[Indonesian Romance Reading Challenge] #14 Remember When


Setiap orang memiliki momen-momen remember when yang tidak terlupakan; kenangan yang akhirnya tersimpan rapi dalam kotak memori, saat-saat bermakna yang sesekali akan kita putar kembali untuk dikenang – Winna Effendie

Remember When
By Winna Efendi


Sebenarnya sudah tahu buku ini sejak lama, termasuk buku Winna yang lain, Refrain. Cuma nggak minat aja bacanya. Pertama, karena teenlit dan minat baca teenlit udah nggak ada. Kedua, pengalaman pertama bersama Winna nggak begitu bagus. Buku pertama yang dibaca adalah Ai dan itu nggak terlalu gue suka. Sampai akhirnya karena lagi nulis teenlit direkomenin baca buku ini. Setelah pinjam dari Adit dan baca ternyata bukunya bagus juga.
Remember When bercerita tentang dua pasangan, Adrian dan Gia, serta Moses dan Freya yang saling sahabat, plus satu sahabat sejak kecil Freya, Erik. Mereka sudah dua tahun pacaran. Moses + Freya ini beda banget dengan Adrian + Gia. Moses + Freya bisa dibilang membosankan banget pacarannya, nggak kayak Adrian + Gia yang berwarna. Namun, suatu saat mereka merasa perasaan mereka berubah. Nggak semua sih, cuma dua orang aja. Mereka mulai mencintai pasangan sahabatnya tapi memendam karena selain menghargai sahabat masing-masing, juga karena adanya ikatan lebih di salah satu pasangan.
Intinya, buku ini bercerita tentang perasaan yang bisa saja berubah. Perubahan akan pasti terjadi, disadari atau tidak. Termasuk dalam cinta.
Ceritanya teenlit banget, termasuk dalam memahami tentang cinta. Bahwa cinta adalah segalanya. Cinta si nomor satu. Ya namanya juga remaja, nggak mikir apa-apa. Termasuk ketika cinta berubah di saat sedang bosan. Sampai sekarang gue merasa kalau cinta di kala jenuh hanya cinta sesaat makanya agak nggak sreg dengan ending novel ini.
Gaya penceritaan Winna yang sempat bikin gue mengerutkan dahi di Ai nggak terjadi di sini. I enjoy this book. Winna memakai POV 1 dari lima tokoh and she did it. Dia berhasil melakukan perpindahan POV dengan sangat smooth dan perbedaan karakter kerasa banget. Tanpa ditulis nama pun, kelihatan Gia dan Freya itu beda. Ya yang paling mencolok adalah Adrian sih dengan ‘gue’ yang santai. Masalahnya, gue nggak pernah suka baca cerita dengan ‘gue’ dan prefer aku jadi ya agak-agak gitu sama Adrian.
I love Moses. Si kaku pintar yang lurus-lurus lempeng. Kesannya cool. Untung nih ya Moses cuma ketua OSIS, nggak anak basket juga—diwakilin sama Adrian. Soalnya gue males baca teenlit karena cowoknya biasanya sempurna. Semua yang oke-oke diborong, ya pintarlah, ketua OSIS, anak basket, semua diembat sama si tokoh utama. Membaca Moses bikin gue ingat sama Donny, kakak kelas gue yang ketua OSIS. Dan gue bayangin Moses kayak Donny hahaha *yess, ini salah satu momen remember when waktu SMA haha*
Yang nggak gue suka itu Gia. Menurut gue dia cemen. Udah tahu Adrian nggak cinta lagi sama dia, masih aja pura-pura buta dan pertahanin Adrian. Gue suka sama Moses yang legowo melepas Freya. Tapi iya sih, karena Gie ngerasa they will be forever and for always gara-gara mereka pernah making love. kalau di kisah dewasa mungkin akan sebodo amat kali ya si Gia tapi buat anak SMA memang berat sik. So, star away from sex ya adek-adek.
Mungkin tema ceritanya biasa tapi gaya penceritaannya juara. Itulah nilai tambah novel ini.
Jika boleh menyarankan, I hate ending. Duh, kok ya sinetron banget gitu sik? Okelah ya kalau mau bikin Adrian dan Freya bersatu, tapi kenapa harus bawa-bawa Moses? Gue paling nggak suka ending dengan bantuan orang lain kayak gini. Too good to be true. Nggak ada usaha sendiri. Karena ending ini, penilaian gue ke Freya drop.
Afterall, Remember When terbukti sukses mengobati kekecewaan gue karena baca Ai.
Saran gue, bacalah buku ini sambil dengerin Remember When dari Alan Jackson dan meningat-ingat momen remember when yang pernah terjadi dulu.

Comments

  1. Ah, ini toh buku POV itu. Pengin baca juga. Nice post.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts