Thursday, October 28, 2010

MINANGKABAU

Berawal dari berita yang menyebutkan gempa beserta tsunami di Mentawai, Sumatra Barat. Apa? Gempa lagi?
Sesaat ingatanku melayang ke kejadian tahun lalu. Gempa juga meluluhlantakkan kampung halamanku. Sehari sebelum gempa, saya masih berada di sana, bermain di ngarai sianok, lewat jembatan goyang di ngarai, ke pantai Pariaman, menghabiskan malam di jembatan Siti Nurbaya, merasakan dinginnya air Tabek Barawak yang mengalir di kaki gunung marapi, ke Batusangkar, main-main di Istano Basa pagaruyuang -yang dengan sedihnya hancur terbakar- , merasakan cipratan air Lembah Anai, menjelajah ke dalam Ngalau di Payakumbuh, berendam di pemandian air panas Aia Angek Solok, makan ikan bilih Singkarak dan pensi Maninjau serta berbagai tempat indah lainnya. Namun, sesampainya di Jakarta, saya langsung mendapat kabar kalau Padang diguncang gempa.
Semuanya hancur.
Lalu terdengar tangisan.
Rumah kak ii tempat saya menginap di malam terakhir sebelum balik ke Jakarta hancur karena gempa. Dzaki trauma karena terjebak gempa di dalam Plaza Andalas sampai-sampai hingga hari ini dia selalu ketakutan setiap kali melihat PA (kasihan anak sekecil itu sudah punya trauma). Teringat tahun terakhir saya di SMA ketika gempa juga mengguncang bumi Minang. Tiga malam saya tidur di tenda di lapangan voli di sebelah warung papa. Dinding sekolahku hancur. Waktu itu, saya merasa begitu ketakutan dan menganggap itulah bencana terparah yang pernah saya rasakan.
Namun gempa 2009 di Padang membantah semuanya. Padang luluh lantak.
Dan tahun lalu, ketika lebaran saya pernah merengek ke mama untuk jalan-jalan ke Pulau Sikuai, sebuah pulau di gugusan kepulauan Mentawai yang telah di sulap menjadi sebuah tempat wisata. Waktu itu mama tidak mengizinkan karena cuaca buruk dan ombak sedang besar sementara jadwal kapal yang menuju pulau itu masih bermasalah. Namun mama berjanji, lebaran tahun depan -artinya tahun ini- jika keadaan memungkinkan, kita akan ke Sikuai. Tapi lagi-lagi batal karena cuaca buruk -sering hujan- dan saat itu lagi ribet-ribetnya nikahan kak Ira sehingga niat ke Sikuai lagi-lagi batal.
And then, sekarang saya mendapat kabar terjadi gempa dan tsunami di mentawai, tepatnya di Pulau Pagai. Meski Mentawai dan Sikuai itu jauh tapi mereka sama-sama sebuah pulau dan sampai kapanpun, izin ke Sikuai tidak akan pernah turun.
Ya Tuhan, haruskah keluargaku kembali menangis?
Minang Kabau Manangih
Vokal: Zalmon
Cipta: Taswin Zoebir

Mangko isak juo, sabak juo
Bathin ranyuah juo, leno juo
Di siko rang Minangkabau
hatinyo tapanggang
Puncak nan bagonjong tapanggang
Puncak nan bagonjong istano rajo
Bumi tampek bapijak raso baguncang
Badan barabuik leno jo bayang-bayang
Alun lai abih tangih di mato
Gampo manimpo oi mamak
Urang nan pusako apo sababnyo
Bulan turunkan juo
Cahayo ka bumi cewang
Halaulah baa angin limbubu
Kok pandai lapiak sumbahyang ko
manjadi saksi bagumam pinto
bagumam pinto yo ka nan Satu
Leno sansai juo, lenyai juo
Bilo ka jauahnyo panangguangan
Ya Allah Rabbul Izati
Ampunkan doso kabakeh si urang
Minangkabau pintak nan jo pinto
Bulan turunkan juo
cahayo ka bumi cewng
halaulah baa angin limbubu
kok pandai lapiak sumbahyang ko
manjadi saksi bagumam pinto
bagumam pinto yo ka nan Satu
http://www.youtube.com/watch?v=ieFVbQwYxI8&feature=related

Lagu Zalmon di atas mungkin tepat untuk menggambarkan keadaan bumi Minang. Manangih? Gampo, tusnami, gunuang malatuih, istano Pagaruyuang tabaka, what else?
Dan di sini saya dan urang perantauan hanya bisa tersenyum miris mendengar panggilan dari ranah minang.
Dangalah Minang Maimbau
vokal: Watty Yusuf

Dangalah danga mak minang maimbau
Tanyo batanyo
Gunuang singgalang jo gunuang marapi ndeeh mak
Urang rantau antah bilo lah ka pulang mak
Hanguih hati dek rindu nan jo taragak
Hanguih hati dek rindu nan jo taragak
Tinggi yo tinggi sayang
Si buruang tabang si buruang tabang
Lubuak mananti tingga jo hati risau
Kok sampai hilang sayang
Sanak di rantau ndeeh mak
Maratok bumi manyasa alam Minangkabau
Maratok bumi manyasa alam Minangkabau

Tapi, apapun yang terjadi, Minangkabau tetaplah Minangkabau, tanah kelahiranku, tempatku tumbuh dewasa. Tempat yang ku cintai.
Minangkabau

Minangkabau ranah nan den cinto
pusako bundo nan dahulunyo
rumah gadang nan sambilan ruang
rangkian balirik di halamannyo
Bilo den kana hati denai taibo
tabayang-bayang di ruang mato
bilo den kana hati denai taibo
tabayang-bayang di ruang mato
Untuk keluargaku di bumi Minang, keep smiling and be strong because God is always beside you -beside us.
love,

Saturday, October 23, 2010

Peri Cintaku - Perbedaan Kita

Di dalam hati ini hanya satu nama
Yang ada di tulus hati ku ingini
Kesetiaan yang indah takkan tertandingi
Hanyalah dirimu satu peri cintaku
Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Aku untuk kamu, kamu untuk aku
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Haruskah aku lantas pergi meski cinta takkan bisa pergi
Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai
Bukankah cinta anugerah berikan aku kesempatan
Tuk menjaganya sepenuh jiwa
Nggak sengaja dengerin lagu Marcell Siahaan yang berjudul Peri Cintaku. Hmm.. OK OK, saya ngaku kalau saya telat dengerin lagu ini, tapi karena saya adalah seorang oldies freak dimana lebih menyukai lagu lama ketimbang lagu baru maka rasanya sah-sah saja jika pengetahuan tentang lagu baru saya agak menyedihkan #excuse. Begitu dengerin lagu ini, kesan pertama, hm... biasa saja. Ya, tipikalnya lagu Marcell yang lirih dan menyayat-nyayat. But, ketika telinga saya menangkap sebaris liriknya, saya langsung tersentak. Lirik tersebut yaitu:
Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda
Tuhan memang satu, kita yang tak sama
Mendengar lirik itu, ingatan saya langsung melayang ke seseorang. Yup, Steve. Kenapa Steve??
Entahlah...

