Sunday, March 31, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #14 Remember When


Setiap orang memiliki momen-momen remember when yang tidak terlupakan; kenangan yang akhirnya tersimpan rapi dalam kotak memori, saat-saat bermakna yang sesekali akan kita putar kembali untuk dikenang – Winna Effendie

Remember When
By Winna Efendi


Sebenarnya sudah tahu buku ini sejak lama, termasuk buku Winna yang lain, Refrain. Cuma nggak minat aja bacanya. Pertama, karena teenlit dan minat baca teenlit udah nggak ada. Kedua, pengalaman pertama bersama Winna nggak begitu bagus. Buku pertama yang dibaca adalah Ai dan itu nggak terlalu gue suka. Sampai akhirnya karena lagi nulis teenlit direkomenin baca buku ini. Setelah pinjam dari Adit dan baca ternyata bukunya bagus juga.
Remember When bercerita tentang dua pasangan, Adrian dan Gia, serta Moses dan Freya yang saling sahabat, plus satu sahabat sejak kecil Freya, Erik. Mereka sudah dua tahun pacaran. Moses + Freya ini beda banget dengan Adrian + Gia. Moses + Freya bisa dibilang membosankan banget pacarannya, nggak kayak Adrian + Gia yang berwarna. Namun, suatu saat mereka merasa perasaan mereka berubah. Nggak semua sih, cuma dua orang aja. Mereka mulai mencintai pasangan sahabatnya tapi memendam karena selain menghargai sahabat masing-masing, juga karena adanya ikatan lebih di salah satu pasangan.
Intinya, buku ini bercerita tentang perasaan yang bisa saja berubah. Perubahan akan pasti terjadi, disadari atau tidak. Termasuk dalam cinta.
Ceritanya teenlit banget, termasuk dalam memahami tentang cinta. Bahwa cinta adalah segalanya. Cinta si nomor satu. Ya namanya juga remaja, nggak mikir apa-apa. Termasuk ketika cinta berubah di saat sedang bosan. Sampai sekarang gue merasa kalau cinta di kala jenuh hanya cinta sesaat makanya agak nggak sreg dengan ending novel ini.
Gaya penceritaan Winna yang sempat bikin gue mengerutkan dahi di Ai nggak terjadi di sini. I enjoy this book. Winna memakai POV 1 dari lima tokoh and she did it. Dia berhasil melakukan perpindahan POV dengan sangat smooth dan perbedaan karakter kerasa banget. Tanpa ditulis nama pun, kelihatan Gia dan Freya itu beda. Ya yang paling mencolok adalah Adrian sih dengan ‘gue’ yang santai. Masalahnya, gue nggak pernah suka baca cerita dengan ‘gue’ dan prefer aku jadi ya agak-agak gitu sama Adrian.
I love Moses. Si kaku pintar yang lurus-lurus lempeng. Kesannya cool. Untung nih ya Moses cuma ketua OSIS, nggak anak basket juga—diwakilin sama Adrian. Soalnya gue males baca teenlit karena cowoknya biasanya sempurna. Semua yang oke-oke diborong, ya pintarlah, ketua OSIS, anak basket, semua diembat sama si tokoh utama. Membaca Moses bikin gue ingat sama Donny, kakak kelas gue yang ketua OSIS. Dan gue bayangin Moses kayak Donny hahaha *yess, ini salah satu momen remember when waktu SMA haha*
Yang nggak gue suka itu Gia. Menurut gue dia cemen. Udah tahu Adrian nggak cinta lagi sama dia, masih aja pura-pura buta dan pertahanin Adrian. Gue suka sama Moses yang legowo melepas Freya. Tapi iya sih, karena Gie ngerasa they will be forever and for always gara-gara mereka pernah making love. kalau di kisah dewasa mungkin akan sebodo amat kali ya si Gia tapi buat anak SMA memang berat sik. So, star away from sex ya adek-adek.
Mungkin tema ceritanya biasa tapi gaya penceritaannya juara. Itulah nilai tambah novel ini.
Jika boleh menyarankan, I hate ending. Duh, kok ya sinetron banget gitu sik? Okelah ya kalau mau bikin Adrian dan Freya bersatu, tapi kenapa harus bawa-bawa Moses? Gue paling nggak suka ending dengan bantuan orang lain kayak gini. Too good to be true. Nggak ada usaha sendiri. Karena ending ini, penilaian gue ke Freya drop.
Afterall, Remember When terbukti sukses mengobati kekecewaan gue karena baca Ai.
Saran gue, bacalah buku ini sambil dengerin Remember When dari Alan Jackson dan meningat-ingat momen remember when yang pernah terjadi dulu.

Friday, March 29, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #13 Kotak Mimpi

Kotak Mimpi
by Primadonna Angela




Primadonna Angela. Setidaknya namanya sudah menjadi jaminan sebuah novel. Kali ini gue membaca Kotak Mimpi, sebuah novel yang sudah agak lama.
Kotak Mimpi bercerita tentang Isabella Larissa, seorang pencipta lagu terkenal yang menyadari dirinya jatuh cinta pada manajernya sendiri, pria yang selama ini selalu ada untuknya dan membantunya bangkit dari saat-saat terendah dirinya, tapi juga dikenal sebagai Si Anti Komitmen, Arya. Namun di sisi lain, Bella juga bertemu kembali dengan Patrick Senjaya, model has been yang juga mantan pacarnya dan membuat Bella berada di titik terendah. Patrick memintanya menciptakan lagu untuk dibawakan duet dengan Noreen, si sosialita putri pemilik jaringan televisi terbesar, si perempuan plastik. Meski gondok, Bella menciptakan lagu untuk mereka di villa Noreen di Bali tapi anehnya, Noreen malah gencar mendekati Arya. Arya sendiri sikapnya juga aneh. Ketika baru saja Arya dan Bella mengungkapkan isi hati mereka, tiba-tiba ada berita yang mengejutkan keduanya dan membuat Bella kembali drop.
Well, ceritanya seru sih—dengan latar belakang musik yang kebetulan pas banget karena sekarang gue juga lagi nulis novel berlatar musik—dengan gaya penceritaan Mbak Donna yang mengalir. Hanya saja, mungkin ini karena nama kali ya, I found that Bella is so gengges. Just like Bella Swan, the most gengges-ies girl I’ve ever met. Dan Isabella Larissa ini juga gengges. Bikin gemas karena sikap-sikapnya. Suka memikirkan yang nggak-nggak. Apalagi menjelang ending. Bukannya mencari penyelesaian, eh ini malah lari dan menimbulkan masalah baru. Meninggalkan Arya membereskan semuanya sendiri. Untung Arya cinta banget sama dia jadi mau-mau aja nyelesaiin masalah Bella. Bella juga suka menyimpulkan sendiri tanpa bertanya dan kesimpulan yang diambilnya itu cuma berdasar ke perasaannya. Seolah-olah dia cewek paling menderita sedunia. Come on, pengen gue jitak deh si Bella ini biar kuat dikit.
Gue memang sulit suka ke tokoh cewek yang oh-so-miserable dan hanya berharap bantuan dari orang lain atau kabur dari masalah. Bella memang nggak berharap bantuannya Arya, tapi dia kabur dari masalah.
Untung gaya penceritaan Mbak Donna begitu mengalir dan Arya yang gorgeus jadi gue bisa bertahan dengan sikap gengges Bella. Hanya saja endingnya terlalu cepat menurut gue. Ya itu tadi, Bella nggak usaha apa-apa untuk menyelesaikan masalahnya. Kalau boleh memberi saran, akan lebih bagus kalau tiba-tiba Bella berjuang melawan Noreen-Patrick. Nggak capek apa seumur hidup menderita gitu? Lagian, ini nama besar dia loh yang rusak, masih aja nggak mau speak up. Malesin banget deh si Bella ini, hihihi. Biasanya, seseorang akan memiliki kekuatan begitu saja, kekuatan yang selama ini terpendam, ketika berada di saat terdesak? Well, Bella nggak tuh. Dia malah diam bersembunyi. Untung aja Arya benar-benar cinta sama dia jadi Arya balik ke dia.
Well, mulai saat ini gue nggak akan mau memakai nama Bella untuk karakter gue karena sepertinya kata Bella sudah bersinonim dengan kata gengges *lol*

