[Indonesian Romance Reading Challenge] #25 Bangkok: The Journal - Moemoe Rizal

Bangkok: The Journal
Moemoe Rizal



Bangkok: The Journal mengajak pembaca bersama-sama Edvan mengelilingi Bangkok mencari lembaran kalender tahun 1980 yang dititipkan oleh ibunya kepada orang-orang yang dia percayai. Bukan sembarang kalender karena di balik lembaran kalender usang itu ada catatan ibunya. Cerita ketika ibunya berada di Bangkok dan jatuh cinta pada ayahnya.
Selama sepuluh tahun Edvan hidup sendiri, bersama keangkuhannya, dan kebenciannya kepada ibu dan adiknya, Edvin. Edvan sukses. Kaya. Ganteng. Arsitek terkenal di Singapura. Ogah untuk pulang karena gengsi. Tapi pesan dari Edvin mengubah segalanya.
Ibunya meninggal.
Edvan pulang.
Bertemu Edvin yang sudah berubah jadi Edvina.
Dulu Edvan pergi karena bersitegang dengan ibunya mengenai wasiat ayahnya. Sekarang Edvan mendapatkan wasiat dari ibunya berupa lembaran kalender berisi cerita ibunya tahun 1980. Edvan harus mencari enam lembaran lainnya di Bangkok.
Sounds impossible, isn’t it?
Edvan juga merasa begitu. Bisa saja dia mengabaikan pesan terakhir itu, memesan tiket ke Singapura dan melanjutkan hidupnya. Edvin juga sudah memberinya opsi itu. Namun sisi hati terdalamnya membuatnya menyadari bahwa dia merindukan ibunya dan menyayangi beliau sehingga dia pun menerima tantangan ini.
Bersama kakak beradik Charm dan Max, Edvan mengelilingi Bangkok dan mendapatkan hal yang lebih berharga ketimbang warisan. Cinta dan keluarga.
Ini pengalaman pertama membaca buku Moemoe Rizal. Pengalaman pertama membaca serial Setiap Tempat Punya Cerita yang dikeluarkan Gagas Media dan Bukune. Buku ini berangkat dari sudut pandang Edvan dan feel cowoknya dapet banget. Good job, Moe.
I love drama. I love romance. I love travelling. Ketiganya terangkum dalam serial ini. Kece.
First though: Moemoe’s writing style’s is engaging. Niat awalnya cuma mau baca dikit pas tidur-tidur ayam begitu pulang kerja. Tahu-tahu nggak bisa berhenti sampai gue membalik halaman terakhir jam 02.00 dini hari. Untung besoknya Sabtu. Niat untuk berhenti di tengah-tengah dan lanjutin besok jadi nggak terlaksana karena cara Moemoe bercerita benar-benar engaging banget.
Karena ini buku STPC pertama yang gue baca, gue nggak punya perbandingan dengan seri lain soal deskripsi tempat. Moemoe deskripsinya juara. Bukan cuma deskripsi tempat yang benar-benar detail, kebiasaan orang Bangkok juga detail. Cuma satu yang bikin lidah gue keseleo, kutipan dalam bahasa Thai. Alamak, itu bahasa kan susah dibaca. Jadi, gue skip aja hehe.
Gue sempat pesimis awalnya karena seri ini menggabungkan cerita dengan travelling. Biasanya, jika dua hal ini digabungkan, ada salah satu yang keteteran. Good job, Moe, semuanya pas. Nggak ada yang keteteran. Travelling-nya pas. Romance-nya pas. Drama family-nya pas. I love it.
Inti cerita ini menurut gue adalah drama family. Bahwa sejauh manapun lo pergi dan nggak mengakui homesick, sisi hati terdalam lo mengakui itu. gue nangis waktu baca Edvan nelepon Edvin saat dia di bandara Khan Koen. Sendirian dan ingat waktu kecil kenekadannya bikin dia ke Surabaya sendirian tapi malah nyasar ke Yogya. Tapi ada orangtuanya yang menjemputnya. Sekarang orangtuanya udah nggak ada tapi tiba-tiba aja Edvan nelepon Edvin. Mesk dia nggak mau ngaku, narasi Edvan di bagian ini bikin haru.
