Malam Dan Stasiun Kereta

Malam. Hujan. November Rain. Stasiun Sudirman.

Malam ini hujan lagi, Rha."

Maesa mendesahkan kalomat itu pelan, namun telingaku mampu menangkapnya. Meski tetes suara hujan yang menghantam atap peron terdengar memekakkan telinga, aku masih bisa mendengar bisikan itu.

Dengan jelas.

Sejelas aku melihat Maesa.

Pria itu terduduk lesu di salah satu kursi. Kakinya yang panjang terjulur di lantai, membuat beberapa orang merasa terganggu karena harus menghindar. Namun Maesa tidak peduli. Dia sama sekali tidak memperbaiki posisi duduknya meskipun banyak yang terang-terangan melemparkan tatap penuh protes kepadanya.

Tak ayal aku pun tertawa. Dia masih seenaknya, sama seperti dulu.

Namun, sikap seenaknya itulah yang membuatku jatuh cinta padanya. Meski pada awalnya, rasa bencilah yang mendominasi hatiku.

Hei, siapa yang tidak benci jika di hari pertama kerja sudah berhadapan dengan atasan bertampang menyebalkan, bersuara keras, tatapan intimidatif, penuh tuntutan, dan sederet list pekerjaan yang harus diselesaikan? Tapi, itulah Maesa.

"Sama seperti malam itu."

Kembali Maesa berbisik.

Kuseret tubuhku mendekati Maesa.

"Aku kangen kamu, Rha."

Aku juga kangen kamu, Sa.

"Stasiun ini membuatku terluka sekaligus mengobati kerinduanku."

Kurasakan air mata mengaliri pipiku.

"Dan hujan ini membuatku kian merindukanmu."

Ingin kupeluk tubuh itu agar dia tidak berkata-kata lagi. Aku tak sanggup mendengar lontaran kenangan demi kenangan yang keluar dari bibirnya.

"Malam ini begitu sempurna kan, Rha, untuk merindukanmu. Hujan, stasiun, November Rain. Persis di malam itu."

Ingin rasanya kukecup bibir itu agar tak lagi bersuara.

"Malam saat aku menyadari aku mencintaimu."

Aku tersedak air mataku sendiri.

"Malam yang tak kan kulupakan."

Aku juga tidak bisa melupakan malam itu, Sa. Malam terindah yang pernah kualami di sepanjang kehadiranku di dunia ini.

"Andai saja malam itu aku tidak mengikuti ide gilamu untuk pulang naik kereta, tentu kita tidak akan mengalami malam yang indah itu."

Air mataku mengalir kian deras. Potongan demi potongan gambar akan kejadian di malam itu bermain jelas di benakku. Sejelas aku melihat Maesa di malam ini.


"Dingin, Sa."

Kukatupkan tangan didepan dada sekedar untuk mengusir dingin, tapi rasanya percuma saja. Udara malam yang biasanya sudah dingin kian menjadi-jadi akibat hujan yang sedari tadi mengguyur Jakarta.

"Keretanya masih jauh ya, Sa?"

"Tadi katanya baru mau masuk stasiun Serpong."

"Masih jauh."

"Tapi paling nggak ini keputusan paling tepat untuk saat sekarang. Lebih baik menunggu kereta ketimbang terjebak macet. Bahkan untuk keluar dari kantor aja nggak bisa saking parahnya macet."

Aku mengangguk. "Hujan dan macet. Masalah klasik."

"Nih, makan lagi." Maesa menyodorkan kotak pizza yang tadi sempat kami beli dalam perjalanan menuju stasiun.

"Aku udah kenyang. Kamu aja yang ngabisin."

"Aku juga udah kenyang. Disimpan aja ya. Siapa tahu kamu nanti kelaperan lagi." Sebaris senyum tersungging di bibirnya.

Senyum itu menghipnotisku, membuatku termangu selama beberapa menit sebelum akhirnya sadar dan segera memalingkan wajahku yang terlanjur bersemu merah sebelum Maesa menangkapnya. Dan tak ayal senyum itu mempercepat debaran jantungku.

