Me and Tolkien

Ketika nulis blog ini, gue udah untuk yang ke sekian kalinya muter lagu Neil Finn - Song of the Lonely Mountain, soundtrack The Hobbit: an Unexpected Journey. Menurut gue ini soundtrack Lord of the Ring paling bagus, mengalahkan Enya - May it Be dan Annie Lennox - Into The West.

Dua belas tahun sudah gue tumbuh bersama epic fantasy ini. Bisa dibilang, ini novel fantasi yang setiap detailnya masih nempel di otak gue--oke, mungkin beberapa agak samar.

Gue ingat, perkenalan gue dengan cerita Frodo dkk ini terjadi secara tidak sengaja. Ketika itu gue kelas satu SMP. Kakak gue baru satu semester kuliah di Jakarta dan waktu dia mau pulang di liburan semester pertamanya, gue minta dibeliin buku cerita. Soalnya, di tempat tinggal gue--Bukittinggi--nggak ada toko buku. Adanya cuma Gramedia di Padang, itu pun harus menempuh perjalanan dua jam dan nggak terlalu update. Saat itu lagi booming Harry Potter and the Sorcerer's Stone. Jelas aja, gue mau punya buku itu. Ketika ada temen gue yang udah punya dan gue belum, gue iri. Hasilnya, tiap kali mama nelpon si kakak, gue selalu nitip pesen "bawain Harry Potter".

Gue menunggu kepulangan kakak gue dengan senang hati. Ketika dia datang, gue langsung nodong Harry Potter. Dan ketika dia buka koper dan ngeluarin buku, gue bengong.

"Where's my Harry Potter?"

Karena yang ada di depan gue adalah The Lord of the Rings: The Fellowship of the Ring.

Gue ngambek, tapi kakak gue malah bilang itu buku lebih bagus dari Harry Potter. Apa gue percaya? Jelas nggak, karena frekuensi kakak gue baca buku itu bener-bener minim--sekarang pun masih. Dengan muka masih ditekuk, gue pun buka itu buku. Kertas tipis, tebal, dan huruf kecil yang rapat sukses bikin gue males. Apalagi saat itu teman-teman gue heboh ngomongin Harry Potter.

Karena saat itu lagi nggak ada bacaan (buku terakhir yang gue baca saat itu karangannya Eva Ibbotson. Gue lupa judulnya tapi ceritanya masih ingat. Sekarang, gue kangen baca bukunya Eva Ibbotson. Menurut gue, dia salah satu penulis fantasi anak yang hebat, bahkan JK Rowling pun mengaguminya), jadilah gue mulai baca LOTR.

Berawal dari perkenalan tentang apa itu Hobbit, Bilbo, pipa rumput, Shire, Middle Earth, eh kok nggak bisa berhenti? Gue ingat, saat itu gue duduk di kursi di teras dengan buku tebal di pangkuan sampai-sampai tetangga gue heran lihat posisi gue tiap sore nggak berubah. Empat hari gue namatin Fellowship of the Ring. Kakak gue sukses ketawa melihat gue nggak lepas dari buku itu.

Kalau kakak gue nggak jadi anti mainstream dengan beliin LOTR dan milih Harry Potter, mungkin gue nggak akan pernah tersihir oleh pesona Middle Earth.

Gue selalu ngebayangin indahnya Shire, kemeriahan pesta Bilbo yang berlimpah makanan, pipa rumput, kembang api Gandalf, hobbit-hobbit lucu, Strider si pemberani, Nazgul, Sauron, keindahan Rivendell dengan air terjunnya, Elrond, Arwen, Galadriel, Glorfindel, Legolas, kurcaci lucu penggerutu. Aaakkkk sukaaa... Meski saat itu gue mesti baca ulang dan baca ulang karena setting yang banyak, tokoh yang beragam, dan agak njelimet. Untung aja gue ngerti dan selalu ngebayangin gue ada di dalam cerita.

Dan kegilaan itu berlanjut dengan Two Towers dan Return of the King.

Dan, ketika gue dengar tentang filmnya, gue excited. Tapi permasalahannya, mau nonton di mana? Secara bioskop di tempat gue cuma nayangin film horor slash mesum jadul. Mau ke Jakarta buat nonton pun ditolak mama. Jadilah gue cuma bisa bikin kliping dari majalah atau tabloid seputar film ini (sayangnya, klipingnya ilang). Dan say thank again to my sister yang ngirimin DVDnya pulang. Finally yeaiii.

