Monday, July 29, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #32 Heart Quay by Putu Felisia

Heart Quay
Putu Felisia





Zoya dari kecil udah menderita. Ditinggalin ayahnya, dan kakaknya jadi pecandu narkoba. Ketika menyendiri di atap, Zoya ketemu Elang Angkasa, pentolan sekolah yang terkenal berandalan. Mereka pacaran, tapi backstreet. Sampai suatu kejadian membuat Zoya terpaksa meninggalkan Elang. Elang sakit hati dan membenci Zoya.
Cerita bergulir di masa sekarang, ketika Zoya dan sahabatnya Santi datang ke Singapura untuk menghadiri pernikahan sahabatnya, Tiara. Dengan Elang. Pertemuannya dengan Elang memunculkan rasa sakit di masa lalunya. Juga kebencian keluarga Elang padanya. Sedang Elang ingin tahu alasan Zoya dulu meninggalkannya.
Di titik terlemahnya ini, Zoya bertemu Kenneth Yang. Berawal dari pertemuan enggak mengenakkan di pesawat dan bandara, akhirnya mereka dekat. Dan membuat Zoya mulai berani untuk membuka hati lagi.
Novel ini jadi juara ketiga Lomba Penulisan Amore 2012 lalu. Gue belum baca yang juara satu dan dua. Langsung ini karena setting di Singapura dan cowoknya asli sana. Setelah baca Mrs. MisMarriage, kecintaan gue sama negara tetangga itu makin bertambah.
Ceritanya sendiri tergolong rumit. Tipikal cerita serial drama Korea/Taiwan sana. Untung aja cowoknya bukan Korea. Kalau Korea, dijamin gue enggak bakal ngelirik novel ini. Enough sama Korea-Koreaan haha. Penulisannya cukup lancar. Putu enggak sebaik hati itu ngasih kita latar belakang dalam sekali scene, melainkan ngasih beberapa clue yang tentunya bikin penasaran. Dan gregetan. Bikin gue mencoba menebak-nebak. Memang, sih, drama banget. Tapi, namanya juga Amore. Banyak drama itu wajar. Dan jujur, gue kangen baca novel banyak drama, hihi.
Karakternya sendiri cukup lovable. Yup, I’m talking about Kenneth Yang. Dari cowok jutek yang lebih akrab sama gadget daripada sama manusia lalu berubah nice, charming, unyu, whatever you name it. Untuk ukuran orang Singapura, Kenneth ini termasuk santai. Enggak mencerminkan budaya kiassu-nya orang Singapura. Tapi, enggak terlalu penting, sih, secara konflik Kenneth cuma dengan Zoya.
Zoya sendiri menurut gue gengges. Biasalah, tipikal cewek miskin yang merasa paling melarat sedunia tapi sok tegar. Entah kenapa, gue enggak pernah tertarik dengan tipe cewek kayak gini. Dan dia dicintai Kenneth. Ish, enak banget—iya, gue cemburu.
Interaksi Kenneth-Zoya lumayan, sih, meski gue merasa terlalu cepat. Untuk ukuran orang yang pernah ditinggal mati pacarnya dan sakit hati, Kenneth terlalu cepat untuk membuka hati. Coba halamannya ditambah, trus interaksi Kenneth-Zoya juga ditambah, mungkin chemistry mereka akan lebih tereksplor.
Tapi, gue suka adegan mereka ciuman di pinggir jalan sambil nunggu lampu hijau menyala. Visually di kepala gue bagus banget. Apalagi gue langsung kebayang jalan-jalan di Singapur. Kalau jalanan Jakarta mungkin enggak seromantis itu kali, ya, hehe.
Sekarang, tokoh pendamping alias biang kerok masalah. Elang dan Tiara. The most heartless jerk couple in the world. Tiara tipe spoiled little brat yang rela lakuin apa aja untuk menuhin egonya, termasuk sengaja hamil—jadi inget Carissa, hihi. Elang juga sebenarnya cowok cemen yang egonya terlalu tinggi dan enggak bisa terima egonya dilukai. Cocok deh ini dua orang.
Pada akhirnya, mereka harus memilih. Cinta dan persahabatan. Dan si sopiled little brat macam Tiara milih mengakhiri persahabatannya dengan Zoya demi Elang.
By the way, ketika membaca novel ini gue jadi ingat The Romantics karya Galt Niederhoffer. Gue belum baca, sih, tapi gue udah nonton adaptasi filmnya yang diperanin Katie Holmes, Anna Paquin, dan Josh Duhamel. Inti The Romantics ini tentang sekelompok sahabat yang ketemuan lagi di salah satu pernikahan, yaitu pernikahan Lila dan Tom. Masalahnya, dulu Tom pernah pacaran dengan Laura yang juga sahabat baik Lila. Ketika ketemu lagi, mereka mengenang kembali masa-masa dulu. Juga, Lila yang akhirnya marah pada Laura dan ngebatalin pernikahannya.
Bedanya, di sini Tiara enggak sampai ngebatalin pernikahannya, sih. Dasar egois. Dan Elang? Dasar cemen.
Overall, I love this book. Most of all, I love Kenneth Yang. Gue maunya, sih, lebih banyak scene Kenneth daripada Elang, hihi.
Dan ya, gue suka ada selipan Singlish di sini. Entah kenapa, gue selalu ketawa kalau dengar Singlish. Lucu. dan novel ini sukses bikin gue kangen pergi ke Singapura lagi.

