[Indonesian Romance Reading Challenge] #22 1000 Musim Mengejar Bintang

1000 Musim Mengejar Bintang
Charon
(Ini cover lama. Punya gue cover lama. Kemaren baca di Twitter Gramedia kalau novel ini cetak ulang dengan cover baru)
(Ini cover baru. Jujur, gue lebih suka cover lama. Kesan musim gugur yang sendu cocok banget sama feel cerita)


Setelah sekian lama nggak baca Amore, akhirnya baca lagi. Sebelumnya belum pernah dengar nama Charon jadi ini pengalaman pertama baca buku dia.
Seribu Musim Mengejar Bintang. First tought: Judulnya lebay hahaha *sorry*
Novel ini bercerita tentang kehidupan Laura selama sepuluh tahun. Mulai dari dia berusia 16 tahun sampai 26 tahun. Laura yang tinggal di kota kecil di pinggiran kota besar—bingung? Sama, gue juga—dijuluki sebagai siswi kampung oleh teman-teman sekolahnya yang anak gedongan yang sudah barengan sejak TK. Laura hanya tinggal sama mamanya yang single parent. Laura digambarkan sebagai seorang anak penurut, introvert, selalu diam, dan sendu—yang terakhir cuma kesan yang gue tangkap selama membaca buku ini. Selama dua tahun Laura memendam perasaan suka sama Niko, si sempurna—ganteng, baik, kaya, pintar, ketua OSIS. Dooh! Too perfect—tapi diam aja karena merasa nggak selevel dan Niko juga sudah punya pacar, Erika, si popular. Baru di tahun ketiga Laura bisa menjadi teman sekelas Niko. Mereka dekat—tanpa rencana—tapi karena suatu kesalahpahaman, mereka berpisah dengan tidak baik-baik. Laura ikut mamanya yang dipindahin ke suatu kota entah di mana sejarak dua jam perjalanan dengan pesawat dari kotanya sekarang oleh kantor mamanya sedang Niko mengejar mimpinya menjadi perancang perhiasan ke New York.
Lalu cerita masuk ke bagian kedua. Tentang Laura dan kehidupan barunya sebagai pelayan resto, lalu asisten chef, chef, dan belajar ke chef terkenal di Italia. Lalu kembali dan jadi chef kepala. Bagian ketiga berisi tentang perjalanan Niko di New York, kuliah di Gemology Institute of America, hubungannya dengan orangtuanya, dan kemudian bekerja bersama Julien Bordeaux, perancang perhiasan ternama asal Prancis yang membantu mewujudkan mimpinya, sukses dan pulang ke Indonesia. Bagian keempat berisi tentang Laura yang bertemu dengan orang-orang dari masa lalu ibunya yang memberinya sebuah keluargabaru. Di sini dia bertemu Luki dan mengalami kecelakaan. Lalu bagian kelima, Laura-Luki-Niko. Pertemuan kembali mereka, kehadiran Luki, dan kecelakaan.
Akhirnya? Well, baca sendiri.
Ceritanya so far seru. Gue cukup enjoy meski bahasanya terlalu lembut dan gue yang sedang menerjang macet suka kehilangan kesabaran baca tulisan selembut ini sehingga beberapa di-skip. Tapi dialog Laura dan ibunya menurut gue terlalu kaku untuk sebuah percakapan ibu dan anak. Dan juga, alurnya terlalu cepat. Memang sih untuk sebuah perjalanan selama sepuluh tahun novel ini tergolong tipis. Terus, konflik berlapis yang dihadirkan membuat gue merasa hidupnya Laura ini rumit banget. Lepas dari satu masalah masuk ke masalah lain. Karakter Laura bisa saja menjadi gengges tapi syukurlah, gue nggak merasa dia gengges. Gue cuma nggak dapet feel Niko. Entah karena mengenal dia sejak bocah SMA, atau dia too perfect, atau apa. Justru Luki yang mencuri perhatian gue meski porsinya nggak sebesar Niko. Gue kecele dengan Luki. Gue pikir dia ada hubungan spesial dengan Laura, ternyata hubungan mereka hanya sebatas… ah sudahlah. Two thumbs up untuk kejutan ini. sedang Niko? Hidupnya terlalu gampang. Permasalahn dengan orangtuanya so cheesy. Meh, nggak ada effortnya haha.
Namun Niko sedikit dimaafkan berkat pilihan kerjanya. Perancang perhiasan alias ahli gemologi. Sebuah profesi yang fresh dan belum pernah diangkat. Mungkin next time ada novel yang jauh lebih mengulas tentang profesi ini karena sepertinya seru.
Yang paling mengganggu adalah ketidakjelasan di mana tokoh-tokoh ini tingga. Dooh! Apa susahnya sih nulis Jakarta? Atau kota lain? Kasih gambaran yang jelas gitu. Nggak Cuma ditulis kota kcil pinggiran berjarak 45 menit perjalanan naik bis ke sekolah, atau, kota besar yang ada bandaranya, atau kota besar sejauh dua jam perjalanan dengan pesawat dari kota kecil itu. Dooh! Gengges.
So far this novel is okay untuk mengisi waktu selama di perjalanan. Apalagi kalau dibaca sambil ngopi, angin sepoi-sepoi dari jendela mobil yang dibuka saat melaju di jalan tol yang kosong sehabis hujan. Manis. 

Comments

Post a Comment

Popular Posts