Wednesday, November 30, 2016

Two Weeks: CLBK Dengan Lee Joon Ki, Pelarian Dua Minggu dan Janji Seorang Ayah Pada Anaknya


Lee Joon Ki itu ibarat gebetan waktu sekolah. Dulu dia terlihat lucu dan gebet-able, sehingga masa remaja lo diisi dengan ngegebet dia. Lalu, perjalanan waktu membuat lo mengenal orang baru dan perlahan melupakan dia. Sampai suatu hari, dia muncul kembali, dalam sosok yang masih lucu, tapi kali ini jauh lebih matang dan mempesona di usia dewasa. Saat itu juga, dia menjerat hati lo. Mencengkeramnya jauh lebih kuat ketimbang dulu, saat dia cuma sekadar gebetan-masa-sekolah. Detik itu juga, lo merasakan cinta lama yang dulu ada, kini muncul kembali. Tapi bukan cinta monyet masa sekolah. Melainkan cinta masa dewasa.
(Forgive me dengan pengandaian super lebay itu)
Gue pertama mengenal Junki (panggilan sayang gue haha) around 2008 lewat Iljimae. Saat itu, dia masih berupa seorang flower boy, si kkonminam yang seolah-olah keluar dari manga. Saat itu dia gebet-able, tapi hanya sebatas itu. Gebetan yang lucu buat dipandang lama-lama. Gue sempat ngelupain dia karena sibuk fangirling dengan aktor lain. Gue hanya ngikutin dia sekilas, ketika dia masuk wamil dan akhirnya keluar wamil, tapi enggak ada perasaan apa-apa. Baru ketika dia muncul di Two Weeks, gue kembali melirik dia. The original flower boy yang kali ini sudah lebih matang, meski dia masih agak cantik.
Junki kembali menjerat hati gue ketika dia muncul di Scarlet Heart: Ryeo. Drama yang gue tonton sebagai hasil cap-cip-cup dan enggak nonton for the sake of Junki. I know that Junki will play a main role and I believe in his acting, but actually gue enggak tertarik buat nonton. Because it’s sageuk. Later that I know he made me head over heels with him. Wang So menjerat gue dan bikin gue terjebak pesona Junki. The original flower boy yang masih sama—ceria, flirty but at the same time have deep thinking. Si kkonminam yang masih cantikbut at the same time, dia lakik banget. Sama seperti Ji Chang Wook, gue enggak bisa mengelompokkan dia ke mana. He’s not just another flower boy. He has something in his face that makes him stand out. Mungkin dagu lancipnya. Atau mata sipit-sipit tajamnya. Mungkin kuping caplangnya. Entahlah. His face is unique. Feminine but manly at the same time. Meski karena Wang So, dia nurunin berat badan sampai 30pon dan jadi cungkring banget. I miss my chubby Junki.
But I can’t believe he’s 35 years old. How come people like this will turn 36 next year?

Ketika akhirnya gue fangirling lagi sama Junki, gue lihat dia beda. Masih pecicilan, masih flirty, tapi ada sisi dewasa dia juga. Yang pasti, dia udah sukses ngebuang jauh-jauh image kkonminam. Sebenarnya sejak di Time Between Dog and Wolf udah keliatan laki, tapi ketika dia menginjak usia 30, kayaknya dia baru nemuin jati dirinya dan semakin nyaman dengan dirinya. Dan di usia 35 sekarang, dia terlihat seksi dalam kematangannya. Tsaahhh…
Enough with Junki.
Jadi, karena belum bisa move on dari Wang So, berencana buat nonton ulang drama Junki lagi. Sebenarnya pengin nonton ulang Iljimae meski aktingnya masih belum total di sana, tapi filenya susah dicari. Dan bosan dengan vintage-Junki dalam balutan hanbok. Secara drama modern dia dikit, akhirnya milih Two Weeks. Drama underrated padahal bagus banget. Dan ya, drama ini sama aja dengan Scarlet Heart: Ryeo, pengin meluk Junki karena kasihan nasibnya ngenes banget.

Pelarian Dua Minggu

Premis drama ini tentang Jang Tae San, gangster kecil-kecilan yang sudah dua kali ngegantiin bos besar masuk penjara. Kali ini, dia kembali dijebak dan dijadikan tersangka pembunuhan. Namun, dia enggak tahu bakal dijebak. Masalahnya, di saat yang sama, mantan pacarnya menemui dia lagi dan bilang kalau anak mereka butuh donor sumsum tulang belakang karena menderita leukemia. Dulu, Tae San memaksa pacarnya aborsi karena diancam akan dibunuh oleh bos besar karena dia akan gantiin si bos masuk penjara. Tapi si pacar enggak tahu. Ternyata dia cocok sebagai donor dan jadwal operasinya dua minggu lagi. Naas, dia ditangkap dan difitnah. Untung dia bisa kabur.
Jadi, setiap episode kita akan mengikuti perjalanan satu hari Tae San dalam pelarian. Gimana dia pengin membersihkan namanya sehingga anaknya enggak dicap sebagai anak pembunuh. Tae San harus kejar-kejaran dengan polisi, terutama detektif Im Seung Woo, detektif super lurus yang ternyata tunangannya Seo In Hye, mantan pacar Tae San. Di sisi lain ada Teacher Kim, pembunuh bayaran suruhannya big boss.
Enggak disangka, Tae San terjebak dalam kasus yang jauh lebih besar dibanding pembunuhan biasa yang melibatkan bos besar dan senator yang dihormati tapi ternyata korup.
Juga ada Park Jae Kyung, jaksa yang memulai semua ini, sejak delapan tahun lalu, dan meski dia pengin membantu Tae San, dia juga menyimpan agenda sendiri.
Menonton drama ini, kita sudah tahu endingnya bakal gimana. Tae San enggak salah dan dia pasti bisa membuktikan dirinya enggak salah. Big Boss akan menanggung akibat perbuatannya. Operasinya berhasil. That’s it. Udah ketebak bakalan gimana. Namun, bukan itu yang bikin drama ini menarik. Justru perjalanan Tae San selama dua minggu inilah yang menjadi daya tarik utama. Kita diajak ke sana ke mari, mengikuti Tae San. Dan Tae San enggak digambarkan sebagai sosok heroic yang too good to be true. Dia hanya orang biasa yang nasibnya sial aja. Malah, dia sendiri bilang kalau dua sekrup penting di otaknya udah hilang, he-he. Karena dia enggak super pintar, justru kecerdikannya bikin dia terlihat manusiawi. Kurang manusiawi apa coba pas kabur berusaha nyari ide lewat referensi film action yang dia tonton? Belum lagi di beberapa scene, Tae San terlihat putus asa. Jadi, dia makin terlihat manusiawi.
Juga, drama ini terasa padat. Mungkin karena satu episode satu hari, jadi detailnya benar-benar ditampilin. Konfliknya terjaga rapi dari awal hingga akhir, sehingga terasa menegangkan. Dan yang pasti, bikin sesak napas sepanjang nonton.
Ada satu kalimat yang bikin gue berkaca-kaca.
“I was trash, I was born trash, and lived as trash. I never believed the heart that died when I sent In Hye away would beat again. Not until I met that little child. For once in my life, just once, I want to live as a person.”

