Tuesday, July 27, 2010

A Perfect Life

Pernahkah kau membayangkan ingin menjadi apa suatu hari nanti? Bukan hanya sebatas pekerjaan apa yang akan kau jalani. Tidak sekedar dengan siapa kau akan menghabiskan hari-harimu. Melainkan sesuatu yang benar-benar kau inginkan..
Aku punya keinginan itu. Keinginan kecil dan bisa dikatakan sepele sebenarnya. Maukah kau mendengar ceritaku lebih lanjut??
-------------------------------------------------------------------------------------------------

Inilah yang kuimpikan dan ku bayangkan akan menjadi kenyataan, sejak usiaku masih menginjak belasan tahun.
Memiliki sebuah apartemen di ketinggian lantai 20 dengan jendela yang luas sehingga aku bisa leluasa menatap pemandangan di bawahku. Menatap denyut kehidupan, begitulah istilahku. Aku ingin mengisi pagiku dengan menghirup kopi beraroma menenangkan dari cangkirku di balik jendela dimana aku bisa menatap kehidupan yang berderap cepat yang terpapar di bawah sana. Aku akan memutar musik instrumental setiap pagi untuk menambah syahdu pagiku. Dan tak ada suara. Ya, hening. Hanya musik, dan desahan nafas kami.
Kami? Ya tentu saja aku tidak sendirian menikmati irama pagi ini. Aku ingin di sebelahku berdiri seseorang yang ku cintai yang turut menikmati denyut kehidupan di bawah sana sambil menenteng cangkir kopi. Dan, meski dia tidak bersuara, dari desahan nafasnya, dari senyumannya, dari pandangan matanya, aku tahu bahwa dia mencintaiku. Setidaknya atmosfer yang melingkupi apartemen mungil kami mengumandangkan hal tersebut.
Sederhana memang, tapi entah mengapa aku harus mati-matian mewujudkan mimpi ini...
***
Dan pria itu berlutut di hadapanku. Di tangan kanannya terlihat sebuah cincin bertahtakan berlian berkilau-kilau diterpa cahaya lampu. Dia tersenyum namun sinar matanya menyorotkan permohonan yang teramat dalam. Dia tersenyum tipis penuh kehangatan dan dalam senyum itu tersirat janji kebahagiaan di masa mendatang.
"Would you??" ujarnya pelan, nyaris seperti bisikan tapi terdengar jelas di telingaku.
Aku tidak salah lihat kan? Aku tidak sedang bermimpi kan? Ini nyata kan?
"Would you, darling?" ujarnya lagi. Sama pelannya tapi ada nada tidak sabaran di balik suara baritonnya.
Pria itu berlutut di depanku dan memintaku untuk menjadi pendamping seumur hidupnya, istrinya.
Aku tercenung cukup lama, bukan karena kaget -hal ini sudah berhasil ke lewati sejak lima menit yang lalu- tapi karena rasa bahagia yang begitu meluap-luap. Aku sangat bahagia malam ini. Aku tidak menyangka di balik makan malam yang awalnya ku anggap biasa-biasa saja -toh kami sudah sering makan malam di luar- dia ternyata menyediakan kejutan untukku. Tepat setelah para pelayan menghidangkan makanan penutup kami, dia bangkit dari tempat duduknya, berlutut di depanku dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong celananya.
Kotak kecil berisi cincin bermata berlian yang sangat indah. Dan, selanjutnya meluncurlah kalimat itu dari mulutnya.
"Honey, kamu tahu aku sangat mencintai kamu dan aku tidak ingin kehilangan kamu, sedetik pun. Aku ingin memiliki kamu, seutuhnya, seluruh jiwa raga kamu dan aku pun akan menyerahklan seluruh hidupku ke tanganmu. Darling, would you be my wife?"
Reaksi pertamaku adalah kaget yang berlangsung selama 5 menit sehingga dia harus mengulang kembali pertanyaannya. Reaksi keduaku adalah bahagia. Bagaimana mungkin aku tidak bahagia ketika pria yang aku cintai akhirnya melamarku menjadi istrinya? Pria itu, tampan, gagah, kokoh, mapan, penyayang dan yang terpenting mencintaiku, berniat menyerahkan hidupnya untukku. Dan sebagai balasannya, aku pun harus menyerahkan hidupku untuknya. Oh jelas saja aku rela.
"Sayang, apa kamu yakin?"
Dia mengangguk mantap. "Tidak ada perempuan lain yang begitu ku inginkan selain dirimu. Tidak ada perempuan lain yang begitu ku cintai selain kamu. Tidak ada perempuan lain yang membuatku tertarik selain dirimu. Aku menginginkanmu, saat ini, nanti, selamanya," ujarnya mantap.
Aku menatap matanya dan aku langsung bisa menemukan kesungguhan disana.
"Aku selalu membayangkan bagaimana rasanya menjalani hidup bersamamu. Aku bertanya-tanya bagaimana rasanya setiap pagi bangun dari pelukanmu dan mengakhiri hari dengan tertidur di dekapanmu. Aku membayangkan kita tumbuh tua bersama. Melihat rambutmu beruban, mendengar keluhanmu akan nyeri di pinggangmu, menggendongmu karena kaki tuamu tak sanggup lagi melangkah meski aku pun juga sudah tertatih-tatih. Meskipun mataku sudah rabun, aku tetap bisa melihatmu sebagai wanita tercantik di duniaku dan cintaku kepadamu tak kan luntur, sedikitpun."
Selama ini aku mengenalnya sebagai pria yang tidak banyak cakap, tapi malam ini dia begitu cerewet. Namun semua omongannya mampu membuatku melayang tinggi.
"Bagaimana, sayang?"
Aku tersenyum dan kurasakan dadaku menjadi lapang. "Oh sayang, apakah aku punya pilihan lain selain membiarkanmu menyematkan cincin itu di jariku?"
Dia tersenyum dan meraih jariku. Selang beberapa detik, cincin indah itu sudah tersemat dengan anggunnya di jari manisku. Refleks aku memeluknya. "Terima kasih sayang. Kamu membuatku menjadi perempuan paling bahagia malam ini," bisikku lirih di telinganya.
Dia balas memelukku. "Aku menjanjikan kebahagiaan yang lebih untukmu setelah kamu resmi menjadi nyonya Phillip."
Aku membalas dengan mempererat pelukanku.
"Sekarang kamu memenuhi ruang hatiku sepenuhnya," ujarnya seraya mengurai pelukan kami, tapi tidak melepas tanganku.
"Apa kamu tidak merasa sesak nafas? Menempatkan diriku di hatimu? Ruang itu pasti terasa sempit sekarang."
Dia tersenyum dan mengulum bibirku. "Percayalah, masih banyak ruang tersisa untuk anak-anak kita nanti," ujarnya di sela-sela ciumannya.
Dan malam semakin larut sementara aku juga semakin larut dalam ciuman dan kemesraan yang ditawarkannya.