Ah Maesa. Melihatnya malam ini membuatku tak habis pikir, mengapa pria yang dulu selalu membuatku keki setengah mati sekarang malah membuatku jatuh cinta sepenuh hati? Sungguh lucu permainan tangan takdir ini.

Pepatah klasik yang menyebutkan bahwa benci bisa menjadi cinta sepertinya harus kuakui kebenarannya. Dibalik setiap keluhanku akan sikap perfeksionisnya yang membuatku terpaksa menambah jam kerja di kantor, tanpa disadari aku mulai menikmatinya. Karena disaat malam mulai merambat itulah aku bisa puas memandanginya tanpa perasaan was-was diketahui oleh rekan kerjaku yang lain. Posisiku sebagai managing editor membuatku harus ikut lembur ketika si pemimpin redaksi, Maesa, bekerja overtime. Dan siapa yang bisa mengelak jika dari hari ke hari aku kian terpesona olehnya?

Hingga akhirnya benih-benih cinta itu tumbuh dan berkembang di hatiku.

Benih cinta yang hanya bisa kupendam seorang diri karena tidak tahu cara yang tepat untuk mengutarakannya.

Angin malam kian menusuk kulitku, membuatku menggigil kedinginan.

"Come here."

Maesa menggeser duduknya hingga tepat berada disebelahku. Tanpa basa basi dia membuka jaket jinsnya dan menyampirkannya ke pundakku. Seolah itu belum cukup, tanpa meminta persetujuanku, dia meraihku ke dalam pelukannya.

Pelukannya terasa hangat. Namun tindakannya itu membuat jantungku kian berdetak kencang.

"Sudah mendingan?"

Lidahku kelu. Kalimat yang hendak kulontarkan mendadak terhenti di ujung lidah.

"Aku nggak mau kamu kedinginan. Nanti kamu sakit."

Belum reda debaran di dadaku, kalimatnya kembali membuatku salah tingkah. Bukankah jatuh cinta membuat seseorang jadi lebih sensitif?

"Aku nggak mau kamu sakit. Nanti aku kelimpungan kalau kamu nggak ada."

"Kalau aku nggak ada, pekerjaan kamu akan bertambah." Kupaksa lidahku melontarkan kalimat bergurau sekedar untuk meredakan debaran ini.

Maesa terkekeh, tapi pelukannya ditubuhku kian erat.

"Itu hanya sebagian kecil kerugian yang kurasakan kalau kamu nggak ada, Rha."

"Oh ya?"

Maesa tidak menjawab. Alih-alih dia memainkan rambutku yang lepek terkena hujan.

Kami terdiam selama beberapa saat. Keheningan itu terasa menenangkan karena aku berada di pelukan Maesa, sesuatu yang selama ini hanya berada dalam anganku saja. Kupejamkan mata dan menghirup aroma tubuh Maesa, menyimpannya erat-erat di dalam salah satu lipatan otakku untuk kemudian kupanggil kembali setiap aku merindukannya.

Sayup-sayup dari speaker yang terpasang di tiang peron dua mengalunkan lagu November Rain. Sontak, aku dan Maesa tertawa.

"Petugas stasiunnya bisaan aja," ujarku di sela tawa.

"Mentang-mentang sekarang hujan dan lagi di bulan November," timpal Maesa.

"Aku suka lagu ini, Sa."

"Serius? Wah, aku nggak tau. Kalau begitu, mulai besok aku akan memutar lagu ini di kantor."

Entah dia bercanda atau tidak, namun yang pasti celetukannya itu membuat pipiku semakin memerah.

"Kereta tujuan Bekasi akan masuk di jalur dua."

Pengumuman itu menyentak lamunanku. "Yah, Bekasi."

"Sabar Rha. Bentar lagi juga datang kereta kita."

Kita. Dia menyebut kata kita. Kata sederhana namun mampu membuatku blingsatan.

Ular besi itu berlalu kencang dihadapan kami, menimbulkan hembusan angin yang lumayan kencang. Maesa mencondongkan tubuhnya dihadapanku, melindungiku dari terpaan angin.

