelumnya gue juga lagi ada di mal pretentious ini, makan di resto yang sama, dan tiba-tiba ngerasa deng… begitu baca part ini. Because it’s true.
Pribadi, kalau bukan karena tuntutan pekerjaan atau karena memang ada janji sama orang dan orangnya enggak akan mau janjian di tempat lain selain di sini atau memang terpaksa harus mengunjungi mal ini karena satu-satunya tempat yang ingin gue tuju cuma ada di sini, let’s say Kidzania or at America, gue enggak bakalan mau datang ke sini. Selain gue harus naik taksi karena panasnya Jakarta itu nyiksa banget buat jalan dari halte busway ke PP, sama seperti perasaan Adith, mal ini kaku banget. Dan juga, gue enggak punya kepentingan apa-apa di sini. Makan aja banter di Wendy’s. Belanja enggak bakalan bisa. Intinya adalah, gue merasa setuju dengan ucapan Adith. Ketika ada tempat yang hype, atas nama sosialisasi atau biar ingin dikata hype juga, maka banyaklah orang Jakarta—or so they called urban—berbondong-bondong datang ke situ. Padahal, jika ditanya lebih lanjut, apa mereka ngerti apa bagusnya tempat itu dan segitu pentingnya mereka ke sana selain karena tuntutan pergaulan? Gue rasa nggak semuanya ngerti.
Ketika misalnya kerjaan gue menuntut gue, sebut sajalah, ketemu orang di some off fancy resto gitu, jujur aja gue enggak terlalu ngerti dengan menu-menu itu. You can call me old fashioned karena jujur aja gue lebih memilih makanan aman yang gue tahu bisa diterima lidah gue. Tapi ya umumnya, kenapa kita betah lama-lama di tempat yang jujur aja enggak ngenakin gini, ya karena memang tuntutan kerjaan. Buat mereka yang upper class mungkin lebih ke sosialisasi dan sudah jadi semacam kebutuhan kali, ya—seperti Danish. Tapi banyaknya yang gue lihat justru para pekerja dan gue rasa, kerjaanlah yang menuntut mereka datang dan lama-lama di tempat pretentious seperti ini.
Mungkin memang inilah wajah Jakarta *sotoy*

[book review] The Guardian - Nicholas Sparks

The Guardian
Nicholas Sparks



Julie Barenson merasa hidupnya sudah benar-benar berakhir ketika suaminya, Jim, meninggal. Julie yang kabur dari rumah waktu remaja karena ibunya suka mabuk-mabukan dan memilih hidup berpindah-pindah di jalanan merasa aman waktu menikah dengan Jim. Setelah Jim meninggal, dia merasa kehilangan tempat perlindungan.
Ternyata Jim enggak meninggalkannya sendirian. Enggak lama setelah dia meninggal, seseorang datang membawa seekor anak anjing Great Dane titipan Jim. Melalui suratnya, Jim menitipkan anjing ini sebagai pelindung buat Julie, pengganti dirinya, sekaligus memastikan agar Julie melanjutkan kehidupannya dan berbahagia. Termasuk menemukan cinta baru.
Julie pun memilih untuk mulai berkencan lagi. Setelah beberapa kali melewati kencan dengan beberapa orang, Julie berkenalan dengan Richard Franklin, konsultan pembangunan jembatan di kota Swansboro, sebuah kota kecil di North Carolina. Mereka kenalan waktu Richard potong rambut di salon tempat Julie bekerja. Richard yang ganteng dan romantis begitu memanjakan Julie. Tapi Julie merasa masih kurang nyaman dengan Richard.
Di lain sisi, Julie punya sahabat namanya Mike Harris. Mike, kakaknya Henry dan istri Henry, Emma, adalah sahabat dekat Jim. Tanpa disadari, lama-lama hubungan Mike dan Julie berubah lebih dari sekadar sahabat. Ketika akhirnya Julie mulai yakin dia mencintai Mike, bukan Richard, dia memutuskan Richard.
Lalu, mulailah Julie menerima teror telepon yang lama kelamaan membuatnya enggak nyaman. Julie curiga ada yang menguntitnya, dan orang itu adalah Richard. Apalagi Singer, anjingnya, menunjukkan ketidaksukaan sama Richard. Tapi, enggak ada yang percaya selain Mike. Lagipula, Julie enggak punya bukti.
Jujur, gue agak lama membaca buku ini. Buku ini enggak jadi prioritas utama gue, alias gue baca tiap kali ada urusan di kamar mandi doang, hehehe. Entah kenapa, awalan buku ini terasa terlalu lama dan mendayu-dayu. Ditambah, di saat yang sama gue juga baca buku lain yang lebih seru, hehehe.
Tapi, memasuki pertengahan, which is ketika Julie mulai merasa hidupnya terganggu, tensinya meningkat dan gue enggak bisa enggak berhenti sampai selesai. Apalagi setelah perlahan-lahan kehidupan Richard terkuak. Gue jadi makin penasaran. Permainan multi PoV dan pemotongan sub bab yang menegangkan bikin gue gregetan sendiri.
Di kata pengantarnya, Nicholas Sparks bilang buku ini semacam proyek idealisnya di mana dia pengin banget menulis tentang binatang yang setia banget sama majikannya, yaitu anjing. Dan penggambaran Singer di sini lucu banget. Dan ya, gue sedih mengetahui nasib Singer. Kebetulan gue juga pengin punya anjing karena menurut gue anjing itu lucu cuma, ya, enggak dapat ijin hehe.
Menurut gue, ini buku lain dari pada yang lain. Ada unsur detektif, thriller, dan sedikit action. Formula Nicholas Sparks yang biasa masih ada: love, family, and life at a small town. Kesederhanaan kota kecil seperti biasa, juara banget. Kekeluargaannya juga erat banget. Dan cinta serta tragedi juga masih ada. Bedanya, di sini enggak pure romance aja. Latar belakang Richard itu asli nyeremin banget. Memang, sih, alasan terjadi sedikit unsure action, detektif, dan thriller itu juga karena cinta.
Seperti biasa juga, endingnya heartwarming and bittersweet.

