[Indonesian Romance Reading Challenge] #7 Singgah

Singgah
By Jia Effendi dan 10 Penulis Lainnya



Inilah kumpulan cerpen yang sudah kedengeran gaungnya sejak tahun lalu. Akhirnya terbit juga. Dan gue beruntung ikut launchingnya, hehehe.
Singgah berisi 13 cerita yang ditulis 11 penulis dengan latar bandara, pelabuhan, stasiun, dan terminal. Sebuah ide unik, mengingat keempat tempat ini sudah akrab dengan kita. Tempat persinggahan sementara tetapi ada banyak cerita bisa terjadi di sana.
Gue tahu kumpulan cerpen ini karena Jia sempat mengadakan sayembara untuk mengisi tempat di dalamnya bagi dua penulis. Sempat ikutan sih tapi gagal. Tapi yang kepilih kebetulan gue kenal dua-duanya dan tahu kualitas tulisan mereka kayak apa. Beberapa penulis gue kenal, baik secara personal ataupun sebatas timeline saja.
1.                   Jantung by Jia Effendie
Inilah penggagas kumcer ini. Jujur, gue tahu Jia penulis tapi belum pernah baca bukunya (my bad). Komentar gue tentang cerita ini: nggak ngerti. Gue bertahan baca karena berharap di akhir ada penjelasan, tahunya nggak ada. Mungkin kapasitas otak gue yang nggak bisa mencerna cerita berat (nyastra) dan butuh pemahaman lebih lanjut. Sorry Jia, Jantung is not my type.
2.                   Dermaga Semesta by Taufan Gio
Love that story. Sederhana tapi nendang. Ya, gue memang cocoknya dengan tulisan-tulisan sederhana yang bisa langsung dimengerti. Ceritanya pun sedih. Melihat penggambarannya, gue nggak yakin ini tulisan fiksi pertamanya Mas Badai. Kecenya pakai badai, hahaha.
Dermaga Semesta bercerita tentang seorang cowok yang datang ke sebuah pulau penuh kenangan antara dia dan mantan pacarnya. Dia membawa beberapa foto. Lalu di sana dia melakukan napak tilas ke tempat-tempat yang ada di dalam foto untuk melepas kenangan akan sang mantan yang ternyata sudah …. *no spoiler*. Sedih dan manis at the same time.
3.                   Menunggu Dini by Alvin Agastia Zirtaf
One of my favourite. Tentang pertemuan nggak sengaja seorang cowok di stasiun Tugu dengan seorang Pak Tua. Pak Tua yang menunggu kekasihnya Dini. Lalu Pak Tua pun bercerita tentang Dini.
Endingnya gue udah bisa nebak tapi tetap aja gue bertahan bacanya. Manis dan sedih. *lap air mata*. Gue nggak kenal siapa Alvin sebelumnya, tapi mungkin abis ini akan baca tulisan Alvin lainnya.
4.                   Moksha by Yuska Vonita
Gue udah baca cerita ini berkat kemurahhatian Mbak Yuska ngasih izin baca begitu cerpen ini selesai ditulis. Namun gue masih betah baca ulang. Kebetulan sebelumnya juga sudah baca cerita dengan tokoh sama.
Cerita ini benar-benar tipikal mbak Yuska. Nyerempet budaya yang memang kesukaan beliau. Kali ini budaya India. Cerita ini based on true story dan gue pernah diceritain tentang kelanjutan yang sebenernya. Percayalah, sedih banget.
Moksha bercerita tentang seorang cewek India yang pergi ke India untuk menenangkan bathinnya dan bisa memilih siapa yang akan mendampinginya kelak. Panji, pacarnya yang Jawa tulen atau Vikram, si India yang dijodohkan keluarganya.
Karena berlatar keluarga India, ada banyak istilah di footnote. Capek sih bacanya tapi menambah pengetahuan.
5.                   Kemenangan Apuk by Bernard Batubara
One of my favoutite too. Cara Bara bercerita dari sudut pandang anak kecil di Kapuas benar-benar pas. Bahasanya pun disesuaikan dengan bahasa Kapuas. Hanya saja, ini terlalu singkat. I want more. Gue berharap ini lebih dieksplore lagi aja.
Ceritanya sederhana. Tentang Apuk yang capek diejek teman-temannya karena sebagai anak Kapuas, dia nggak bisa berenang. Apuk pun bertekad akan membuktikan dirinya anak Kapuas sejati dengan bisa berenang.
Spoiler: sedia tisu sebelum baca.