"You don't have to do it, Sa," sergahku.

Maesa tersenyum. Matanya menatapku tajam. "Aku melakukannya karena aku ingin, Rha."

Kereta berhenti. Beberapa langkah kaki berlarian di sekitar kami. Dan Maesa tetap bergeming di posisinya hingga kereta kembali melaju dan menghilang dari pandanganku.

"Malam ini aku senang sekali, Rha. Terjebak di stasiun malam-malam dan hujan seperti ini. Bersama kamu."

Aku semakin salah tingkah.

"Aku ingin memelukmu terus, Rha. Seperti malam ini."

"Kenapa?"

"Karena aku sayang kamu, Rha."

Nafasku tercekat. Benarkah apa yang kudengar ini?

"Kereta tujuan Bogor akan masuk di jalur dua."

"Itu kereta kita, Sa." Bodoh, rutukku dalam hati. Pernyataan yang sama sekali tidak kuduga itu mengacaukan kecerdasanku hingga yang kulontarkan adalah kalimat bodoh itu. Bukankah ini yang kamu tunggu-tunggu, Laura?

Maesa melepaskan pelukannya di tubuhku, namun senyum lembut masih senantiasa terukir di wajahnya.

"Yuk, kita pulang."


Jika ada yang paling kusesali adalah mengapa malam itu aku bertingkah begitu bodoh? Jika boleh kuputar ulang waktu, maka malam itu aku akan berkata bahwa akupun menyayanginya.

Aku mencintainya.

"Aku ingin memelukmu lagi, Rha."

Aku juga, Sa.

Kuusap pelan pipinya.

Maesa menundukkan wajahnya. "Aku ingin kamu ada disini bersamaku, Rha."

Aku disini, Sa.

Namun percuma saja. Sekuat apapun aku berteriak, dia tak akan mendengarkanku.

"Aku mencintaimu, Rha. Tapi mengapa kamu meninggalkanku?"

Jika bisa, Sa, aku juga nggak mau pergi. Aku ingin tetap disini bersama kamu, mengatakan betapa aku mencintaimu. Namun, tangan takdir memilihku untuk menyerah dan pergi jauh darimu.

"Rha, tell me what I have to do without you?"

Kamu harus bangkit, Sa. Lupakan aku dan lanjutkan hidupmu.

"I don't know what to do, Rha. Aku mengulang November Rain setiap saat di kantor dengan harapan kamu segera kembali, aku mengunjungi stasiun ini untuk mengulang memori kita, aku membairkan mejamu seperti biasa karena aku masih berharap kamu kembali menempati meja itu. Tapi, kamu tidak pernah kembali."

Aku tidak akan pernah kembali, Sa. Sekali aku pergi, itu untuk selamanya.

"Aku ingin kamu kembali agar kita bisa bersama lagi."

Kupeluk tubuh kuyu itu, namun Maesa tidak bereaksi apa-apa.

Dan detik itu kusadari kalau dia tidak menyadari kehadiranku.

Aku telah pergi dan tidak akan pernah kembali.

"Apa kamu juga mencintaiku, Rha?"

Aku tergugu. Aku menangis dalam kesendirianku.

Pasti, Sa. Aku mencintaimu, hingga detik ini.

Tapi aku telah pergi dan tak kan pernah kembali.


"Laura, awas!!!"

Aku berbalik dan mendapati Marsa tengah menatapku dengan tatap ketakutan. Detik berikutnya kulihat dia berlari ke arahku.

Namun sebuah makhluk besi lebih dulu menghantam tubuhku sebelum Maesa berhasil menarikku menjauh dari jalan raya ini.

"Laura..."

Teriakan Maesa menggema di telingaku.


Hingga detik ini. Detik di mana aku harus tersiksa menyaksikan Maesa menangis seorang diri di stasiun dari duniaku yang baru.


P.S: Iseng menulis ini sepulang kerja saat menunggu kereta di stasiun Sudirman. Kebetulan malam ini hujan dan speaker di stasiun memainkan lagu November Rain miliknya Gun and Roses.


Love,

iif

Comments

Popular Posts