PS: Gue ngebayangin yang jadi Kenneth Yang ini Ambrose Hsu waktu jadi Xu Ze Ya (minus kacamatanya)

 

Sunday, July 28, 2013

[cerpen] Miracle

Miracle
(Ifnur Hikmah)



2009
“Kamu yakin mau ngeprofilin saya? I mean, you know who I am, right? Saya bukan siapa-siapa untuk bisa masuk ke Music Daily.”
Aku tertawa pelan seraya menenggak Jack Daniel’s di gelasku. Ini hari ketiga aku datang ke Brooke. Berarti, hari ketiga juga aku melihat penampilannya.
Dia, Calvin, menatapku dengan pandangan serius. Bagi musisi kebanyakan, mereka akan melakukan segala macam cara pendekatan agar aku berbaik hati berbagi halaman Music Daily untuk mereka. Satu halaman, setengah halaman, atau mungkin seperempat, itu tidak pernah jadi masalah. Yang penting, mereka muncul di halaman majalah musik paling bergengsi ini.
Tapi, Calvin tidak perlu berbuat apa-apa. Dia cukup memetik gitar di tengah pub bobrok ini, enggak peduli apakah pengunjung Brooke memerhatikannya menyanyi atau sibuk main billiard di sudut ruangan atau pacaran di sofa merah butut, dan menyanyi. Lagu British rock favoritnya. Sekejap, dia menjelma menjadi the next Noel Gallagher.
Aku ada di sini untuk memperhatikannya. Temanku, Marco, menyuruhku datang setelah dia berbusa-busa mempromosikan Calvin. Marco berani bertaruh aku akan terkesima dengan penampilan Calvin.
Pertama melihatnya, jujur saja, aku skeptis. Dia seperti cowok kebanyakan. Pubstar yang sebenarnya memiliki kualitas untuk jadi rockstar, hanya saja nasib baik belum berpihak kepadanya. Dan Brooke bukanalah jenis pub yang biasa didatangi pencari bakat. Brooke hanyalah pub murahan yang menyediakan bir murahan. Tapi, begitu aku mendengar Calvin menyanyi, semua keraguanku sirna. Dan, aku yakin dengan instingku. He is the next big thing. Akan sangat menyayangkan jika dia berakhir di pub bobrok ini. Tempatnya panggung besar, bukan panggung ala kadarnya di Brooke.
Jadi, aku menawarkan kesempatan itu. Dua halaman profil di rubrik The Next Big Thing. Jika musisi lain menyambut dengan antusias, maka Calvin kebalikannya.
Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya.
Padahal, aku hanya wartawan yang bekerja di majalah musik. Bukan Simon Cowell atau Simon Fuller.
“Kamu serius?”
Aku mengangguk mantap. “You are the next big thing. Kelasmu bukan di sini.” Aku menuding Brooke yang dipenuhi asap rokok dan bau keringat. “Kamu punya bakat untuk bersinar.”
Calvin tertawa. Akhirnya dia bisa terlihat rileks setelah setengah jam lebih terlihat tegang setelah aku mengajukan penawaran ini.
“Saya hanya enggak ingin kamu mendapat masalah dengan atasanmu karena membawa penyanyi yang enggak jelas ini ke majalahmu.”
Aku melambaikan tangan di depan wajahnya, menyuruhnya untuk tidak usah memusingkan komentar bosku. Meski bosku itu cerewetnya minta ampun, aku yakin dia akan setuju dengan pendapatku. Urusan insting menemukan rising star berkualitas, dia sama denganku.
Kurogoh laci kecil messenger bag milikku dan mengeluarkan dompet kecil dari bahan kulit berwarna hitam. Aku mengeluarkan selembar kartu namaku dan mengasurkannya di atas meja, tepat ke hadapan Calvin.
“Aku tunggu kamu besok di kantorku untuk pemotretan dan interview.”
*
“Buat orang yang baru saja menandatangani kontrak rekaman senilai jutaan rupiah, makan di warung tenda pinggir jalan seperti ini termasuk murah.” Aku menggelengkan kepala dengan raut wajah dibuat semenyedihkan mungkin.
Di sebelahku, Calvin tertawa rikuh sembari menggaruk kepalanya yang ditutupi knit cap abu-abu lusuh. Rambut keriting sebahunya mengintip di balik knit cap. Aku menurunkan pandanganku dan menemukan kaus putih lusuh bergambar OASIS dan celana jins yang robek di bagian lutut. Sederhana memang. Untuk ukuran penyanyi baru yang diperkirakan menjadi the new rockstar, tampilannya terlalu sederhana. Aku tertawa kecil membayangkan kesulitan yang dialami Global Record dalam menyiapkan imej baru Calvin.
