Monday, October 31, 2016

Lesson Learned From Younger (TV Series): Embrace Your 20's

Lesson Learned From Younger (TV Series)
Embrace Your 20s


Sumber: tvseriesfinale.com

Semua berawal dari rekomendasi serial TV US oleh teman sekantor. Judulnya Younger. Premisnya tentang Liza Miller, 40 something year old mother yang baru aja cerai dan mengalami kesulitan finansial karena kebiasaan gambling suaminya. She has 17 year old daughter who study in India. Karena bangkrut, Liza mutusin buat cari kerja lagi. Masalahnya dia udah belasan tahun berhenti kerja karena jadi ibu rumah tangga. Ketika pengin mulai lagi, dunia kerja udah enggak sama. Jarang perusahaan yang mau nge-hire ibu-ibu 40 tahun karena banyak anak-anak muda yang lebih siap buat diperkerjakan.
Suatu malam, ketika lag di bar bareng teman slash roommate, Maggie, seorang cowok nyamperin dia. Seenaknya aja itu cowok—his name is Josh, a tattoo artist—mengambil kesimpulan kalau mereka seumuran. 26 years old. Jadilah Liza dapat ide buat bohong dan pura-pura berumur 26 tahun. Pas interview kerja, dia berhasil, hingga akhirnya jadi asisten di bagian marketing di Empirical Press, sebuah publishing house.
Jadilah Liza mulai menjalani hari-harinya sebagai cewek middle 20s. Liza pun temenan dengan Kelsey Peters, editor di kantornya dan Lauren, sahabat baik Kelsey, yang beneran berumur 20 something. Perlahan tapi pasti, Liza mulai belajar jadi cewek 26 tahun.

A Second Chance


Sumber: twitter.com

This TV series told about second chance but in a different way. Gue sih nangkepnya gitu. Sebuah kesempatan membuat Liza mendapat kesempatan kedua untuk mengulang kembali masa-masa 20an tahun yang sempat hilang ketika dia menikah dan punya anak. Liza mendapat kesempatan untuk merasakan keseruan di usia 20 tahun yang dulu enggak sempat dia rasakan.
Second chance is a special thing. Enggak semua orang bisa merasakan hal ini. Jadi ketika kita bisa merasakan kesempatan kedua, ya jangan disia-siakan. Just like Liza. Dia kembali merajut mimpi-mimpinya untuk sukses di dunia penerbitan. Juga kesempatan kedua untuk kembali dicintai dan mencintai setelah kegagalan besar yang dialaminya.

Embrace Your 20s


Sumber: thegloss.com

Satu hal yang menohok gue sepanjang menonton serial ini adalah we have to embrace our 20’s. Because we’re not Liza. We’re Kelsey or Lauren, yang belum tentu bisa dapat kesempatan kedua seperti Liza. Secara sekarang gue juga berada di mid 20’s—27 tepatnya—makanya merasa related banget sama serial ini.
Sehabis menonton season satu, satu pertanyaan besar mengganggu gue. Sudahkah gue memaksimalkan kesempatan yang gue punya? Am I, being mid 20’s girl, appreciate every chance that I have? Am I, as a 27 yeard old girl, maximize my potential and achieve all my dream?
The answer is, not yet.
Jujur-jujuran aja, gue tahu kalau gue belum memanfaatkan semua kesempatan yang gue punya untuk maju. Gue enggak memaksimalkan potensi gue. Jawaban ini jelas banget. Selama gue masih punya waktu untuk leyeh-leyeh enggak jelas sambil menatap langit-langit kamar yang lama-lama rasanya bikin gue stuck, itu berarti gue belum memaksimalkan waktu yang gue punya, kan?
Kayaknya gue lebih banyak bengong ketimbang do something.
Ketika menonton serial ini dan melihat tokoh-tokohnya berusaha untuk embrace their time while they have it, I ask to myself. Apa aja sih yang udah gue lakuin? Enggak usah jauh-jauh melihat orang lain. Cukup dengan melihat tulisan lama di blog ini aja kelihatan bedanya antara the old me and the present me. Ketika membaca tulisan lama di blog ini, meski terkadang terkesan naif, gue seakan diajak untuk memikirkan kembali waktu-waktu yang udah gue lewati dan perlahan menyadari kalau gue sudah cukup banyak membuang-buang waktu.
Liza ngingetin gue kalau waktu itu berjalan cepat. Bahkan gue aja enggak nyangka kalau sekarang gue udah 27 tahun. Mungkin aja, dalam sekedipan mata, gue udah berusia 30 tahun. Jujur aja, gue enggak mau ketika nanti ngeliat lagi ke belakang, gue seperti Liza—menyadari kalau sudah banyak hal terbuang percuma.
Younger enggak sengaja menyuntikkan kembali sedikit semangat buat gue. Menyadarkan gue kalau sudah cukup leyeh-leyeh gaje and do something. Do anything that makes me happy and proud of myself. There’s no time to do nothing because I don’t want to waste my time anymore.
Mungkin juga, setting publishing di Younger mengingatkan gue sama mimpi lama yang sampai sekarang masih belum berhasil gue capai. Being a writer. Iya sih, gue udah nerbitin beberapa buku. Tapi breakthrough yang gue tunggu-tunggu belum kecapai. Lha gimana bisa kecapai itu breakthrough kalau guenya malas-malasan? Draft dari 2013 aja masih terbengkalai, gimana bisa maju?
Makanya sampai sekarang masih jalan di tempat.
So I wanna say thang you Liza Miller because now I know that time is not (always) by our side. Karena itu, kita harus memanfaatkan waktu itu, selama dia masih setia nemenin kita.
Let’s embrace our 20s together, lads.
XOXO
iif


