Thursday, June 30, 2011

Hopeless Romantic

Last night, my friend sent me a SMS "Kak, lo cocok deh ama istilah Hopeless Romantic."
Me: Shock.
For the sake of the whole world, why would someone think that way about me? Am I that much desperate and hopeless about love?
And after I find out what it is hopeless romantic, I was misunderstood. According to urban dictionary, Hopeless Romantic mean this person is in love with love. They believe in fairy tales and love. They're not to be confused as stalkers or creepy because that's not what a hopeless romantic is. All hopeless romantics are idealist, the sentimental dreamers, the imaginative and the fanciful when you get to know them. They often live with rose coloured glasses on. They make lovelook like an art from with all the romantic things they do for their special someone.

Me: pfiuhhhhh.

After I read that statement, i understand why she told me hopeless romantic because i find it in myself.
Today, I look for what is a hopeless romantic in google. I found the romantic hopeles test. And, this is the result:


" You will find as you look back upon your life that the moments when you have truly lived are the moments when you have done things in the spirit of love. "
Henry Drummond
" Romance is about the little things. "
Gregory J. Godeck
" Romance, like the rabbit at the dog track, is the elusive, fake, and never attained reward which, for the benefit and amusement of our masters, keeps us running and thinking in safe circles. "
Beverly Jones
" When one is in love, one always begins by deceiving oneself, and one always ends by deceiving others. That is what the world calls a romance. "
Oscar Wilde

To bask in the delights of idealized love is, in essence, to be a romantic. Hollywood, it seems, has personified romance as candlelit dinners in fancy French restaurants or giggly chases in slow-motion through daisy-filled meadows. The truth is that expressions of love and affection don't have to be expensive or overwhelming. Holding hands, casual walks, or a simple "I love you" are those little things which can really go a long way. If you aren't comfortable with the traditional romantic protocol, you can come up with your own ways of letting someone know how much you care. The truth is that there are no rules.

It is important to note that romance is not a component of love that appeals to everyone; nor is it necessary to keep passion alive. Passion can be stirred by simply being respectful and honest with the one you love. Whether you're a romantic at heart or a more pragmatic lover, as long as you're willing to put your heart and soul into a relationship there is no amount of roses, candlelit dinners or four-string quartets than can measure up or compare to that.

My Score: 75 from 100

According to your score, you are a bit of a hopeless romantic. Rose petals, poignant poetry, tall glasses of wine, touching moments, and sweet words are all loving gestures that you enjoy receiving as well as offering. Romance is fairly important to you, and likely an aspect that you consider fundamental in relationships. Keep in mind however, that problems may arise if you are with someone who really isn't the romantic type. If you look forward to Valentine's Day to express your love and your partner doesn't even acknowledge it as a special day, you might end up feeling neglected or your efforts unappreciated. Nevertheless, even if your partner isn't as romantically inclined as you are, try to be appreciative of his/her efforts when she/he does try to woo you. Some people aren't comfortable displaying their affection in screamingly obvious ways, but this doesn't mean that they don't care, they simply prefer to be more subtle. Whether it's you or your partner who is doing the romancing, check out the ideas in the Advice section for some simple and sweet romantic gestures that aren't tough on the wallet or too overwhelming.

Advice

Romance doesn't have to be complicated or expensive, just from the heart. Remember, it's the little things that matter the most. Whether it's you or your partner who is more of the romancer, check out the ideas below for some simple and sweet romantic gestures.

• Show up at your lover's workplace and whisk her/him away for lunch or a walk.

• Put a note on the bathroom mirror promising to share an afternoon delight.

• When you are not together, call or send a message just to let your partner know that you miss him/her.

• Ride your bike or walk the distance to your significant other's house just to see him/her for a few hours.

• Dress and/or undress each other.

• Kiss every part of your partner's body.

• Hold hands.

• Surprise your partner with plans for a fun day-trip together.

• Go to a toy store and play like children.

• Bring your partner a treat when you pay him/her a visit.

• Get up early and make him/her breakfast in bed.

• Compliment him/her. A simple "You're adorable" or "You're so much fun to be with" is perfect, just make sure you mean it of course!

• Find out what your partner's favorite dish is and surprise him/her with a home cooked meal one night.

• Find out what his/her favorite song is and request it on the radio as a dedication to him/her.

• Put together a journal of romantic quotes, poems and songs.

Hmmm, i like the advice, really. it's just like what I read in the cosmopolitan, hehe.

So, what about you? You can find your score here

love,

Wednesday, June 29, 2011

Ruby's Wishes part 3 (Final)

Hari Ketiga

“Aku ingin kamu mencintaiku.”



Aku tersentak. Hampir saja gelas yang sedang ku pegang jatuh ke lantai. Ku tatap Ruby dengan ekspresi campur aduk, tapi perempuan itu hanya menatapku tenang, setenang dia mengucap kalimat barusan.

Bibirku membuka menutup hendak berbicara, tapi tak satupun kata yang berhasil keluar. Bersuarapun aku tidak sanggup. Selama dua hari ini aku sudah cukup menempa mental dengan meladeni dua permintaan konyol Ruby, tapi sepertinya dia masih menyimpan satu stok permintaan konyol lagi.

Eh? Wajarkah jika aku menyebut ini sebagai permintaan konyol pula?

Dia ingin menantang angin –istilah yang diciptakan Safir untuk kebiasaan kami menjadi raja jalanan dengan Harley kesayanganku-, aku telah mewujudkannya meski harus mengalahkan seribu ketakutan sebelumnya. Dia ingin menggapai bintang –satu lagi istilah yang diciptakan Safir untuk hobi kami mendaki gunung- dan meski harus dipelototi orang tuanya, aku berhasil membawanya ke puncak sebuah gunung. Namun, kali ini?

Dia ingin aku mencintainya.

“Apa susahnya, Adrian?”

Ku palingkan wajah menatap lurus keluar jendela. Gerimis yang sejak tadi pagi berjatuhan dari langit telah berubah menjadi hujan. Bunyi hujan menerpa genteng rumah menjadi satu-satunya pemecah keheningan di ruangan ini.

