Wednesday, February 17, 2016

Perjalanan Tiga Tahun

Perjalanan Tiga Tahun



Tahun 2013 bisa dibilang sebagai tahun-paling-produktif seorang iif. Selain pindah kerja ke tempat yang lebih bagus, tahun itu aku berhasil menyelesaikan tiga naskah novel. TIGA. Jelas, itu sebuah pencapaian yang luar biasa.
Ketiga naskah itu aku ikutkan lomba. Satu dari penerbit Qanita dan hanya berhasil masuk 20 besar. Satu lagi di Bukune dan Alhamdulillah berhasil jadi juara satu (meski masih terus menunggu hingga sekarang untuk diterbitkan). Ketiga, Bentang Pustaka, dan enggak berhasil menang.
Awalnya aku kira, begitu gagal, ya sudah. Berhenti di situ, tanpa ada kelanjutan apa-apa.
Februari 2014. Ingat banget waktu itu aku lagi ada kerjaan di Abu Dhabi ketika membuka email dan dapat pemberitahuan kalau naskah yang aku ikut sertakan untuk lomba akan ditindaklanjuti. Email itu juga menanyakan kesediaanku, apakah aku ingin menerbitkan novel itu?
Tentu saja jawabannya mau. Siapa coba yang menolak tawaran dan kesempatan sebagus ini?
Namun ternyata perjalanannya enggak segampang itu. Setelah aku membalas email itu, minggu selanjutnya aku dikirimin revisi. Berhubung naskahnya kelarnya sudah lama sebelum itu, aku jadi lupa ini ceritanya kayak apa. Revisi awal tergolong lama, karena aku harus baca ulang, memahami lagi isi ceritanya kayak apa, dan mengembalikan mood agar bisa melakukan revisi.
Which is, that’s not easy man.
Mengembalikan mood dan mencerna lagi tulisan itu terasa sulit. Terlebih, aku ngerasa kalau gaya menulisku udah berubah. Ditambah lagi naskah ini berangkat dari sudut pandang orang ketiga dan ketika revisi (bahkan sampai sekarang) aku enjoy menulis dari sudut pandang orang pertama—my bad.
Perjalanan enggak berhenti sampai di sana. Berbulan-bulan aku menunggu kabar yang enggak kunjung datang (oh ya, sebelumnya aku sudah tanda tangan surat kontrak penerbitan) sampai akhirnya lupa sama sekali. Lalu, tiba-tiba, suatu hari, aku menerima email kalau editor yang memegang naskahku dipindahkan ke bagian lain, dan naskah yang sebelumnya dia pegang, dialihkan ke editor lain. Okelah, aku siap untuk bekerja dengan editor baru.
Butuh waktu berbulan-bulan lagi hingga akhirnya editor baru ini—sebut saja mbak D—menghubungiku dan kita balik lagi ke awal. Ini pengalaman pertamaku bekerja dengan penerbit ini, jadi aku masih harus mengira-ngira seperti apa sistem yang berlaku di sini. Begitu juga dengan bekerja bersama Mbak D ini, istilahnya masih PDKT lah. Kita mengobrol lagi dari awal, membahas ceritanya kayak apa, which is… aku udah lupa lagi, he-he-he. Untung mbak D orangnya sabar dan menghadapiku yang lupaan.
Akhirnya, aku kembali membaca naskah ini dan mengeditnya. Semua terasa kembali ke awal. Lagi-lagi, menyamakan gaya menulis dan tone cerita dengan naskah yang sudah ada susah banget karena sekarang gaya menulisku sama sekali berbeda dengan ketika aku menulis naskah ini. Sekali lagi, untung Mbak D editor yang kece sehingga masukannya ngebantu banget.
Awal 2016, aku seperti mendapatkan titik terang ketika Mbak D dan aku membahas soal beberapa kemungkinan judul. Juga ketika mbak D memberikan revisi terakhir—katanya sih terakhir, moga-moga benar, ya. Aku jadi makin optimis ketika mbak D dan editor satunya lagi memberikan kesan positif tentang naskah ini.
Aku jadi enggak sabar melihat naskah ini berubah wujud jadi buku.
Aku belum mendapat tanggal terbit, tapi perjalanan super panjang ini membuatku optimis kalau hasilnya—Insya Allah—bisa memuaskan. Aku percaya, enggak ada yang namanya sia-sia jika dalam perjalanannya kita serius dan benar-benar menuangkan perhatian di dalamnya. Meski aku lupaan, ketika menyelami kembali ceritanya, berkenalan lagi dengan tokoh-tokohnya, aku jatuh cinta lagi dengan cerita ini.
Saat ini, aku belum bisa memberitahu ceritanya tentang apa dan diterbitkan di mana. Namun, aku cuma ingin sharing tentang proses di belakang layar yang—menurutku—penuh liku. Tsaaahhh…
Namun, ini juga seperti tamparan buatku. Setelah bertahun-tahun, kapan aku bisa seproduktif tahun 2013 ini lagi?