Thursday, February 28, 2013

Gossip (Aidan-Laura Side Story)

Gossip
(A Side Story fron Black Leather Jacket)


Style&Gossip
New couple alert: Aidan Haryanto and Laura Ranggawarsita
Setelah sempat berhembus kabar tentang kedekatan mereka, Aidan Haryanto dan Laura Ranggawarsita akhirnya mengaku bahwa mereka menjalin hubungan serius. Kedekatan ini disinyalir berawal dari novel yang mereka tulis berdua.
Ditemui saat launching buku terbarunya, Brown Eyes Don’t Lie, Aidan mengaku bahwa dia dan Laura memang menjalin hubungan serius. Namun sejak kapan hubungan itu bermula, Aidan hanya bungkam. Begitu juga ketika ditanya tentang Sarah.
“Hubungan saya dengan Sarah sudah berakhir satu tahun yang lalu,” ujar Aidan saat pers conference. Aidan menolak untuk menjelaskan lebih lanjut dan meminta wartawan untuk hanya bertanya tentang bukunya saja.
Di sisi lain, Laura memilih bungkam. Perempuan ini langsung menghindar dari kerumunan wartawan begitu acara selesai.
Sampai saat ini Style&Gossip belum berhasil menghubungi Sarah. Menurut kabar dari manajernya, Sarah sedang berada di Hong Kong untuk pemotretan sebuah majalah (IF)
*

Hot Couple: Aidan and Laura Having a Great Lunch Together
Aidan dan Laura langsung buru-buru meninggalkan Hotel Mulia, tempat pasangan ini terpergok sedang makan siang. Satu bulan berlalu semenjak berita kedekatan mereka menjadi headline, pasangan ini masih belum mau membuka diri di hadapan wartawan.
Laura yang siang itu mengenakan oversized sunglasses langsung masuk ke mobil BMW X6 milik Aidan begitu melihat beberapa kamera terarah kepadanya.
Berbeda dengan hubungan Aidan dan Sarah yang terbuka bagi public, kali ini Aidan memilih untuk menutup-nutupi hubungannya dengan Laura.
*

Style Battle: Laura Ranggawarsita vs Sarah Sastrawinata
Everybody knows Sarah, model sekaligus desainer yang sering mendapat gelar best dressed di beberapa acara. Kali ini, Amanda Pasaribu, fashion editor Style&Gossip akan mengupas personal style kedua perempuan yang dekat dengan Aidan Haryanto ini.
Black vs Colourfull
Sarah memiliki kulit putih yang memungkinkan dia bereksperimen dengan semua warna. Warna apa pun yang dikenakannya akan menonjolkan kulit putihnya. Sedangkan Laura sering terlihat dalam outfit hitam. Dalam beberapa kesempatan, Laura tidak pernah terlihat bersama warna lain. Menurut keterangan, Laura memang mengidentikkan diri dengan hitam, sesuai dengan novel yang ditulisnya.
Scor: 1 for Sarah karena keberaniannya bereksperimen dengan semua warna.
Playfull vs Plain
Selain bereksperimen dengan warna, Sarah juga suka mengenakan semua jenis outfit. Ballon skirt, mullet skirt, trouser, sackdress, apapun terlihat semakin menonjolkan tubuh tinggi langsingnya. Meski tidak se-playfull Sarah, Laura juga suka bereksperimen dengan pilihan outfit. Walau masih berkisar di warna hitam, pilihan Laura juga tidak kalah menarik. My favourite, her rocker chic look with biker jacket, tights and knee-length boots. Off course, all in black.
Scor: seri untuk keberanian mereka
Eyes vs Lips
Sarah mengerti benar tentang keindahan matanya. Hal ini ditonjolkan dengan riasan yang menonjolkan mata. Namun seringkali Sarah terlalu fokus kepada mata sehingga mengabaikan bagian lain. Sementara Laura menjadikan red lipstick as her personal style. Outfit gelap yang membungkus tubuhnya diselamatkan dengan lipstick merah yang berani dan seakan berteriak ‘hei look at me’.
Scor: 1 for Laura and her Marylin-Monroe-Lips
So far, mereka berbagi skor. Namun melihat background Sarah di dunia fashion membuat persaingan ini jadi tidak adil. Well, it’s my opinion. For me, they have their personal style. The Playfull Sarah and Always-In-Black-Girl.
XOXO, Amanda
*

Bridesmaid: Another role for Laura and Sarah
Berita mengejutkan datang dari keluarga Haryanto. Allan Haryanto, pewaris utama Haryanto Group, memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi kekasihnya selama tujuh tahun ini, Claudia. Pernikahan ini rencananya digelar Desember 2013 dan berlokasi di Conrad Chapel, Bali.
Namun yang menjadi headline bukanlah pasangan berbahagia ini, melainkan Sarah Sastrawinata, sahabat Claudia dan juga mantan pacar Aidan Haryanto, serta Laura Ranggawarsita, kekasih Aidan. Keduanya didapuk sebagai bridesmaid atas permintaan Claudia.
Ditemui saat fitting gaun di butik miliknya, Sarah mengiyakan berita tersebut. “Claudia is my best friend and I’m happy when she asked me to be her bridesmaid,” ujarnya. Namun ekspresi Sarah sempat meredup ketika ditanya tentang Laura yang juga menjadi bridesmaid. “Laura juga menjadi orang terdekat Claudia sekarang. Sudah seharusnya dia menjadi pendamping Claudia. Aidan sendiri akan menjadi best man Allan,” ujar Sarah.
Sampai saat ini, Laura dan Sarah belum bertemu langsung. Entah apa yang akan terjadi nanti di pesta pernikahan Allan dan Claudia. Yeah, we’ll wait and see.
*

