Jangan Biarkan Aku Tertidur

Disinilah aku sekarang...
Duduk termangu di taman belakang rumah. Air kolam beriak ringan. Ikan-ikan kecil berenang lincah kian kemari. Angin bertiup pelan, memainkan kuntum bunga dan menyapa manja dedaunan. Sayup-sayup dari sudut kamar denting gitar mengalun lembut dari CD Player-ku. Dari seberang jalan, anak-anak berteriak nyaring bermain lompat tali.
Sebenarnya aku sedikit mengantuk, tapi aku tidak mau tidur. Aku tidak ingin tidur. Aku memaksa -sekuat tenaga- agar kelopak mataku tetap terbuka.
Aku tidak ingin tidur bukan karena banyaknya beban pikiranku saat ini, melainkan karena aku takut untuk tidur. Aku takut, jika aku memejamkan mata maka aku akan memimpikan dia, seperti hari-hari sebelumnya. Saat mataku terpejam, maka saat itulah dia hadir menggerayangi mimpiku. Dia yang telah menghancurkan hatiku, mengubur mimpiku dan menggoncang duniaku. Dan sekarang, setelah kepergiannya yang entah kemana, dia tetap saja masih menyiksaku dengan selalu hadir di mimpi-mimpiku.
Tidak, aku harus tetap terjaga. Aku tidak ingin terus-terusan dihantui mimpi tentang dia yang membuatku terpaksa bangun di pagi hari dengan berlinang air mata. Aku lelah. Aku lelah jika hari-hariku tetap terikat dengannya. Aku ingin bebas darinya, tidak tepatnya aku ingin hatiku bebas. Bebas dari namanya, bebas dari kenangan akan dia, bebas dari cinta untuknya, bebas dari segala hal tentang dia.
Itu harus...
Angin berhembus sedikit kencang, memainkan rambut di tengkukku dan membuatku menguap kecil. Tidak, aku menggelengkan kepalaku, mengusir kantuk yang kian menguasaiku. Aku memfokuskan pandangan pada ikan-ikan kecil di kolam. Mereka tampak bebas berenang, bercanda tawa dengan sesama mereka. Tak ada yang diam sendirian. Semuanya terlihat bahagia.
Ikan kecil itu seperti aku dulu, jauh sebelum aku mengenal dia. Jauh sebelum hari-hariku dikuasai olehnya, saat aku masih bebas berlari kemanapun sekehendak hatiku, bercengkrama dengan siapa saja. Di saat hatiku masih terasa ringan. Di saat aku masih menatap dunia sebatas hitam dan putih, tidak ada area abu-abu, tidak ada permainan perasaan di dalamnya.
Tukk... kepalaku terantuk daun pintu karena mengantuk. Lagi-lagi aku menggelengkan kepala. Ini sudah berbahaya. Aku tidak ingin takluk di tangan kantuk karena kantuk akan menggiringku ke peraduan mimpi dan dia sedang menungguku di sana.
Meskipun aku merindukannya, aku tidak ingin memimpikannya. Ya mungkin karena aku maih terlalu mencintainya dan menginginkan kehadirannya, nyata, bukan dalam angan fana bernama mimpi. Aku menginginkan kebersamaan yang pernah terjalin dulu, saat kakiku menapak beriringan dengannya, saat jemarinya bertaut erat di jemariku, saat kecupan lembutnya memenuhi hari-hariku, saat rangkulannya membuatku merasa aman dan mantap untuk melakukan apapun. Aku menginginkan kembali desahan nafasnya di telingaku saat membisiki kata cinta untukku, aku menginginkan kembali sentuhan lembutnya di sekujur tubuhku yang membuatku bergidik manja, aku menginginkan kembali senyumannya yang menghiasi pagiku, aku menginginkan kembali momen bahagia di saat kita menatap purnama pertama setiap bulannya, atau berbaring di bawah taburan bintang. Aku menginginkan itu semua.
"Gukk gukk..." gonggongan Golden Retriever milikku membuyarkan lamunanku, membuat mataku mendadak terbuka.
Apakah tadi aku sempat tertidur. Sial, itu tidak boleh terjadi....
