CINTA MONYET

STRATEGIC MARKETING COMMUNICATION WORKSHOP

Aku menyeruput minuman di hadapanku dengan sikap malas dan tanpa semangat. Masalahnya tidak ada yang bisa membuatku bersemangat disini. Aku ditunjuk sebagai wakil perusahaan di seminar berskala nasional yang berlangsung selama satu minggu di Bandung, dan menjalanai waktu satu minggu di tengah orang-orang yang tidak ku kenal bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Apalagi bagi aku yang tergolong tipe orang yang susah akrab dengan orang baru. Bahkan sampai waktu makan siang pun aku baru bertukar senyum satu kali dengan peserta yang duduk di sebelahku.

Sorry, boleh duduk disini? Tempat lain sudah penuh.”

Aku mendengar seseorang bertanya dan menunjuk kursi di sebelahku.

Dengan enggan aku mengangguk dan memindahkan tas yang tadi kuletakkan di kursi itu ke kursi yang ada di depanku.

“Terima kasih.”

Aku mengangguk dan melanjutkan makan siangku dan sama sekali tidak menggubris orang itu. Dia juga tidak menggubrisku dan asyik dengan makan siang plus handphonenya.

Sorry,” ujarnya setelah sebelumnya menyimpan handphonenya, “kenapa aku merasa pernah melihat kamu sebelumnya ya?”

Basi, gerutuku dalam hati. Perjalanan panjang hidupku dan pergaulanku dengan berbagai tipe laki-laki sudah bisa membuatku tahu segala jenis rayuan mereka dan salah satunya adalah dengan mengaku pernah bertemu. Aku tersenyum sinis dan tidak menggubrisnya.

Dia terdiam cukup lama tapi aku bisa merasakan kalau dia memperhatikanku. Masa bodoh, nanti kalau dia sudah capek aku cuekin toh dia akan berhenti dengan sendirinya.

“Ya ampun,” ujarnya kaget setelah dia puas meneliti wajahku. “are you Lana?”

Degg, sekarang giliranku yang terkejut. Tahu dari mana dia namaku, tepatnya nama kecilku karena dalam dunia pekerjaan, orang-orang mengenalku sebagai Liliana dan hanya orang-orang terdekatku yang memanggilku Lana. Mau tidak mau aku menoleh ke arahnya.

Begitu aku melihatnya, dia semakin yakin dengan dugaannya dan aku juga merasakan hal yang sama. Berbagai kisah dari masa lalu bermain dalam pikiranku. Aku memilah-milah kisah tersebut dan mencari sosok yang sama dengan yang ada di hadapanku ini, tapi hasilnya nihil.

“Ya ampun Lana. Sudah berapa lama kita nggak ketemu?”

Aku memandangnya dengan dahi berkerut. “Sorry, aku nggak bisa ingat kamu siapa,” ujarku sopan.

Dia tertawa. “Lana, Lana, pelupa seperti biasa,” dia tersenyum nakal. “Thomas, Thomas Andrean, ingat?”

Aku tersentak. Thomas? Thomas Andrean teman SMA ku yang juga merupakan cinta pertamaku dulu? Nggak mungkin, kenapa dia bisa berubah sedrastis ini? Mana Thomas yang kurus ceking dengan rambut awut-awutan dan yang selalu memasang senyum menyebalkan itu? Kenapa justru sekarang yang ada malah Thomas yang rapi, atletis dan berpembawaan tenang seperti ini?

“Ya ampun Thomas. Pantesan aku lupa, kamu berubah sih.”

Dia tertawa kecil. “Waktu bertahun-tahun bisa merubah seseorang Lan.”

Aku tersenyum dan mengamati wajahnya. Yah, waktu bertahun-tahun memang bisa merubah seseorang, tapi waktu bertahun-tahun tidak bisa merubah sorot matanya yang teduh itu, sorot mata yang dulu membuatku jatuh cinta. Aku penasaran, setelah aku, sudah berapa orang cewek yang takluk oleh sorot mata itu. Tapi, dengan kehadirannya ini, ada satu hal yang membuatku lega, akhirnya ada juga orang yang ku kenal di seminar ini.

Thanks God,” ujarku lega.

“Kenapa?”

Aku tertawa kecil. “Tadinya aku pikir nggak ada yang aku kenal disini dan aku paling nggak suka berada diantara orang yang nggak aku kenal. Makanya aku bersyukur karena ternyata ada kamu.”

