Thursday, December 22, 2016

When a Snail Falls in Love: Singa, Siput, dan Human Trafficking Antar Negara


Another Chinese crime drama. When a Snail Falls in Love based on Chinese best seller novel who also wrote Love Me If You Dare (read reviews here). The main lead is Wang Kai who caught my eyes when he played as Li Xun Ran at Love Me If You Dare. Because I looove Love Me If You Dare so much, so I give this drama a chance. Simply because I believe that this will be a good drama. Also, I read a positive review about this.
So, I think there are a lot of reasons why I had to watch this drama.
And I think I made a good choice.

A Snail and A Lion

First of all, I think this is another serial killer drama, like Love Me If You Dare. But it’s wrong. Snail (for short) has a different story and case with Dare (for short) so it’s not good if we made a comparison.
Dari segi tone aja, drama ini beda banget dengan Dare. Snail, at least, enggak se-gloomy Dare. Isunya lebih kompleks, tentang drugs dan human trafficking. Setting cerita ada di sebuah kota kecil di Cina, disebut Lin City, bukan di Beijing. Later that I know kalau kota ini dekat perbatasan dengan Myanmar sehingga isu yang disorot ternyata juga masalah yang sering dihadapi saat ini.
Snail bercerita tentang Xu Xu, cewek lamban dan lemah tapi jago dalam hal analisa prilaku. Dia baru lulus akademi kepolisian dan ditempatkan sebagai karyawan magang di crime unit yang dipimpin oleh Kapten Ji Bai. Ji Bai enggak suka karena menurut dia Xu Xu enggak pantas ada di unit itu. Ji Bai dan Zhao Han (his right hand also his best friend) taruhan dan memberi Xu Xu waktu tiga bulan buat membuktikan diri kalau dia mampu untuk menjadi bagian dari crime unit.
Xu Xu punya hobi menggambar, dia membuat ilustrasi kesehariannya ke dalam bentuk gambar. Dirinya digambarkan sebagai seekor siput dan Ji Bai sebagai singa. Frankly speaking, her drawing is so cute I like it. Drama ini berlangsung sekitar tiga bulan, dengan kasus satu per satu bermunculan. Kasus yang awalnya terlihat berdiri sendiri tapi lama-lama saling sambung menyambung dan berujung ke satu kasus besar.

Drugs & Human Trafficking

Kasus yang sebenarnya sudah mulai diincar sejak belasan tahunlalu.
Kasus pertama berupa penculikan menantu di Ye Family (lupa namanya). Kasus ini kemudian membuka fakta soal pencucian uang yang dilakukan Ye Zi Yi, sahabat baik Ji Bai dan masalah di perusahaan Ye Group. Ye Zi Yi membawa kita ke masa dia kecil dulu ketika dia yakin ayahnya dibunuh, bukan meninggal karena kecelakaan. Pencucian uang ini membawa kita masuk ke dalam keluarga Ye dan masalah antara Ye Zi Yi dan sepupunya Ye Qiao yang suaminya selingkuh dengan Ye Zi. Masalah makin rumit ketika Ye Zi terbunuh dan tersangkanya antara si menantu yang dulu diculik slash selingkuhan Ye Zi slash suami Ye Qiao atau Ye Qiao yang sejak dulu cemburu sama Ye Zi atau kakaknya Qiao yang ingin menyelamatkan perusahaan.
Lalu, apa hubungannya antara perusahaan Ye dengan drugs dan human trafficking?
Kita masuk ke kasus kedua. Brother Lu, big boss yang menjual cewek-cewek yang sebelumnya diculik. Masalah ini berawal dari ditemukannya mayat seorang cewek di bawah umur. Namun Xu Xu membuat kesalahan dengan menggiring opini kalau Brother Lu itu cowok. Ketika mereka berhasil menggrebek markas, mereka menyelamatkan semua cewek yang disekap, termasuk salah satu yang belakangan diketahui sebagai Brother Lu yang sebenarnya.
Brother Lu berhasil kabur ke Myanmar dan berada di bawah perlindungan seorang Jendral Myanmar.
Balik lagi ke perusahaan Ye. Ternyata Uncle Hu, orang kepercayaan di sana menyalahgunakan perusahaan buat membangun bisnis drugs. Uncle Hu berhasil kabur.
Dan ujung-ujungnya, kasus ini berakhir di satu sosok yang merupakan sang criminal mastermind.