Kemudian saya berpikir....
Jika -once more, ini hanya sekedar pengandaian- saya ternyata diizinkan untuk bersama Steve, apa yang akan terjadi? Perbedaan itu terlalu besar. Meskipun banyak yang bilang, perbedaan justru akan memperkuat dan memperkaya sebuah hubungan, saya sangsi kalimat itu ampuh jika diterapkan dalam kasus saya dan Steve. Karena perbedaan itu bukan hanya satu dua, tapi banyak.
Pertama, berangkat dari lirik lagu di atas, "Namun semua apa mungkin iman kita yang berbeda". Perbedaan agama jelas bukan suatu permasalahan yang bisa di anggap enteng. Saya jadi ingat salah satu postingannya Laire Siwi yang berjudul "It's not a trivial thing" (baca di sini http://lairesiwi.wordpress.com/2010/07/21/its-not-a-trivial-thing/). Well, cinta dan kepercayaan seringkali berbenturan. Di satu sisi, kita sudah memegang kepercayaan itu sejak lama tapi di sisi lain, kita juga tidak bisa mengelak ketika dijatuhi cinta. Lalu, mengapa cinta dan kepercayaan tidak bisa seiring sejalan???
Saya sering bertanya-tanya: Lebih baik mana, menikah dengan orang yang tidak kamu cintai tetapi segama atau menikah dengan orang yang kamu cintai tapi berbeda agama??
Pertanyaan yang susah, tapi bukankah setiap agama mengajarkan hal yang sama? Bahwa setiap manusia harus saling mencintai? Lalu, kenapa ketika sudah saling mencintai malah harus terbentur masalah karena perbedaan kepercayaan? Tuhan memang satu, lalu mengapa harus mengotak-ngotakkan agama? Kan kasihan mereka yang tidak bisa bersatu hanya karena perbedaan agama padahal mereka saling cinta. *refers to lirik lagu Marcell.
Balik lagi ke kasus saya dan Steve. Saya dan Steve hanya berupa pengandaian. Saya memang pernah jatuh cinta kepadanya, tapi itu dulu, sebelum saya menyadari betapa banyaknya perbedaan di antara kita dan kemungkinan untuk bisa memiliki dia sangatlah tipis. Terlepas dari perbedaan agama yang sangat mencolok, kepribadian, keseharian dan pemikiran kita pun ibarat kutub positif dan kutub negatif.
Seperti kepribadian. Dia adalah tipe orang yang let it flow tapi mengambil banyak kesibukan. Akhirnya malah kelabakan dan seringkali skip. Dia suka sibuk. Lalu saya? Saya memang suka sibuk tapi setiap kesibukan yang saya ambil pasti berdasarkan pemikiran matang, apa untungnya kesibukan ini demi masa depan saya? Saya bukan tipe orang yang let it flow, punya keinginan jelas dan tanpa disadari, well, sedikit ambisius. Apakah mungkin orang yang rela melakukan apa saja demi memenuhi keinginannya dengan orang yang santai dan membiarkan semuanya berjalan seiring waktu akan bisa bersama? Dia pernah bilang bahwa "waktu 24 jam itu panjang dan bisa digunakan untuk menyelesaikan banyak hal" sementara saya berpikir "waktu 24 jam seringkali terasa kurang jika dihabiskan untuk menyelesaikan pekerjaan".
Contoh lain, seseorang yang menyenangi politik dan diskusi tentang isu sosial serta memenuhi pikiran tentang 'keadaan Negeri ini' jika di ajak ke runway Adesagi Kirana atau launching butik baru Danjyo Hiyoji atau launching koleksi fall/winter KLE, apa yang akan terjadi? Dia pasti akan merasa tersesat. Nah, bagaimana jika sebaliknya? Seseorang yang lebih tertarik dengan perkembangan gosip artis Hollywood dan excited dengan desain terbaru seorang desainer atau lebih memilih nonton pagelaran busana daripada ngerjain tugas kuliah, lika di ajak ke diskusi partai politik atau membahas keadaan negeri ini yang makin hari makin parah atau mungkin ikut demo?? Bisa dipastikan dia akan merasa nyasar ke planet lain. So, apakah mereka bisa dipersatukan? Saya pribadi lebih memilih jalan ngalor ngidul di mall daripada turun ke jalan memprotes pemerintah. Hei, nggak ada gunanya buat saya. Sebut saya apatis, it's OK tapi bagi saya apapun itu yang dikerjakan pemerintah, itu urusan mereka. Daripada mengurusi mereka lebih baik saya window shopping di Level 1. Sementara dia? Rela aja melepaskan pekerjaan karena sibuk menyelesaikan skripsi (ini masih bisa ditolerir) dan mengurusi organisasi politiknya itu. Oh my gosh. Sebut saya materialsitik, saya bisa terima, karena bagi saya money is everything (orang yang bilang uang tidak bisa membeli segalanya pasti tidak tahu tempat shopping yang OK, menurut saya). Sementara dia sibuk berkutat dengan koran dan isu politik, saya memilih untuk memelototi fashion spread di majalah-majalah. Well, Grazia, Cosmopolitan, Harper's Bazaar, ELLE dan teman-temannya jauh lebih menarik dari pada Kompas, Tempo, atau Gatra.
Lalu masalah pasangan. Dia menghendaki pasangan yang agak sedikit manja dan bisa mendukung dia. Manja, okelah bisa di tolerir. Mendukung dia? Bisalah. Tapi, apa hanya itu arti pasangan? Bagi saya, pasangan adalah orang yang bisa menunjang gengsimu, bisa dengan mudahnya diterima oleh lingkunganmu dan balik mendukungmu. Tapi jika kepribadian kita sudah sangat berbeda, apakah dukungan bisa diberikan? I don't know.

Well, saya mengaku bahwa ini hanyalah kelabilan saya saja. Balik lagi ke lagunya Marcell. Untuk saat ini saya sudah tidak mengharapkan Steve lagi (sesekali mungkin masih) dan saya tidak akan dipusingkan lagi dengan perbedaan-perbedaan itu, terlebih perbedaan kepercayaan. Lalu, apa ada yang bisa menjamin saya tidak akan pernah jatuh cinta lagi sama dia yang berbeda agama? Perbedaan pasti ada dan semoga masih bisa ditolerir, tapi kalau menyangkut agama? Itu bukan hanya urusan saya saja, ada keluarga yang ikut mengambil peran di dalamnya. Lalu, jika itu terjadi, apakah saya harus rela melepaskannya meskipun saya mencintainya demi kepercayaan yang telah saya -dan keluarga- pegang sejak dahulu? Atau tetap mempertahankannya meski untuk itu kita harus berjalan dengan dua nakhoda? Karena untuk mengikuti kepercayaannya, itu jelas tidak mungkin. Tetap bertahan dengan perbedaan itu tentu saja akan mendapat pertentangan dari keluarga saya.
Lalu, sekali lagi, apakah ada yang bisa menjamin saya tidak akan jatuh ke tangan dia yang berbeda dengan saya? Tentu saja saya menginginkan yang sama, tapi jalan nasib siapa yang bisa menduga?

Ah, sudahlah. Saya pusing. Saya butuh asupan kafein. Ah, lebih baik saya membaca majalah saja *bergerak ambil ELLE UK October issue cover Kate Hudson yang demi TUHAN SEMESTA ALAM, keren banget booo....* (Jika saat ini saya bersama Steve, dia pasti akan bilang: "buat apa sih kamu ngabisisn duit 200ribu cuma untuk majalah doang? Di luar sana banyak lho orang yang kesusahan mencari duit 200ribu untuk makan selama beberapa hari." Benar juga sih kata dia, tapi please, tolong hargai passion saya dong. Bagi dia 200ribu untuk sebuah majalah mungkin kelewatan tapi bagi saya? Sama sekali nggak.)

love,

Tuesday, October 19, 2010

Mas Nino dan Kelabilan Awal 20-an

*Boleh kan kalau saya sekali-kali melabil di blog ini?*
Whateverlah ya... haha
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Cerita bermula dari tugas Seminar Masalah-Masalah Komunikasi. Secara saya adalah manusia malam maka ketika sedang berselancar di dunia maya di tengah malam, saya menemukan ide menarik untuk makalah seminar tersebut. Idenya adalah...
"Komodifikasi Perempuan Dalam Majalah Gaya Hidup Pria (Studi Kasus Esquire dan Da Man)"
Ketika di kelas, kita di suruh bikin kelompok dan saya bersama @Ema_FitriaR dan @seeta_lescha memproklamirkan diri tergabung dalam satu kelompok. Kita lalu di minta mengumpulkan tiga ide. Ide yang diajukan waktu itu adalah "Komodifikasi Perempuan Dalam Majalah gaya Hidup Pria", "Fashion Journalism: Antara idealisme dan Kepentingan Ekonomi Media" dan "Standardisasi Majalah Franchise di Indonesia: studi kasus majalah Female Indonesia". Akhirnya yang terpilih adalah Komodifikasi Perempuan tersebut.
Singkat cerita jadilah kami bertiga memulai pembuatan makalah. Dalam perjalanannya, setelah meneliti beberapa majalah gaya hidup pria terjadi perubahan majalah yang di angkat. Esquire dan Da Man di skip dan sebagai gantinya adalah Men's Health Indonesia dan Cosmopolitan Men Indonesia. Oleh karena tidak bisa mendapat waktu wawancara dengan Fira Basuki (pemred Cosmo Men) akhirnya hanya di pakai satu majalah yaitu Men's Health Indonesia.
Well, wawancara MHI ini nggak penting-penting amat ya diceritain. Masalahnya adalah, gara-gara tugas ini saya jadi labil. Seperti yang sudah di bilang di postingan beberapa hari yang lalu, saya kesel karena waktu ke Men's health nggak jadi ketemu Mas Nino padahal rencana awalnya kan wawancara dia tapi malah ganti Mas Gilang karena mas Nino ke rumah sakit. Sebenarnya pas di lihat di majalahnya (bagian catatan redaksi) si Mas Nino kelihatan ganteng gitu meski sepertinya sudah om-om (perkiraan sih 35-40 tahun gitu) tapi kok jadi gregetan ya??
Heran deh. Waktu suka sama Steve kok ya biasa aja, nggak sampe gregetan parah kayak gini, otaknya juga masih tetap di tempat, belum melayang kemana-mana. Tapi, sama mas Nino kok kayak gini? Senyum-senyum sendiri, geli sendiri, ngebayangin yang nggak-nggak *hayo lo mikir apa, hah*. Intinya jadi labil parah. Abis, siapa suruh punya muka dan body yang oke banget kayak gitu...???
Setelah sukses ngerampok foto-foto dia di facebook fanpage Men's Health, kelabilannya malah makin menjadi-jadi, haha.
*kualat gara-gara ngetawain @Ema_FitriaR yang suka sama Uno-Uno yang notabene udah om-om juga, hehe..
Penasaran?? Nih, beberapa fotonya...