Thomas menggeleng pelan. “Tetap sama seperti dulu,” gumamnya.

***

“Pokoknya gue mau nonton film ini?”

“Tapi, gue nggak suka film action.”

“Lebih bagus film action daripada film cengeng pilihan lo itu.”

Aku melotot. “Apa bagusnya nonton orang berantem?”

“Ya jauh lebih asyik daripada nonton orang menangis.”

Aku mau membantah lagi, tapi dia keburu memotong omonganku.

“Minggu kemaren kita nonton film pilihan lo, jadi sekarang gantian.”

Aku gondok setengah mati. Apa-apaan ini, jelas-jelas minggu kemaren dia juga ingin nonton film yang sama, kenapa sekarang malah aku yang dituduh memilih film itu? Dasar cowok egois, tukang ngambek, cerewet, nyebelin. Pokoknya ngebetein. Lama-lama aku nggak betah juga pacaran sama dia, kebanyakan makan hati daripada senangnya.

Akhirnya hari ini aku terpaksa menonton film pilihannya dengan gondok, dan sesuai dugaanku tadi, film itu nggak ada bagus-bagusnya, tapi dasar cowok aneh, dia malah memuji-muji film itu.

***

Aku tertawa kecil. Entah kenapa kenangan itu terlintas di pikiranku. Apa mungkin karena aku masih tidak percaya kalau aku bertemu Thomas disini? Aku mengalihkan pandangan ke arahnya yang sedang menyampaikan argumennya. Sangat berbeda. Dia berbicara dengan tenang, pilihan katanya menarik sehingga dia terlihat sangat menguasai topik ini, dan bahasa tubuhnya juga mendukung, membuat dia terlihat wise dan dewasa. Tiga tahun mengenalnya dan dua tahun menjadi pacarnya, aku belum pernah menemukan pemandangan ini di diri Thomas. Aku jadi heran kenapa dia berubah sedrastis ini. Dan waktu aku menanyakan hal tersebut, dia malah menjawab karena pengaruh umur.

Malamnya, ketika aku sedang bersantai di pinggir kolam menghapus rasa capek, tiba-tiba saja Thomas datang dan merebut buku yang sedang ku baca.

“Thomas, apa-apaan sih?” semburku dan merebut kembali bukuku.

Dia tertawa kecil. “Jalan-jalan yuk.”

“Kemana?”

Thomas mengangkat bahu. “Aku mau cari oleh-oleh.”

Aku merasa sangat capek, tapi aku mengiyakan ajakannya karena aku ingin berada di dekatnya. Akhirnya malam ini kita habiskan dengan berburu oleh-oleh. Kita menyusuri berbagai factory outlet yang tersebar di setiap pelosok kota Bandung. Dia membeli banyak pakaian, katanya untuk keluarganya. Sesekali aku iseng bertanya apa dia nggak membeli oleh-oleh untuk pacarnya, tapi dia hanya mengangkat bahu dan tidak menjawab pertanyaanku. Aku jadi penasaran, apakah sekarang dia single atau sudah punya pacar atau mungkin menikah? Dan, sekelebat perasaan cemburu muncul waktu aku berpikir kalau Thomas sudah punya pacar, apalagi menikah.

Dasar goblok, kenapa aku membiarkan pikiran bodoh itu muncul sih? Dia itu mantan pacarku, cinta monyet zaman SMA dulu, kenapa sekarang harus cemburu? Aku menggeleng dan mengusir pikiran itu.

“Kenapa tiba-tiba menggeleng sendiri?” Tanya Thomas heran. Saat itu kita sedang makan jagung bakar di pinggir jalan.

“Nggak kenapa-napa. Cuma kedinginan,” ujarku beralasan.

“O…” Dia mengangguk dan membuka jaketnya dan memberikannya kepadaku. “Pakai ini, biar nggak kedinginan.”

Aku tidak segera mengambil jaketnya. Aku malah menatapnya tajam dengan perasaan berkecamuk. Kenapa di saat kita tidak punya hubungan apa-apa dia malah perhatian sama aku? Kenapa perhatian ini tidak diberikannya dulu, waktu aku masih menjadi pacarnya. Aku masih ingat betapa aku dulu sangat menginginkan perhatian darinya, sekecil apapun, tapi perhatian itu tidak pernah ada. Selama dua tahun pacaran yang ada hanya pertengkaran dan ngotot-ngototan.

