Sunday, October 30, 2011

Tarian Nyiur

Tarian Nyiur

Oleh: Ifnur Hikmah

“I can’t”

“Yes, you can.”

“No, it’s too hard for me.”

“No, you can do it. Trust me.”

Masih terlihat kilat keraguan di wajah bening itu, namun perlahan-lahan tangannya mulai terulur ke arahku.

“Kamu percaya aku kan, Nyi?”

Nyiur menatapku dari balik bulu mata lentiknya. Ah, raut itu lagi.

Mengapa mendung tak bosan-bosannya menggayuti kehidupan Nyiur? Seakan matahari enggan untuk singgah meski untuk sebentar saja. Ini tidak adil. Sungguh tidak adil. Semenjak kecil dia sudah berteman dengan muram. Beranjak remaja, kekelaman itu semakin menjadi-jadi. Pun saat masa dewasa mulai menyapanya, mendung itu belum sirna jua. Meski secercah cahaya datang menghampirinya melalui uluran tangan Dimas, tapi mengapa hanya sebentar saja? Belum puas kunikmati binar bahagia di wajah cantik itu, kembali tangan nasib menjorokkannya ke lembah kesuraman.

Ah, Nyiur-ku yang malang.

“Aku tidak akan mencelakakanmu. Aku hanya ingin membuatmu bahagia di hari spesial ini, Nyi.”

“Entahlah, Do. Aku sudah tidak tahu lagi apa itu bahagia semenjak semua hal yang mendatangkan kebahagiaan untukku direnggut begitu saja. Mama, Papa, dan terakhir…” Nyiur menghela nafas panjang, “Dimas.”

Kurengkuh tubuh lemah yang tidak bisa bergerak itu. Malam ini ulang tahun Nyiur yang ke-25 dan aku sudah bertekad untuk merayakannya –seperti yang selalu kami lakukan selama 15 tahun yang lalu, tepatnya semenjak aku bertemu Nyiur di Panti Asuhan Cahaya Kasih 20 tahun silam.

“Pegang tanganku.”

Ragu-ragu Nyiur mengulurkan tangannya. Kupegang jemari panjang nan ringkih itu erat-erat, lalu kuangkat tubuh Nyiur dari atas kursi rodanya. Dia kehilangan keseimbangan, tapi buru-buru kupeluk pinggangnya dan kutompangkan seluruh bobot tubuhnya ke atas tubuhku.

“Let’s dance with me, tonight.”

Nyiur menatapku dengan sebaris senyum tersungging di bibirnya. Senyum pertama di tahun ini.

Kugerakkan tubuhku seiring dengan tubuh Nyiur. Kita menari dalam diam, tanpa musik. Hanya desau angin sesekali meningkahi gerakan sederhana ini. Dulu, kami selalu seperti ini, menari di bawah hamparan langit malam setiap kali aku atau Nyiur berulang tahun. Lalu, kami akan membuat permohonan dan membisikkannya melalui angin. Impian terbesar Nyiur hanya satu: bertemu dengan pangerannya. Sedangkan impianku? Aku hanya ingin agar Nyiur bahagia.

Impiannya telah terwujud saat di suatu pagi, di taman ini, Nyiur bertemu Dimas. Pemuda sederhana yang memikat hatinya semenjak pertemuan pertama dan kemudian mengajarkannya akan nikmatnya kehidupan percintaan. Sayang, tangan nasib tidak berpihak pada mereka. Di suatu malam, sehabis mereka merayakan ulang tahun pernikahan yang kelima, mobil yang dikendarai Dimas ditabrak oleh sebuah truk. Kecelakaan itu membuat Dimas harus meregang nyawa sementara Nyiur harus pasrah menjalani sisa-sisa kehidupannya di atas kursi roda.

Impianku yang semula kurasakan telah terwujud saat melihat Dimas menyematkan cincin di jari manis Nyiur, harus kupikir ulang. Kebahagiaan sesaat yang dirasakan Nyiur bukanlah impianku. Aku ingin dia berbahagia, selamanya.

Dan inilah yang kulakukan malam ini, mengajaknya kembali ke masa kecil ketika kami masih bersama-sama.

“Back when I was a child

Before life removed all the innocence

My father would lift me high

And dance with my mother and me and then”

Pelan, telingaku menangkap senandung lirih dari bibir Nyiur.

“Remember that song?”

Aku mengangguk. Mana mungkin aku lupa lagu yang selalu didengarkan dan disenandungkannya selama kami tinggal di panti suhan itu.

“Itu kenangan terakhirku dan papa.”

Aku memutar tubuhnya.