Thursday, March 28, 2013

[review buku] Chasing Harry Winston

Chasing Harry Winston
Lauren Weisberger



Terhitung sudah dua bulan lebih gue menyelesaikan buku ini tapi entah kenapa baru bisa membuat reviewnya sekarang. Saking kerennya buku ini, gue sampai speechless begitu menutup halaman terakhir.
Lauren Weisberger. I know her from the movie, The Devil Wears Prada. First movie who make me into fashion magazine dan nggak pernah bosan ditonton. Karena film ini gue tahu tentang Lauren dan penasaran. Anehnya, gue belum baca buku ini *menatap nanar di antara tumpukan buku lainnya* tapi penasaran dengan buku Lauren yang lain.
Begitu punya Chasing Harry Winston, gue pun menjadikan buku ini sebagai teman di perjalanan. Dan gue sukaaaaaa banget dengan cara menulisnya Lauren. Detail, dengan perpindahan scene yang smooth, even adegan flashback. Dialog-dialog cerdas yang memperkaya narasi Lauren.
Chasing Harry Winston bercerita tentang tiga sahabat, Adriana, Emmy, dan Leigh yang di suatu malam berjanji akan melakukan perubahan berarti di hidupnya sebelum tahun baru. Emmy yang baru putus memutuskan untuk having fun with every guy she met on every continent for some no-string fun. Sedangkan si sosialita Adriana memutuskan untuk settled down bersama pria yang bisa menjanjikan masa depan untuknya. Adriana berani menjamin sebelum tahun baru, she’ll secure a five-carat Harry Winston diamond on her fourth finger. Terakhir Leigh. She has a perfect life. Perfect career as a senior editor and perfect boyfriend and also bride-to-be. Anehnya, si Leigh ini malah merasa hidupnya paling melarat. Dia nggak tahu apa yang ingin dia ubah di hidupnya sampai akhirnya bertemu Jesse Chapman, si penulis, dan membuat Leigh mulai mengubah pola pikirnya.
Lalu, apakah mereka berhasil melewati taruhan ini? I think so, tergantung dari segi mana kita melihatnya. Emmy memang melakukan niatnya untuk hook up with stranger di setiap negara yang dikunjunginya sebagai kompensasi atas monogami yang dilakukannya selama ini and it didn’t end well. But in the end, she still Emmy and always be Emmy. Meski menjalani no string attached seperti itu, in the end she needs someone to settle down with her. Juga Adriana, si social butterfly yang menancapkan panahnya di Tobias, sutradara ternama. Hubungan mereka berlangsung sempurna dan karena Tobi, Adriana menemukan pekerjaan yang tepat untuknya dan terkenal. Tobi memang mengajaknya ke Harry Winston, tapi bukan untuk cincin, melainkan…. No spoiler haha. Adriana berhasil mengubah pola pikirnya yang selalu senang-senang hura-hura buang-buang duit menjadi lebih bertanggung jawab. Last, Leigh. I don’t know. I don’t like her. I mean, she has a very perfect life but she always act like she never excited about her perfect life. Seolah-olah dia yang paling menderita. True bitch. Dan Leigh yang memutuskan tunangannya yang hidupnya lurus banget itu demi Jesse, entahlah, gue nggak sreg.
I always love story about the girsl and their life. Lika liku kehidupan perempuan metropolitan itu nggak bakalan abis dikulik, dan Lauren berhasil menggambarkan kehidupan New Yorker girls yang penuh keglamoran and veryyyyyy fabulous. Menurut gue, cerita Chasing Harry Winston lebih kaya dibanding The Devil Wears Prada. Tapi buku ini nggak cocok dijadikan film, melainkan serial bakalan bagus. Akan jauh lebih hip ketimbang Sex And The City. Yup, I also love Candace Bushnell tapi setelah mengenal Lauren, gue memutuskan Lauren is my hero hahaha.
Oh ya, membaca novel ini membuat gue kembali teringat keinginan lama yang telah terpendam, yaitu membuat cerita tentang The Girls. Pray for me moga-moga niat ini segera terlaksana.
Satu lagi yang gue suka dari Lauren adalah cover. Latar putih dengan gambar high heels adalah ciri khas Lauren. Kali ini high heels hijau yang menginjak cincin Harry Winston. Glamour and sexy and fabulous at the same time.
Now, I am reading Lauren’s forth novel, Last Night at Chateu Marmont. And it’s sooooooo cool (meski gue belum yakin kapan akan baca The Devil Wears Prada. Mungkin sebelum sekuelnya terbit juni ini, Revenge Wears Prada). Sekarang, novel Lauren yang belum gue punya cuma satu, Everyone Worth Knowing.
The Devil Wears Prada dan Everyone Worth Knowing sudah ada terjemahannya tapi gue nggak tertarik. Novel aslinya tebal tapi kok terjemahannya agak tipis? Gue pesimis banyak detail yang dicut padahal itu yang bikin gue betah baca novel Lauren. Lagipula, baca versi Inggris lebih membuat gue dekat dengan Lauren, hihi.
So, who is the one that will give me a five-carat Harry Winston diamond?

Wednesday, March 27, 2013

[Sneak Peak] ready For Tiffany 2

{S: Melanjutkan post sebelumnya, kali ini dengan tokoh berbeda. Baca kisha Amanda di sini