“Lana?” panggil Thomas.

Aku terkesiap. Buru-buru aku menyambar jaketnya.

“Lagi mikirin apa?”

“Masa lalu,” jawabku pelan.

Thomas menghembuskan nafas keras. “Aku belum menanyakan kabar kamu sekarang?”

“Yah beginilah. Aku nggak bisa mengejar karier sebagai seorang pengacara, jadinya malah terdampar di dunia marketing,” jawabku asal.

“Memang kamu cocoknya di bidang ini. Kamu selalu kalah dalam berargumen.”

“Aku cuma kalah berargumen dengan kamu karena kamu egoisnya minta ampun. Masa masalah nonton saja bisa berlarut-larut.”

Thomas tertawa. “Wajarlah, namanya juga anak SMA,” ujarnya sambil meraih tangan kiriku. “Aku pikir kamu sudah menikah,” gumamnya.

Aku mencibir. “Aku masih 26 tahun. Memangnya kenapa kalau aku masih single?”

“Lho? Bukannya dulu kamu bilang ingin berkeluarga sebelum umur 25 tahun? Ini sudah lewat satu tahun lo,” ujar Thomas sambil mengulum senyum.

Aku tersenyum tipis. Omongan itu, meskipun maksudnya hanya untuk menggodaku, entah kenapa mampu membuat dadaku jadi berdesir. Terlebih saat Thomas tidak pernah melepaskan tatapannya dariku. Tanpa terasa aku jadi tersipu-sipu malu, sama seperti Thomas menatapku lama sekali waktu rapat OSIS di saat SMA dulu.

“Kenapa?”

Aku menggeleng dan berusaha meredakan debaran di dadaku. “Tidak semua rencana menjadi kenyataan. Mungkin saja Tuhan punya rencana lain dengan tidak mengizinkan aku menikah sebelum umur 25,” jawabku pelan. Ya, mungkin saja Tuhan punya rencana lain, seperti dia merencanakan pertemuan tidak disengaja ini, lanjutku dalam hati.

Thomas hanya mengangkat bahu, tapi matanya tetap tidak pernah lepas dari wajahku. Aku balas menatapnya dan hal ini mengakibatkan kecamuk dalam dadaku makin menjadi-jadi.

***

“Gue nggak bisa pacaran jarak jauh. Kita satu sekolah saja masih suka bertengkar, apalagi kalau pacaran jarak jauh?”

Aku menunduk. Dia benar. Bisa ketemu tiap hari saja masih suka bertengkar, dan itu seringkali disebabkan oleh hal-hal sepele. Kita sama-sama keras dan tidak ada satupun yang mau mengalah. Selama ini, setiap kali bertengkar, tidak pernah ada penyelesaiannya. Dan aku yakin, jika kita terpisah pun, kita tidak akan bisa menghindari pertengkaran itu dan tentu saja itu bukan pertanda sebuah hubungan yang sehat. Tapi, apa benar putus adalah solusi yang terbaik. Jujur saja, aku masih menyayanginya meskipun aku juga sering dibuat kesal olehnya.

“Harus banget ya kuliah di Australia?”

Dia mengangguk. “Ini cita-cita gue sejak dulu.”

Aku menghela nafas panjang. “Kalau itu sudah menjadi keputusan lo, gue bisa apa.”

Dia memelukku erat, untuk yang terakhir kalinya. Malam itu, di pesta perpisahan sekolahku, aku juga harus berpisah dengan orang yang kusayangi, orang yang sudah dua tahun ini mengisi hari-hariku dengan menjadi pacarku –meskipun sebagian besar kita habiskan dengan bertengkar-. Malam ini, semuanya berakhir. Mulai besok, tidak ada lagi orang yang selalu mengajakku berantem dan adu argumen.

***

“Kapan pulang dari Australia?”tanyaku di sela-sela makan siang.

“Begitu lulus kuliah aku langsung balik ke Indonesia.”

