[Indonesian Romance Reading Challenge] #17 NY Over Heels

NY Over Heels
Dy Lunaly



NY Over Heels. Buku ini bercerita tentang kehidupan seorang cewek 20 tahun bernama Zee yang diterima magang di Casablanca, a ready-to-wear clothing line yang—katanya—paling hip di New York. Jadilah, Zee yang lulusan akademi fashion di Indonesia pergi ke New York untuk magang, sekaligus menghabiskan waktu sebelum kuliah di Parsons. Selama magang, Zee punya banyak pengalaman yang absofashionlutely–kangen pake istilah ini, hihi—awesome. Dia bertemu dengan idolanya, the ultimate creative director from Casablanca, Natasha Fay, juga desainer dan stylist yang selama ini cuma dilihatnya dari katalog di web Casablanca, George, Janna, Michael, dan Debbie. Bahkan Debbie ini jadi roommate-nya Zee. Oh, don’t forget about good looking guy named Joseph David Millier, a photographer from Casablanca. Dan dimulailah cerita keseharian Zee sebagai an intern girl at Casablanca.
Oke, jujur ini novel pertama Dy yang gue baca—sebenarnya takjub sama proses menulis Dy yang cepat banget. Setahu gue baru beberapa bulan lalu Dy nerbitin novel. Judulnya Remember Dhaka. Penasaran sih sama Remember Dhaka ini, tapi begitu tahu Dy ngeluarin novel baru, NY Over Heels, gue jadi lebih penasaran sama novel barunya ini.
Gue memasang ekspektasi tinggi sama novel ini. Karena dua hal. Satu. It’s about fashion. If you know me, si I’m sure why I soooooo curious about this novel. Dua, settingnya New York. Yup, New York is my biggest dream—who doesn’t, right? Thanks to Bentang Pustaka dan #kuisminggu sehingga gue menang novel ini.
So, NY Over Heels? Oh, gue berharap menemukan Lauren Weisberger Indonesia setelah menyelesaikan novel ini.
Ceritanya sendiri cukup bagus. Sangat remaja. Menceritakan keseharian Zee yang gue yakin mampu membuat siapa saja meneteskan air liur karena iri. Siapa yang nggak iri coba bisa magang di New York—membayangkan bisa kerja di Condé Nast Building atau Hearst Tower?
Ada dua hal yang jadi concern gue di novel ini—tahu kan kalau ekspektasi gue tinggi banget? Pertama, tokoh. Mary sue. I never like Mary Sue. Memang sih novel itu fiksi tapi tetap aja kan harus ada sisi human-nya? Mary Sue itu nggak ada human-human-nya. Zee itu terlalu beruntung. Cantik, baik, tajir, ditaksir cowok ganteng, bisa magang di Casablanca, rancangannya dipilih sama A-list actress, ditawari jadi junior designer, lulus tes Parsons, punya keluarga supportif. Nggak ada cacatnya. Udah gitu Zee juga sabar. Dooh! Bukan hanya Zee, Josh juga nggak ada cela. Sepasang manusia tanpa cela saling cinta tanpa halangan berarti, it’s a fantasy. Sampai akhir gue berharap sepasang manusia ini ada celanya, tapi yang ada malah keberuntungan-keberuntungan yang selalu menerpa Zee. Dooh! Mungkin ya untuk teenlit, remaja menginginkan tokoh mary sue ini, tapi sebagai pembaca, gue berharap tokoh-tokoh yang gue baca masih ada sisi human-nya. Tokoh lain, seperti Natasha Fay juga menjadi concern gue. Thanks to Anna Wintour yang sudah membuat paradigma kalau atasan tertinggi di dunia fashion—entah itu fashion design, fashion magazine, fashion business, anything—harus bersifat dingin, cantik, style oke, dan galak. So, Natasha Fay masih ada nyerempet-nyerempet Anna Wintour—juga Miranda Priestly.
Kedua, ceritanya kurang drama jadi satu novel hasilnya ya serba nanggung. Di awal, gue berharap there is something with Janna. Gue merasa Janna ini punya potensi untuk membuat Zee terlihat sedikit human tapi ternyata? Di tengah-tengah, Dy malah membuang Janna entah kemana. Gue mencari-cari Janna tapi ini cewek entah sedang nyemplung di mana. Menjelang akhir dia muncul lagi tapi kehadirannya semakin memperkuat betapa baiknya Zee, betapa semuanya bisa berjalan lancar tanpa ada kesulitan bagi Zee. IMHO, sikap Janna dengan ego tingginya juga larangan pacaran di sesama karyawan Casablanca serta hubungan Zee-Josh, gue berharap Janna lebih berperan sehingga dramanya lebih oke. Kehidupan Zee bisa sedikit bergejolak dan nggak lempeng begini terus.
Kebetulan. Ini faktor yang paling nggak banget di sebuah fiksi. Di novel ini, kebetulan papa Zee adalah rekan bisnis papa Josh terasa gengges. Gue nggak melihat ada indikasi khusus hubungan ini ada selain mempermulus hubungan Zee dan Josh. Tanpa ada ini pun hubungan mereka sudah lebih mulus dibanding jalan tol. Dan kemunculan seorang cewek yang hanya berupa nama, Jesse, dan membuat Zee cemburu lalu menghindari Josh terasa maksa. Seolah-olah Dy ingin menciptakan drama antara Zee-Josh tapi tetap saja nanggung. Dan kemunculannya telat. Dooh! Ya gue masih berharap Janna berperan besar karena dia punya potensi sebagai ‘biang kerok’.
