Pendar Cahaya

Cahaya berpendar di sekitarku, menyorotku tanpa ampun. Aku bergidik ngeri. Perlahan ku langkahkan kaki tapi segera mengurungkannya. Pendar cahaya kian banyak memerangkapku, membuat tubuhku kaku dan tidak bisa berbuat apa-apa.

Ku tolehkan kepala ke kiri dan kanan, berharap ada secercah harapan untukku. Namun, nihil. Cahaya yang menyorot tajam menyambutku, bergerak cepat mendekatiku. Tubuhku menggigil. Keringat dingin membasahi kening dan leherku, lalu bergerak turun ke balik kaos yang ku kenakan dan menggenang di punggungku. Lututku gemetar, sama sekali tidak bisa ku ajak bergerak.

Untuk yang ke sekian kalinya, ku tarik nafas dalam-dalam. Aliran oksigen yang memasuki paru-paru lumayan menenangkanku. Ku pejamkan mata untuk memperlama efek tenang yang perlahan mulai melingkupi tubuhku. Gemetarku sedikit demi sedikit mulai berkurang. Ku hembuskan nafas keras dan segera membuka mata.

Kembali pendar cahaya menyambutku. Seberkas cahaya bahkan meluncur cepat ke arahku. Aku terpekik. Beruntung cahaya itu segera menukik sebelum menyambar tubuhku. Samar telingaku menangkap umpatan dari si penunggang cahaya. Tidak perlu penjelasan untuk mengerti bahwa umpatan itu ditujukan untukku.

Mengapa para penunggang cahaya ini tidak memberikan kesempatan untukku? Sedari tadi aku bergeming di tempatku, mencari celah lowong antara cahaya-cahaya itu. Namun, celah yang ku tunggu tak kunjung datang. Bahkan, cahaya-cahaya itu kian rapat dan semakin banyak yang menukik tajam ke arahku. Ketenangan yang tadi sempat ku rasakan mendadak sirna, berganti dengan gemetar hebat di kedua lututku. Oh, dan juga keringat dingin yang membasahi kaosku, membuatnya menempel di punggungku. Sungguh tidak nyaman.

Kembali ku tolehkan kepala ke arah kanan. Keadaan masih saja sama. Tuhan, sampai kapan aku harus berdiri di tempat ini?

“Miss, are you okay?”

Sebuah suara mengagetkanku. Segera ku telengkan kepala ke arah kanan dan seketika aku menganga lebar.

Pendar cahaya yang memenjaraku mendadak lenyap, berganti dengan sebuah cahaya terang yang terpantul dari seraut wajah bersahabat di sebelahku. Sebaris senyum terukir di wajah bercahaya itu. Dan sorot matanya. Ah, sorot mata itu jauh lebih tajam ketimbang cahaya yang menukik tajam ke arahku tadi.

Aku terpana…

Selama beberapa detik…

“Miss, are you okay?”

Kembali dia bertanya. Aku tersentak dan terlempar kembali ke dunia nyata. Pendar cahaya kembali muncul di sekitarku. Cahaya terang dari wajah itu juga lenyap, tapi aura bersahabat masih menguar dari tubuhnya.

“Oh ah… ya…” sahutku tidak jelas. Aku belum lepas sepenuhnya dari keterpanaan.

Are you okay? Sedari tadi saya lihat kamu hanya berdiri di sini. Ada masalah?”

Aku menggeleng kemudian mengangguk, lalu menggeleng lagi. Ku lihat dahinya berkerut melihat gelagat salah tingkahku.

“So?”

“Ya…” Aku mengaku. “Boleh aku memegang tanganmu?”

Bodoh, rutukku dalam hati. Dia pasti menganggapku perempuan aneh. Atau lebih parah lagi, perempuan murahan. Bagaimana tidak. Aku tidak kenal siapa dia dan baru melihatnya kali ini tapi aku sudah meminta izin untuk memegang tangannya.

Benar saja. Kerutan di dahinya kian banyak. Wajahnya tidak bisa menutupi kebingungan yang melandanya.

“Aku ingin menyeberang. Hanya saja, mata minus ku sangat mengganggu. Aku tidak bisa melihat dengan jelas. Itu sebabnya aku hanya berdiri saja di sini sejak tadi.”

Penjelasanku mulai mengendurkan kerutan di dahinya. Namun, tatapan awas masih saja ditujukannya untukku.

“Maksud permintaanku tadi, aku ingin menyeberang bersamamu. Kalau boleh.”

Aku menunduk.

Tiba-tiba suara tawa jernih menyapa gendang telingaku. Ku angkat wajah dan menatap ke arahnya.

“Oh itu, saya kira apa. Ayo.” ajaknya. Tidak urung, dia segera mengulurkan tangannya ke hadapanku. “Pegang tanganku. Aku bantu kamu menyeberang.”

Sungguh pria gentleman sejati, spesies yang sudah sangat langka di zaman serba individualis seperti saat ini. Dengan dada berdebar hebat ku pegang lengannya. Pria itu pun lalu menuntunku menyeberang jalan, menghadang pendar cahaya yang berasal dari lampu kendaraan yang sedari tadi menyulitkan langkahku. Begitu sampai di pembatas jalan, dia berpindah ke sebelah kiriku. Diangkatnya tanganku yang memegang lengan kirinya dan dipindahkannya ke lengan kanannya. Setelah itu, dia kembali menuntunku hingga tubuhku sampai di seberang jalan dalam keadaan baik-baik saja.

“Terima kasih. Aku tidak tahu bagaimana keadaanku jika tidak ada kamu,” seruku sedikit hiperbola. Sebagai pecinta drama, kejadian ini tentu sesuai dengan imaji fairy tale milikku.

No problem. Senang membantumu.”

Lalu dia pamit. Aku yang masih terpana dan sibuk memikirkan imaji fairy tale selanjutnya tidak terlalu memperhatikan tindak tanduknya. Aku baru tersadar ketika dia melompat masuk ke dalam salah satu angkot.

“Eh…” Aku gelagapan. Begitu saja? Tidak ada pertanyaan nama, alamat, atau sekedar nomor telepon? Aku merutuki pikiranku yang mengawang terlalu jauh. Tentu saja akhirnya akan seperti ini karena cerita ala dongeng hanya ada di dalam imajinasiku saja.

“Hampir lupa,” serunya dari dalam angkot yang bergerak pelan, “aku Aryo, hukum angkatan 2006.”

Senyum mengembang di pipiku. Dalam dongeng memang disebutkan Cinderella ketinggalan sepatu lalu pangeran bersusah payah keliling kota mencarinya. Jika saja dia meninggalkan sepatu, tentu aku akan mengalami kesulitan yang lebih besar lagi dibanding usaha pangeran. Namun berbekal nama dan jurusan kuliahnya, tentu usahaku akan lebih mudah, mengingat tempat pertemuanku dengannya adalah di depan kampusku, tentu dia kuliah di sini juga.

Hmmm… sepertinya Disney punya saingan baru. Ceritanya berjudul “Putri Bermata Minus dan Pangeran Fakultas Hukum.” Romantis, eh?



Love, iif

NB: Cerita ini diilhami kisah nyata ketika saya kesulitan menyeberang di malam hari akibat kaca mata saya pecah. Namun, pria yang hadir di cerita ini hanya imajinasi belakang *bukannya fokus nyebrang malah mikirin yang nggak-nggak*.c

Comments

Popular Posts