Aku merasakan sebuah lengan kekar memeluk pinggangku. Aku bergidik. Tanpa menoleh aku tahu siapa yang memelukku.
"Kamu akan berdiri di sini sampai kapan?" tanyanya lembut di telingaku.
"Aku ingin waktu berhenti saat ini dan memerangkap kita disini. Ah, kamu tahu? Aku sangat menyukai pagi ini. Sedikit berkabut tapi orang-orang tetap setia dengan ketergesaannya."
"Ada kehidupan yang harus dijalani dan ada mulut yang harus diberi makan," jawabnya pelan.
Aku mengangguk. "Tapi aku suka pagi yang berkabut. Aku bisa melihat banyak lampu. Aku suka..."
"Tapi aku tidak suka mendengar bunyi bising klakson orang-orang yang tidak sabaran itu," gumamnya pelan.
"Beruntunglah kita tidak harus berada di bawah dan membiarkan telinga kita tuli dengan jeritan klakson itu."
Dia tersenyum dan membalik tubuhku sehingga kami berhadapan. Tanpa basa basi dia menciumku. Oh Tuhan, mengapa aku masih belum bisa meredam debaran di dadaku atas semua sentuhan yang diberikannya. Tanpa bisa ku cegah, isnting sensualku langsung mengambil alih akal pikiranku setiap kali dia mencumbuku. Ya Tuhan, enam bulan sudah aku menyandang status sebagai istrinya tetapi aku masih seperti pengantin baru yang melewatkan malam pertamanya dengan deg-degan. Enam bulan sudah aku menjadi nyonya Phillip, tapi mengapa aku masih selalu berdesir setiap kali bermesraan dengannya?
Ya, aku tahu jawabannya. Itu karena aku sangat mencintainya, sangat menginginkannya dan perasaan itu langsung membuatku segera membalas ciumannya.
"Sayang, aku mau kopi..." ujarku dengan nafas terengah-engah.
Dia menatapku tajam. "Lagi?"
"Sayang, kita sudah membicarakan hal ini dan kamu mentolerir dua cangkir kopi sehari masih bisa dimaafkan."
"Tapi dua cangkir kopi sepagi ini?"
"Itu artinya aku akan menyentuh minuman itu lagi esok pagi."
Dia hanya menggeleng kecil dan beranjak ke dapur dan membuatkan kopi untukku. Hei, aku bukannya istri kurang ajar yang suka menyuruh-nyuruh suaminya, tapi.. entahlah. Di lidahku, kopi bikinannya terasa beda. Terasa lebih nikmat.
Dia kembali dengan secangkir kopi. Hanya satu karena dia tidak mentolerir masuknya kafein dalam jumlah banyak ke tubuhnya.
"Thanks honey.."
Dia berdiri di sampingku, ikut menikmati ketergesaan yang masih terpampang jelas di bawah sana.
"Apa aku pernah bilang bahwa ini sesuai dengan impian masa remajaku?"
"Seingatku kamu sudah berkali-kali mengatakannya. Sejak hari pertama kita menginjakkan kaki disini. Ingat kan, pagi itu kamu menyeretku kesini dan mengajakku menikmati denyut kehidupan di bawah."
"Apa kamu sudah merasa bosan?"
Dia tertawa geli. "Apa aku sudah bosan? Apa aku bosan denganmu? Jawabannya jelas tidak sayang," ujarnya sambil menjelajahi leherku dengan bibir tipisnya.
"Sayang, kalau kamu tidak mau kopi ini mengotori karpet kesayanganmu, berhentilah menciumiku sekarang juga," ujarku sambil bergidik senang.
Dia tertawa. "Ok, ok.. Aku sudah sering membuktikan kesabaranku kan?" ujarnya sambil meraupku ke dalam pelukannya, mengabaikan tetesan kopi yang membasahi karpet putih kesayangannya.
"Yeah, tapi kamu lebih sering menunjukkan ketidaksabaranmu....."


Dengan karierku sebagai seorang novelis yang terbilang sukses, suami yang mencintaiku, masa depan cerah yang terhampar jelas dihadapan kami, wajar kan jika aku bahagia? Adakah hal lain yang ku inginkan? Untuk melengkapi kebahagiaanku? Kalaupun ada hal lain yang bisa membuat kehidupanku lebih bahagia dibanding sekarang, mungkin jawabannya adalah seorang bayi.
Bayi hasil cinta kami.
Dan inilah yang selalu ku inginkan sejak dulu. Hidup bahagia bersama keluarga kecilku...


love, iif
"Karier bagus, masa depan cerah, hidup berkecukupan, suami yang mencintaimu, bayi-bayi mungil tanpa dosa, keluarga kecil yang bahagia, adakah yang lebih diinginkan selain itu? Adakah kebahagiaan lain yang lebih menjanjikan dibanding hal tersebut?"