Aku mengangguk. Akhirnya, setelah hampir delapan tahun kehilangan kontak dengannya, hari ini aku bisa berbincang-bincang lagi dengan Thomas. Tadi dia memintaku untuk menceritakan kehidupanku sejak malam perpisahan itu –tepatnya sejak malam kita putus- karena dia langsung berangkat ke Australiaa nggak beberapa lama setelah malam perpisahan itu. Aku tidak pernah mendengar kabar apa-apa lagi tentang dia kecuali kalau dia kuliah di Australia. Ternyata Thomas sudah kembali ke Indonesia tiga tahun yang lalu dan bekerja di bidang marketing, sama seperti aku. Bidang pekerjaan itulah yang mempertemukan kami disini. Thomas sangat bersemangat menceritakan tentang pekerjaannya, tapi begitu kusinggung soal kehidupan pribadinya, dia segera mengalihkan pembicaraan. Padahal tadi aku sama sekali tidak menolak bercerita tentang kehidupan pribadiku, termasuk keadaanku yang sedang menjomblo setelah putus dari pacarku yang selingkuh satu tahun lalu.

“Setelah aku, ada berapa orang cewek yang kamu ajak adu argumen?” tanyaku halus padahal maksud sebenarnya adalah ada berapa orang cewek yang pernah jadi pacarnya.

“Nggak banyak. Bule-bule itu kalah nyolot di banding cewek Indonesia.”

Spontan aku merasa melayang karena mengira cewek Indonesia yang dimaksud adalah aku. “Bagus dong. Itu berarti kamu nggak harus capek-capek menghadapinya.”

Dia menggeleng kecil. “Cewek nyolot lebih menantang.”

“Tapi aku nggak mau nyolot lagi. Terakhir kali pacaran cowokku bilang kalau salah satu alasan dia selingkuh karena nggak tahan menghadapi sifat nyolotku.”

Thomas tertawa. “Baguslah kamu sudah putus dari dia. Itu artinya kalian nggak cocok,” ujarnya sambil meraih jariku. “Kamu tahu nggak, aku benar-benar menganggap serius omongan kamu yang ingin menikah sebelum umur 25. Aku pikir itu sudah jadi kenyataan meskipun aku tidak menerima undangannya. Tapi, ternyata begitu kita bertemu lagi, kamu masih sendiri.”

“Kenapa kamu menganggapnya serius? Namanya juga omongan anak SMA dan belum tentu itu benar.”

“Kamu ngomongnya serius dan kamu bahkan sudah membuat rencana seperti apa pernikahan kamu nanti. Kamu ingat kan kita juga pernah bertengkar tentang hal itu?”

Aku tertawa. “Iya sih, tapi kalau belum ada yang cocok kenapa harus dipaksakan?” uajrku sambil menatapnya tajam. “Kamu sendiri?”

Thomas melepaskan tanganku. “Jadi kamu satu-satunya wakil perusahaan di seminar ini?”

“Kenapa kamu selalu mengalihkan pembicaraan setiap kali aku bertanya tentang kehidupan pribadimu?”

“Aku nggak mengalihkan pembicaraan, cuma….” Omongannya terpotong karena handphonenya yang tiba-tiba saja berbunyi. “Permisi sebentar.”

Aku menatap Thomas yang asyik mengobrol di telepon. Kenapa dia selalu mengelak sementara dia terus mencecarku untuk mengetahui kehidupan pribadiku. Apa sebenarnya yang dirasakan Thomas sekarang? Apa dia juga terlalu larut dalam nostalgia masa lalu seperti aku? Aku menggeleng. Aku beruntung bisa bertemu dia lagi dan kembali mengulang kebersamaan kita dulu, tapi kenapa sekarang aku malah menginginkan lebih? Aku menginginkan Thomas, bukan hanya sebagai bagian dari masa laluku yang kebetulan bertemu dan sama-sama bernostalgia tentang masa lalu. Aku meginginkan Thomas sebagai bagian dari kehidupanku yang sekarang, mengulang kembali kebersamaan yang dulu pernah ada, tapi dalam konteks masa kini. Aku menginginkannya menjadi milikku di kehidupanku yang sekarang, seperti aku pernah memilikinya di kehidupanku yang dulu.

Tapi, aku tidak pernah tahu apa yang dirasakannya.

***

Malam ini adalah malam terakhir aku berada di sini. Sekarang sedang berlangsung acara penutupan berupa makan malam di sebuah café di Bandung. Harusnya aku senang karena besok aku bisa kembali ke orang-orang yang aku kenal. Tapi kenyataannya aku malah sedih, dan penyebabnya adalah Thomas.

