Rahasia Illahi

Sungguh segala sesuatu yang terjadi telah diatur oleh-Nya. Sungguh rejeki, jodoh dan kematian adalah rahasia terbesar yang telah ditetapkan-Nya. Kita tidak pernah tahu bagaimana dan kapan akan mengalaminya.
Semuanya serba tiba-tiba.

Mengenai kematian, selimut duka tengah melingkupi keluarga besar komunikasi UI 2007. Jumat (25 Maret 2011) siang mendadak ada kabar kalau abah, ayahnya Nyanya (Aghnia)- meninggal dunia. Sehari kemudian, tepatnya Sabtu (26 Maret 2011), momoh -ketua angkatan, Ilham- mengirim pesan kalau abi, ayahnya Naimah, meninggal dunia karena serangan jantung.
Berita ini membawa ingatan saya ke kurun waktu sekitar empat tahun lalu, semester satu -jika ingatan saya tidak salah- perkuliahan. Tepat kala itu bulan puasa, H- beberapa hari menjelang lebaran. Tidak sampai berjarak sehari, ayahnya Lucky dan Angki meninggal. Jujur, kabar duka dua hari belakangan ini semacam flashback ke masa-masa kita -angkatan 2007- baru bertemu. Bedanya, kabar duka ini kita terima saat kita -angkatan 2007- telah berpisah-pisah karena sebagian sudah lulus.

Duka di awal dan akhir kegiatan perkuliahan.

Berita ini semakin menjadi pertanda bahwa rahasia-Nya teramatlah besar dan kita -manusia- hanya makhluk kecil yang sedikitpun tidak bisa menerka kapan akan mengalami rencana tersebut.

Berita ini juga membawa saya terbang jauh beribu-ribu kilometer ke arah barat, melewati lautan dan daratan berliku hingga akhirnya saya sampai di suatu kota kecil bernama Bukittinggi. Disanalah orangtua saya berada. Berdua saja sementara kedua anaknya berada di sini, Jakarta. Jarak yang jauh, tapi tidak demikian halnya dengan jarak antara saya dan Tuhan. Begitu saya bersujud dan menengadah menghadap-Nya, saat itu juga Dia mendengar apa yang saya pinta. Adapun permintaan saya sederhana saja: Tolong jaga mama dan papa. Saya yakin tangan-Nya mampu menjangkau mereka sementara tangan saya terlalu pendek untuk memeluk mereka. Mata-Nya akan selalu awas terhadap pergerakan mama dan papa, sekecil apapun sementara mata saya tak mampu melintasi jarak sejauh itu. Hanya doa dan pengharapan. Semoga mereka masih memiliki cukup banyak waktu. Karena sejujurnya, saya hanya ingin mengukir senyum di wajah tua dan keriput itu. Senyum bangga akan keberhasilan saya. Senyum bangga akan buah didikan mereka selama ini. Senyum syukur atas keberhasilan mereka memapah saya selama ini. Dan, semoga masih ada cukup waktu bagi saya untuk membalas semua yang telah mereka berikan, meski saya tahu tak kan pernah ada kata cukup untuk membalas semua jasa mereka.

Mereka, orangtua terhebat di dunia. Meski jauh, sedikitpun tak pernah ada keluhan dan kurangnya perhatian mereka. Saya juga ingin berbagi percakapan singkat antara saya dan teman -sebut saja Reny- sore ini.
Lokasi: Kosan saya
Waktu: menjelang maghrib
Suasana: saya baru pulang.
Cici -penjaga kosan-: iif, ada paket tuh.
Iif: Dari siapa Ci?
Cici: Mama, siapa lagi
Reny -teman saya-: iif dikirimin lagi?
iif: iya nih.
Reny: Enak banget. Sebulan bisa dua kali kamu dikirimin sama mama. Kalo aku sih boro-boro. Dua bulan sekali juga udah syukur.

Dan saya hanya bisa tersenyum simpul atas karunia terindah ini.
i love you, mama, papa.

love,

Comments

Popular Posts