“Adrian.”

Aku masih terdiam seribu bahasa. Sedikitpun aku tidak berani menatap Ruby. Aku tidak tahu apa yang bisa ku lihat di wajahnya itu. Permohonankah? Cinta? Paksaan? Atau, yang paling aku takuti, aku melihat…

Safir.

“Tatap aku, Adrian.”

Tidak ku indahkan permintaan Ruby. Perlahan aku beringsut dari sofa dan menggerakkan kaki menuju pintu. Meski diluar hujan, setidaknya itu jauh lebih baik ketimbang berada di ruangan ini. Sebut aku pengecut, tidak apa. Aku tidak tahu tindakan apa lagi yang bisa kulakukan selain melarikan diri.

Namun, Ruby menangkap tindak tandukku. Secepat gerakan yang dimungkinkan oleh tubuh ringkihnya, dia berlari ke arahku. Diraihnya pergelangan tanganku dan didorongnya aku ke dinding, bertepatan dengan aku yang berhasil membuka pintu.

Ruby menatapku tajam. Bara kemarahan menyala-nyala di mata birunya yang selama ini menyiratkan kedamaian.

“Kamu mau pergi kemana. Kamu ingat kan dengan janjimu? Kamu masih berhutang satu hal denganku,” teriak Ruby meningkahi suara hujan.

“Kenapa kamu selalu melontarkan permintaan yang sulit untuk ku penuhi?”

“Kamu berhasil memenuhi dua permintaanku sebelumnya.”

Aku menggeleng. “Tapi tidak untuk yang ini.”

“Kenapa?”

Karena aku masih mencintai Safir, kakakmu. Ingin rasanya aku menyuarakan kalimat itu, tapi lidahku mendadak kelu. Dihadapanku, Ruby masih berdiri tegak –atau setidaknya berusaha untuk tetap terlihat kuat.

“Kamu lebih dulu bertemu denganku ketimbang Safir,” ujarnya pelan.

Ucapan Ruby membawa ingatanku melayang ke saat lima tahun lalu, ketika aku bertemu dengannya untuk pertama kalinya. Di ruang Unit Gawat Darurat sebuah rumah sakit. Untuk yang ke sekian kalinya Harley melemparku ke jalanan yang berujung perawatan di rumah sakit. Pagi itu, ketika aku membuka mata, aku mendapati tempat tidur di sebelahku yang semalam kosong sudah ditempati. Sesosok tubuh perempuan terbaring di atasnya. Semula aku pikir dia tertidur, tapi tiba-tiba dia menoleh dan menatapku.

“Hiasan yang bagus,” ujarnya sembari menunjuk dahinya.

Ku raba dahiku dan mendapati perban disana. “Terima kasih,” jawabku.

“Hanya luka kecil ku rasa. Mobil atau motor?” ujarnya lagi.

Diam-diam ku amati dia dan mata biru terangnya langsung menyihirku. “Motor,” jawabku singkat.

Dia terkekeh. “Ayahku selalu mengumpat setiap kali melihat motor di jalan raya, terlebih jika motor itu menghalangi jalannya.”

“Kalau begitu berdoalah semoga aku tidak pernah bertemu dengan ayahmu di jalanan,” candaku.

Lagi-lagi dia tertawa.

“Kamu sendiri? Apa yang membawamu ke sini?”

Dia mengangkat bahu. “Aku sudah bersahabat dengan tempat ini sejak umurku masih berkisar di hitungan hari,” jawabnya pelan tapi aku bisa melihat raut kesedihan di wajahnya. Detik itu juga aku menyadari bahwa dia adalah korban salah satu penyakit yang membuatnya harus bolak balik ke rumah sakit terus menerus. Belakangan, aku baru tahu kalau dia mengidap lemah jantung.

Aku ingin mengajaknya terus bicara tapI dokter datang dan menurunkan kain pembatas di antara kami.

Baru keesokan harinya aku mengenal Safir. Ketika bangun, aku mendapati dia sedang membereskan pakaian Ruby. Awalnya aku pikir bahwa Safir dan Ruby adalah orang yang sama. Mereka sama-sama berambut hitam dan bermata biru. Jika diperhatikan secara serius, baru terlihat bahwa Safir lebih berisi ketimbang Ruby yang kurus kering.

“Hai,” sapaku. “Kamu sudah boleh pulang?”

Safir menghentikan aktivitasnya memasukkan baju ke dalam tas. Ditatapnya aku dengan dahi berkerut.

“Beruntunglah kamu sudah diperbolehkan pulang sementara aku masih harus terkurung disini selama beberapa hari,” ujarku lagi.

Safir tersenyum, dan aku terseret dalam pesona magis yang dipancarkan senyuman itu. “Aku rasa kamu salah orang.”

“Eh?” Ku tatap berkeliling dan menggeleng. Jelas aku tidak salah orang karena hanya kami berdua yang menghuni ruangan itu.

Safir meletakkan tas yang telah dipenuhi baju di atas tempat tidur. “Aku rasa yang kamu maksud adalah adikku.”

“Adik?” aku bingung.

“Yang kemaren ada di sini adik kembarku. Kita begitu mirip sehingga sering tertukar.”

Aku mengengguk paham. “Siapa namamu?”

“Safir. Dan adikku bernama Ruby.”

“Aku duluan yang mengenalmu, Adrian.”

Ucapan Ruby melemparkanku kembali ke masa sekarang. Ruby masih berdiri di hadapanku dan aku masih terdesak ke dinding. Sementara diluar, hujan masih setia menghujam bumi.

“Kenapa kamu malah mencintai Safir?”

Pertanyaan yang sulit. Entahlah, aku juga tidak tahu apa yang membuatku mencintai Safir. Hanya saja, ketika aku bertemu Ruby, perasaanku biasa-biasa saja. Sedangkan ketika aku bertemu Safir, aku merasa pintu hatiku terketuk.