“Sebelum mama mengusir papa pergi dari rumah dan membuangku ke panti asuhan ini.”

Kembali kuputar tubuh Nyiur. “Panti asuhan yang mempertemukan kita,” bisikku.

“Panti asuhan yang mempertemukanku dengan Dimas.”

Mendung kembali menyapu wajah cantik itu tatkala dari bibirnya meluncur nama Dimas.

“Aku merindukannya, Do.”

Nyiur menatap langit, mencari kepingan bintang yang selalu mewarnai langit setiap malam. Namun, malam ini mendung. Tak ada satupun bintang yang menampakkan dirinya. Sejak kecil Nyiur percaya bahwa setiap orang yang kita cintai telah pergi meninggalkan kita, orang itu akan bereinkarnasi menjadi bintang dan selalu muncul setiap malam untuk menerangi langkah orang yang ditinggalkannya.

Kuajak Nyiur berbaring di atas hamparan rumput. Semerbak wangi bunga sedap malam memenuhi rongga penciuman kami. Itu bunga kesukaan Dimas. Pria itulah yang menanam bunga itu di halaman belakang panti asuhan ini.

“Dimas tidak muncul malam ini.”

“Dia ada.”

Kurasakan tatapan Nyiur tertuju padaku.

“Dia ada di hatimu, Nyi. Selalu.”

Nyiur tertawa kecil. “Mengapa Tuhan tidak membawaku pergi bersama Dimas? Dia tahu aku tidak punya siapa-siapa lagi di bumi ini.”

“Kamu salah. Kamu masih punya aku.”

Kugenggam tangan Nyiur erat-erat.

“Aku takut kamu akan meninggalkanku juga, Do.”

Serta merta aku menggeleng. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku janji.”

Kuraih Nyiur ke dalam pelukanku. Betapa perasaanku terasa sangat tenang saat menyadari dia ada di dekapanku. Meskipun aku tahu hatinya tidak tersedia untukku, aku sudah puas dengan keadaan ini.

For me, this is enough.

“Aku takut.”

“Kamu ingat waktu kecil dulu kita pernah mengucap permohonan?”

Nyiur tersedak. “Iya, tapi permohonanku tidak terkabul.”

“Kamu telah bertemu pangeranmu,” kubelai pelan rambutnya yang basah akibat rintik hujan, “meski sesaat, Tuhan telah mendengar doamu. Dan kamu tahu apa permohonanku?”

Nyiur menggeleng.

“Aku hanya ingin, di sepanjang kehidupanku, aku melihatmu bahagia,” bisikku lirih, “semula aku pikir impianku telah terkabul saat kamu bertemu Dimas. Namun sekarang, aku ingin memanjatkan impian itu lagi. Berbahagialah untukku, Nyiur.”

Tidak ada balasan apa-apa dari Nyiur. Hanya pelukannya saja yang kian mengerat.

“Selamat ulang tahun,” bisikku.

Thanks, Do. Aku sayang kamu.”

Ya, sayang. Hanya itu. Karena cintanya hanya tertuju untuk seorang pria bernama Dimas, meskipun raganya telah luruh dikandung tanah.

But for me, this is enough.

Selama aku masih bisa menghela nafas dan memberikan kebahagiaan untuk Nyiur, it means that my dream has come true.

Nothing Gonna Stop Me Now

Nothing Gonna Stop Me Now

Oleh: Ifnur Hikmah

"She died!"

"No!"

"Dia telah tiada, Mario. Kamu harus bisa menerima fakta itu. Rosaline-mu telah meninggal akibat leukemia yang dideritanya bertahun-tahun ini."

"Jangan mengumbar kebohongan dihadapanku."

"Untuk apa mama membohongimu nak?"

Namun aku tahu mama berbohong. Mama berbohong sama seperti ketika dia membohongiku akan kepergian papa sewaktu aku kecil dulu. Mama berbohong.

***

Kemeja? Checked.

Tatanan rambut? Checked.

Parfume? Checked.

Lili putih? Checked.

Cincin? Aku menepuk-nepuk kantong celanaku. Seketika itu juga tanganku menyentuh sebuah kotak persegi kecil yang terasa menyembul di balik kain celanaku. Oke, cincinnya sudah ada.

Semuanya telah siap. Sekarang aku hanya tinggal menunggu kehadiran sang tokoh utama.

Kulirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kiriku. Masih setengah jam lagi menuju pukul delapan. Oh, sepertinya aku datang kecepetan. Mungkin karena semangat menggebu-gebu yang melingkupiku seharian ini membuatku sudah tidak sabar lagi. Ingin rasanya aku berlari menunggangi waktu tapi itu tidak mungkin.

