END UP ALONE!!!


Aku, Katerina Eva, 29 tahun, creative director di Big Brothers Advertising Company. Everybody knows Big Brothers, so everybody knows me.

Merujuk pada perkataan orang-orang tentang aku, maka dengan segala kebanggaan aku bisa bilang bahwa aku menarik –menarik, bukan cantik. Bagiku, menarik jauh lebih berarti ketimbang cantik- terlepas dari barang-barang mewah yang melekat di tubuhku. Aku sama seperti perempuan Indonesia lainnya, bangga dengan kulit sawo matang mereka –kata pria-pria bule kenalanku, sawo matang terlihat eksotis- dengan tinggi yang tidak berhasil mencapai 165 cm –don’t worry, that’s why Manolo or Louboutin makes high heels- dan berat –yang selalu ku usahakan- berada di bawah angka lima. Apa lagi yang membuatku menarik? Oh jelas, posisiku. Pekerjaan yang bagi sebagian besar orang termasuk glam job –and I’m proud of it- dan memberiku akses ke segala bidang –maksudku dalam bersosialisasi-.

And then? Yeah, dengan berat hati aku terpaksa berkata: I’m single, sebuah status yang bagi sebagian besar rakyat Indonesia, terutama di generasi ‘Mas Boy’ masih dianggap tabu dan memalukan. But, hey… sekarang bukan jamannya menulis diari seperti mas Boy. Sekarang saatnya semua orang menumpahkan unek-unek mereka di blog atau mungkin twitter. Sederhananya, di masa sekarang, melajang di akhir dua puluhan bukan lagi sebuah momok menakutkan.

Balik lagi ke hidupku. Hidupku menyenangkan –siapa yang tidak melirik dengki melihatku keluar masuk Pacific Place dengan berkantong-kantong TOD’S atau Bally lalu melenggang ke Plaza Indonesia demi sepasang Jimmy Choo. Hidupku menggairahkan dengan tumpukan deadline dan ide kreatif yang selalu menguar dari batok kepalaku. Hidupku mencengangkan dengan makan malam prestisius bersama para klien menawan yang –mau tak mau- membuatku kecipratan ‘mengkilap’. Hidupku memuaskan dengan pundi-pundi rupiah yang mengalir lancar ke rekeningku.

Hidupku membuat iri semua orang bukan? Namun, bukan manusia namanya jika mereka tidak memiliki sejumput rasa iri, dan kelajanganku dijadikan kambing hitam. Mereka melihatku dengan raut kasihan ketika aku menghabiskan akhir pekan di coffee shop atau menonton bioskop sendirian. Padahal tentu saja mereka iri dengan kebebasanku –oke oke, ini hanya alibi untuk menyenangkan hatiku saja-. Tapi aku tidak ambil pusing. Persetan apa kata orang. Selama aku masih bisa menonotn DVD seharian di rumah tanpa mandi, memborong koleksi terbaru Burberry, melancong ke Singapura dan menari di sepanjang Orchard Road, atau hanya menghabiskan semalam bermanja-manja di Shangri La, maka dengan senang hati aku berkata HIDUPKU MENYENANGKAN.

***

Aku membalik kotak penyimpanan koleksi DVD –yang 98% bajakan- dan mendengus kesal. Tidak ada barang baru. Kesibukan menyiapkan iklan untuk Prudential membuatku terpaksa alfa mengunjungi mang Ujang, tukang DVD langgananku di daerah Glodok sana. Semua koleksi yang ku punya –didominasi cerita comedy, romantic, tragedy, and love story- sudah habis ku lahap.

Aku terduduk lemas di atas lantai linoleum coklat apartemenku. Di depanku menjulang televisi flat screen dan seperangkan home theatre mewah yang baru ku beli tiga bulan lalu. Aku berkaca di layarnya yang tidak menyala. Bisa ku lihat wajah cemberutku di sana. Mati gaya di hari Minggu yang cerah, itulah aku. Baru ku rasakan hidupku sedikit menyebalkan.

Ku putar otak mencari cara melepaskan diri dari kebosanan ini. Senyum cerah menggelayuti wajahku ketika sebuah ide –sederhana memang- melintas di kepalaku. Girls Day Out! Apa lagi yang menyenangkan bagi seorang perempuan lajang selain tertawa bersama teman-temannya?

Segera saja ku seret tubuhku ke atas sofa dan merogoh ke lipatan-lipatan sofa. “Dimana kamu Berry?” tanyaku pelan sambil terus mencari-cari. “Yup, ketemu,” sorakku ketika jari-jariku menyentuh sebuah benda persegi dengan sederet tombol di atasnya. Segera saja ku tarik tanganku dari bawah tumpukan bantal sofa.

My Blackberry, my soulmate, meski sudah penuh goresan di sana sini.