Sesuai perkiraanku, tidak butuh waktu lama bagi Calvin untuk menjadi spotlight. Setelah tampil di majalahku, aku mengundangnya ke private gig yang diadakan Music Daily. Private gig ini dihadiri produser musik karena acara ini kami peruntukkan bagi musisi baru. Hitung-hitung mempermudah jalan mereka menuju dapur rekaman. Aku sempat bertengkar dengan Don, bosku, karena dia belum mendengar demo Calvin. Tapi, aku berhasil meyakinkannya.
Calvin bukan hanya berhasil membuatku mempertahankan muka di depan Don, tetapi dia juga berhasil menaklukkan Jake, eksekutif produser dari Global Record.
Perlahan, Calvin mulai diperhitungkan. Single pertamanya laku di pasaran. Dia sudah berhenti jadi pubstar di Brooke. Dia mulai jadi penyanyi pembuka di konser musisi ternama, tampil di acara televisi, dan lagunya juga diputar di radio-radio. Dia juga sering menjalani interview dengan majalah lain. Tapi, Calvin selalu memprioritaskanku dan Music Daily.
Dia bilang, dia enggak ingin jadi kacang lupa kulitnya.
Sore ini Calvin menjemputku di kantor. Katanya, dia ingin mentraktirku. Proses rekaman album pertamanya sudah selesai. Tinggal menunggu waktu sampai album itu berhasil merajai chart.
“Sebenarnya saya mau mengajakmu ke restoran yang mahalan dikit, tapi saya lapar.” Calvin meringis, memperlihatkan giginya yang berbaris rapi.
Aku hanya tersenyum. Sebenarnya tidak masalah makan di mana. Sebenarnya, aku cukup senang dengan perlakuan istimewa ini. He is a rising star. Makan malam bersama riising star, meski hanya di pinggir jalan, jelas suatu keberuntungan untukku.
“Lagipula, pasta di sini jauh lebih enak ketimbang di Brooke.”
“Nikmatilah saat ini,” ujarku pelan dan menatapnya tajam, “setelah ini, kamu enggak akan bisa pergi ke manapun tanpa dikenali.”
“Ah, kamu selalu lebih optimis dibanding saya.”
Aku menyeruput es teh manis milikku. “Karena saya tahu kamu akan jadi bintang besar. Sekarang, sudah terbukti, kan?”
“Saya enggak akan bisa seperti ini tanpa kamu.” Calvin tersenyum. Di bawah temaram cahaya lampu seadanya warung tenda ini, aku bisa meyakinkan siapa saja bahwa dia memiliki senyum yang manis. “Saya enggak akan melupakan kamu.”
“Ya, kamu sudah bilang kalau kamu enggak akan seperti kacang lupa kulit.”
Calvin tersenyum hangat, sehangat tangannya yang tiba-tiba menggenggamku. “Saya berutang banyak padamu. Pada Music Daily. Tapi, di atas semuanya, saya enggak akan mungkin melupakanmu, karena kamu adalah keajaiban di hidup saya.”
*
2010
Thank you for coming. Saya deg-degan nungguin kamu dari tadi enggak muncul-muncul.”
Aku tergelak sembari mengalungkan ID Pers-ku. “Maaf, tadi macet. Aku tahu, macet cuma jadi alasan klasik di Jakarta.”
Calvin menggiringku ke backstage, menyisakan tatapan iri di wajah jurnalis lain atas priviledge yang kuterima ini. Andai saja mereka tahu kalau Calvin sendirilah yang meminta kedatanganku ke konser tunggal pertamanya ini. Setelah menjalani tur ke berbagai kota, akhirnya Calvin mengakhiri konsernya di Jakarta. Aku bisa saja menyuruh reporter lain untuk meliput acara ini—seperti biasanya. Tapi, aku memilih datang sendiri. Karena ini konser Calvin.
Calvin Ryan. Solois paling digemari sekarang ini. Album pertamanya, Brooke—Calvin sendiri yang memberi nama ini karena alasan sentimentil bahwa karirnya berawal di pub bobrok bernama Brooke—sukses di pasaran. Selama berminggu-minggu menempati posisi nomor satu di berbagai chart. Sesuai dugaanku, dia tidak bisa lagi pergi ke manapun tanpa dikenali.
Aku meneliti penampilan Calvin yang sibuk mengecek gitarnya di belakang panggung. Knit cap itu masih ada, meski dari warnanya, sepertinya knit cap itu baru. Dia masih memakai pakaian kebesarannya—kaus putih dan celana jins—yang sudah menjadi ciri khasnya. Hanya saja, sekarang dia terlihat lebih rapi. Dan, itu semakin mempertegas ketampanannya. Sepertinya Calvin juga mulai berlatih di gym. Di salah satu sesi WhatsApp singkat kami, dia pernah memberitahuku. Padatnya jadwal tur dan interview membuat dia harus menjaga kebugaran tubuhnya. Salah satunya berlatih di gym. Sekarang hasilnya mulai terlihat. Dadanya menjadi sedikit lebih bidang. Otot lengannya mulai terlihat. Dia bukan lagi musisi pub kurus dan terlihat kumal seperti pertama kali aku menemukannya.
Bisa kurasakan pipiku memerah ketika memerhatikan Calvin seintens ini.