Saturday, October 29, 2016

Lipstick dan Dorongan Untuk Jadi Lebih Berani

Let’s Put On Your Favorite Lipstick

Sumber gambar: tumblr.com

2016 memang belum berakhir, tapi kalau boleh mengambil satu trend besar di tahun ini, itu tentang lipstick. Terlebih liquid lipstick—perpanjangan dari 2015 sebenarnya. Banyak online shop khusus lipstick bermunculan. Seleb-seleb ngeluarin line lipstick sendiri—I’m still craving Kylie Lip Kit, entah itu internasional ataupun seleb Indonesia. Bahkan brand lipstick local juga banyak bermunculan—Wardah and Mineral Botanical are my favorite.
Dan gue juga ikut terkena dampak lipstick. Tepatnya sejak tahun lalu, sih. Gue juga enggak ngerti kenapa bisa kena dampak lipstick. Gue emang enggak dandan, bahkan dulu aja pakai lipstick males. Tapi begitu kenal, serasa kena hipnotis gitu.
And now I can’t live without lipstick.
I don’t want to write a review or talk about any lipstick brand. I’m not a reviewer nor a beauty blogger. Tapi gue cuma pengin ngomong soal lipstick dan efeknya terhadap hidup gue.
Bisa dibilang dulu gue enggak pede pakai lipstick. Apalagi yang warna terang. Duh, masa iya sehari-hari aja pakai lipstick warna terang? Sampai suatu ketika, gue nyobain lipstick warna dark red. Dan ternyata enggak selebay yang gue pikir. Sejak saat itu gue mulai mencoba banyak warna lipstick. Enggak disangka-sangka, gue jadi tenggelam dalam dunia perlipstickan. Gue mulai hafal brand yang bagus mana. Gue mulai tahu di mana beli lipstick yang oke. Gue mulai banyak ngabisin kuota internet dengan jalan-jalan di Instagram mencari warna lipstick yang oke di online shop. Yang pasti, pengetahuan gue tentang perlipstickan bertambah dan tentunya, total duit yang dikeluarin buat lipstick juga bertambah, he-he.
Ketika mencoba lipstick gue enggak membatasi diri pada pakem tertentu. Gue coba yang warna standar, shocking color, dark color, nude color, anything. Lipstick matte emang hits banget dan gue suka karena nempel lama di bibir dan enggak glossy. Dan karena gue enggak dandan, lipstick yang tepat bisa bikin muka enggak kelihatan terlalu pucat.
Lewat lipstick juga gue jadi berani mencoba sesuatu yang selama ini gue rasa enggak mungkin. Gue berani berekspresi lewat warna. Gue jadi lebih pede dan sebodo amat dengan kata orang. Contohnya ketika gue pengin tampil gothic serba hitam from head to toe, enggak lupa gue nambahin lipstick dark purple. Meski kata orang kayak jurig lah, atau hebohlah, bagi gue itu enggak dimasukin ke pikiran. Emang, sih, pas beli warna-warna berani gue mikir apa gue berani makenya? Trus gue diingetin sama salah seorang teman di kantor, sebut saja namana Mbak S. Dia bilang, “Kalau lo emang suka, ya kenapa enggak beli? Kan elo yang suka.”
Benar juga, sih. Gue ini yang suka, kenapa gue harus batal beli karena omongan orang? Di situ gue ngerasa ada yang berubah dari diri gue. Selama ini gue selalu lebih dengerin kata orang. Pengin lakuin sesuatu, nanya orang dulu dan ambil keputusan dari perkataan orang. Siapa sangka kalau sebatang lipstick memberi efek besar buat gue?
It’s not just about a lipstick. There is something special behind it.
Jadi sekarang, setiap pagi gue selalu meluangkan waktu buat mikir mau pakai lipstick yang mana ya? I’m not a lipstick junkie. I’m just lipstick lover. Jumlah lipstick gue enggak banyak, masih bisa dihitung dengan jari. Tapi warnanya emang beragam.
Satu hal lagi yang gue sadari, gue suka warna-warna terang dan itu cocok sama style gue. Red, dark pink, cokelat tua, I loooove that. Sesekali gue tampil tone down dengan warna nude, tapi agak susah milih warna nude yang pas karena salah-salah malah kayak orang sakit. Sesekali, kalau lagi pengin tampil gothic, gue dengan senang pakai lipstick dark purple gue.
Dan ketika menulis artikel ini, gue baru aja nerima kiriman lipstick shocking pink dari Rimmel. Warna yang berani, sebagai penanda kalau little by little I become a brave girl.
XOXO

iif

Tuesday, October 25, 2016

Sepenggal Cerita di Temple Street Street Night Market

Sepenggal Cerita di Temple Street Street Night Market



Ketika menulis sebuah cerita, kita enggak hanya mengandalkan lokasi yang kita hafal dan kenal. Bisa saja, demi kepentingan cerita, kita membutuhkan lokasi yang sama sekali enggak kita kenal. Atau bahkan belum pernah kita datangi.
Gue sering kayak gitu. Ketika menulis novel atau cerpen, menentukan lokasi yang tepat merupakan salah satu hal yang menyenangkan. Pemilihan lokasi tentunya enggak boleh ngasal asal comot. Tentunya harus disesuaikan dengan kebutuhan cerita. Misalnya, ketika menulis cerita yang tokohnya seorang fashion stylist, keberadaan kota kayak Paris atau Milan jadi masuk akal karena terkait fashion.
Karena itu, menentukan lokasi merupakan hal yang paling gue suka dalam menulis, selain menentukan karakter.
Dulu banget, let’s say, maybe when I was a college student, I wrote a story called ‘Lajang Terakhir’. I don’t know what happened to me so I don’t write about it again (maybe I lost my interest). Namun, sebuah kejadian membuat gue ingat lagi cerita itu.
Tepatnya ketika gue liputan ke Hong Kong pertengahan bulan Oktober 2016 lalu. Saat itu, ada waktu kosong di malam hari, setelah acara selesai sekitar jam 20.30. Dengan teman-teman kita berencana pengin main-main malam itu. Saat mengambil peta dan bertanya ke concierge di hotel soal tempat terdekat yang bisa kami kunjungi, mata gue tertuju ke suatu tempat.
Temple Street Night Market
Ingatan gue refleks terlempar ke masa bertahun-tahun silam. Dua kata, Lajang Terakhir, memenuhi ingatan gue. Karena salah satu lokasi yang menghiasi cerita itu adalah Temple Street Night Market.
Otomatis gue pengin ke sana. Untungnya teman yang lain juga enggak keberatan. Bermodalkan taksi enggak sampai sepuluh menit, gue pun menginjakkan kaki di sana.
Temple Street Night Market memang berupa pasar malam biasa. Di sepanjang jalan toko-toko berjejer menawarkan berbagai dagangan. Baju-baju, elektronik, souvenir, anything. Diiringi gerimis, gue melangkahkan kaki di sana.
Perasaan emosional menyergap gue ketika menelusuri jalanan itu. Rasanya absurd aja gue bisa mengunjungi tempat yang pernah menjadi latar cerita gue. Mungkin ini yang dibilang kalau doa bisa berbentuk apa saja. Itu kenapa kita harus hati-hati ngomong karena bisa saja suatu hari nanti omongan kita kewujud. Gue udah cukup ngerasain sendiri beberapa omongan gue yang akhirnya kewujud, walaupun lama berselang setelah gue ngomongin itu, bahkan di saat gue sendiri udah lupa pernah ngomong kayak gitu.
Gue ingat cerita yang gue tulis dulu. Fira dan Dirga, serta cinta yang bersemi di Temple Street Night Market. Hingga bertahun kemudian, Fira kembali ke sana dan enggak disengaja, bertemu kembali dengan Dirga. Gue kangen cerita mereka, tapi detik itu juga gue langsung emosi ketika ingat naskah itu ada di laptop lama gue yang rusak dan gue belum sempat nyelametin file yang ada di sana.
KZL
Jadilah Dirga dan Fira ceritanya terperangkap di laptop yang udah rusak. Untung, gue sempat mengabadikan beberapa cerita di blog ini, meski hanya tiga bab. Mungkin, dengan membaca ulang, gue bisa ingat lagi ceritanya, dan kepikiran buat ngelanjutin ceritanya.
Read the story here, here, and here.
Setelah ini, gue ngebayangin, setting cerita mana lagi yang akan gue kunjungi? Mari kita berdoa semoga ada kesempatan.