Foto waktu nonton bareng Darah Garuda Femina Group. Sial, gue ada di sana, ikutan nonton bareng juga (menang kuis U FM) tapi karena waktu itu belum ada apa-apa sama mas ini jadinya ya biasa aja, nggak nyariin dia. Coba nontonnya sekarang, di jamin langsung ngajak foto bareng *sambil meluk, xixi*

Hobinya olahraga ya mas?? Ya iyalah, sesuai gitu deh sama majalah yang di pimpinnya..

Di Red Carpet kok sendirian sih mas?? Coba ya gue sekarang udah jadi pemred, kan bisa nemenin... *lol*

*Slurp...

*uwoooo...

Pemred yang humble sampe-sampe turun tangan langsung nyiapin acaranya. Kayak gitu tuh pemred yang seharusnya. Bisanya nggak cuma merintah-merintah, marah-marah dan intimidasi anak buahnya (kok jadi kayak nyindir Adeline ya???)

Well, intinya si mas-mas ini udah menuhin kriteria 5M cowok idaman deh: Matang (banget, kalau di lihat dari umurnya), Menawan (pastilah, liat aja tampangnya. Buat ukuran Bapak-bapak sih dia menawan banget), Mapan (Pastilah. Pemimpin Redaksi majalah pria nomor satu di Indonesia bisa kebayang kan gajinya berapa??), Mahir (ini memang masih butuh pembuktian tapi kalau di lihat dia kerja di mana dan isi majalahnya seperti apa kayaknya bisa ditebak deh kemahirannya, hehe) dan mas-mas (M kelima ini tambahan terakhir dan tentatif, hehe).
Tapi ya setelah di pikir-pikir, ini cuma kelabilan aja kok. Kenapa saya menyukai mas Nino ya paling karena dia seorang pemimpin redaksi. Sekali lagi, PEMIMPIN REDAKSI. Tahu kan apa artinya kata itu buat saya? Yup, itu adalah cita-cita terbesar saya, jadi mungkin ya kalau suka sama Pemimpin redaksi bisa kecipratan suksesnya, hehe *ngarep mode: accute.
Kalau ni ya Men's Health bikin acara di FISIP, pastinya saya akan minta ke mas Raymon (orang Humas FISIP) biar saya yang jadi LO-nya. Dijamin, full service spesial buat mas Nino.
Atau kalau mas Nino butuh asisten (asisten untuk urusan apa saja kecuali domestik rumah tangga alias dapur dan memasak *excuse bikinin kopi okelah*) saya pasti akan sangat bersedia. Ya, siapa tahu bisa ketularan suksesnya kan dan ntar bisa jadi pemimpin redaksi juga deh, hehe... Tapi, kalau seandainya itu terjadi dan di saat yang bersamaan Adeline juga butuh asisten bakal milih yang mana ya? Dua-duanya kan tawaran yang menggiurkan. Jadi bingung *dilema*.
Well, mari kita tunggu sampai kapan kelabilan ini akan bertahan? Apakah kalau presentasi Seminar udah kelar, kelabilannya udahan juga? Yeah, we'll see.
Eh eh eh.. tapi masih penasaran nih?? Mas Nino udah merit atau masih lajang ya?? Pertanyaan yang lebih krusial lagi, mas Nino lurus-lurus aja kan?? Ya, secara nemu gitu kan satu forum *** yang ngomongin dia dan dia dijadiin fantasi gitu sama si *** (hiyuuuhhh, geli....)

love,

n.b: tapi kalau dengan kenal sama mas Nino dan kerja buat dia bisa buka jalan buat masuk ke dunia majalah dan dia bisa dijadiin pijakan, knapa nggak???

Saturday, October 16, 2010

Harap

Dia berada di depanku, dekat sekaligus jauh. Aku ingin menyentuhnya tapi jemariku hanya bisa menggapai angin. Dia jelas sekaligus samar di penglihatanku. Aku ingin memanggilnya tapi suaraku hanya berupa bisikan lirih. Dia tak kan mendengar. Dia terjangkau sekaligus tak bisa Rata Penuhdiraih.
Dia berada di depanku, merentangkan tangan mengundangku masuk ke dalam pelukannya. Aku berlari menghampiri tapi tanganku hanya memeluk angin. Tak ada siapa-siapa. Kusadari aku ternyata sendirian. Dia tidak ada.
Aku tergugu. "Ban, kamu dimana?" Suara lirihku menggema di ruang kosong ini.
Gelap. Sendirian. Kesepian.
"Aku butuh kamu. Aku lelah hidup sendiri. Aku ingin memiliki seorang teman yang bisa menemaniku melewati hari. Teman untukku berbagi secangkir kopi di pagi hari, teman untukku melewati kegersangan siang hari, teman untukku menghabiskan malam gelap hingga ku terlelap di pelukanmu. Aku merindukanmu, merindukan kedatanganmu, mengharapkan kedatanganmu."
Hening....




"Aku di sini. Aku di sini, untukmu."
Seberkas suara berat bergema di ruangan kosong ini. Tapi, tak ada tanda-tanda kehadiran siapapun."
"Kamu dimana?"
"Aku di sini, masih mencari jalan ke hatimu."
"Kapan kamu akan datang?"
"Tunggulah aku dengan kesabaranmu. Mintalah kepada-Nya untuk segera membukakan jalan bagiku untuk ke hatimu."
"Berapa lama aku harus menunggu?"
"Aku tidak tahu. Hanya Allah-lah yang tahu karena ini adalah bagian dari rencana-Nya. Bersabarlah."
Sabar? Puluhan tahun telah ku lalui demi menunggu kedatangan seorang teman dalam hidupku tapi hingga saat ini aku belum menemukannya. Akankah hanya dengan kesabaran penantianku akan berhasil?
"Aku sabar. Selalu sabar. Apa dengan kesabaran kamu akan datang?"
"Tentu saja. Bukankah Tuhan selalu bersama umat-Nya yang sabar? Mintalah kepada-Nya dan aku akan datang ke hatimu."
"Aku akan menunggu. Aku akan minta kepada-Nya untuk membuka jalan bagimu ke hatiku. Aku akan sabar."
Jika memang dengan bersabar kamu akan datang, maka aku akan melakukannya.
"Percayalah. Suatu hari nanti, kita akan dipertemukan oleh-Nya, atas izin dari-Nya, jika Dia menghendaki."
"Tentu Ban, tentu aku percaya."



Lagi-lagi hening...
"Ban?" panggilku gamang.
Tak ada jawaban...
"Ban? Bolehkah ku tahu siapa kamu?"
"Aku adalah seseorang yang telah dipersiapkan Tuhan untuk menemanimu hingga di akhir waktumu. Aku adalah teman terbaik yang selama ini kamu tunggu. Aku adalah jawaban dari doa-doamu, buah kesabaranmu. Aku adalah ciptaan Tuhan yang sengaja diciptakan untuk mendampingimu."
"Bolehkah ku kenal dirimu?"
"Nanti, jika saatnya tiba. Menjelang waktu itu, tetaplah berdoa. Saat ini, aku tengah merajah jalan ke hatimu. Tetaplah panjatkan doamu untukku."
"Baiklah."
"Sampai jumpa."
Hening...


-------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku tersentak dengan air mata bercucuran. Ternyata semua hanya mimpi tapi mengapa terasa begitu nyata? Suara itu masih terngiang-ngiang di telingaku.
Aku mendesah. Tuhan, apakah itu pertanda bahwa penantianku akan segera berakhir? Akan sampai kapan aku harus sabar menunggunya? Tidakkah Kau iba melihatku seperti ini? Tertatih-tatih mengharapkan kehadiran seorang pendamping hidup di saat semua orang bisa berasyik masyuk dengan pasangannya. Lalu mengapa sampai saat ini aku masih sendirian?
Tuhan, jika benar mimpi ini adalah pertanda, tolong dekatkan dia padaku.
Aku lelah, Tuhan...
Ya, aku lelah....


love,

n.b: kegalauan seseorang yang sudah masuk 'usia panik' hehe.

Aku Ingin Cinta Dari Seseorang Yang Benar-Benar Diciptakan Untukku dan Datang ke Hadapanku Tanpa Aku Harus Berlari Mengejarnya

Hari Sabtu yang panas dan saya merasa gerah karena batal ikut Word Nation 2010. Ah sudahlah.