Laura menutup halaman Style&Gossip dari ponselnya dengan perasaan dongkol. Website yang dulu dianggapnya tidak penting sekarang selalu memajang beritanya setiap hari. Ada-ada saja berita mereka, sebagian berupa fotonya yang diambil secara diam-diam, dan sebagian berupa spekulasi saja. Laura merasa tidak keberatan, awalnya. Namun saat dia semakin sering dibandingkan dengan Sarah, Laura merasa jengah.
Terakhir, ketika Style&Gossip menyebut pernikahan Allan dan Claudia sebagai arena pertarungan terbuka bagi mereka.
“Kok cemberut? Nggak suka sama gaunnya?”
Laura terperanjat kaget saat Claudia tiba-tiba saja berdiri di sampingnya. Saat ini dia sedang fitting gaun yang nantinya akan digunakan saat pernikahan Claudia.
“Suka, but I think I can’t do that.
“Laura, please, kita sudah membahasnya.”
Laura menghela napas panjang. Tentu saja mereka sudah membahas ini, berkali-kali. Bukan hanya di antara mereka berdua, tapi juga di hadapan Aidan dan Allan, bahkan Richard juga. Dan semuanya setuju dengan permintaan Claudia yang ingin Laura menjadi bridesmaid di pernikahannya.
Ketika ide itu sampai di telinganya, Laura menolaknya. Penolakan itu semakin menjadi-jadi saat dia tahu Sarah juga menjadi bridesmaid. Semenjak dia menjalin hubungan dengan Aidan, Laura tidak pernah bertemu Sarah. Aidan pun enggan jika mereka harus membicarakan Sarah. Namun wartawan begitu gencar menghubungkan mereka berdua.
Baru ketika Claudia memohon di hadapannya, Laura menjadi tidak tega dan mengangguk.
“Kamu bisa coba ini.” Claudia menyerahkan gaun berwarna ungu muda dengan aksen drapery di bagian dada. Gaun itu sangat cantik. Dalam sekali lihat, Laura langsung menyukainya.
“Aku coba dulu.” Laura mengambil gaun itu dari tangan Claudia dan berjalan menuju fitting room. Saat itulah tanpa sengaja dia melihat ke luar jendela. Seorang pria bertopi yang dipasang rendah nyaris menutup mata tengah membidikkan kamera ke arahnya.
Laura berjengit. Dia bisa membayangkan bahwa sesaat lagi berita tentang dirinya akan kembali menghiasi laman Style&Gossip dengan berita yang menyakitkan kepala.

Tuesday, February 26, 2013

Serba Serbi Middle Earth


Terberkatilah Eru Iluvatar yang menggariskan takdir gue tergabung ke Grup Eorlingas di Facebook. Ada banyak pelajaran baru yang gue dapat dari para sesepuh yang sudah ada di sana sejak jaman First Age. Sebagai anak baru yang masuk di Third Age, gue cuma bisa manggut-manggut membaca essay pembahasan seputar Middle Earth. Ketika gue memutuskan untuk baca ulang The Hobbit dan The Lord of The Ring, nuansanya pun beda. Kali ini baca lebih lama karena ketika tiba di suatu bagian yang ada penjelasan di Appendix atau essay atau file lain, gue akan baca itu dulu sehingga lebih memahami.

Lalu pada hari Minggu, 24 Februari 2013, jam 7 malam, Eorlingas pun bikin kuis serba serbi Middle Earth. Excited dong karena gue pengin mengetahui sejauh mana pengetahuan gue. Masih seiprit memang dibanding yang lain karena gue belum baca Silmarillion (nggak berani baca karena takut bahasa Inggrisnya susah hehehe). Untunglah pertanyaannya hanya bersumber dari The Hobbit dan The Lord of the Ring. Mari kita hajar dan mengandalkan sinyal.

Berikut gue share 20 pertanyaan yang dilempar selama dua jam. Kuis ini diadakan di Facebook dan Twitter. Gue milih Twitter karena eike kan anak Twitter hehehe.


1.                   Skor 1: Peti mati batu di Aula 21, Khazad-dum, adalah makam: (a) Floi (b) Balin (c) Ori
Gue langsung jawab Balin karena teringat ekspresi sedih Gimli di film ketika menemukan makam Balin.
Berikut penjelasan: Floi dan Ori termasuk rombongan Balin ke Moria. Tapi Floi tak diketahui di mana makamnya,. Ori hanya ditemukan kerangkanya di Aula 21, dekat Book of Mazarbul (lalu gue inget kerangka yang jatuh gara-gara Pippin di film. Ternyata ini Ori dan gue langsung sedih. Ori itu lucu).

2.                   Skor 1: Usia Bilbo ketika berangkat bersama Thorin & co.: (a) 51 (b) 71 (c) 111
Gue langsung jawab 51 tahun karena seingat gue justru 50 tahun hehehe.
Berikut penjelasannya: Bilbo berumur 51 saat berangkat bersama Thorin & co. 71 adalah umur di satu satu draft Tolkien. 111 usia ketika ia kabur di tengah pesta ultah.

3.                   Skor 3: Mana yg bukan adik Haldir: (a) Orophin (b) Rumil (c) Erestor
Pertanyaan ini bikin pusing. Melipir ke wiki dulu hihihi. Sempat menjawab Orophin lalu diganti jadi jawaban yang benar akhirnya, Erestor. Tapi di pertanyaan ini kalah cepat.
Berikut penjelasannya: Orophin dan Rumil adik Haldir ikut berjaga di perbatasan Lothlorien saat Fellowship of The Ring baru datang dari Moria. Shock karena "kematian" Gandalf. Erestor adalah salah satu Elf petinggi di Rivendell.

4.                   Skor 1: Di Bree para Hobbit bertemu Strider di: (a) Green Dragon (b) Ivy Bush (c) Prancing Pony
Salah satu terjemahan yang bikin gue mengerutkan kening yaitu Prancing Poni diterjemahkan jadi Kuda Menari. Makanya hal ini terus ingat. Tapi malah kalah cepat.
Berikut penjelasannya: Green Dragon dan Ivy Bush bar di Hobbiton. Prancing Pony di Bree.

5.                   Putra Theoden yg gugur di S. Isen: (a) Thengel (b) Theodred (c) Theodwyn
Pertanyaan yang gampang tapi gue kalah cepet, hehehe. Terlebih gue paling suka kalimatnya Theoden waktu memakamkan Theodred. “Tidak ada orangtua yang memakamkan putranya.” Juga nyanyian solo Eowyn yang menyayat hati itu.
Berikut penjelasannya: Thengel ayahnya Theoden, Theodwyn ibunya Eomer dan Eowyn. Putra Theoden namanya Theodred.

6.                   Skor 3: Mana yg bukan Ent? (a) Quickbeam (b) Wandlimb (c) Goldberry
Baru minggu lalu gue ngetwit tentang tokoh-tokoh yang diabaikan Peter Jackson, salah satunya Tom Bombadil. Nah, istri Tom Bombadil ini adalah Goldberry.
Berikut penjelasannya: Goldberry adalah 'water doughter' istri Tombobadil. Quickbeam dan Windlimb adalah Ent.

7.                   Skor 5: Siapa raja Dale di tahun terjadi War of the Ring? (a) Brand (b) Grimbeorn (c) Dain
Jawaban ini tebak-tebak buah manggis banget karena gue lupa. Ini adanya di Appendix Lord of The Ring: Return of the King. Nah berhubung gue males buka buku karena bakalan kalah cepat, jadi asal nebak aja. Gue mencoret Dain karena itu nama Dwarf dari Misty Mountain yang membantu Thorin & Co saat Battle of Five Armies dan nantinya jadi Raja Erebor. Berhubung di The Hobbit ada Bard yang membunuh Smaug dan keturunan Dale, gue pilihlah Brand. Kenapa? Karena ciri khas Tolkien membuat nama anak nyerempet-nyerempet nama ayah. Bard nyerempet Brand kan? *ngasal tapi bener*
Berikut penjelasannya: Brand adalah Raja Dale, Grimbeorn anak Beorn the Old dan Dain adalah Raja Dwarf di Misty Mountain.