Setelah delapan tahun tidak bertemu, mengapa aku hanya diberi waktu satu minggu untuk bersama dengannya. Terlebih, di saat aku mulai menginginkannya lagi, aku malah harus berpisah dengannya. Aku memisahkan diri dari rekan-rekanku yang lain dan menyendiri di tepi kolam.

“Kenapa kamu disini?”

Seseorang mengagetkanku dan aku tahu kalau itu adalah Thomas.

“Kamu sendiri?”

“Tadi aku melihat kamu keluar dan menyusul kamu kesini,” ujarnya sambil menyampirkan jas yang tadi dipakainya ke pundakku. Biar nggak kedinginan, bisiknya.

Tanpa sadar aku merebahkan kepala ke pundaknya. “Thomas, mengapa setelah bertahun-tahun tidak bertemu kita hanya di beri waktu satu minggu?”

Thomas merangkul pundakku.

“Aku senang bertemu kamu lagi dan mengenang kebersamaan kita dulu.”

“Lana, aku juga senang, apalagi aku tetap menemukan kamu sebagai Lana yang aku kenal dulu. Bedanya Lana yang sekarang jauh lebih dewasa dan cantik. Percayalah, aku juga masih sama seperti Thomas yang dulu walau mungkin sekarang aku nggak semenyebalkan dulu.”

Aku tertawa. “Apa mungkin ya kita mengulang kebersamaaan kita dulu lagi sekarang?”

Rangkulan Thomas menegang. Dia menundukkan wajahnya ke balik rambutku dan bernafas berat. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya, tapi aku tahu ada yang sedang berkecamuk di hatinya. Seandainya dia mau jujur dan menceritakan apa yang sedang membuatnya gelisah seperti ini meskipun sebenarnya aku juga sedang gelisah. Aku gelisah karena tidak sanggup menghadapi kenyataan kalau aku akan berpisah lagi dengannya di saat keinginanku untuk bersamanya semakin membuncah.

“Lana, seandainya kita dipertemukan lebih awal….”

Aku tersentak. “Maksud kamu?”

Thomas spontan melepaskan rangkulannya. Dari raut wajahnya aku bisa menangkap kalau tadi dia tidak sengaja ngomong seperti itu. Lagi-lagi dia mengalihkan pembicaraan dengan menarikku masuk ke dalam ruangan karena pihak penyelenggara menyuruh para peserta untuk berkumpul.

Dan sampai malam itu berakhir, sedikitpun Thomas tidak pernah membahas omongannya tadi. Apa Thomas juga memikirkan hal yang sama denganku?

***

Beberapa bulan kemudian…

Ditelepon pagi-pagi buta di hari libur bukanlah suatu hal yang menyenangkan. Tapi, amarahku langsung reda begitu tahu kalau yang menghubungiku adalah Thomas.

Thomas mengajakku bertemu malam ini.

Aku melompat kegirangan. Apa selama ini dia juga sama gengsinya denganku dan sekarang dia sudah tidak tahan lagi dan akhirnya mengalah dan menghubungiku. Aku sudah tidak sabar karena kegugupan Thomas waktu di telepon tadi sama persis dengan kegugupannya sesaat sebelum menembakku dulu.

Aku sengaja menelatkan diri lima menit dari jadwal agar Thomas tidak menangkap perasaan bahagiaku yang meledak-ledak. Dan begitu aku datang, Thomas sudah menungguku.

“Apa kabar?” tanyanya basa basi.

“Baik.”

Lagi-lagi sikap gugup Thomas membuatku semakin yakin dengan dugaanku tadi pagi. Buktinya dia terus mengulur-ngulur waktu dengan mengajakku bicara tentang hal-hal yang tidak penting, keadaan kantorlah, isu-isu hangat sekaranglah, keadaan cuacalah dan dia selalu tampak gugup sambil sesekali menggigit bibirnya.

Dan aku sudah muak dengan segala basa basi ini.

“Sebenarnya kamu mengajak aku ketemuan karena ada hal penting apa?” desakku.

Thomas terdiam selama beberapa saat seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.

“Thomas?”

Thomas menatapku tajam dan menggenggam tanganku. “Waktu aku bilang kalau bule-bule itu kalah nyolot dibanding cewek Indonesia, itu bukan tanpa alasan yang jelas. Butuh waktu lama untuk melupakanmu. Waktu dua tahun bersamamu bukan waktu yang singkat untuk membuatku bisa melupakanmu begitu saja. Waktu dua tahun menyayangimu, meskipun sebagian besar kita lewati dengan pertengkaran, cukup membekas dalam waktu yang lama di hatiku.”

