Sunday, February 26, 2017

Boots and Books: Two Things That I Can't Live Without


Boots and Books

There are two things that I can’t say no. A pair of boots and good books.
Setiap orang punya mood booster masing-masing. Kalau buat gue, salah satu mood booster itu sepatu yang kece dan nyaman. Kalau misal ada liputan atau kerjaan yang mengharuskan ke luar kantor, I will wear my favorite shoes. Jadi gue yakin bisa nge-handle macet, panas, gerah, dan segala hal yang punya tendensi buat bikin mood drop.
Ngomongin sepatu, sebagian besar sepatu gue adalah boots. Dari ankle boots sampai knee length boots, ada. Sisanya satu high heels buat kondangan dan satu chunky heels. Sejujurnya gue lupa kapan pertama kali suka pakai boots. Boots pertama yang gue beli itu ankle boots tanpa heels warna abu-abu. Beli pake duit hasil kerja magang. Barang mahal pertama yang dibeli (500rb kalau enggak salah) dan berasa keren banget tuh pas pakai itu sepatu ke kampus. Later that I know, kalau ke toko sepatu, selalu ngeliriknya boots.
Sekarang ada dua boots favorit gue. Knee length boots selutut dengan aksen tali warna hitam dan heels lumayan tinggi. Ini sepatu andalan kalau nonton konser. Secara gue tingginya terbatas, jadi butuh bantuan biar bisa leluasa melihat ke arah stage. Dan boots ini ngebantu banget. Sebenarnya beli ini juga enggak sengaja. Waktu itu lagi di H&M dan pas bayar, ada mbak-mbak di kasir sebelah membeli boots hitam sepaha yang keren parah. Curi dengar, boots itu lagi diskon. Dari sekitar hampir sejuta cuma jadi 250. Yang tadinya mau balik eh malah tergoda buat ke tempat sepatu. Dan ketemulah si boots ini. Mau tahu harganya? Dari 750 ribu jadi 150 saja, he-he-he. Kebetulan knee length boots yang punya kulitnya sudah mulai mengelupas so I think I need new shoes.




And this is my second favorite. Belinya lagi-lagi enggak sengaja dan tergoda diskon yang luar biasa. Waktu itu lagi jalan dadakan sama Ira (iya, dadakan, karena Ira ngajaknya udah jam 6 sore) dan di Zara ketemulah boots ini. Awalnya Ira yang nyoba tapi penasaran dan ikutan nyoba. Tapi kok bagus? Dan enak aja di kaki meski tinggi? Udah gitu diskonnya gila banget. Dari 1.5 juta jadi 400 ribu doang? Kapan lagi, ya, kan? Jadilah, tanpa basa basi, I bought that boots.




And now, the question is, why I love boots so much? Setelah sering beli boots, gue mulai menyadari kenapa gue suka boots. Pertama tentu saja karena dipakainya enak dan bisa memberi ilusi sedikit lebih tinggi. Kaki jadi terlindungi. Karena boots terlihat cantik tapi tough. Somehow boots terlihat feminin, but in other time ya manly juga. Perpaduan yang pas. Namun yang gue pahami, boots meningkatkan self confidence gue.
Years ago, mungkin gue enggak bakalan pede memakai something yang draw other people’s attention. Dan boots, itu draw attention banget. Terlebih knee length boots, ya. Omongan ‘lagi banjir mbak?’ or ‘ini Indonesia mbak. Enggak salah pakai gituan?’ or ‘minjem sepatu tukang bangunan ya mbak?’ itu udah sering banget gue denger. Awalnya mikir ‘apa sih ini orang norak banget’ tapi lama-lama jadi ‘yeah well, whatever’. Perlahan-lahan, gue mulai belajar yang namanya i-don’t-care attitude karena ya enggak semua orang omongannya harus didengerin. Sama halnya seperti lisptik (readabout that here), boots also improves my self esteem. Sepatu itu bikin gue pede dan dengan gue merasakan hal itu, gue yakin kalau hari gue akan berlangsung baik-baik saja.
I am as simple as that.
So, that’s why I love boots.