Merasa diperhatikan, Calvin menoleh kepadaku. “Kamu enggak membutuhkan ID itu.” Dia menunjuk ID pers di leherku. “Malam ini kamu duduk di bangku VVIP. Saya sudah menyiapkan tempat khusus untukmu. Boy akan menemanimu ke sana.”
“Jangan terlalu baik hati sama wartawan.” Aku mencoba bergurau.
Tapi, Calvin malah tidak terpengaruh gurauanku. Dia mendekatiku. Sebelah tangannya terulur menyentuh pipiku, lalu menyelipkan rambutku ke belakang telinga.
“Kamu bukan wartawan biasa. Kamu keajaiban dalam hidup saya.”
Ketika Boy, manajer Calvin, menggiringku menuju kursi VVIP, aku melepaskan ID Pers dari leherku dengan pipi menghangat.
*
2011
“You know what? I miss you.”
Calvin menyodorkan segelas wine ke padaku. Senyum hangat terukir di wajah bersihnya—dia jadi rajin bercukur sekarang. Ketika aku memerhatikannya lebih intens lagi, hasil olah tubuh di gym sudah terlihat jelas. Siapa pun yang melihatnya sekarang pasti tidak ada yang menyangka jika dia dulunya sangat kurus.
Gayanya masih sama, kasual seperti biasa. Tapi jangan harap menemukan kaus lusuh hasil berburu di Melawai di lemarinya. Setidaknya, Calvin sudah terbiasa bolak balik Topman atau Pull&Bear dan berbelanja sesuka hati di sana. Dia tidak perlu lagi adu urat leher dengan Joe, pemilik Brooke, yang suka mangkir membayarnya karena sekarang, dengan semua kesuksesannya, rekeningnya tidak akan pernah berhenti bertambah.
“Maaf, saya agak sibuk sekarang.”
“Agak?” Aku menaikkan sebelah alis. “Kamu sangat sibuk sekarang.”
“Tapi setidaknya saya masih punya waktu untukmu.”
Aku bangkit berdiri dari sofa merah yang kududuki dan pindah ke sofabed hitam tempat Calvin berbaring. Satu lagi perubahan yang dialaminya, dia tidak perlu lagi tinggal di indekos ala kadarnya dan menyewa apartemen mewah di Kuningan ini. Calvin juga memintaku untuk menemaninya mencari apartemen dan mendekorasinya.
Setelah dua tahun berlalu, perlahan tapi pasti, kami berhasil menanggalkan hubungan wartawan-musisi yang selama ini kami jalani. Tidak jarang, di sela kesibukannya, Calvin menghubungiku—even a simple text message. Atau aku yang menghampirinya di studio. Atau kami akan berakhir di sini, di apartemennya, di sofabed yang menghadap ke dinding kaca yang menghamparkan pemandangan malam di Kuningan, dengan gitar cokelat yang sesekali dipetik Calvin.
“Bagaimana album keduamu?” Aku merebahkan tubuh di sisi Calvin. Lengannya yang sekarang berotot itu dilingkarkan di leherku, membuatku menempel erat di sisi tubuhnya.
“Masih sibuk diskusi dengan Jake. Saya beruntung Jake dan yang lainnya membebaskan saya berkreasi semampu saya.”
“Aku yakin album keduamu akan sesukses album pertamamu. Mau diberi judul apa?”
“Belum tahu.” Calvin meremas pundakku pelan. Aku menengadah, menatapnya, dan mendapati dia sedang menyengir lebar. “Sepertinya Ella bagus juga.”
Aku meninju perutnya, refleks. Sedetik aku sempat terpana merasakan gerakan otot di perut itu. Aku tidak menyangka jika efek gym bisa sedahsyat ini. “Jangan membuatku besar kepala.”
Calvin mengecup puncak kepalaku. “Sudah saya bilang, kan, kalau kamu itu keajaiban? Dan, keajaiban harus diabadikan. Ella, nama itu cocok untuk judul album kedua.”
Aku tergelak. Mungkin Calvin tidak tahu, bahwa aku juga menganggap kebersamaan ini, kedekatan yang terjalin tanpa pernah kami rencanakan sebelumnya, juga berupa keajaiban untukku. Kuangkat kepalaku hingga sejajar dengannya. Tanpa bersuara, aku menciumnya.
Dia benar. Keajaiban ini memang harus diabadikan.
*
2012
“Saya tidak pernah menyangka, dalam waktu sesingkat ini, saya berkesempatan tampil di hadapan penggemar saya di luar Indonesia. Ini benar-benar keajaiban.”
Aku tersenyum kecut saat membaca kata keajaiban di artikel yang sedang kuedit itu. Bahkan, keajaiban pun tidak bisa bertahan lama.
Tidak ada nama Ella di album kedua, berganti nama Calvin Ryan. Aku tidak mempermasalahkannya. Toh, obrolan malam itu tidaklah serius. Yang aku permasalahkan hanyalah aku tidak lagi mengenal Calvin.
Album keduanya sukses. Tawaran tur kian menjadi-jadi, bahkan tur Asia sudah dijalaninya. Dia juga mendapat kesempatan berduet dengan penyanyi asal Filipina. Sebuah pencapaian yang mengagumkan.