Aku terdiam, menunggu kelanjutan kata-katanya selanjutnya.

“Tapi waktu delapan tahun juga bukan waktu yang singkat untuk memulai sesuatu yang baru. Aku mencoba dan terus mencoba untuk memulai sesuatu yang baru, termasuk dalam percintaan.”

Aku semakin bingung.

“Waktu di Bandung aku sengaja nggak mau membahas tentang kehidupan pribadiku karena euphoria waktu bertemu kamu begitu kuat. Aku ingin tahu semua hal tentang kamu, sekecil apapun dan aku terjebak dalam nostalgia masa lalu kita.”

“Thomas, intinya apa?” Aku sudah tidak sabar. Kenapa kamu selalu butuh waktu lama untuk menyatakan cinta sih?

Thomas melepaskan tanganku dan mengambil sesuatu yang dari tadi disembunyikannya. Dia menyerahkannya kepadaku. Sebuah undangan.

Mendadak jantungku berdebar kencang. Apa maksudnya ini? Aku menatap Thomas untuk meminta penjelasan tapi dia malah menunduk, tidak berani menatapku. Dengan perasaan campur aduk, aku membalik undangan itu.

Jantungku nyaris berhenti ketika membaca nama yang tertera di sana, THOMAS dan ANNETTE

***

Aku menghapus air mata yang tidak mau berhenti turun sejak semalam. Aku bisa merasakan kalau mataku bengkak, tapi tetap saja aku tidak bisa berhenti menangis.

Semalam, semua impianku hancur. Thomas mengajakku bertemu bukan untuk memintaku kembali ke dalam kehidupannya, tapi untuk memberitahuku kalau sudah ada perempuan lain yang memasuki kehidupannya.

Dengan hati yang hancur, aku berusaha untuk tampak tegar di depan Thomas. Dengan berat hati aku mengulurkan tangan dan memberikan ucapan selamat kepadanya. Sambil menahan air mata aku mengizinkannya untuk memelukku, untuk yang terakhir kalinya. Dengan mata berlinang aku membiarkannya pergi, dari kehidupanku, untuk yang kedua kalinya dan untuk selamanya.

Dengan perasaan hancur aku membuka undangan pernikahan Thomas dan menemukan sepucuk surat disana. Surat yang berisi ungkapan hatinya yang sebenarnya…

Lana…

Aku tidak menyangka kalau pertemuan singkat kita membawa cerita baru dalam kehidupanku. Awalnya aku berpikir kalau perasaan ini hanya euphoria sesaat karena kita sudah lama tidak bertemu. Tapi, ternyata aku salah…

Bertemu kamu membuatku berpikir kalau kamu adalah bagian terindah dari kehidupanku yang dulu, Lana yang sampai kapanpun tetap mampu membuat perasaanku campur aduk…

Dan aku terlambat. Seandainya kita bertemu lebih awal, sebelum aku mengikat janji dengan perempuan lain, perempuan yang tidak mungkin kutinggalkan meskipun dengan alasan untuk memperjuangkan kamu..…

Tapi, sekarang aku harus bisa menerima kalau aku hanya bisa memiliki kamu di kehidupanku yang dulu. Aku tidak akan pernah memiliki kamu di kehidupanku sekarang, apalagi nanti…

Lana, semoga kamu berbahagia…

Thomas

Lagi-lagi aku menangis. Seandainya dulu aku sedikit mengalah dan mencoba bersabar dengan Thomas, mungkin sekarang aku masih memiliki dia. Seandainya dulu aku tidak pernah membiarkan dia pergi dan memutuskan hubungan itu, mungkin aku tidak akan pernah menerima undangan ini. Atau mungkin namaku yang tertera di undangan itu, bukan ANNETTE.

Atau andai saja aku tidak pernah ke Bandung dan bertemu dia, mungkin aku tidak harus menguatkan hatiku untuk meyakini bahwa aku hanya bisa memiliki Thomas di kehidupanku yang dulu…

Tapi, semuanya hanya pengandaian. Kenyataannya? Aku harus menanggung rasa sakit ini dan merelakan kepergiannya bersama wanita bernama Annette.

Semoga kamu berbahagia disana, bisikku lirih.


love, iif

Comments

Popular Posts