Intinya, novel ini lumayan buat yang mau membaca cerita romance tapi enggak mau yang menye-menye dan butuh yang sedikit menegangkan.

Tuesday, August 20, 2013

[book review] Lola And The Boy Next Door by Stephanie Perkins

Lola And The Boy Next Door
Stephanie Perkins

(Sebenarnya mau cover yang ini biar serasi dengan cover Anna and The French Kiss tapi sayangnya di Kino enggak ada cover ini jadi beli cover satu lagi deh)




Cuma tiga keinginan Lola Nolan: 1) datang ke pesta sekolah dengan gaun ala Marie Antoinette dan combat boots, 2) orangtuanya menyukai pacarnya, Max, dan merestui hubungan mereka, 3) si kembar Bell yang juga tetangganya enggak pernah kembali lagi ke Country, San Fransisco.
Lola merasa hidupnya berubah ketika rumah keluarga Bell yang letaknya pas di sebelah rumahnya kedatangan penghuni baru yang ternyata adalah keluarga Bell itu sendiri. Setelah dua tahun hidup pindah-pindah demi karir Calliope Bell sebagai figure skating, akhirnya mereka pulang ke San Fransisco karena Calliope ingin kembali ke pelatih lamanya. Tentu saja kembaran Calliope ikut pindah, Cricket Bell, cinta pertama sekaligus orang pertama yang membuat Lola patah hati. Awalnya mereka bersahabat sampai akhirnya Calliope merasa terlalu gengsi bersahabat dengan Lola yang quirky, tapi Cricket masih bersahabat dengan Lola. Malah menunjukkan gelagat menyukai Lola. Sayangnya, pertemua terakhir mereka sebelum Cricket pindah membuat hubungan mereka jadi enggak baik lagi.
Tapi, ketika bertemu dengan Cricket mau enggak mau Lola merasa masih menyukai Cricket. Padahal dia sudah punya pacar, Max, a geeky-rocker, yang sayang banget sama dia. Lola makin pusing setelah Cricket bilang dia suka sama Lola. Tapi Cricket dengan gentle mundur karena Lola sudah punya Max dan berjanji akan menjaga hubungan mereka sebatas teman saja. Lola setuju.
Finally I read this book. Setelah selesai membaca Anna andThe French Kiss, gue sakau Etienne. Tiap hari di kantor bawaannya mau ke GI/PI aja buat beli bukunya tapi ditahan. Sampai akhirnya pas main ke GI sama anak-anak kantor refleks pergi ke Kino dan impulsive beli buku ini.
I love this book meski lebih kompleks dibanding Anna. Ceritanya sendiri lebih kompleks dengan konflik berlapis. Jika Anna remaja banget tentang sahabat dan cinta lalu terselip unsur keluarga gimana Anna dan Etienne sama-sama enggak menyukai ayah mereka. Di Lola, masalah keluarga dan cintalah yang dominan sedangkan sahabat enggak terlalu. Lola sendiri merupakan cewek remaja yang punya banyak isu. Dia dibesarkan oleh orangtuanya yang berupa pasangan gay. Jadi, ibunya Lola hamil oleh pacarnya yang kabur. Karena enggak punya kerjaan dan bukan tipe cewek yang mau kerja, tapi enggak mau aborsi juga, Lola diadopsi oleh pamannya, Nathan, dan pasangannya Andy. Mereka jadi satu keluarga. Dari sini aja udah ketahuan betapa kompleksnya hidup Lola. Di tengah cerita, ibunya, Norah, yang lagi-lagi diusir oleh pemilik apartemen karena nunggak bayar akhirnya ikut tinggal di rumahnya.