And now, it’s time to talk about another B. Books. B-O-O-K-S. Harus pakai ‘s’ karena gue yakin gue enggak bakal puas hanya dengan satu buku. Satu tempat yang langsung gue tuju begitu habis gajian adalah toko buku. Thanks to my company id card, diskon di Gramedia bikin gue makin kalap, he-he.
Gue sudah suka membaca sejak kecil. Malah, di keluarga atau teman-teman sepantaran gue termasuk yang paling cepat bisa baca. Dulu, gue suka baca karena enggak ada hiburan lain di rumah, mengingat waktu kecil TV suka bermasalah. Makin gede gue udah jatuh cinta sama buku. Gue bisa berubah jadi dingin sama teman yang memperlakukan buku semena-mena, seperti melipat buat tanda lagi baca sampai mana, membaca sambil bagian depan dilipat ke belakang, dicoret-coret dan tindakan kejam lainnya. Gue bisa berubah jadi super annoying kalau buku yang pas gue pinjemin dalam keadaan bagus, mulus tanpa lipatan tapi pas dibalikin dalam keadaan hancur. Gue bisa berubah jadi lebih cerewet dari rentenir kalau minjemnya kelamaan dan enggak dibalikin.
Bagi gue, buku itu sesuatu yang holly. No wonder gue memperlakukannya dengan sangat hati-hati. Gue sampulin, gue taroh di rak yang disusun rapi, pas baca juga diusahain enggak kena makanan dan pas disimpan di dalam tas juga diusahain biar enggak kelipet. Dengan semua usaha itu, wajar dong kalau gue berharap yang minjam juga memperlakukannya sama?
Okay, enough with my rant.
Setiap bulannya, gue pasti ke toko buku. Dulu kakak gue sempat bercanda, ‘udah beli buku, pasti udah dikirimin mama uang jajan,’ pas masih kuliah dulu. Sampai sekarang terus terbiasa. Itu baru yang rutin. Yang enggak rutin dan dadakan, sih, enggak bisa dihitung pakai jari. Bahkan, pas lagi bokek aja, tahu-tahu udah order e-book, he-he (untuk urusan buku gue anti bajakan soalnya).



Koleksi gue memang didominasi oleh romance. Terserah apa kata book snob yang suka mandang remeh novel populer, tapi novel populer itu juga dihasilkan dengan kerja keras. Enggak cuma bengong depan laptop trus langsung jadi. So, sorry-sorry aja kalau gue enggak setuju dengan mereka yang so-called-bookish tapi memandang sebelah mata novel populer. Karena bookish sejati tentunya enggak pilih-pilih buku. Dia pembaca segala, karena dari setiap buku, pasti ada something positive yang bisa didapat.
Dan juga, buku itu urusan selera. Enggak ada buku yang jelek menurut gue, dan yang bisa kita komentari adalah hal teknis. Selain baca, gue emang suka review. Jadi ingat kata Puput kalau gue ngereview rada kejam. My defensive side said, gue cuma pengin jujur aja, kok, he-he.
Kalau boots ada hubungannya dengan percaya diri, maka books ada hubungannya dengan perspektif. Banyak membaca pastinya bikin wawasan kita makin luas, bikin kita terbiasa memandang sesuatu dari banyak perspektif, jadi ini tentunya akan mempengaruhi kita dalam bertindak di dunia nyata. Membaca membuka wawasan gue sehingga Alhamdulillah, gue bisa terhindar dari kemungkinan punya pemikiran yang sempit dan picik. Terlebih di saat sekarang, di saat kita harus kritis dan enggak gampang termakan emosi lalu tiba-tiba mengeluarkan komentar bodoh (yang mana sekarang banyak banget yang kayak gini). Dengan adanya buku, at least gue sadar kalau dunia ini luas dan ada banyak beragam orang tinggal di dalamnya.
Oh, sebagai seorang penulis in my daily life, tentu membaca jadi sebuah keharusan.
That’s why I think that I can’t live without boots and books. Because I need something to makes me feel confident and broaden my horizon.

And you, what is the most important thing in your life?

0 komentar:

Post a Comment