Brit
The most eligible bachelor? Bagi seorang Brit, syaratnya sangat gampang. Dia haruslah memiliki husband material yang mencakup 4M alias mapan, menarik, matang, dan mahir. Mapan itu sebuah hal mutlak. Hidup makin susah, honey, jadi harus mencari someone yang bisa menjamin ketenangan sehari-hari. Menarik is a must. Apalagi bagi seseorang yang selalu tampil sempurna sepertiku. Malu dong jika pasanganku biasa-biasa aja? Ketiga, matang. Well, meski pacarku saat ini, Johan, lebih muda dua tahun dibanding aku, I prefer the old one. Pria yang matang dalam kedewasaan itu menempati definisi seksi terbaru versiku.
Terakhir, mahir. Masih banyak spekulasi tentang hal ini. Mahir bisa dalam hal apa saja. Dia harus mahir alias pintar sehingga bisa menjawab apapun pertanyaan anakku kelak. Dia harus mahir dalam bersikap alias nggak malu-maluin. And he must be good in bed. Suami itu investasi jangka panjang sehingga harus benar-benar dipastikan dia bisa memuaskanmu sepanjang masa. Nggak mau kan punya suami yang daya tahannya hanya sebentar?
Rugi.
And if you ask me, have I found Mr. Right? Not yet. Selalu saja ada kurangnya di mataku. Belum ada satupun mantan pacarku yang memenuhi keempat kriteria ini. Inilah yang membuatku selalu berganti dari satu pria ke pria lainnya. Bukannya bermaksud untuk mempermainkan perasaan pria-pria itu, hanya saja aku sedang dalam proses mencari. Tidak ada salahnya mencari sekian lama, bukan? Daripada memilih pria yang salah. Penyesalannya akan ditanggung seumur hidup.
Aku tertawa pelan. Jarum jam belum menunjukkan pukul sepuluh tapi pikiranku sudah melantur kemana-mana. Ini pasti gara-gara pembicaraanku dengan Amanda, juga macet yang menjebakku pagi ini. I need something untuk mengalihkan pikiran dari keinginan mengumpat mobil di depanku.
Kalau saja Romeo, produser Bachelor & Bachelorette, tidak mendesakku selama tiga bulan ini untuk menjadi guest star di acaranya, aku tidak akan mau duduk di sofa merah yang menjadi ciri khas acara tersebut. Aku pernah berkata, di salah satu ladies night antara aku, Amanda, dan Tika, bahwa hanya lajang desperate yang dengan senang hati mempertontonkan kelajangan mereka di stasiun televisi nasional tersebut. Hanya kaum single yang denial dan menganggap no problem dengan status mereka yang bisa tertawa di acara tersebut. Namun aku terpaksa menjilat ludahku sendiri. Aku pun mengangguk di depan Romeo.
Kuabaikan cercaan Amanda dan rolling eyes Tika ketika memberitahu mereka tentang keputusan ini. Bukan berarti aku menerima tawaran ini tanpa syarat. Malah syarat yang kuajukan sangat banyak.
Pertama, I’m not alone. Aku tidak ingin selama satu jam hanya aku satu-satunya tamu di sana. Kedua, aku ingin bintang tamu lain memiliki kapasitas yang sama denganku—succes and famous. Ketiga, aku hanya akan berbicara sesuai kapasitasku sebagai fashion consultant, yaitu memberikan tips bersikap dan berpenampilan bagi para single ladies. Well, tidak mencerminkan lajang desperate bukan?
Aku membelokkan mobil ke kawasan SCBD, tempat studio Prime TV berada. Tidak berapa lama, aku masuk ke pelataran parkir sebuah gedung yang didominasi warna biru. Petugas valet menyambutku. Well, aku tidak pernah berdamai dengan tempat parkir sehingga keberadaan petugas valet sangat membantu. Setelah melirik tampilanku di kaca, memastikan riasanku masih di tempatnya, aku membuka cat eye sunglasses dan turun dari BMW X3 milikku. Aku menyerahkan kunci mobil ke petugas valet dan melangkahkan kaki di lantai putih gedung Prime TV.
Ketika sedang menunggu lift yang akan membawaku ke lantai 15 datang, aku menghabiskan waktu dengan mengecek media sosial yang kupunya melalui ponsel. Sosialisasi sudah menjadi nama tengahku, baik di dunia nyata ataupun maya. Tidak mengherankan aku banyak memiliki kenalan. Beberapa berlanjut ke tahap yang lebih dekat ketimbang kenalan. Sebagian menjalin hubungan yang serius denganku. Hanya saja, terkadang aku merasa sepi. Seperti saat ini, ketika aku menunggu seorang diri. Tidak jarang aku mempertanyakan statusku. Mungkin bagi mereka yang mengenalku, mereka merasa aku baik-baik saja. Namun aku tidak baik-baik saja. Dalam sendiriku, sering aku membayangkan kehadiran pasanganku.
But, where is he? I don’t know. Tika bilang aku terlalu pemilih. Amanda bilang aku terlarut dalam permainan gonta ganti pasangan yang kujalani selama ini. They’re wrong. I’m still looking for the right guy to spend the rest of his life with me. Banyak yang bilang Johan cocok untukku. Dia memang mengerti aku sepenuhnya tapi aku benci dengan sikap childish dia yang menuntut perhatian 24 jam penuh. Hei I’m his girlfriend, not his babysitter.
Ketika mengajukan taruhan itu, sedikitpun aku tidak memasukkan nama Johan ke dalam daftar ‘pria incaran’. Aku tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan bayi besar seperti dia.
But, who? Itulah pertanyaan yang masih mengganjal di benakku. Tidak ada calon sama sekali. Semalaman aku membongkar kontak pria yang kupunya namun semuanya membuatku mengerutkan dahi.
“Are you coming or not?”
Panggilan singkat, sekaligus sentuhan ringan di lengan yang kulipat di depan dada, menyentakku. Aku menoleh ke segala penjuru sebelum akhirnya menyadari yang berbicara kepadaku adalah pria dengan stelan jas hitam dan pantofel mengilat yang berdiri di dalam lift.
Miss, are you coming or not? Lift ini udah berhenti lama menunggumu.”
Aku menelan ludah dan dalam hati mengutuk kebodohanku. Perlahan kulangkahkan kaki memasuki lift. “Thanks.”
Aroma pinus yang mengingatkanku ke pagi yang indah di pegunungan menyambut penciumanku saat pintu lift tertutup. Hanya ada aku dan si pria-berjas-hitam di lift. Tentu saja wangi itu menguar dari tubuhnya. Dengan gaya seelegan mungkin dan berusaha untuk tidak terlihat kentara, aku menoleh ke arahnya. Selayang pandang aku bisa menyematkan poin perfect untuk penampilannya. Terlepas dari stelan jas yang meneriakkan kata mewah itu, he has a good face. Wajah persegi dengan semburat biru di sepanjang garis rahang. Rambut hitam lurus yang dipotong tepat di atas tengkuk dan anak-anak rambut nakal yang mencuri keluar memberikan kesan baby face. Turun ke bawah, di balik jas itu, aku yakin ada bisep oke dan dada bidang yang enak untuk dijadikan sandaran.
Well, not bad. Terbiasa menilai penampilan orang dalam waktu singkat membuatku bisa melakukan penilaian menyeluruh hanya dalam satu lirikan.
Pintu lift terbuka di lantai 15. Pria-beraroma-pinus itu melangkah mendahuluiku, meninggalkan semerbak aroma pinus yang menenangkan. Aku sampai memegang pintu untuk menenangkan diri agar tidak mengejarnya dan mengajaknya berkenalan. Tidak dalam waktu secepat ini meski untuk unsur menarik, dia sudah memenuhinya.
“Welcome to Bachelor & Bachelorette Brittania Raya.”