Iseng-iseng saya baca Grazia edisi Oktober (say thanks to you dear @seeta_lescha) dan menemukan sebuah artikel berjudul "Cinta Yang Menyembuhkanku". Artikel itu merupakan kisah nyata perjalanan cinta Dinda Nawangwulan dan Alexander Abimanyu. Sebelumnya -kira-kira 2 bulan yang lalu- saya juga membaca cerita ini di Cosmopolitan (iseng baca Cosmo di sela-sela nemenin @gustiayumm wawancara buat keperluan magangnya di Cheese Cake Factory Blok M). Heran saya karena meski sudah tahu cerita mereka seperti apa, saya tetap merasa tersentuh dan tanpa bisa di cegah, air mata saya menetes jatuh. Cinta mereka -menurut saya- adalah perwujudan The Power of Love versi modern.
Singkatnya, Dinda tengah di vonis menderita kanker payudara ketika dia berkenalan dengan Alex. Dinda sama sekali tidak menyangka kalau Alex serius melamarnya. Akhirnya mereka menikah di saat Dinda tengah menjalani pengobatan. Namun siapa sangka, beberapa saat setelah 2nd wedding anniversary mereka, Alex mendapat serangan jantung dan meninggal.
Dinda merasa sendirian. Dia kehilangan harapan hidup. Dia kehilangan pegangan.
Well, kisah Dinda bisa kamu ikuti di www.dindandin.posterous.com (or follow her @dindashimmerinc). Kisah mereka, terlebih upaya Dinda bangkit dari keterpurukan layak untuk di ikuti karena menginspirasi.
Lalu hari ini saya membaca semua tulisan Dinda. Di salah satu tulisan yang terkumpul dalam judul "Love Letter to Husband" dia menyelipkan sebuah puisi milik Bapak BJ Habibi yang diperuntukkan ke istri tercintanya, Ibu Aini yang telah mendahuluinya.
Berikut isi puisi itu:
Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya,
dan kematian adalah sesuatu yang pasti,
dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat,
adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.
Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang.
Pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada,
aku bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira akulah kekasih yang baik bagimu sayang,
tanpa mereka sadari, bahwa kamulah yang menjadikan aku kekasih yang baik.
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan.
Kau dari-Nya dan kembali pada-Nya.
Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang,
cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
selamat jalan,
calon bidadari surgaku...
BJ HABIBIE
Membaca kisah Dinda dan puisi pak Habibie membuat saya menginginkan satu hal: ingin mencintai dan dicintai sedemikian besarnya dan hal itu akan saya lakukan dengan seseorang yang tepat dan benar-benar ditakdirkan Allah SWT untuk saya. Melihat kebahagiaan mereka membuat saya menginginkan hal yang sama, tapi tentunya dengan cara saya sendiri.
Tidak, ini sama sekali bukan kisah percintaan yang biasa saya baca di novel-novel roman favorit saya tapi ini adalah kisah nyata.
Mungkin saat ini saya belum bisa mewujudkan keinginan tersebut. Saya mencoba mengambil hikmahnya. Jangankan untuk mencintai orang lain dengan segitu besarnya, sudahkah saya mencintai diri saya sendiri? Sudahkah saya mengerti apa yang saya inginkan dalam hidup ini? Apakah yang telah saya tebar dalam kehidupan saya dan bermanfaat untuk orang lain? Kebaikan apa saja yang sudah saya tuai? Karena sekarang saya mengerti, sebelum saya meminta untuk di cintai maka saya akan mencintai terlebih dahulu, di mulai dari diri saya sendiri, keluarga, teman-teman dan sekitar saya.
Karena saya teramat yakin, Allah SWT selalu bersama umat-Nya. Ada rencana besar yang sedang dipersiapkan-Nya. Terlebih saya percaya bahwa someday, somewhere, saya akan menemukannya, belahan jiwa saya, yang telah dieprsiapkan-Nya untuk saya. (Teringat quote yang pernah saya buat "Aku ingin dicintai oleh seseorang yang benar-benar diciptakan untukku dan ditakdirkan untukku dan datang ke hadapanku tanpa aku harus berlari mengejarnya.")

Untuk Dinda and your Biw..
Untuk Bapak Habibie dan Ibu Aini..
Terima kasih atas inspirasi yang kalian berikan, meski kalian tidak menyadarinya.

Dan, untuk seseorang di luar sana, dimanapun kamu berada sekarang, aku tidak peduli karena aku percaya kepada rencana besar yang telah di atur oleh-Nya.
Untuk kamu, siapapun orangnya. Ban, aku ada di sini, mennggu kedatanganmu. Datanglah di saat yang telah dikehendaki oleh Allah SWT dan tentunya atas izin dari-Nya serta berjalanlah di jalan yang telah dibuat-Nya.
Aminn..

love,

*seka air mata baca tulisan Dinda*

Friday, October 15, 2010

Random Hari ini: Mas Nino, Cowok Kemeja Biru dan Filosofi Menunggu Jodoh

*Sekali-kali pengen juga posting tentang kegiatan sehari-hari meski ya... enggak penting-penting amat, hehe*

Jadi ceritanya hari ini ada janji dengan editor in chief Men's Health Indonesia, Nino Sujudi untuk kelengkapan makalah seminar. Kenapa sih pake acara wawancara-wawancara segala? Alasannya simpel, biar ada landasan (baca: jika di cecar Edwin atau Mr. Akar Masalah). Jadilah setelah membuat janji dengan mas Nino melalui perantara mbak Retno -sekretaris redaksi- hari ini wawancara dilakukan.
Tapi kondisi badan sedang tidak fit akibat hujan-hujanan kemaren. Ditambah ngantuk sebagai efek obat dan terik matahari yang panas menerjang, saya berjuang menaklukkan jalanan Jakarta (lebay) dan berjanji bertemu @Ema_FitriaR dan @seeta_lescha di halte Kuningan Madya Aini (lho, ini halte kok bawa-bawa nama Teh nini ya?? -abaikan-).
Sebelum wawancara deg-degan parah. Ya wajarlah karena ini bakal wawancara EIC gitu ya bo. Secara saya kan mengidap sebuah penyakit serius bernama EICSyndrome dimana gejalanya adalah deg-degan, gugup dan keringat dingin jika bertemu seorang pemimpin redaksi. Nah siang ini penyakit itu kumat tapi untungnya masih bisa dikendalikan. (Ini baru bertemu mas Nino, gimana kalau ketemu Adeline ya? Jangan-jangan bisa pingsan di tempat atau bengong kayak orang bego selama 5 menit -bengong 5 menit ini pernah terjadi di suatu liputan waktu tanpa sengaja bertemu dia-). Tapi, kata dokter penyakit ini wajar kok di alami seorang calon editor in chief seperti saya.
-OK abaikan-
Lanjut...
Janjiannya sih di gedung Femina, tempat redaksi Men's Health. Tapi, sebelum ke gedung Femina harus lewat gedung Mensa 2 dulu (Gedung Mensa ini bagian dari Femina grup juga). Begitu lewat depan gedung Mensa, e... si @seeta_lescha seperti tersengat listrik. Setelah ditanya....
"Ada kakakku. Itu lagi ngerokok di tangga."
Spontan saya dan Ema melirik ke tangga depan pintu masuk Mensa. 2. Tapi yang ada hanya 3 orang bapak-bapak yang memang lagi ngerokok.
"Nggak ada. Mana?"
"Itu, setelah yang tiga orang itu kan tempat lowong, nah di sebelahnya.." (Ya kira-kira begitulah kata-katanya @seeta_lescha).
Akhirnya kita memutuskan untuk masuk ke halaman gedung Mensa 1 (gedung ini terletak di antara gedung mensa 2 dan gedung Femina). Setelah masuk kita menoleh dong ke arah Mensa 2 dan.... bener aja loh ada si kakakku pake batik lagi ngerokok. Sumpah ya, kalo lagi ngerokok gitu gayanya cowok abisss, hehe.
Ok, misi pertama berhasil. Next: misi kedua, bertemu mas Nino.
EICSyndrome semakin parah. Ditambah fakta kalau di majalah aja si mas Nino yang tampak samping kelihatan ganteng, gimana kalau ngeliat langsung? -abaikan lagi-
Namun, sepertinya nasib baik belum berjodoh dengan kita karena si mas Nino lagi ke dokter dan di gantiin sama mas Gilang. Jadinya ya pertemuan ini murni demi tugas meski sebelum bertemu mas Gilang sempat merasakan flight mode (istilah @Ema_FitriaR) akibat beberapa pria yang lalu lalang di depan kita, haha.
Wawancaranya enggak usah di ceritain meski ada beberapa kalimat mas Gilang yang tidak bisa di tangkap oleh otak 21 tahun kita (baca: lebih tepat ditujukan ke usia menikah) tapi kita ya angguk-angguk kepala aja -untung bayangan ala pillow talk enggak muncul. Thanks God, haha-.
Selesai wawancara nyampah bentar di Setiabudi Building sambil nyusun akar masalah. (Gila ya mas Ari Harsono harus kasih kita applause nih sampai bawa-bawa akar masalah ke Setiabudi segala. Jauh bo, haha). Tapi sinar matahari sore yang menerobos masuk dan langsung mengenai mata ditambah dengan cuaca panas jadinya ya... enggak bisa mikir serius. Akhirnya kita memutuskan untuk pulang. Oleh karena busway dan P20 kurang bersahabat jadinya naik P66 aja tujuan Komdak. Tapi, sebelum pulang kepikiran satu hal lagi. Setiabudi Building kan bersebelahan sama kantornya si Tom. Aduh, ada nggak ya tu orang??
Hasil: sama seperti misi 2; GAGAL.
Di 66 iseng ngomong ke @seeta_lescha, "Eh Chung, liat keluar deh. Siapa tahu Tiggy lewat."
--------->>> Tiggy adalah panggilan buat motor si kakakku.
Tanpa di sengaja mata berkali-kali melirik ke luar jendela di sela-sela perjalanan yang gerah, banjir keringat serta lamban.
Hasil: misi 4 GAGAL.
Akhirnya ya cerita-cerita ngalor ngidul sama @seeta_lescha. Menjelang Trans TV, tiba-tiba @seeta_lescha ngetik sesuatu di HPnya.
"Cowok arah jam 4 gue bening."
Otomatis dong saya memutar kepala dan eng ing eng... gila, bening banget bo. Pake kemeja biru, lagi nelepon, putih bersih meski di atas Kopaja dan *slurp* ada bekas cukurannya (salah satu ciri cowok keren di mataku adalah ada bekas cukuran -efek Pillow Talk-). Wow, setelah kecewa enggak ketemu mas Nino dan Tom, ternyata Tuhan masih menunjukkan kebaikan hatinya dengan menghadirkan pemandangan indah di atas Kopaja yang panas, gerah dan penuh sesak. Well, enggak ada salahnya kan kalau sekali-kali lirik-lirik ke arah belakang (baca: lirik si-bening-kemeja-biru-dengan-bekas-cukuran).
@seeta_lescha turun dulu. Niatnya si di depan Menara Jamsostek tapi si kenek malah nurunin dia jauh sebelum tu gedung, haha (kasian Chung). Karena tidak ingin bernasib sama dengan tu anak maka saya baru bersiap-siap untuk turun begitu udah mepet Komdak. Lagi-lagi nasib baik menyertai saya karena siapa sangka kalau si-bening-kemeja-biru-dengan-bekas-cukuran juga turun di Komdak? Dia berdiri di belakang saya dan...... semerbak aroma parfum yang saya kenal memasuki rongga penciuman saya dari arah belakang, tepatnya dari si bening tersebut. Wow, Calvin Klein bo.... haha
Ternyata si bening-kemeja-biru-dengan-bekas-cukuran nyambung naik P6. Dadah.... Lalu saya pun naik 640 ke pasar minggu (angkot favorit @rhararar). Peralanan ke Pasar Minggu tidak menyimpan cerita yang berarti.
Turun 640 sambung lagi dengan angkot 04 tujuan Depok. Gila, 04 saat after office hour begini sama sekali enggak manusiawi. Nungguin tu angkot sama aja kayak nungguin cowok, lama banget. Sekalinya dateng, eh... penuh dan kalaupun ada tempat kosong, orang-orang pada berebutan. Cocok kan dengan filososfi menunggu cowok? Sama-sama lama datangnya, sekalinya datang pasti udah ada yang punya atau kalau masih kosong, orang-orang pada berebutan. Tapi, sekalinya si angkot datang dan kita sigap, maka bisa dapat tempat. Nah, sekalinya cowok datang ya harus sigap biar bisa dapet. Itu, namanya jodoh, haha. (Sindrom galau awal 20an kebanyakan baca novel roman Gagas Media) -abaikan-
Well, akhirnya sampai juga di kosan, jam 7.30. Akhirnya misi untuk pulang cepat tercapai (well, pulang di jam masih kepala 7 tergolong cepat kan?).

