Suatu cerita tentang dia yang tersayang

Saya sedang mengerjakan tugas kuliah ketika tiba-tiba ke-distract sama salah satu jejaring sosial. Sebut saja namanya Twitter. Saya membaca twitt teman-teman saya dan ada satu yang membuat saya tertarik. Salah seorang teman saya memberikan link ke postingan terbaru di blognya. Dan, saya pun membuka link tersebut.
Postingan tersebut bercerita tentang kerinduannya pada sang ayah yang telah meninggal dunia. Dia bercerita dengan lancar dan kata-katanya mengalir begitu saja, bagaimana kehidupan mereka semasa sang ayah masih ada, bagaimana si anak yang begitu menyayangi ayahnya dan bangganya si ayah ketika anaknya masuk UI, bagaimana ketabahan si anak ketika ayahnya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa.
Jika kalian mengenal teman saya ini, kalian tidak akan percaya bahwa kata-kata indah itu keluar dari pikirannya. Saya sendiri juga tidak percaya. But, it's real. Ini tulisannya dan hasil pemikirannya.
OK, sekarang saya tidak ingin mengomentari postingan teman saya tersebut. Intinya adalah, saya terharu dengan tulisannya itu dan saya pun teringat ayah dan ibu saya di Bukittinggi. Terakhir kali kita bertemu adalah lebaran tahun lalu.
Saya merindukan mereka. Tubuh ringkih yang di balut usia, yang semakin uzur dimakan hari tapi senyum dan semangatnya tak pernah luntur menemani setiap langkah kaki saya setiap hari. Doa yang keluar dari hatinya menjadi penuntun jalan saya, pengingat setiap kali saya berbuat kesalahan, lentera di kala gelap saya dan pelindung saya. Mereka tak henti-hentinya mencurahkan kasih sayang kepada saya, sementara saya? Apa yang saya berikan?
Mungkin saya bukan anak yang baik. Kebanggan yang saya berikan kepada mereka bisa dihitung dengan jari sedangkan entah berapa ribu kekecewaan yang saya lemparkan ke muka mereka. Tapi, sedikitpun mereka tidak pernah menunjukkan kekecewaannya. Mereka tetap mendukung saya, berdiri di belakang saya, ikut berlari ketika saya berlari padahal langkah renta itu semakin susah dipakai untuk menjejak tanah. Sedikitpun tidak ada keletihan disana, apalagi keluhan.
Mama Papa...
Aku kangen kalian. Aku kangen saat aku berkejar-kejaran dengan papa di atas rumput, atau ketika mama menghadiahi aku majalah Bobo dan aku membacanya sambil memerhatikan beliau mengajar di depan kelas. Setiap kebandelanku dibalas dengan senyum dan nasihat. Setiap kesalahanku dibalas dengan maaf dan arahan ke jalan yang lebih baik. Mereka tidak pernah membalas setiap amarahku -amarah yang selalu ku sesali- atau meladeni setiap keluh kesahku -yang tidak ada apa-apanya di banding apa yang telah mereka lakukan- atau menyalahkan ngambek dan ngototku.
Aku melempar api ke muka mereka tapi mereka justru menyiramku dengan tetes embun pagi...
Begitulah mereka, orang tuaku...
Mama papa....
Aku kangen kalian. Kapan kita bisa bertemu lagi? Aku doakan kalian selalu sehat dan tetap bersabar menanti sampai tiba saatnya aku membuat kalian bangga.
Tunggulah karena aku janji, saat itu akan tiba.

Love, anakmu yang manja, iif

Comments

Popular Posts