8.                   Skor 1: Nama penjaga pintu Meduseld: (a) Gamling (b) Hama (c) Elfhelm
Tebak-tebak buah manggis juga karena gue cuma tahu nama Hama pernah disebut di Two Towers saat Battle of Helms Deep. Itu loh, yang di film ada anak kecil disuruh ibunya naik kuda sama adiknya. Dia nyebut, Son of Hama. Ternyata, tebakan yang benar.

9.                   Skor 1: Alat pendobrak dari Mordor: (a) Grond (b) Grisnakh (b) Gorbag
Ini sempat ngegoogling bentar nyari jawabannya. Ternyata googling lebih cepat daripada buka buku, hihihi.
Berikut penjelasannya: Grisnakh adalah kapten Orc dari Mordor, Gorbag salah satu patroli Orc yang menemukan Frodo di sarang Shelob.

10.               Skor 1: Pedang Aragorn yang ditempa di Rivendell: (a) Narsil (b) Ringil (c) Anduril
My King Elessar. Penyuka Lord of the Ring kebangetan banget kalau nggak tahu nama pedang Aragorn. Sempat siwer baca soalnya dan benar-benar memastikan apakah yang ditanya setelah atau sebelum ditempa.
Berikut penjelasannya: Narsil pedang Elendil yang patah dua, Ringil pedang Fingolfin, Anduril pedang Aragorn dari Narsil yang ditempa ulang

11.               Skor 3: Pilar Argonath mirip tokoh2 berikut kecuali: (a) Elendil (b) Anarion (c) Isildur
Baru beberapa hari yang lalu ada essay di Group Facebook Eorlingas tentang siapa sebenarnya di balik Argonath ini dan gue shock karena baru tahu mereka menggambarkan Anarion dan Isildur, anak Elendil yang kemudian memerintah Kerajaan Arnor dan Gondor. Dari merekalah kemudian lahir sosok Aragorn. Sejak pertama nonton, gue sudah terkagum-kagum dengan replica Argonath bikinan Peter Jackson. Keren. Dan di buku cetakan terbaru Lord of the Ring: Fellowship of the Ring, covernya bergambar Argonath ini. Suka.

12.               Skor 1: Nama ayah Aragorn. (a) Aranarth (b) Arvedui (c) Arathorn
Pertanyaan gampang karena setiap nama selalu diikuti son of … Nah Aragorn juga selalu disebut, Aragorn, son of Arathorn.
Berikut penjelasannya: Aranarth adalah First Chieftain of Dunadain, Arvedui adalah Raja terakhir Arthedain.

13.               Skor 1: Naga ini menduduki Erebor. (a) Smaug (b) Glaurung (c) Scatha
Dari juudl film kedua The Hobbit aja udah ketebak siapa nama naganya. Karena Smaug ini juga gue penasaran dengan nama naga-naga di Middle Earth. Gue nangis dan memendam benci teramat besar kepada Glaurung atas nasib keluarga Hurin. Hiks, sedih. Depressing *peluk Turin Turambar* Dan ya, Smaug ini cuma naga imut ketimbang naga lainnya.
Berikut penjelasannya: Naga yang menduduki Erebor Smaug, Glaurung naga yang menduduki Gondolin, Scatha menduduki Grey Mountain (Ered Mithrin)

14.               Skor 3: Panglima Dol Amroth di perang di Minas Tirith. (a) Adrahil (b) Bergil (c) Imrahil
Jujur, gue sempat kecele dengan keberadaan Imrahil. Beruntung pernah dibahas di grup tentang asal usul Imrahil sehingga gue baca ulang part Imrahil ini dan mengingat dia lagi. Maafkan hamba, paduka Imrahil.
Berikut penjelasannya: Panglima Dol Amroth di perang di Minas Tirith: Imrahil. Adrahil ayah Imrahil dan Finduilas, istri Denethor. Bergil anak Beregond, penjaga Minas Tirith yang menemani Pippin selama di Gondor.

15.               Skor 5: Vinitharya naik tahta Gondor bergelar: (a) Narmacil (b) Eldacar (c) Earnur
Gue menjawab soal ini dengan penuh suka cita karena baru saja selesai membaca Appendix dan fokus ke raja-raja Gondor demi mempelajari sejarah rajaku, King Elessar. Kisah Vinitharya alias Eldacar ini juga salah satu cerita yang menarik menurut gue.

16.               Skor 1: Warna pintu smial Bilbo. (a) Merah (b) Biru (c) Hijau
Masih perlu dijawab? Duh, sejak sepuluh tahun lalu, sejak jamannya Fellowship sampai sekarang jamannya Thorin & co, pintu rumah Bilbo selalu terbayang-bayang oleh gue karena Bag End menjadi salah satu daerah tujuan wisata impian gue.

17.               Skor 1: Pedang Gandalf yg berasal dari Gondolin: (a) Orcrist (b) Glamdring (c) Anguirel
Pertanyaan gampang karena gue suka sama desain Glamdring meski Orcrist lebih keren dan seksi hihihi.
Berikut penjelasannya: Pedang Gandalf yang berasal dari Gondolin: (b) Glamdring. Orcrist pedang Thorin, Anguirel dibuat oleh Eöl the Dark Elf

18.               Skor 3: Bukan nama troll: (a) Bert (b) Tom (c) Andy
Gue rasa pembuat soal memasukkan nama Andy karena terdengar sangat bule seperti Bert, Tom, dan William dan Andy terinspirasi dari Andy Serkis aka Gollum, hihihi.

19.               Skor 1: Kuda tentara Eomer yg gugur: (a) Hasufel (b) Windfola (c) Firefoot
Adegan Eomer bersiul memanggil Arod dan Hasufel di Two Towers saat dia bertemu Aragorn, Legolas, dan Gimli selalu terngiang di benak gue. Saat itu Eomer terlihat seksi, hihihi.
Berikut penjelasannya: Kuda tentara Eomer yang gugur: (a) Hasufel. (dan Arod) adalah kuda yang pengendaranya 1 dari 5 pasukan eored Eomer yang gugur saat melawan orc yang menculik Merry dan Pippin. Windfola kudanya Dernhelm aka Eowyn. Firefoot kudanya Eomer.