Jang Tae San & Seo Soo Jin, The Real OTP

Junki sempat hampir menolak drama ini. Alasannya karena dia sendiri belum menikah, jadi gimana mungkin dia bisa memerankan seorang ayah? Beruntung PD-nim berhasil meyakinkan Junki kalau dia pasti akan berhasil memerankan karakter Jang Tae San. Tebakan itu benar karena sepanjang drama, father-daughter relationship hook me up.
Gue suka ide memunculkan Soo Jin di hidup Tae San. Saat sudah putus asa, Tae San akan memunculkan sosok imajiner Soo Jin, sehingga mereka bisa bercakap-cakap. Semuanya hanya ada di dalam kepala Tae San, tapi cara ini sukses membuat penonton melihat perubahan sikap Tae San yang awalnya hanya happy go lucky guy dan gangster kecil-kecilan tanpa tujuan hidup, menjadi seseorang yang rela melakukan apa saja demi memenuhi janji yang sudah dia buat dengan orang yang dia cintai. Juga, dengan memunculkan Soo Jin di dalam sosok imajiner ini, itu bikin kewarasan Tae San tetap terjaga.
Salah satu momen favorit gue, ketika akhirnya Tae San bisa ketemu dan ngobrol dengan Soo Jin. It breaks my heart but at the same time there is a huge smile in my face. Tae San deserves this very special moment. That’s why, I give a big thank-you-nod to Park Jae Kyung.

Pada akhirnya, Junki enggak hanya sukses memerankan seorang ayah. Dia bahkan jatuh cinta beneran dengan anak kecil ini, Lee Chae Mi. Mereka masih akrab, bahkan Junki dan Park Ha Sun (pemeran In Hye, ibu Soo Jin) pernah berebut perhatian Chae Mi. Ketika gue iseng scrolling Instagram Junki, gue nemuin komentar Chae Mi yang masih manggil ‘daddy’, he-he.


*Sepertinya situ sudah pantas jadi bapak, haha)*

Setelah Belasan Episode, Akhirnya Junki Cakep Lagi
Sepanjang enam belas episode, kita mengikuti perjalanan Tae San dalam pelariannya. Jadi, jangan heran kalau tampangnya amburadul. Enggak mandilah, keringatan kucel, belum lagi nyamar dengan pakai kumis palsu. Meski Junki aslinya cakep, kecakepannya enggak terlalu kentara. Jadi jangan harap bakal adaeye candy di drama ini.
Momen Junki cakep hanya dua. Episode awal, ketika dia masih belum kena masalah dan suka pakai suit meski kerjanya cuma di toko gadai. Alasannya, dia enggak pernah menebak bakal ketemu siapa jadi tampil on point is a must. Juga ketika Tae San whoring himself sama tante girang he-he.
He looks like this.


Momen cakep kedua ada di episode terakhir. Setelah semua masalah selesai dan dia bisa bernapas lega. Juga ketika akhirnya bisa main sama Soo Jin. Sebuah penantian yang enggak sia-sia, termasuk buat penonton. Karena pada akhirnya, kita bisa melihat Tae San jadi cakep lagi dan senyum bahagia di wajahnya.


Ending realistis

Concern utama gue ketika menonton drama Korea adalah ending. Seringnya stop di episode dua menjelang akhir karena entah kutukan apa yang ada di dunia perdramaan Korea sehingga episode terakhir seringnya bikin turn off. Happy ending yang dipaksakan sehingga sukses bikin garuk dinding saking kesalnya.
Baik saat menonton dulu atau sekarang, gue cuma pengin satu hal. Awas aja kalau bikin Tae San balikan sama In Hye dan In Hye ninggalin Seung Woo sehingga mereka bisa hidup sebagai keluarga bahagia. Atau lebih maksa lagi, bikin Tae San jadian sama Park Jae Kyung.
Untunglah itu enggak kejadian.
Dan ending ini juga yang bikin gue makin suka sama Two Weeks. Karena ini akhir yang realistis buat mereka. Setelah semua pengorbanannya, Tae San akhirnya punya kesempatan untuk memperbaiki hidupnya. Jadi, sebelum dia benar-benar bisa berdiri di depan Soo Jin dengan kepala tegak, he needs time to himself. To figure out what he should do next. To figure out what he really really wants in his life. Senangnya, In Hye mengerti itu. Dan dia dan Seung Woo also need a time to make everything between them back to normal again, back to the moment before In Hye pay someone to looking for Tae San.
Mereka semua butuh waktu.

Lee Junki, Totalitas

As one of respected actor in South Korea, totalitas Junki emang enggak usah diragukan. Tapi, Two Weeks menjadi salah satu momen penting dalam hidupnya. Gue kaget ketika membaca interview dia soal Two Weeks. Karena peran Tae San, dia harus menyendiri biar dapat feel Tae San. Sutradara juga meminta dia buat enggak banyak ngomong dan berinteraksi dengan orang lain. Hingga akhirnya dia beneran larut dalam peran, hingga selesai syuting.
Akibatnya? Dia jadi stres dan terkena post traumatic syndrome. Untung cepat ditangani sehingga depresinya enggak berlarut-larut. Two thumbs up for Junki meski penerimaan Two Weeks kurang bagus. I don’t know about Korean rating system. Karena drama yang dapat rating tinggi kadang biasa aja dan drama bagus malah kurang diapresiasi. Dua contoh: Two Weeks dan It’s Okay That’s Love. Bisa aja dramanya mengikuti apa yang sedang tren di pasar, memasang aktor dan aktris kenamaan, tapi pada akhirnya rating enggak bagus-bagus amat.
Dan pada akhirnya, masa bodo dengan rating. Yang penting terhibur setelah menontonnya.