Kejahatan Antar Negara

Menonton drama ini berasa ngeri karena banyak tentaranya. Bukan tentara cakep macam Yoo Si Jin, tapi tentara yang bikin ngeri. Serasa nonton film jaman dulu. Gue enggak masalah nonton seri pembunuhan berdarah-darah atau serial killer super kejam, tapi gue enggak sanggup nontonin tentara-tentara dengan senjata laras panjang dan naik tronton.
Masalahnya, setengah drama ini ceritanya mereka udah ke Myanmar, di kota perbatasan dengan Cina. Ji Bai kerjasama dengan tentara Myanmar dalammenyelesaikan misi ini. Gue pengin udahan nontonnya, tapi sayang aja enggak selesai nonton cuma demi ketakutan gaje gini.
Oh ya, untung masalah Bahasa digambarkan apa adanya di sini. Ketika tim Ji Bai dan tim Myanmar ngomong, mereka pakai Bahasa Inggris meski ngaco. Beda dengan Dare yang ketika kerjasama dengan FBI, tim Taiwan tetap pakai Bahasa Mandarin dan tim US pakai Bahasa Inggris dan mereka bercakap-cakap seolah mengerti satu sama lain. Detail yang lumayan mengganggu.
(Tapi yang paling epic tetap film Cina-nya Lee Joon Gi, Never Said Goodbye. Junki ngomong Korea, si cewek ngomong Cina logat mainland, Ethan Ruan ngomong Cina logat Taiwan. Eaaa)

Kota Kecil yang Apa Adanya

Satu hal yang patut diacungi jempol adalah keadaan kota kecil yang apa adanya. Mungkin kita bosan dengan cerita berlatar di kota besar metropolitan. Snail mengajak kita menjejak kota kecil dan juga kota perbatasan, karena di sini banyak banget terjadi kasus kejahatan. Bahkan, kota perbatasan selalu menjadi sumber kejahatan antar negara.
Sungai Mekhong. Pertama kali gue dengerin nama sungai ini waktu belajar IPS saat SD dulu, gue merinding. Entahlah, the more I want to know about Indocina, the more I feel uneasy in my heart. I don’t know how to explain it, tapi gue merasa ngeri aja dengan nama sungai ini, terlebih kalau udah menyangkut militer. Gue juga enggak tahu kapan pertama ngerasain perasaan ngeri ini tiap kali melihat militer + Cina + Indocina. Tapi kepo juga, gimana dong? (That’s why I bought The Symphatizer, a book who won Pulitzer and written by Vietnamese author about Vietnam War).

Not My Cup Of Tea

Snail punya cerita yang kompleks dan dark. Karena isu yang diangkat lebih humanis ketimbang Dare yang isunya lebih ke masalah pribadi. Snail punya cerita yang menegangkan sampai akhir, literally sampai menit-menit akhir. Gue suka tokoh-tokohnya yang meski banyak tapi punya ciri khas tersendiri sehingga enggak ngebingungin, kecuali masalah nama yang butuh ingatan ekstra keras buat hafal semua.
Namun dari segi cerita, this is not my cup of tea. I enjoy it but I don’t love it. Balik ke masalah isu yang diangkat sih karena isu ini bukan selera gue.
But I recommend this drama for you if you want to try another thrilling drama.
Dan Wang Kai terlalu ganteng buat dilewatkan, he-he.

