Tuesday, August 16, 2011

Dirgahayu



Hari ini 17 Agustus. Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-66.
Harapan saya semoga Indonesia kian maju dan makmur, karena jika rakyatnya makmur maka kemungkinan VOGUE mau datang kesini kian bertambah #teteup.

Eniwei, disaat orang-orang sibuk mengucapkan selamat ulang tahun buat Indonesia, saya justru teringat kesaat lima hari yang lalu. Dan seingat saya, tidak terlalu banyak yang mengingat peristiwa besar dihari itu. Mungkin, tidak banyak yang peduli, tetapi saya peduli. Karena dia adalah salah satu idola saya.

12 Agustus, selamat ulang tahun salah seorang Bapak Bangsa, Bung Hatta. *maaf baru sempat ngepost ini sekarang*
Dan tadi siang diatas bis, ada pengamen yang menyanyikan lagu Iwan Fals berjudul Bung Hatta. Kalimat pembuka si pengamen sangat nendang. Dia berkata "Besok hari jadi Negara ini tetapi 4 hari lalu adalah hari kelahiran salah seorang pendiri negeri ini. Tidak banyak yang mengingatnya. Semoga lagu ini bisa mengingatkan kita pada beliau dan kita bisa menarik pelajaran berharga dari sosok sederhana itu. Kesederhanaan yang tak lagi tampak di sosok pemimpin kita saat ini. Kearifan yang kian jauh dari para pengayom bangsa. Bung Hatta."

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta...
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia...
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi...
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu...
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas... jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu...

Selamat ulang tahun Bapak Bangsa.

Monumen Bung Hatta di Bukittinggi

Friday, August 12, 2011

Highly Anticipated: VOGUE US September Issue

The most highly anticipated edition each year, The September Issue is coming out. And the rumour is true. There is the newlywed on the cover, Kate Moss.
Seperti edisi september setiap tahunnya, masing-masing majalah selalu berlomba-lomba memberikan hasil terbaik mereka dalam jumlah halaman yang bisa mencapai tiga kali edisi biasa. Edisi September Vogue tentu sangat ditunggu-tunggu.
Dan untuk tahun 2011 gilirannya Kate Moss -Meski sudah bergelar supermodel, inilah penampilan pertama Moss di edisi September-. Penampilan Moss ini tentunya sangat bertepatan dengan momen pernikahan Moss dengan pentolan band The Kills, Jamie Hince.
And, here's the cover. Moss looks stunning in McQueen Dress. So fresh...

Click here to read the editorial in Vogue.
Selain beberapa editorial, edisi ini juga dilengkapi dengan foto-foto ekslusif pernikahan Moss yang dijepret langsung oleh fotografer kenamaan, Mario testino -yang menjadi fotografer pernikahan. Here they are.
The Wedding
The newlyweds, Kate Moss and jamie Hince. Dalam upacara sakral ini, Moss didampingi oleh 14 pengiring pengantin berusia 2-14 tahun, dan salah satunya adalah putri Moss, Lila Grace Moss-Hack. Tampak pula di foto Moss bersama ayahnya, Peter dan putrinya.

The Dress
The Decoration


Garden Party yang diangkat benar-benar menyerupai cerita dongeng. Perhatiin deh dekorasinya, romantis banget kan? Pesta ini berlokasi di salah satu gereja di Costwald, Inggris. Dengan pemandangan perbukitan dan jauh dari keramaian serta penjagaan ketat petugas kepolisian, pesta ini benar-benar terasa sakral. Alunan musik rock terdengar selama pesta -mengingat aliran musik Hince- dan pesta wine yang didatangkan langsung dari Prancis selama tiga hari berturut-turut.

The Guests



Beberapa nama besar seperti Naomi Campbell, Mario testino, Carine Roitfeld, Christian Louboutin, Marc Jacobs, Stella McCartney, Jude Law, Kelly Osbourne, Rosemary Ferguson, Dame Vivienne Westwood, Sadie Frost, dan lain-lain tampak hadir sebagai undangan.