Bonus: Perkara Menonton Ulang

Kadang, menonton ulang diperlukan untuk memberikan perspektif baru dalam menilai sebuah cerita. Atau hanya sekadar ingin bernostalgia. Karena itu, gue sering menonton ulang beberapa drama yang gue suka.
Tentu saja, efek saat menonton ulang berbeda dengan menonton untuk pertama kalinya. Menonton untuk pertama kalinya, otak kita fresh, enggak ada perbandingan apa-apa. Palingan hanya perbandingan dengan drama yang dimainkan si aktor sebelumnya. Kalau aktornya sukses, kita bisa melihat sosok baru di dirinya (alasan kenapa gue enggak suka Lee Min Ho. Selain City Hunter, he just being himself, he just being Gu Jun Pyo).
Menonton ulang Two Weeks, perasaannya berbeda dibanding saat pertama dulu. Kali ini mendapat banyak gangguan. Misalnya Teacher Kim yang diperankan Song Jae Rim. Dulu gue takut sama dia. Sosoknya yang dingin dan tanpa ekspresi. Namun, setelah melihat lovey dovey Jae Rim di We Got Married, gue sering giggling sendiri ketika melihat dia di sini.
Juga Park Jae Kyung. Gue suka akting dia, karena ini cewek emang keren banget. Sejak jaman Iris, dia udah mencuri perhatian. Namun gue kurang suka dia di We Got Married. Cewek 30-an kok ya labil. Imagebadass yang selama ini melekat di benak gue ambyar sudah. Ketika melihat dia kembali badass di sini, itu berhasil mengembalikan persepsi gue soal dia.
Dan Park Ha Sun. Dulu, gue cuma terganggu dengan ekspresi dia pas senyum dan bahagia. Untung aja dia jarang senyum. Namun, dia jadi super gengges di Drinking Solo (baca reviewnya di sini) jadi ketika menonton Two Weeks, dia kelihatan gengges aja. Apalagi pas nangis dan ketawa, arghhhh #SorrynotsorryParkHaSun
Anyway, gue menonton drama ini demi menghilangkan rasa baper akibat Scarlet Heart: Ryeo. Nyatanya, ini drama enggak bisa dijauhin dari SHR. Selain Kang Ha Neul yang jadi cameo, Moon Il Suk, si big boss dan musuh utamanya Tae San adalah yang main jadi King Taejo di SHR. Eaaa moment banget, he-he.

Akhir kata, gue makin stres setelah menonton ini. Mari kita peluk Junki karena nasibnya yang selalu super ngenes.

Friday, November 25, 2016

Drinking Solo, Me Time & Alasan Kenapa Kadang Kita Butuh Makan Atau Minum Sendiri

Foto: koreandrama.org

Salah satu drama Korea favorit gue adalah Let’s Eat, drama ringan tapi sedikit menyentil dan kisah tokoh-tokohnya bisa diterima di kehidupan sehari-hari (Let’s Eat 1 dengan original cast karena enggak terlalu dapet feel Let’s Eat 2). Ketika tahu akan dibikin spin off, Let’s Drink atau Drinking Solo atau Drinking Alone (sumpah, ini yang masih belum gue pahami dari drama Korea dengan seabrek-abrek judul) jujur aja gue semangat. Kali ini, kita diajak minum-minum. Terlebih begitu tahu Key akan main di sini, motherly instinct gue langsung keluar (I saw SHINee as my child, he-he-he).Tentu saja, sebagai seorang ibu yang baik, gue akan memonitor Key di sini.
Drinking Solo bercerita tentang kehidupan di Noryangjin. Tentang mereka yang ingin ikut tes CPNS dan belajar di sebuah pusat lembaga belajar. Juga persoalan guru-guru di sana.
Ngomongin soal tokoh-tokohnya, gue lebih suka tokoh pendamping ketimbang tokoh utama. Sepanjang episode, gue menunggu kisah apalagi yang akan dihadapi tokoh pendamping, dan enggak ambil pusing dengan dua tokoh utama Jin Jung Suk dan Park Ha Na. Kisah mereka standar dan udah ketebak endingnya gimana. Terlebih gue enggak suka dengan ekspresi Park Hana, entah pas ketawa atau nangis (later, ini juga yang mengganggu gue ketika menonton ulang Two Weeks—review menyusul). Juga dengan pengulangan yang dilakukan Jin Jung Suk setiap episode soal tiga-aturan-penting-saat-minum yang selalu disebut di setiap episode. Sorry Professor Jin, I have to skip it.

Spotlight for Supporting Role
Foto: imgur.net

Yup, para supporting role inilah yang bikin drama ini menarik. Setiap episode, gue menunggu impersonasi apalagi yang akan dilakukan Professor Min. Dia jadi salah satu bumbu penghangat cerita, dengan segudang bakatnya dalam meniru karakter di drama atau film. He’s super funny, dan kalau lagi impersonasi beneran total, enggak tanggung-tanggung. Hebatnya, dia melakukan ini bukan buat dirinya, melainkan agar muridnya enggak bosan saat dengerin pelajaran di kelas dia. Favorit gue ketika dia meniru Park Hae Young dan ngobrol dengan detektif Lee Jae Han ala-ala lewat walkie talkie yang mirip banget dengan yang dipakai di Signal (paling juga ini property Signal).
Ada satuhal yang menggelitik dari Prof. Min. Kita enggak pernah bisa menebak isi hati seseorang. Di balik pembawaannya yang riang dan sifatnya yang seolah-olah takut sama istri dengan alarm yang selalu bunyi setiap jam sepuluh malam, itu memberikan twist tersendiri. Twist yang enggak disangka-sangka. Dan bikin kita mikir kalau jauh di dalam hatinya, bahkan orang paling ceria sekalipun, menyimpan masalah. Mungkin kita memang butuh untuk menyimpan masalah itu sendiri, se-suck apa pun itu, ketimbang membaginya dengan orang lain—yang mungkin juga mempunyai masalah.