Namun, aku harus membayarnya dengan hatiku. Calvin tidak ada lagi untukku. Pesan singkatku tidak pernah berbalas. Teleponku seringkali menemui mailbox. Ketika aku menghampirinya, entah di apartemen atau studio, Calvin menanggapiku dengan dingin. Alasannya selalu sama: sibuk.
Entah kapan perasaan ini dimulai, tapi perlahan-lahan, aku mulai merasa kehilangan Calvin. Perlahan tapi pasti, hubungan kami kembali menjadi wartawan-musisi. Hubungan profesional. Aku lebih sering berhubungan dengan Boy untuk mengetahui kabar terbarunya. Aku terpaksa kembali mengalungkan ID Pers di leherku untuk bisa melihatnya, itu pun dari jarak jauh, karena aku terpaksa berbaur dengan wartawan lain. Tidak ada lagi priviledge ke backstage atau kursi VVIP. Entah bagaimana mulanya, kerenggangan ini mulai membuatku sedih.
Seperti malam ini, aku merindukannya. Tapi, aku tidak bisa datang begitu saja ke apartemannya hanya untuk mengatakan betapa aku merindukannya.
Aku memutar kursiku dan berhadapan dengan dinding luas yang ditempeli poster musisi yang mengawali karirnya dari private gig Music Daily. Di salah satu poster itu ada Calvin. Calvin yang kurus dan cenderung kumal. Namun, dia tersenyum hangat. Senyum yang dulu membuatku jatuh cinta. Namun sekarang tidak ada lagi senyum itu.
Perlahan tapi pasti, aku kehilangan Calvin.
*
2013
Pada awalnya, sebuah hubungan dimulai dengan bertemuanya dua orang asing. Dan pada akhirnya, akan kembali menjadi orang asing.
Aku melangkahkan kaki memasuki JCC. Tidak lupa, ID Pers di leherku. Malam ini adalah malam Anugrah Musik Indonesia. Tentu saja, Calvin masuk di beberapa nominasi, solois terbaik, lagu terbaik untuk lagu Trouble City, dan album terbaik untuk album ketiganya, Trouble City. Sebenarnya, aku tidak harus turun tangan langsung meliput acara ini. Namun, aku sedang berjudi dengan keberuntungan. Juga keajaiban.
Aku ingin bertemu Calvin.
Setelah semua pesanku tidak terbalas, dan teleponku yang tidak diangkat, dan aku yang sudah bosan hanya bisa menghubungi Boy dan tahu bahwa Calvin baik-baik saja, aku memutuskan untuk berbuat nekad. Mencari celah untuk bisa bertemu dengannya.
Aku tidak perlu tahu apakah Calvin baik-baik saja. Kemunculannya di media massa sudah cukup memberitahuku bahwa dia baik-baik saja.
Yang aku ingin tahu, apakah dia masih menganggapku keajaiban dalam hidupnya?
Masihkah dia mencintaiku?
Aku melambai ke beberapa artis yang kebetulan kukenal. Sesekali aku bertegur sapa dengan musisi yang kukenal. Meski begitu, mataku terus berkelana mencari sosok yang memakai knit cap.
“Calvin…”
Teriakan itu mengagetkanku. Aku berbalik dan melihat Calvin sedang melintas di red carpet. Dia sendirian. Dia masih sama. Knit cap abu-abu, kaus putih, jaket kulit, dan jins robek. Rambut keritingnya masih mengintip di bawah knit cap. Dia melambaikan tangan, menyapa penggemarnya yang memadati red carpet. Dia tak henti-hentinya tersenyum.
Tapi, senyum itu tidak sama seperti yang kulihat dulu. Ketika kami bertukar sapa di Brooke.
Ketika Calvin melangkah mendekati pintu masuk, aku berbalik dan berjalan menghampirinya. Kami berpapasan di dekat pintu. Tidak kusia-siakan kesempatan itu. Aku tersenyum semanis mungkin. Sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menghambur ke pelukan Calvin.
“Cal…” sapaku.
Calvin tersenyum. “Hai, Ella.”
Aku terpaku. Hanya itu? Tidak ada sapaan antusias, ciuman di pipi, atau sekadar pelukan ringan? Hatiku mencelos menyadari bahwa tidak ada lagi binar bahagia di mata Calvin ketika bertemu denganku.
“Ella, saya buru-buru. See you again, later.” Dia memaksakan diri untuk tersenyum. “Bye, Ella.”
Lama aku terpaku di tempatku. Aku menatap punggungnya yang menjauh, berbaur dengan temannya sesama public figure, dan menghilang dari hadapanku diiringi teriakan para penggemarnya.
Detik itu aku menyadari satu hal. aku telah kehilangan Calvin. Begitu saja.
Sambil menahan geram bercampur kesedihan, aku membuka ID pers milikku, membantingnya ke lantai, dan berlari keluar dari gedung ini.