Looks like princess, right? Terlebih dengan tema Garden Party itu. Huffft... Hince, you are the lucky ba****d in the world who got Moss. *mupeng*

Ohh... I can feel the love. here.
Sumber foto: Vogue.com

Monday, August 8, 2011

Pendar Cahaya

Cahaya berpendar di sekitarku, menyorotku tanpa ampun. Aku bergidik ngeri. Perlahan ku langkahkan kaki tapi segera mengurungkannya. Pendar cahaya kian banyak memerangkapku, membuat tubuhku kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Ku tolehkan kepala ke kiri dan kanan, berharap ada secercah harapan untukku. Namun, nihil. Cahaya yang menyorot tajam menyambutku, bergerak cepat mendekatiku. Tubuhku menggigil. Keringat dingin membasahi kening dan leherku, lalu bergerak turun ke balik kaos yang ku kenakan dan menggenang di punggungku. Lututku gemetar, sama sekali tidak bisa ku ajak bergerak.

Untuk yang ke sekian kalinya, ku tarik nafas dalam-dalam. Aliran oksigen yang memasuki paru-paru lumayan menenangkanku. Ku pejamkan mata untuk memperlama efek tenang yang perlahan mulai melingkupi tubuhku. Gemetarku sedikit demi sedikit mulai berkurang. Ku hembuskan nafas keras dan segera membuka mata.

Kembali pendar cahaya menyambutku. Seberkas cahaya bahkan meluncur cepat ke arahku. Aku terpekik. Beruntung cahaya itu segera menukik sebelum menyambar tubuhku. Samar telingaku menangkap umpatan dari si penunggang cahaya. Tidak perlu penjelasan untuk mengerti bahwa umpatan itu ditujukan untukku.

Mengapa para penunggang cahaya ini tidak memberikan kesempatan untukku? Sedari tadi aku bergeming di tempatku, mencari celah lowong antara cahaya-cahaya itu. Namun, celah yang ku tunggu tak kunjung datang. Bahkan, cahaya-cahaya itu kian rapat dan semakin banyak yang menukik tajam ke arahku. Ketenangan yang tadi sempat ku rasakan mendadak sirna, berganti dengan gemetar hebat di kedua lututku. Oh, dan juga keringat dingin yang membasahi kaosku, membuatnya menempel di punggungku. Sungguh tidak nyaman.

Kembali ku tolehkan kepala ke arah kanan. Keadaan masih saja sama. Tuhan, sampai kapan aku harus berdiri di tempat ini?

“Miss, are you okay?”

Sebuah suara mengagetkanku. Segera ku telengkan kepala ke arah kanan dan seketika aku menganga lebar.

Pendar cahaya yang memenjaraku mendadak lenyap, berganti dengan sebuah cahaya terang yang terpantul dari seraut wajah bersahabat di sebelahku. Sebaris senyum terukir di wajah bercahaya itu. Dan sorot matanya. Ah, sorot mata itu jauh lebih tajam ketimbang cahaya yang menukik tajam ke arahku tadi.

Aku terpana…

Selama beberapa detik…

“Miss, are you okay?”

Kembali dia bertanya. Aku tersentak dan terlempar kembali ke dunia nyata. Pendar cahaya kembali muncul di sekitarku. Cahaya terang dari wajah itu juga lenyap, tapi aura bersahabat masih menguar dari tubuhnya.

“Oh ah… ya…” sahutku tidak jelas. Aku belum lepas sepenuhnya dari keterpanaan.

Are you okay? Sedari tadi saya lihat kamu hanya berdiri di sini. Ada masalah?”

Aku menggeleng kemudian mengangguk, lalu menggeleng lagi. Ku lihat dahinya berkerut melihat gelagat salah tingkahku.

“So?”

“Ya…” Aku mengaku. “Boleh aku memegang tanganmu?”

Bodoh, rutukku dalam hati. Dia pasti menganggapku perempuan aneh. Atau lebih parah lagi, perempuan murahan. Bagaimana tidak. Aku tidak kenal siapa dia dan baru melihatnya kali ini tapi aku sudah meminta izin untuk memegang tangannya.

Benar saja. Kerutan di dahinya kian banyak. Wajahnya tidak bisa menutupi kebingungan yang melandanya.

“Aku ingin menyeberang. Hanya saja, mata minus ku sangat mengganggu. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Itu sebabnya aku hanya berdiri saja di sini sejak tadi.”

Penjelasanku mulai mengendurkan kerutan di dahinya. Namun, tatapan awas masih saja ditujukannya untukku.

“Maksud permintaanku tadi, aku ingin menyeberang bersamamu. Kalau boleh.”

Aku menunduk.