Tiga Sekawan Kesayangan
Foto: dramabean.com

Tokoh pendamping lain yang juga menyita perhatian adalah tiga sekawan Gong Myung, Kim Kibum dan Dong Young. Ini bukan karena gue Shawol trus gue subjektif, tapi Key di sini benar-benar natural. Dengan logat kampungnya yang lucu, Key benar-benar bertransformasi jadi pemuda nanggung pengangguran kebanyakan duit dari kampung. I live for your satoori, Kibum-ah.
Tiga sekawan ini mewakili masalah yang umum dimiliki para pencari kerja. Gong Myung yang baru keluar dari wajib militer dan sejujurnya enggak tahu apa yang ingin dia lakukan. Ketika teman-temannya belajar di Noryangjin untuk jadi pegawai negeri, dia ikutan. Apalagi ibunya juga memaksa dia melakukan sesuatu. Dia sering dipandang useless oleh kakaknya yang sempurna. Padahal, dia hanya enggak tahu apa yang dia inginkan. Bukan hal yang salah, kan, ketika kita masih belum tahu apa sebenarnya yang ingin kita lakukan di dalam hidup di usia 20-an? Meski orang-orang di sekitar kita tahu apa yang dia inginkan, bukan berarti kita juga harus tahu? Life is a process, a big process, am I right?
Kibum mewakili anak-orang-kaya yang manja dan kebanyakan duit dan sering dipandang remeh serta useless. Dari luar, dia memang tipikal happy go lucky guy, yang seolah hidupnya enggak punya masalah. Bahkan, si happy go lucky pun punya masalah, meski mungkin bagi orang lain, masalahnya cetek. Dia mungkin terlihat useless dan kekanak-kanakan, tapi ketika dia menghadapi sesuatu, justru dirinya bisa bersikap dewasa dan menerima kekalahan.
Dong Young menggambarkan anak dari keluarga pas-pasan yang bertekad tahun ini harus lulus dan dapat kerjaan. Biar dia enggak lagi jadi pengangguran dan mengurangi beban keluarga. Gue yakin, banyak yang berada di posisi Dong Young sehingga enggak heran jika kita gampang bersimpati pada sosok ini.
Persahabatan mereka bertiga jadi bumbu menarik di sini. We feel happy and relieved when we know that we have someone to rely on. Meski saling bersaing dan kadang berantem, mereka selalu ada satu sama lain. Mereka saling menguatkan. And I live for their bromance.

Sometimes We Need a Time to Drinking Alone
Foto: yonhap.news.com

Terlepas dari gue yang enggak suka kalimat berulang-ulang yang disampaikan Jin Jung Suk, gue setuju dengan pemikirannya. Kadang, kita butuh waktu untuk makan atau minum sendiri. Bukannya biar kita terlihat pathetic atau menyedihkan. Simply because everyone need their me time. We need our ‘me time’. Karena ketika kita makan sendirian, kita enggak perlu dengerin keluh kesah orang lain yang sebenarnya enggak kita butuhkan. Kita enggak harus dengerin curhatan teman dan bikin kita makin mumet setelah seharian bekerja. Bukannya enggak setia kawan, tapi enggak mungkin juga kan setiap hari harus dengerin keluh kesah orang?
Dengan makan sendiri, kita bisa terhindar dari keharusan berbasa basi. Gue pernah mengalaminya, saat sedang makanrame-rame, at that time I want to be alone. Hal yang manusiawi jika sesekali kita merasa malas berbasa basi dengan orang lain, terpaksa tertawa for the sake of biar orang enggak tersinggung, dengerin cerita orang lain biar enggak dibilang ‘lo enggak pedulian banget sih?’ dan segala tetek bengek basa basi lainnya.
Dengan makan sendiri, kita bisa fokus pada diri kita dan isi pikiran kita.
Sesekali, makan bareng memang menyenangkan. Namun, itu harus diimbangi dengan waktu untuk diri sendiri. Masalahnya, banyak yang menganggap aneh orang yang makan sendiri di suatu café, misalnya. Dulu gue berpikiran kayak gitu. Anti makan sendiri atau nonton sendiri. Sampai akhirnya muncul kesadaran kalau enggak selamanya teman lo available buat lo dan kalau selalu nunggu teman, lo enggak bakal mendapat apa-apa dan cuma buang-buang waktu. Akhirnya gue memberanikan diri buat sendiri. Hasilnya ternyata enggak semengerikan itu.

Seperti kali ini, gue berhasil menyelesaikan tulisanini (dan satu chapter novel) dengan duduk sendirian di Starbucks.

Monday, November 14, 2016

The K2: Rollercoaster Kehidupan Keluarga Calon Presiden Korea dan 5 Alasan Kenapa Kim Jeha dan Anna Pantas Bahagia


I love Ji Chang Wook after I watched his epic drama, Healer. By the time I read that Ji Chang Wook will be on new action drama, I feel happy. Apalagi ini dramanya TvN, stasiun TV yang punya sejarah nayangin drama-drama keren. Jadi, bertambah alasan untuk ngikutin The K2.
Later I know that YoonA will be a part of this drama. Ngomongin soal visual, pasti cakep banget. Ji Chang Wook dan YoonA, pasangan yang pas. Tapi YoonA masih agak diragukan di drama. Katanya, di drama God of War Zhao Yun, YoonA oke, tapi karena enggak nonton, jadi enggak bisa komentar apa-apa. Terakhir nonton dia di Prime Minister and I, tapi karena di sana dia jadi another-ordinary-bubbly-girl, meski aktingnya sedikit meningkat, tapi kurang berkesan. Begitu tahu karakter Go Anna bukan tipikal girl next door, dan sedikit dark, I have a little hope for YoonA.
Hasilnya? Amazing, YoonA membantah semua prejudice yang dilekatkan ke dia. I never see YoonA in Anna. Dan chemistry dia dengan Ji Chang Wook itu juara. Ramyun scene will always be my favorite, karena bikin gemes aja nonton JCW ngomel-ngomel sendiri pas lihat kepolosan Anna lewat CCTV, he-he.

Rollercoaster ala The K2

Ketika berita soal The K2 muncul, terdapatlah nama penulis skenario Yong Pal yang bikin cerita ini. Banyak yang khawatir karena Yong Pal emang bikin trauma. Selain akting Kim Tae Hee yang bikin emosi jiwa, ceritanya juga ambyar di tengah jalan. Enam episode awal menjanjikan, lalu tiba-tiba byaaar jadi enggak jelas.
Jadi, gue pun menyimpan kekhawatiran yang sama.
The K2 mempunyai awal yang menjanjikan. Kelihatan ini drama ber-budget besar, dengan permainan kamera yang keren dan bikin adegan action makin menegangkan. Dari episode 1, JCW udah bag big bug babak belur. Meski sudah berdarah-darah, JCW masih cakep.
Oh sedikit out of topic. Menurut gue, JCW ini tipe cowok yang gue susah buat ngejelasin dia masuk kelompok mana. He’s not your typical flower boy like Lee Joon Ki or Lee Min Ho. Dia juga bukan tipikal cowok yang ganteng kelar. He looks like a flower boy but at the same time he looks so manly. Dia bisa dibilang ganteng kelar tapi di saat yang sama ada sesuatu di diri dia yang bikin enggak bisa berpaling. Susah dijelasinlah cakepnya dia kayak apa. Dan JCW ini gerak-genic, karena di foto dia enggak terlalu breathtakingly beautiful, tapi kalau sudah di gambar bergerak, he took my breath away ha-ha. Apalagi kalau udah akting, two thumbs up.
So, back to The K2. Di tengah-tengah, kelihatan cerita mulai keteteran. Entahlah, mungkin penulisnya pengin memuaskan imajinasi JeNa shippers karena adegan manis mereka makin banyak. Not that I am complaining, gue suka sih sama mereka, tapi bukan berarti cerita awal jadi keteteran. Masuk episode sepuluh, celah untuk jalan keluar dari semua masalah belum kelihatan. Tinggal enam episode lagi, pasti deh semua diburu-buru.