Sapaan Romeo sontak membuatku mendengus. I hate it. Pertama, aku benci dia menyebutkan nama panjangku—nama yang membuatku harus menjadi bahan olok-olokan. Kedua, dia menyebutkannya tepat di saat aku muncul di depan studio dan semua orang melihatku. Ketiga, dia menyuarakan nama acaranya keras-keras dan itu kembali membuatku mempertanyakan keputusanku.
Namun atas nama profesionalisme, sekuat tenaga aku menarik bibir membentuk sebuah senyuman dan menyambut pelukan Romeo. Kalau saja di awal pertemuan kami dulu Romeo sudah memiliki body sebagus ini—dulu dia kurus kerempeng dan berambut gimbal—mungkin dia sudah menjadi salah satu mantan pacarku.
“How are you?”
“Fine,” sahutku malas. “Jadi, ada siapa aja bintang tamunya?”
Romeo menggandeng lenganku masuk ke makeup room dan mendudukkanku ke salah satu kursi. Segera saja seorang pria kemayu menghampiriku dan tersenyum lebar. Sementara si kemayu yang memperkenalkan dirinya sebagai Sunny mendandaniku—sesuatu yang tidak perlu karena makeup ku masih sangat sempurna—Romeo menarik kursi di sebelahku dan menyerahkan selembar kertas.
“Ini rundown-nya. Lo masuk di segmen keempat, segmen terakhir. Pertama ada Widhi Wijaya, online entrepreneur, dan di segmen kedua ada Benjamin Ardian, general manager Global Retail Group. Terakhir, ada lo.”
Aku mengangguk-anggukkan kepala sambil membaca kertas yang disodorkan Romeo. Pilihannya tidak mengecewakan. Setidaknya aku tidak disejajarkan dengan model atau bintang sinetron yang kebanyakan hanya mengandalkan tampang.
“Gue tinggal dulu, nanti gue panggil begitu session lo dimulai, okay?”
Sekali lagi aku mengangguk-anggukkan kepala dan mulai menilai hasil kerja Sunny. Not bad. Dia hanya menambahkan eyeshadow hijau ke kelopak mataku, agar serasi dengan tube dress hijau yang tergantung di belakangku. Rambut ikal panjangku diikat ala ponytail dengan poni disasak lalu dijepit di atas. Lumayan, tidak terlalu menor seperti halnya acara televisi pada umumnya.
Sunny menyerahkan tube dress itu kepadaku dan menggiringku ke ruang ganti. Segera saja aku melepas leather pants dan knit sweater yang kukenakan dan menggantinya dengan tube dress itu. Agak sesak di bagian dada sehingga aku harus menahan napas ketika memasangnya. Aku tergelak saat teringat Amanda yang selalu berkomentar iri setiap kali melihat dada penuhku dan membandingkannya dengan dada 32A miliknya. Hey, it’s my asset.
Ketika kembali ke meja rias, langkahku terpaku saat melihat pria-beraroma-pinus itu duduk di tempatku bersama Sunny yang sedang menyemprotkan face water ke wajahnya. Dari pantulan wajahnya di cermin, aku hanya bisa meneguk ludah melihat salah satu bukti kesempurnaan ciptaan Tuhan.
Hei, what’s up. Dari tadi kamu memperhatikan saya seolah-olah ingin memakan saya saat ini juga.”
Terguran itu membuatku menelan ludah dan memalingkan muka karena malu. Tidak biasa-biasanya aku tertangkap basah sedang menilai seseorang. Jangan bilang raut wajahku benar-benar menunjukkan bahwa saat ini yang ingin kulakukan hanyalah mendesaknya ke dinding dan menciumi bibir tipi situ.
Aku menegakkan pundak dan melangkah anggun mendekatinya. “Speaking of eat, kebetulan saat ini saya sedang lapar,” sahutku sekasual mungkin.
“Ada makan siang, darling. Kamu mau makan sekarang?” Tanya Sunny.
Aku menggeleng. “Nanti saja. Baju ini sudah terasa sesak.”
Tanpa sengaja pria itu ikut melirik ke arahku dan tatapannya terpaku di tubuhku. Membuatku merasa jengah.
“Watch your eyes, pervert,” seruku sambil mengibaskan tangan di depannya.
Alih-alih tersinggung, dia hanya tertawa. Ada lesung pipi kecil di pipi kirinya ketika dia tertawa, membuatnya tampak semakin menggemaskan.
Oh no, mengapa penilaianku sudah sejauh ini? Padahal dilihat dari sikapnya, pria ini sepertinya tidak terlalu menyenangkan.
“So, are you Brittania Raya?”
Ada nada mengejek di balik pertanyaan itu ketika dia menyebutkan namaku. Percayalah, tiga puluh tahun aku hidup dengan ejekan itu—blame my parents atas kreativitas mereka yang sangat berlebihan sampai-sampai menamai anak-anaknya dengan nama negara tempat kami dilahirkan. Aku cukup bangga dengan tulisan London di akte kelahiran, tapi selalu mengernyit sebal setiap kali membaca nama lengkapku.
Dan sekarang, pria yang baru bertemu hari ini dan tidak kuketahui siapa dia, ikut mengejekku. Sial.
Aku melemparkan tatapan terganggu ke arahnya. “Kalau memang iya, kenapa?”
Sekali lagi dia tertawa. Kali ini sambil memutar tubuhnya agar sepenuhnya bisa menatapku. Tindakannya membuat Sunny sebal tapi dia tetap bergeming sehingga Sunny harus mengalah dan berpindah posisi agar bisa menata rambutnya.
“Sejak lama saya penasaran denganmu.”
“Do you know me?”
“Everybody knows you.”
Jawaban singkat yang langsung membuatku melayang tapi sebisa mungkin tidak memperlihatkannya. Aku masih setia dengan ekspresi tergangguku.
“Saya selalu penasaran dengan arti namamu. Apa kamu terobsesi dengan Inggris, atau karena sikapmu yang seperti bangsawan Inggris.” Dia mendelik dan tersenyum simpul—tapi kuanggap itu sebagai ejekan, “atau ingin jadi Ratu Inggris?”
Dia sudah kelewatan. Detik ini, penilaian yang kusematkan padanya hancur begitu saja. Aku menyesal sempat berfantasi yang nggak-nggak tentangnya. Di mataku, he’s nothing.
“Untuk tahu jawabannya, kamu bisa bertanya ke orang tuaku,” jawabku ketus.
“Tawaran yang menarik.”
What? Apa maksudnya? Aku menatapnya tajam untuk membuatnya melanjutkan ucapannya, tapi pria itu hanya tertawa kecil dan menatapku dengan pandangan yang tidak bisa kuartikan. Anehnya, aku malah bergidik melihatnya. Seakan-akan dia cheese cake yang membuatku tidak bisa memalingkan mata padahal aku tahu aku tidak boleh terus menatapnya di saat sedang diet.
“Saya suka yang unik-unik dan menurut saya nama kamu unik.”
Aku mendecak sebal dan mengalihkan tatapan darinya. “Kalau saya unik, apa bedanya dengan isi museum?”
Sialnya, tawanya malah semakin menjadi-jadi. “Well, Brittania, in case you don’t know, museum itu berisi barang langka, bukan unik.” Dia menunjuk pelipisnya dengan telunjuk. “Think smart.”
Sial. Berani-beraninya dia mempertanyakan intelijensiku. Dia pikir aku seperti perempuan plastik pada umumnya yang tampil oke tapi tidak memperhatikan otak? Apa perlu aku menjejalkan ijazah master dari NYU ke hadapannya agar dia tahu aku tidak bodoh? Di kamusku, dianggap bodoh adalah kesalahan terbesar yang tidak pernah bisa kutolerir.
Namun, belum sempat aku membuka mulut untuk melawannya, Romeo sudah menghampiri.
“Benjamin, lima menit lagi giliranmu, and you, Brit…” Romeo menatap ke arahku, “Sabar sebentar lagi ya.”
Aku masih gondok, namun saat mencerna ucapan Romeo, dan menyadari siapa pria yang mengolok-olokku barusan, kurasakan duniaku berguncang. Benjamin Ardian, pria yang baru saja dinobatkan sebagai the most eligible bachelor oleh Cosmopolitan Indonesia.
Aku hanya bisa menganga menatap punggung Benjamin yang melaluiku.