Syukurlah, bisa nonton Return of teh King di bioskop langsung (bela-belain ke Jakarta).

Ketika selesai baca, gue kangen Middle Earth. Sumpah. Rasanya tuh kayak lo harus ninggalin tempat tinggal yang udah begitu lo kenal. Mungkin lebay, tapi gue merasa ikutan tinggal di Middle Earth, sampai-sampai gue lompat-lompat sendiri kayak orang gila ketika Aragorn dinobatkan jadi raja di Reunited Kingdom (Arnor and Gondor). Yess, finally we have a king hahhaha. Selesai nonton Return of the King, gue juga merasa ada yang hilang. Gue kangen Middle Earth. Setiap kali gue kangen, gue pasti ulang nonton.

Trus, ketika ada berita The Hobbit akan difilmin, ekpresi pertama gue langsung teriak, Horeeee..... Middle Earth, i'm coming. Gue pulang kampung hahhaha. Jadilah gue deg-degan nunggu filmnya. Mendapati nama Peter Jackson di bangku sutradara bikin gue makin deg-degan, kejutan apa lagi yang disiapkannya? Gue nggak ngerti soal sinematografi, tapi gue suka sama Peter Jackson. Dia sukses menghadirkan Middle Earth sesuai dengan gambaran bocah SMP ketika baca bukunya dulu. Cast-nya juga top (gue masih yakin kalau Orlando Bloom memang dilahirkan untuk jadi Legolas from Mirkwood, soalnya di film lain dia nggak sesukses jadi Legolas) dan adegan perang terakhir di depan gerbang Mordor itu benar-benar epic. Salut.

Kabar The Hobbit yang akan dijadiin trilogi juga bikin gue bertanya-tanya: gimana caranya? Secara bukunya aja tipis gitu. Pasti akan ngebosenin. Terlebih sebelum gue nonton banyak yang bilang filmnya ngantuk dan ngebosenin. Tapi secara gue udah masuk ke dalam pengaruh Tolkien dan kangen sama Middle Earth, gue pun nonton. And it was fun. Sumpah, Hobbit lebih fun, nggak kayak LOTR yang dark. Bilbo itu lucu. Not to mention Kili yang sangat sangat sangat eye candy ya, hahaha. Setiap adegan dibikin detail karena di buku cuma diceritakan ala kadarnya--The Hobbit nggak sedetail LOTR dan lebih ringan karena memang ini cerita anak-anak. Ketika Shire muncul, gue teriak "Shire. Hobbiton. Bag End". Ketika mereka mulai melakukan perjalanan dan sampai di Rivendell, gue juga teriak. Kangen Rivendell. Elrond. Galadriel. Saruman. Cast lama banyak yang dimunculin. Dan gue nggak sabar nunggu yang kedua karena Legolas juga muncul. Oh, don't forget Bard si pemanah. Yang gue tunggu-tunggu itu adegan Bard memanah Smaug dan Battle of the Five Army. Itu pasti bakalan epic banget (sekaligus sedih).

Sama seperti ketika nonton LOTR, nonton Hobbit pun gue banyakan mangap saking terpesonanya.

Jadi ya, makin nggak sabar nunggu kelanjutan petualangan Bilbo. Dan ya, berharap semoga The Silmarillion juga diterjemahin (biar lebih kenal dengan Gandalf, para Maiar, dan Middle Earth), Unfinished Tales, dan The Tale of Aragorn and Arwen. Gue juga pengin koleksi semua buku-buku terkait LOTR ini jadinya (mungkin, gue akan beli Isildur sebagai permulaan, terlepas dari itu bukan bikinannya Tolkien).

Dalam list 100 books to read before you die, The Lord Of The Rings menempati posisi kedua dan The Hobbit di posisi ke-16. Dan gue bersyukur pernah terjebak di dalam fantasi ciptaan Tolkien. Mungkin gue bisa mewariskan buku ini ke anak gue nanti, hihihi.

And, in this moment i wanna say thank to my sister. Secara nggak langsung, dialah yang mengenalkan gue pada cerita menakjubkan ini.

Salam,
iif

Comments

  1. Lotr dan The Hobbit bukan cerita favorit gue sih if. Tapi gue akui memang indah banget ceritanya. Dan gue juga merasa beruntung, gue pernah baca dan menikmati banget ceritanya.
    Dan beruntunglah para fans Tolkien yang dapet sutradara sekaliber Peter Jackson yang pol-polan banget bikin trilogi LOTR dan The Hobbit. hahaha...

    Hidup Kili!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts