Ruby's Wishes part 2

Hari kedua

“Aku ingin menggapai bintang.”

“Kita bisa mundur. Belum terlalu jauh dari pos keberangkatan,” ujarku. Nada khawatir tedengar jelas di balik ucapanku. Tangan kananku sibuk memijit pundak Ruby sedangkan tangan kiriku memegang botol minuman yang tinggal setengah. Ruby berdiri bersandar di pohon, berusaha keras mengatur nafasnya. Pipinya memerah meski hanya sedikit cahaya mentari yang berhasil menerobos lilitan dedaunan yang memayungi kami.

Ruby. Entah apa yang menggayuti pikirannya sampai-sampai dia mengucap permintaan konyol lagi. Dia tidak mempedulikan kemarahan orang tuanya ketika tahu dia berada di boncenganku kemaren. Alih-alih dia memintaku untuk membawanya mendaki gunung.

Mendaki gunung? Jelas aja aku menolak mentah-mentah keinginannya itu, tapi Ruby bersikeras. Aku belum mengemukakan persetujuan, tapi pagi-pagi sekali dia sudah berdiri di depan pintu rumahku, lengkap dengan perlengkapan mendaki gunung. Setelah kuamati, semua perlengkapan itu milik Safir.

“Aku masih kuat, Adrian,” bantahnya.

“Perjalanan kita masih jauh.”

“Aku sudah menyiapkan segalanya, Adrian. Kamu tidak usah khawatir.”

Ruby menepis tanganku yang memeganginya dan berusaha berdiri tegak di atas kakinya sendiri. “Aku janji tidak akan memaksakan diri. Begitu aku merasa tidak kuat lagi, aku akan memberitahumu dan kita bisa beristirahat,” ujar Ruby meyakinkanku. “Sekarang ayo kita lanjutkan perjalanan.”

Aku mengambil backpack yang ku sandarkan di batang pohon dan memanggulnya. Backpack itu tidak terlalu besar karena aku dan Ruby memutuskan untuk tidak berlama-lama di puncak gunung ini. Masih terbayang olehku raut khawatir berbaur marah di wajah orang tua Ruby ketika mereka melepasku membawa Ruby mendaki gunung. Orang tua manapun pasti tidak akan merelakan putrinya yang sakit-sakitan mendaki gunung , terlebih bersama pria yang mereka anggap sebagai pembunuh anaknya.

Berjalan bersama Ruby jelas menguji kesabaranku. Keadaannya tidak memungkinkannya untuk berjalan cepat-cepat, terlebih di jalan mendaki seperti ini. Aku meyibak dedaunan dan rumput-rumput liar agar langkah Ruby tidak terhalangi.Jika biasanya aku bisa mencapai puncak dalam hitungan tiga jam saja, maka bersama Ruby aku harus menempuh waktu hampir dua kali lipat. Berkali-kali aku memaksa Ruby untuk beristirahat. Aku sedikit memaksa karena Ruby menunjukkan keengganannya. Tidak apa aku meladeni gerutuannya daripada harus berlari turun sembari menggendongnya yang kolaps di tengah hutan.

I’ve told you, Adrian. Aku bisa kan?” Ruby menjerit antusias ketika hanya berjarak beberapa meter di hadapan kami, puncak gunung terlihat dengan jelas.

Dengan antusias Ruby melepaskan diri dari peganganku dan berlari menuju puncak. Dia seperti anak kecil yang pertama kali dibawa ke taman hiburan penuh pemainan. Aku membiarkannya. Dalam hati aku tertawa puas menikmati keberhasilan ini. Sekali lagi Ruby membuktikan bahwa dia tidaklah selemah yang ku kira. Dia berhasil mengalahkan keraguanku dan keraguan yang dimiliki semua orang. Ruby berhasil membuktikan dirinya.

Aku melemparkan backpack ke atas tanah dan duduk melorot bersandar di batang pohon. Tidak jauh dihadapanku, Ruby tengah berputar-putar gembira. Rambutnya dibiarkan tergerai dan angin gunung menerbangkannya. Dia juga telah melepaskan jaketnya sehingga tubuhnya hanya diselubungi kaos tipis dan syal wol hasil rajutannya sendiri. Ruby berteriak-teriak gembira sambil sesekali menyenandungkan lagu yang tidak ku kenal.