#JusticeForAnna

Menjelang akhir, cerita masih agak keteteran. Untung akting semua cast nyelametin cerita, jadi ceritanya enggak keteteran amat. Sebagai perbandingan, Yong Pal literally based on Joo Won. He carried that drama alone. Jadi, meski cerita keteteran, akting Joo Won tetap enggak bisa nyelametin dramanya. Keuntungannya The K2 adalah, meski cerita keteteran, sinematografi dan cast bisa menutupi. Terutama cast. Mereka berempat, ditambah Choi Sung Won dan Park Kwang Soo, bisa nutupin celah itu.
Sesuai judul subbab ini, concern gue ada di karakter Anna. Di sinopsis awal, dibilang kalau Anna mengalami masalah psikologi dan menjadikan Jeha sebagai sarana untuk balas dendam. Harapan gue sempat meningkat ketika Anna kabur dengan pura-pura jadi Miran. Juga pas Anna bantuin Jeha ketika diserang di lokasi photoshoot. Saat itu mikir, oke Anna akan balas dendam sama Choi Yoo Jin dan manfaatin Jeha. Tapi apa? Setelah itu, karakter Anna berubah total jadi damsel in distress. Dikit-dikit, Jeha. Dikit-dikit, Jeha. Ini, sih, enggak kayak yang dijanjiin sejak awal. That’s why I need #JusticeforAnna

A Bittersweet Ending

Oke, this is spoiler alert
Terlepas dari cerita yang keteteran, actually I love the last episode. Masih menegangkan, dan semua tokoh utama berada di satu tempat. You-and-I-will-die momen yang benar-benar bikin sesak napas. Dan untungnya, semua tokoh utama memiliki kejelasan akhir di sini (meski random killing di akhir cerita agak bikin turn off. I rather they root in jail. Karena mereka harus membayar semua kesalahan).
Choi Yoo Jin. Gue suka karakternya. Kejam but at the same time, fragile. And in the end, she got her husband love, eventought it just for five minutes. Dan Jang Se Joon akhirnya berbuat satu hal yang benar. Gue nangis sambil tersenyum di bagian ini.
Jeha and Anna. After all these years, they deserve to be happy. Especially Jeha. Gue sempat baca interview Ji Chang Wook kalau di skenario pertama yang dia terima, Jeha harusnya meninggal. Trus, entah kenapa akhirnya Jeha batal meninggal. I have mix feeling about that. Kalau Jeha meninggal, itu bagus buat dia dan ending ini realistis. Tapi, ini pasti bakal bikin penonton nangis darah. Kalau Jeha selamat, ending-nya enggak serealistis kalau dia meninggal, tapi ini juga bagus, because in the end of the day, he found his happiness with Anna.

Jadi, gue cukup puas menerima ending seperti ini.


5 Alasan Kenapa Kim Jeha dan Anna Pantas Bahagia

Enggak Punya Identitas
Cerita K2 berawal ketika Jeha difitnah sehingga dia jadi buronan, bukan cuma di Korea, tapi juga internasional. Akibatnya, hidupnya luntang lantung enggak jelas. Dan yang pasti, dia enggak punya identitas. Identitas dia yang sebenarnya enggak bisa dipakai, sehingga dia harus bersembunyi di balik identitas Kim Jeha yang diberikan Choi Yoo Jin buat dia.

Mencari Cinta Ayah
Seumur hidupnya, Anna cuma pengin ketemu ayahnya. Karena itu, dia mencoba kabur berkali-kali demi bisa bertemu ayahnya. Adegan Anna di gereja, menyanyikan lagu Amazing Grace sambil melihat ayahnya, that was my favorite part. In the end of the day, Anna finally had her father love. Meski cuma untuk sedetik, akhirnya dia bisa ngerasain cinta ayahnya.

Kehilangan Orang yang Dicintai
Dendam Kim Jeha didasari pada Raniya. Kegagalannya melindungi Raniya mendorongnya untuk melindungi Anna. Semakin dia kenal Anna, semakin dia pengin melindungi Anna. Di sisi lain, Anna selama ini dikurung sendirian. Kehadiran Jeha memberinya sedikit harapan. Mereka saling memberi harapan, that’s why they deserve their happiness.

Enggak Sengaja Kecemplung
Paling ngenes emang nasib Jeha. Dia cuma orang biasa yang enggak minta apa-apa, tapi nasib malah membawa dia terlibat dalam jeratan Choi Yoo Jin dan intrik politik. Kasian enggak, sih, lihat Jeha kelempar-lempar antara Choi Yoo Jin, Jang Se Joon, Park Kwang Soo, dan Choi Sung Won juga, plus Anna. Poor him. Let me hug you, Chang Wook, oppa, eh Kim Jeha.

They Deserve It
Enggak hanya karena mereka pantas bahagia setelah menjalani semua ketidakadilan dalam hidup, mereka juga pantas bahagia atas ketidakadilan yang diberikan si penulis skenario kepada karakter mereka. Dan pada intinya, I live for Jeha and Anna happiness.

Last but not least, my dear PD-nim, who is Kim Jeha real name?
Only Anna knows, he-he.