Ya, segitu dulu kisah perjalanan saya hari ini. Sekali lagi ditekankan kalau tulisan ini hanya iseng belaka sebagai pengusir jenuh dan menciptakan dinamika dalam blog ini melalui tulisan yang beragam. Memang sih ceritanya nggak penting tapi bodo amat. Wong ini halaman saya jadi suka-suka saya dong (nyolot ala Adeline).

so, bye...
love,


n.b: Oh ya, sebelum nulis blog ini iseng-iseng googling soal mas Nino tapi enggak ada apa-apa. Facebooknya juga enggak ketemu.

Friday, October 8, 2010

Kebutuhan Mendasar Pria dan Wanita; Sudahkah kamu mengetahuinya?

Re-blog nih dari salah satu milis di wolipop. Kenapa saya memilih untuk menulis ulang kisah itu? Alasannya sederhana: karena kisahnya sangat menarik dan bisa dijadikan pelajaran, baik oleh perempuan maupun oleh pria.
Karena sebenarnya, baik pria maupun wanita, mereka tak 'kan bisa hidup tanpa kehadiran masing-masing di sisinya.
So, do you wanna know? Please, read this...
Ada sebuah kisah tentang penciptaan pria dan wanita. Pada saat Sang Pencipta telah selesai menciptakan pria, Ia baru menyadari bahwa Ia juga harus menciptakan wanita. Padahal semua bahan untuk menciptakan manusia sudah habis dipakai untuk menciptakan pria. Sang Pencipta merenung sejenak dan kemudian Ia mengambil lingkaran bulan purnama, kelenturan ranting pohon anggur, goyang rumput yang tertiup angin, mekarnya bunga, kelangsingan dari buluh galah, sinar dari matahari, tetes embun dan tiupan angin. Ia juga mengambil rasa takut dari kelinci dan rasa sombong dari merak, kelembutan dari dada burung dan kekerasan dari intan, rasa manis dari madu dan kekejaman dari harimau, panas dari api dan dingin dari salju, keaktifan bicara dari burung kutilang dan nyanyian dari burung bul-bul, kepalsuan dari burung bangau dan kesetiaan dari induk singa.
Dengan mencampurkan semua bahan itu, maka Sang Pencipta membentuk wanita dan memberikannya kepada pria. Pria itu merasa senang sekali karena hidupnya tidak merana dan kesepian seorang diri.
Setelah satu minggu, pria itu datang kepada Tuhan, katanya: ‘Tuhan, ciptaan-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku membuat hidupku tidak bahagia. Ia bicara tiada henti sehingga aku tidak dapat beristirahat. Ia minta selalu untuk diperhatikan. Ia mudah menangis karena hal-hal sepele. Aku datang untuk mengembalikan wanita itu kepada-Mu, karena aku tidak bisa hidup dengannya’.
‘Baiklah’, kata Sang Pencipta. Dan Ia mengambilnya kembali. Beberapa minggu kemudian, pria itu datang lagi kepada Tuhan dan berkata, ‘Tuhan, sejak aku memberikan kembali wanita ciptaan-Mu, kini aku merana kesepian. Tiada lagi yang memperhatikanku, tiada lagi yang menyayangiku. Aku selalu memikirkan dia, ke mana pun aku pergi, aku selalu ingat dia. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Aku rindu kepadanya. Di kala aku sendirian, kubayangkan wajahnya yang cantik, kubayangkan bagaimana ia menyanyi. Bagaimana ia melirik aku. Bagaimana ia bercakap-cakap dan manja kepadaku. Ia sangat cantik untuk dipandang. Aku suka akan senyumannya. Tuhan, kembalikan lagi wanita itu kepadaku!’.
Sang Pencipta berkata, ‘Baiklah’. Ia memberikan wanita itu kembali kepadanya. Tetapi, tiga hari kemudian pria itu datang lagi kepada Tuhan dan berkata, ‘Tuhan, aku tidak mengerti. Mengapa dia memberikan lebih banyak lagi kesusahan dari pada kegembiraan? Dia semakin menyebalkan. Aku tidak tahan lagi dengan sikap dan tingkah lakunya. Aku berdoa kepada-Mu.
Ambillah kembali wanita itu. Aku tidak dapat lagi hidup dengannya.'
Sang Pencipta balik bertanya, ‘Kamu tidak dapat hidup lagi dengannya?’
Pria itu tertunduk malu, ia merasa putus asa. Dalam hatinya ia berkata, ‘Apa yang harus aku perbuat? Aku tidak dapat hidup dengannya, tetapi aku juga tidak dapat hidup tanpa dia. Tuhan, ajarilah aku untuk mengerti apa arti hidup ini?’.
‘Belajarlah untuk memahami perbedaan dan belajarlah untuk berani menerima perbedaan dalam hidupmu! Pahamilah dan usahakanlah apa yang menjadi kebutuhan mendasar dari pasangan hidupmu!’, jawab Tuhan.
Dan inilah enam kebutuhan mendasar pria dan wanita:
1. Wanita membutuhkan perhatian, pria membutuhkan kepercayaan.
2. Wanita membutuhkan pengertian, pria membutuhkan penerimaan.
3. Wanita membutuhkan rasa hormat, pria membutuhkan penghargaan.
4. Wanita membutuhkan kesetiaan, pria membutuhkan kekaguman.
5. Wanita membutuhkan penegasan, pria membutuhkan persetujuan.
6. Wanita membutuhkan jaminan, pria membutuhkan dorongan.