“Jika kisahku adalah sebuah film, maka bisa dipastikan akulah yang akan mendapatkan cinta si pemeran utama pria. Penyakitku dan kelemahanku adalah senjata ampuh untuk menimbulkan simpati dan cinta,” ujar Ruby. Suaranya terdengar gemetar.

“Tapi ini bukan film.”

Ruby membungkam ucapanku dengan ciumannya. Aku tersentak kaget. Tubuh kurus Ruby menekanku ke dinding. Dingin dinding menghantam punggungku. Perlahan aku bergerak dan melepaskan diri dari pelukan Ruby. Aku hanya tidak ingin menyakitinya lebih jauh.

“Maafkan aku. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu,” ucapku pelan sedetik setelah terlepas dari Ruby.

“Tahukah kamu pikiran jahat yang pernah terlintas di otakku?”

Aku terdiam. Kembali bunyi hujan menempa genteng menjadi satu-satunya sumber suara diantara kami.

“Ketika Safir meninggal, sisi hatiku bersorak gembira. Itu artinya kamu kembali sendiri dan aku bisa menumbuhkan kembali bibit cinta yang selama ini aku sembunyikan hanya karena aku menyayangi Safir.”

Tak ada satupun kalimat keluar dari bibirku. Ketika ku lihat Ruby, sorot matanya menyiratkan banyak hal yang ingin disampaikannya.

“Kamu tahu, kali pertama aku merasa memiliki harapan adalah ketika bertemu kamu. Aku melihatmu seperti seekor burung bebas yang bisa kesana kemari tanpa halangan. Aku ingin seperti kamu, tapi aku tahu diri. Karena itulah aku cukup berharap memiliki seseorang yang bisa membawaku terbang bebas. Namun ketika kamu datang ke rumah untuk menjemput Safir, itulah kali pertama aku menangis dan merasakan sakitnya patah hati.”

Tubuh Ruby menggigil ketika ucapan demi ucapan keluar dari bibirnya. Dia terhuyung ke depan. Beruntung refleksku masih berfungsi sehingga dia tidak membentur lantai. Dengan hati-hati aku memapahnya dan mendudukkannya di sofa. Nafasnya terdengar memburu dan wajahnya memerah pertanda menahan emosi. Aku jadi kalang kabut. Tidak, jangan sampai dia kolaps dihadapanku. Bisa-bisa aku dipenjarakan oleh orang tuanya.

“Kenapa kamu tidak bisa mencintaiku? Lihat betapa miripnya kami.”

“Kalian memang mirip, tapi kalian adalah pribadi yang berbeda,” sahutku. “Kamu adalah kamu dan Safir adalah Safir. Aku mencintai Safir karena dia, dan aku tidak bisa mencintaimu karena Safir.”

“Adrian…”

“Maafkan aku Ruby. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu ini,” tegasku. Hatiku sudah dibawa mati oleh Safir, dan untuk mencintai perempuan lain, jelas aku tidak bisa. Sekalipun perempuan itu adalah Ruby.

Ruby memegang dadanya yang naik turun tidak beraturan. Nafasnya sesak. Aku tidak bermaksud membangkitkan emosi Ruby, sesuatu yang membahayakan kesehatannya.

“Mengapa susah bagimu untuk mencintaiku?” gumam Ruby di sela nafasnya yang memburu. Dia meringis kesakitan. “Apa karena aku sakit dan hanya menyusahkanmu saja?”

Aku menggeleng. Sedikitpun tidak pernah terlintas di otakku pikiran picik itu.

“Adrian…” Ruby berusaha keras memanggil namaku di sela nafanya yang naik turun. Wajahnya pucat. Keringat mengucur deras dari pori-porinya. Emosi itu menggoncang jantungnya, membuatnya kesulitan untuk bernafas.

Ku raih Ruby ke dalam gendonganku dan segera ku bawa dia ke kamarnya. Disana Ruth, perawatnya, sudah menunggu. Melihat Ruby yang tampak lemah, Ruth segera menyiapkan obat-obatan yang dibutuhkan Ruby.

Dengan penuh kehati-hatian aku meletakkan tubuh ringkih Ruby di atas tempat tidur. Tangannya menggenggam erat tanganku. Sepercik rasa kasihan melingkupiku ketika ruang pandangku dipenuhi sosok kesakitan Ruby, tapi aku tidak bisa menumbuhkan rasa cinta untuknya.

“Adrian…” Pelan suara Ruby memanggilku. Matanya mengerjap dan bulir-bulir air mata berjatuhan di pipinya.

“Maafkan aku Ruby,” ujarku pelan.

“Jika aku tidak ada, kamu bisa kan mencintai Ruby? Dia sangat mencintaimu Adrian, dan aku merasa bersalah kepadanya karena mencintaimu juga.”

Maafkan aku Safir, aku tidak bisa mencintai Ruby sesuai keinginanmu.

“Kamu pembunuh Safir. Jangan biarkan tangan kotormu itu menyentuh putriku Ruby.”

Seharusnya sedari dulu aku mengikuti kata-kata ayahmu Ruby, agar aku tidak menyakitimu seperti ini.

“Adrian….” Kembali Ruby memanggilku, meski dia sedang berada di ambang kesadarannya.

Perlahan-lahan ku lepaskan pegangan Ruby di tanganku. Maafkan aku, gumamku sekali lagi. Ku tatap wajah Ruby yang sudah terkulai dalam tidurnya.

Safir, haruskah aku pergi agar aku tidak menyakiti Ruby lagi?

Mungkin aku harus pergi, tapi suatu hari aku harus kembali karena aku masih berhutang satu hal padanya.


Ruby's Wishes part 2

Hari kedua

“Aku ingin menggapai bintang.”

“Kita bisa mundur. Belum terlalu jauh dari pos keberangkatan,” ujarku. Nada khawatir tedengar jelas di balik ucapanku. Tangan kananku sibuk memijit pundak Ruby sedangkan tangan kiriku memegang botol minuman yang tinggal setengah. Ruby berdiri bersandar di pohon, berusaha keras mengatur nafasnya. Pipinya memerah meski hanya sedikit cahaya mentari yang berhasil menerobos lilitan dedaunan yang memayungi kami.