Tiba-tiba suara tawa jernih menyapa gendang telingaku. Ku angkat wajah dan menatap ke arahnya.

“Oh itu, saya kira apa. Ayo.” ajaknya. Tidak urung, dia segera mengulurkan tangannya ke hadapanku. “Pegang tanganku. Aku bantu kamu menyeberang.”

Sungguh pria gentleman sejati, spesies yang sudah sangat langka di zaman serba individualis seperti saat ini. Dengan dada berdebar hebat ku pegang lengannya. Pria itu pun lalu menuntunku menyeberang jalan, menghadang pendar cahaya yang berasal dari lampu kendaraan yang sedari tadi menyulitkan langkahku. Begitu sampai di pembatas jalan, dia berpindah ke sebelah kiriku. Diangkatnya tanganku yang memegang lengan kirinya dan dipindahkannya ke lengan kanannya. Setelah itu, dia kembali menuntunku hingga tubuhku sampai di seberang jalan dalam keadaan baik-baik saja.

“Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana keadaanku jika tidak ada kamu,” seruku sedikit hiperbola. Sebagai pecinta drama, kejadian ini tentu sesuai dengan imaji fairy tale milikku.

No problem. Senang membantumu.”

Lalu dia pamit. Aku yang masih terpana dan sibuk memikirkan imaji fairy tale selanjutnya tidak terlalu memperhatikan tindak tanduknya. Aku baru tersadar ketika dia melompat masuk ke dalam salah satu angkot.

“Eh…” Aku gelagapan. Begitu saja? Tidak ada pertanyaan nama, alamat, atau sekedar nomor telepon? Aku merutuki pikiranku yang mengawang terlalu jauh. Tentu saja akhirnya akan seperti ini karena cerita ala dongeng hanya ada di dalam imajinasiku saja.

“Hampir lupa,” serunya dari dalam angkot yang bergerak pelan, “aku Aryo, hukum angkatan 2006.”

Senyum mengembang di pipiku. Dalam dongeng memang disebutkan Cinderella ketinggalan sepatu lalu pangeran bersusah payah keliling kota mencarinya. Jika saja dia meninggalkan sepatu, tentu aku akan mengalami kesulitan yang lebih besar lagi dibanding usaha pangeran. Namun berbekal nama dan jurusan kuliahnya, tentu usahaku akan lebih mudah, mengingat tempat pertemuanku dengannya adalah di depan kampusku, tentu dia kuliah di sini juga.

Hmmm… sepertinya Disney punya saingan baru. Ceritanya berjudul “Putri Bermata Minus dan Pangeran Fakultas Hukum.” Romantis, eh?



Love, iif

NB: Cerita ini diilhami kisah nyata ketika saya kesulitan menyeberang di malam hari akibat kaca mata saya pecah. Namun, pria yang hadir di cerita ini hanya imajinasi belakang *bukannya fokus nyebrang malah mikirin yang nggak-nggak*.c

Sunday, August 7, 2011

Salah Siapa?