Jadi, apakah kamu sudah mengerti kebutuhan mendasar pasanganmu? Jika belum, cobalah mengerti karena hanya itulah kunci kebahagiaan hidupmu.

love,

Thursday, October 7, 2010

Rindu Bapusarokan

Angin malam usahlah didinginkan bana, nak jan tabayang kisah cinto nan lamo.
Awan hitam usahlah diturunkan hujan, nak jan takana maso sapayuang baduo.
Rindu di hati yang denai pusarokan, nan den takuikkan adiak di hampeh galombang.
Rintuah hati den adiak managih di dado den paluak.
Indak kahandak adiak kito bapisah.
Lai den sonsong badai baraso ka tanang galombang.
Adiak takuik bapindah ka biduak urang.
Rindu Bapusarokan by Ucok Sumbara

Na, kamu dimana?
Malam ini lagi-lagi aku teringat kamu Na. Malam ini dingin. Angin berhembus kencang, merasuk hingga ke tulang dan membuatku menggigil. Tapi kamu pasti tidak merasakannya. Aku yakin saat ini kamu pasti tengah merasakan kehangatan di balik pelukan lengan suamimu dan balutan selimut tebal milikmu. Ah, nyamannya hidupmu Na. Seandainya saja kamu jadi menikah denganku, mungkin saat ini kamu merasa kedinginan. Selimut tipis itu tidak akan bisa menahan derau angin Na.
Ah Na, mungkin sudah jalan kita seperti ini, terpisah tanpa ada kesempatan untuk bersama. Mungkin sudah suratan takdir kita untuk tidak dipersatukan. Kita berbeda Na, dan yang namanya perbedaan, sekuat apapun, sangat sulit dipertemukan, apalagi untuk berjalan beriringan. Sekeras apapun usahaku mempertahankanmu, sekuat apapun kamu berjuang untuk terus bersamaku, perbedaan itu akan selalu menang. Perbedaan yang membentangkan jurang di antara kita dan jembatan untuk menyeberanginya pun terlalu rapuh. Aku dan kamu terlanjur terjatuh ketika mencoba untuk menitinya. Jatuh dan meninggalkan luka. Luka yang menganga di hatiku dan hatimu.
Ya, aku berusaha untuk menerima semua ini Na. Meskipun berat.
Meskipun berat.

Na, kamu dimana?
Akhirnya aku memberanikan diri menemuimu Na. Di rumah sakit mewah di kawasan Jakarta Selatan. Kalau bukan karena desakan ibu, aku mungkin tidak akan pernah datang. Bagaimanapun juga, kamu pernah menjadi bagian dalam hidupku dan ibu terlanjur menyayangimu. Sayangnya, aku terlalu lemah dan gagal mempertahankan kamu.
Aku memberanikan diri untuk menemuimu. Di sebuah kamar, kamu tengah menyusui bayimu yang baru berumur satu minggu. Suamimu ada di sana, membelai rambutmu dan tersenyum hangat menatap kamu dan bayimu, bayi kalian. Dadaku sakit tapi kupaksakan kakiku untuk melangkah masuk dan menahan air mataku yang memberontak ingin keluar. Kupaksakan diriku tersenyum meski hatiku meringis. Dan kamu? Menatapku dengan wajah pucat.
"Aldo?" panggilmu kaget. Kamu menatapku seolah-olah aku adalah makhluk asing yang baru pertama kali kamu lihat.
Aku tersenyum, berusaha untuk terlihat tulus. Sementara suamimu menatapku dengan dahi berkerut. Apakah dia tahu tentang kita Na? Kalau iya, apakah dia akan mengusirku keluar? Tapi pria itu hanya menatapku tajam dengan wajah mengeras. Sementara kamu masih saja terlihat pucat. Ah Na, ingin sekali rasanya aku melihat wajahmu merona lagi.
"Talitha sudah tidur. Aku akan membawanya ke ruang bayi," ujar suamimu dan segera mengambil alih bayi yang ada dalam gendonganmu. Jadi namanya Talitha? Bukankah itu nama sahabat terbaikmu yang meninggal akibat kanker otak dan kamu ingin sekali mengadopsi namanya untuk anakmu kelak? Ralat, untuk anak kita karena Talitha adalah sahabat kita.
Suamimu menatapku sebentar lalu melenggang keluar sambil menggendong Talitha. Kutatap kepergian mereka sekedar pelarian karena aku belum siap berada di ruangan yang sama denganmu, hanya berdua. Aku belum siap Na. Apa yang akan ku katakan?
Lalu aku mendengar isakan. Serta merta aku menoleh ke arahmu. Kamu menangis Na. Bahumu berguncang hebat. Air mata membanjiri pipimu dan kamu menyembunyikan wajahmu di dalam kedua telapak tanganmu. Refleks aku menyentuh bahumu, hal yang selalu ku lakukan jika kamu sedang bingung dan galau.
Tapi kamu menepisku. Kenapa Na?
"Kenapa kamu menemuiku Do? Aku belum siap bertemu kamu," ujarmu di sela-sela isak tangis.
"Kenapa Na?" Ah, pertanyaan itu tidak sepatutnya ku utarakan. Bukan sekarang saat yang tepat. Tapi mulutku tidak bisa di ajak bekerja sama. Pertanyaan itu terlontar dengan sendirinya.
Kamu mengangkat wajah, menatapku dari balik derai air matamu. "Maafkan aku Do."
Aku menatapmu. Setetes, dua tetes, mulai ku rasakan air mata mengaliri pipiku. Aku tidak menghapusnya, pun tidak mencegahnya turun semakin deras. Biarlah kamu melihat bahwa sekarang aku rapuh Na.
"Jangan menangis Do. Setidaknya, air mata itu terlalu berharga untuk menangisi perempuan sepertiku."
"Kenapa Na?"
Kamu menggeleng dan melemparkan kepalamu ke atas bantal. Kamu kian terisak dan menutup wajahmu dengan bantal. Ah, memang seharusnya aku tidak bertanya sekarang. Kamu baru saja melahirkan. Emosimu masih terguncang. Tapi, aku hanya ingin penjelasan. Salahkah aku jika aku datang menuntut penjelasan itu? Menuntut hakku?
Kamu tidak menjawab, masih saja terisak.
Lalu ibumu menyeruak masuk. Perempuan paruh baya yang masih saja terlihat anggun berkat pakaian mewah yang dikenakannya. Dia segera menghampirimu, memelukmu lalu menatapku garang. Bisa ku lihat kebencian di balik tatapannya.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Kamu apakan Anna?" tanyanya -atau lebih tepatnya, memakiku.
"Aku...."
"Sudahlah, jangan kamu ganggu Anna lagi. Tidakkah kamu lihat sendiri? Anna sudah bahagia dengan keluarganya. Anna sudah hidup sebagaimana mestinya. Di sinilah Anna seharusnya berada, di tempat dia selayaknya tinggal." Ibumu memotong pembicaraanku.
Benarkah itu Na?
"Pergilah. Jangan pernah ganggu Anna lagi."
Ibumu mengusirku. Kamu terlalu lemah untuk membantah kata-kata ibumu, atau jangan-jangan sekarang kamu selalu mengikuti semua perkataannya? Ku tatap kamu sekali lagi. Ah, aku bisa merasakan keberatan di matamu melihatku pergi. Tapi, haruskah ku pergi Na?
Jika iya, biarlah. Namun jika tidak, tolong cegah aku.
Tapi tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutmu sampai aku menghilang di balik pintu setelah tangan kekar ayahmu menarikku pergi dan membanting pintu tepat di hadapanku.

Na, kamu dimana?
Benarkah yang ku lihat itu? Sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah kontrakan sederhanaku. Ribuan pasang mata memandang seorang perempuan yang turun dari dalamnya. Perempuan itu lalu mencium tangan ibuku yang sedang menyiram bunga. Ah, ibu menerimanya dengan suka cita. Sebaris senyum terlihat di wajahnya yang sudah keriput. Tapi, ada kesenduan di matanya dan tangannya tak lagi sekuat dulu ketika memeluk perempuan itu.
Lalu perempuan itu menatap ke dalam rumah, tepatnya menatapku yang berdiri mematung di pintu. Sebulan berlalu sejak aku menemui Anna di rumah sakit. Sekalipun aku tidak pernah mengunjunginya lagi karena ku yakin, hanya pengusiran dan hinaan yang akan kuterima dari mulut orang tuanya.
Ah Na, ingin rasanya aku berlari dan merengkuh tubuh mungilmu itu ke dalam pelukanku. Tapi aku tidak bisa. Kamu bukan milikku lagi. Cincin bertahtakan berlian di jari manismu menjadi pengingat segalanya. Kamu sudah menjadi milik orang.
"Maafkan aku Do. Biar kujelaskan semuanya. Kumohon..."
Ah Na, apa pernah aku membiarkanmu memohon selama ini? Seumur hidupku mencintaimu, sekalipun tak pernah ku lihat sinar permohonan di matamu.