Saturday, July 24, 2010

CINTA MONYET

STRATEGIC MARKETING COMMUNICATION WORKSHOP

Aku menyeruput minuman di hadapanku dengan sikap malas dan tanpa semangat. Masalahnya tidak ada yang bisa membuatku bersemangat disini. Aku ditunjuk sebagai wakil perusahaan di seminar berskala nasional yang berlangsung selama satu minggu di Bandung, dan menjalanai waktu satu minggu di tengah orang-orang yang tidak ku kenal bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Apalagi bagi aku yang tergolong tipe orang yang susah akrab dengan orang baru. Bahkan sampai waktu makan siang pun aku baru bertukar senyum satu kali dengan peserta yang duduk di sebelahku.

Sorry, boleh duduk disini? Tempat lain sudah penuh.”

Aku mendengar seseorang bertanya dan menunjuk kursi di sebelahku.

Dengan enggan aku mengangguk dan memindahkan tas yang tadi kuletakkan di kursi itu ke kursi yang ada di depanku.

“Terima kasih.”

Aku mengangguk dan melanjutkan makan siangku dan sama sekali tidak menggubris orang itu. Dia juga tidak menggubrisku dan asyik dengan makan siang plus handphonenya.

Sorry,” ujarnya setelah sebelumnya menyimpan handphonenya, “kenapa aku merasa pernah melihat kamu sebelumnya ya?”

Basi, gerutuku dalam hati. Perjalanan panjang hidupku dan pergaulanku dengan berbagai tipe laki-laki sudah bisa membuatku tahu segala jenis rayuan mereka dan salah satunya adalah dengan mengaku pernah bertemu. Aku tersenyum sinis dan tidak menggubrisnya.

Dia terdiam cukup lama tapi aku bisa merasakan kalau dia memperhatikanku. Masa bodoh, nanti kalau dia sudah capek aku cuekin toh dia akan berhenti dengan sendirinya.

“Ya ampun,” ujarnya kaget setelah dia puas meneliti wajahku. “are you Lana?”

Degg, sekarang giliranku yang terkejut. Tahu dari mana dia namaku, tepatnya nama kecilku karena dalam dunia pekerjaan, orang-orang mengenalku sebagai Liliana dan hanya orang-orang terdekatku yang memanggilku Lana. Mau tidak mau aku menoleh ke arahnya.

Begitu aku melihatnya, dia semakin yakin dengan dugaannya dan aku juga merasakan hal yang sama. Berbagai kisah dari masa lalu bermain dalam pikiranku. Aku memilah-milah kisah tersebut dan mencari sosok yang sama dengan yang ada di hadapanku ini, tapi hasilnya nihil.

“Ya ampun Lana. Sudah berapa lama kita nggak ketemu?”

Aku memandangnya dengan dahi berkerut. “Sorry, aku nggak bisa ingat kamu siapa,” ujarku sopan.

Dia tertawa. “Lana, Lana, pelupa seperti biasa,” dia tersenyum nakal. “Thomas, Thomas Andrean, ingat?”

Aku tersentak. Thomas? Thomas Andrean teman SMA ku yang juga merupakan cinta pertamaku dulu? Nggak mungkin, kenapa dia bisa berubah sedrastis ini? Mana Thomas yang kurus ceking dengan rambut awut-awutan dan yang selalu memasang senyum menyebalkan itu? Kenapa justru sekarang yang ada malah Thomas yang rapi, atletis dan berpembawaan tenang seperti ini?

“Ya ampun Thomas. Pantesan aku lupa, kamu berubah sih.”

Dia tertawa kecil. “Waktu bertahun-tahun bisa merubah seseorang Lan.”

Aku tersenyum dan mengamati wajahnya. Yah, waktu bertahun-tahun memang bisa merubah seseorang, tapi waktu bertahun-tahun tidak bisa merubah sorot matanya yang teduh itu, sorot mata yang dulu membuatku jatuh cinta. Aku penasaran, setelah aku, sudah berapa orang cewek yang takluk oleh sorot mata itu. Tapi, dengan kehadirannya ini, ada satu hal yang membuatku lega, akhirnya ada juga orang yang ku kenal di seminar ini.

Thanks God,” ujarku lega.

“Kenapa?”

Aku tertawa kecil. “Tadinya aku pikir nggak ada yang aku kenal disini dan aku paling nggak suka berada diantara orang yang nggak aku kenal. Makanya aku bersyukur karena ternyata ada kamu.”

Thomas menggeleng pelan. “Tetap sama seperti dulu,” gumamnya.

***

“Pokoknya gue mau nonton film ini?”

“Tapi, gue nggak suka film action.”

“Lebih bagus film action daripada film cengeng pilihan lo itu.”

Aku melotot. “Apa bagusnya nonton orang berantem?”

“Ya jauh lebih asyik daripada nonton orang menangis.”

Aku mau membantah lagi, tapi dia keburu memotong omonganku.

“Minggu kemaren kita nonton film pilihan lo, jadi sekarang gantian.”

Aku gondok setengah mati. Apa-apaan ini, jelas-jelas minggu kemaren dia juga ingin nonton film yang sama, kenapa sekarang malah aku yang dituduh memilih film itu? Dasar cowok egois, tukang ngambek, cerewet, nyebelin. Pokoknya ngebetein. Lama-lama aku nggak betah juga pacaran sama dia, kebanyakan makan hati daripada senangnya.

Akhirnya hari ini aku terpaksa menonton film pilihannya dengan gondok, dan sesuai dugaanku tadi, film itu nggak ada bagus-bagusnya, tapi dasar cowok aneh, dia malah memuji-muji film itu.

***

Aku tertawa kecil. Entah kenapa kenangan itu terlintas di pikiranku. Apa mungkin karena aku masih tidak percaya kalau aku bertemu Thomas disini? Aku mengalihkan pandangan ke arahnya yang sedang menyampaikan argumennya. Sangat berbeda. Dia berbicara dengan tenang, pilihan katanya menarik sehingga dia terlihat sangat menguasai topik ini, dan bahasa tubuhnya juga mendukung, membuat dia terlihat wise dan dewasa. Tiga tahun mengenalnya dan dua tahun menjadi pacarnya, aku belum pernah menemukan pemandangan ini di diri Thomas. Aku jadi heran kenapa dia berubah sedrastis ini. Dan waktu aku menanyakan hal tersebut, dia malah menjawab karena pengaruh umur.