Sekarang, keajaiban itu benar-benar sudah hilang.

[Indonesian Romance Reading Challenge] #31 London: Angel - Windry Ramadhina

London: Angel
Windry Ramadhina




Gilang, yang tanpa sadar mencintai sahabatnya sejak kecil, enam tahun atau mungkin lebih, memuruskan berbuat nekad sekaligus gila: menyusul Ning ke London, kota tempat sahabatnya itu sekarang tinggal dan bekerja, sebagai kurator di Tate Modern.
Tapi, kedatangan yang mulanya ditujukan untuk kejutan itu berubah bencana karena ketika Gilang sampai di depan rumah bercat biru di Colville Place, Ning enggak ada. Gilang pun pergi ke Windmill Street, ke sebuah penginapan bernama Madge, tempatnya menginap. Dia hanya punya waktu lima hari di London, dan Gilang harus memanfaatkan waktu yang singkat itu untuk memberitahu Ning tentang perasaannya.
Selama lima hari, Gilang enggak hanya bertemu Ning. Dia belajar banyak dari orang di sekitarnya. Cowok dengan senyum menyebalkan mirip tokoh di balik topeng Guy Fawkes yang dia sebut V, juga istrinya, pelayan campuran Inggris-India, Ed, Madam Ellis yang berhati dingin dan berwajah masam, si pria kikuk pemilik toko buku, Lowesly, pematung mirip Ethan Hawke yang dia sebut Finn, cewek Indonesia maniak buku yang ngejar sampai ke semua tokok buku di London edisi pertama Wuthering Heights, dan, yang enggak diduga-duga, gadis cantik berambut cokelat ikal dengan mata biru, gadis yang kecantikannya terlalu sempurna untuk jadi manusia, yang selalu datang ketika hujan dan pergi ketika hujan reda dan meninggalkan sebuah payung merah. Dia panggil, Goldilocks.
London: Angel. Windry mengajak kita berkeliling kota klasik yang anggun itu dengan sebuah paying merah.
I love England. I love The Beatles, OASIS, Arsenal, David and Victoria Beckham, Sting, JRR Tolkien, Theo Walcott, Benedict Cumberbatch, Richard Armitage, Aidan Turner, Arctic Monkey, Alex Turner, Alexa Chung, Jake Bugg, Sherlock Holmes, Douglas Booth, One Direction, English Premier League, Lady Di. Intinya, London adalah salah satu kota kesukaan gue meski masih ada di angan-angan aja bisa ke sana.
Gue juga menggemari tulisan Windry Ramadhina.
Mendapati Windry dan London jadi satu? Double attack.
I love this book. Meski nasibnya sama kayak Montase, alias enggak bisa menggusur Memori dari the best book from Windry di otak gue, at least buku ini page turner banget. Cara nulisnya Windry—as usual—juara. Gue enggak usaha ngebahas isi ceritalah, ya. Semua yang kenal tulisan Windry pasti tahu kalau cerita biasa di tangan Windry bisa jadi luar biasa. Bab awal langsung disuguhi bromance yang kental banget dan bikin gue ngakak. Then, we go to London.