Ku rebahkan tubuhku di atas sofa bermotif macan tutul –I love animal prints. Eksotis- dan membiarkan kakiku terayun-ayun di ujungnya. Ku geser-geser trackball Berry mencari nomor kontak teman-temanku.

“Jemma,” aku bergumam pelan ketika trackball berhenti di nama Jemma Ariani. Aku menimbang-nimbang sebentar kemudian menggeleng. Sekarang hari Minggu, dan Jemma selalu menasbihkan hari Minggu sebagai ‘Family Day’ semenjak jaman kuliah dulu. Bagi Jemma, keluarga adalah segalanya dan mustahil dia mau menyeret bokongnya ke apartemen temannya yang tengah mati gaya di hari Minggu yang cerah ini.

Aku kembali menggeser trackball. Mataku tertumbuk pada nama Riska Maria. Otomatis aku bergidik ngeri. Menelepon Riska sama saja mengizinkan telingaku dihinggapi segala hal seputar ASI, susu formula, diapers, Mother and Care, dan tangisan bayi. Bayi, neraka dunia nomor dua, jelas bukan pilihan yang tepat.

Trackball kembali ku gerakkan. Kali ini berhenti di nama Tira Walalangi. Tira, teman yang memiliki kesamaan mendekati 80% denganku, sepertinya pilihan yang tepat. Baru saja aku akan menekan tombol dial ketika ingat sekarang hari Minggu. Aku mendengus. Tira pasti akan mencecarku dengan kehebatan permainan ranjang pria yang baru saja ditemuinya di bar semalam, bahkan sebelum aku sempat mengucap “hallo”. Sebagai perempuan normal yang sudah lama tidak merasakan sentuhan pria, mendengarkan cerita seputar aktivitas seks orang lain merupakan neraka dunia nomor satu.

Aku mencoret nama Tira, meski nama Ranita yang muncul setelahnya juga tidak memberikan solusi. Ranita hidup 24/7 untuk pekerjaan dan aku muak terus-terusan dibombardir perihal kerja olehnya. Keputusasaan hampir mencegatku ketika tanpa sengaja aku melihat nama Aryo Aribowo. Ryo, satu-satunya pria dalam lingkaran pertemananku. Aku tersenyum girang dan langsung saja menelepon Ryo. Namun, segera ku urungkan niat itu ketika pikiranku melayang ke kejadian bulan lalu, saat aku dan Ryo memanjakan diri di salon dan kami dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang seolah-olah baru keluar dari halaman fashion spread Esquire. Totally hot. Namun sayangnya pria itu sama sekali tidak melirik dadaku, alih-alih menatap area selangkangan Ryo seraya menahan liur. Damn!

Aku membanting Berry ke atas meja kopi. Mati gaya di hari minggu yang cerah benar-benar memuakkan. Ku edarkan pandangan ke sekeliling apartemen yang tertata minimalis. Ketika mataku tertumbuk pada rak buku menjulang di dekat pintu kamarku, sebuah ide melintas. Ke toko buku sepertinya ide yang bagus. Tanpa pikir panjang, segera ku seret tubuhku ke kamar mandi, memecahkan rekor mandi pagi tercepat di hari Minggu –sekedar info, kadang aku tidak mandi seharian di hari Minggu-.

***

Kalau seorang perempuan sepertiku mengunjungi toko buku, dimanakah dia berada? Jawabannya hanya dua: rak majalah dan rak khusus novel dewasa yang menjanjikan kehidupan percintaan serba sempurna. Aku bersyukur FPI tidak melirik dunia literatur dan memberantas novel-novel ini. Bisa mati meranggas aku jika mereka mulai melirik area ini.

Seolah terlatih, tanganku mengambil beberapa novel, membaca sinopsisnya, lalu memutuskan untuk membelinya atau tidak dalam kurun waktu kurang dari satu menit. Ketika kantong belanja sudah terasa berat, aku baru beralih ke rak majalah, menyambar Cosmopolitan edisi terbaru dan segera melenggang ke kasir.

“Selamat siang. Hanya ini belanjaannya?” sapa kasir yang ku taksir baru lulus SMA itu.

Aku mengangguk. Dengan cekatan si Kasir mengeluarkan belanjaanku dan –tanpa terduga- menahan senyum sambil sesekali melirikku. Dilihatnya semua novel pilihanku dan aku berkali-kali.

“Single, right?”

Lancang juga anak ingusan ini. Pasti dia belum pernah merasakan amarah perempuan lajang ketika disinggung perihal kelajangannya.

“Is it your business?” tanyaku dingin.

Pemuda ingusan itu hanya menahan tawa sembari menghitung total belanjaanku. “Rp 265.000.”