Malamnya, ketika aku sedang bersantai di pinggir kolam menghapus rasa capek, tiba-tiba saja Thomas datang dan merebut buku yang sedang ku baca.

“Thomas, apa-apaan sih?” semburku dan merebut kembali bukuku.

Dia tertawa kecil. “Jalan-jalan yuk.”

“Kemana?”

Thomas mengangkat bahu. “Aku mau cari oleh-oleh.”

Aku merasa sangat capek, tapi aku mengiyakan ajakannya karena aku ingin berada di dekatnya. Akhirnya malam ini kita habiskan dengan berburu oleh-oleh. Kita menyusuri berbagai factory outlet yang tersebar di setiap pelosok kota Bandung. Dia membeli banyak pakaian, katanya untuk keluarganya. Sesekali aku iseng bertanya apa dia nggak membeli oleh-oleh untuk pacarnya, tapi dia hanya mengangkat bahu dan tidak menjawab pertanyaanku. Aku jadi penasaran, apakah sekarang dia single atau sudah punya pacar atau mungkin menikah? Dan, sekelebat perasaan cemburu muncul waktu aku berpikir kalau Thomas sudah punya pacar, apalagi menikah.

Dasar goblok, kenapa aku membiarkan pikiran bodoh itu muncul sih? Dia itu mantan pacarku, cinta monyet zaman SMA dulu, kenapa sekarang harus cemburu? Aku menggeleng dan mengusir pikiran itu.

“Kenapa tiba-tiba menggeleng sendiri?” Tanya Thomas heran. Saat itu kita sedang makan jagung bakar di pinggir jalan.

“Nggak kenapa-napa. Cuma kedinginan,” ujarku beralasan.

“O…” Dia mengangguk dan membuka jaketnya dan memberikannya kepadaku. “Pakai ini, biar nggak kedinginan.”

Aku tidak segera mengambil jaketnya. Aku malah menatapnya tajam dengan perasaan berkecamuk. Kenapa di saat kita tidak punya hubungan apa-apa dia malah perhatian sama aku? Kenapa perhatian ini tidak diberikannya dulu, waktu aku masih menjadi pacarnya. Aku masih ingat betapa aku dulu sangat menginginkan perhatian darinya, sekecil apapun, tapi perhatian itu tidak pernah ada. Selama dua tahun pacaran yang ada hanya pertengkaran dan ngotot-ngototan.

“Lana?” panggil Thomas.

Aku terkesiap. Buru-buru aku menyambar jaketnya.

“Lagi mikirin apa?”

“Masa lalu,” jawabku pelan.

Thomas menghembuskan nafas keras. “Aku belum menanyakan kabar kamu sekarang?”

“Yah beginilah. Aku nggak bisa mengejar karier sebagai seorang pengacara, jadinya malah terdampar di dunia marketing,” jawabku asal.

“Memang kamu cocoknya di bidang ini. Kamu selalu kalah dalam berargumen.”

“Aku cuma kalah berargumen dengan kamu karena kamu egoisnya minta ampun. Masa masalah nonton saja bisa berlarut-larut.”

Thomas tertawa. “Wajarlah, namanya juga anak SMA,” ujarnya sambil meraih tangan kiriku. “Aku pikir kamu sudah menikah,” gumamnya.

Aku mencibir. “Aku masih 26 tahun. Memangnya kenapa kalau aku masih single?”

“Lho? Bukannya dulu kamu bilang ingin berkeluarga sebelum umur 25 tahun? Ini sudah lewat satu tahun lo,” ujar Thomas sambil mengulum senyum.

Aku tersenyum tipis. Omongan itu, meskipun maksudnya hanya untuk menggodaku, entah kenapa mampu membuat dadaku jadi berdesir. Terlebih saat Thomas tidak pernah melepaskan tatapannya dariku. Tanpa terasa aku jadi tersipu-sipu malu, sama seperti Thomas menatapku lama sekali waktu rapat OSIS di saat SMA dulu.

“Kenapa?”

Aku menggeleng dan berusaha meredakan debaran di dadaku. “Tidak semua rencana menjadi kenyataan. Mungkin saja Tuhan punya rencana lain dengan tidak mengizinkan aku menikah sebelum umur 25,” jawabku pelan. Ya, mungkin saja Tuhan punya rencana lain, seperti dia merencanakan pertemuan tidak disengaja ini, lanjutku dalam hati.

Thomas hanya mengangkat bahu, tapi matanya tetap tidak pernah lepas dari wajahku. Aku balas menatapnya dan hal ini mengakibatkan kecamuk dalam dadaku makin menjadi-jadi.

***

“Gue nggak bisa pacaran jarak jauh. Kita satu sekolah saja masih suka bertengkar, apalagi kalau pacaran jarak jauh?”

Aku menunduk. Dia benar. Bisa ketemu tiap hari saja masih suka bertengkar, dan itu seringkali disebabkan oleh hal-hal sepele. Kita sama-sama keras dan tidak ada satupun yang mau mengalah. Selama ini, setiap kali bertengkar, tidak pernah ada penyelesaiannya. Dan aku yakin, jika kita terpisah pun, kita tidak akan bisa menghindari pertengkaran itu dan tentu saja itu bukan pertanda sebuah hubungan yang sehat. Tapi, apa benar putus adalah solusi yang terbaik. Jujur saja, aku masih menyayanginya meskipun aku juga sering dibuat kesal olehnya.

“Harus banget ya kuliah di Australia?”

Dia mengangguk. “Ini cita-cita gue sejak dulu.”

Aku menghela nafas panjang. “Kalau itu sudah menjadi keputusan lo, gue bisa apa.”

Dia memelukku erat, untuk yang terakhir kalinya. Malam itu, di pesta perpisahan sekolahku, aku juga harus berpisah dengan orang yang kusayangi, orang yang sudah dua tahun ini mengisi hari-hariku dengan menjadi pacarku –meskipun sebagian besar kita habiskan dengan bertengkar-. Malam ini, semuanya berakhir. Mulai besok, tidak ada lagi orang yang selalu mengajakku berantem dan adu argumen.