Bonus
Drama Asia & Gadget
Oke, ini cuma hasil pengamatan kurang penting sekaligus kurang kerjaan gueaja. Setiap kali nonton drama, gue selalu merhatiin gadget yang dipakai. Setiap gadget ngegambarin dari negara mana drama itu. Berikut hasil penelitian kurang penting gue.
Drama Korea: HP kalau enggak Samsung ya LG. Chatting pakai Line atau Kakao Talk. Search engine yang dipakai Naver. SNS mirip Instagram atau Weibo.
Drama Cina: HP-nya Oppo. Search engine: Baidu. SNS: Weibo. Chat: WeChat
Drama Jepang: HP-nya Sony. Chat: Line atau KaTalk (udah lama enggak nonton dorama Jepang jadi hasil nalisa masih minim).
Dan yang lucu ada di drama Taiwan: HP-nya iPhone. Chat: WhatsApp. Search engine: Google.

So? Yah, itulah hasil analisa kurang penting gue he-he.

Thursday, December 1, 2016

Love Me If You Dare: Kisah Criminal Psychologist, Serial Killer dan Esensi Dasar Cerita Kriminal

(Makin tua, gantengnya makin mateng)

Dulu banget, gue salah satu penggemar berat drama Taiwan. Yup, efek Meteor Garden juga, sih. Waktu itu, stasiun TV di Indonesia seakan berlomba-lomba buat nanyangin drama Taiwan, sehingga kita lumayan mudah terpapar drama Taiwan. Beberapa judul sempat jadi favorit gue, di antaranya At Dolphin Bay, MVP Lovers, Hot Shot, Twins, Westside Story dan yang menjadi drama favorit sepanjang masa—hingga sekarang, Lavender. Gue juga menggandrungi aktor Taiwan. Vanness Wu adalah bias pertama gue, he-he. Gue juga suka 5566 dan Fahrenheit. Untuk aktor, gue suka Ambrose Hsu dan Wallace Huo sementara Penny Lin dan Tammy Chen menjadi my first girl crush.
Ketika akhirnya mengikuti drama Korea, gue sama sekali enggak melirik drama Taiwan. Sesekali cuma mengikuti filmnya. Aktornya pun enggak seintens dulu, kecuali Ambrose Hsu, masih lumayan sering gue cari tahu infonya. Sampai beberapa bulan lalu, gue melihat di Instagram Vanness Wu (yup, he’s still my bias) soal drama The Princess Weiyoung yang dia bintangi. Terlintas di benak gue soal drama Taiwan sekarang.
Apalagi, gue sering berkunjung ke Dramafever.com buat mencari ide tulisan untuk artikel. Di sana lagi heboh diomongin soal drama When a Snail Falls In Love. Gue jadi penasaran. Usut punya usut, gue sampai ke drama berjudul Love Me If You Dare.
Dan gue teringat masa lalu.
Semua karena Wallace Huo.

(Waktu masih muda di At The Dolphin Bay)

Karena melihat nama Wallace Huo di Love Me If You Dare. Setelah menelisik lebih jauh, ternyata di Cina dan Taiwan Wallace masih high demand banget, di usianya yang hampir mencapai 40 tahun. Gila, keseringan main sama dedek-dedek Korea, gue serasa menemukan dunia baru ketika mencari tahu soal drama Taiwan. Masa iya drama rom-com Taiwan dikuasai Aaron Yan? Dia kan orang lama juga, anggotanya Fahrenheit dulu.