Thursday, March 21, 2013

New Draft, New Playlist

Jadi, ketika beberapa hari yang lalu Mbak Yuska ngetwit SLAG: Single, Lonely, Aging's Girl Club, gue langsung kepikiran cewek-cewek berumur dengan segala problematikanya. Sebuah cerita klasik tapi nggak pernah bosan untuk dikulik. Lalu, setelah gelisah sepanjang malam gue kepikiran draft baru--untuk sementara kita kasih judul Ready For Tiffany--yang bercerita tentang tiga orang SLAG, hehehe.

Sekarang masih dalam tahap menggodok ide ini dan salah satu yang harus dipersiapkan adalah lagu pengiring untuk menjaga mood tetap berada dalam universe SLAG ini. Dari semua playlist yang gue bikin, ini playlist terbaik yang pernah gue bikin. Berisi 25 lagu, lama, baru dan dari berbagai genre. I love it dan makin nggak sabar buat bikin ceritanya.

Here they are:
1. Here, There, and Everywhere - The Beatles
2. Champagne Supernova - OASIS
3. You Don't Miss Your Water - Craig David (Untuk part Tika)
4. Edge Of Desire - John Mayer (perasaannya Amanda)
5. Gravity - John Mayer (soundtrack Brit dan Benjamin)
6. High - Lighthouse Family (Brit dan Benjamin)
7. Perfectly Lonely - John Mayer (perasaannya Brit)
8. Since You've Been Gone - Kelly Clarkson (Tika setelah putus dari Khrisna)
9. Someone To Love - Shayne Ward (Tika memutuskan untuk find new love)
10. Why - 98 degrees (Andre to Amanda)
11. Breathe Again - Sara Bareilles (Brit is leaving Benjamin)
12. Gravity - Sara Bareilles (Tika everytime she thinks about Khrisna)
13. Broken Vow - Lara Fabian (Amanda is leaving Lucas)
14. It's Not Goodbye - Laura Pausini (Brit to Benjamin)
15. Only One - Alex Band
16. Single Ladies - Beyonce (Ready for Tiffany)
17. The More You Ignore Me The Closer I Get - Morissey (Andre to Amanda/Khrisna to Tika)
18. Kiss Me - Ed Sheeran (Benjamin proposal)
19. Almost Here - Bryan McFadden ft Delta Goodrem ( Amanda to Lucas)
20. Come Home - One Republic ft Sara Bareilles
21. Thinking Of You - Katy Perry
22. Stay With Me - Colbie Caillat (Amanda to Lucas)
23. Out Of My Head - Fastball
24. Somewhere Somehow - Ami Grant ft Michael W Smith
25. I Won't Give Up - Jason Mraz

That's all.
Kebayang nggak moodnya kayak apa? Sebenarnya ada beberapa lagu yang not my type dan gue ilfil sama penyanyinya tapi bela-belain demi mood draft ini hihi

Friday, March 15, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #12 Running For Hope

Running For Hope
Dona Sikoembang



Pernah ada suatu masa ketika gue menggemari novel inspiratif. Masa ketika otak gue masih bisa diajak berpikir serius, hahaha. Ketika gue membaca bukunya Andrea Hirata, The Secret, A Long Way Gone, dan novel inspiratif lainnya. Masa ketika gue menyadari di balik nasib gue yang medioker, I’m lucky.
Beberapa tahun berselang, gue mulai melupakan buku-buku seperti itu dan kembali ke preferensi gue semula—romance, chiklit, fantasy, and something like that. Masa ketika gue membaca buku bukan hanya untuk memberi asupan gizi bagi otak, tapi juga menyenangkan hati. Dan gue penggemar buku-buku ringan yang seringkali membuat gue dipandang sebelah mata ini.
Namun sekarang gue kembali membaca buku inspiratif ini. The only reason is this is my friend’s book. Dona Sikoembang, penulisnya adalah teman SMA gue—anehnya waktu SMA kita nggak akrab. Mungkin sesekali saling bertegur sapa tapi nggak pernah konkow-kongkow bareng. Beberapa bulan lalu Dona menghubungi gue via inbox Facebook tentang naskahnya yang akhirnya diterbitkan oleh Bentang Pustaka. Yeai, happy for you girl. Yang lebih bikin happy, buku Dona terbit barengan dengan buku gue, Mendekap Rasa *promo colongan*.
Running For Hope. I loooove that cover. Warna lembut dengan gambar lemari penuh buku, benar-benar menggambarkan isi buku. Running For Hope menceritakan tentang Amonna Permata, si pecinta pendidikan yang begitu mendambakan bisa kuliah di UI tapi karena keterbatasan ekonomi, Monna harus merelakan mimpinya. Dia bekerja apa saja demi membantu perekonomian keluarga. Di awal-awal kita disuguhkan dengan Monna yang masih berkeras mewujudkan impiannya sampai akhirnya dia tiba di satu titik bernama titik realitas. Titik yang tidak akan membawanya ke UI dan memutuskan untuk menjalani hidupnya day by day. Monna pun berpindah-pindah kerjaan hingga akhirnya dia settle dan bisa memperbaiki perekonomian keluarga. Menyadari dirinya yang dikalahkan oleh realitas, Monna memaksa dan mendukung adiknya Upi untuk terus maju hingga akhirnya Upi kuliah di IPB. Monna juga membiayai beberapa anak kurang mampu di kampungnya untuk terus bersekolah.
Mengikuti perjalanan kisah Monna memang membuat miris. But, sorry, Don. Monna dan keluarganya terlalu hitam putih. Sesekali keegoisan Monna keluar dan membuat dia kuat tapi ini hanya ada di awal-awal. Gue sempat berpikir sikap ini akan terus ada sampai akhir karena tentunya akan semakin menguatkan karakter Monna. Keluarga Monna juga terlalu putih, pasrahan, dengan beberapa tokoh yang ditemui Monna dan membuatnya semakin melihat realita juga dituliskan sangat ‘hitam’. Seperti halnya novel perjalanan, ada banyak tokoh datang dan pergi selintas lalu dan memberi satu titik di hidup si tokoh utama.
Cara Dona menulis begitu lembut. Mungkin karena gue orang Minang jadi bisa langsung merasakan kedekatan dengan isi cerita. Terlebih dari bahasa-bahasanya. Gue sempat bertanya-tanya, desa kecil mana sih yang dipakai sama Dona? Secara dia menyebutkan Bukittinggi, tentunya gue pasti tahu dong. Delapan belas tahun bo gue tinggal di sana, masa iya nggak tahu. Nyatanya gue nggak tahu. Dengan deskripsi sedemikian rupa, gue gagal menebaknya. Dan sebagai orang asli sana gue malu nggak mengenal kampung gue sendiri. Baru ketika menjelang akhir Dona menyebut namanya gue berteriak ‘got it’ hahaha. Dona memiliki gaya menulis dengan deskripsi mendayu-dayu dan diksinya menarik banget. Ada banyak kata yang gue catat, jaga-jaga bisa aja next time gue tiru hehehe.
Gue jadi bertanya-tanya. Dona mengutip ucapan guru Fisika tentang Teori Relativitas. Siapakah guru yang dimaksud? Secara gue bersekolah di SMA yang sama, tentu dong gue kenal gurunya? Tapi secara selama SMA gue nggak tertarik sama Fisika jadi nggak ingat apa-apa kecuali mobil VW Kodok lucu dan eksentrik punya guru Fisika gue kelas 3 hahaha. Selain itu, Monna digambarkan bekerja sebagai penyiar. Man, radio is my life, now and then. Waktu SMA, gue ketemu banyak teman di radio. Jadi, radio apakah yang dimaksud sama Dona di novel ini? *moga-moga cuma radio rekaan ya karena dua radio yang gue kenal bersih sih sih hahaha*
Mengenai karakter Monna. Ada dua hal yang gue nggak sreg. Sejak awal gue digiring kalau Monna ini suka baca. Oke, mungkin itu cuma kesukaan aja. But in the end ternyata Monna jadi penulis. Kenapa nggak diselipin gitu ya Monna ini emang suka nulis sejak awal? Karena tiba-tiba dia ditelepon salah satu teman SMA lalu dia teringat hobi menulisnya dulu. Menurut gue ya, ketika berada di low point, seseorang cenderung akan melakukan hobinya. Apalagi hobi yang bisa digunakan untuk menyambung hidup. Okay, it’s my opinion cuma gue merasa di akhir kegiatan menulis yang membuka gerbang Monna ke kesuksesan terlalu tiba-tiba. I need a hint di awal-awal.
Kedua, endingnya cepat banget. Setelah sejak awal diajak menelusuri kehidupan Monna yang berliku dan mengalir lembut tiba-tiba di akhir langsung di ajak selesai gitu aja. Terlalu cepat sehingga ada banyak pertanyaan. Memang sih ada dijelasin, tapi dikit banget. Gue berharap semoga ada penjelasan dari Monna yang jadi penggiat pendidikan di kampungnya jadi seorang motivator handal. Itu nggak memuaskan karena cuma menempati porsi sehalaman. Satu lagi, hubungan Monna dan Timur. Sampai bab akhir, mereka masih mengawang-awang. Lalu di akhir ternyata udah menikah dan punya anak—memang sih ceritanya beberapa tahun kemudian. Tapi, ini cepat banget. I need to know about the process.
Ketika Dona bilang akan ada sekuel, gue berpikir, semoga pertanyaan gue yang nggak puas karena Dona terlalu cepat mengakhiri ceritanya bisa dijawab.
So, apakah beneran akan ada sekuel? Mari kita tanya Dona J but sebagai karya debut, overall it’s okay. Karena Dona gue kembali membaca novel inspiratif semacam ini.