Friday, October 21, 2016

Hong Kong Trip & Once In A Lifetime Experience pt 5 (Finale): Red Carpet Moment & Selfie Maksa Bareng Benedict Cumberbatch

Hong Kong Trip & Once In A Lifetime Experience
Pt 5 (Finale): Red Carpet Moment & Selfie Maksa Bareng Benedict Cumberbatch




Gue keluar dari ruangan round table dengan senyum bahagia. Meski enggak bisa foto bareng, tetap senang. Di sepanjang jalan balik ke hotel, enggak henti-hentinya ketawa dalam hati ngebayangin apa yang terjadi barusan. Udah enggak sabar pengin segera sampai ke hotel buat melampiaskan jiwa fangirl yang tertahan sejak pagi. (Tapi sempat-sempatnya mampir ke toko buku buat beli The Lord of The Rings Bahasa China tapi enggak ada dan ujung-ujungnya mampir ke toko CD di sebelahnya dan sukses membeli CD SHINee 1 of 1 dan album Story Op.1 dari Jonghyun yang lagi diskon. Mayan kak, belinya minus ongkir, he-he).
Sesampainya di hotel, gue langsung lompat-lompat girang, meski enggak bisa teriak puas karena ada teman sekamar. Gue dengan noraknya guling-guling di kasur, ha-ha-ha. Dan menghabiskan 15 menit bengong di depan kaca, menatap gedung di seberang dan menerka-nerka, Bang Ben ada di jendela yang mana, ya? *yakali*
Sore itu diisi dengan bekerja. Maksudnya, menulis transkrip hasil wawancara dan membuat artikel buat di-upload di website. Tapi susah konsen pas dengerin hasil interview dengan Ben. Suaranya yang berat bikin otak melayang entah ke mana (baca: ngomongnya super cepet dan medok jadi bikin transkripnya susah haha).
Malamnya ada acara red carpet. Ya semacam mini fanmeeting gitu, deh. Acaranya sendiri berlangsung di Open Plaza, Hong Kong Cultural Center. Begitu sampai di lokasi acara, gila rame banget bo. Umumnya fansnya Ben, lengkap dengan poster dan placard segala. Dengar-dengar dari bisik-bisik rekan media, katanya sih udah pada dateng dari siang. Yah sama aja kayak konser, dateng dari subuh kalau bisa, biar bisa dapet tempat oke. Karena kedatangan menentukan posisi menentukan prestasi.
Ada yang lucu pas red carpet ini. Entah kenapa ngikutin arahan panitia yang menyuruh jalan terus. Yaudah, kita jalan terus sampai ke ujung. Acaranya outdoor, dengan red carpet ada di kedua sisi panggung dan di belakangnya, langsung berbatasan dengan laut yang di seberangnya dihiasi gedung-gedung tinggi di Hong Kong, lengkap dengan cahayanya. Romantis banget, sih, sebenarnya. Tapi mikir, kalau di sini, gimana caranya ngelihat ke stage? Akhirnya balik arah dan nanya ke panitia, ternyata itu jalan untuk penonton yang baru dateng, sementara pers diarahin ke depan stage. Yailah…
Di barisan paling depan udah diisi oleh media Hong Kong. Mereka udah ada spot pastinya, dan media luar enggak dapet kesempatan buat interview on the spot. Yang gue lakuin sambil nunggu adalah latihan selfie maksa dengan background Bang Ben, haha.
Lumayan lama juga nunggu, hampir sejam. Ketika MC naik ke stage, gue refleks ikutan teriak kayak fans yang ada di sana. Pokoknya, nyaru deh sama fans, kalau aja gue enggak pakai ID Pers. Ketika Kevin turun dari mobil, jantung gue kayak bikin drum band sendiri. Gila, kirain udah imun, tahunya masih aja norak. Padahal tadi siang udah ketemu.
Seperti tadi pagi pas preskon, Man of the match ditaroh belakangan. Dia dateng paling akhir. Pas Tilda dateng, gue sengaja bergerak ke ujung biar bisa ngikutin dia. Soalnya, dia nyalamin fans yang berdiri mepet pagar sambil kasih tanda tangan (lucunya, Tilda nolak tanda tanganin poster yang ada nama Ben, he-he) dan juga ngeladenin interview dari media yang mepet pagar di depan stage.
Begitu Ben turun dari mobil, sumpah ya itu heboh parah. Dia turun dari arah belakang panggung, trus jalan pelan-pelan ke samping. Gue nungguin di pagar pembatas antara media pit sama fans. Nyempil di antara wartawan lain, sambil Facebook Live di akun majalah K. Itu Facebook Live goyang banget karena gue lari ke sana ke mari ngikutin Ben dan isinya teriakan gue semua ha ha.
Ketika Ben lagi diwawancara, ada yang nyolek gue. Ternyata segerombol remaja cewek yang berdiri di belakang media pit. Dia nyodorin novel Sherlock dengan cover Ben dan Martin. “Please, can you help me? Please, I beg you. Please…”
Sejujurnya, gue kasihan lihat cewek ini. Dia ngarep banget. Tapi, pas gue melihat ke arah Ben, kayaknya mustahil. Dia diikuti dua bodyguard yang mukanya sama datarnya kayak Brown. Tapi, si cewek ini masih ngomong please mulu.
Setelah menghela napas, gue ambil itu buku dan nyelip di antara wartawan, berusaha buat ngasih ke Ben. Ben liat-liatan sama gue ketika gue nyodorin buku itu dan bilang, “From your fans. Over there.” Ben juga bingung sebentar sebelum bodyguard-nya mendorong dia buat maju dan gelengin kepala ke arah gue. Dengan berat hati gue balik ke si cewek itu. Dia sedih, sih. Kalau gue di posisi dia juga gue sedih. Tapi, seenggaknya udah nyoba, kan?
Ben lanjut ngeladenin pertanyaan dari media Hong Kong. Dan pada selfie juga. Iri, gue kan juga pengin. Tapi yang ada cuma selfie maksa dengan Benedict sebagai background *sigh*

