Komang Artayudha

NB: Hari keempat #15HariNgeblogFF dengan judul berupa nama pemberian mas @momo_DM. Seperti biasa, lagi pengin bikin cerita patah hati, hehehhe

Komang Artayudha
Oleh: Ifnur Hikmah



Anak kecil itu tersembunyi di bawah rindangnya pohon mahoni di halaman sekolah. Tampak asyik menekuri kertas gambar. Entah apa yang digambarnya. Sepertinya dia tidak ingin diganggu.
Aku hanya guru pengganti di TK ini. Setiap kali TK yang berjarak tidak jauh dari rumahku ini membutuhkan guru pengganti, mereka akan memanggilku. Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke sini, dan siap bercanda dengan anak-anak penuh keceriaan namun manja ini.
Perlahan, kakiku bergerak melintasi halaman depan TK. Panas matahari terasa menyengat. Beberapa tetes peluh bercucuran di keningku, membuat rambut panjangku terlihat lepek. Langkahku bergegas. Sesegera mungkin menuju tepian rindang pohon mahoni agar terhindar dari terik matahari.
“Hai,” sapaku ringan. Kumasukkan tangan ke dalam kantong rok dan duduk di sebelah anak kecil itu.
Komang Artayudha namanya. Dari namanya sepertinya ada darah Bali mengalir di tubuhnya. Hari ini kali ketiga aku mengajar Komang. Dia memang selalu menjadi murid yang pulang paling akhir—efek dari ibunya yang tidak pernah menjemput tepat waktu. Selama ini, aku tidak pernah menghampiri Komang. Aku selalu pulang begitu jadwal mengajarku selesai. Namun hari ini, tidak ada salahnya berlama-lama di sekolah. Lagipula, kasihan Komang. Dia kesepian. Dia tidak memiliki interaksi sosial yang bagus bersama teman-temanya. Lebih senang berbaur dengan kertas gambar, pensil, dan buku cerita.
Komang menatapku sebentar. Matanya bulat dengan bola mata berwarna coklat jernih. Dulu sekali, aku pernah mengenal orang bermata seperti itu, dan aku suka.
“Lagi gambar apa?”
“Pesawat.”
Kulirik kertas gambar Komang. Sebuah pesawat sedang terparkir di hanggarnya. Di pintu yang terbuka ada sesosok pria mengenakan seragam pilot. Pria itu melambaikan tangannya. Sementara itu, di anjungan pengantar, ada gambar seorang anak kecil melambai-lambaikan kertas gambar.
“Ini kamu?” telunjukku terpaku pada gambar anak kecil dan kertas gambarnya.
Komang mengangguk.
“Lalu ini?” Aku menunjuk pria berseragam pilot.
“Papa.”
“Ayahmu pilot?”
Komang mengangguk. Tangannya masih asyik mengarsir bagian badan pesawat.
Aku terpaku. Pilot. Profesi itu pernah bersinggungan denganku. Ketika usiaku baru menginjak awal dua puluhan dan masih suka bertualang. Karena keterbatasan dana, aku memutuskan menginap di bandara Ngurah Rai di hari terakhir kunjunganku ke pulau itu. Danaku terpangkas habis di Pasar Sukowati sampai-sampai tidak cukup untuk biaya hotel semalam lagi. Aku yang kedinginan dan hanya berbalut selembar kardigan, bertemu Hari untuk pertama kalinya. Hari menawariku segelas kopi hangat dan mengajakku bercerita sampai pagi tiba dan kami berpisah. Aku mengutuk kelalaianku yang tidak meminta kontak Hari padahal waktu tiga jam yang kami lewati begitu menyenangkan. Aku ingin mengulangi kebersamaan ini lagi.
Beruntung Dewi Fortuna masih berpihak kepadaku. Siapa sangka jika Hari adalah pilot yang akan membawaku kembali ke Jakarta? Kami bertemu kembali di Bandara Soekarno Hatta, beserta ajakan ngopi sore darinya. Ngopi sore berlanjut ke ajakan makan malam, makan siang, sarapan, jalan-jalan. Kami pun berbagi pelukan, kecupan, ciuman, hingga berbagi rasa. Aku jatuh cinta, begitu saja.
Namun perjalanan hati tak selamanya mulus. Kerikil kecil bermunculan. Semuanya berawal dari aku yang tidak bisa menerima seringnya Hari meninggalkanku akibat tuntutan profesinya. Sekali dua kali aku masih sabar. Lama-lama, aku tidak bisa lagi. Hari lebih sering menghabiskan waktu bersama pramugarinya ketimbang aku, kekasihnya.