Friday, November 11, 2016

10 Alasan 4th Prince Wang So Minta Dipeluk Banget Karena Nasibnya yang Ngenes di Sepanjang Drama Scarlet Heart: Ryeo


(Spoiler alert)

Speaking of historical drama, actually that’s not my cup of tea. Historical drama yang gue tonton bisa dihitung pakai jari. Dulu banget, gue suka Jewel in the Palace. Melipir sedikit ke China, Putri Huan Zhu will always be my favorite, begitu juga dengan Giok di Tengah Salju. Namun, udah lama banget enggak nonton historical drama.
Sampai beberapa bulan lalu, terjadi kehebohan antara Scarlet Heart: Ryeo (Moon Lover) vs Moonlight Drawn by the Cloud. Di timeline Twitter gue heboh banget tuh twitwar antara dua drama yang entah kenapa tayang barengan dengan judul sama-sama Moon. Di Korea sendiri, Moonlight jauh lebih sukses, terlepas dari segala media play yang dilakukan tim Moon Lover. Tapi internasional, Moon Lover jadi juaranya.
Terlepas dari itu semua, gue masih belum ada niat buat nonton simply because of historical drama. Little that I know, I gave up dan mutusin buat nonton Moon Lover atau Moonlight. Cap cip cup, akhirnya terpilihlah Scarlet Heart.
Dari segi cerita, sebenarnya intinya masih berkutat di harta, tahta, wanita. Intrik politik kerajaan dan cinta. Cerita keluarga kerajaan yang sebenarnya memang menarik buat diikuti karena full of drama. Gue cukup bersimpati dengan keluhan netizen Korea karena dari segi departemen akting, drama ini minus banget. Lee Jun Ki hard carry this drama, dibantulah sama Kang Ha Neul dan Hong Jong Hyun. Sisanya? IU dengan mata melototnya dan ekspresinya yang suka telat, Baekhyun yang so so, Nam Joo Hyuk yang masih kaku plus Seohyun juga, jadi ngelihat duo kaku di sini, dan Ji Soo. Entahlah apa salahnya di Ji Soo. Ekspresi dia yang over atau karakter dia yang dibikin nganu, jadi menurut gue ini bukan penampilan terbaik Ji Soo.
Namun, di balik semuanya, gue cukup enjoy nonton Scarlet Heart. Simply because of Wang So. Lee Jun Ki… ya udahlah ya. Setelah sebelumnya dia hard carry (God, dua kali pakai kata ini. GOT7 effect haha) di Scholar Who Walks the Night, sekarang pun dia masih belum beruntung dapat lawan main oke. Akting Junki yang bagus dan karakternya yang ngenes bikin gue jatuh cinta sama Wang So. Perlu diketahui, gue pengidap second lead syndrome, karakter cowok yang oppa-able macam-macam Wang Wook biasanya sukses bikin baper. Tapi, di sini So jauh lebih menggoda.
Apalagi eyeliner-nya. Sepantaranlah sama alisnya Wang Yo yang cetar.

He comes from this


to this


and become like this

Penampilan So favorit gue ketika dia ponian dan pakai topeng. Seksi-seksi misterius. Meski bekas tindikannya Junki rada ganggu sebenarnya (oke, ini guenya aja sih yang entah kenapa pas nonton drama ini kelewat detail sampai jumlah tindikan Junki aja hafal). Dari awal sampai akhir, So sukses bikin gue terharu biru karena karakternya yang super ngenes. Mungkin, So bisa dinobatkan jadi the most ngenes character at Korean Drama 2016 (imbang dengan Lee Jae Han di Signal).
Saking ngenesnya nasib So, gue sampai mendata apa aja yang bikin kita (gue) pengin ngepuk-puk pangeran ini. Berikut 10 Alasan 4th Prince Wang So Minta Dipeluk Banget Karena Nasibnya yang Ngenes di Sepanjang Drama Scarlet Heart: Ryeo.

Dilukain Ibu Sendiri
I hate her. Ibu egois yang manfaatin anaknya sendiri. Demi mengancam suaminya biar enggak dimadu, dia menjadikan So sebagai sandra dengan ancaman mau ngebunuh So. Enggak jadi mati, sih, tapi pisaunya melukai wajahnya So. Kalau bukan karena dia anak raja, udah diusir karena enggak orang jelek enggak diterima di sana. Hmm… kalau sejarahnya benar, sama aja kayak sekarang, netizen mandang fisik. Sehingga, seumur hidupnya So harus bersembunyi di balik topeng. I hope he knows that topengnya itu justru bikin dia kelihatan makin cakep. Efek matanya Junki juga, sih, sipit-sipit tajam melukai hati.
(Mungkin lukanya Wang So ini yang jadi cikal bakal penemuan BB Cream *abaikan*)

Dibuang dan Jadi Tahanan
Udah dilukain trus dibuang? Juara emang ini emak-emak satu, minta dipites. Niatnya So dikirim buat menghibur keluarga di Shinja yang anaknya meninggal. Tapi kenyataannya dia malah disiksa di sana, kayak tahanan. Adegan So kecil nangis-nangis manggil ibunya, trus si ibu cuma melengos, dan itu kebayang sampai So dewasa… jadi pengin peluk Junki, eh So.

Ngadepin Soo yang Labil
Hae Soo, naksir siapa trus pindah jatuh cinta sama siapa trus akhirnya nikah sama siapa. Juara!!! Tapi asli, butuh kesabaran tingkat tinggi buat ngadepin Soo yang labil. Dan suka ikut campur. Gue sebenarnya agak kurang sreg dengan karakternya Soo. Logikanya, sih, ketika lo terdampar di masa lalu, lo bakal mencari cara buat balik ke masa depan. Eh tapi, kalau di masa lalu ada So sih, gue sedikit mengerti dengan Soo (ditimpuk penonton Moon Lover). Tapi, karena ini juga, kita bisa tahu kalau di balik imejnya yang berani dan ditakutin, So ternyata cuma manusia biasa. Tetap takluk oleh cinta. Dan karena sikap Soo juga, kita jadi tahu kalau So tipe cowok yang patut buat diperjuangkan. Sekali lagi, mari kita peluk Junki, eh So.

  
Kakak Nyebelin Kayak Wang Yo
Wang Yo, anak yang sempurna di mata sang mama. Calon paling pas buat jadi raja. Di kehidupan modern, ada di bawah bayang-bayang kakak kayak Yo emang nyebelin. Apalagi di masa ini, ketika darah lebih kental dari air itu bullshit. Enggak perlu lo saudaraan, kalau harus bunuh, ya bunuh. Kalau harus dibuang, ya tikam aja. Dan So, kasian amat dia punya kakak kayak Yo. Ditambah emaknya, makin apes aja deh nasib So.
(Btw Yo, ajarin dong buat bikin alis secetar itu)

Adik Labil Macam Wang Jung
Gue enggak bisa terima karakternya Wang Jung. Okelah, dia masih kecil. Mungkin emosinya masih belum stabil, meledak-ledak. Jung terlalu melihat hitam dan putih. Sepanjang nonton, harapan gue cuma satu. “Jung, please jangan lihat di permukaan. Please lihat So lebih dalam, dan arahkan kemarahan lo ke sasaran yang seharusnya.” Tapi, Jung enggak bisa dengerin gue. Dan episode terakhir, gue benci Jung karena dia bikin kacau So dan Soo. (I know, that’s my personal opinion). Meski gue enggak 100% suka Soo, tapi Soo 100% bikin So bahagia, trus aku bisa apa selain relain SoSoo?