20.               Skor 9: Red Arrow/Panah Merah tanda bahaya Gondor diantar ke Theoden oleh: (a) Beregond (b) Hirgon (c) Ingold
Soal dengan nilai tertinggi dan gue berhasil menjawabnya. Yess. Ini gue temukan di essay tentang Pesahabatan Rohan dan Gondor.
Berikut penjelasannya: Beregond Tower Guard (trus dimasukin White Company Guard of Faramir Steward of Gondor and Prince of Emyn Arnen). Ingold pemimpin pasukan penjaga dinding Rammas Echor di Pelennor.

Dan gue berhasil mengumpulkan 48 poin dan berhak atas gelar Glorfindel Elf-lord From Beyond The Furthest Sea hehehe.

Gue suka dengan gelar ini semata karena gue suka dengan sosok Glorfindel dan dia menjadi salah satu tokoh yang diabaikan Peter Jackson. Pertama kali baca Fellowship gue sempat kepikiran kalau Glorfindel inilah yang akan menjadi anggota Fellowship tapi ternyata gue kecele. Dan gue kecewa dengan kemunculan Arwen bersama Asfaloth di Fellowship. Itu seharusnya bagian Glorfindel, bukan Arwen. Huh. Dan setelah mempelajari lebih lanjut, baru tahu kalau Glorfindel ini dulu pernah mati saat melawan balrog lalu oleh Mandos diberi tubuh baru. Melon le, Glorfindel.

Nah, begitulah serba serbi Middle Earth Minggu lalu. Mengasah otak dan adrenalin meski so far menurut gue soalnya nggak terlalu susah. Thanks banget mbak Novia dan yang lainnya yang mengadakan kuis ini. Deg-degan sebelum mulai berasa ujian beneran. Menurut gue, ini ujian setelah 12 tahun belajar Middle Earth dan gue siap menunggu pertanyaan lainnya.

Ingin tahu lebih lanjut tentang Middle Earth, main-main aja ke blog Eorlingas di http://councilofeorl.blogspot.com/

Friday, February 22, 2013

Petisi

Petisi
Oleh: Ifnur Hikmah

PS: A side story from my fresh from the oven draft. Berhubung belum bisa move on dari tokoh-tokoh ini, jadilah dibuat side story kisah mereka.



Mata Laura terbelalak saat melihat angka di layar MacBook. “Wow, petisi ini sudah menyentuh angka 900 di hari ketiganya. Aku nggak heran jika besok jumlahnya sudah ribuan,” ujar Laura seraya melirik Aidan yang sibuk membaca koran di sofa di atasnya.
Aidan tidak menjawab. Dia hanya melirik Laura dari balik koran yang dibacanya dan tersenyum tipis sebelum kembali menenggelamkan diri dalam koran. Indeks Harga Saham Gabungan lebih menyita perhatiannya ketimbang petisi yang dilancarkan di dunia maya oleh kemunitas Aidanesia tersebut.
Melihat Aidan yang sama sekali acuh dengan hal tersebut membuat Laura cemberut. Dia membaca petisi tersebut keras-keras. Tindakannya semata hanya untuk mengganggu Aidan.
“Kami, Aidanesia, dengan ini menuntut Aidan Gio untuk kembali menulis dan membatalkan keinginannya untuk berhenti. Petisi ini kami tanda tangani dengan senang hati sebagai bukti cinta dan peduli kami kepada Aidan dan hasil karyanya. Sincerely, Aidanesia.”
Laura melirik Aidan yang duduk di atasnya. Pria itu hanya menyengir lebar di balik korannya.
“Gimana kalau aku ikutan petisi ini?”
What?” Aidan menurunkan korannya dan menatap Laura lekat-lekat. “Kita sudah membicarakan masalah ini sebelumnya.”
Laura tidak mengindahkan pertanyaan Aidan. Dengan cuek dia mengisi data diri dalam kolom yang disediakan di dalam petisi tersebut.
“Laura, don’t do that.”
Terlambat. Laura sudah mengklik tombol OK. Detik itu juga, angka di layar berubah menjadi 901. Data dirinya sudah terekam oleh si pemilik website. Laura bisa membayangkan keikutsertaan dirinya dalam petisi ini akan membuat mereka semakin yakin dengan usaha mereka karena didukung oleh Laura sendiri, orang terdekat Aidan.
“How dare you,” ujar Aidan. Meski ucapannya menyiratkan kemarahan, Aidan sama sekali tidak marah. Dia berkata sambil tertawa dan merangkul Laura dari arah belakang. Hanya sekali sentakan, dengan mudahnya Aidan mengangkat sosok Laura dan mendudukkannya di pangkuannya. “Kalau mereka, aku masih bisa mengatasinya. Kalau kamu?” Aidan menggeleng pasrah.
Laura tertawa lebar sambil melingkarkan lengannya di leher Aidan. Mereka duduk berhadapan sehingga Laura bisa dengan leluasa meneliti wajah di hadapannya. Mereka baru menjalin hubungan selama beberapa bulan tapi Laura merasa seluruh hati dan keyakinannya sudah tertumpu ke sosok di hadapannya ini. Untuk itulah Laura ingin melakukan apa saja untuk Aidan.
Mungkin hanya Laura yang mengerti betapa berartinya menulis bagi Aidan. Jauh lebih berarti ketimbang grafik untung rugi perusahaan miliknya, atau rencana pengembangan kompleks perumahan terbaru yang sekarang sedang digarapnya.
Come on, jangan nelangsa kayak gitu.”
“Kamu memaksaku melakukan apa yang ingin kulakukan tapi aku tahu aku nggak bisa,”
Laura mengecup lembut pipi Aidan. “Kamu harus melakukan apa yang membuatmu senang. Sesempit apa pun, kamu pasti punya waktu.”
Tangan Aidan terjulur ke belakang Laura. dia mengambil beberapa map dari atas meja dan menunjukkannya di hadapan Laura. “Ini nggak bisa berbagi, laura.”
Laura hanya mendecakkan lidah sambil menggeser tangan Aidan yang memegang map tersebut sejauh mungkin dari hadapannya. “Richard suka olahraga dan dia selalu punya waktu untuk itu. Allan suka fotografi dan dia selalu punya waktu sekali sebulan untuk hunting foto.” Laura menyelipkan jari-jarinya ke rambut Aidan yang sudah mulai memanjang. Ikal-ikal rambut itu selalu membuatnya gemas. “Mereka melakukannya karena mereka mau. Jadi nggak ada alasan lagi untuk kamu.”
Aidan terdiam. Dalam hati dia membenarkan ucapan Laura. Hanya saja Aidan tidak yakin dia bisa membagi waktu sebaik yang dilakukan Paman dan Kakaknya itu. Namun Aidan juga tidak bisa memungkiri bahwa desakan Laura begitu menggiurkan karena dirinya memang sangat mencintai saat-saat yang dihabiskannya dengan menulis.
“Nggak ada salahnya mencoba.”
Aidan mengangguk.
“Kamu setuju karena benar-benar setuju atau hanya agar aku diam?”
Pertanyaan itu membuat tawa Aidan tersembur. Tubuhnya terguncang saking kerasnya dia tertawa. Sementara di hadapannya Laura hanya cemberut dan menatap Aidan dengan tatapan tajam—tatapan yang menyuruh Aidan berhenti tertawa.
Namun lama-lama bibir Laura tertarik membentuk sebaris senyuman. Tatapannya pun melunak. Entah magnet apa yang dimiliki Aidan sehingga setiap kali dia tertawa maka orang yang ada di dekatnya akan ikut tertawa. Seperti saat ini.
“Terserah kamu, tapi aku hanya mengusulkan yang terbaik.”
Aidan mengangguk dan mengeratkan pelukannya di tubuh Laura.
“Apa arti anggukanmu itu?”
Come on, Laura. Bisa kan sekali aja kamu nggak menganalisa apa yang kamu lihat? Kamu bukan Poirot.”
“Memang, but I love Poirot,” sahutnya singkat seraya turun dari pangkuan Aidan.
“But you love me more.”
Ucapan Aidan masih tertangkap oleh telinganya ketika Laura perlahan berjalan menuju lemari es demi mengambil minum. Dia tidak menjawab tapi dalam hati membenarkan ucapan itu.