***

“Kapan pulang dari Australia?”tanyaku di sela-sela makan siang.

“Begitu lulus kuliah aku langsung balik ke Indonesia.”

Aku mengangguk. Akhirnya, setelah hampir delapan tahun kehilangan kontak dengannya, hari ini aku bisa berbincang-bincang lagi dengan Thomas. Tadi dia memintaku untuk menceritakan kehidupanku sejak malam perpisahan itu –tepatnya sejak malam kita putus- karena dia langsung berangkat ke Australiaa nggak beberapa lama setelah malam perpisahan itu. Aku tidak pernah mendengar kabar apa-apa lagi tentang dia kecuali kalau dia kuliah di Australia. Ternyata Thomas sudah kembali ke Indonesia tiga tahun yang lalu dan bekerja di bidang marketing, sama seperti aku. Bidang pekerjaan itulah yang mempertemukan kami disini. Thomas sangat bersemangat menceritakan tentang pekerjaannya, tapi begitu kusinggung soal kehidupan pribadinya, dia segera mengalihkan pembicaraan. Padahal tadi aku sama sekali tidak menolak bercerita tentang kehidupan pribadiku, termasuk keadaanku yang sedang menjomblo setelah putus dari pacarku yang selingkuh satu tahun lalu.

“Setelah aku, ada berapa orang cewek yang kamu ajak adu argumen?” tanyaku halus padahal maksud sebenarnya adalah ada berapa orang cewek yang pernah jadi pacarnya.

“Nggak banyak. Bule-bule itu kalah nyolot di banding cewek Indonesia.”

Spontan aku merasa melayang karena mengira cewek Indonesia yang dimaksud adalah aku. “Bagus dong. Itu berarti kamu nggak harus capek-capek menghadapinya.”

Dia menggeleng kecil. “Cewek nyolot lebih menantang.”

“Tapi aku nggak mau nyolot lagi. Terakhir kali pacaran cowokku bilang kalau salah satu alasan dia selingkuh karena nggak tahan menghadapi sifat nyolotku.”

Thomas tertawa. “Baguslah kamu sudah putus dari dia. Itu artinya kalian nggak cocok,” ujarnya sambil meraih jariku. “Kamu tahu nggak, aku benar-benar menganggap serius omongan kamu yang ingin menikah sebelum umur 25. Aku pikir itu sudah jadi kenyataan meskipun aku tidak menerima undangannya. Tapi, ternyata begitu kita bertemu lagi, kamu masih sendiri.”

“Kenapa kamu menganggapnya serius? Namanya juga omongan anak SMA dan belum tentu itu benar.”

“Kamu ngomongnya serius dan kamu bahkan sudah membuat rencana seperti apa pernikahan kamu nanti. Kamu ingat kan kita juga pernah bertengkar tentang hal itu?”

Aku tertawa. “Iya sih, tapi kalau belum ada yang cocok kenapa harus dipaksakan?” uajrku sambil menatapnya tajam. “Kamu sendiri?”

Thomas melepaskan tanganku. “Jadi kamu satu-satunya wakil perusahaan di seminar ini?”

“Kenapa kamu selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali aku bertanya tentang kehidupan pribadimu?”

“Aku nggak mengalihkan pembicaraan, cuma….” Omongannya terpotong karena handphonenya yang tiba-tiba saja berbunyi. “Permisi sebentar.”

Aku menatap Thomas yang asyik mengobrol di telepon. Kenapa dia selalu mengelak sementara dia terus mencecarku untuk mengetahui kehidupan pribadiku. Apa sebenarnya yang dirasakan Thomas sekarang? Apa dia juga terlalu larut dalam nostalgia masa lalu seperti aku? Aku menggeleng. Aku beruntung bisa bertemu dia lagi dan kembali mengulang kebersamaan kita dulu, tapi kenapa sekarang aku malah menginginkan lebih? Aku menginginkan Thomas, bukan hanya sebagai bagian dari masa laluku yang kebetulan bertemu dan sama-sama bernostalgia tentang masa lalu. Aku meginginkan Thomas sebagai bagian dari kehidupanku yang sekarang, mengulang kembali kebersamaan yang dulu pernah ada, tapi dalam konteks masa kini. Aku menginginkannya menjadi milikku di kehidupanku yang sekarang, seperti aku pernah memilikinya di kehidupanku yang dulu.

Tapi, aku tidak pernah tahu apa yang dirasakannya.

***

Malam ini adalah malam terakhir aku berada di sini. Sekarang sedang berlangsung acara penutupan berupa makan malam di sebuah café di Bandung. Harusnya aku senang karena besok aku bisa kembali ke orang-orang yang aku kenal. Tapi kenyataannya aku malah sedih, dan penyebabnya adalah Thomas.

Setelah delapan tahun tidak bertemu, mengapa aku hanya diberi waktu satu minggu untuk bersama dengannya. Terlebih, di saat aku mulai menginginkannya lagi, aku malah harus berpisah dengannya. Aku memisahkan diri dari rekan-rekanku yang lain dan menyendiri di tepi kolam.

“Kenapa kamu disini?”

Seseorang mengagetkanku dan aku tahu kalau itu adalah Thomas.

“Kamu sendiri?”

“Tadi aku melihat kamu keluar dan menyusul kamu kesini,” ujarnya sambil menyampirkan jas yang tadi dipakainya ke pundakku. Biar nggak kedinginan, bisiknya.

Tanpa sadar aku merebahkan kepala ke pundaknya. “Thomas, mengapa setelah bertahun-tahun tidak bertemu kita hanya di beri waktu satu minggu?”

Thomas merangkul pundakku.

“Aku senang bertemu kamu lagi dan mengenang kebersamaan kita dulu.”

“Lana, aku juga senang, apalagi aku tetap menemukan kamu sebagai Lana yang aku kenal dulu. Bedanya Lana yang sekarang jauh lebih dewasa dan cantik. Percayalah, aku juga masih sama seperti Thomas yang dulu walau mungkin sekarang aku nggak semenyebalkan dulu.”