PS: Ini Tarusan Kamang, salah satu lokasi yang diceritakan di sini dan gagal gue tebak *dan ternyata gue juga belum pernah ke sini. Aaakkk panorama alam tersembunyi yang nggak gue tahu dan bikin gue malu luar biasa*
Foto by Kompasiana

Monday, March 11, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #11 The Devil In Black Jeans

The Devil In Black Jeans
By: AliaZalea


Caution: disarankan untuk tidak membaca novel ini dalam keadaan jomblo tengah malam karena tidak baik untuk kesehatan jiwa, raga, hati dan pikiran. Believe me. I’ve been there.

Yess, finally bisa juga baca novel terbaru AliaZalea setelah menahan mupeng selama satu bulan lebih. Seperti biasa, AliaZalea tidak pernah mengecewakan. She’s one of my favourite. Buku Alia selalu gue tunggu-tunggu meski pengalaman menyebutkan semua novelnya menimbulkan efek samping yang sangat meresahkan *semalaman guling-guling gelisah di kasur*
Kali ini, Alia mengangkat cerita tentang Johan Brawijaya dan Dara Wulandari. Bagi pembaca semua buku AliaZalea pasti sudah akrab dengan nama ini. Dara adalah salah satu anggota geng Nadia (Crash Into You), Adri (Miss Pesimis), dan Jana. Sementara Jo sendiri sahabatnya Revel (Celebrity Wedding) dan sempat muncul sekilas di Crash Into You sebagai pacar Karin, adik Kafka, pasangannya Nadia di Crash Into You. Yup, ini adalah salah satu ciri khas AliaZalea. Semua tokohnya berhubungan sejak novel pertama. Sempat nggak nyangka sih kenapa Dara dipasangin sama Jo tapi ketika sudah dibaca hasilnya oke juga.
Johan Brawijaya disebutkan sebagai drummer paling ganteng se-Indonesia. Untuk mengembalikan social life dia yang sempat terhambat karena harus mengurus semua kebutuhan Blu, adiknya yang juga seorang penyanyi yang sedang naik daun, Jo berinisiatif mencarikan personal assistant untuk Blu. Yup, PA itu adalah Dara yang keukeuh tetap jadi PA karena suka meski Panji, tunangannya, nggak mengizinkan. Singkat cerita, Jo dan Dara yang awalnya suka berantem ini saling suka. Tapi ada penghalang, Panji.
Sesimpel itu? Memang. Tapi cara penceritaan AliaZalea nggak pernah simple. I like her blak-blakan style. Straight to the point dengan selingan Inggris yang menyebabkan novel ini jadi lebih crunchy. Juga penggambaran Jo yang bikin guling-guling gelisah tengah malam. Perfect. Meski bagi gue, Jo masih belum bisa mengalahkan Kafka hahaha.
Sikap Jo yang ngegemesin juga bikin ketawa. Dia nggak mau mengakui sayang sama Blu tapi sikap overprotective dia malah menyebutkan hal yang sebaliknya. Jadi keingat lagi keinginan yang dulu pernah terucap: I want a big brother. Apalagi kakak cowok kayak Jo. Bolehlah playboy, galak, dan overprotective. Tapi lucu. Apalagi kalau—meminjam istilah Jo—dia lagi in touch dengan sisi kekanak-kanakannya. Ngemesin poll.
Satu hal yang gue suka dari AliaZalea adalah interaksi antartokoh dan cara dia menumbuhkan chemistry antartokoh yang benar-benar sempurna. Alia berhasil menggiring pembaca mengenal kekeraskepalaan Jo dan Dara serta gamangnya perasaan mereka. Gue suka sama Jo. Gue jadi ngebayangin iklan body wash Jo—membayangkan body seksi Jo tengah mandi di bawah guyuran shower. Mangap deh. Gue jadi kesal sama plin plannya Dara. Gue gemes sama Blu tapi nggak mau dekat-dekat karena ogah banget dicekokin Justin Bieber. Gue kasihan sama Jo yang terpaksa dengerin Justin Bieber kalau Blu ngambek. Gue benci Panji yang sok oke. Huh.
Meski cerita ini berfokus ke Jo dan Dara, porsi Blu terasa sangat pas sebagai perantara kedua tokoh ini. Dunia remaja Blu benar-benar bikin ketawa. Apalagi kalau sudah berinteraksi dengan Jo. Bener-bener bikin iri hihihi.
Intinya, gue selalu menunggu kejutan dari AliaZalea. Begitu selesai membaca, gue menebak-nebak, pasangan mana lagi setelah ini? Yakin gue sih Jana dan sempat disinggung jika suami Jana ini laki-laki paling kaku sedunia yang pernah ada. Another cool guy? Can’t wait, Alia. Gue juga menebak-nebak cowok lain di novel ini yang mungkin aja muncul di novel berikutnya, tapi hasilnya nggak ada. Jadi kemungkinan besar pasangan Jana bukan berasal dari dunia entertainment seperti Jo dan Revel. Oh ya, untuk penggemar Revel juga dikasih kejutan nih dengan selipan kelanjutan hubungan Revel dan Ina.
Dan Johan Brawijaya masuk ke dalam list cowok fiksi idaman gue meski nggak bisa mengalahkan Kafka hehehe. Psstt, Jo nggak suka dipanggil Johan karena nama itu membuat dia merasa kembali ke era 70-an hihihi.

PS: Meski bukan drummer, gue selalu membayangkan Jo a lil bit like Matthew Sanders aka M. Shadow from Avenged Sevenfold. Rocker dengan banyak tato, just like Jo.

Blind Date

Blind Date
Ifnur Hikmah

Prolog: terinspirasi dari dua kalimat yang ditwit oleh @RAquotes, sebuah akun yang ngetwit quote Richard Armitage. Membaca satu kalimatnya di tengah malam dalam keadaan jomblo adalah perpaduan yang sangat tidak menyehatkan bagi jiwa, raga, hati, dan pikiran. Kalimatnya adalah. “I look around and my fellow friends are having babies and I'm envious. One day, one day.dan “I was quite solitary. I would be up in my room reading books so I developed a vivid imagination.” Kalimat ini gue pake di dalam cerita ini.