Thursday, February 14, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #8 Jampi Jampi Varaiya

Jampi Jampi Varaiya
By Clara Ng



Beristirahat sejenak dari pesona Middle Earth dengan membaca novel fantasi asli Indonesia. Ini novel pertama dari trilogi karya Clara Ng. Seenggaknya, nama besar Clara Ng cukup jadi jaminan kenapa harus baca novel ini.
Seperti judulnya yang ada kata jampi-jampi, novel ini memang tentang penyihir. Jangan bayangkan penyihir berjubah kelabu yang sangat bijak, itu Gandalf. Atau penyihir pada umumnya—berhidung bengkok dan naik sapu terbang. Juga bukan sekolah modern dengan murid belajar sihir—itu Hogwart. Ini tentang kisah para penyihir yang lucu.
Cerita berpusat di Oryza Sativa Raya, penyihir level delapan, yang sangat ingin bisa memasak. Dia menyuruh adiknya, Solanum Tuberosum Raya, mendapatkan ramuan Varaiya yang bisa membuatnya ahli memasak. Sola mencurinya dari restoran milik Nenek Gray dan Strawberry. Namun ternyata hasilnya malah kacau. Rendang bikinan Oryza kabur, roti sibuk menyanyi dengan bahasa Rusia, cangkir bisa berjalan dan menggigit Xander hingga berdarah, dan kakaknya Zea Mays, dan Sola jadi aneh. Untuk mengembalikan Zea dan Sola seperti semula, Oryza harus mencari Tamerit yang ada di Pulau Varaiya.
Masalahnya Pulau Varaiya ini sangat susah ditemukan. Dibantu Xander, penyihir yang dijodohkan dengan Oryza, Pax, penyihir sahabat Xander yang diam-diam menyukai Oryza, dan ayahnya yang disapa Dadi, Oryza berangkat ke Pulau Varaiya bersama kapal Duyung Menggoda punya Pak Kapten dan putrinya Nuna.
Sesampainya di sana, mereka malah harus mendapatkan masalah karena masa lalu Pax dan terlibat adu sihir dengan Tsungta, penguasa Varaiya sampai harus dipenjara.
Novel ini sangat menghibur. Masing-masing tokoh terasa begitu komikal. Pertengkaran demi pertengkaran antara Xander dan Oryza sukses membuat gue tertawa. Belum lagi tingkah Pax yang rela berubah jadi kucing buluk jelek bernama Dakocan demi bisa dekat dengan Oryza. Perjalanan mereka ke Pulau Varaiya terasa sangat menghibur.
Kelucuan juga timbul dari Strawberry dan Aqua—penyihir dari kelas ningrat—yang mencintai Xander. Mereka diam-diam mengikuti Xander dan berniat mencelakakan Oryza dan kapalnya lalu muncul sebagai pahlawan bagi Xander. Mereka yang suka salah menyebut nama masing-masing juga sukses bikin tertawa.
Meski di beberapa tempat gue skimming, tetap nggak mengurangi kenikmatan membaca buku ini. Lumayanlah untuk merilekskan otak sehabis belajar sejarah Quendi bikinan Tolkien, hehehe.
Clara Ng is one of my favourite. Dia nggak pernah mengecewakan gue. Dan Clara juga terkenal dengan penulis buku anak sehingga Jampi Jampi Varaiya di beberapa sisi terasa kekanak-kanakan.
Lupakan Avada Kedavra atau tongkat sakti Gandalf karena sekarang saatnya menyihir dengan mantra Menyerang-Kecepatan-Tinggi-Seperti-Kilat-Guntur-Dan-Langit-Yang-Sakit-Perut.
Once more, di buku satu ini gue belum memutuskan untuk naksir Xander atau Pax. Untuk suka sama Dakocan atau Mob ibb hihihi.