Tarik Menarik Antar Saudara
Mungkin kedengarannya sadis ketika seorang diangkat jadi raja, dia harus membunuh semua saudara atau keponakan cowok karena mereka adalah ancaman buat posisinya. Apalagi di masa drama ini dibuat, ketika Goryeo masih belum stabil. Tapi, ini masuk akal. Contohnya terlihat di drama ini. Tarik menarik antar saudara, masing-masing punya agenda sendiri, saling menikam demi memuluskan agenda, dan melakukan apa saja. Adegan ketika So jadi raja dan dia cuma bisa makan hati ngelihat tingkah orang di sekitarnya, itu bikin So terlihat vulnerable but at the same time, dia juga terlihat kuat.



Ditinggalin Orang Kepercayaan Satu per Satu
Adegan ketika orang kepercayaan So satu per satu ninggalin dia, it breaks my heart. So makin kelihatan rapuh. Pertama jendral Park Soo Kyung. Trus Baek Ah. Trus Hae Soo. Terakhir Ji Mong. Dan pada akhirnya dia beneran sendirian di tengah jeratan kiri kanan orang-orang yang pengin menjatuhkan dia. Sekali lagi, mari kita peluk Junki, eh So.

Nikahin Yeon Hwa
Gue emang enggak rela So nikah sama Soo, tapi lebih enggak rela lagi So nikah sama Yeon Hwa. Namun, namanya juga pernikahan politik, jadi untuk memuluskan jalannya pemerintahan, dia terpaksa ngorbanin hati. Kayak belum cukup aja pengorbanannya So, hati pun harus dikorbanin. Tapi kalau dipikir-pikir, So nikah sama siapa aja juga pasti ngenes nasibnya. Sama anaknya Wang Mo? Kasian, karena dia cuma pengin nyelametin anak kecil itu. Sama Soo? In the end Soo will leave him. Yeon Hwa? Nikah sama cewek ular, dih. Udahlah So ngebujang aja sampai umur 50. Eh tapi itu juga ngenes, sih, karena sayang aja bibit bagus kayak So enggak dilanjutin, he-he.

Kepisah Sama Anak Sendiri
Salah satu yang bikin kesel dari nonton drama Korea adalah episode terakhir. Karena last episode suka bikin ilfil. Cukup jarang ada yang bisa bertahan sampai episode akhir. Harus diakui, Scarlet Heart lumayan bisa mempertahankan sampai akhir. Greget lihat So naik kuda cuma buat dapetin abu Soo. Greget lihat So akhirnya menyadari dia punya anak. Lagi-lagi, beberapa menit menjelang akhir, So dibikin ngenes lagi. Untuk terakhir kalinya, mari kita peluk Junki, eh Wang So.

Just for you know, ketika gue baca artikel soal kemungkinan ending Scarlet Heart. Junki, dalam interviewnya, ngebocorin kalau mereka shoot banyak adegan in modern day. IU ngespoilerin di Instagram adegan dia nangis dan ada cowok ngasih sapu tangan, yang dipercaya itu adalah modern day Wang So. Mungkin PD-nim ngambil ending ini karena kemungkinan bakal ada season 2, sama kayak versi China-nya. Dear PD-nim, at least give us a spoiler about modern day Wang So because I want to see So in suit (meski menurut gue, Junki cakepan jadi orang dulu dibanding orang biasa. Kurang stand out aja cakepnya pas jadi orang biasa).

1-20 Nasibnya Ngenes
Jadi, inti dari postingan ini adalah betapa mengenaskannya nasib Junki, eh So. Untuk terakhir kalinya (ini beneran paling akhir), mari kita peluk Junki, eh Wang So.

Bonus: #JusticeForLeeJunKi

I don’t know what happen to him, tapi bisa dibilang Junki salah satu aktor yang sering kurang beruntung dalam hal lawan main, terutama sejak comeback-nya dia setelah selesai wamil. Aku kangen lihat dia main drama bagus dengan lawan main kece, kayak di Iljimae atau Arang and the Magistrate. Akting doi keren, jadi kalau dilawan sama yang biasa, kasian lawan mainnya, makin keteteran deh, tuh. And IU, i like her as a singer, but in acting? She’s not great. Apalagi untuk historical drama, dia terlalu modern. Okelah, ini ceritanya dia dari masa depan, tapi tetap aja rasanya enggak sreg. Di drama Junki sebelum ini, Scholar Who Walks The Night, Junki main bareng Lee Yubi yang bikin emosi juga aktingnya. Please Junki, choose wisely on your next project. Sebelumnya, mari kita tunggu Hollywood debut Junki di Resident Evil: The Final Chapter tahun depan. Semoga dagu lancipmu dan muka bengismu semakin bersinar, ya, Bang!

Saturday, November 5, 2016

[Sunday Story] The Story of a Writer and Street Musician: A Thank You Coffee

The Story of a Writer and Street Musician: A Thank You Coffee

(Foto: teacoffeebooks.tumblr.com)