Karakterisasi? Duh, Windry, sih, udah juara soal karakterisasi. Enggak ada sifat menonjol yang bikin Gilang ini wah banget. Dia biasa aja kayak cowok kebanyakan. Membumi. Mungkin ini yang bikin Gilang jadi lovable. Gue suka karakternya yang pecinta buku dan banyak tahu tentang buku. pengin, deh, bisa ngobrol langsung sama Gilang. Pasti, deh, kita enggak akan kehabisan bahan obrolan, hehe *pede jaya*. Sifat gampang teralihkannya Gilang juga bikin dia keliatan makin membumi. Toh kita semua kayak gitu, kan? Gampang banget kedistract dan lupa sama tujuan awal.
Sifat inilah yang membawa Gilang juga kedistract sama Goldilocks di saat seharusnya dia mencari atau bersama Ning. Karena dari awal diceritain sifat ini, semuanya realistis.
Dan, sama seperti Montase, kali ini Windry juga jadi cowok. Menurut gue, Windry lebih luwes ketika jadi Gilang ketimbang Rayyi.
Deskripsinya udah pas menurut gue. Gue enggak tahu, apa karena deskripsi Windry yang benar-benar pas atau ketika baca gue dengerin Jake Bugg dan sesekali menatap poster Benedict Cumberbatch dan Martin Freeman, juga karena gue abis jalan dan masih make baju bergambar bendera Inggris, makanya feel London-nya dapet banget. Tapi, gue acungi jempol deskripsi tempatnya. Detail dan enggak ngebosenin. Meski ceritanya cuma lima hari, tapi padet banget. Enggak cuma tentang Gilang, tapi juga tentang orang lain di sekitar Gilang.
Dan, ya, gue pengin naik London Eye bareng Kak Ben sambil dengerin iPod dengan headset di telinga masing-masing. Lagunya, Wonderwall (Oasis), atau Here, There, and Everywhere (The Beatles), atau Country Song (Jake Bugg) *ngayal*.
Sebenarnya, gue masih butuh penjelasan tentang Goldilocks. Tapi… secara kisah Gilang sudah ditutup dengan manis, gue enggak mau mikirin si Goldilocks ini, hihi.
Satu lagi yang agak mengganjal, Gilang bisa move on secepat itu. Emang, sih, dia minta waktu, dan ketika bertemu Ayu pun belum tentu dia bisa barengan Ayu. Tapi, seenggaknya dia mencoba untuk terus maju. Tapi, setelah dipikir-pikir, enggak apa-apa juga kayak gitu. Gue, sih, mikirnya kita enggak tahu apakah Gilang beneran move on atau masih mencoba. Gue rasa adegan penutup cukup realistis. Gilang mencoba untuk terus maju. And the rest of history? Tanyakan saja pada Windry gimana nasib Gilang sepulang dari London, hihi.
Ada satu hal yang pengin gue tanyain. Gue curiga Windry ini Ringers juga. Secara ada adegan becandaan bawa-bawa Isengard dan Helm’s Deep, juga ketika Gilang nyamain London kayak Mordor dan dia mirip Frodo yang enggak bisa lagi ngebayangin yang indah-indah di Shire, juga ada goblin dan orc. Bisa juga, sih, karena ini London dan Tolkien, kan, dari Inggris. Tapi, kalau Windry beneran Ringers juga, gabung di Eorlingas yuk, Kak #eaaaa.
Ini seri STPC kedua yang gue baca—masih utang tujuh STPC lagi—dan perbandingan gue cuma Bangkok. Sorry to say, I love Bangkok than London.
Tapi, overall, gue puas, kok, dengan buku ini. Saran gue, ketika baca, lengkapi diri dengan nuansa Inggris lain seperti yang gue lakuin. Lebih syahdu, hihi.