Sunday, February 10, 2013

[Indonesian Romance Reading Challenge] #7 Singgah

Singgah
By Jia Effendi dan 10 Penulis Lainnya



Inilah kumpulan cerpen yang sudah kedengeran gaungnya sejak tahun lalu. Akhirnya terbit juga. Dan gue beruntung ikut launchingnya, hehehe.
Singgah berisi 13 cerita yang ditulis 11 penulis dengan latar bandara, pelabuhan, stasiun, dan terminal. Sebuah ide unik, mengingat keempat tempat ini sudah akrab dengan kita. Tempat persinggahan sementara tetapi ada banyak cerita bisa terjadi di sana.
Gue tahu kumpulan cerpen ini karena Jia sempat mengadakan sayembara untuk mengisi tempat di dalamnya bagi dua penulis. Sempat ikutan sih tapi gagal. Tapi yang kepilih kebetulan gue kenal dua-duanya dan tahu kualitas tulisan mereka kayak apa. Beberapa penulis gue kenal, baik secara personal ataupun sebatas timeline saja.
1.                   Jantung by Jia Effendie
Inilah penggagas kumcer ini. Jujur, gue tahu Jia penulis tapi belum pernah baca bukunya (my bad). Komentar gue tentang cerita ini: nggak ngerti. Gue bertahan baca karena berharap di akhir ada penjelasan, tahunya nggak ada. Mungkin kapasitas otak gue yang nggak bisa mencerna cerita berat (nyastra) dan butuh pemahaman lebih lanjut. Sorry Jia, Jantung is not my type.
2.                   Dermaga Semesta by Taufan Gio
Love that story. Sederhana tapi nendang. Ya, gue memang cocoknya dengan tulisan-tulisan sederhana yang bisa langsung dimengerti. Ceritanya pun sedih. Melihat penggambarannya, gue nggak yakin ini tulisan fiksi pertamanya Mas Badai. Kecenya pakai badai, hahaha.
Dermaga Semesta bercerita tentang seorang cowok yang datang ke sebuah pulau penuh kenangan antara dia dan mantan pacarnya. Dia membawa beberapa foto. Lalu di sana dia melakukan napak tilas ke tempat-tempat yang ada di dalam foto untuk melepas kenangan akan sang mantan yang ternyata sudah …. *no spoiler*. Sedih dan manis at the same time.
3.                   Menunggu Dini by Alvin Agastia Zirtaf
One of my favourite. Tentang pertemuan nggak sengaja seorang cowok di stasiun Tugu dengan seorang Pak Tua. Pak Tua yang menunggu kekasihnya Dini. Lalu Pak Tua pun bercerita tentang Dini.
Endingnya gue udah bisa nebak tapi tetap aja gue bertahan bacanya. Manis dan sedih. *lap air mata*. Gue nggak kenal siapa Alvin sebelumnya, tapi mungkin abis ini akan baca tulisan Alvin lainnya.
4.                   Moksha by Yuska Vonita
Gue udah baca cerita ini berkat kemurahhatian Mbak Yuska ngasih izin baca begitu cerpen ini selesai ditulis. Namun gue masih betah baca ulang. Kebetulan sebelumnya juga sudah baca cerita dengan tokoh sama.
Cerita ini benar-benar tipikal mbak Yuska. Nyerempet budaya yang memang kesukaan beliau. Kali ini budaya India. Cerita ini based on true story dan gue pernah diceritain tentang kelanjutan yang sebenernya. Percayalah, sedih banget.
Moksha bercerita tentang seorang cewek India yang pergi ke India untuk menenangkan bathinnya dan bisa memilih siapa yang akan mendampinginya kelak. Panji, pacarnya yang Jawa tulen atau Vikram, si India yang dijodohkan keluarganya.
Karena berlatar keluarga India, ada banyak istilah di footnote. Capek sih bacanya tapi menambah pengetahuan.
5.                   Kemenangan Apuk by Bernard Batubara
One of my favoutite too. Cara Bara bercerita dari sudut pandang anak kecil di Kapuas benar-benar pas. Bahasanya pun disesuaikan dengan bahasa Kapuas. Hanya saja, ini terlalu singkat. I want more. Gue berharap ini lebih dieksplore lagi aja.
Ceritanya sederhana. Tentang Apuk yang capek diejek teman-temannya karena sebagai anak Kapuas, dia nggak bisa berenang. Apuk pun bertekad akan membuktikan dirinya anak Kapuas sejati dengan bisa berenang.
Spoiler: sedia tisu sebelum baca.
6.                   Langit di Atas Hujan by Dian Harigelita
Ini cerita jleb banget. Kenapa? Because I see my self in this story. Kinan is soooo me. Karena Kinan mencintai Angga, si idealis yang hidup dari hari ke hari. Kinan pun berharap bisa seidealis Angga. Angga si cerdas. Angga si santai. Namun Angga hanya bisa dimiliki di imajinasi.
Karena realita nggak memungkinkan hidup bersama Angga. Realita memaksa Kinan berpikir realistis. Bekerja dan pacaran dengan si mapan.
A Cinderella syndrome story.
Ceritanya sederhana. Tapi gue ngerasa sama kayak Kinan. I need someone like Angga. Dan hidup dari hari ke hari kayak Angga. Dan sama seperti Kinan, gue hanya bisa mengikut apa kata realita. Hiks.
7.                   Semanis Gendhis by Anggun Prameswari
Ceritanya semanis judulnya. Juga sedih. Bukan tipe gue sebenarnya karena nyerempet masalah sosial hahaha. Tapi syukurlah bisa menikmatinya. Gaya bercerita Mbak Anggun yang jadi penyelamat.
8.                   Rumah Untuk Pulang by Anggun Prameswari
Satu kata: nggak ngerti.
Harusnya, cerita yang menyinggung masalah sosial atau kehidupan sehari-hari seperti ini bisa dengan mudah dicerta. Mungkin, there is something wrong with my brain yang sudah lama terkontaminasi Sex and The City dkk jadi nggak begitu masuk dengan tipe cerita kayak gini.
9.                   Memancing Bintang by Aditia Yudis
Sama seperti Moksha, gue udah baca cerita ini begitu baru aja selesai ditulis. Ini salah satu pemenang sayembara yang dibikin Jia.
Komentar gue dulu ke Adit: gue pengin memancing bintang jodoh saja hahaha.
Tipikal cerita Adit, deskripsinya manis dan mengalir lancar. Ceritanya sederhana tapi manis. Nah, cerita-cerita kayak gini sih gampang banget nyantol di otak gue, hihihi.
PS: Dit, mancing bintang jodoh bisa dapat Aidan nggak? Hehehe.
10.               Para Hantu & Jejak-Jejak di Atas Pasri by Adellia Rosa
Mbak Adel ini pembeli pertama online shopku (OOT) dan jadi salah satu pemenang sayembara juga. Judulnya bikin serem karena gue takut banget sama hantu hahaha. Gue suka baca blog mbak Adel dan takjub dengan cerpen dia yang dibagi ke beberapa subbagian dan dikasih judul. Unik. Cerpen ini juga kayak gitu.
Kalau boleh gue bilang, ini bukan cerpen tapi dongeng, karena bacanya kayak baca dongeng. Sedih sih tapi karena cara mbak Adel nyeritainnya unik jadinya seru.
11.               Koper by Putra Perdana
Gue memulai baca cerpen ini dengan ekspektasi tinggi. Harapan gue: akhirnya ada juga cerita action di sini.
Tapi sepertinya gue terlalu berharap banyak. Memang sih begitu baca otak gue langsung mengimajinasikan cerita action di bandara yang penuh aksi kejar-kejaran. Gue bacanya semangat. Tapi di ending, jlebb… langsung turn off dengan ending tanpa penyelesaian. Ish, nggak pernah suka sama cerita gantung kayak gini, hahaha.
12.               Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita by Artasya Sudirman
Ini keberatan judul. Atau mungkin Tasya begitu piawai memilih judul?
Ceritanya sederhana dan mengambil latar Yunani. Juga kapal pesiar. Aaakkkk keren. Namun ceritanya sendiri yaaaa not badlah. Manis sih, haru juga. Tapi gue nggak puas aja.
13.               Pertemuan di Dermaga by Jia Effendie
Setelah nggak ngerti di Jantung, akhirnya Jia memuaskan keinginan gue di cerita ini. I like it. Oh no, I love it. Dan pelajaran yang gue tangkap: please deh, kalau masih cinta jangan gengsi. Makan tuh gengsi, hahaha.
So far, Singgah is not my type. Memang ada beberapa cerita yang memuaskan tapi kalau dinilai secara keseluruhan, gue nggak terlalu masuk ke dalam cerita. Eh, ini penilaian pribadi ya. Memang gue aja yang sukanya sama cerita-cerita cinta ringan dengan bahasa lugas apa adanya.
Tapi launchingnya seru loh, hihihi.