Setting New York. Terlepas dari New York adalah idaman setiap orang, gue penasaran kenapa Dy memilih NY. NY is tooooooo mainstream untuk cerita ber-setting fashion. Sex and The City, The Devil Wears Prada, Lipstick Jungle, Gossip Girls, Everyone Worth Knowing, it’s all about New York and fashion. Dan gue nggak merasa there is something special with New York di novel ini. Memang sih NY itu one of fashion capital, but it’s too mainstream. Jika one day gue menulis novel tentang fashion—still in my dream—Ny is a big no no. Masih ada fashion capital lain kayak Milan, London, Paris. Bahkan, bocoran dari salah satu teman gue dari grup majalah yang suka meliput fashion week sana, pasar Indonesia tidak terlalu berkiblat ke New York—makanya mereka jarang meliput NYFW. Intinya, kenapa New York terlalu mainstream, itu karena tanpa bisa dicegah, pikiran akan langsung tertuju ke cerita-cerita yang basic-nya fashion dan ber-setting New York.
Oh ya, dalam novel ini gue menemukan dua adegan yang oh-so-The-Devil-Wears-Prada banget. Pertama, waktu Natasha menyuruh Zee datang ke rumahnya memeriksa paket dengan catatan Zee si anak baru. Otak gue langsung tertuju ke part Miranda menyuruh Andy datang membawa The Book ke rumahnya. Andy yang terbengong-bengong di rumah Miranda juga persis seperti Zee. Kedua, the intern girl, yang posisinya secara kasar bisa diartikan sebagai bawahan paling bawah, disuruh sebagai penyedia kopi. Ini juga yang dilakukan Andy. Ini juga ada di Style, ketika Lee Seo Jung disuruh membeli kopi oleh Park Ki Ja. Mungkin Dy nggak ada maksud untuk nyama-nyamain, cuma ya gue aja yang langsung ke sana pikirannya.
Overall, I like this novel. Cukup ringan jadi bisa dibaca santai sepulang kerja. Hectic-nya Casablanca dapet banget—make me want to watch The September Issue again—juga New Yorknya. Sebagai seseorang yang belum pernah ke New York, penggambarannya sudah pas meski setting yang ditonjolkan adalah setting yang sebenarnya sudah nggak asing lagi.
Satu lagi concern gue, kenapa nggak disebut aja sih nama-nama penting itu? Ini bikin gue gregetan. Contohnya ketika Zee nemenin Josh belanja di salah satu luxury brand dari Itali. Berkali-kali disebut brand ini-brand ini. Kenapa nggak sebut langsung? Gucci-kah? Prada? Armani? Valentino? Salvatore Ferragamo? Roberto Cavalli? Fendi? Etro? Atau apa? Dari pada ‘brand ini’ dua suku kata mending langsung sebut. Biar lebih jelas. Toh luxury brand dari Itali banyak. Satu lagi, nama fotografer kesukaan Josh. Cuma disebut fotografer itu. Kenapa nggak sebut nama? Annie Leibovitz-kah? Patrick Demarchelier? Mario Testino? Steven Meisel? Peter Lindbergh? Atau siapa?
Ketika gue membaca novel luar, kemunculan nama-nama tokoh asli ini bikin gue merasa makin dekat dengan tokoh-tokoh itu. Sekarang gue lagi baca Last Night At Chateau Marmont. Weisberger dengan luwes menyebut Sony Music, Jay Leno Show, Tonight Show, Last Night, juga artis-artis lain yang keberadaannya terkait dengan tokoh utama. Hal ini yang nggak pernah gue temuin di novel Indonesia. Hiks. *malah curcol*
Karena novel ini bertema fashion, jadi sudah pasti banyak istilah fashion bertebaran di sini. Hati-hati lidahnya patah, hihihi. I’m not a fashionista—kalau istilah ngeledek gue sama teman-teman, we are fashion-nista—tapi gue pede dengan pengetahuan fashion gue. Nah, gue aja yang sempat keseleo menyebut outfit di sini, maka kalian yang not into fashion, berhati-hatilah.
Terakhir. Ketika Dy menulis kerjasama Casablanca dengan Harold’s, department store from London, gue selalu menyebut Harrods. Duh Dy, nama udah mirip gini, kenapa nggak Harrods aja? Atau at least cari nama lain yang jauh dari nama asli. Gue ngerasa terganggu aja dengan kemunculan Harold’s karena bikin gue gregetan. Why Harold’s, not Harrods?
*Ini serius. Nggak ada hukum nggak boleh kan mencatut nama asli di novel? Toh nggak dijelek-jelekin gini. Gue gatel soalnya mau mencatut nama Elle, Marie Claire, Amica, Dewi, Clara, L’officiel, Surface and others di draft gue. Juga nama perusahaan nyata lainnya. Karena gue suka dan membuat cerita terasa lebih real. Anybody yang tahu jawabannya, please answer mu questions.*
Penutup, good job, Dy. Ditunggu novel fashion lainnya—tentunya tidak di New York lagi ya.

Comments

  1. Nice review!

    Apalagi novelnya pas sama passion Iiph...
    Kalau atasan di bidang fashion nggak kayak Anna Wintour ada di Glee Season 4, yang diperanin Jessica Sarah Parker (namanya lupa ...)
    yang ini atasannya nggak pedean banget gitu.

    Udah dapat buku ini beberapa hari lalu.
    Bukunya ada di meja sekarang, tapi belum minat baca, nih.
    Takut lidahku keseleo, hahaha

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts