Day 8: Someone Who Made My Life Feel Like Hell

Kebalikan dari tema semalam.

Day 8: Someone who made your life feel like hell or treated you like shit.

In general, gue nggak pernah bermasalah sama seseorang sehingga gue menyematkan kata shit di dada orang itu. For me, everybody is special. Semenyebalkan apapun orangnya, pasti ada sisi positif *meski secuil* yang bisa ditarik dari pribadinya.

But, karena hari ini gue diharuskan untuk mengatakan siapa sih orang yang bikin hidup gue kayak di neraka, so here we are. Well, sebenarnya nggak neraka-neraka amat sih *masih nerakaan jakarta saat matahari buka cabang alias panas banget*

For me, someone who made my life feel like shit is dia yang ngerusuhin gue, everytime, everywhere. Maksudnya, si oknum ini selalu complain atau komentar tentang apapun yang gue lakuin, gue ucapin, atau bahkan gue tulis di Twitter. Seolah-olah dia paling mengerti gue. Nggak peduli bahkan setiap tindakan gue itu nggak ada hubungannya sama dia, dia akan tetap ngerusuhin gue. Padahal kenal dekat aja nggak. Cma sebatas sama-sama tahu aja tapi dia selalu berlagak paling tahu gue.

Dia pernah bilang: "Cetek banget sih cita-cita lo pengen kerja di majalah begituan doang. Yang tinggian dikit napa." Helloooo, mending gue ya cetek yang pasti gue tahu apa yang gue mau daripada dia kayak kutu loncat pindah kesana kemari karena she doesn't know what she want.

In other time, dia nge-SMS. "Lo kayak orang paling kesepian sedunia tahu nggak gue lihatnya. Sampai-sampai lo ajak ngomong akun-akun fiktif. Lo tahu kan mereka fiktif? Kenapa masih lo ajak ngomong sih? Please deh, hidup lo itu nggak sesepi itu." Langsung ilfil dong gue. Untung gue dianugrahi kenyinyiran tingkat lumayan, jadi dia langsung KO di ronde pertama. Mau tahu balasan gue? "Itu tandanya gue kreatif. Lagian, mendingan gue ngerusuhin akun fiktif, nggak ada yang keganggu daripada ngerusuhin hidup temen sendiri."

Di lain waktu, dia juga komen kenapa gue ngetwit galau mulu. Dia ngatur-ngatur gue harus ngetwit apa. Heloooo, siapa elo bisa ngatur-ngatur gue. Ngakunya nggak suka ama twit galau gue, tapi pas gue suruh unfollow kagak mau. Padahal, aturan main sama gue simpel: lo nggak suka, feel free to unfollow me. Gue juga bukan fakir follower yang mengemis-ngemis ke setiap orang buat difollow ya. Idih najis amit-amit jabang bayi gue ngelakuin hal hina nomor tiga itu *hal hina nomor satu itu ngantor weekend dan hal hina nomor dua make baju yang sama dalam rentang waktu satu bulan*.

Pernah juga dia complain. "Gue baca cerpen lo, kok lo jadi liar sih? Lo nggak ngerokok kan? Lo nggak minum-minum kan? Sorry, lo masih virgin kan? Abisnya gue khawatir gitu tokoh-tokoh di cerita lo bitchy semua." What the fuck ya. Elo itu udah dikuliahin tinggi-tinggi kok ya pikirannya masih sedangkal itu? Gue masih virgin baby gini tau masalah seksualitas bukan berarti gue pernah ngelakuin kan? Just see Cosmopolitan and Harlequin. Gue nggak ngerokok atau minum bukan berarti gue tabu sama begituan. Itu gunanya bergaul bo. Lo tambah wawasan lo biar lo tahu dunia itu kayak apa. Jangan tahunya cuma hitam putih doang. Kasian sumpah gue sama orang kayak gini.

Masih soal tulisan, dia komentar kalau gue nggak boleh nulis kisah metropolis karena katanya gue berjilbab. Itu nggak pantes. Oh man, how poor you are. Ini dia yang bikin gue nggak bisa dekat sama lo, karena lo nggak open minded. Terlalu picik. Mentang-mentang gue berjilbab trus gue nggak boleh nulis adegan having sex? It's reality, you know. Gue ngerasa apa yang gue tulis masih dalam tahap wajar, karena kenapa? Karena kenyataan sekarang ya kayak gini. Sayangnya, elo selalu menutup mata, dan lebih sayangnya lagi, lo maksain kepicikan lo itu buat diikutin orang lain. Lo salah orang kalau maksain itu ke gue, sorry to say ya.

Actually, masih banyak hal lain yang dia rusuhin. Sampai ke gue doyan baca Cosmopolitan aja dia juga complain. Katanya, itu majalah nggak cocok buat yang berjilbab. See? Siapa yang picik sekarang.

Dia juga complain kenapa gue nggak pacaran padahal dia sendiri jomblonya lebih ngenes dari gue. Pengen deh gue jejelin cermin depan muka dia trus dia ngaca sebelum ngomong.

Intinya, gue paling nggak suka ada orang yang nggak kenal-kenal baget sama gue ngerusuhin gue sedemikian rupa padahal apapun yang gue lakuin itu nggak ada efeknya sama dia. Bagi gue, ini orang cocoknya dijejelin ke gorong-gorong trus tinggal aja disana nggak usah keluar-keluar *emosi tingkat dewi aphrodite*. Kecuai ni ya, ni orang itu keluarga atau sahabat deket gue yang kehidupan gue ngefek langsung ke mereka, nggak apa-apa ngerusuhin gue. Pengen banget malah gue.

So, buat elo yang suka ngerusuhin gue, gue tahu kok lo pasti baca blog gue. Bukannya geer, tapi gue yakin lo baca karena elo suka complain tentang apa yang gue tulis. Gue yakin, selang satu jam si bebeh akan berdenting pertanda ada sms dari lo. Kita buktikan aja ntar.

Loh, kok malah jadi panjang lebar gini ya? Padahal tadi niatnya mau nulis singkat padat dan jelas, tapi ujung-ujungnya malah curcol. *piss yow*

Love,
iif

PS: Gue sengaja ngerahasiain siapa oknum ini. Buat yang mau tahu, you can reach me via DM, SMS, BBM, or email :D

Comments

Popular Posts