Ruby. Entah apa yang menggayuti pikirannya sampai-sampai dia mengucap permintaan konyol lagi. Dia tidak mempedulikan kemarahan orang tuanya ketika tahu dia berada di boncenganku kemaren. Alih-alih dia memintaku untuk membawanya mendaki gunung.

Mendaki gunung? Jelas aja aku menolak mentah-mentah keinginannya itu, tapi Ruby bersikeras. Aku belum mengemukakan persetujuan, tapi pagi-pagi sekali dia sudah berdiri di depan pintu rumahku, lengkap dengan perlengkapan mendaki gunung. Setelah kuamati, semua perlengkapan itu milik Safir.

“Aku masih kuat, Adrian,” bantahnya.

“Perjalanan kita masih jauh.”

“Aku sudah menyiapkan segalanya, Adrian. Kamu tidak usah khawatir.”

Ruby menepis tanganku yang memeganginya dan berusaha berdiri tegak di atas kakinya sendiri. “Aku janji tidak akan memaksakan diri. Begitu aku merasa tidak kuat lagi, aku akan memberitahumu dan kita bisa beristirahat,” ujar Ruby meyakinkanku. “Sekarang ayo kita lanjutkan perjalanan.”

Aku mengambil backpack yang ku sandarkan di batang pohon dan memanggulnya. Backpack itu tidak terlalu besar karena aku dan Ruby memutuskan untuk tidak berlama-lama di puncak gunung ini. Masih terbayang olehku raut khawatir berbaur marah di wajah orang tua Ruby ketika mereka melepasku membawa Ruby mendaki gunung. Orang tua manapun pasti tidak akan merelakan putrinya yang sakit-sakitan mendaki gunung , terlebih bersama pria yang mereka anggap sebagai pembunuh anaknya.

Berjalan bersama Ruby jelas menguji kesabaranku. Keadaannya tidak memungkinkannya untuk berjalan cepat-cepat, terlebih di jalan mendaki seperti ini. Aku meyibak dedaunan dan rumput-rumput liar agar langkah Ruby tidak terhalangi.Jika biasanya aku bisa mencapai puncak dalam hitungan tiga jam saja, maka bersama Ruby aku harus menempuh waktu hampir dua kali lipat. Berkali-kali aku memaksa Ruby untuk beristirahat. Aku sedikit memaksa karena Ruby menunjukkan keengganannya. Tidak apa aku meladeni gerutuannya daripada harus berlari turun sembari menggendongnya yang kolaps di tengah hutan.

I’ve told you, Adrian. Aku bisa kan?” Ruby menjerit antusias ketika hanya berjarak beberapa meter di hadapan kami, puncak gunung terlihat dengan jelas.

Dengan antusias Ruby melepaskan diri dari peganganku dan berlari menuju puncak. Dia seperti anak kecil yang pertama kali dibawa ke taman hiburan penuh pemainan. Aku membiarkannya. Dalam hati aku tertawa puas menikmati keberhasilan ini. Sekali lagi Ruby membuktikan bahwa dia tidaklah selemah yang ku kira. Dia berhasil mengalahkan keraguanku dan keraguan yang dimiliki semua orang. Ruby berhasil membuktikan dirinya.

Aku melemparkan backpack ke atas tanah dan duduk melorot bersandar di batang pohon. Tidak jauh dihadapanku, Ruby tengah berputar-putar gembira. Rambutnya dibiarkan tergerai dan angin gunung menerbangkannya. Dia juga telah melepaskan jaketnya sehingga tubuhnya hanya diselubungi kaos tipis dan syal wol hasil rajutannya sendiri. Ruby berteriak-teriak gembira sambil sesekali menyenandungkan lagu yang tidak ku kenal.

“Aduh.”

Refleks aku langsung berdiri begitu melihat Ruby terjatuh. Jantungku berdegup kencang. Dalam hati aku berdoa semoga tidak ada masalah serius menungguku.

“Kamu kenapa?” tanyaku. Ku raih tubuh Ruby dan perlahan-lahan mengangkatnya.

Di tengah kepanikanku, Ruby malah tertawa. “Tidak perlu cemas seperti itu, Adrian.”

“Jangan main-main Ruby.”

Ruby menghentikan tawanya dan menatapku serius. “Sepertinya kamu tidak bisa diajak bercanda. Padahal aku ingin sekali melihatmu tertawa.”

Aku menggeleng. “Aku mengkhawatirkanmu.”

“Kamu mengkhawatirkanku karena aku, atau karena orang tuaku?” tanya Ruby, menohok langsung ke jantungku.

“Aku mengkhawatirkanmu.”

Ruby membuang muka. “Kamu mengkhawatirkanku. Semua orang mengkhawatirkanku karena penyakitku. Tidakkah ada seorangpun yang benar-benar mengkhawatirkanku karena aku?”

“Apa maksudmu?”

Ruby melangkah pelan menjauhiku. Dia menuju ke tepi lapangan. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat seisi kota di bawah sana. Melihat Ruby yang membelakangiku, mau tidak mau aku terlempar kembali ke masa lalu. Masa saat Safir masih ada. Tempat Ruby berdiri sekarang tidak lain adalah posisi favorit Safir. Disana ruang pandang begitu luas, tanpa satupun penghalang. Dulu, aku dan Safir sering melarikan diri dari kebisingan kota ke tempat ini. Keheningan suasana gunung membius kami, membuat kami betah berlama-lama berdiam di sini. Di gunung inilah aku dan Safir melebur jadi satu, dalam cinta tulus yang kami pupuk. Di sinilah pertama kalinya aku merasa hidup saat melihat Safir yang tertidur di sebelahku. Raut wajahnya yang tenang menawarkan tempat senyaman rumah. Dan aku makin jatuh cinta kepadanya.