“I look around and my fellow friends are having babies and I'm envious. One day, one day.
Dia berbicara dengan pandangan menerawang. Malam ini cukup sunyi. Bahkan di tempat ramai seperti ini pun kesunyian itu begitu nyata. Kulihat dia tersenyum—senyum berupa garis tipis di bibirnya yang berkilauan di bawah temaram lampu. Gelas wine di tangannya memantulkan sinar lampu di atas kami, membuat wajahnya terlihat bercahaya.
Do you feel the same? Maksudku, ketika akhirnya kamu tiba di satu masa di mana kamu berkata I wish I did it?
Dia tergelak sembari menenggak minumannya. Matanya yang memancarkan sinar ramah dan bersahabat memakuku, membuatku merasa enggan mengalihkan mata kea rah manapun.
“I did,” sahutku ringan.
Gelak tawanya menjadi satu-satunya pemecah keheningan ketika mendengar kejujuranku.
“So, what do you think about me?”
Apa yang aku pikirkan tentangnya? Entahlah. Ini masih terlalu cepat untuk mencerna apa yang kurasa tentang dia. Satu jam yang lalu kami masih dua orang asing yang dipertemukan karena temannya adalah temanku. Si teman yang merancang kencan buta ini karena bosan melihatku terpuruk dalam patah hati padahal satu tahun sudah berlalu setelah pengkhianatan tunanganku. Kencan buta yang diyakini temanku menjadi satu-satunya cara agar aku bisa move on. She thinks I need to move on.
Richard. Aku hanya diizinkan mengetahui data singkat itu saja. Hanya sebatas nama. Semua pertanyaanku dimentahkan begitu saja. Dan seperti orang bodoh, aku menurut. Aku membiarkan dia mendandaniku sedemikian rupa hingga aku pun tidak percaya jika bayangan yang ada di kaca adalah diriku sendiri. Gaun merah semata kaki dengan pundak terbuka itu terlalu berani untukku. Namun semua protesku berlalu begitu saja. Dengan langkah tertatih-tatih aku melangkah di atas sepatu paling tinggi yang kukenakan hingga duduk di restoran mewah ini,
Menunggu. Ya, menunggu pasangan kencan butaku. Kata temanku si Richard ini akan datang sebentar lagi. Si teman yang akhirnya keceplosan menyebut jika pasangan kencan butaku adalah salah seorang eksekutif di oil and gas company. Ikan kakap, katanya, tapi bagiku tidak ada pengaruh. I did it just for fun.
Mungkin pendpat awalku sedikit berubah setelah pasangan kencan butaku ini duduk di hadapanku. Kemeja putih bersih dilapis vest dan jas hitam serta celana hitam dengan potongan yang mempertontonkan kaki panjangnya yang sempurna. Wajah yang terlalu fresh untuk ukuran seorang pekerja keras yang tenggelam dalam urusan minyak dan gas selama sepuluh jam sehari. Rambut yang tersisir rapi serta bayangan bercak biru di sepanjang garis rahang. Dia sangat dewasa. Oh, mungkin temanku lupa memperingatkan jika pasangan kencan butaku ini bukanlah pria seumuranku yang tujuannya hanya ingin having fun, just like me. Melainkan pria dewasa yang sudah matang dan sepertinya siap membawa seorang perempuan berjalan di altar.
Pria yang sejak pandangan pertama sudah mampu memakuku untuk tetap diam di tempat. Keinginan untuk angkat kaki sama sekali tidak terpikirkan olehku. Pembicaraan basa basi pun terlupakan. Berganti ke pembicaraan tentang diri kita masing-masing.
Life is an unexpected journey, right?
Setidaknya penilaian pertamaku sangat positif.
“So, what do you think about me?” ulangnya.
Aku tertawa canggung mengatasi kegugupan yang tiba-tiba melandaku. “You first. What do you think about me?”
Dia menuang wine ke dalam gelasnya yang sudah kosong. “You’re nice. Mungkin aku bisa mempertimbangkan ulang kebiasaanku menyendiri setelah ini.”
“Makdusmu?”
I was quite solitary. I would be up in my room reading books so I developed a vivid imagination.” Dia tersenyum. “But now I have you. Untuk apa mengunci diri di kamar seorang diri jika aku bisa melakukannya denganmu?”
Tawaku semakin menjadi-jadi. Sebuah upaya flirting yang mengesankan. Oh, mungkin mengesankan karena datang dari bibir tipis yang sejak tadi sudah mengundangku untuk menciumnya itu.
“Jangan terlalu yakin.”
“Aku selalu yakin dengan apa yang aku inginkan.”
“And it’s mean, do you want me?”
Dia meletakkan gelasnya di atas meja dan mencondongkan tubuhnya ke arahku. Aroma pinus bercampur cologne yang sangat maskulin memenuhi penciumanku. Membuatku limbung.
“Yess, I want you.”
Dan kusadari jika terkadang kencan buta bukanlah sebuah ide buruk.

Sunday, March 10, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #10 Underground

Underground
Ika Natassa



Dalam rangka menyambut novel terbaru Ika Natassa, Critical 11, April nanti, gue baca satu-satunya buku dia yang belum pernah gue baca, Underground. Buku ini cuma dijual di Nulisbuku.com dan gue dikasih sama Adit, hehehe.
Ceritanya khas Ika Natassa banget, sekalipun katanya novel ini ditulis sewaktu dia masih SMA. Keseluruhan isi novel ditulis full English. Komentar gue, Inggris-nya kak Ika ciamik parah. Tapi nggak susah kok, enak dibaca dan serasa ini orang mother language-nya emang Inggris kali ya, hehehe.
Underground bercerita tentang kehidupan para VJ Underground, sebuah stasiun televisi khusus musik macam-macamnya MTV atau VH1 gitu lah. Kata Ika, inspirasinya memang dari hobi dia nonton MTV—hei, who doesn’t, right? Settingnya di New York sehingga kesan ini-bukan-novel-Indonesia semakin kentara. Menurut gue ceritanya biasa tapi gaya ceritanya Ika yang luar biasa—that’s why I love her because I adore her writing so much. Meski ini ditulis full English, ciri khas Ika yang blak-blakan dan straight to the point masih kerasa.
Namun, gue punya banyak catatan untuk novel ini, hehehe. Pertama, kebanyakan tokoh sehingga gue nggak tahu konflik utamanya apa dan tokoh utamanya mana. Semakin ke tengah gue baru mengerti ceritanya apa. Menurut gue, Underground lebih cocok disebut sebagai journal karena berisi tentang keseharian para VJ. Mereka adalah Liv, Stefan, Claire, Heather, Jared, Gavin, Shareef, Aaliyah, serta pasangan mereka seperti Micha dan Alisha. Itu belum cukup karena masih banyak tokoh lain seperti Sarah, Will, Mark, and so on and so on. Banyak banget dan Ika memotret keseharian mereka semua. Gue sempat frustasi karena terus bertanya, konflik utamanya apa? Barulah di tengah-tengah gue ketemu kalau cerita lebih terpusat ke Liv dan konfliknya adalah friendship turned into love dengan Stefan. Satu-satunya yang bikin gue bertahan sampai selesai adalah gaya bercerita Ika. Saran gue kalau seandainya Ika mau menulis ulang, please ambil satu konflik utama aja, biarin tokoh lain hadir dan bercerita sebagai penunjang konflik Liv-Stefan. Karena menurut gue, semua tokoh—dan pasangannya—punya konflik sendiri dan semuanya dituangkan di buku ini. Kalau cuma mengambil konflik utama, gue yakin bukunya nggak akan jadi setebal ini.
Catatan kedua, pemilihan PoV. Berangkat dari catatan pertama, ada banyak tokoh di sini, but awalnya Ika mengambil PoV satu, dari sudut Liv. Gue berasumsi akan digiring ke masalah Liv aja. Tapi ternyata abis itu Ika ambil PoV 3 dan menceritakan semua masalah dan keseharian semua tokoh. PoV yang campur aduk ini jujur aja membuat gue merasa terganggu.
Catatan ketiga, full of dialogue. Dari awal sampai akhir hanya dialog. Cerita, perasaan tokoh, apa pun, dibangun melalui dialog. Narasi hanya seputar pengantar saja, kayak “The elevator took Stefan to the first floor, and there he met Jared.” Atau “I open the door and threw myself against the couch.” Hanya sebatas itu. Untunglah percakapannya seru-seru dan emosi yang terpancar hanya bisa didapat melalui ucapan. Coba ya emosi dan perasaan lain juga dideskripsikan melalui narasi dan deskripsi, novel ini pasti lebih bagus.
Catatan keempat, karena semuanya hanya diketahui melalui dialog, lompatan adegan-adegannya nggak smooth. Tahu-tahu mereka ada di studio, tahu-tahu ada di London meliput acara musik apa, tahu-tahu ada di mana. Begitu terus. Dan karena VJ-nya banyak, mereka juga nyebar kemana-mana. Belum lagi mereka kuliah juga. Sudahlah gue susah menghafal nama-nama mereka, menghafal mereka kuliah apa juga susah. Jadinya gue sering berhenti dan mikir, kok mereka di sini atau si Jared ini yang mana ya tadi? Terus, kemunculan tokoh-tokoh baru yang mendadak gitu aja. Atau tokoh yang di awal ada di tengah menghilang lalu muncul lagi. Atau tokoh selingan yang banyak dan suka nongol tiba-tiba. Selalu membuat gue bertanya-tanya, ini yang mana ya tadi? Yah, butuh daya ingat yang tinggi untuk mengingat semuanya.
But so far, Underground bolehlah. Kepiawaian Ika menggambarkan suasana VJ yang lagi shooting on air atau taping dan pengetahuan musiknya TOP banget. Secara ini ditulis tahun 1990an, tentu aja musik-musiknya yang hot di dekade itu and I love it so much karena sampai saat ini gue sangat suka musik 90an. Membaca novel ini juga bikin gue teringat MTV dan masa ketika MTV benar-benar pure membahas musik. I miss this music channel. Selama membaca Underground, hanya satu yang melintas di benak gue; VJ Utt. I miss him. Yeah, every teenager in 90 era had a crush with him, right?