Kayak gini selfie maksanya.

Setelah Ben selesai nyalamin fans yang mepet pagar akhirnya dia dan Tilda dan Scott dan Kevin naik ke stage. Saat itu, yang mepet pagar udah agak lowong karena media Hong Kong juga udah mencar. Jadi, ada kesempatan buat nyempil di barisan mepet pagar, pas di depan banget, buat nonton mini fanmeeting dengan puas. Bentar doang sih, paling juga stengah jam-an. Dan yang diomongin juga apa yang diomongin pas preskon. Tapi, pandangan mata indah banget, Bang Ben pakai jas.
Tonight will be the best memory I’ve ever had. #FangirlGoals dan gue udah bisa hidup dengan tenang haha. Ketika sampai hotel, gue enggak bisa lupain momen bersejarah ini. Dan, ya, sampai kebawa mimpi segala. Isi mimpinya sih interviewnya diadain di kamar hotelnya Ben dan gue nulis artikel judulnya ‘In Bed With Benedict Cumberbatch’.
Dari skala 1 sampai 10, gue memberi nilai kepuasan 8,5. Karena sisanya ya enggak bisa bawa oleh-oleh pulang bukti otentik berupa foto atau tanda tangan. Tapi, gue bersyukur banget bisa dapetin kesempatan ini.
Khayalan-bego-di-siang-hari.
Postingan di Twitter atau Path
Baca-baca hasil interview
Nonton film atau TV Series
Melihat foto-fotonya di socmed
Sekarang, itu semua tinggal kenangan. Because I’ve finally met Benedict Cumberbatch.
Thank you Disney & Marvel.
Thank you majalah K, Kakak A dan Kakak T
Dan makasih buat malaikat yang enggak sengaja lewat di lantai 14 Graha Mandiri 3 tahun lalu, saat gue interview kerja dan bilang pengin ketemu anak-anak Stark dan Benedict, lalu iseng mencatat omongan gue itu, sehingga akhirnya jadi kenyataan.

Thursday, October 20, 2016

Hong Kong & Once In A Lifetime Experience Pt4: The Real Benedict Cumberbatch, Muncrat & Hello Smaug

Hong Kong & Once In A Lifetime Experience
Pt4: The Real Benedict Cumberbatch, Muncrat & Hello Smaug