Aku tertawa. “Apa mungkin ya kita mengulang kebersamaaan kita dulu lagi sekarang?”

Rangkulan Thomas menegang. Dia menundukkan wajahnya ke balik rambutku dan bernafas berat. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, tapi aku tahu ada yang sedang berkecamuk di hatinya. Seandainya dia mau jujur dan menceritakan apa yang sedang membuatnya gelisah seperti ini meskipun sebenarnya aku juga sedang gelisah. Aku gelisah karena tidak sanggup menghadapi kenyataan kalau aku akan berpisah lagi dengannya di saat keinginanku untuk bersamanya semakin membuncah.

“Lana, seandainya kita dipertemukan lebih awal….”

Aku tersentak. “Maksud kamu?”

Thomas spontan melepaskan rangkulannya. Dari raut wajahnya aku bisa menangkap kalau tadi dia tidak sengaja ngomong seperti itu. Lagi-lagi dia mengalihkan pembicaraan dengan menarikku masuk ke dalam ruangan karena pihak penyelenggara menyuruh para peserta untuk berkumpul.

Dan sampai malam itu berakhir, sedikitpun Thomas tidak pernah membahas omongannya tadi. Apa Thomas juga memikirkan hal yang sama denganku?

***

Beberapa bulan kemudian…

Ditelepon pagi-pagi buta di hari libur bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Tapi, amarahku langsung reda begitu tahu kalau yang menghubungiku adalah Thomas.

Thomas mengajakku bertemu malam ini.

Aku melompat kegirangan. Apa selama ini dia juga sama gengsinya denganku dan sekarang dia sudah tidak tahan lagi dan akhirnya mengalah dan menghubungiku. Aku sudah tidak sabar karena kegugupan Thomas waktu di telepon tadi sama persis dengan kegugupannya sesaat sebelum menembakku dulu.

Aku sengaja menelatkan diri lima menit dari jadwal agar Thomas tidak menangkap perasaan bahagiaku yang meledak-ledak. Dan begitu aku datang, Thomas sudah menungguku.

“Apa kabar?” tanyanya basa basi.

“Baik.”

Lagi-lagi sikap gugup Thomas membuatku semakin yakin dengan dugaanku tadi pagi. Buktinya dia terus mengulur-ngulur waktu dengan mengajakku bicara tentang hal-hal yang tidak penting, keadaan kantorlah, isu-isu hangat sekaranglah, keadaan cuacalah dan dia selalu tampak gugup sambil sesekali menggigit bibirnya.

Dan aku sudah muak dengan segala basa basi ini.

“Sebenarnya kamu mengajak aku ketemuan karena ada hal penting apa?” desakku.

Thomas terdiam selama beberapa saat seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.

“Thomas?”

Thomas menatapku tajam dan menggenggam tanganku. “Waktu aku bilang kalau bule-bule itu kalah nyolot dibanding cewek Indonesia, itu bukan tanpa alasan yang jelas. Butuh waktu lama untuk melupakanmu. Waktu dua tahun bersamamu bukan waktu yang singkat untuk membuatku bisa melupakanmu begitu saja. Waktu dua tahun menyayangimu, meskipun sebagian besar kita lewati dengan pertengkaran, cukup membekas dalam waktu yang lama di hatiku.”

Aku terdiam, menunggu kelanjutan kata-katanya selanjutnya.

“Tapi waktu delapan tahun juga bukan waktu yang singkat untuk memulai sesuatu yang baru. Aku mencoba dan terus mencoba untuk memulai sesuatu yang baru, termasuk dalam percintaan.”

Aku semakin bingung.

“Waktu di Bandung aku sengaja nggak mau membahas tentang kehidupan pribadiku karena euphoria waktu bertemu kamu begitu kuat. Aku ingin tahu semua hal tentang kamu, sekecil apapun dan aku terjebak dalam nostalgia masa lalu kita.”

“Thomas, intinya apa?” Aku sudah tidak sabar. Kenapa kamu selalu butuh waktu lama untuk menyatakan cinta sih?

Thomas melepaskan tanganku dan mengambil sesuatu yang dari tadi disembunyikannya. Dia menyerahkannya kepadaku. Sebuah undangan.

Mendadak jantungku berdebar kencang. Apa maksudnya ini? Aku menatap Thomas untuk meminta penjelasan tapi dia malah menunduk, tidak berani menatapku. Dengan perasaan campur aduk, aku membalik undangan itu.

Jantungku nyaris berhenti ketika membaca nama yang tertera di sana, THOMAS dan ANNETTE

***

Aku menghapus air mata yang tidak mau berhenti turun sejak semalam. Aku bisa merasakan kalau mataku bengkak, tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti menangis.

Semalam, semua impianku hancur. Thomas mengajakku bertemu bukan untuk memintaku kembali ke dalam kehidupannya, tapi untuk memberitahuku kalau sudah ada perempuan lain yang memasuki kehidupannya.

Dengan hati yang hancur, aku berusaha untuk tampak tegar di depan Thomas. Dengan berat hati aku mengulurkan tangan dan memberikan ucapan selamat kepadanya. Sambil menahan air mata aku mengizinkannya untuk memelukku, untuk yang terakhir kalinya. Dengan mata berlinang aku membiarkannya pergi, dari kehidupanku, untuk yang kedua kalinya dan untuk selamanya.