Wallace Huo dan Kisah Kriminal

Pada akhirnya, bukan nama Wallace Huo yang bikin gue memutuskan menonton Love Me If You Dare. Melainkan karena ini drama kriminal. Tentang seorang criminal psychologist dan asistennya yang berusaha memecahkan kasus kriminal. Damn, that’s my favorite. Gue sendiri lupa kapan pertama kali tertarik sama crime series, tapi gue betah menghabiskan waktu berjam-jam maraton Criminal Mind atau CSI meski ceritanya selalu diulang-ulang saat menonton di TV.
Love Me If You Dare bercerita tentang cowok super jenius, Profesor Bo Jin Yan (Simon Bo) yang di usianya yang baru 30 tahunan sudah menjadi profesor. Meski dia jenius, EQ-nya rendah banget, makanya dia terlihat misterius, aneh dan enggak bisa mengekspresikan diri. Di sisi lain, ada Jian Yao, cewek yang baru lulus kuliah dan melamar pekerjaan sebagai translator buat Jin Yan. Setelah bekerja sama, Jin Yan merasa cocok dengannya dan menawarinya pekerjaan sebagai asisten karena saat itu dia tengah membantu kepolisian lokal mengusut kasus hilangnya anak-anak kecil.
Prinsip Jin Yan adalah dia hanya mau mengusut kasus kejahatan besar dan menangkap penjahat paling kejam. Di saat polisi lokal beranggapan kasus ini ada hubungannya dengan child trafficking, Jin Yan berpikiran lain. Ini adalah kasus serial killer.
Dan serial killer adalah makanan favoritnya Jin Yan (and my favorite too karena kasus cerita yang melibatkan serial killer selalu kompleks dan si serial killer biasanya seseorang yang jenius).
Satu kasus selesai, lanjut ke kasus lain. Namun ada satu clue yang menggelitik Jin Yan. Karena itu mengingatkannya pada kasus Flower Cannibal, kasus serial killer yang dulu ditanganinya di Amerika. Demi menangkap si pelaku, Tommy, Jin Yan sampai rela ditangkap Tommy dan enam bulan berada di dalam sekapan si serial killer. Pada akhirnya, masa lalu Jin Yan kembali menghantuinya dan membuatnya kembali berhadapan dengan penjahat yang sama, juga penjahat lain yang lebih berbahaya.

Two Thumbs Up For Wallace Huo

Menonton Love Me If You Dare membuat gue jatuh cinta lagi kepada Wallace Huo. Yup, sama seperti cerita soal Lee Joon Gi (yanggue tulis di sini) dulu dia enggak terlihat terlalu mempesona. Di At Dolphin Bay, gue lebih suka Xu Ze Ya ketimbang Zhong Xiaogang. Semata karena yang memerankan Ze Ya adalah Ambrose Hsu, my childhood crush after I watched him in Lavender. Xiaogang di mata gue hanya sebatas flower boy, that’s it.
Lalu, gue enggak terlalu ngikutin soal dia lagi. Sampai akhirnya dia muncul sebagai Bo Jin Yan. Sama seperti Wang So yang memberi gue heart attack, efek yang ditimbulkan Bo Jin Yan juga sama. Di sini dia kurus banget, efek jangka panjang dari masa-masa ditahan Tommy. Totalitas Wallace dalam hal ini patut diacungi jempol.
Wallace sukses memainkan sosok dingin super jenius tanpa ekspresi ini. Namun, ketika Jin Yan mulai suka sama Jian Yao dan dia bingung gimana cara mengungkapkannya, itu terlihat lucu. Awkward-nya Jin Yan bikin ngakak.
Tapi enggak lama, karena setelah itu, dia kembali membuat gue bergidik ngeri dengan ekspresi dinginnya ketika menjadi Allen. Allen ini personality yang dia bangun di hadapan Tommy buat mengulur waktu agar enggak dibunuh, jadi dia seakan-akan mengalami split personality. Prefosor Simon Bo Jin Yan yang berkepala dingin dan pintar, Bo Jin Yan yang awkward saat jatuh cinta pertama kali, dan Allen yang berhati dingin dan seakan-akan bisa jadi serial killer. Tiga karakter beda. Diperankan dengan apik oleh satu orang.
Angkat topi buat Wallace Huo.

Esensi Dasar Cerita Kriminal

Oke, ini cuma teori gue. Dalam menikmati sebuah cerita kriminal, gue punya patokan sendiri soal cerita mana yang menurut gue bagus dan sukses menyajikan sebuah cerita menarik. Crime series bukan sekadar si baik menangkap si jahat. Crime series lebih dari sekadar bag big bug polisi dan penjahat. Crime series is very complicated.
Karena itu, gue mempunyai beberapa esensi dasar yang harus dimiliki oleh sebuah cerita kriminal. Ini yang bikin gue senang karena Love Me If You Dare memenuhi semua esensi dasar versi gue ini.