[Indonesian Romance Reading Challenge] #6 Puzzle

Puzzle
By Rina Suryakusuma



Another old novel from Rina Suryakusuma. Nggak sengaja ketemu di Pesta Buku Murah Januari kemaren.
Novel ini bercerita tentang pasangan Susanna Paradika dan Gerard Wicaksono. Susanna beruntung banget bisa menikah dengan Gerard tapi karena satu kesalahan yang tidak dia sadari awal mula terjadinya, pernikahannya terancam batal. Susan memutuskan untuk menyembunyikannya karena nggak mau kehilangan Gerard. Dan mereka menikah.
Fairy tales said that after their married, they will live happily ever after. Tapi bukan begitu bagi Susan. Di balik semua kesempurnaan Gerard, pria itu begitu menjunjung tinggi kejujuran. He forgive but never forget. Dan pernikahan Susan pun serasa seperti neraka.
Untuk menentramkan hatinya, Susan yang mencintai arkeologi ikut ayahnya yang seorang arkeolog ke Nevada dalam sebuah ekspedisi menyelidiki mammoth. Di sana, Susan berkenalan dengan ketua tim, Andrew Hobbart, yang sweet banget.
I see you when I see you, begitu janji Andrew.
Ketika Susan merasa sudah tenang, dia mendapat panggilan untuk ikut dalam ekspedisi ke Gunung Sindoro. Ekspedisi ini akan menyelidiki sisa-sisa reruntuhan kaum Capuca. Susan yang memiliki minat terhadap hal ini pun ambil bagian dalam ekspedisi ini. namun tidak disangka dia bertemu Gerard. Kali ini di bawah bayang-bayang Reissabel Adam, crème de la crème nya ibukota, the real socialite, yang selalu mengikuti Gerard.
Dan Andrew pun tiba-tiba muncul. I see you when I see you. Janji Andrew pun dibuktikannya.
Di tengah keindahan Gunung Sindoro, cinta Susan dan Gerard pun kembali diuji.
I always love her writing. Manis, dengan diksi yang menarik, dan alur yang mengalir lancar. Benar-benar tipikalnya Rina. Baca Puzzle serasa baca Amore-nya Rina.
Ceritanya so far not bad-lah. Tapi entah kenapa, gue nggak suka tokohnya. Baik Susan ataupun Gerard. Terlalu sempurna. Well, gue memang nggak begitu suka dengan tokoh mary sue dan Susan dan Gerard terlalu mary sue. Makanya, baca novel ini sangat lama karena diselingi novel lain. Nggak seperti Ask Tinkerbell, novel Puzzle kurang ngena di gue. Nggak tahu alasannya apa karena kata Rina, dia begitu suka dengan karakter Susan dan Gerard ini.
Satu hal lagi yang mengganjal, yaitu cara pendeskripsian karakter. Di Postcard From Neverland, Rina menggambarkan Joshua mirip dengan Simon Cowell. Di Puzzle, Gerard digambarkan mirip dengan David Duchovny. Permasalahan gue bukan di bagian miripnya ini, tapi karena Rina nggak mendeskripsikan rupa mereka. Cuma dibilang mirip artis itu. Okelah di sini gue penggemar berat The X Files sejak SD jadi kayak apa rupanya si David Duchovny itu bisa tergambar jelas di benak gue. Lalu gimana kalau gue nggak tahu siapa David Duchovny atau Simon Cowell? Apa gue perlu googling dulu?
Selama ini, gue selalu bermasalah dengan gaya pendeskripsian yang memiripkan tokoh dengan artis tertentu tanpa penjelasan lebih lanjut. Bukan berarti dia artis jadi semua orang bisa mengenalnya kan? Akan lebih dapat feel-nya jika dideskrpisikan pakai kata-kata saja (pernah baca novel dengan tokoh yang mirip artis Korea. Gosh, gue nggak tahu siapa itu artis jadinya bingung deh).
Mungkin gue nggak sreg sama cerita karena nggak suka sama karakternya. Di balik tokoh Rina yang so far sering terlalu sempurna, gue masih bisa simpati dengan mereka. Tapi Gerard benar-benar out of my limit. Biasanya cowok nyebelin bisa bikin deg-degan, lha ini si Gerard malah minta ditonjok. Alasan dia untuk menghukum Susan nggak terlalu kuat. Begitu juga alasan dia tiba-tiba deketin Susan lagi. Banyak miss gue temuin di novel ini. Saran, jika ini diterbitkan ulang, ada banyak part yang bisa dieksplor lebih lanjut. Seperti misalnya Reissa yang tahu Susan ini istri Gerard. Beuh, bisa jadi drama banget itu. Atau wartawan yang tahu tentang mereka nggak tinggal bareng. Mantep tuh.
Juga karakter Susan. Terlalu naïf sampai-sampai gue gedeg sendiri sama dia. Alih-alih simpati, gue malah nggak habis pikir kenapa dia bisa sebego ini padahal kuliah aja di dua jurusan. Ampun.
Satu lagi, editingnya bikin males. Makanya, gue berharap banget ini novel diterbitkan ulang dengan editing yang lebih oke.
Namun cirri khas tulisan Rina yang manis tergambar banget di novel ini. Apalagi adegan pernikahannya. Mupeng peng peng, hahaha. Satu lagi yang bikin gue angkat topi yaitu latar belakang arkeologi. Ini novel pertama berlatar arkeologi yang gue baca. Jadi benar-benar fresh rasanya. Dan twist yang ada di akhir cerita lumayan jadi penutup yang indah.
Jika ada pelajaran yang ingin ditarik dari novel ini, janganlah mengundang stripper cowok saat bachelorette party jika tidak ingin membahayakan pernikahanmu kelak (langsung keinget obrolan geblek sama teman-teman yang sempat membicarakan akan melakukan hal ini nanti *lol*).
So far, novel ini kurang memuaskan. In my humble opinion, mbak RIna.

Tuesday, February 5, 2013

Dear Luke Garroway

Ditulis untuk #30HariMenulisSuratCinta tema Surat untuk tokoh fiksi.

PS: Mengandung spoiler The Hobbit dan Being Human.