Meski ini bukan novel Ika favorit gue, gue rasa bolehlah baca ini di waktu senggang. Apalagi buat yang suka sama tulisan Ika dan nggak sabar nunggu April. Hitung-hitung pemanasan. Harapan gue, mungkin kak Ika mau menulis ulangnya dengan hanya fokus ke Liv dan Stefan serta friendship turned into love mereka, hihihi.

Saturday, March 9, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #9 Lovediction

Lovediction
Naluri Bela Wati, Harninda Syahfi, dll


Sabtu, 2 Maret 2013, gue ikut launching Lovediction di Gramedia Central Park. Semata karena ada beberapa temen gue jadi penulis di sini. Hitung-hitung ketemuan juga. Beruntung dapet bukunya karena nanya hehehe.
Lovediction berupa kumpulan flash fiction--bahkan beberapa ada yang bisa sangat flash alias cepat saking singkatnya. Sesuai judulnya, ke 28 cerita di dalamnya berkisah tentang cinta. Memang sih cinta itu universal, tapi buku ini bercerita tentang cinta pada lawan jenis. Beberapa tema sama diambil oleh beberapa penulis meski ditulis dengan formula berbeda, seperti cinta terpendam seorang sahabat--bahkan menurut gue cinta antar sahabat ini yang paling banyak, cinta tak kesampaian, dan cinta terhalang restu.
Uniknya buku ini adalah full colour dengan kertas art paper dan full ilustration. Ilustrasinya lucu. Layoutnya lucu--kayak majalah. Memanjakan mata sih tapi sayang di beberapa bagian bikin gue pusing--membaca huruf kecil-kecil dengan background kuning menyala sejujurnya tidak baik untuk kesehatan mata. Belum lagi layout dengan dua kolom, not my type. Tapi two thumbs up untuk ilustrasinya. Lucu sumpah. Sebuah konsep yang unik.
Well, ceritanya sendiri gimana? Ada 28 cerita dari 28 penulis di buku ini. Beberapa gue kenal personal karena Nulisbuku.com--buku ini awalnya memang diterbitkan di nulisbuku. Tapi ini reviewnya objektif ya, hehehe.
Jumlah cerita yang banyak berindikasi nggak semuanya bisa disukai. Buku ini juga begitu. Ada beberapa cerita yang gue baca skimming karena bosan dan udah tahu endingnya seperti apa atau juga karena tema itu udah banyak banget--friendship turned into love. Beberapa favorit gue yaitu
Janjian, Yuk by Christian Pramudia.
This is my favourite. Ceritanya lucu, tentang si cupu yang ketiban durian runtuh diajak pacaran sama bintang sekolah. Ceritanya mungkin biasa tapi gaya menulisnya yang bikin gue ketawa ngakak. Untung cerita ini ada di nomor urut dua jadi membuat gue bertahan membaca karena berharap akan ada cerita lain yang sama bagusnya.
Secangkir Cinta Pagi Hari by Petronella Putri
Begitu baca, gue sempat menebak ada yang mengganjal tentang kedua tokoh. Ternyata tebakan gue benar. Yippi hahaha. Ceritanya sweet meski menurut gue ini nggak realistis--atau gue aja yang belum pernah ketemu realita kayak gini.
Selamanya by Hilda Nurina Sabika
Sweet as always. Sweet itu udah jadi ciri khas tulisannya Hilda. Jadi begitu tahu cerita ini ditulis Hilda udah yakin akan manis banget. Tebakan gue lagi-lagi benar. Tulisannya manis tapi kali ini Hilda tega karena dibikin tragis endingnya. Hiks.
Afterlife by Yuska Vonita
Lain daripada yang lain. Setelah gue nyaris give up karena again ya ketemu friendship turnend into love terus, ketemulah cerita ini. Unik. Beda sendiri. Semacam angin segar gitu deh.
Love Journal by Entah Siapa
Bukan. Nama penulisnya bukan Entah Siapa tapi kayaknya editornya luput naroh nama penulisnya. Dilihat dari judulnya, cerita ini memang ditulis ala diari gitu. Tapi, keasyikan ternoda oleh sebuah kesalahan fatal. Karena ala diari, ada tanggalnya. Di salah satu part tertulis 31 Desember 2007 tapi ada lagunya Christina Perri - A Thousand Years. Jeng jeng jeng. Memangnya tahun 2007 lagu itu sudah ada ya? Memang sih lagunya cocok sama isi cerita tapi karena diceritakan tahun 2007 ya jadinya aneh. Meski kecil, menurut gue ini salahnya fatal banget. (Pelajaran juga bagi gue dalam menulis. Kehati-hatian memasukkan quote dari buku, film, atau lirik lagu harus disesuaikan dengan timeline cerita).
Utopia by Abi Arbianda
Ini juga unik. Tentang cowok super pengertian yang muncul dalam mimpi. Sometimes i feel it myself jadi ketika cerita ini diawali dengan pertanyaan "Kumohon percaya padaku, ya?" gue akan menjawab "I trust you, hahaha."
Ini favoritku di buku ini. Yang lain bukannya jelek cuma ya nggak sreg aja bacanya. *peace yo*. Saran gue, next time jika ada buku dengan konsep sama--katanya sih lagi bikin buku selanjutnya, please yang tema sama jangan banyak banget. Meski formulanya beda tapi tetep aja intinya sama. Berindikasi membosankan, menurut gue.

Cheers,
iif