Pergerakan detik demi detik terasa sangat lamban. Ah, aku memang pria yang tidak sabaran. Semoga Rosaline tidak keberatan dengan sikapku ini.

Omong-omong soal Rosaline, mengapa dia belum datang juga? Setahuku, Rosaline selalu datang beberapa menit lebih awal dibanding waktu yang telah ditetapkan. Oh, mungkin hari ini bosnya itu kembali memaksanya lembur. Bukankah Rosaline sering curhat perihal perilaku bos-nya yang selalu merasa tidak puas sehingga cenderung menindas bawahannya untuk bekerja melebihi batas waktu yang telah ditetapkan? Tunggu saja, Rosaline. Begitu kita menikah kelak, lebih baik kamu berhenti dari pekerjaanmu dan membuka restoran, seperti cita-citamu.

Ah, Rosaline, mengapa kamu belum datang juga? Aku khawatir sebentar lagi mama akan menyadari ketidakhadiranku dan menyusulku kesini. Beliau pasti akan menyeretku pulang, tidak peduli saat itu kau sudah datang atau belum. Sungguh Rosaline, aku tidak ingin kehilangan waktu lagi.

Aku telah menyiapkan semua ini secara cermat, namun tahun lalu aku terlambat menemuimu. Aku harus pasrah saat rencana yang telah kususun matang-matang terpaksa batal. Malam itu, 21 Maret 2010, aku terpaksa harus membatalkan niatku melamarmu karena mama lebih dulu menyeretku pulang.

Namun, malam ini aku tidak ingin gagal lagi. 21 Maret 2011 akan menjadi malam yang istimewa untukku -untuk kita. Di malam ini aku akan berlutut dihadapanmu, menyerahkan sebuah cincin berlapis emas putih kehadapanmu, dan mengucapkan kalimat sakti itu.

"Aku mencintaimu, Rosaline Widjaja. Dalam senangku maupun sedihku. Dalam malam dan siangku. Dalam sehatku atau sakitku. Aku mencintaimu dengan segala daya yang kupunya, dan kuserahkan diriku seutuhnya untukmu. Aku, Mario Adinugroho, malam ini memutuskan untuk meminangmu. Rosaline Widjaja, would you be my wife?"

Lalu aku bisa membayangkan Rosaline akan terkejut. Dia menutup mulutnya dengan tangan kiri -reaksi alamiah yang sering dilakukannya saat sedang kaget, lalu sebutir air mata mengaliri pipinya. Kemudian, aku akan bangkit berdiri dan mengusap lembut air mata itu.

"Kenapa kamu menangis?" bisikku.

"Aku terharu, Mario."

Ah, Rosaline. Bayangan itu sungguh indah. Namun tidak apa, toh sebentar lagi kamu akan datang dan bayangan itu akan mewujud nyata.

Sudah pukul delapan, tapi kamu belum datang-datang juga. Apa bosmu itu benar-benar menyiksamu dengan tumpukan pekerjaan? Rosaline, jangan membuatku resah menunggu. Saat ini mama pasti sudah menyadari menghilangnya aku dan beliau sedang mengumpulkan pasukannya untuk mencariku.

Bukannya aku telah berubah menjadi anak durhaka dengan melawan mama, Rosaline. Bukan seperti itu. Kamu tahu kan betapa kerasnya mamaku? Beliau masih belum bisa sepenuhnya menerima keputusanku untuk menikahimu. Kamu tentu tidak akan lupa betapa besarnya trauma yang dialami mama karena papa meninggalkannya disaat dia sangat membutuhkan kehadiran papa. Mama khawatir apa yang telah menimpanya juga menimpaku kelak. Kata mama, kita masih terlalu muda, namun bagiku, sekaranglah waktu yang tepat bagi kita untuk melangkah lebih jauh.

Dimana kamu Rosaline? Mengapa kamu belum muncul-muncul juga? Sekarang aku yakin mama pasti telah bergerak dari istananya beserta para pasukannya itu, dan sebentar lagi dia akan muncul dihadapanku. Cepatlah datang, Rosaline.

Ah sial. Itu kan mama? Dan matanya menatapku lekat-lekat. Kurasakan pusaran udara mendadak berhenti saat mama dan pasukannya bergerak ke arahku.

Tidak, aku tidak peduli Rosaline. Aku tetap akan menunggumu, tidak peduli mama harus menyeretku dan tindakan kami akan membuat heboh restoran ini. Tidak akan ada lagi yang bisa mencegahku, Rosaline. Niatku untuk meminangmu sudah bulat. Tahun lalu aku telah gagal, dan aku tidak ingin gagal lagi. Tidak akan ada yang bisa menghentikanku sekarang. Tidak mama, apalagi pasukannya. Tidak ada satupun yang bisa menjegal langkahku untuk menyelipkan cincin ini di jemarimu.