Gue lupa kapan terakhir kali gue bangun dengan senyum super lebar. Pagi itu, Kamis, 13 Oktber 2016, gue bangun dengan senyum super lebar. Ketika membuka gorden jendela dan menatap gedung-gedung tinggi di luar sana, gue tersenyum dan ngomong sama bayangan gue di jendela. “This is the day. Now or never.”
When I put on my shoes, I know that I will rock this day. Gue punya filosofi soal sepatu. Sepatu bagus dan nyaman akan bikin lo yakin bisa mengatasi apapun hari ini. Gue percaya sama sepatu gue, makanya gue bisa merasa sedikit tenang. Ditambah dengan coat kesayangan, gue makin yakin aja, deh.
Dari hotel tempat gue menginap ke ballroom Ritz Carlton itu hanya jalan kaki melewati Element, salah satu shopping mall di Hong Kong. Ada banyak media yang ikut, berasal dari Asia Pasifik. Ketika registrasi di lokasi acara press conference, lebih banyak lagi yang datang karena media Hong Kong juga pada berdatangan. Karena itu, begitu selesai registrasi, gue langsung stand by depan pintu, nomor dua dari depan. Sehingga begitu pintu dibuka, bisa langsung melesat masuk ke dalam.
Awalnya gue pikir cuma gue aja yang tergesa-gesa masuk lokasi press conference. Secara untuk acara gede kayak gini, udah kebiasa di Indonesia kayak gini. Tahunya media lain juga kayak gitu. Naluri pantang kalah gue tertantang sehingga refleks lari ngikutin yang lain. Lucunya lagi, media luar sana juga main take tempat pakai tas buat temannya. Jadilah, gue dan beberapa teman dari media Indonesia juga ikutan main take tempat.
Gue duduk di row ketiga (row pertama reserved) dan nomor dua dari tengah. Posisi gue tepat satu garis lurus dari Ben nantinya. Jaraknya sekitar lima meter. Gila, enggak pernah kebayang sama gue bisa berada sedekat ini sama Ben.
Bukan cuma gue yang heboh. Adit dan Nyit juga ikutan heboh. Thanks guys udah mau berbagi beban gue. Kakak Lescha juga. Menyemangati dari nun jauh di sana.
Sekitar jam 10-an, salah satu orang media yang duduk depan gue baru aja dari toilet dan bilang ke temennya kalau Ben udah ada di luar. Waktu itu gue lagi tes foto dan hasilnya… blur semua saking enggak bisa fokusnya. Denger Ben udah di luar aja gue segini gugupnya, gimana kalau dia udah dateng?
Dan benar aja, begitu host membuka acara, dan memanggil satu-satu narasumber (selain Bang Ben juga ada Tilda Swinton—my White Witch—Scott Derrickson si sutradara dan Kevin Feige si produser). Nama Ben dipanggil terakhir, secara doi kan man of the match. Ketika dia muncul, gue menjerit dalam hati. Rasanya tuh kayak melihat malaikat jatuh ke bumi (lebay). Dia biasa aja padahal—celana jins gelap, kaos putih, jaket biru tua dan sneakers hitam. Tapi dia kelihatan luar biasa. Mata gue sampai enggak bisa lepas dari dia, dan enggak mau juga, sih. Satu hal yang gue sesali sebenernya potongan rambutnya, terlalu rapi. Aku kan sukanya kalau dia agak berantakan. Kalau rapi kayak John Harrison pun tak papa. Atau dengan highlight uban kayak rambut Steven Strange, lebih oke lagi. Namun, hal ini enggak menghalangi gue buat fangirling (tapi tertahan).
Sepanjang preskon, gue susah konsentrasi. Antara sibuk foto, ngevideoin, dan puas-puasin mata buat ngelihat dia (plus Tante Tilda). Rasanya waktu berjalan cepat banget. Tahu-tahu udahan aja dan sesi foto. Emang dasar wartawan ya, geraknya cepat banget. Belum juga mereka keluar dari stage, eh udah pada pasang tempat aja di depan. Untung gue bisa nyelip di antara dua cameramen berbadan gede, and thanks to my shoes jadi gue enggak terhalangi oleh kepala mereka (gue tahu gue pendek, makanya selalu mengandalkan high heels buat hal-hal kayak gini).
Begitu selesai foto, kita keluar. Waktu lagi nunggu temen ke toilet sebelum makan siang, gue ngegaje di luar pintu toilet dan deket sama ruangan tadi. Tiba-tiba, ada angin berdesir dari arah belakang. Saat menoleh, tadaaa… ada Benedict Cumberbatch di belakang gue. Karena kaget, gue cuma bisa cengo. Ternyata dia mau ke toilet. Enggak sampai lima menit, dia keluar dari toilet dan gue masih ngegaje. Kali ini bisa bertatap mata. Gue senyum dan melambaikan tangan, dibalas dengan senyumannya. Lalu gue nge-Snapchat dia dari belakang karena kebetulan gue dan tim lain juga mau ke eskalator. Gila, gue jalan pas banget di belakang dia. Paling enggak sampai sepuluh langkah. Sayang, sebelum videonya di-upload ada Line masuk dari Adit dan videonya hilang (toyor Adit) tapi at least bahagia bisa di belakang Ben saat di eskalator. Uwuwuwuw….
Abis makan siang, kembali disuruh stand by di Media Room. Untuk persiapan round table. Untuk round table ini, kita dibagi jadi empat kelompok, masing-masing kelompok tujuh orang. Gue kebagian kelompok tiga. Deg-degan parah nunggu bakalan interview siapa dulu.
Ternyata, Tilda dan Scott dulu.
Gue penggemar cerita high fantasy dan Narnia adalah salah satu kesukaan gue. Ditambah fakta CS Lewis dan JRR Tolkien itu segeng, gue makin suka. Makanya, ketika ketemu Tilda, gue senang banget. Dia orangnya ramah. Gue suka cara dia menjawab pertanyaan, tegas, tertata rapi, dengan nada mendayu-dayu yang menghipnotis. Pokoknya, cocok deh jadi public speaker.
Dan Tilda ngomong, “I like your question,” ketika dengerin pertanyaan gue. Saat itu gue nanya there’s something positive that we can learn from The Ancient One. Saking asyiknya dia menjawab, semua wartawan diam begitu dia selesai ngomong. Lupa harus ngajuin pertanyaan lain. Untung gue langsung sadar dan manfaatin momen itu buat nanya ke Scott, he-he.
Selesai dari Tilda, saatnya Ben. Kirain udah siap hati dan mental, tapi ternyata enggak. Saat itu gue bertekad, apapun yang terjadi, gue harus ngajuin pertanyaan, karena media lain begitu dominan. Emang, sih, Ben udah sering ditanya dan dia enggak bakal ingat siapa aja yang udah nanya ke dia. At least, gue pengin dia dengerin gue dan jawab pertanyaan gue meski bagi dia itu enggak ada artinya, tapi bagi gue itu berarti banget. Satu lagi, gue harus duduk deket dia.
Begitu masuk, Ben udah menunggu di meja. Gue ambil posisi dua kursi dari dia biar puas mandangin. Lalu Ben ngomong, “could you sit in front of me? So I could see all of you. Actually, I don’t like round table because I can’t see all of you.” (Kira-kira begitulah intinya). Dengan senang hati kita pindah dan gue pas di depan dia. Tangan gue basah banget saking banyaknya keringat. Jantung gue berdegup kencang. This is the moment that every Cumberbitches would die for.
Interview dibuka dengan reporter Malaysia nanyain apa Ben udah jadi makan dimsum yang dijawab Ben dengan memorinya soal dimsum dan Hong Kong (yang kemudian menginspirasi cerpenini). Pertanyaan kedua dari reporter Filipina. Gue bertekad, abis ini harus gue. Untung gue diberkahi suara cempreng, kenceng, dan nyebelin, jadi ketika gue nyebut nama dia, ‘Benedict’ dia langsung lihat ke gue dan reporter lain suaranya kalah kenceng, nyehehehe.
Satu menit yang berarti karena tatapan Ben hanya tertuju ke gue. Satu menit yang enggak bakal gue lupakan. Sambil ngomong, gue terpukau oleh matanya yang bagus banget, juga hidungnya yang tinggi banget. Dia tipikal pendengar yang baik karena siapapun yang nanya, ditatap sama dia sambil mengangguk-angguk. Bikin lo serasa dihargai. Duh, humble banget sih Bang.
Dan, ya, dia emang suka ngomong sehingga pertanyaan satu menit bisa dapat jawaban lebih dari lima menit dengan cerita ke mana-mana dan kadang melenceng ke mana-mana. Tapi itu bukan masalah (baru jadi masalah ketika bikin transkripnya buat tulisan. Ngomong panjang dan cepat, juga medok British).
Gue nanya, “Doctor Strange is about second chance, when you lost everything that you have. What if in real life you lost everything, maybe career, health, anything. What would you do?”
Di tengah menjawab, Ben bilang, “Actually it’s a cruel question, but it’s fun eventought I never think about that. It’s a great question I think.”
Demi Eru, Elbereth, bahkan Melkor sekalian, gue rasanya pengin melayang. Tadi Tilda, sekarang Benedict (Tilda cuma muji gue, Scott muji pertanyaan Jawa Pos, Ben muji gue dan si Malaysia. Boleh bangga dong ya #braggingngehe). Gue emang sengaja ngajuin pertanyaan rada-rada. Ini round table, ngajuin pertanyaan standar toh pasti ada yang bakal nanya dan info soal film ini gampang ditemuin di mana-mana. We need something special yang bikin stand out dan nyentuh si narasumber. Buktinya, Bang Ben bilang gue kejam padahal sebenarnya dia yang kejam. Satu tatapan matanya aja membunuh banyak hati Cumberbitches.
Lucunya, saat asyik-asyik ngomong, Bang Ben muncat dan kena hape gue. Dia kaget dan ngelap hape gue, syok banget. Gue sih cuma bilang ‘it’s okay’ sambil ketawa najong. Ya iyalah enggak apa-apa, kena muncratannya Bang Ben *sampah banget emang gue*.
Begitu selesai interview, dia nyalamin satu-satu sambil bilang makasih. This is it, I have to do something. Jadi, pas salaman (tangannya halus bo. Enggak pernah nyuci nih pasti), gue bilang, “Hello Smaug.”
Dia kaget, matanya membola, trus ketawa. “How did you called me like that?”
“The Hobbit”
“Yeah, Smaug the Dragon.” Trus dia ketawa.
Gue ngepalin tangan di belakang punggung. Yess, berhasil menyapa anggota terakhir keluarga gue.
Dan sebelum keluar, si Malaysia minta foto bareng. Gue ngintil di belakangnya tapi sayangnya Bang Ben minta maaf enggak bisa karena dilarang. Kecewa sih tapi enggak apa-apa.
Yang penting bahagia.
Mission accomplish!!!