Hero And Their Backstory
Setelah mengikuti berbagai jenis crime series, gue jadi fokus pada backstory para hero. Biasanya backstory ini diambil di masa kecil atau di satu masa di hidupnya, dan kejadian traumatis ini yang membentuk karakter dirinya di masa sekarang. Misalnya Mac Taylor (CSI:NY) yang kehilangan istrinya di peristiwa 9/11.
 Love Me If You Dare punya backstory yang kuat. Domestic abusive masa kecil yang dialaminya membentuk karakter Bo Jin Yan. Terlebih soal kematian ayahnya, yang menjadi alasan kuat bisa saja karakter Allen beneran ada. Juga pengalaman berhadapan langsung dengan Tommy, a legendary serial killer, benar-benar mempengaruhinya.

Profiling Is The Best
Momen yang paling gue suka dari cerita kriminal adalah saat profiling. Gue selalu amaze pada saat profiling. Makanya, momen ketika tim FBI menjabarkan profil calon tersangka di Criminal Mind selalu bikin gue geleng-geleng kepala. Mereka orang-orang jenius yang bisa menebak profil seseorang dari temuan bukti di lapangan. Dan seringkali, profil yang mereka bentuk selalu tepat. Karena itu, belajar profiling selalu (dan akan selalu) menjadi isi bucketlist gue, he-he.
Di Love Me If You Dare, gue suka dengan profiling yang dilakukan Bo Jin Yan. Meski di beberapa scene gue harus menonton berkali-kali buat mencernanya. Karena dia kelewat jenius dan susah mengekspresikan diri sehingga enggak bisa menjelaskan dengan bahasa manusia kenapa dia mengambil kesimpulan itu. Li Xun Ran dan polisi lain aja sampai cengo depan dia, apalagi gue yang cuma penonton biasa? Enggak heran ketika akhirnya Jin Yan perlahan mengajar Jian Yao, ini jadi momen favorit gue. Dia menunjukkan kepeduliannya dengan cara enggak biasa—mengambil kasus paling gampang, which is ini bertentangan dengan prinsipnya yang hanya mau menangkap penjahat paling kejam, karena kasus itu cocok ditangani oleh pemula seperti Jian Yao.

Hero Enggak Maksa Kerja Sendiri

Gue suka malas dengan karakter hero yang maksa menyelesaikan semua masalah sendiri.Oke, dia tokoh utama, dia punya kemampuan lebih dibanding anggota tim lainnya, sehingga make sense jika dia akhirnya mencari penyelesaian sendiri. Sosok seperti ini terlihat seperti dewa. Bahkan, Sherlock aja butuh Watson.
Ini yang bikin gue betah mengikuti Love Me If You Dare, karena Jin Yan enggak ‘makan’ semuanya sendiri. Dia tahu kapasitasnya hanya seorang criminal psychologist, dia bukan polisi, jadi tugasnya hanya mengawasi dan membimbing. Bukan menangkap, karena itu tugas polisi. Jadi, setiap bukti dan temuan baru, selalu dibagi kepada polisi. Juga kebalikannya, polisi menghormati dia sebagai pembimbing. Kerjasama ini bikin cerita terlihat lebih manusiawi. Bukan hanya itu, Jin Yan juga punya sidekick, Fu Zi Yu, yang siap membantu dia.

Criminal Mastermind
Kenapa crime series itu kompleks, itu karena penjahatnya enggak selalu yang nyata di depan mata kita. Kadang ada cerita yang menggiring persepsi penonton untuk menebak siapa si pelaku. Namun, si criminal mastermind misterius yang serasa jadi pain in the ass bagi karakter hero kita jadi kejutan paling ditunggu-tunggu. Moriarty, my friend, is the great example.
Love Me If You Dare mempunyai sosok criminal mastermind yang benar-benar jadi kayak bisul yang siap meletus. Bikin kesal. Bahkan kita yang nonton aja kesal, apalagi Bo Jin Yan. Serunya, cerita ini memiliki sosok penjahat berlapis, yang bikin kita mendapat kejutan baru di setiap beberapa episode. Awalnya mengira Tommy, eh ternyata muncul sosok Xie Han. Namun ternyata Xie Han bukan tersangka final karena masih ada kejutan lainnya. Ketika si criminal mastermind ini muncul, gue cuma bisa jambak-jambak rambut, he-he.