“Aduh.”

Refleks aku langsung berdiri begitu melihat Ruby terjatuh. Jantungku berdegup kencang. Dalam hati aku berdoa semoga tidak ada masalah serius menungguku.

“Kamu kenapa?” tanyaku. Ku raih tubuh Ruby dan perlahan-lahan mengangkatnya.

Di tengah kepanikanku, Ruby malah tertawa. “Tidak perlu cemas seperti itu, Adrian.”

“Jangan main-main Ruby.”

Ruby menghentikan tawanya dan menatapku serius. “Sepertinya kamu tidak bisa diajak bercanda. Padahal aku ingin sekali melihatmu tertawa.”

Aku menggeleng. “Aku mengkhawatirkanmu.”

“Kamu mengkhawatirkanku karena aku, atau karena orang tuaku?” tanya Ruby, menohok langsung ke jantungku.

“Aku mengkhawatirkanmu.”

Ruby membuang muka. “Kamu mengkhawatirkanku. Semua orang mengkhawatirkanku karena penyakitku. Tidakkah ada seorangpun yang benar-benar mengkhawatirkanku karena aku?”

“Apa maksudmu?”

Ruby melangkah pelan menjauhiku. Dia menuju ke tepi lapangan. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat seisi kota di bawah sana. Melihat Ruby yang membelakangiku, mau tidak mau aku terlempar kembali ke masa lalu. Masa saat Safir masih ada. Tempat Ruby berdiri sekarang tidak lain adalah posisi favorit Safir. Disana ruang pandang begitu luas, tanpa satupun penghalang. Dulu, aku dan Safir sering melarikan diri dari kebisingan kota ke tempat ini. Keheningan suasana gunung membius kami, membuat kami betah berlama-lama berdiam di sini. Di gunung inilah aku dan Safir melebur jadi satu, dalam cinta tulus yang kami pupuk. Di sinilah pertama kalinya aku merasa hidup saat melihat Safir yang tertidur di sebelahku. Raut wajahnya yang tenang menawarkan tempat senyaman rumah. Dan aku makin jatuh cinta kepadanya.

Aku menggeleng. Kenangan itu kian menusuk jantungku dan semakin memperbesar rasa bersalah yang ku miliki. Beribu pengandaian melintas di pikiranku, dan semuanya berujung ke penyesalan. Sungguh aku masih menginginkan Safir. Kenangan ini terlalu menyakitkan untuk ku lewati seorang diri. Terlalu menyesakkan hanya bisa melihat Safir dalam sekelebat bayangan.

“Adrian.”

Panggilan Ruby menyadarkanku. Sosok Safir menghilang, berganti dengan sosok rapuh milik Ruby. Dia melambai menyuruhku mendekat ke arahnya.

Perlahan aku melangkahkan kaki mendekati Ruby. Aku berdiri di sampingnya, menatap jauh ke keramaian kota di bawah kaki kami.

“Bayangkan kita membangun keluarga di tempat sehening ini, Adrian.”

Sekelebat suara Safir terdengar dari kejauhan. Aku tahu, itu hanya bayanganku saja.

“Aku mencintaimu, Adrian. Itulah mengapa aku tidak perlu berpikir dua kali untuk menyerahkan diriku di pelukanmu.”

Sekilas senyuman Safir terhampar di angkasa. Tertuju untukku.

“Maukah kau berbagi petualanganmu denganku Adrian?”

Safir bergelayut manja di lenganku. Kenangan itu terasa begitu nyata.

“Turunkan aku, Adrian. Kau membuatku takut.”

Suara tawa Safir menggelegar ketika aku mengangkatnya tinggi-tinggi di tengah lapangan kecil ini. Tawa yang sekarang hanya berupa gendering pilu di pendengaranku.

“You’re so delicious, young man.”

Komentar nakal Safir saat dia menciumku di tengah lelap tidurku.

“Edelweis akan segera kehilangan keabadiannya sesaat setelah kita mengikat janji sehidup semati, Adrian.”

Tatapan penuh cinta Safir semakin menggelora ketika dia menggenggam edelweiss yang sengaja ku ambilkan untuknya.

