Sunday, March 12, 2017

Satu Bulan Tanpa Drama Korea, Menjadi Lebih Produktif


Oke, ini pengakuan. I’m Korean drama addict. Addict di sini maksudnya sudah benar-benar parah. Terutama beberapa waktu terakhir, bisa paralel menonton beberapa judul sekaligus. Kalau dilihat-lihat, ada beberapa faktor yang bikin kenapa gue jadi addict banget.

1.                  Pengaruh Pekerjaan

No, it’s not an excuse. Ini beneran. Pekerjaan ‘mengharuskan’ gue untuk selalu update dan tahu soal drama Korea. Dengan begitu, gue bisa menulis artikel soal ini. Satu judul bisa diolah jadi banyak judul dan tema. Satu genre bisa diolah jadi belasan artikel. Kenapa? Karena ini salah satu jenis tulisan yang disukai pembaca. Sehingga tertantang untuk mengolah banyak ragam tulisan dari satu judul. Sekadar recap aja udah basi. Sekadar hard news aja udah basi. Harus pintar mengolah. Life lesson and love lesson are two must-have-things yang harus dibikin. Fashion, beauty, friendship, location, anything, ada banyak banget yang bisa diolah. Dan untuk ngedapetin itu semua mau enggak mau ya harus nonton. Kalau cuma tahu aja, berasa kok di tulisannya. Kering, sekadar nerjemahin dari website luar. Lagipula, dengan nonton banyak judul, ragam tulisan yang bisa dibikin jadi lebih banyak. Bisa ngegabungin beberapa judul sekaligus, misal genre, tema, pemainnya, ceritanya, anything.

2.                  Cerita yang Makin Beragam

Drama Korea itu enggak bikin lo bisa istirahat. Belum juga satu judul selesai, penggantinya sudah ada. Drama yang akan tayang bulan Mei 2017 aja, November 2016 udah ada beritanya (contoh: The King’s Love). Itu baru di satu stasiun TV. Itu baru di satu hari. Itu baru di satu jam penayangan. Kalau dijumlahin setiap hari di semua stasiun TV, ya wassalam deh banyak banget yang bisa ditonton. Untung gue masih menyortir dari genre dan pemain, sehingga enggak maksa harus nonton semua.

3.                  Teman-Teman Nonton Semua

Sumpah, kalau untuk yang satu ini gue enggak ngerti. Kenapa tiba-tiba teman-teman gue di Twitter belakangan ini ngomonginnya drama Korea mulu. Seingat gue dulu jaraaang banget ada temennya buat diskusi. Sekarang kayaknya semua tumpah ruah pada nonton juga. Contohnya kayak waktu Goblin tayang. Semuanya ngomongin Goblin. Sampai-sampai temen gue yang enggak ngerti dan enggak nonton drama aja tahu ceritanya Goblin kayak apa, mengingat semua orang ngomongin. Ya kalau banyak temennya gini kan asyik, bisa diskusi bareng. Enggak harus menderita histeris dan gila sendiri.

Anyway, itu hanya sebagian alasannya. Dan emang, drama Korea ini candu banget. Buat pengin tahu kenapa kita betah banget nonton drama Korea, bisa cek artikel gue di cewekbanget.id. Ini link-nya: Menurut ahli entertainment Korea, 6 alasan kita suka banget menonton drama Korea.


Back to the topic. Di akhir Januari 2017, waktu itu gue lagi nonton Defendant dan Voice. Ini salah dua drama yang gue tunggu-tunggu karena genre thriller-criminal. Defendant ada Ji Sung, one of my favorite actor dan Yuri, one of my girl crush. Sinopsisnya menjanjikan ketegangan. Juga Voice, meski pemainnya bukan favorit gue, tapi dari sinopsisnya itu menjanjikan adegan kriminal sadis yang seru. Benar saja, dua episode pertama bener-bener bikin gue terjerat sama drama ini. Itu baru dua. Ada Tomorrow With You, Hong Gil Dong, dan lainnya. Kalau diturutin, waktu gue habis sama judul-judul ini.
Waktu lagi nonton itu, pandangan gue enggak sengaja terarah ke rak buku. Gue jadi bertanya-tanya sendiri, kapan terakhir kali gue membaca buku? Yang ada buku-buku itu cuma jadi pajangan. Lalu, gue melihat laptop, yang akhir-akhir ini lebih sering dipakai buat nonton ketimbang menulis—padahal tujuannya punya laptop kan buat nulis?
Intinya, gue jadi tersadar kalaus udah banyak membuang-buang waktu. Dan jadi enggak produktif. Enggak 100% buang-buang waktu sih karena gue menghasilkan beberapa tulisan untuk kerjaan. Namun tulisan pribadi? Nihil.
Akhirnya gue memutuskan buat satu-bulan-tanpa-drama-Korea.

Hasilnya?

Susah. Karena gue terlanjur notnon Defendant dan Voice. Reviewnya bagus banget, dan yang ada bikin gue makin penasaran. Belum lagi kalau main ke Twitter dan baca twit temen-temen gue. Godaan buat buka laptop dan nonton itu kuat banget.
Pada akhirnya gue berhasil menjalani satu bulan tanpa drama Korea. Gue menyelesaikan membaca lima novel dan menulis tiga bab. Sebuah pencapaian luar biasa, menurut gue. Tapi ini belum optimal, karena Red Velvet comeback aja gitu Februari dan rajin live di V apps, jadinya sesekali terdistraksi sama mereka. Juga main Supersar SMTOWN yang nagih, he-he.

Kesimpulan

Ketika menulis blog ini, gue sampai ke satu kesimpulan. Akar dari masalah ini adalah gue yang enggak bisa mengendalikan rasa malas. Dan ngebiarin diri gue terlarut-larut dalam rasa malas. Yang namanya malas kan kalau dibiarin bakalan terus menjadi-jadi. Dia enggak akan berkurang dengan sendirinya, kecuali kalau kita berusaha untuk melawannya.
Malas, itu dia pokok masalahnya. Drama Korea hanya alasan, karena gue pengin bermalas-malasan, jadilah menontonnya. Di februari ini, gue juga sempat diserang rasa malas yang lain, yaitu pengin tidur aja. Sesekali emang kalah, tidur aja gitu padahal belum ngantuk dan akhirnya berjam-jam cuma berbaring enggak ngapa-ngapain atau scrolling Instagram.
Agar bisa produktif dan menghasilkan sesuatu, rasa malas itu memang harus dilawan. Terakhir gue baca banyak buku itu 2014, bisa mencapai sekitar 80-an buku setahun. Terakhir gue menyelesaikan novel itu 2014. Selebihnya? Hmmm… I blame you, malas.
Pengalaman ini mungkin terdengar cetek, but at least I learned something. Gue enggak akan mencapai breakthrough yang gue impi-impikan kalau selamanya tetap gini-gini aja.
I have to do something.
Wish me luck.
XOXO,
Iif


PS: Pengin ngelanjutin tantangan ini sih, tapi Maret, dramanya Joy tayang. As a RV-trash, ya wajiblah menonton The Lover and His Liars.

0 komentar:

Post a Comment