Dengan perasaan hancur aku membuka undangan pernikahan Thomas dan menemukan sepucuk surat disana. Surat yang berisi ungkapan hatinya yang sebenarnya…

Lana…

Aku tidak menyangka kalau pertemuan singkat kita membawa cerita baru dalam kehidupanku. Awalnya aku berpikir kalau perasaan ini hanya euphoria sesaat karena kita sudah lama tidak bertemu. Tapi, ternyata aku salah…

Bertemu kamu membuatku berpikir kalau kamu adalah bagian terindah dari kehidupanku yang dulu, Lana yang sampai kapanpun tetap mampu membuat perasaanku campur aduk…

Dan aku terlambat. Seandainya kita bertemu lebih awal, sebelum aku mengikat janji dengan perempuan lain, perempuan yang tidak mungkin kutinggalkan meskipun dengan alasan untuk memperjuangkan kamu..…

Tapi, sekarang aku harus bisa menerima kalau aku hanya bisa memiliki kamu di kehidupanku yang dulu. Aku tidak akan pernah memiliki kamu di kehidupanku sekarang, apalagi nanti…

Lana, semoga kamu berbahagia…

Thomas

Lagi-lagi aku menangis. Seandainya dulu aku sedikit mengalah dan mencoba bersabar dengan Thomas, mungkin sekarang aku masih memiliki dia. Seandainya dulu aku tidak pernah membiarkan dia pergi dan memutuskan hubungan itu, mungkin aku tidak akan pernah menerima undangan ini. Atau mungkin namaku yang tertera di undangan itu, bukan ANNETTE.

Atau andai saja aku tidak pernah ke Bandung dan bertemu dia, mungkin aku tidak harus menguatkan hatiku untuk meyakini bahwa aku hanya bisa memiliki Thomas di kehidupanku yang dulu…

Tapi, semuanya hanya pengandaian. Kenyataannya? Aku harus menanggung rasa sakit ini dan merelakan kepergiannya bersama wanita bernama Annette.

Semoga kamu berbahagia disana, bisikku lirih.


love, iif

Monday, July 19, 2010

The Perfect Guy - sekilas

...................................................................................................................................


Waktu Senin sampai Jumat tidak cukup untukku saat ini. Aku pun dengan senang hati merelakan waktu liburan akhir pekanku dengan mendekam di kantor, memilih-milih foto, atau mungkin melanjutkan pemotretan dan mengatur kerjasama dengan para desainer atau pemilik butik. Tidak ada waktu melamun sendirian di café langgananku setiap Sabtu sore. Tidak ada waktu untuk membaca novel kesukaanku yang sekarang terpatri dengan indahnya di rak buku tanpa pernah ku sentuh lagi. Tidak ada waktu untuk window shopping atau hanya sekedar jalan-jalan bersama Bian –bahkan Bian yang untuk proyek ini menjadi wakilku juga sama sibuknya denganku-.
Tidak ada waktu untuk santai, itulah intinya. Setiap hari aku harus melapor ke Mbak Saras mengenai perkembangan proyek ini dan aku juga harus siap-siap menulikan telinga setiap kali dicecar. Aku sudah berusaha semampuku dan aku juga menginginkan hal ini terwujud sesempurna mungkin. Dan karena ini ambisiku maka aku tidak akan mengecewakannya.
Tidak, mana mungkin aku rela mengecewakan mimpiku?
Jangankan untuk memikirkan orang lain, untuk memikirkan diriku saja kadang aku tidak punya waktu. Termasuk memikirkan Laut, meskipun kadang ketika aku hendak tidur, selintas pikiran tentang dia bermunculan. Tapi, aku tidak pernah menghubunginya karena begitu aku membuka mata di pagi hari, yang ada di pikiranku hanya pekerjaan –just it!
Dan dia juga tidak pernah menghubungiku. Mungkin pekerjaannya di Yogya juga sama menyita waktu juga, seperti pekerjaanku. Tapi, bukan berarti aku tidak merindukannya? Ya, walaupun kerinduan itu hanya datang setiap kali aku merebahkan diri di tempat tidur dan bersiap untuk menyongsong mimpi. Namun, bagiku saat-saat seperti itu adalah saat yang menyakitkan karena aku tidak punya petunjuk tentang hubungan kita, apalagi mengenai perasaannya.
Kosong…
Hampa….
Abstrak….
Itulah yang aku tahu tentang dia dan perasannya. Sementara tentang perasaanku???
Cinta…
Pengharapan….
Dan aku tidak tahu harus berbuat apa untuk mengakui perasaanku. Dia terlalu dingin dan kehangatan yang aku punya tidak cukup untuk menghadapi kedinginannya itu. Sifatnya sama seperti namanya. Tenang seperti Laut tapi suatu saat jika ada ombak besar maka dia akan bergejolak. Dalam dan misterius seperti Laut dan jika ingin menyelaminya maka dibutuhkan usaha yang keras dan tanpa henti.
Namun permasalahannya, entah aku masih memiliki tenaga untuk menyelaminya karena untuk menghadapi pekerjaanku saja aku hampir kehabisan tenaga.
OK, aku mengaku salah jika menyetarakan antara pekerjaan dan cinta, tapi aku sudah terbiasa hidup sendiri dan membudakkan hidupku ke pekerjaan. Cinta adalah sesuatu yang baru bagiku, kadang masih terasa asing. Aku masih menapakinya setahap demi setahap, perlahan-lahan mencicipinya dan membiasakan diriku untuk menerima kehadirannya. Tapi jujur saja, aku masih belum ingin terikat seratus persen dengan cinta.
Karena terkadang kebebasan masih terlalu berharga untuk di lelang atas nama cinta…
Apalagi untuk seseorang seperti Laut…
Meski terkadang ada keinginan untuk mengabdikan hidupku demi dirinya…

...................................................................................................................................

Monday, July 12, 2010

Adam's letter

Ketika sedang mengerjakan artikel buat Sister, saya menemukan lagu ini, Adam's Song by Blink 182. Setelah ditelusuri, ternyata lagu ini terinspirasi dari surat seorang anak laki-laki bernama Adam. Surat itu ditulis sebelum Adam memutuskan untuk bunuh diri dan berisi segala keluh kesahnya, betapa tidak ada yang mempedulikannya dan tidak yang mengerti dia. Bagi Adam, hidupnya tak lebih dari sekedar mimpi buruk. Orang tua, guru, teman, bahkan Tuhan, Adam mempertanyakan kehadiran mereka, mengapa mereka tidak pernah ada untuknya?
Untuk lebih lengkapnya, berikut isi surat Adam yang saya sadur dari www.adamsletter.com

To the man and woman who chose to conceive a child, the result of which was me, when it fit in with their five year plan;

To the teachers who never really cared, no matter what they say;

To my fellow geeks, dweebs, et. al., who will no doubt receive more abuse upon my passing, as my tormentors will no longer have me to kick around;

To my fellow students who made my life a living nightmare when they should have focused on their education;

To those who never cared, never spoke, probably never knew my name;

To the one true friend, whose caring was the only thing that prevented this even from happening sooner;

To the God, if he does exist, who chose to play a cruel, cruel joke on me when he placed me where he did and surrounded me with so many uncaring faces;

To all of you, goodbye.