Aku mencintaimu dan kamu mencintaiku. Karena itulah aku percaya kamu akan datang.

"Kita tercipta untuk saling menemani. Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita. Tidak akan ada yang bisa menghentikan langkah kita meraih kebahagiaan."

Itu katamu di suatu waktu, dan aku masih mengingatnya hingga detik ini.

"Mario, kita pulang ya nak."

Aku menggeleng tegas.

"Untuk apa kamu menunggu Rosaline disini?"

"Mama jangan menghalang-halangiku," bantahku, "kegagalan yang pernah mama alami tidak akan memengaruhiku. Aku mencintai Rosaline ma, dan tidak ada satupun yang bisa menahanku untuk tidak meminangnya."

Kulihat air mata bermain disudut mata mama. "Tapi Mario..."

"Tahun lalu mama telah menghalangiku dengan mengumbar cerita bohong itu."

"Mama tidak bohong nak."

"Aku tahu mama bohong. Rosaline akan datang ma. Dia telah berjanji dan aku akan menunggunya."

Dari sudut mata kulihat mama berdiri dan membicarakan sesuatu dengan pasukannya. Oh tidak. Mama kembali mengandalkan pasukannya untuk menyeretku pulang.

Cepatlah datang Rosaline, sebelum salah satu pasukan mama menyuntikkan suatu cairan asing ke tubuhku. Oh lihat, dia sudah mendekat.

Aku bangkit berdiri namun sekonyong-konyong seseorang menahan lenganku. Dengan kekuatan yang seadanya, aku berusaha untuk berontak. Namun, pasukan mama yang berseragam putih-putih itu berhasil memelintir kedua tanganku dan menguncinya dibelakang punggungku. Pasukan mama yang lain, masih berseragam putih-putih, bergerak mendekatiku seraya menodongkan jarum suntik yang siap merobek kulitku.

Kulihat mama yang masih saja menangis. Ingin kubenci perempuan itu, tapi aku tidak bisa. Aku hanya berharap kamu datang detik ini juga, Rosaline.

"Maafkan mama Mario. Rosaline telah tiada. Kamu harus bisa menerimanya."

Aku menggeleng.

"Aku mencintai Rosaline, dan tidak akan ada yang bisa membuatku berhenti mencintainya. Sampai kapanpun," desahku lirih sesaat setelah jarum suntik itu berhasil menusuk kulit lenganku.

Saturday, October 29, 2011

Sendiri

Sendiri

Jika kehadiranku membuatmu mengibarkan bendera putih, aku rela kau memilih untuk tidak mengenalku.

Mataku terpaku menatap bayangan api yang menari-nari di dinding sepi apartemenku. Denting piano dari stereo set sama sekali tidak mengusik khayalku dari keterdiamannya. Sepi, sama seperti malam-malam sebelumnya.

"Selamat ulang tahun, Fira."

Ucapan sederhana itu terus mengiringi langkahku sedari pagi. Membayang-bayangiku akan semakin cepatnya perjalanan waktu hingga akhirnya diriku berlabuh di angka 32, angka yang menghiasi lilin yang menyala di hadapanku.

"Sendiri lagi, Fira."

Celetukan bernada sinis yang keluar dari bibir rival sejatiku, Ivana, seakan mempertegas keadaanku. Sendiri telah menjadi nama tengahku. Sepi telah menjadi kawan akrabku semenjak satu nama yang selalu kusebut memilih untuk memalingkan langkah dari jalan yang kupilih.

Dan malam ini aku kembali sendiri. Kesepian seakan tak rela melepasku, semakin memagutku erat. Kesendirian yang telah menjadi saksi perjalanan hidupku semakin menunjukkan kesetiannya dengan menjajah keseharianku. Kesepian dan kesendirian yang berbanding lurus dengan kerinduan yang menyiksa.

Rindu yang tertuju untuknya, sebuah nama yang sempat mengajarkanku indahnya mencinta namun dia pulalah yang mengajakku mencicipi kepahitan akibat ditinggalkan. Nama yang ingin kubenci namun cinta yang dulu pernah ada seolah tak mau melepaskan cengkeramannya dari benakku.

"Temple Street Night Market telah membuatku jatuh cinta pada seraut wajah yang kutemukan disini. Kamu, Fira."