Lalu kata putus menjadi jawaban. Aku patah hati. Hari-hari kulalui dengan suram, selalu terbayang kenangan manis bersama Hari. Meski sekian tahun berlalu, dan Hari yang sudah tidak terdengar lagi kabarnya, jauh di sudut hatiku masih ada nama Hari.
Begitu melihat gambar Komang, hatiku terpanggil. Nama Hari meronta-ronta di sana. Aku merindukannya. Rindu yang kupendam sendiri. Kukubur dalam-dalam. Padahal, dialah alasan mengapa aku masih melajang hingga usiaku sudah memasuki kepala tiga.
Pernah aku bertanya, mengapa aku menyerah secepat ini? Mengapa aku tidak mencoba menjalaninya dan mempertebal kesabaran yang kupunya? Tentu aku masih berbahagia bersama Hari. Atau mungkin, aku sudah memiliki anak seusia Komang.
Aku tergugu. Penyesalan memang selalu hadir di belakang.
Pernah aku mencoba menghadirkan pria lain. Namun tidak ada yang seperti Hari. Hingga akhirnya aku lelah selalu membanding-bandingkan setiap pria yang masuk ke kehidupanku dengan Hari. Lalu, aku memutuskan untuk menjalani hidup apa adanya. C’est la Vie. Gone with the wind. Let it flow. Apapun itu. I just live my life to the fullest, meski faktanya aku masih melajang.
“Hari ini papa janji menjemputku ke sekolah.”
Ucapan Komang menarik kembali memoriku yang melayang entah kemana.
“Komang kangen papa ya?”
Komang mengangguk. Ini yang kutakutkan dulu. Menanggung rindu seorang diri sementara orang yang kutitipkan rindu sedang melayang entah di mana.
“Itu papa datang,” jerit Komang.
Kertas gambarnya diletakkan begitu saja di atas kursi kayu. Dia berlari kencang. Aku tertawa dan mengumpulkan peralatan Komang sebelum membawanya ke hadapan ayahnya.
Langkahku tertegun di bawah pohon mahoni. Beberapa meter dihadapanku, kulihat Komang sedang diangkat tinggi-tinggi oleh pria yang dipanggilnya papa. Di belakang mereka, ada perempuan yang kuketahui bernama Sarasvati, ibu Komang. Perempuan asal Bali yang menjadi tandemku berlatih bahasa Bali setiap kali bertemu dengannya di TK ini.
Pria berseragam pilot itu berhenti mengangkat tubuh Komang dan berpaling menatapku. Kulihat riak kaget di wajahnya. Lama kami bersitatap. Aku serasa terlempar kembali ke waktu bertahun silam. Saat aku kedinginan dan bersitatap dengan sepasang mata yang menawarkan secangkir kopi di bandara Ngurah Rai.
Hari… desisku.
“Papa…” panggil Komang.
Hari berjalan menghampiriku. Senyum manisnya masih sama seperti dulu.
“Raisa? Apa kabar? Aku nggak nyangka ketemu kamu di sini. Kamu ngajar di sini?” Hari memberondongku dengan sejuta pertanyaan yang tak satupun bisa kujawab.
“Raisa substitute teacher di TK ini.” Sarasvati menjelaskan.
“Berarti kamu kenal Komang? Anakku?”
Aku tertunduk. Kutatap kertas gambar Komang. Ada pria berseragam pilot di sana. Tak kusangka itu Hari.
“Senang ketemu kamu lagi, Raisa.”
Kupaksakan diri untuk tersenyum. Kuserahkan semua peralatan Komang kepada Sarasvati. “Aku juga, Hari. Tapi maaf, aku harus pergi. Ada janji jam dua.” Terpaksa aku berbohong.
“Mungkin lain kali kita bisa ngobrol-ngobrol. Sambil ngopi sore. How?
Aku mengangguk. “Why not?” Lidahku tercekat. “Bye…”
Aku segera berlalu sambil tersenyum miris. Teringat dulu aku melepaskan hari untuk terbang kemana saja dan dia memang terbang kemanapun yang diinginkannya, termasuk menerbangkan hatinya ke perempuan lain. Salahku berbuat seperti itu. Dan sekarang, aku hanya bisa tersenyum kecut saat menyadari ajakan ngopi sore itu hanya basa basi, tidak akan berlanjut ke percintaan seperti yang dulu pernah kami jalani.

Comments

Post a Comment

Popular Posts