Doubt Is Your Worst Nightmare

Cerita kriminal umumnya berpusat pada satu kelompok. Jumlah orang dalam kelompok ini bermacam-macam. Karena itu, agar kerja tim bisa sukses, semua anggota harus kompak. Ini bisa jadi kekuatan sekaligus kelemahan. Kekuatan karena kalau bekerja bersama-sama, si pelaku bisa cepat tertangkap. Namun, ini bisa jadi kelemahan ketika si pelaku berniat mengacak-acak isi tim.
Pada akhirnya, keraguan dan ketidakpercayaan bisa jadi bumerang. Ada satu kalimat di drama ini yang menggambarkan dengan tepat situasi ini. Kurang lebih, Jin Yan ngomong gini, “Ya, tidak ada yang saya miliki sekarang selain teman-teman yang mempercayai saya.”

An Open Ending

Ending tentunya jadi indikator kesuksesan sebuah cerita sampai ke hati dan pikiran pembaca atau penonton. Salah satu ending favorit gue adalah open ending. Namun, enggak gampang buat membuat open ending. Salah-salah, malah kerasa maksa. Open ending favorit gue itu Signal. Damn, I still need an explanation about that series. Signal season 2, please?
Back to Love Me If You Dare. Di episode 23 (2 episode terakhir) gue mulai mikir ending kayak apa yang bakal dihadirkan? Akan basi banget kalau ternyata akhirnya hanya happy ending standar Jin Yan bahagia bareng Jin Yao dan si penjahat mati. Ini sih bikin kesal. Untungnya, si criminal mastermind enggak mati, meski penjahat lain mati itu agak bikin kesal sih. Sempat agak kecewa ketika kamera menghadirkan sosok demi sosok pendamping yang juga menemukan kebahagiaan, sehingga mikir, so this is it?
Untungnya, ada kejutan di akhir. Ketika wajah Jin Yan tampil close up di layar kaca. Sekali lihat ini sih biasa aja. Namun ketika diperhatikan, gue jadi mikir. Who is he? Simon? Or Allen?
Damn! Gue langsung jambak rambut begitu lagu penutup diputar. Gemas gila, mikirin endingnya. Bisa aja gue beranggapan itu Simon, but no. Gue masih berharap itu Allen. Tapi, Allen kan aslinya enggak ada?
Well, meski dibilang Allen enggak ada, tapi ada beberapa unsur sejak awal yang kalau dipikir-pikir ulang bisa bikin kita mikir kalau mungkin saja Allen itu ada. Seperti kata Jian Yao, dia kadang enggak ngerti dengan pola pikir Jin Yan, karena Jin Yan terlihat sangat mengerti isi pikiran serial killer. Gimana dia bisa ngerti banget? Dan yang terjadi selama disekap Tommy, toh hanya Jin Yan yang tahu.
Ending seperti ini emang sukses bikin gila.
Tapi juga bikin bahagia karena menemukan satu drama seru dan menegangkan hingga episode akhir.

#Sidenote
Gue pengin berandai-andai kalau drama ini dibikin remake versi Korea. Pilihan gue jatuh pada Lee Dong Wook untuk jadi Bo Jin Yan.




Sementara Jian Yao, gue pengin Hwang Jung Eum, tapi dia ketuaan. Dan, entah kenapa gue melihat Irene cocok jadi Jian Yao. Dia cewek yang cantik dan terlihat biasa-biasa saja, tapi di sisi lain terlihat dingin dan detik selanjutnya, dia terlihat fragile. Also, I see Irene in Sandra Ma.
(Sandra Ma)

(Irene. Cocok kan jadi Jin Yao? He-he-he)