Wednesday, October 19, 2016

Hong Kong & Once In A Lifetime Experience Pt 3: Malam Pertama di Hong Kong dan Debaran Jantung

Hong Kong & Once In A Lifetime Experience
Pt 3: Malam Pertama di Hong Kong dan Debaran Jantung



Rabu, 12 Oktober 2016. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Meski malam sebelumnya hanya tidur dua jam lebih-lebih dikit, gue tetap bangun dengan semangat 45 dan senyum lebar yang enggak hilang di bibir. Walaupun jam setengah 4 udah berangkat dari rumah gue nun jauh di sana (thanks to my sister yang kadang suka lebay kalau berurusan dengan penerbangan sehingga memesan taksi selalu jauh lebih awal), dengan penuh semangat berangkat menuju bandara. Beside the chance that I will meet Benedict Cumberbatch, my new shoes makes me excited and happy (there’s nothing could beat the power of new shoes).
Pesawat gue berangkat jam stengah 9 WIB. Di sepanjang perjalanan menuju Hong Kong gue isi dengan tidur (heiii gue butuh waktu buat mengganti jam tidur gue yang tersita parah di malam sebelumnya) sekaligus menenangkan diri. Hanya tinggal satu hari menjelang bertemu dengan Benedict Cumberbatch.
Begitu sampai Hong Kong, gue menyadari dua hal yang kemudian bisa menjadi nightmare. Satu, gue lupa bawa facial wash which is ini penting banget. Dua, gue tiba-tiba dapet aja lho. Ugh, jangan sampai deh ini mood-nya jadi jelek karena dapet.
Ketika sampai di imigrasi, Lescha lagi-lagi memberi nasihat jitu. “Cuma Laneige ini. Beli aja di Duty Free. Jangan kayak orang susah, deh. Ini bukan waktunya jadi kayak orang susah.”
Nasihat ngehe emang but somehow bener juga (meski akhirnya enggak ketemu Laneige dan ujung-ujungnya beli Neutrogena aja).
Ketika sampai hotel, niatnya pengin istirahat. Menjelang nanti malam acara pertama. Tapi enggak bisa istirahat ketika dapat Line dari kakak Nyit yang berisi, “Benedict udah sampai Hong Kong. Akhirnya, lo menghirup udara yang sama dengan dia.”
Gue langsung lompat girang dong. Hal yang selama ini gue anggap mimpi akhirnya kewujud, sebentar lagi. Dan, sesuai dengan jadwal yang diemail hari sebelumnya, gue tahu nih si abang nginap di mana. Yaitu, cuma lima belas menit jalan kaki dari hotel gue. Gila, gue enggak habis pikir udah berada sedekat itu dengan doi. Hanya dipisahkan lima belas menit jalan kaki. Oh my God!!!
Sherlock. Smaug. Alan Turing. John Harrion. Dan sekarang Doctor Strange (meski, sebagai penggemar DC, ada sedikit perasaan enggak rela dia masuk Marvel. Tapi enggak apa-apa. Fans yang baik harus mendukung apa pun proyek yang dijalani idolanya).
Malamnya diisi dengan menonton special footage Doctor Strange. Itung-itung pemanasan sebelum menonton filmnya. Dari special footage ini sudah kelihatan sinematografi dan special effect yang keren. Footage ini juga lompat-lompat dan hasilnya bikin penasaran dengan hasil jadinya kayak gimana. Kalau dari segi cerita, gue enggak terlalu berharap karena ini film Superhero. Bagi gue, film superhero itu hanya untuk senang-senang, ketawa-ketawa dan bikin happy. Bukan dibikin mumet oleh cerita. Cerita oke bakalan lebih bagus lagi, kalau enggak juga bukan masalah selama bisa merasa happy sekeluarnya dari bioskop. Dari special footage ini, gue yakin kalau gue akan dibikin terkagum-kagum oleh sinematografi dan special effect.
Plus Bang Ben.
Satu hal yang memenuhi benak gue ketika keluar dari bioskop. Emang yah si abang cocoknya mainin karakter songong. Ya macam Sherlock dan sekarang Steven Strange (Smaug juga songong meski dia naga bego aslinya). Muka dan pembawaannya cocok banget buat peran tokoh-pintar-yang-bangga-sama-dirinya sehingga jatuhnya songong.
Malam itu dihabiskan dengan bertualang di Temple Street Night Market (gue punya cerita khusus soal tempat ini, tapi nanti aja begitu cerita soal Ben kelar) seraya menenangkan hati.
Satu malam lagi, dan gue akan bertemu Benedict freakin’ Cumberbatch.