“Ma… Mama…”
Jeritanku tidak di indahkan sedikitpun.
Aku menarik-narik ujung baju mama, memintanya untuk menghentikan omelannya. Namun, bukannya berhenti, mama malah semakin menjadi-jadi. Beliau menghadiahiku tatapan garang penuh amarah, tatapan yang sedari tadi selalu ditujukannya untuk pria yang sekarang sudah mengkerut dihadapannya.
Ardi, pria itu. Jika saja tadi aku tidak menuruti tindak impulsifku dan menyuruhnya datang.
Ku lirik Ardi. Pria itu tidak bersuara sedikitpun. Kepalanya tertunduk dan diserapnya semua omelan mama seorang diri.
Seakan semua ini adalah kesalahannya.
Namun, salahkah jika aku mencintai Ardi dan Ardi juga mencintaiku? Meski selama ini kita selalu bersembunyi dari sikap otoriter orang tuaku. Aku, si anak bungsu yang meski akan menginjak usia 22 bulan depan, tetap dianggap tak ubahnya bocah sepuluh tahun oleh keluargaku. Dan seperti anak sepuluh tahun lainnya, aku belum pantas mengenal cinta.
Panas matahari menerjang menghantam kami, aku yang merengek-rengek di belakang punggung mama, mama yang berteriak murka, dan Ardi yang diperlakukan seperti seorang pesakitan.
Salahkah jika kerinduanku mencapai puncaknya sehingga aku tidak berpikir panjang lagi dan meminta Ardi datang? Ardi, yang ku tahu dia sangat mencintaiku sehingga rela melakukan apa saja, telah mengingatkanku berkali-kali akan bahaya jika kita bertemu di daerah kekuasaan orang tuaku. Namun, aku tidak peduli. Aku hanya ingin bertemu Ardi. Titik.
Dan lagi-lagi, tindakan impulsifku merugikan orang lain.
“Eva tidak akan kemana-mana dengan kamu. Jangan ganggu dia lagi, baik dengan telepon atau SMS, terlebih, jangan pernah datang lagi ke sini. Kamu harus pergi dari kehidupan Eva. Cari perempuan lain yang bisa kamu ganggu, tapi bukan anak saya.”
“Mama…”
“Diam kamu , Eva.”
Aku tidak bisa diam. “Ma, jangan salahin Ardi.”
“Kenapa tidak boleh?”
“Eva yang meminta Ardi untuk datang ke sini. Eva yang ingin pergi dengan Ardi. Eva yang…”
“Berubah jadi pembangkang dan suka membohongi mama setelah mengenal berandal ini,” potong mama.
Tentu saja aku tidak akan memberontak ataupun berbohong jika mama menghargai keputusanku dan melupakan sejenak tradisi feodalisme yang dijunjungnya.
“Eva nggak berubah kok ma.” Aku masih berusaha membela Ardi. Bagaimanapun, ini bukan kesalahannya. Jika diingat-ingat, justru akulah yang sering menjerumuskan Ardi ke dalam masalah. Aku memberontak atas inginku sendiri. Jika saja mama tahu Ardi sering menolak permintaanku karena dia takut pada papa dan mama, tapi aku tetap memaksa Ardi. Kalau saja mama tahu aku telah muak dengan segala kekakuan di rumah ini, rumah yang lebih tepat disebut sebagai sarang robot ketimbang sebuah keluarga. Dan Ardi? Dia muncul dan menunjukkan sisi humanis yang tidak pernah ku ketahui sebelumnya. Lalu, pantaskah Ardi disalahkan?
“Udah ma.” Ku lirik Ardi. Dia juga tengah menatapku dan mengisyaratkanku untuk diam. Tidakkah mama melihatnya? Dalam keadaan terpojokpun dia masih menghormati mama.
“Jika memang itu mau tante, saya akan pergi.”
Aku tersentak mendengar ucapan Ardi. “Ardi?”
“Maaf Eva. Aku hanya merusakmu. Maafin aku. Kamu harus kembali seperti dulu, menjadi anak mama yang penurut.”
Mama tersenyum pongah.
Aku mendelik sebal.
Ardi memilih untuk angkat kaki.
“Puas mama sekarang?” teriakku penuh amarah.
***
“Mengapa kamu tidak mau berjuang untukku? Mempertahankanku?”
“Kekuatan apa yang aku punya untuk mempertahankanmu, Eva?”
“Bawa aku pergi.” Ya, aku telah mantap dengan keputusanku.
Ardi menggeleng. “Orang tuamu tidak akan tinggal diam. Dia akan mencarimu dan bisa berbuat apa saja terhadapku.”
“Bawa aku pergi ke tempat terjauh. Dimanapun itu. Ardi, aku mencintaimu dan aku hanya ingin hidup bersamamu.’
Sedetik, bisa ku lihat kebimbangan di mata Ardi. Namun detik berikutnya, bimbang itu telah berubah menjadi pancaran cinta yang teramat besar.