Ku keluarkan kartu kredit dari dalam dompet sambil terus menantang pemuda ingusan itu. Ingin rasanya aku mempraktekkan apa kata Meg Cabot dalam novel-novelnya, menggoda pemuda ingusan ini habis-habisan hingga dia tidak mampu berkutik, lalu mendepaknya dari ranjangku tanpa perasaan iba sama sekali. Namun, ketika pemuda ingusan itu mengembalikan kartu kreditku, aku tersadar bahwa ini Indonesia, tempat di mana apa yang diajarkan Meg Cabot hanya bisa diwujudkan di khayalanmu saja.

“You are what you read,” ujar si kasir itu lagi.

Ku tatap dia sambil menaikkan sebelah alisku. Sebuah senyum miring tersungging di bibirku. Selang sepuluh detik, dengan sedikit dramatisasi, ku turunkan kaca mata hitam yang terparkir di kepalaku hingga menutupi mata, lalu melenggang dengan dagu terangkat –cara ini selalu berhasil membuat orang lain terintimidasi-.

***

Terberkatilah Helen Gurley Brown atas penemuannya yang luar biasa, Cosmopolitan! Dan, terberkati juga seluruh awak Cosmopolitan yang berhasil menghadirkan pria-pria seksi nan matang sekaligus menantang di setiap edisinya. Apakah ada hiburan bagi perempuan lajang selain memelototi tubuh seksi berotot dengan bulu-bulu halus dan telanjang secara gratis dan tidak harus membuatmu mengangkat bokong dari sofa hangatmu? Jawabannya, tentu saja tidak. Dan, adakah yang bisa menahanmu meneteskan air liur ketika memandangi pria-pria itu berpose seksi dan menantang sebanyak delapan halaman lebih? Tentu saja tidak. Jika saja aku tidak ingin disebut maniak, mungkin aku sudah memajang poster pria seksi telanjang dada hadiah dari Cosmopolitan di dinding kamarku.

“Fiuhhh….” aku menarik nafas dalam-dalam dan menutup mata. Siapa bilang hanya pria yang bisa turn on ketika membalik Cosmopolitan? Perempuan juga.

Capek dengan kelebatan fantasi akibat membaca majalah, aku melempar majalah tersebut ke lantai dan mengambil kantong belanjaan. Secara acak, ku keluarkan sebuah novel dari dalam kantong tersebut. “Oke, mari kita lihat apa yang bisa diberikan Nora Roberts untukku.”

***

Amanda diam di tempatnya. Dia tahu, tidak seharusnya dia berada di sini, di kamar ini. Namun, kakinya tidak bisa di ajak kompromi. Dia seolah terpaku, tidak bisa berbuat apa-apa.

“Amanda. Honey.”

Suara serak Nicholas menyeruak memasuki ruang pendengarannya. Pria itu berdiri tidak jauh dari tempanya terpaku. Nicholas masih tampak sama seperti sepuluh tahun lalu, masih berbahaya di balik aura seksi yang dipancarkannya. Namun, Amanda berusaha memasukkan fakta menyakitkan ke ingatannya, bahwa Nicholas sudah tidak sendiri lagi. Ada Deborah yang dikenal semua orang sebagai istrinya.

Amanda melihat Nicholas bergerak mendekatinya. Hanya dalam satu kali sentakan, tubuhnya sudah berpindah tempat ke dalam pelukan pria itu. Aroma aftershave yang sangat jantan menggelitik penciumannya. Dagu Nicholas yang kasar akibat bercukur bergerak maju mundur di lehernya. Sesekali bibir tipis Nicholas mendarat di kulitnya, memberikan sensasi luar biasa, dan membuatnya kian sulit untuk melepaskan diri dari pelukan Nicholas.

“Sial,” gerutuku. Ku lempar novel itu ke lantai. Terkutuklah Nora Roberts dengan segala romansa yang diciptakannya.

Seharusnya aku tahu, membaca novel atau menonton film romantis hanya akan membuatku sadar akan kesepianku. Kapan terakhir kali aku merasakan kejang akibat sentuhan pria. It’s long time ago. Dan selama bertahun-tahun aku terus menunggu dan menunggu datangnya pria ke hadapanku. Berlutut lutut di hadapanku. Mengatakan bahwa dia mencintaiku dan tergeletak tak berdaya jika aku tak ada di sisinya. Aku selalu berkhayal pria-pria Cosmopolitan itu tiba-tiba berlompatan keluar dari halaman majalah dan mewujud nyata di hadapanku. Menunggingkan sebaris senyum nakal. Menatapku dengan tatapan menggoda. Merayuku untuk segera takluk dalam pelukannya.