I am leaving a world to which I never truly belonged or fit in. Do not weep for me, or mourn my passing. I say this not because I expect to be missed, but to allow those who truly did not care go on with their lives with a clean conscience and dry eyes. I know you don't want to weep for me. So don't. But I do ask you to listen to the final words of a young man who has taken charge of his own destiny.

Perhaps my parents might feel something inside which causes them to shed tears. They may pretend that it's sorrow for their "loss", but I hope it is something else. Perhaps sorrow for bringing a child into this world when they really didn't have the time or desire to raise him. I wasn't the product of love, born of a desire to prepare another human being to grow and lead the human race. I was merely the next acquisition, the next task, the next project on their list of things that bring significance.

No child should be brought into this world for the mere purpose of being just another possession. I am not an asset to be cataloged and listed on your tax forms beside your house and car, or fought over during your divorce proceedings. I am a human being. I'm sorry that it took this to make you realize that. If you don't yet get it, then I'm even sorrier.

What about my teachers? Will they be sorry to see another student become a statistic? Certainly the administration and Principal Chowning will mourn, as my death will not reflect well on them as an institution. Well, I apologize for making the statistics for your administration worse. But I don't expect an apology for the false sympathies of people like Mrs. Dunfee, and the broken promises of others like Mr. Richman.

As for my fellows students, those who made a more significant impact on my life, I know better than to expect my tormentors to mourn.

But if I’m going to address those who belittled me, I’d be remiss if I failed to include the ladies in my life. I guess that’s not entirely accurate, as the ones I refer to fall in two basic categories: those who refused to be in my life, and those who I would rather have excluded from my life. In the former category, Melinda Tunney, Jessica Silvers, and dear Kimmy Vanover, whose laughed in my face after I asked her to the homecoming dance, humiliating me in front of I don’t know how many other classmates. In the latter category are too many to mention, though I must single out Rebecca Cull and Vanessa Dietrich for their tremendous dedication to the cause of destroying any shred of self-esteem I might dare to foster. Why can’t you accept the things that make other people different rather than insisting everyone conforms to your will?

Sure, some did offer friendly gestures. Nicole Edwards often would greet me and ask about my life. Not that I ever felt comfortable enough to tell her anything; I never trusted her enough to give her the chance. What was the purpose? Did you really give a flip about the shy, quiet kid who sat behind you in 8th grade history? Or was it all about creating an illusion that you care, just to guarantee my voting for you as a class officer.

I can only conceive of one person in this world who will truly be sad at my parting. Marty, my best friend, you talked me out of this decision three times before. You even called 911 after I swallowed a bottle of pills. That is why I did not tell you anything this time, and why I do this in secret, alone. I wish you were coming with me on this great adventure, into the final frontier. Where ever I go, yours will be the one face I carry with me. The one soul I will miss. Yours is also the only forgiveness I ask and beg for as I depart from this life. I love you, and always will.

There’s another group I have not yet addressed: those not like me who left me alone. Or I should say ignored me. I appreciate your sparing me any further harassment, but your inaction, your withheld hellos and how are yous did more to hurt than any name calling. Your inaction effectively excluded me from student life, from the human race. You left me isolated and alone, and no words I could say can convey to you the suffering you caused. I could name names, but in doing so, I would do more now for you than you ever did for me in life.

I do not know if what awaits me at the end of this gun. Will there be a void? Or will I come face to face with God? I just don't care any more. If you're anything like your people, I wouldn't want to know you. You preached to love one another, yet I've felt everything except love from Christians. Even if I could know you were different, well, I still reject you. You have left your "followers" to treat people like me poorly. You have allowed so many of the people you "love", including me, to suffer. So you want me to trust you with my life? I don’t want to spend eternity with a careless deity like you, or with the company you keep.

As my final moments tick away, I wonder what impact these words will create. It depends first on this web site being found, as I doubt whether school administration will want such venom spoken publicly about their lack of caring. Still, the Internet is a remarkable place where even the least significant individual can be heard. Will anyone listen? Will anyone take action? Will students pause and pay attention to the hurting hearts around them? And even if they do, will it be a temporary salve for their egos, to convince themselves they’re really not bad people… or will real change happen?

My heart certainly goes out to my fellow outsiders. With me gone, some of you will certainly feel more of the pain and hurt that I did. No one understands you. No one cares how your day is going. No one bothers to get to know you as anything more than a nerd, a geek, a loser. You can do nothing for their social status, save the occasional boost to the ego they get from putting you in your place. Some of you, like Andy Riker, will find outlets in writing. Some, like James Moon, will have an escape in art. Some, like Sean Gilbert, will live their lives pursuing unicorns that they will never, ever catch. I never had a talent to lose myself in, or a dream or unicorn to chase, and so I have taken the path most dreaded. Some of you may soon join me, and I look forward to welcoming a brother or sister to the land where you will never suffer the loneliness and rejection that faces you now.

Farewell forever. I am going to another place. Where, I do not know. But logic dictates that it can only be an improvement. Perhaps my passing will only prove a footnote in a school yearbook. Then again, perhaps the sacrifice of one might bring hope to others. If my death makes life for one person a little more bearable, or a little more enlightened, do I really die in vain?

"The needs of the many outweigh the needs of the few, or the one."

- Adam Krieger



Semoga tidak ada lagi yang mengalami nasib seperti Adam, dan untuk itu, dibutuhkan kepedulian. Mulai sekarang, ayo kita lebih peka dan perhatian dengan lingkungan sekitar...


love, iiif