***
Satu bulan kehidupanku bersama Ardi sangat berarti ketimbang 22 tahun yang kuhabiskan di rumah mewah itu. Meski hidup bersama Ardi berarti kesederhanaan, aku bisa menerimanya. Selama aku dan Ardi bersama, aku bisa menerima apapun.
Akhirnya Ardi memilihku. Dia membawaku pergi ke kampung halamannya di Sumatra. Tidak seorangpun yang tahu keberadaan kami. Kami pun hidup tenang. Berbagi kehidupan dan memadu kasih tanpa gangguan apa-apa. Setiap pagi aku terbangun dalam dekapannya dan ketika malam menjelang, aku pun terlelap dalam pelukannya. Hari-hariku diisi dengan bisikan cinta yang meluncur dari bibir Ardi. Aku berbahagia hingga akhirnya semesta tak lagi berpihak pada kita.
***
Perutku yang membuncit menghambat pergerakanku. Jalanku menjadi semakin lamban. Tapi aku tidak mau menyerah. Tidak, selama orang yang ku cintai masih menderita di balik jeruji besi akibat kesalahan yang tidak pernah diperbuatnya.
Orang suruhan papa menemukan kami lima bulan lalu. Beliau menyeretku pulang dan menjebloskan Ardi ke dalam penjara. Jabatan papa di lembaga tersebut membuatnya dengan mudahnya memenjarakan Ardi dan tidak pernah memroses kasusnya. Tindakan papa membuatku marah. Aku tidak bisa terima tapi aku hanyalah anak kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa menangisi Ardi dari balik jeruji besi sementara Ardi masih saja menenangkanku. Ingin rasanya aku berbagi dinginnya lantai penjara dengan Ardi, tapi papa selalu menarikku menjauh dari Ardi.
Untuk ke sekian kalinya, Ardi mengalah untukku.
Namun, tidak ada seorangpun yang menyangka hadiah terbesar yang diberikan Ardi untukku. Dia menanamkan benih cinta kami di rahimku. Katanya, kelak bayi inilah yang akan menemaniku jika dia masih harus merasakan dinginnya lantai penjara. Tapi, papa tidak menghendakinya. Dia menyuruhku untuk menggugurkannya. Keinginan papa yang jelas tidak mungkin ku turuti. Aku akan terus mempertahankan kehamilanku, apapun caranya. Namun, papa tidak kehabisan akal. Dia menyeretku ke hadapan penghulu dan menikahkanku dengan Deni, anak buahnya yang notabene mengaku sebagai penyuka sesame jenis. papa tidak peduli meski setelah menikahku Deni masih menjalin hubungan dengan Tio. Yang ada di pikiran papa hanyalah agar orang-orang menyangka anak yang ada di kandunganku memiliki seorang ayah di atas kertas.
Ardi bergerak bangkit dari duduknya ketika melihatku mendekat. Wajahnya kuyu dan tidak beraturan. Rambutnya telah panjang melewati bahu dan ikut tumbuh di sepanjang rahangnya. Tubuhnya pun kian kurus. Namun, matanya tetap sama, tetap bersinar penuh cinta ketika melihatku, terlebih dengan perutku yang telah membuncit.
“Eva,” panggilnya lembut. Ardi mengulurkan tangannya dari balik jeruji besi dan menyentuh perutku. Dia pun tersenyum lebar.
“Aku baru saja pulang dari periksa bulanan,” ujarku.
“Oh ya? Bagaimana kata dokter?”
“Semuanya baik-baik saja. Kamu sendiri, bagaimana kabarmu?”
“Aku merindukanmu.”
Aku tertunduk. Ku ulurkan tangan dan memeluk Ardi. Besi yang membatasi kami terasa dingin di kulitku. Kapan aku bisa memluk Ardi tanpa dihalangi besi-besi ini lagi?
“Sudah lima bulan tapi aku belum bisa mengeluarkanmu dari tempat ini.”
“Sudahlah Eva.” Ardi menyentuh pipiku dan menghapus air mata yang mulai bercucuran di pipiku. “Jangan bersedih. Tersenyumlah untukku.”
“Bagaimana aku tidak bersedih melihat keadaanmu?”
“Kemarin Pak Wishnu datang. Dia bilang dia akan mencoba membantuku.”
Secercah harapan melambung di hadapanku. Om Wishnu, teman papa dan juga atasan Ardi di kantornya dulu. Sejak awal beliau memang telah menunjukkan dukungannya kepada kami, tapi dia pun tidak bisa membantah papa.
“Pak Wishnu akan berusaha sekuat tenaganya. Dia harap, kamu mau membantunya.”
“Tentu saja aku mau, Ardi. Aku mau.”