6.                   Langit di Atas Hujan by Dian Harigelita
Ini cerita jleb banget. Kenapa? Because I see my self in this story. Kinan is soooo me. Karena Kinan mencintai Angga, si idealis yang hidup dari hari ke hari. Kinan pun berharap bisa seidealis Angga. Angga si cerdas. Angga si santai. Namun Angga hanya bisa dimiliki di imajinasi.
Karena realita nggak memungkinkan hidup bersama Angga. Realita memaksa Kinan berpikir realistis. Bekerja dan pacaran dengan si mapan.
A Cinderella syndrome story.
Ceritanya sederhana. Tapi gue ngerasa sama kayak Kinan. I need someone like Angga. Dan hidup dari hari ke hari kayak Angga. Dan sama seperti Kinan, gue hanya bisa mengikut apa kata realita. Hiks.
7.                   Semanis Gendhis by Anggun Prameswari
Ceritanya semanis judulnya. Juga sedih. Bukan tipe gue sebenarnya karena nyerempet masalah sosial hahaha. Tapi syukurlah bisa menikmatinya. Gaya bercerita Mbak Anggun yang jadi penyelamat.
8.                   Rumah Untuk Pulang by Anggun Prameswari
Satu kata: nggak ngerti.
Harusnya, cerita yang menyinggung masalah sosial atau kehidupan sehari-hari seperti ini bisa dengan mudah dicerta. Mungkin, there is something wrong with my brain yang sudah lama terkontaminasi Sex and The City dkk jadi nggak begitu masuk dengan tipe cerita kayak gini.
9.                   Memancing Bintang by Aditia Yudis
Sama seperti Moksha, gue udah baca cerita ini begitu baru aja selesai ditulis. Ini salah satu pemenang sayembara yang dibikin Jia.
Komentar gue dulu ke Adit: gue pengin memancing bintang jodoh saja hahaha.
Tipikal cerita Adit, deskripsinya manis dan mengalir lancar. Ceritanya sederhana tapi manis. Nah, cerita-cerita kayak gini sih gampang banget nyantol di otak gue, hihihi.
PS: Dit, mancing bintang jodoh bisa dapat Aidan nggak? Hehehe.
10.               Para Hantu & Jejak-Jejak di Atas Pasri by Adellia Rosa
Mbak Adel ini pembeli pertama online shopku (OOT) dan jadi salah satu pemenang sayembara juga. Judulnya bikin serem karena gue takut banget sama hantu hahaha. Gue suka baca blog mbak Adel dan takjub dengan cerpen dia yang dibagi ke beberapa subbagian dan dikasih judul. Unik. Cerpen ini juga kayak gitu.
Kalau boleh gue bilang, ini bukan cerpen tapi dongeng, karena bacanya kayak baca dongeng. Sedih sih tapi karena cara mbak Adel nyeritainnya unik jadinya seru.
11.               Koper by Putra Perdana
Gue memulai baca cerpen ini dengan ekspektasi tinggi. Harapan gue: akhirnya ada juga cerita action di sini.
Tapi sepertinya gue terlalu berharap banyak. Memang sih begitu baca otak gue langsung mengimajinasikan cerita action di bandara yang penuh aksi kejar-kejaran. Gue bacanya semangat. Tapi di ending, jlebb… langsung turn off dengan ending tanpa penyelesaian. Ish, nggak pernah suka sama cerita gantung kayak gini, hahaha.
12.               Persinggahan Janin di Pelabuhan Cerita by Artasya Sudirman
Ini keberatan judul. Atau mungkin Tasya begitu piawai memilih judul?
Ceritanya sederhana dan mengambil latar Yunani. Juga kapal pesiar. Aaakkkk keren. Namun ceritanya sendiri yaaaa not badlah. Manis sih, haru juga. Tapi gue nggak puas aja.
13.               Pertemuan di Dermaga by Jia Effendie
Setelah nggak ngerti di Jantung, akhirnya Jia memuaskan keinginan gue di cerita ini. I like it. Oh no, I love it. Dan pelajaran yang gue tangkap: please deh, kalau masih cinta jangan gengsi. Makan tuh gengsi, hahaha.
So far, Singgah is not my type. Memang ada beberapa cerita yang memuaskan tapi kalau dinilai secara keseluruhan, gue nggak terlalu masuk ke dalam cerita. Eh, ini penilaian pribadi ya. Memang gue aja yang sukanya sama cerita-cerita cinta ringan dengan bahasa lugas apa adanya.
Tapi launchingnya seru loh, hihihi.

Comments

Popular Posts