Writer’s block is suck.
Seriously, harus berapa lama lagi aku duduk bengong di sini sementara kata-kata yang aku harapkan mengisi layar word malah nyangkut entah di mana. Otakku blank. Benar-benar kosong. Seolah-olah kurcaci kecil yang selama ini bekerja sebagai penggerak mesin di otak mogok bekerja. Padahal aku sudah memberikan kopi kesukaannya sebagai bahan bakar, tetap saja enggak ada ide cemerlang muncul di benakku.
“Lisa, kenapa tulisannya belum dikirim?”
Pesan itu sudah kuterima sejak hampir satu jam yang lalu. Tapi kubiarkan tidak terbaca. Aku tidak mau big boss memberondongku dengan pesan tagihan.
Semula kupikir writer’s block cuma mitos. Gaya-gayannya para penulis aja biar merasa dibutuhin. Aku juga mengutuk orang yang perama kali bilang kalau lagi deadline, otak tiba-tiba jadi kreatif. Semuanya enggak terbukti. Bullshit.
Buktinya, meski sudah terdesak deadline, otakku sama sekali enggak mendadak jadi kreatif.
Aku menatap jendela lebar yang ada di depanku. Siapapun di luar sana pasti bisa melihatku yag sedang bertopang dagu di sini. Beberapa orang yang lewat dan enggak sengaja menoleh ke coffee shop ini pasti akan mengerutkan dahi begitu melihat wajah nelangsaku. Mungkin beberapa di antara mereka akan berkata dalam hati, betapa menyedihkannya aku. Ugh, seandainya saja mereka bisa membantuku, bukannya tertawa meledek.
Sekali lagi, kuteguk kopi yang sudah dingin. Semoga akumulasi dingin dan rasa pahit bisa menyentak kurcaci kecil itu dan memaksanya untuk segera bekerja.
Sambil menunggu reaksi kopi, aku menatap keadaan di luar. Jalan Cikini lumayan sepi siang ini, tapi sangat panas. Bahkan aku yang ada di coffee shop yang dilengkapi AC ini aja bisa merasa gerah hanya dengan melihat keadaan di luar. Pasti aku sudah meleleh seperti es krim kena panas kalau ada di luar.
Tapi sepertinya tidak begitu dengan street musician yang sejak aku datang sudah ada di sana. Keringat sebesar butir jagung menetes dari keningnya, tapi dia tetap fokus pada gitarnya. Dari sayup-sayup bunyi gitar dan lirih nyanyiannya yang menyusup masuk ke kedai kopi ini, aku tidak menenal lagu itu. Satu pun. Entah aku yang terlalu menutup diri sehingga tidak mengenal lagu baru, atau memang lagu itu dia karang sendiri.
Aku menajamkan telinga, berusaha mendengar nyanyiannya di sela ratapan Adele yang mengisi coffee shop. Meski tidak mengerti gitar, aku berani bilang kalau permainan gitarnya tergolong hebat untuk sekadar jadi street musician. Namun, bukan itu yang membuatku akhirnya fokus melihtnya.
Bukan permainan gitarnya.
Melainkan ekspresinya.
Dia tidak melihat ke mana-mana. Hanya menatap ke satu arah. Sambil terus bernyanyi. Dia bahkan tidak peduli kalau ada orang yang melemparkan duit ke dalam case guitar yang ada di depannya. Atau, kalau ada jahat yang mengambil duit yang terkumpul di sana, aku yakin, dia pasti akan tetap bergeming.
Kualihkan tatapan ke arah dia melihat. Aku sengaja mencondongkan tubuh di atas meja, agar bisa melihat lebih jauh lagi. Tapi tidak ada yang spesial. Hannya ada pedestrian yang di beberapa tempat dihias gambar oleh mahasiswa IKJ. Cuma ada tukang parkir yang sibuk mengipaskan topi untuk mengusir panas. Atau beberapa orang yang lalu lalang.
Lalu, apa yang membatnya terpaku ada titik entah apa itu?
Kembali aku menatap si street musician, kuperhatikan ekspresinya. Dia terlihat sendu, seperti orang yang tengah mengharakan sesuatu.
Atau merindukan sesuatu?
Berkali-kali, aku menatap sosoknya dan arah tatapannya. Berganti-gantian.
Mungkin dia tengah menunggu kedatangan seseorang. Beragam skenario bermain di benakku. Cerita apa yang dimiliki street musician ini?
Perempuan yang dicintainya meninggalkannya di jalanan ini. Dia tidak bisa menerima, sehingga setiap hari, dia akan kembali ke sini, memainkan lagu yang dia yakini bisa membawa kembali perempuan yang dicintainya.
Atau…
Dia dan perempuannya berpisah di sini. Mereka janji akan bertemu lagi. Di tempat ini. Dia menepati janjinya, kembali ke sini. Tapi perempuan yang dicintainya tidak datang. Dia masih yakin dengan janjinya, sehingga dia tetap di sini. Dengan gitarnya, berharap perempuan itu kembali menepati janjinya.
Ah… The Man Who Can’t B Moved says hello to me.
Mungkin juga cerita lain. Dia sudah menyakiti hati perempuannya. Dia ingin minta maaf, tapi tidak tahu harus mencari perempuan itu ke mana. Yang dia tahu, tempat in favorit perempuan itu. Sehingga, dia hanya bisa melantunkan ucapan maafnya sendiri. Berharap suatu hari si perempuan lewat dan mendengar permintaan maafnya.
Kurasakan sesuatu menggelitik otakku,
Ah sepertinya kurcaci kecil itu sudah berhenti mogok kerja.
Dengan tersenyum, aku menatap layar laptop. Perlahan, jariku mulai menari di atas keyboard. Penantian dan Bukti Kesetiaan.
Aku tidak tahu berapa lama waktu yang kuhabiskan untuk menuangkan ide di otak ke dalam tulisan. Yang kutahu, begitu aku selesai mengirim tulisan itu dan mengangkat kepala, si street musician sudah selesai bekerja dan sibuk membereskan gitarnya. Enggak lama kemudian, dia masuk ke coffee shop ini. Dia duduk di meja panjang yang juga kududuki sejak tadi, di dekat pintu masuk. Wajahnya masih sama, ekspresinya masih terihat menyedihkan.
Begitu saja, aku memesan secangkir kopi untuknya. Anggap saja ini ucapan terima kasih dariku. Aku tidak tahu masalah yang menimpanya, tapi yang kutahu, dia sudah membantuku, meski dia tidak tahu kalau dia cukup berjasa dan menyelamatkan pekerjaanku hari ini.
Segera kubereskan laptop dan menyimpannya ke dalam tas. Setelah meneguk sisa kopi hingga habis, aku bersiap untuk pergi.
Aku sampai di pintu, bersamaan dengan waitress mengantarkan kopi untuknya. Dia terlihat kaget. Entah apa yang dibisikkan si waitress, aku tidak bisa mendengarnya. Namun detik selanjutnya, dia mendongak sehingga kami bertatapan.
Kuberikan dia sebaris senyum.

“Thank you,” bisikku, dan melanjutkan langkahku keluar dari coffee shop ini. Diiringi kerutan dalam di keningnya.
**

NB: Ini postingan pertama di Sunday Story. Yup, ke depannya, setiap Minggu gue bakal ngepost Sunday Story. Sunday Story sendiri berupa cerita singkat yang gue bikin sendiri. Untuk cerita ini, belum diputuskan apakah akan dijadikan seri khusus Sunday Story atau cuma cerita untuk satu episode saja. We'll see. Enjoy Sunday Story.

XOXO
iif