Maafkan aku Do.
Selama ini aku selalu menuruti kata hatiku. Ya, hatiku yang berkata bahwa aku mencintaimu. Jujur, tak ada sedikitpun ragu ketika akhirnya aku menerima lamaranmu. Aku tidak peduli atas penolakan orang tuaku. Aku sudah dewasa, aku tahu konsekwensi dari setiap pilihanku, begitupun dengan pilihanku yang setuju untuk mengabdikan hidupku sepenuhnya untukmu. Aku tidak peduli kalau aku harus kehilangan semua yang ku miliki. Aku tidak keberatan hidup di rumah kontrakan sederhana ini. Meskipun gajimu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok kita, aku bangga padamu yang rela berbakti mendidik anak-anak muda negeri ini. Ah Do, kamu selalu membanggakan dan kamu selalu membuatku beruntung karena mendapatkan anugrah cinta sebesar itu.
Do, jika kamu bertanya, bahagiakah aku? Jawabannya adalah tidak.
Aku memang bermaksud untuk ke rumah Tante Agnes. Namun, orang tuaku mencegah kepergianku. Dia membawaku ke Semarang. Di sana, mereka memperkenalkan aku dengan Yudha. Tanpa sepengetahuanku, mereka telah mengatur pernikahanku dan Yudha. Aku tidak bisa menolak. Di hari seharusnya aku menjadi istrimu, aku malah dinikahi oleh pria yang sama sekali tidak ku cintai.
Aku menghilang darimu karena aku malu untuk bertemu kamu. Kamu pasti kecewa banget. Aku telah melukaimu terlalu dalam, tapi percayalah, aku melukai diriku lebih dalam lagi. Yudha tahu bahwa aku tak pernah mencintainya tapi perlahan-lahan dia mencoba membuatku jatuh cinta kepadanya. Tapi aku tidak bisa. Hatiku sudah terlanjur terpaut padamu.
Kalaupun sekarang aku bertahan, itu hanya demi Talitha. Ah, kamu pasti paham kan mengapa aku memberinya nama Talitha?
Do, hanya maaf yang bisa ku ucapkan dan sangat kuminta darimu. Meskipun aku masih mencintaimu tapi aku sudah tak punya daya lagi. Seberapapun kerasnya usaha Yudha, meskipun dia melimpahiku dengan perhatian dan uangnya, aku justru lebih menginginkan tinggal di rumah sederhana ini. Paling tidak, rumah ini penuh dengan cinta.
Do, sungguh, apa yang ku lakukan, semuanya di luar kuasaku. Kalau saja aku boleh mengkambinghitamkan keadaan, maka aku akan menyalahkannya. Maafkan aku Do, ku mohon.

Ku usap air mata yang mengaliri pipimu. Adilkah jika kita menyalahkan keadaan? Toh, keadaan tak pernah bersikap adil terhadap kita. Sejak awal pertama kita berikrar, keadaan selalu menentang kita. Bahkan sekarang, tangan kejamnya merenggut dirimu dariku.
"Bolehkah ku peluk dirimu Na?" tanyaku ragu-ragu. Sungguh, ingin sekali ku hirup aroma tubuhmu, untuk yang terakhir kalinya.
Ah Na, sungguh nyaman rasanya memelukmu. Seandainya saja aku bisa memelukmu selamanya....
Tapi, kamu harus pergi Na. Talitha -dan Yudha- menunggu kedatanganmu.
Rintuah hati den adiak managih di dado den paluak.
Indak kahandak adiak kito bapisah.
Lai den sonsong badai baraso ka tanang galombang.
Adiak takuik bapindah ka biduak urang.
Ku tatap kamu untuk yang terakhir kalinya. Mungkin, keadaan tidak pernah berpihak pada kita, tapi aku harus melepasmu...
Hatiku sakit Na.

Na, kamu dimana?
Selamat tinggal Na. Selamat tinggal Jakarta. Mungkin aku pengecut karena memilih untuk melarikan diri dari kenyataan dan bersembunyi. Tapi biarlah karena ku sadar, tempatku dan tempatmu berbeda. Biarlah aku mengabdi di tanah kelahiranku, di tempat semua orang bisa menerimaku sehingga aku tak perlu lagi menyalahkan keadaan atas semua ketidakadilan yang menimpaku. Toh, akulah yang mulai bertaruh melawan keadaan ketika aku jatuh cinta padamu na, dan sekarang aku dipaksa kalah.
Di sinilah aku seharusnya berada Na, di sebuah desa kecil di kaki gunung marapi. Aku tidak akan bertanya-tanya lagi dimana kamu berada karena sekarang aku tahu jawabannya.
Kamu ada di sana, bersama keluarga barumu.
Dan, tak pernah ada tempat di muka bumi ini untuk kita...

Ah, hatiku sakit Na..

(Kelanjutan dari 'Na, kamu dimana?" yang ada di postingan sebelum ini.)
Terjemahan lagu:
Angin malam janganlah berhembus terlalu dingin agar tidak terbayang kisah cintaku yang lama.
Awan hitam janganlah kau turunkan hujan agar tidak teringat waktu kita sepayung berdua.
Rindu di hati yang aku pusarakan (ku pendam-red), yang aku takutkan kamu terhempas gelombang (bencana -red).
Remuk hatiku melihatmu menangis di dada ketika ku peluk.
Bukan kehendakmu kita berpisah.
Aku menyonsong badai untuk menenangkan gelombang.
Yang ku takutkan, kamu lepas ke pelukan orang.

love,

"Cerita pertama yang terinspirasi lagu minang. Padahal selama ini saya sering memandang sebelah mata lagu minang padahal saya asli minangkabau, hehe.."

Sunday, October 3, 2010

Na, kamu dimana?

Na, kamu dimana?
Aku merindukanmu Na. Kamu ingat kan hari ini seharunya adalah hari pernikahan kita tapi upacara sakral itu terpaksa dibatalkan karena keberadaan dirimu yang entah dimana. Kenapa kamu pergi Na? Apa salahku Na? Dimana kamu sekarang? Aku ingin bertemu kamu. Aku ingin bertanya alasan kepergian kamu.
Kalau aku ada salah Na, aku minta maaf. Sungguh, sedikitpun aku tidak ada niat untuk menyakiti kamu. Kamu tahu kan cintaku padamu tulus? Aku benar-benar mencintaimu dan yang ku tahu kamu juga mempunyai perasaan yang sama untukku. Kamu lihat gaun pengantin yang cantik ini Na? Ah, gaun ini pasti akan tambah cantik jika dikenakan di tubuh mungilmu itu. Tapi, sayang sekali. Gaun ini hanya akan menjadi penghias lemari karena kamu tidak akan pernah memakainya.

Na, kamu dimana?
"Beri aku waktu sehari saja untuk menenangkan diri," pintamu kala itu.
"Apa kamu ragu dengan keputusan ini Na?"
Kamu menggeleng. Butiran-butiran air hujan bercipratan dari ujung rambut panjangmu. Ah Na, maaf ya aku tidak punya handuk atau sekedar sapu tangan untuk mengeringkan rambutmu itu. Aku juga tidak punya jaket. Ah, kamu pasti kedinginan. Kalaupun dirimu ku peluk, percuma saja, toh aku juga sama basah kuyupnya dengan kamu. Kalau saja suaramu di telepon tidak segusar itu, mungkin aku bisa menyambar jaket dan sapu tangan. Tapi Na, aku bahkan tidak sempat memikirkan hal itu. Nada tergesa-gesa di suaramu membuatku kalang kabut. Aku ingin sesegera mungkin bertemu kamu. Aku mengkhawatirkanmu.
"Aku tidak ragu Do. Aku hanya butuh ketenangan. Kamu tahu, sindrom pra pernikahan."
"Kemana kamu akan pergi?"
"Ke rumah Tante Agnes. Kamu tahu kan, aku suka daerah pedesaan?"
Aku mengangguk. Ku tatap mata beningmu yang menyinarkan gurat kegelisahan. Apa yang terjadi padamu Na? Kenapa kamu meminta waktu untuk sendiri padahal dua minggu lagi kita akan menikah? Sindrom pra pernikahan? Ah itu. Aku tahu, banyak calon pengantin yang mengalaminya. Nggak apa-apa Na. Mungkin kamu memang butuh ketenangan setelah berbulan-bulan direpotkan oleh rencana pernikahan kita.
"Berapa lama waktu yang kamu butuhkan?"
Kamu menggeleng. "Tidak tahu."
"Tapi kamu akan kembali kan?" tanyaku yang benar-benar khawatir. Ah Na, aku takut kehilangan kamu.
Kamu tidak menjawab, hanya menggenggam tanganku erat. Kurasa aku tahu jawabannya Na.

Na, kamu dimana?
Sehari sebelum pernikahan kita, ku pacu motor bebek bututku ke rumah tante Agnes, berharap aku bisa bertemu kamu di sana. Semenjak kamu meminta waktu untuk sendiri, aku kehilangan kontak denganmu. Kupikir kamu benar-benar tidak ingin diganggu, tapi setelah seminggu lebih kamu menghilang, aku benar-benar khawatir. Ketika kutanyakan kepada orang tuamu, mereka juga tidak tahu dimana keberadaanmu. Aku tahu, mereka masih kurang menyukaiku. Kalau saja kamu tidak keras hati ingin ku pinang, mereka tidak akan rela mengizinkanmu untuk ku nikahi. Sekarangpun aku masih bisa merasakan keberatan itu. Jadilah ku pacu motorku ke rumah Tante Agnes.
Tapi kamu tidak ada di sana. Tante Agnes justru heran begitu aku menanyakan keberadaanmu. Katanya, kamu tidak pernah ke sana. Dia juga bilang kamu memang pernah menelepon hampir dua minggu yang lalu dan menyatakan keinginanmu untuk berkunjung. Tapi sampai sekarang kamu tidak pernah datang.
Jantungku serasa berhenti berdetak Na. Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Dimana kamu?
Aku terduduk lemas. Beruntung Tante Agnes berbaik hati menyuguhkanku minuman dan berjanji akan menolongku mencarimu. Terima kasih Tante.