Masalah Lola yang lain tentu saja hubungannya dengan Max dan Cricket. Jika di Anna, Etienne yang ngefriendzone, maka di sini Lola yang ngefriendzone Cricket. Sebenarnya gue agak kesal dengan sikap Lola yang enggak tegas ini karena kasihan Cricket, tapi seperti gue yang enggak bisa benci Etienne meski dia pantas dibenci, gue juga enggak bisa benci Lola.
I love every character in this book. Lola is a quirky girl. She doesn’t believe in fashion, but she believe in costume. Itu sebabnya setiap hari Lola tampil beda. Enggak cuma bajunya yang aneh, tapi dia juga pakai wig. Baginya pantang tampil sama setiap hari. Menurut Max, she is a liar, has a identity crisis, labil, tapi Cricket justru bisa melihat itulah diri Lola yang sebenarnya. Cricket bisa maklum dengan kebiasaan Lola ini karena inilah dia.
Karakter pendukungnya juga gue suka. Calliope yang egois tapi sebenarnya manja, sahabat Lola, Lindsey, yang terobsesi cerita detektif, Heaven to Betsy alias anjing Lola, dan kedua ayah Lola, Nathan dan Andy. Benar kata Max, menghadapi satu ayah yang protektif aja sudah susah, apalagi ini dua orang ayah sekaligus.
Chemistry. Gue suka cara Stephanie membangun chemistry dengan adegan sederhana. Gue suka mupeng ngebayangin Cricket melempar toothpick ke jendela kamar Lola lalu pas Lola buka gorden, dia udah melihat Cricket duduk di jendela. Lalu mereka ngobrol lewat jendela. Juga ketika Cricket menaruh papan pembatas lemari di antara jendela dan menjadikannya jembatan waktu dia mau menghibur mereka. I love this.
Sekarang, kalau ditanya siapa yang akan gue pilih, Cricket atau Etienne? Pertanyaan yang susah karena charming mereka beda. Etienne tipe prince charming yang manis, nice, dan easy going sehingga gampang disukai siapa saja. Sedangkan Cricket tipe geek charming yang suka bikin konstruksi sederhana lewat fisika dan matematika yang clueless kalau soal cewek tapi nice dan lembut banget. Meski Etienne pendek dan Cricket tinggi, mereka punya karisma sendiri. Cuma gue agak males ketika Lola memuji-muji karisma Etienne dan iri sama Anna yang beruntung. Gila, kesannya dia maruk gitu. Udah punya pacar Max dan ditaksir Cricket, masih aja mupeng lihat Etienne, hehe.
Oh, satu lagi yang gue benci. Di sini Etienne dan Anna PDA mulu. Kan, gue cemburu haha.
Overall, I love this book. Gaya bercerita Stephanie masih enak untuk dinikmati. Khas remaja banget. Kalau Anna and The French Kiss bikin kita pengin ditembak di puncak Notre Dame, maka Lola and The Boy Next Door bikin kita pengin punya tetangga ganteng.

Dan sekarang gue cuma mau bilang: Stephanie Perkins, I want Isla And The Happily Ever After RIGHT NOW!!! Haha

Sunday, August 18, 2013

A to Z Bookish Survey

Found this new and interesting game when I was browsing for another book blogger. This survey was made by Jamie from perpetualpageturner.com and you can find the detail here. All questions are quiet funny and honest by the way.