Monday, October 17, 2016

Hong Kong & Once In A Lifetime Experience Pt 2: #FangirlGoals dan Persiapan Mental

Hong Kong & Once In A Lifetime Experience
Pt 2: #FangirlGoals dan Persiapan Mental




Gue ingat banget waktu diinterview kerja buat majalah K. Waktu itu lagi heboh Star Trek Into Darkness. Yup, John Harrison aka Khan yang lagi banyak diomongin dan bikin Bang Ben makin mainstream. Gue suka body Ben di situ. Yahud, he-he. Nah, pagi itu, ketika lagi menunggu interview, itu lagi heboh-hebohnya dirilis unreleased scene STID, tepatnya ketika John Harrison lagi mandi begitu sampai di USS Enterprise. Ya jelas enggak konsen dong interview karena abis nonton unreleased scene itu.
Kakak T aka pemred majalah K nanya gini ke gue: ada enggak seleb yang pengin lo temuin?
Jawaban gue dua: anak-anak keluarga Stark dan Benedict Cumberbatch.
Tiga tahun kemudian, enggak disangka-sangka, omongan ngasal waktu interview yang dipengaruhi oleh unreleased-scene-Benedict-lagi-mandi itu kewujud. It’s like a dream in a middle of the day. It’s like an oasis in a middle of Sahara. It’s like…
Oke, kayaknya ini masih jadi hal paling surreal dalam hidup gue.
Ada dua orang yang enggak sengaja turut ikut dalam petualangan ini. Because we are Benedict trash since day one. That’s why, gue langsung ngadu ke mereka ketika dapat berita ini. Adit and Nyit. Sesuai dugaan, mereka pun heboh. Bahkan jauh lebih heboh dari gue. Jiwa Cumberbitches yang lama terpendam akhirnya muncul lagi. Secara enggak langsung, mereka membantu gua buat nyiapin mental.
Selama seminggu gue enggak bisa tenang. Ada dua ketakutan yang gue khawatirin: satu, takut pingsan (which is it makes sense banget bakal bisa kejadian) dan dua, takut nangis alias enggak bisa mengontrol emosi ketika ketemu. Tahu, kan, fangirl yang enggak bisa menahan emosi jadi akhirnya malah nangis atau pingsan pas ketemu idolanya, ini sering ada di video-video. Teman gue juga pernah ngalamin ini. Dia pingsan ketika ketemu Siwon dan akhirnya menyesal sampai sekarang karena udah buang-buang kesempatan.
Karena itu, gue enggak mau pingsan. Selain udah jauh-jauh ke Hong Kong, gue juga membawa nama media. Enggak lucu, kan, liputan malah pingsan? Trus nanti nulis apa? Lagian, kalau enggak sekarang, enggak mungkinlah bakalan ada kesempatan ini lagi.
Yang bikin gue makin deg-degan adalah selama seminggu ini enggak ada kabar selanjutnya dari pihak Disney yang mengundang ke Hong Kong. Sampai akhirnya Sabtu menjelang siang, 8 Oktober 2016, waktu itu gue lagi di akad nikah sepupu gue, tiba-tiba ada email masuk. Isinya Media Schedule: Marvel’s Doctor Strange Junket In Hong Kong. Kalau enggak mengingat saat itu lagi khusyu’ akad nikah, mungkin gue udah lompat-lompat girang.
Dengan masuknya email itu, gue semakin yakin kalau ini bukan mimpi. Ini nyata. Gue selangkah lebih dekat dengan Bang Ben.
Meski, ada yang bikin sedih dari email itu. No personal photo or autograph. Padahal kan pengin selfie dengan Bang Ben. Dia itu Smaug, naga terakhir, jadi gue harus mengabadikan pertemuan ini dalam bentuk foto, karena dia anggota keluarga gue yang tersisa (keluarga naga, maksud gue).
Namun, Nyit menghibur dengan, “at least lo salaman sama dia. Lo ngelihat dia langsung. Bukan wax figure atau wallpaper di laptop atau photo profile socmed yang selama ini lo lihat. At least lo menghirup udara yang sama dengan dia.”
Hiburan yang berhasil karena gue bisa melihat ini dari sisi lain.
Minggu malam, Lescha yang lagi kuliah di Melbourne niat banget nelepon gue (meski tujuan utamanya sih mau gossip. Gila yak, udah kuliah jauh-jauh tetep aja enggak bisa lepas dari yang namanya ghibah, he-he *piss Chung*). Nun jauh di sana, Lescha bisa ngerasain excited-nya gue.
“Gue ngerti perasaan lo. Ini tuh sama kayak gue kalau ketemu Robert Downey Jr,” ucap kakak Lescha. (I hope someday you’ll meet him, Syung. Lo tahu, kan, kalau di dunia paralel di Marvel Tony Stark dan Steven Strange itu temenan karena sama-sama tajir songong hahaha).
Lalu Lesch ngasih ide juara: “Pokoknya, menjelang lo berangkat lo jaga diri. Lo makan semua makanan enak yang lo mau, jangan sampai lo enggak enak badan. Lo pilih baju yang paling oke, bahkan kalau harus beli baju baru, beli. Mau beli tas kek, sepatu kek, apa kek, beli. Jangan kayak orang susah. Ini tuh bukan saatnya lo kayak orang susah, lo harus senang-senang biar mood lo oke dan engggak deg-degan, biar mental lo siap.”
Gue cuma bisa ngakak dengerin omongannya Lescha. Ini orang emang paling tahu gue, sik, he-he (dalam artian, apapun bisa jadi alasan yang membenarkan gue buat belanja).
H-2 berangkat, gue menerima email berisi tiket. Gue makin deg-degan karena ini berarti hanya tinggal hitungan jam demi bisa bertatap mata dengan BENEDICT TIMOTHY CARLTON CUMBERBTCH.
Bang Ben, tunggu aku di Hong Kong, ya!!!