Na, kamu dimana?
Ku tatap pias seperangkat alat shalat yang sejatinya akan menjadi mas kawin kita. Juga cincin sederhana yang seharusnya ku sematkan di jarimu. Tidak ada pernikahan. Tidak ada perayaan. Tidak ada kamu.
Aku terduduk di beranda rumah. Hari ini harusnya jadi hari yang paling membahagiakan untukku, tapi yang terjadi justru kebalikannya. Kamu tidak pernah kembali. Kalau saja aku tahu kejadiannya akan seperti ini, aku pasti tidak akan mengizinkanmu pergi. Apa yang ada di pikiranmu Na? Kalau kamu masih ragu, tentu kita bisa menunda pernikahan ini sampai kamu siap. Tapi kenapa kamu malah memilih jalan ini? Tidakkah cukup cintaku untukmu? Aku tahu, aku memang hanya bisa memberikan cinta untukmu tapi materi bisa dicari toh? Kamu tidak pernah keberatan sebelumnya. Kamu bahkan terus mendukungku. Lebih lagi, kamu menentang keinginan orang tuamu yang tidak merestui kita. Kalau ada sikapku yang salah, beritahu aku. Aku pasti akan berubah. Cintaku kepadamu teramat besar dan apapun akan ku lakukan demi membahagiakanmu.
Sebuah tangan keriput menyentuh pundakku. Ibu. Ku tatap matanya yang sudah layu seiring usianya yang makin larut. Mata itu menyiratkan kepedihan. Ah Ibu, maafkan aku. Ku rengkuh tangan ibu dan ku cium punggung tangannya.
"Maafkan aku bu. Aku gagal mempertahankan perempuan yang ku cintai," ujarku tersedu-sedu.
Ibu mengusap kepalaku pelan. Ku rasakan kasih sayangnya tercurah untukku. Aku pernah berjanji akan memperlakukanmu seperti aku memperlakukan Ibu kan Na?

Na, kamu dimana?
Tiga bulan berlalu semenjak kamu pergi, tapi aku masih merindukanmu. Aku masih menunggumu. Setiap malam ku habiskan dengan berdiri mematung di pintu, berharap aku melihat sosokmu melangkah mendekati rumah sederhanaku. Setiap pagi aku bangun dengan harapan baru, berharap aku mendengar bisikanmu menyapaku. Tapi semuanya hanya mimpi Na. Mimpi yang selalu menghantuiku, setiap pagi, setiap malam, setiap hari.
Aku masih bertanya-tanya, dimana letak kesalahanku? Apa kurang cinta yang ku berikan untukmu? Sedikitpun aku tak pernah berbuat kasar kepadamu. Aku memperlakukanmu seolah-olah kamu adalah permata rapuh yang siap hancur kapan saja jika tidak dijaga dengan baik. Aku selalu mendahulukan kepentinganmu di atas segala-galanya. Aku mencintaimu, demi Tuhan sangat mencintaimu. Tapi mengapa kamu melakukan ini padaku?

Na, kamu dimana?
Empat bulan semenjak aku kehilangan kamu, kupacu motor bebek bututku menuju sebuah alamat. Alamat yang di berikan Tante Agnes ketika dia berkunjung minggu lalu. Katanya, kamu ada di alamat itu. Ah, maaf Na. Aku baru bisa mengunjungimu sekarang. Seminggu ini aku sibuk mengajar. Minggu depan murid-muridku ujian akhir Na.
Ah Na, aku tersenyum sumringah ketika akhirnya aku menemukan alamat itu. Sebuah rumah besar bak istana. Mendadak senyumku lenyap dan aku jadi ketar ketir. Harusnya ku ikuti saran Tante Agnes untuk meneleponmu dulu daripada langsung menyambangimu. Tapi aku benar-benar merindukanmu sampai-sampai aku nekat. Ah Na, jadi kamu tinggal di sini?
"Bapak cari siapa?" seorang satpam berwajah sangar menegurku dari dalam posnya. Dia menatapku tajam sambil memainkan pentungan di tangannya. Mungkin dipikirnya aku adalah pengemis atau tukang kredit atau apalah itu -orang rendahan- yang tidak pantas masuk ke rumah besar ini.
"Rumah siapa ini?" tanyaku memberanikan diri.,
"Ini kediaman bapak Santoso. Bapak mau cari siapa?" tanya satpam itu lagi, masih ketus.
Bapak Santoso? Aku mengingat-ingat, apa aku pernah mendengar nama itu keluar dari mulutmu? Mungkin salah satu saudaramu, atau kenalan orang tuamu? Tapi, aku tidak berhasil mengingat apapun.
Lalu pintu rumah terbuka. Seorang pria berusia empat puluhan awal keluar sambil memapah seorang perempuan dengan perut buncit. Hamil. Pria itu benar-benar jantan. Dia memperlakukan perempuan hamil itu dengan sangat baik dan sopan. Tapi, tunggu dulu. Aku merasa mengenal perempuan itu.
Ah ya, tentu saja. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan sosok mungil berkulit putih dengan rambut panjang berombak? Seorang perempuan cantik bermata bulat dengan hidung bangir dan bibir yang selalu tersenyum. Wajahnya selalu bercahaya oleh kebaikan hatinya dan setiap kali perempuan itu menatapku, aku bisa merasakan buncahan cinta di setiap helaan nafasnya.
Ya, perempuan itu adalah kamu Na.
Aku tercekat. Itu kamu Na? Beneran perempuan hamil itu kamu? Bagaimana mungkin?
Aku melihat kamu tersenyum ketika pria itu membukakan pintu mobil untukmu. Kamu bahkan diam saja ketika pria itu mengecup pelan rambutmu. Ah Na, hatiku sakit.
"Bisa minggir Pak? Pak Santoso mau keluar."
Suara si satpam mengagetkanku. Buru-buru aku menggeser motor bututku agar tidak mengahalngi jalan mobil mewah yang kamu naiki.
Aku menatap kamu yang terkulai di pelukan pria itu di dalam mobil. Hatiku sakit Na. Berbulan-bulan aku kehilangan kamu tanpa kabar, tanpa penjelasan, tanpa peringatan apa-apa, sekarang aku malah menemukan kamu di sini, bermesraan dengan seorang pria kaya dan tengah mengandung anaknya.
"Anna..." gumamku lirih.
"Jadi Bapak mencari Bu Anna?" ujar si satpam mengagetkanku.
Aku mengangguk lemas.
"Wah sayang sekali. Sekarang jadwalnya Bu Anna check up di rumah sakit. Itu mereka baru saja pergi."
Entahlah apa yang dikatakan satpam itu. Hatiku begitu sakit sampai-sampai seluruh persendianku luruh. Ku rasakan aliran air di pipiku. Aku menangis. Tidakkah kamu melihatnya Na?

Na, kamu dimana?
Ah, untuk apa terus bertanya. Bukankah sudah jelas bahwa akhirnya kamu memilih untuk meninggalkanku dan mengikuti keinginan orang tuamu menikahi duda kaya itu? Aku tahu dari Tante Agnes Na. Tante Agnes benar-benar menepati janjinya menolongku mencari tahu tentang kamu. Setelah memaksa, akhirnya orang tua kamu membuka mulut bahwa kamu sudah menikah dengan pengusaha kaya itu.
Ah Na, mengapa kamu tega melakukan ini? Aku tahu gajiku sebagai seorang guru tidak akan cukup memenuhi semua kebutuhan kamu tapi kamu tidak pernah mempersalahkannya kan? Kamu bilang kamu mencintaiku dan tidak peduli sekalipun orang tuamu telah menjodohkanmu dengan pria kaya. Kamu bilang kamu rela hidup sederhana selagi masih bersamaku. Kamu juga mencintai murid-murid dan pekerjaanku., Tapi semuanya bohong kan Na? Kamu sama saja seperti orang tuamu, hanya menginginkan kemewahan materi dan tidak mempedulikan cinta kita. Malah sekarang aku sanksi, apa benar kamu mencintaiku? Melihatmu menatap pria itu membuatku ragu Na.
Ah Na, sudahlah. Untuk apa aku terus mengingat kamu sementara kamu sudah hidup enak bergelimang harta di sana. Dimana-mana, lelaki miskin dan pecundang sepertiku memang ditakdirkan untuk dicampakkan.

Na, kamu dimana?
Ah sudahlah. Toh aku sudah tahu jawabannya. Kamu tidak pernah pergi Na. Kamu tetap tinggal di hatiku.


Na, kamu dimana?

love,