“Terima kasih telah mencintaiku, Adrian.”

Hangat tubuh Safir di pelukanku berubah menjadi kedinginan tanpa akhir di hatiku.

“Adrian.”

Aku tersentak. Ku lihat Ruby tengah menatapku tajam. Apakah dia tahu gejolak yang berkecamuk di dadaku? Tahukah dia bahwa sekarang aku justru tengah memikirkan kakaknya?

Ruby meraih jemariku dan menggenggamnya erat. Dia tersenyum menenangkan. Di belainya pipi dan mataku yang terasa berat akibat menampung air mata. Aku memejamkan mata. Sebuah pilihan yang salah. Bendungan yang sedari tadi ku tahan-tahan akhirnya lebur sudah.

Aku menangis.

Kelembutan jemari Ruby ketika menghapus air mataku mampu menyulut api yang membara di dadaku. “Kenapa Ruby? Kenapa kamu mengajakku ke tempat ini?” ujarku di sela-sela isak tangis.

Ruby tidak menjawab. Dia semakin gencar menghapus air mataku.

“Tahukah kamu betapa beratnya aku mengabulkan keinginanmu?” cecarku.

Ruby memegang pipiku dengan kedua tangannya.

“Mengapa semua permintaanmu memberatkanku?”

“Buka matamu, Adrian.”

Perlahan-lahan aku membuka mata. Pandanganku mengabur akibat air mata. Sekali lagi Ruby menghapus air mataku. “Maafkan aku. Tapi aku melakukannya demi kamu.”

Ruby memutar kepalaku hingga aku menghadap keramaian kota di bawah sana. “Aku tahu kamu terluka. Tapi lihat di bawah sana. Kamu lihat kan kehidupan yang terhampar di bawah kaki kita?”

Aku terdiam.

“Hidupmu juga harus terus berjalan. Hidupmu tidak akan berhenti hanya karena satu luka. Dengan memupuk luka dan menenggalamkan dirimu di dalamnya, itu berarti kamu menyerahkan dirimu ke pelukan luka yang lain.”

Ruby menatapku tajam. “Aku tidak pernah tahu hidup itu seperti apa. Semenjak hari pertama aku bisa berpikir, aku sudah dihadapkan pada kenyataan bahwa kematian bisa saja menjemputku kapanpun dia mau. Aku dipaksa untuk mempersiapkan diri menyambut kematian. Meski aku tahu tidak banyak yang bisa aku lakukan, aku memutuskan untuk menikmati setiap hela nafas yang ku punya.”

“Kehidupanku tidak berhenti hanya karena dokter memvonisku dengan penyakit ini,” tegas Ruby. “Begitupun dengan hidupmu. Kematian Safir bukanlah akhir dari segalanya.”

“Aku merasa sudah mencapai akhir.”

“Jagoanku bukanlah pria lemah seperti yang ada di hadapanku sekarang.”

Ucapan Ruby seolah menamparku. Aku lemah? Benarkah? Entahlah, tapi hati kecilku mengiyakan semua tuduhan Ruby.

“Aku mengajakmu ke sini bukan untuk menyiksamu dengan kenangan, melainkan untuk mengembalikan jagoanku seperti sedia kala.”

“Mungkin jagoanmu itu sudah tidak ada lagi,” bantahku.

“Jagoanku masih ada. Adrian-ku masih ada.”

Ruby meraih daguku dan memaksaku menatap lurus ke kedalaman matanya. Ada ketengan di sana. Entah dirasuki pikiran apa, aku meraup tubuh Ruby ke dalam pelukanku. Aku hanya ingin merasakan ketenangan seperti ketenangan yang ku lihat di mata Ruby.

Di luar dugaanku, Ruby membalas pelukanku. “Aku yakin, cepat atau lambat jagoanku akan kembali. Adrian-ku akan kembali.”

Aku menghela nafas berat. Semoga saja keinginan Ruby bisa menjadi kenyataan. Saat ini, aku hanya butuh ketenangan.

“Adrian, kamu tidak lupa kan? Kamu masih berhutang satu permintaan lagi.”

Untuk pertama kalinya di hari itu aku bisa tertawa.

Terima kasih, Ruby.


Comments

Popular Posts