FF15: SAH

SAH
Oleh: Ifnur Hikmah

“Sah?”

“Sah.”

“Deal?”

“Deal.”

“Really?”

“Stop.” Aku berhenti membeo. “Kita udah sepakat, jadi nggak usah nanya-nanya lagi.”

Dihadapanku, Oka berdiri dengan tatapan menyelidik. Matanya memakuku, masih saja mencari sebersit keraguan di mataku. Namun aku sudah yakin. Aku yang memiliki rencana ini, dan aku pula yang menarik paksa Oka untuk masuk ke dalam permainan ini.

Permainan yang aku sendiri tidak tahu why am I doing this?

“Tapi lo masih ragu, Cha.”

Aku menggeleng kuat-kuat. Sejenak keraguan itu berhasil menyelinap masuk ke dalam hatiku. Mungkin Oka sempat menangkap satu detik wajahku yang mendadak berubah dari keyakinan penuh menjadi ragu. Namun aku tidak bisa mundur lagi.

“Gue yakin, Ka. I have to do this.”

“Cha…”

“I love him, Ka, I do. Tapi gue nggak bisa terus-terusan terjebak dalam kubangan patah hati ini. Gue juga nggak mau dia melihat gue dengan tatapan kasihan karena beranggapan gue masih belum bisa move on,” sergahku buru-buru.

“Memang faktanya kayak gitu.”

Aku mendelik. “Gue tahu kalau gue masih butuh waktu. Tapi ini…” Aku mengangkat undangan berwarna merah muda ke hadapan Oka, “ ini nggak bisa menunggu, Ka.”

Nafasku sesak saat melihat undangan itu. Undangan yang sudah kusembunyikan sedemikian rupa tetapi telah menancapkan pengaruhnya di otakku. Meskipun aku tidak melihatnya, goresan nama yang tertera di undangan itu telah memakuku. Undangan inilah yang memaksaku untuk melakukan permainan ini.

Tidak pernah sedikitpun terbayang di benakku bahwa pria yang kucintai akan pergi meninggalkanku. Lima tahun kebersamaanku dengan Dimas, kurasa sudah cukup menjadi pijakan bahwa kami siap melangkah ke jenjang selanjutnya. Lagipula, tahun depan kami akan menginjak kepala tiga, bukan usia yang bisa dibilang muda lagi untuk bermain-main dengan cinta jika melihat patokan usia menikah di Indonesia. Tapi sepertinya hanya aku yang berharap. Enam bulan lalu, saat menghabiskan makan malam bersama keluargaku untuk pertama kalinya, Dmas memilih untuk pergi hanya karena sebaris kalimat yang keluar dari bibir ibuku.

“Jadi kapan nak Dimas akan melamar Echa?”

Saat itu dia hanya tersenyum dan berujar, “secepatnya, tante.”

Saat itu juga aku tersenyum lebar karena kebahagiaan tanpa batas. Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sebentar.

Esoknya, saat makan malam sepulang dari kantor, Dimas mendepakku.

“I think about us and I found that I’m not ready yet. Maaf, Cha.”

Hanya satu kalimat itu yang dibutuhkan Dimas untuk mengusirku keluar dari hatinya. Tidak ada penjelasan.

Lalu, enam bulan berselang, sebuah undangan tergeletak di meja kerjaku. Undangan dengan nama Dimas Adinugroho dan Stella Wardhani. Who the hell is Stella? I don’t know. Yang aku tahu hanyalah Dimas tak lebih dari sekedar pembohong besar.

Dan di sinilah aku sekarang. Duduk mengiba dihadapan sahabatku, Oka. Meminta bantuannya untuk ikut dalam permainan ini.

Permainan yang kurancang untuk memperlihatkan kepada Dimas bahwa aku baik-baik saja tanpa dia. Aku akan menghadiri pernikahannya. Tentu saja aku tidak datang sendiri. Aku tidak ingin kesendirianku membuat Dimas tertawa kian lebar karena menyadari aku masih meringkuk dalam patah hatiku. Beruntung ada Oka yang selalu ada di sisiku.

Bersama dialah aku menalani permainan ini. bersikap sebagai sepasang kekasih di pesta pernikahan Dimas.

“Ya sudah kalau lo udah yakin. Besok, gue jemput jam tujuh malam.”

Aku mengangguk. “Thanks ya, Ka.”

Anytime, dear. Lo tahu kan gue akan ngelakuin apapun asalkan lo bahagia?”


#15HariNgeblogFF Day 15 "SAH". Hari terakhir, hiks.

Comments

Popular Posts