Aku mengalihkan perhatian kepada apa saja, asalkan aku tidak tertidur. CD Playerku sudah memainkan lagu baru. Anak-anak kecil yang bermain lompat tali sudah tak terlihat lagi. Angin masih saja bertiup centil, menyentuh semua yang bisa disentuhnya. Ikan-ikan kecil tak pernah lelah, terus berenang. Dan aku? Kian di buai oleh kantuk.
Sore sudah mulai memudar. Perlahan, kegelapan malam mulai tampak. Aku menengadah menatap langit. Bintang-bintang mulai bertaburan. Di sana, beberapa meter di hadapanku terhampar taman rumput kecil tempat kita biasa berbaring bermandikan cahaya bintang. Di sana, beberapa waktu yang lalu, aku masih bisa mendengarkan bisikan cinta dari bibirnya di telingaku, aku masih bisa merasakan dia memainkan jemariku, aku masih bisa mengingat senyuman nakalnya saat melihat aku yang kesusahan merapikan rambutku yang diterbangkan angin, aku masih bisa merasakan pelukannya, kecupannya, belaiannya... dan....
Tidak, aku memaki diriku sendiri. Hentikan, jangan ingat-ingat itu lagi.
Namun, sekuat apapun aku berontak, otakku tidak mau di ajak bekerja sama. Malam ini adalah purnama pertama di bulan Juni. Purnama pertama adalah kesukaan kita. Setiap purnama pertama muncul, kita pasti akan berdiam diri menengadah menatap langit. Bergandengan tangan, atau terkadang berangkulan. Dalam hening seperti itu, hanya ada suara semilir angin, aku bisa merasakan hembusan cinta kami di udara. AKu tidak merasa takut saat itu, sedikitpun, karena aku memilikinya.
"Gukk gukk..." Golden Retriever-ku kembali menyalak ringan, tapi mataku terlalu berat untuk ku buka meskipun aku ingin segera terbangun. Tapi, aku tidak bisa karena...
Ya Tuhan, dia ada di sana. Menungguku di taman rumput. Ya Tuhan, dia memanggilku, menyuruhku mendekat. AKu mendapati kakiku berlari ringan mendekatinya. Begitu aku sampai di tempatnya, dia segera menarikku untuk berbaring di sebelahnya. Dia menjadikan lengan kirinya sebagai bantal untukku.
"Kamu tahu..." dia berbisik di telingaku, "dimanapun kamu berada, ketika kamu melihat purnama pertama, bentuknya akan selalu sama. Itu yang membuatku sangat menyukainya."
Aku tersenyum mendengar kata-katanya. Kalimat itu, entah untuk yang ke seratus kalinya dia mengucapkannya, tapi aku tak pernah merasa bosan.
"Aku akan selalu berbaring menatap purnama pertama, di manapun aku berada. Dan kamu juga akan melakukan hal yang sama. Jika hal itu terjadi, aku akan merasa bahagia karena aku tahu kamu milikku."
Tukkk... kepalaku terantuk daun pintu dan seketika mataku terbuka. Bayangannya lenyap. Aku kembali dilemparkan ke dunia nyata setelah sedetik aku bermimpi.
Aku menguap. CD Player-ku sudah berhenti memainkan lagu. Suasana hening dan ketika aku menengadah menatap langit, purnama pertama telah muncul di sana.
Dengan langkah gontai aku berjalan menuju taman rumput. Aku membaringkan diriku di sana, menjadikan lengan kiriku sebagai bantal. Tanpa bisa ku cegah, mataku perlahan-lahan mulai menutup.
Biarlah, untuk kali ini aku mengizinkan diriku untuk tertidur, untuk menikmati mimpi bersamanya karena meskipun sedikit, masih ada bagian hatiku yang membenarkan dan percaya bahwa saat ini dia juga tengah melakukan hal yang sama denganku: memandang purnama pertama, dimanapun dia berada sekarang.
Biarlah kami terhubung dan biarlah aku menemuinya dalam mimpi.
Karna sampai saat ini, aku masih mencintainya...
Teramat mencintainya...
Itu pasti..
"Gukk gukk..." Golden Retriever-ku menyalak lemah. Mungkin dia mengantuk juga. Biarlah dia tertidur juga dan menikmati mimpinya sendiri.


Bandung, 26 Juni 2010
Taman Belakang Monik House, di sela-sela Sister Takes A Trip
iif

Comments

Popular Posts