Sunday, October 16, 2016

Hong Kong & Once In A Lifetime Experience Pt 1: Kabar Gembira Ketemu Benedict Cumberbatch

Hong Kong & Once In A Lifetime Experience
Pt 1: Kabar Gembira Ketemu Benedict Cumberbatch



Pernah enggak kebayang ketemu seleb idola lo dan gratis? Well, dengan kerjaan gue sepertinya itu memungkinkan. Namun, gue cukup tahu diri kalau enggak semua seleb yang gue idolakan bisa ada kemungkinan buat ketemu.
Termasuk Benedict Cumberbatch.
Pertama-tama, mari kita telaah lagi kenapa gue suka sama Ben.
Awalnya, gue mikir dia mukanya aneh. Bukan tipikal ganteng mutlak gitu. Mukanya unik dan yang paling menonjol ya tulang pipinya. Mungkin dia cowok pertama yang menempati kelompok charming-guy-with-high-cheekbone yang ada di otak gue. Namun, semuanya berubah karena Sherlock. Dia emang enggak ganteng mutlak, tapi bukannya kebanyakan yang ganteng mutlak itu bikin cepat bosan?
Dia menarik. Charming dengan caranya sendiri.
Lalu, apa gue pernah bermimpi buat ketemu dia?
Tentu saja. Tapi gue cukup tahu diri dan menganggap mimpi itu hanya sebatas mimpi. Enggak mungkin bangetlah gue ketemu dia. Itu cuma khayalan bego siang hari doang—khayalan yang mustahil kewujud. Bahkan dengan pekerjaan gue, gue aja pesimis bisa ketemu dia. Secara majalah gue pasarnya remaja, jadi yang mungkin aja ketemu ya dedek-dedek gemes (kayak gue ketemu dan interview GOT7 November 2015. Awww…. Bahagia).
Jadi, sampai akhir September 2016, bertemu Benedict hanya khayalan bego siang hari aja.
Sampai suatu hari. Rabu, 28 September 2016, sekitar jam 2 – 3 siang.
Saat itu gue lagi asyik nulis sambil dengerin album Zaman, Zaman-nya The Trees and The Wild (I know, salah banget emang dengerin lagu ginian siang-siang. Mana sambil nulis artikel buat remaja lagi, enggak matching). Karena pakai headset, jadi enggak denger ada yang manggil. Setelah dicolek, baru ngeh kalau dipanggil Achil (Managing Editor majalah K).
Kira-kira berikut percakapan yang terjadi siang itu:
A: If, ada undangan interview Benedict Cumberbatch nih di Hong Kong.
I: Siapa? *ini gue yang budeg apa salah denger? Ben? Enggak mungkin kan?”
A: Interview Benedict Cumberbatch di Hong Kong.
I: *banting headset* *langsung berdiri* *menjerit kencang dan lari nyamperin Achil* SERIUSAN? BENEDICT CUMBERBATCH? BANG BEN???
A: Di undangannya sih gitu. Promo Doctor Strange.
I: *sesak napas*
A: Tapi kita diminta ngajuin kira-kira mau nulis artikel apa aja, majalah H dan X juga diundang. Yah kalo gini, mah, kalah sama H. Mereka bisa kasih cover.
Rasanya tuh kaya dibanting Smaug ke bumi ketika dengerin ucapannya Achil.
I: *Mengumpulkan sisa-sisa harapan* Aku pengin ketemu dia.
A: Aku juga mau ketemu dia!!!
Kalau tadi kayak dibanting Smaug, kali ini kayak dibanting Glaurung. Lupa kalau Achil juga demen sama Bang Ben.
A: Tapi kamu siap-siap aja dulu. Kira-kira kita bisa bikin artikel apa aja ya?
Rasanya seperti mendapat setitik harapan. Tapi harapannya keciiiil banget. Pengin optimis tapi enggak bisa. Jadi, mencoba realistis aja, kayaknya enggak mungkin ketemu, deh. Ini pikiran realistis ya, bukan pesimis. Karena halangannya banyak. Majalah H, Achil, dan passport gue yang udah mati. Dan, ketemu Bang Ben pun masih tetap hanya jadi khayalan-bego-di-siang-hari.
Dua hari kemudian, gue enggak pernah nyangka kalau Jumat, 30 September 2016, sekitar jam 4 sore, akan jadi hari yang enggak terlupakan di hidup gue. Waktu itu gue lagi siap-siap mau liputan. Gojek yang dipesan udah nunggu di bawah. Gue udah pamitan dan jalan. Ketika sampai di dekat meja sekretaris redaksi, mbak Trinzi (pemred majalah K) keluar dari ruangannya dan manggil.
I: Kenapa mbak? *nyamperin Mbak Trinzi yang berdiri di depan meja Achil*
A: Kamu jadi pergi.
I: *enggak mudeng* Iya, aku jadi liputan. Ini udah dateng gojeknya.
Mbak Trinzi ketawa.
A: Bukan itu. Kamu jadi ke Hong Kong. Ketemu Benedict.
I: SERIUS? HONG KONG? BANG BEN???
Dan gue dengan noraknya lompat-lompat kegirangan di kantor sambil teriak-teriak. Maaf ya teman-teman dan redaksi majalah N di sebelah karena teriakanku pasti ganggu banget. Tapi ini Bang Ben gitu, lho. Khayalan-bego-di-siang-hari enggak disangka-sangka akhirnya terwujud jadi kenyataan.
Namun, masalah besarnya belum selesai. PASSPORT GUE KAN UDAH MATI??? JANGAN SAMPAI GUE BATAL KETEMU BANG BEN HANYA KARENA MASALAH PASSPORT.
Di saat seperti ini, terpaksa berbuat curang. Di sepanjang jalan menuju lokasi liputan, gue mencari cara untuk bisa bikin passport. Akhirnya dapat kontak dari kakakku orang yang sering bantuin orang kantornya (dan makasih banget, lho, ini si kakak mau langsung bantuin, bukannya ngomel-ngomel dulu kayak biasa. Malah dia mau dibikin rempong ngurusin ini itu). Setelah deal, deg-degan dan enggak bisa berhenti mikirin what if atau worst case scenario yang mungkin kejadian.
Ketika akhirnya hari Rabu, 5 Oktober 2016, ketika passport itu sampai di tangan, gue baru bisa menarik napas lega. Selangkah lebih dekat dengan Benedict Cumberbatch.
Pertanyaan selanjutnya, MENTAL GUE BELUM SIAP KAK???