Kepada: Luke Garroway dan identitasmu yang lain di kehidupanmu terdahulu

Dear Luke Garroway
Saat ini, kita memang belum saling mengenal. Maksudku, aku belum mengenalmu. Namun percayalah, dalam waktu dekat aku akan mengenalmu.
Perjalanan tangan nasib tidak pernah kita duga. Begitupun perkenalanku denganmu. Berawal dari cerita lalu tiba-tiba saja namamu begitu penting untukku. Pertama-tama maafkan aku karena menjadikanmu nomor sekian. Tidak menjadikanmu sebagai prioritas nomor satu. Membuatmu dikalahkan oleh orang lain.
Namun, pernahkah kamu menyadari bahwa di kehidupan sebelumnya kita sudah bertemu? Dan di kehidupan sebelumnya ini pula aku jatuh cinta.
Dua kali. Aku jatuh cinta padamu dua kali.
Pernahkah kamu membayangkan jatuh cinta kepada orang yang sama sebanyak dua kali?
Dan seperti cinta di dalam kisah drama pada umumnya, aku pun berakhir di patah hati. Dua kali, Luke. Can you imagine it? Tahukah kamu bagaimana rasanya? Sakit. Setiap kali aku meneteskan air mata mengingat kepergianmu di kehidupan terdahulu, hatiku rasanya seperti diremuk.

John Mitchell.
Perjalanan tangan takdir membuatku mengenalmu. Kamu berumur seratus delapan belas tahun dan aku dua puluh tiga tahun. Sebuah jarak yang begitu kentara, tapi tidak pernah ada kata tidak mungkin dalam cinta. Aku mencintaimu, mencintai misterimu, kelebihanmu, juga sisi kelam dirimu. Aku mencintai caramu yang berusaha untuk terlihat biasa padahal kamu tahu, kamu tidak biasa. Kamu luar biasa. Kamu abadi tapi kamu mencoba berbaur dengan mereka yang tidak abadi.
Ingin rasanya aku melintasi lautan demi menujumu. Memberitahumu bahwa aku menerimamu apa adanya kamu. Tidak seperti mereka yang masih saja mempertanyakanmu. Malah, mereka mengkhianatimu. Membuatmu dikuasai emosi hingga terjadilah kejadian berdarah di tunnel 20.
Apakah aku membencimu? Tidak. Kamu punya alasan unutk itu. Alasan yang kamu pendam sendiri tanpa ada keinginan untuk berbagi. Alasan yang akhirnya membuatmu memilih untuk pergi dari dunia biasa ini karena takut tidak bisa mengendalikan diri lagi. Andai aku bisa, aku akan mencegahnya. Kamu layak untuk tetap hidup. Seratus dua ratus tahun tidak masalah. Kamu berhak untuk itu. Namun kamu memilih keputusan itu. Di tangan sahabatmu, kamu biarkan dia menancapkan pasak kayu di jantungmu dan membuatmu menjadi abu.
Kata sahabatmu, dia melakukannya karena mencintaimu. Dan aku di sini menangisi kepergianmu karena mencintaimu.
Namun tidak apa karena di kehidupan selanjutnya kita bertemu lagi.
Lupakan rambut keritingmu karena sekarang aku mengenalmu dengan rambut panjang dan identitasmu sebagai Kili.

Kili, Son of Dis, Heir of Durin
Tahukah kamu bahwa kamu sudah lama hidup dalam imajinasiku? Ketika akhirnya aku tahu kamu akan menjejak tanah Shire demi merebut kembali hakmu yang tercerabut sebelumnya, aku jatuh cinta lagi. Aku telah mengikhlaskan kepergianmu di kehidupan sebelumnya karena di kehidupan sekarang aku bisa bersama kamu lagi.
Aku mencintaimu. Senyummu. Tawamu. Caramu melepaskan anak panah. Meski kamu terlihat kucel karena pengembaraanmu. Dan aku menangis melihatmu terjebak gerombolan orc dan goblin yang menyeramkan. Aku mendoakan keselamatanmu, itu pasti. Andai aku bisa, aku akan memanggil Gwaihir atau Shadowfax dan meminta mereka membawaku melintasi Misty Mountain demi mencegahmu melakukan pengembaraan ini.
Namun sekali lagi waktu tidak mengizinkan kita untuk bersama selamanya karena sekarang, aku sedang menghitung waktu menuju kepergianmu. Sekali lagi kamu mengakhiri hidupmu. Kali ini bukan di tangan sahabatmu, tapi di tangan musuhmu. Kali ini kamu pergi karena tidak sanggup mengendalikan dirimu, melainkan sebagai pahlawan yang berhasil merebut kembali tanah leluhurmu. Tersenyumlah di pelukan kakak dan pamanmu. Bersiaplah kembali ke pelukan Aule, penciptamu, dan Eru Iluvatar, ayah angkat leluhurmu. Di sini aku berdoa semoga Elbereth senantiasa menyinarimu.
Sekarang, aku menikmati masa-masa kebersamaan kita. Di waktu singkat ini, aku ingin mengenang semua tentangmu. Kematian itu pasti. Nasibmu sudah digariskan semenjak tahun 1937. Kamu akan pergi di depan pintu gerbang istanamu.

Dear Luke Garroway
Kini, di saat aku tengah menikmati waktu bersama Kili, aku tahu jika di kehidupan mendatang aku akan bertemu kamu lagi. Di sosok yang berbeda. Namun kamu masih sama, masih memiliki kekuatan istimewa yang membuatku jatuh cinta.
Sekarang kita belum saling kenal namun aku janji, cepat atau lambat aku akan mengenalmu. Aku akan jatuh cinta padamu. Namun kumohon, jangan membuatku patah hati lagi. Jangan meninggalkanku lagi.
Ada rumor yang menyebutkan kepergianmu. Kumohon, bertahanlah. Jangan biarkan aku menangisi kepergianmu lagi. Dua kali sudah cukup. Aku tidak ingin ada yang ketiga.
Jadi kumohon, bertahanlah. John Mitchell sudah menjadi abu. Kili sudah pulang ke Hall of Mandos. Hanya tinggal kamu. Jadi, bertahanlah.

Salam sayang,
Pencintamu.
NB: Benarkah rumor yang kudengar bahwa di kehidupan keempat nanti kamu akan kembali? Kali ini dengan sepasang sayap dan kamu memilih tinggal di Eretz. Aku berharap rumor ini benar dan jika memang benar, kumohon, jangan pernah pergi. Akhiri kehidupanmu dengan senyuman. Jangan menebar air mata lagi.
NB 2: Kili, bisakah kamu membujuk Vala Mandos untuk memberimu kesempatan kehidupan kedua? Luthien pernah melakukannya dan dia mendapatkannya. Pesanku, carilah Luthien atau Beren, dan minta petunjuk mereka agar kamu bisa membujuk Vala Mandos. Berusahalah, karena di sini aku menunggumu.