Thursday, July 25, 2013

[Indonesia Romance Reading Challenge] #30 Stasiun by Cynthia Febrina

Stasiun
Cynthia Febrina
 




Ada dua orang, cewek dan cowok, yang dengan alasan masing-masing memilih kereta api sebagai sarana transportasi utama dari dan ke kantor. Mereka menyelami apa saja yang ditemukan di stasiun. Adinda dan Ryan. Ryan si jomblo yang masih tinggal bareng ibunya. Adinda yang masih saja patah hati karena ditinggalkan tunangannya.
That’s it? Yup.
Dari blurbnya, sih, gue memiliki ekspektasi kalau Adinda dan Ryan ini enggak sengaja ketemu di stasiun lalu terjalin chemistry, jatuh cinta sembari memperhatikan kehidupan di stasiun, that’s it. Gue langsung ngebayangin ala-ala Before Sunrise gitu, deh.
Nyatanya? Gue enggak ngerti ini buku intinya apa. Oke, pointer-pointer aja, ya, biar cepat.
1. Buku ini konsepnya apa? novelkah? Well, gue enggak yakin ini novel karena alurnya enggak jelas dan timelinenya kabur. Udah gitu enggak ada interaksi antar kedua tokoh utama. Kedua tokoh saling berdiri sendiri, mengamati keadaan sekelilingnya sendiri-sendiri, punya kisah sendiri, that’s it. Gue ngerasa ini lebih cocok jadi kumpulan cerpen gitu karena memang setiap bab berdiri sendiri. Enggak ada kontinuitas antarbab.
2. Karakteristik enggak jelas. Ryan ini bekerja di bidang desain di perusahaan telekomunikasi. Pelukis juga. Punya studio juga, yang mengakomodir kebutuhan pelukis jalanan di Bogor. Wartawan juga. Wow, banyak banget, ya, waktunya si Ryan ini. Terus, dia bisa bikin studio padahal ngeluh aja gitu kalo banyak yang minjem duitnya tiap bulan, bahkan hampir setengah gajinya. Jadi orang, kok, ya kelewat baik gitu. Udah gitu tiba-tiba di bagian menjelang akhir ternyata si Ryan ini dulunya miskin. Duh, karakternya enggak jelas banget. Adinda juga. Sifatnya enggak jelas. Sebagai banker dan jam 7 masih tidur di Bogor sementara kantornya di Sudirman, baru berangkat jam 8 dari Bogor? Gue penasaran sama bank yang bebas banget gini waktunya.
3. No chemistry. Kalau memang ini cuma membahas pengalaman Adinda dan Ryan yang berdiri sendiri, it’s okay. Tapi, karena ini novel romance, jadi mereka bertemu. Mereka bertemu di halaman 121 dari 160 halaman. Wow. Sebelumnya ke mana aja? Udah gitu, langsung yakin udah jatuh cinta. Cepet banget dan enggak ada adegan yang bisa membangun chemistry. Oh my… Terhitung, dalam satu buku, ada kali Cuma tiga scene mereka berinteraksi. Itu pun cuma sekilas. Again, oh my…
4. Bahasa. Gue serasa baca salah asuhan. Seriously, bahasanya kesannya jadul gitu. Mungkin maksudnya biar berima gitu, kali, ya, tapi gue bacanya eneg. Trus ada yang bikin gue ngerasa ini novel angkatannya Marah Rusli banget. Di suatu pagi ketika Adinda ketemu pasangan suami istri yang udah tua. Okelah bahasanya Marah Rusli banget, ya, karena pasangan itu udah tua. Tapi, bahasa narasi Adinda dan Ryan yang mendayu-dayu bikin gue serasa dilempar ke era NH Dini dulu. trus juga percakapan Adinda dan Sasha, sahabatnya. Seumur-umur enggak pernah gue ketemu sahabatan yang deket banget kayak gini tapi ngomongnya resmi banget dan kesannya jadul gitu. Oh my… Kesannya jadi enggak real.
5. Terlepas dari semua hal gaje itu, gue cukup bisa menikmati suasana stasiunnya, juga obrolan yang enggak sengaja mereka dengar. Menyoroti isu sosial, sih. Cuma, ya, kalo dipikir-pikir hal ini bikin novel ini makin enggak jelas tujuannya apa.
6. Editan oke. Enough said.
Well, untuk anak commuter kayak gue lumayanlah baca novel ini biar enggak suntuk di kereta. Tapi, enggak kayak Adinda, gue mah emoh ketagihan naik ekonomi, hahaha.