Aku menggeleng. Kenangan itu kian menusuk jantungku dan semakin memperbesar rasa bersalah yang ku miliki. Beribu pengandaian melintas di pikiranku, dan semuanya berujung ke penyesalan. Sungguh aku masih menginginkan Safir. Kenangan ini terlalu menyakitkan untuk ku lewati seorang diri. Terlalu menyesakkan hanya bisa melihat Safir dalam sekelebat bayangan.

“Adrian.”

Panggilan Ruby menyadarkanku. Sosok Safir menghilang, berganti dengan sosok rapuh milik Ruby. Dia melambai menyuruhku mendekat ke arahnya.

Perlahan aku melangkahkan kaki mendekati Ruby. Aku berdiri di sampingnya, menatap jauh ke keramaian kota di bawah kaki kami.

“Bayangkan kita membangun keluarga di tempat sehening ini, Adrian.”

Sekelebat suara Safir terdengar dari kejauhan. Aku tahu, itu hanya bayanganku saja.

“Aku mencintaimu, Adrian. Itulah mengapa aku tidak perlu berpikir dua kali untuk menyerahkan diriku di pelukanmu.”

Sekilas senyuman Safir terhampar di angkasa. Tertuju untukku.

“Maukah kau berbagi petualanganmu denganku Adrian?”

Safir bergelayut manja di lenganku. Kenangan itu terasa begitu nyata.

“Turunkan aku, Adrian. Kau membuatku takut.”

Suara tawa Safir menggelegar ketika aku mengangkatnya tinggi-tinggi di tengah lapangan kecil ini. Tawa yang sekarang hanya berupa gendering pilu di pendengaranku.

“You’re so delicious, young man.”

Komentar nakal Safir saat dia menciumku di tengah lelap tidurku.

“Edelweis akan segera kehilangan keabadiannya sesaat setelah kita mengikat janji sehidup semati, Adrian.”

Tatapan penuh cinta Safir semakin menggelora ketika dia menggenggam edelweiss yang sengaja ku ambilkan untuknya.

“Terima kasih telah mencintaiku, Adrian.”

Hangat tubuh Safir di pelukanku berubah menjadi kedinginan tanpa akhir di hatiku.

“Adrian.”

Aku tersentak. Ku lihat Ruby tengah menatapku tajam. Apakah dia tahu gejolak yang berkecamuk di dadaku? Tahukah dia bahwa sekarang aku justru tengah memikirkan kakaknya?

Ruby meraih jemariku dan menggenggamnya erat. Dia tersenyum menenangkan. Di belainya pipi dan mataku yang terasa berat akibat menampung air mata. Aku memejamkan mata. Sebuah pilihan yang salah. Bendungan yang sedari tadi ku tahan-tahan akhirnya lebur sudah.

Aku menangis.

Kelembutan jemari Ruby ketika menghapus air mataku mampu menyulut api yang membara di dadaku. “Kenapa Ruby? Kenapa kamu mengajakku ke tempat ini?” ujarku di sela-sela isak tangis.

Ruby tidak menjawab. Dia semakin gencar menghapus air mataku.

“Tahukah kamu betapa beratnya aku mengabulkan keinginanmu?” cecarku.

Ruby memegang pipiku dengan kedua tangannya.

“Mengapa semua permintaanmu memberatkanku?”

“Buka matamu, Adrian.”

Perlahan-lahan aku membuka mata. Pandanganku mengabur akibat air mata. Sekali lagi Ruby menghapus air mataku. “Maafkan aku. Tapi aku melakukannya demi kamu.”

Ruby memutar kepalaku hingga aku menghadap keramaian kota di bawah sana. “Aku tahu kamu terluka. Tapi lihat di bawah sana. Kamu lihat kan kehidupan yang terhampar di bawah kaki kita?”

Aku terdiam.

“Hidupmu juga harus terus berjalan. Hidupmu tidak akan berhenti hanya karena satu luka. Dengan memupuk luka dan menenggalamkan dirimu di dalamnya, itu berarti kamu menyerahkan dirimu ke pelukan luka yang lain.”

Ruby menatapku tajam. “Aku tidak pernah tahu hidup itu seperti apa. Semenjak hari pertama aku bisa berpikir, aku sudah dihadapkan pada kenyataan bahwa kematian bisa saja menjemputku kapanpun dia mau. Aku dipaksa untuk mempersiapkan diri menyambut kematian. Meski aku tahu tidak banyak yang bisa aku lakukan, aku memutuskan untuk menikmati setiap hela nafas yang ku punya.”

“Kehidupanku tidak berhenti hanya karena dokter memvonisku dengan penyakit ini,” tegas Ruby. “Begitupun dengan hidupmu. Kematian Safir bukanlah akhir dari segalanya.”

“Aku merasa sudah mencapai akhir.”

“Jagoanku bukanlah pria lemah seperti yang ada di hadapanku sekarang.”

Ucapan Ruby seolah menamparku. Aku lemah? Benarkah? Entahlah, tapi hati kecilku mengiyakan semua tuduhan Ruby.

“Aku mengajakmu ke sini bukan untuk menyiksamu dengan kenangan, melainkan untuk mengembalikan jagoanku seperti sedia kala.”

“Mungkin jagoanmu itu sudah tidak ada lagi,” bantahku.

“Jagoanku masih ada. Adrian-ku masih ada.”

Ruby meraih daguku dan memaksaku menatap lurus ke kedalaman matanya. Ada ketengan di sana. Entah dirasuki pikiran apa, aku meraup tubuh Ruby ke dalam pelukanku. Aku hanya ingin merasakan ketenangan seperti ketenangan yang ku lihat di mata Ruby.

Di luar dugaanku, Ruby membalas pelukanku. “Aku yakin, cepat atau lambat jagoanku akan kembali. Adrian-ku akan kembali.”

Aku menghela nafas berat. Semoga saja keinginan Ruby bisa menjadi kenyataan. Saat ini, aku hanya butuh ketenangan.

