Thamrin dan Pekerja Majalah

Tadi sore sehabis kerja, iseng jalan-jalan ke Grand Indonesia (ebuset, niat amat ya. Depok-Thamrin kan jauh. Belum lagi macetnya yang nggak ketulungan, hehe). But, it's OK. Karena niatnya weekend ini memang ingin refreshing.
Sebelumnya, masih ingat kan kalau saya mengidap fetisisme berlebihan terhadap jalan Thamrin? Nggak tahu kenapa, jalan itu terasa berbeda dari jalanan lainnya. Berada di sana, apalagi menikmati hembusan angin di kala senja sembari menyesap kopi adalah suasana yang sangat menyenangkan buat saya. Dan begitu kaki saya menjejak di pedestrian Thamrin yang berlatar warna merah muda, seketika itu juga angin sore menyapa saya seolah berkata "Hai, sudah lama nggak ke sini?"
Ya, si angin benar Kapan terakhir kali saya ke sini? Saya sudah lupa karena saking lamanya nggak kesana. Di tengah kesibukan antah berantah yang saya jalani, di samping proyek-proyek nggak jelas yang saya jabani, ternyata membuat salah satu hobi saya tersebut tertelantarkan *sumpah, bahasa gue kok aneh ya?*
BTW, akhirnya saya senang karena saya kembali bisa menjajaki jalanan Thamrin. Ternyata aroma dan hembusan anginnya masih sama, dan ya.... saya sangat merindukannya.
Dengan tangan kanan menggenggam secangkir kopi berlogo S dan tangan kiri menenteng kantong Gramedia berisi novel-novel yang baru saja saya beli, berlatar lampu jalan di tengah gelapnya malam dan desauan angin, saya pun berjalan pelan di sana. Menikmati penghujung hari.
Alangkah nikmatnya. *Berharap ada yang menemani*
Anyhow, tadi saya tanpa sengaja berpapasan dengan Elco Frebliaman. Siapa dia? Mungkin banyak yang belum mengenalnya. Saya mengetahui perihal dia gara-gara saya suka membaca review majalah di magazinejunkie.blogspot.com. Usut punya usut, yang punya blog tersebut adalah seorang pria bernama Elco ini. Karena saya juga seorang magazine freak, makanya saya pun -tanpa basa basi- memulai interaksi dengan dia via sos-net. Oh ya, Elco ini juga seorang pekerja majalah, Looks! Magazine tepatnya dan pengetahuan dia soal artis Hollywood serta dunia permajalahan nggak usah dipertanyakan, nau'dzubillahimindzalik-lah pokoknya.
Tapi, waktu papasan tadi saya nggak nyapa dia. Kenapa? Karena saya kurang yakin. Saya melihat dia dari kejauhan, di dalam PI. Kita dari arah yang berlawanan. Awalnya, perhatian saya tertarik dengan kehadiran seorang cowok yang very evry very stylist. Skinny jeans, kaos + vest and fedora, cukup menarik perhatian saya. Begitu dekat tiba-tiba ting...... itu Elco bukan ya? Ya secara saya belum pernah bertemu dia sebelumnya jadi ragu-ragu gitu, hehe.
Mengapa saya menulis tentang ini? Hmm, karena saya mengidolakan Elco. Karena dia seorang pekerja majalahkah? Yup. Karena dia paham seluk beluk majalah baik nasional maupun internasional? Exactly. Karena personal style dia yang oke punya? Yoi. Karena dia dan blognya yang selalu menulis review tentang majalah sehingga menjadi referensi saya? Tentu saja. Karena hobinya memborong majalah sama dengan hobi saya? Ya begitulah kira-kira. Karena dia pernah menulis "Ada yang bertanya kenapa sih gue suka banget baca majalah? Itu karena sejak dulu gue yakin, someday gue akan kerja di majalah and now, this is it? I'm in magazine now." Kalimat tersebut juga pernah mengalir dari bibir saya dan saya *syukur Alhamdulillah* juga pernah merasakan bagaimana rasanya berada di balik sebuah majalah sambil terus berharap tentunya someday, saya kembali ke dunia majalah, dunia yang sangat ingin saya tinggali, dunia yang selalu saya impi-impikan, dunia yang menawarkan begitu banyak keistimewaan, kemewahan dan janji masa depan cerah buat saya.
Dan saya tekankan, SAYA AKAN EBRADA DI DUNIA TERSEBUT.
*Bagi siapa saja yang membaca tulisan ini, tolong doakan saya*.

love,

Comments

Popular Posts