Author you’ve read the most books from:
Besides book series, I spent a lot of my time reading Nicholas Sparks's books and for Indonesia, I am falling in love with Metropop. I have 9 from 18 Spark's books and it's still count. For Metropop, I read all of Ika Natassa's books, including Underground and Twivortiare who published by Nulisbuku. And I also like to read AliaZalea and have all of her books.

Best Sequel Ever:
All of my life, I am falling deeply in love with JRR Tolkien, The Lord of The Rings trilogy.

Currently Reading:
I Heart New York  by Lindsey Kelk. Just started.

Drink of Choice While Reading:
Cola but sometimes I forgot to drink while I was reading.

E-reader or Physical Book?
Eventough I always bring books to wherever I go and sometimes I feel it's a bit heavy, I choose physical book.

Fictional Character You Probably Would Have Actually Dated In High School:
Of course ETIENNE ST. CLAIR from Anna and The French Kiss by Stephanie Perkins. I truly madly deeply in love with him, eventough he's short haha.

Glad You Gave This Book A Chance:
The Nine Lessons by Kevin Allan Milne. I never heard about him before but when I read this book, I feel heartwarming, just like what I feel when I read Nicholas Sparks's books. From now on I am looking forward to read his next book.

Hidden Gem Book:
Daughter of Smoke and Bone by Laini Taylor. I don't have expectation about this book. I just think, "okay, it's about fallen archangel. Another kind of angel, so what's so special about this book?" But, when I read this book, I falling in love with this story. Of course, with Akiva too.

Important Moment in your Reading Life:
I think it was when my mother bought me Eva Ibbotson's book, The Secret of Platform 13 when I was  in elementary school. I loved reading the books so much I couldn't stop reading them. TAfter that, i am falling in love with STOP (Sporty, Thomas, Oscar, Petra) series by Stefan Wolf. But the best moment in my life is when my sister came home and bought The Lord Of The Rings: The Fellowship of The Rings who brought me to fantasy world. Until now, Il ove reading fantasy.

Just Finished:
Lola and The Boy Next Door by Stephanie Perkins, I'll write the review after I take this survey

Kinds of Books You Won’t Read:
Horror and thriller. Just not my cup of tea.

Longest Book You’ve Read:
Maybe Gone With The Wind by Margareth Mitchell. I think it's almost thousand pages

Major book hangover because of:
Suzanne's Diary For Nicholas by James Patterson. I cried all night long after I read this book.

Number of Bookcases You Own:
I don't have it. I keep my books at the top of my cupboard.

One Book You Have Read Multiple Times:
Anna and The French Kiss by Stephanie Perkins because I love Etienne St. Clair so much. Oh, Antologi Rasa by Ika Natassa too.

Preferred Place To Read:
Anywhere but mostly I spent my time to read during my way to and back from office, at a public train, and at my bedroom before I fell asleep.

Quote that inspires you/gives you all the feels from a book you’ve read:
Can't answer this question because I have so many quotes that I can't recall it now.

Reading Regret:
Fifty Shades of Grey. Fortunately I read that e-book and I got it free, haha

Series You Started And Need To Finish(all books are out in series):
Chinook Hockey Team series by Rachel Gibson. I already read two from seven books.


Three of your All-Time Favorite Books:
Looking For Alibrandi's Melina Marchetta, The Lord of The Rings trilogy's JRR Tolkien, and Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck's HAMKA

Unapologetic Fangirl For:
Fantasy and romance. Anything about romance, like contemporary romance, chicklit, young adult romance and I started to read new adult. I give a chance to Losing It by Cara Cormack.

Very Excited For This Release More Than All The Others:
Isla and the Happily Ever After by Stephanie Perkins and Dreams of Gods and Monsters by Laini Taylor. PLEASE GIVE IT TO ME. I CAN'T HARDLY WAIT TO READ THIS BOOKS.

Worst Bookish Habit:
My obsessive compulsive disorder to have a series with a same cover and languange. Oh, I also often leave the books at my bathroom after pup, haha.

X Marks The Spot: Start at the top left of your shelf and pick the 27th book:
LA Candy by Lauren Conrad

Your latest book purchase:
I Heart Hollywood by Lindsey Kelk

ZZZ-snatcher book (last book that kept you up WAY late):
Lola and The Boy Next Door by Stephanie Perkins. I read it last night and stay awake until 2 in the morning

So that's my answer. What's yours?