“Adrian, kamu tidak lupa kan? Kamu masih berhutang satu permintaan lagi.”

Untuk pertama kalinya di hari itu aku bisa tertawa.

Terima kasih, Ruby.


Tuesday, June 28, 2011

Lajang Terakhir #3

Temple Street Night Market
Rata Penuh
Fira mendongak saat seseorang menghempaskan tubuhnya di kursi di sebelahnya. Seketika mood Fira berubah begitu tahu siapa yang telah mengganggu ketenangannya.
Verlita, teman sekaligus pesaing beratnya. Sebaris senyum tersungging di bibir Verlita. "Apa kabar, Fir," sapanya.
"Baik," jawab Fira singkat. Diantara semua kenalannya, dia paling malas berurusan dengan Verlita karena perempuan itu selalu mencari cara untuk menjegal langkahnya.
Verlita Lubis, dialah teman Fira diawal dia meniti karier. Mereka masuk BLITZ! bersama-sama. Meski tampak berteman, namun sebenarnya mereka selalu bersaing, atau setidaknya Verlita-lah yang menjadikan BLITZ! sebagai arena bersaing. Meski telah mengerahkan segala kemampuannya, Verlita harus tetap puas berada dibawah Fira. Titik terang seolah ditemui Verlita saat Fira mengundurkan diri karena melanjutkan kuliah S2 di Milan. Selama kepergian Fira, Verlita tampil cemerlang seolah tanpa saingan. Banyak pihak yang berpendapat bahwa Verlita-lah yang kelak akan menggantikan posisi Diana, pemimpin redaksi BLITZ! kala itu. Namun, kecemerlangan Verlita terpaksa meredup ketika Fira kembali dari Milan dan memutuskan kembali ke BLITZ!. Fira yang sejak awal sudah menjadi anak kesayangan Diah, tentu saja diterima dengan tangan terbuka. Hal ini membuat Verlita geram. Puncaknya adalah ketika Diana mengundurkan diri tiga tahun lalu. Verlita dan Fira pun bersaing demi tampuk pimpinan BLITZ!. Sama seperti dulu, Verlita tetap belum bisa menyaingi Fira sehingga dengan tenangnya Fira melenggang ke kursi pimpinan.
Verlita geram. Namun, di saat bersamaan, Trisna dari Dwiwarna grup, grup yang membawahi Sophisticated, majalah yang menjadi pesaing utama BLITZ! tengah mendekati Verlita. Setelah proses lobi yang lumayan alot, Verlita keluar dari BLITZ! dan bergabung dengan Sophisticated. Sampai sekarang, dia tetap menjadikan Fira sebagai pesaing beratnya.
"Long time no see," ujar Verlita.
Fira menutup novel yang tengah dibacanya. "Iya. Kita sama-sama sibuk," ujarnya berusaha untuk tetap bersikap sopan.
"Masih sendiri, Fir?"
Strike!
Fira mendecak. Dia boleh jadi selalu berada di atas Verlita, tapi dia harus mengakui kemenangan Verlita akan satu hal, dan Verlita selalu tahu cara membuat Fira mati kutu dengan memanfaatkan kelebihannya itu. Di tengah Fira masih berkutat dengan kesendiriannya, Verlita bisa tersenyum pongah karena berhasil menggaet Hardja, direktur Global Pulp and Paper, perusahaan kertas terbesar di Indonesia.
"Aku masih menikmati kesendirianku, buat apa terburu-buru?" Fira berusaha untuk tetap tenang dan tidak terpancing dalam konfrontasi yang disodorkan Verlita.
"Oh, aku pikir kamu serius dengan model itu. Aku sering melihat kalian jalan bareng," cecar Verlita.
"Dia sahabatku."
"Kalian terlihat cocok, meski ya... seperti yang kita tahu, kamu lebih tua dari dia." Verlita melanjutkan omongannya.
"Aku tidak bermasalah berteman dari siapapun, termasuk dari golongan umur berapapun," jawab Fira enteng. Meski begitu, hatinya terasa panas mendengar omongan Verlita. Mungkin latar belakang hubungan mereka yang tak pernah akur membuat Fira menjadi gampang disulut emosi.
Alunan nada Ballade Pour Adrenaline mengalun dari ponsel Fira. Save by the call, gumamnya dalam hati. Setidaknya untuk beberapa saat dia bisa terlepas dari Verlita.
"Aku angkat telepon dulu," ujar Fira dan menjauh dari Verlita.
Nama Rendra tertulis di layar LCD ponselnya.
"Hai, Ren," sapa Fira riang.
"Hai. Kamu masih di bandara?" Ujar Rendra diseberang.
"Iya. Kalau menurut jadwal sih harusnya setengah jam lagi berangkat."
"Ooo gitu. Maaf ya aku nggak bisa anterin kamu ke bandara."
"Nggak apa-apa. Tadi aku berangkat bareng Mario dari kantor. Kebetulan dalam liputan ini, aku ditemani Mario," sahut Fira.
"Kamu berapa lama disana?"
"Hanya empat hari."
"Syukurlah." Nada lega tersirat dalam ucapan Rendra. "I'm gonna miss you."
"Ya ampun, Ren. Jangan kayak anak kecil deh. Kayak aku mau pergi lama aja." Fira tergelak mendengar ucapan merajuk Rendra.
"Iya ampun, mbak Fira." Rendra terkekeh. "Kamu hati-hati disana ya. Have a safe and nice flight."
"Ya. Makasih Ren. See you in Jakarta, soon."
Fira mematikan teleponnya. Dia menoleh ke tempat duduknya tadi dan mendapati Verlita masih disana. Mata Verlita tetap mengawasinya. Fira mendecak kesal. Empat hari keberadaannya di Hong Kong akan terganggu dengan kehadiran Verlita.
Verlita bangkit berdiri dan tampak menuju ke arahnya. Beruntung pada saat yang bersamaan, Amanda, perwakilan dari PRfact, agensi yang mewakili Ocean Park Hong Kong di Indonesia dan bertanggungjawab dalam rombongan media ini, mengumpulkan seluruh anggota rombongan dan mengajak untuk segera masuk ke ruang tunggu.