Sungguh aku tak pernah menyangka segala keriuhan di Temple Street Night Market malam itu akan berujung ke kesendirian di beranda apartemen. Sama sekali tak pernah terbayang di pikiranku kebersamaan yang terjalin selama ini hanyalah semu belaka. Dan aku masih berharap ini hanyalah sebatas mimpi. Kelak, saat aku terbangun, wajahnya akan kembali berada di dekapanku.

Namun, ini nyata. Aku sendiri.

"Memikirkan apa, Fira."

Aku tersentak saat sebuah sentuhan pelan mendarat di pundakku, disusul dengan sapaan bernada hangat.

"Sekarang ulang tahunmu. Mengapa kamu terlihat sedih?"

Rendra, perempuan mana yang tidak akan sedih jika dia berulang tahun dan menyadari perjalanan waktu telah melemparnya ke usia yang tak lagi muda namun menyadari dia masih berkutat dengan kesendiriannya, sahutku, hanya di hati saja. Toh pria ini tidak harus tahu kegundahanku.

Dan dihadapannya aku hanya memberikan sebaris senyum yang menandakan tak ada apa-apa. Kembali aku berperan sebagai seorang Fira Loekito yang tak pernah goyah.

Namun nyatanya sekarang aku goyah. Langkahku tak lagi mantap semenjak dia meninggalkanku seorang diri termangu sementara sekelilingku selalu menatapku dengan desakan-desakan mereka. Mengapa mereka tidak meninggalkanku sendirian? Kehidupan pribadiku bukan makanan kalian, kesendirianku bukan aib bagi kalian, ingin rasanya kuteriakkan kalimat itu. Namun yang terjadi, aku hanya bisa tersenyum -everything's-gonna-be-okay-smile.

"Let's celebrate your birthday."

Kembali Rendra mengagetkanku. Kulihat dia meraih sebotol red wine dan menuangkan isinya ke dalam gelas.

"What are you doing here?"

"Celebrate my sweetheart's birthday."

Aku melengos.

"Fira, look at me. Aku tahu kamu selalu melarangku untuk jatuh cinta padamu, tapi aku tidak bisa. Aku terlanjur mencintaimu. I'm falling for you and I don't want to get up alone."

Sangat mudah untuk mencintai pria seperti Rendra, mengingat semua perhatian yang telah dicurahkannya. Namun, aku tahu bahwa memilih untuk mencintainya balik bukanlah pilihan yang bijak. Aku tinggal di tempat yang menganggap dosa seorang perempuan yang menjalin hubungan dengan pria yang jauh lebih muda darinya.

Lagipula, aku masih mengharapkan kembalinya dia.

"Jika kehadiranku membuatmu mengibarkan bendera putih, aku rela kau memilih untuk tak lagi mengenalku. Namun jika kamu melihat kehadiranku seperti mereka melihatku, don't do it."

Aku menelan ludah. "I don't know."

"Aku tak berharap kamu membalas cintaku sekarang. Aku hanya berharap kamu menatapku dengan kedua matamu dan menyadari ada seseorang yang mencintaimu dengan tulus."

Akan sangat mudah jika aku memilih untuk membenci dia dan mencintai Rendra sebesar cintaku padanya.

"Cheers, Fira. Untuk kamu."

Rendra menyodorkan segelas anggur ke hadapanku, bersamaan dengan denting handphoneku melantunkan nada pertanda ada pesan masuk.

"Selamat ulang tahun, Fira Loekito. Aku sedang di Paris sekarang. Wish you were here, Fira. Salam, Dirga."

Ingin kubanting gelas anggur ditanganku. Dirga, jika memang kamu memilih untuk terbang seorang diri, mengapa kamu tak melepaskanku? Tinggalkan aku tanpa pernah meninggalkan sedikitpun pengaruhmu. Namun yang ada, kamu memilih untuk meninggalkanku tetapi sesekali kamu masih melambungkan anganku. Aku capek Dirga. Aku menangis dalam hati. Meratapi betapa aku masih goyah setelah kepergian Dirga.

"Are you okay, Fira?"

Dan kehadiran Rendra sebagai sosok yang mencintaiku tanpa aku sadari sebesar apa rasa yang kupunya untuknya, juga membuatku goyah. Dalam anganku, aku tengah berdiri di persimpangan jalan tanpa tahu arah mana yang harus kupilih. Tetap mengurung diri dalam kerinduan dan khayalan tak berujung akan Dirga atau memilih untuk membalas cinta Rendra.

I don't know. I really really don't know.


P.S: 11Projects11days tema bimbang-Melly Goeslaw. Sebuah side story dari Lajang Terakhir -yang belum selesai-, hihi