Banyak adegan yang bikin haru. Gue lebih suka cerita Edvan-Edvin ketimbang Edvan-Charm.
Tokoh-tokohnya kuat banget. Edvan yang narsis, Charm yang menyenangkan tapi misterius, Max yang riang-bodoh-kekanak-kanakan, dan Edvin yang ramah dan centil. I love all of them.Interaksi antar tokoh bisa bikin ketawa. Bahkan tokoh-tokoh minor yang selewat muncul selama pencarian Edvan pun nendang banget. Terutama si kecil Kanok dan Monyakul. Gue juga nangis waktu adegan Kanok-Monyakul ngobrol sama Edvan ini.
Satu hal yang gue acungi jempol adalah keberanian Moemoe mengangkat isu transgender. Iya sih, di Bangkok ini nggak heran lagi. Namun, menghadirkan sosok utama Edvin yang berubah menjadi Edvina, itu cukup berani. And I love it. (Edvina reminds me of someone. My senior at campuss).
Oh ya yang cukup bikin gue shock. Charmn ceritanya kuliah di Indonesia. Komunikasi UI. Mengingat umur Charmn 26, berarti dia masuk kuliah angkatan 2005, dua tahun di atas gue. Tapi nggak ada tuh seingat gue senior gue dari Thailand #eaaa *lol*.
Membaca cerita ini, gue selalu terbayang Loong aka Theradej Wongpuapan, aktor Thai yang main di Bangkok Traffic Love Story. Film Thai pertama yang gue suka, sampai sekarang. Baca Bangkok bikin gue kangen nonton film itu, nggak terhitung udah berapa sering gue nontonnya hihi.
Namun, ada yang mengganggu keasyikan gue membaca buku ini. Font yang digunakan pas bagian jurnal ibu Edvan sukses bikin gue jereng. Apalagi penerangan kamar yang remang-remang, makin minus deh mata gue haha.
Once again, ketidakkonsistenan. Gue nggak tahu apa ini luput dari editan apa gimana. Jadi, di awal-awal Edvan belum bisa menerima keadaan Edvin. Dia masih menyangkalnya. Baru menjelang akhir Edvan mau memanggil Edvina. Tapi… di awal-awal beberapa kali disebut Edvina padahal saat itu Edvan belum menerimanya. Kalau dilihat sih sepertinya itu kesalahan editan aja alias bisa sih dibilang typo. Well, kurang teliti lebih tepatnya. Kedua, di bagian jurnal ibu Edvan, kadang dia menyebut dirinya aku, kadang saya. Well, gue ngerasa terganggu aja.
Ketiga, Charm (nama aslinya bukan ini tapi berhubung buku gue lagi jauh dan nama aslinya susah banget, jadilah gue nggak nulis di sini hihi). Gue udah bisa menebak kalau Charmn ini sebenarnya *uhuk* ya gitulah. Maksudnya buat twist tapi kebaca dengan jelas ke arah sana. Ketika Charm berbohong tentang keadaannya dengan menyebut tunangan, reaksi gue cuma ‘come on? Tunangan? It’s so ordinary. Udah biasa. Ketebak banget. Toh udah banyak yang memakai formula ini’.
Tapi, hal itu nggak mengurangi kesukaan gue sama buku ini. Malah gue mau baca buku Moemoe Rizal yang lainnya. Kangen juga baca buku dari penulis cowok dengan gaya yang cowok banget.
Oh ya, Edvan ini ceritanya kan arsitek. Ini juga two thumbs up buat Moemoe karena benar-benar berhasil menampilkan arsitek yang sebenarnya. Ketika Edvan mengomentari sebuah bangunan dengan bahasa-bahasa arsitek—kolom—gue ingat si Mas Arsitek satu itu dan keingetan waktu ngobrol sama dia dengan gaya yang kurang lebih sama seperti Edvan. Ketika Edvan narsis, ya well, bukankah arsitek selalu merasa dirinya dewa? Hihi.
Well, salam dari Bang Kachao

Comments

Popular Posts