***
Fira merebahkan tubuhnya di atas kasur. Perjalanan Jakarta-Hongkong cukup menguras tenaganya. Beruntung sepanjang hari ini tidak ada aktivitas berarti sehingga sebagian besar rombongan memilih untuk beristirahat.
Kehadiran Fira di Hong Kong adalah atas undangan dari Ocean Park Hong Kong untuk menghadiri acara launching atraksi terbaru mereka, Aqua City, yang rencananya akan diadakan besok. Dalam acara ini, Ocean Park Hong Kong mengundang berbagai media besar dari seluruh dunia, termasuk lima media besar di Indonesia. Adapun kehadiran Fira adalah sebagai perwakilan BLITZ!.
Niat awalnya untuk sekedar rebahan terpaksa diurungkan karena kantuk segera menyerangnya. Fira tidak lagi sadar akan waktu ketika dia merelakan dirinya terbang menuju rengkuhan mimpi.
***
Fira menyibak tirai jendela. Hamparan langit malam Hong Kong yang bertabur bintang-bintang menyambutnya. Lampu-lampu berpendar dari gedung-gedung pencakar langit yang memenuhi ruang pandangnya.
Keheningan memerangkapnya. Tidak di Jakarta ataupun di tempat lain, perasaan Fira tetap sama. Sendiri. Sepi.
Helaan nafas berat terdengar ketika Fira menutup tirai jendela. Ini bukan kali pertama dia ke Hong Kong, entah itu untuk sekedar liburan ataupun tugas kantor -seperti saat ini. Namun, sama seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, aura magis yang ditawarkan Hong Kong masih bisa dirasakannya, membuatnya selalu dan ingin selalu kembali kesini.
Tidak ada agenda apa-apa malam ini. Mario sudah memberitahunya bahwa dia akan berkeliling Hong Kong mencari objek foto. Fira merasa bosan di dalam kamar dan memutuskan untuk mencari angin segar diluar. Tanpa pikir panjang, segera disambarnya trench coat yang tersampir di sandaran sofa. Udara cukup dingin dan sedikit berangin malam ini.
Angin malam menyapu Fira ketika kakinya melangkah keluar dari Harbour Plaza, tempat dia menginap. Fira memandang berkeliling. Hong Kong tetap ramai, seolah tak pernah lelah berdenyut. Matanya tampak awas memandang orang yang berlalu lalang dihadapannya. Pasar buah dan sayur yang terletak tepat didepan hotel tampak masih ramai.
Fira tidak tahu hendak pergi kemana. Hanya saja, Hong Kong serasa memanggil-manggilnya, meminta untuk dijelajahi. Negara kecil itu bukan lagi hal baru bagi Fira, bahkan sepotong kecil hidupnya pernah tergores disini.
Shuttle bus datang. Fira menatapnya sejenak. Masih belum terlalu malam. Saat itu juga Fira memutuskan untuk mengunjungi Temple Street Night Market, salah satu tempat favoritnya.
***
Fira menatap dua remaja yang saling bercanda di dalam MTR. Mereka seolah tak peduli dengan keadaan sekitar, tampak asyik berbagi tawa. Remaja perempuan itu pun tak canggung menopangkan kepalanya di pundak teman lelakinya. Mereka tampak akrab. Mereka tampak hangat.
Senyum getir menghiasi bibir Fira. Dirga... Serunya pelan.
Lalu gambar remaja perempuan itu berganti dengan bayangan dirinya, sedang bayangan Dirga terpahat jelas di wajah remaja laki-laki itu.
Dirga, sosok yang pernah mengisi hatinya di masa lalu. Sepuluh tahun lalu, di MTR Tsim Sha Tsui ini, Fira mengenal sosok itu. Di MTR ini juga mereka saling berbagi cerita, tawa, dan kebahagiaan. Selama dua minggu masa liburannya di Hongkong, dilaluinya bersama Dirga.
Hingga di hari kepulangannya, Fira merasa hatinya telah terpikat pada pria itu. Berat rasanya melangkahkan kaki keluar dari MTR di malam terakhir kebersamaan mereka. Namun, satu janji Dirga menguatkan hatinya.
"Aku akan menemuimu, lagi."
Fira tersentak. Bayangan Dirga terekam jelas di ingatannya. Janji itu memang dipenuhi Dirga, tidak lama setelah dia kembali ke Jakarta. Namun, tak pernah ada waktu cukup untuk Dirga. Semakin hari, keinginan untuk terus bersamanya kian erat.
Namun, Dirga bukanlah orang yang bisa diikat. Dia laksana burung, terbang bebas membelah angkasa tanpa satupun penghalang. Dirga memang datang lagi menemuinya, namun hanya sementara. Dia kembali pergi dengan satu janji.
"Aku akan menemuimu, lagi."
Selalu begitu.
Terkadang Fira merasa letih. Dia ingin mengikat Dirga agar selalu didekatnya, tapi dia tidak punya kuasa apa-apa. Pria itu selalu saja terbang dengan sayapnya, tak peduli pada Fira yang memohon padanya untuk tetap tinggal. Fira letih dengan Dirga yang selalu datang dan pergi dalam hidupnya. Tanpa kabar apa-apa, dia muncul di depan pintu apartemen Fira. Dia menawarkan kebersamaan yang begitu menghanyutkan. Namun, saat Fira merasa terjatuh terlalu dalam pada perasaannya, pria itu pergi, tanpa kabar apa-apa. Meninggalkan Fira menanggung rindu sendirian.
Hingga akhirnya keletihannya mencapai puncak. Lima tahun lalu, Dirga muncul di apartemennya pagi-pagi sekali. Wajahnya terlihat kacau karena belum bercukur selama beberapa hari. Fira tetap menyambutnya, seperti biasa. Namun, akal sehat lebih menguasainya dibanding kerinduan.