Tangisanku kian deras. Dan dalam diamnya, Ardi pun ikut menangis. Sebutir harapan kecil melayang-layang di atas kami dan aku sangat bergantung pada harapan itu.
***
Udara segar menyambutku ketika kakiku melangkah keluar dari ruangan pengap tempatku bernaung selama sembilan bulan terakhir. Cahaya matahari yang panas menyengat seolah berbahagia atas kebebasanku. Akhirnya, setelah terpenjara selama sembilan bulan, aku pun dibebaskan. Kasusku tidak pernah diproses –aku sendiri tidak tahu tuduhan apa yang ditujukan untukku. Aku yakin, keberadaanku dipenjara ini berkat campur tangan Pak Widodo, pemegang tampuk kekuasaan tertinggi di kota ini-. Pun ketika aku dinyatakan bebas, sipir penjara pun tidak tahu alasan yang membebaskanku.
Ah, sudahlah. Aku tidak mau ambil pusing. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu Eva dan anak kami. Anak? Ah, aku masih belum percaya bahwa sekarang aku sudah menjadi seorang ayah setelah minggu lalu Eva melahirkan. Kabar itu aku terima dari Pak Wishnu. Menurut Pak Wishnu juga, anakku perempuan. Pasti dia sangat cantik, seperti ibunya.
Sebuah mobil sedan hitam berhenti didepanku. Mobil itu ku kenali sebagai mobil Pak Wishnu.
Pak Wishnu keluar dari mobil dan menghampiriku. Ku salami pria paruh baya itu. Dadaku bergemuruh hebat akibat rasa tidak sabar untuk segera bertemu Eva dan putri kami.
“Ardi.”
Pak Wishnu menatapku tajam. Kesedihan membayangi wajahnya. Belum sempat aku bertanya, seorang perempuan keluar dari jok penumpang sambil membawa keranjang bayi. Perempuan itu ku kenali sebagai Ibu Trisna, istri Pak Wishnu. Lalu, bayi siapa yang dibawanya itu?
Ibu Trisna menyerahkan keranjang bayi itu kepadaku. Dengan penuh pertanyaan ku sambut keranjang itu. Ku buka kain yang menutupinya. Sontak mataku disambut oleh pemandangan seorang bayi perempuan yang sedang tertidur pulas. Pipi gembilnya berwarna merah dan kepalanya ditumbuhi beberapa helai rambut. Tangannya yang mengepal dimasukkan ke dalam mulutnya yang kecil. Bayi ini sungguh cantik. Sangat cantik.
“ini putrimu,” ujar Pak Wishnu.
Aku tersentak. Jadi, ini putriku? Jika ini putriku, maka… “Dimana Eva?”
Hening menyela pertanyaanku selama beberapa menit.
“Eva… Eva…” Pak Wishnu tergagap. Kecurigaan menghampiriku. Apakah Pak Widodo kembali memisahkan kami? “Eva tidak bisa bertahan saat melahirkan.”
Aku terkesiap, seakan-akan baru saja disambar petir.
***
Aria terlelap dalam tidurnya. Dia tampak damai dalam lelapnya. Kembali keraguan menghampiriku, sanggupkah aku membuatnya selalu merasa sedamai ini?
Ku tatap batu nisan di hadapanku. Inilah rumah abadi Eva. Eva telah pergi meninggalkanku tanpa sempat bertemu sebelumnya. Dia mempertaruhkan nyawanya demi buah cinta kami, Putri Aria.
“Eva, sanggupkah aku membesarkan Aria sendirian?” tanyaku pilu.
Aria bergerak dalam gendonganku. Matanya mengerjap membuka. Tidak seperti bayi lainnya, Aria sama sekali tidak menangis. Dia menatapku, seolah dia mengerti perasaan yang bergejolak di dadaku. Aria memainkan tangannya yang mengepal dan tertawa. Giginya yang mulai tumbuh terlihat menggemaskan di wajah yang bulat sempurna itu. Putriku benar-benar menuruni kecantikan Eva. Mau tidak mau aku tersenyum. Melihat Aria yang tertawa, keraguanku mendadak sirna.
Ya, aku sanggup membesarkan Aria karena aku mencintainya seperti aku mencintai Eva. Eva tentu tidak akan mungkin meninggalkanku dengan Aria jika dia tidak yakin aku bisa menjaga putri kami.
“Bukan begitu, Eva?” tanyaku.
Semilir angin berhembus seakan-akan menjawab pertanyaanku. Dan lagi-lagi, Aria tertawa.


love,
iif
NB: Thanks to Edy atas ide ceritanya. Thanks juga udah rela jadi kelinci percobaanku, hihi. Semoga kamu berbahagia dan sukses selalu ya, dimanapun kamu berada sekarang. Satu bulan yang kita lewati terasa beda dana ku merindukan rutinitasku yang baru semenjak kehadiranmu. Good luck, then.