Bukan sekali dua kali juga aku membayangkan Mark –rekan kerjaku yang separo Inggris itu- muncul di pintu apartemenku. Lalu, dengan leluasanya Mark menguasai tubuhku, dan aku akan menggelinjang bahagia dalam pelukannya. Aku juga tidak menolak jika ternyata yang hadir adalah Samuel, personal trainer-ku. Bukankah pria itu juga sering mampir dalam fantasiku? Pikiran dia yang membopongku ke kamar di tengah sesi treadmill sungguh menggoda, dan aku hanya bisa gigit bibir ketika pikiran itu menghinggapi pikiranku saat Samuel dengan seriusnya melatih otot-ototku. Atau mungkin Christian, atasanku. Meski wajah Batak-nya terlihat tegas, posisinya yang mapan seolah mampu membuat perempuan manapun rela memelerotkan celana mereka.

“Uhmmm…” Aku bergerak gelisah dalam usahaku untuk tidur.

Bagaimana jika Christian memelukku di tengah presentasiku? Bibirnya yang tipis itu bermain di leherku, membuyarkan konsentrasiku. Ruangan meeting yang sunyi tentu sempurna untuk permainan kami. Perasaan takut tertangkap basah tentu semakin memacu adrenalin kami. Lalu, akhirnya aku hanya bisa mengerang puas di pelukannya.

Bagaimana jika aku benar-benar mempraktekkan perkataan Meg Cabot dan merayu pemuda ingusan di toko buku tadi? Aku ingin tahu seperti apa rasanya pemuda tanggung itu. Mungkin aku harus mengajarkannya terlebih dahulu. No problem. Bermain perlahan-lahan sepertinya juga menjanjikan klimaks yang luar biasa.

Shit,” umpatku kesal. Mengapa pikiran-pikiran ini selalu merongrongku? Aku benci jika otakku mulai mengeluarkan racun seperti ini. Tapi…

Thomas yang duda itu masih terlihat seksi di mataku. Berkali-kali meeting dengannya hanya diakhiri dengan ciuman di pipi. Tentu sangat menggoda jika dia menyeretku ke mobil mewahnya dan mencumbuku disana.

“Stop it, Eva!” Ku peringatkan diriku sendiri.

Pria-pria itu hanya ada dalam imajinasimu. Sejak dulu selalu begitu. Itu sebabnya kau berakhir seperti ini, sendiri dalam kesepianmu dan khayalanmu. Eva kecil dengan sayap mungil di punggungnya berdiri galak di hadapanku, menyuruhku berhenti berpikir yang tidak-tidak.

Teruskan sayang. Tidak ada salahnya kau berpikiran tentang mereka. Mereka diciptakan untuk memuaskanmu. Bayangkan otot bisep Fabio yang menarik, rahang tegas Christian, senyum memikat Thomas, atau mulut kurang ajar pemuda ingusan di toko buku itu. Pemuda itu pasti tidak bisa berkata apa-apa jika kau membungkamnya dengan ciumanmu. Eva kecil dengan trisula di tangan kirinya berdiri menyeringai di hadapanku.

“Together under a blanket, hugging and kissing, and rainy outside. And don’t forget, Clayderman in a stereo,” gumamku resah dengan bayang-bayang Fabio, model yang baru saja ku lihat di Comsopolitan, bermain di pelupuk mataku yang tertutup.

Aku tersenyum puas.

***

“Eva sayang, ayo bangun.”

Aku menggeliat manja. Berat rasanya untuk bangkit dari atas kasur yang nyaman ini. Bahkan untuk sekedar membuka matapun aku enggan.

“Sayang, nanti kamu telat lho!” Sebuah suara serak menggelitik kupingku, membuatku semakin malas untuk beranjak.

“Eva…”

“KRINGGGGGGGGGGGG!!!”
Lengkingan tidak manusiawi dari jam weker di samping tempat tidur membuatku terlonjak kaget. Ku tatap sekeliling, mencari-cari si pemilik suara seksi yang membangunkanku tadi. Tidak ada siapa-siapa. Bahkan, tanda-tanda kehadiran orang lain pun tidak ada.

Aku menguap dan langsung tersadar bahwa si pemilik suara seksi hanya ada dalam khayalanku saja. Aku tertawa sumbang dan melirik jam. Pukul enam tepat.

Sambil terus menguap aku menyeret langkah ke kamar mandi. “Busy Monday, come to mama,” ujarku. Tepat di depan pintu kamar mandi, aku berhenti, menggeleng-gelengkan kepala seraya mengusir bayangan seorang pria seksi tengah menungguku di bawah guyuran shower.


NB: Cerita ini terlintas ketika saya tengah ngopi-ngopi bersama teman say Ridha. Seperti biasa, saya meracau tentang semua khayalan saya. Lalu, tanpa basa basi, Ridha berkata "Kak, kalau lo terus-terusan kayak gini, you'll end up alone." Dan pikiran mengerikan -seperti yang tertuang di cerpen ini- membuat saya bergidik. Starbucks pun seolah berubah menjadi mushalla dan membuat saya berdoa "Jangan sampai... Jangan sampai..."

love, iif

Comments

Popular Posts