"Kamu tinggal malam ini?" Tanya Fira, sesaat setelah Dirga membersihkan dirinya.
"Entahlah, Fir," jawabnya pelan.
"Jika kamu berniat untuk pergi lagi, untuk apa kamu datang?"
"Bukankah aku pernah berjanji untuk menemuimu lagi?" Dirga balik bertanya.
"Lalu kamu pikir kamu bisa seenaknya? Datang dan pergi sesuka hatimu?" Cecar Fira.
Dirga menatap Fira dengan tatapan letih.
"Aku tidak pernah tahu apa yang kamu lakukan diluar sana. Aku bahkan tidak pernah tahu dimana saja kamu. Entah ada berapa perempuan yang singgah di hidupmu." Fira mulai mengkonfrontasi Dirga.
Dirga membisu. Sedikitpun dia tidak berniat membantah tuduhan Fira.
"Kamu pikir aku sandal yang bisa kamu pakai ketika kamu butuh? Ketika kamu menemukan sepatu baru, kamu meninggalkanku?"
Mulut Dirga terbuka, tapi tak ada satupun kalimat meluncur dari bibirnya.
"Aku capek, Dir. Aku capek terus berharap kamu akan datang. Aku juga capek menanggung rindu ketika kamu tak ada. Aku juga capek dengan kejutan akibat kedatanganmu yang tiba-tiba. Aku capek selalu menjadi persinggahan sementaramu."
"Lalu kamu ingin aku seperti apa?" Akhirnya Dirga bersuara.
"Tinggallah bersamaku."
Dirga menggeleng.
"Sebenarnya apa yang kamu cari?"
Lagi-lagi Dirga menggeleng.
Fira putus asa. Ditatapnya Dirga lekat-lekat, tapi Dirga malah membuang muka. Fira menyerah. Ditinggalkannya Dirga dalam kebisuannya.
Malamnya, sepulangnya dia dari kantor, Fira masih mendapati Dirga di apartemennya.
"Apa kamu sudah memutuskan untuk tinggal?"
Dirga menatapnya tajam. Rupanya pria itu masih betah dengan keterdiamannya.
"Dirga..."
"Apa pilihan untukku?"
Fira bernafas berat, seberat keputusan yang telah lama mendiami rongga otaknya. Dia mencintai Dirga, itu nyata, dan dia ingin Dirga tinggal disini, bersamanya. Namun, Fira tak pernah tahu apa yang ada di pikiran Dirga, juga apa sebenarnya yang dicari Dirga diluar sana.
"Jika kamu memutuskan untuk pergi, jangan pernah berpikir untuk kembali lagi. Aku lelah dengan semua ini."
Fira menyerahkan semuanya kepada Dirga. Dia pasrah. Dia tidak punya kekuatan apapun untuk memaksa Dirga untuk tetap tinggal disampingnya. Dan ketika Fira membuka mata keesokan paginya, dia hanya mendapati sisi kosong di tempat tidurnya.
Tidak ada Dirga.
Burung bebas itu memutuskan untuk kembali mengepakkan sayapnya.
Entah belahan dunia mana lagi yang ingin dipijaknya.
Tess...
Tanpa dicegah, air mata mengalir di pipinya. Air mata untuk Dirga.
Fira tersentak. Bayangan sepi di pagi itu seolah mewujud nyata di malam ini. Segera Fira mengenyahkan bayangan Dirga dari ingatannya. Lima tahun sudah dia pergi, tanpa kabar berita, dan selama itu juga Fira membekukan hatinya. Entah sampai kapan.
MTR berhenti di stasiun Mongkok. Perlahan Fira mengayunkan langkah keluar. Suasana stasiun begitu ramai, sangat kontras dengan kesepian yang menguasai Fira.
Fira melangkahkan kakinya keluar dari pintu D2 stasiun Mongkok. Sekerjap, keramaian Temple Street Night Market menyambutnya. Fira menyusuri pasar malam itu, berbaur dengan keramaian disekitarnya. Dia tidak memiliki tujuan yang jelas. Dibiarkannya kakinya melangkah tanpa arah. Pandangannya tertuju lurus ke depan, menghiraukan deretan pedagang yang menjajakan dagangannya. Semerbak aroma makanan dari berbagai restoran di sepanjang jalan hinggap di penciumannya, tapi Fira sama sekali tak terpengaruh. Dia terus berjalan, hingga akhirnya matanya tertumbuk pada sebuah resto ramen di ujung jalan.
Resto itu selalu ramai, tidak dulu maupun sekarang. Penjual yang sudah separuh baya itu tampak kewalahan menyiapkan ramen yang tak henti-hentinya di pesan.
Sekelebat kenangan kembali menghinggapi alam pikirannya. Fira seolah bisa melihat dirinya sepuluh tahun lalu, tampak begitu muda dan bersemangat. Semangkok ramen berada dalam pegangannya. Resto itu penuh dan dia terpaksa berdiri. Fira tidak peduli selama disebelahnya ada Dirga, pria yang dikenalnya di MTR.
Dirga, tampak misterius sekaligus hangat dalam waktu bersamaan. Senyumnya yang selalu meninggalkan lubang dalam di pipi kiri, membuat Fira terpikat. Tatapan mata tajam, berpadu dengan alis tebal dan bulu mata lentik membuat Fira tak henti-hentinya menyelami kedalaman mata itu. Rahang tegas dengan bekas cukuran disepanjang dagu menambah nilai plus Dirga dimata Fira. Tubuh Dirga yang sedang, tidak terlalu tinggi dan cenderung kurus, terbukti mampu memerangkap Fira dalam pesonanya.
Eh? Fira tertegun. Mengapa dia bisa begitu lancar menyebutkan bayangan Dirga, seolah-olah pria itu mewujud nyata dihadapannya sekarang.
Fira tertegun. Tidak, itu bukan sekedar bayangan. Tidak jauh didepannya, berdiri seorang pria yang juga menatapnya. Ekspresi kaget terlihat jelas disana.
"Dirga?" Desis Fira.