Friday, February 20, 2015

#8 Audrey, Wait! By Robin Benway

Audrey, Wait!
Robin Benway



Audrey enggak pernah menyangka kalau putus dari Evan akan bikin dia terkenal. Terkenal di sini enggak hanya di sekolah, atau di kotanya, tapi di seluruh dunia. Yah, setidaknya di setiap sudut di dunia yang bisa menonton MTV dan ngecek internet. Semua karena Evan membuat lagu tentang Audrey yang mutusin dia dan seketika dia dilirik seorang produser dan bandnya jadi terkenal. Begitu juga lagu Audrey, Wait!
Akibatnya, Audrey ikut-ikutan terkenal. Ada yang jadi fans dia, ada juga yang jadi haters. Sampai-sampai banyak wartawan yang menelepon ke rumahnya, fans yang datang ke sekolah, dan paparazzi yang ngikutin Audrey waktu nge-date sama James. Belum lagi setelah itu dia datang ke konser the Lolita dan vokalisnya ngedeketin Audrey. Akhirnya, keadaan tambah parah ketika Simon Lolita berharap Audrey bisa menginspirasi dia plus manajer Lolita yang diam-diam ngerekam mereka pas lagi make out.
Bagi Audrey, sebuah lagu mengubah kehidupannya jadi sangat drastis. Namun, dia masih berusaha—atau setidaknya berharap hidupnya bisa kembali normal.
Mungkin, perasaan Audrey sama dengan perasaan yang dialami mantan-mantannya Taylor Swift, he-he.
Gue ngebayangin Do Gooders ini kayak 5 Seconds of Summer, band anak muda yang mendadak terkenal. Bayangin kalau Ashton atau Luke bikin lagu tentang pacar mereka, dengan nama si mantan sebagai judul, maka seperti itulah Audrey, Wait!
I love this novel. Meski sebenarnya agak lebay, sih, mengingat Audrey ini enggak ngapa-ngapain dan enggak ada andil apa-apa dalam terkenalnya Do Gooders. Selain fakta Evan minjem nama dia. That’s it. Lagipula, nama Audrey ini nama yang umumlah di Amerika, jadi ya enggak semasuk akal itu jika Audrey jadi terkenal banget. Dan ada banyak fans. Akan lebih masuk akal jika Audrey punya banyak haters yang tentunya berasal dari fans Do Gooders, terutama Evan. Tapi kalau fans? Hmm… enggak make sense. Mereka bilang terinspirasi dari Audrey? Hmm…. Audrey enggak ngapa-ngapain, cuma mutusin Evan. Jadi, kenapa bisa terinspirasi?
Awalnya, gue suka tokoh Audrey. Tapi lama-lama ini anak jadi gengges. Sibuk sendiri sama pikirannya yang diada-adain. Gimana dia pusiiiing banget mikirin pendapat orang lain tentang dia, padahal sebenarnya ngapain juga dipikirin? Gue suka dengan sahabat Audrey, Victoria. Mungkin Victoria terlihat seperti seorang teman yang berusaha memanfaatkan kesempatan. Tapi, Victoria Cuma berusaha untuk menikmati keadaan. Ucapannya yang bilang kalau Audrey jadi egois, self-sentris, dan mencoba untuk membuat semuanya kembali normal itu benar. Kenapa pula Audrey enggak mencoba untuk menerima kenyataan?
Intinya, sih, accepting.
Se-suck apa pun kenyataan, satu-satunya cara yang bisa kita lakukan toh cuma menerima, kan? Berdamai dengan kenyataan. Bukannya memusuhinya atau mencoba mengingkari kenyataan. Ujung-ujungnya pasti bakal bikin capek sendiri, seperti Audrey.
Ini, sih, inti paling penting yang gue tangkap dari novel ini. Menerima kenyataan dan mencoba berdamai, meski itu susah. Untunglah di akhir Audrey menerimanya.
Untuk hero, James lumayan ngegemesin, sih. James ini sama seperti Victoria, antitesisnya Audrey. Bedanya, jika Victoria mencoba menerima kenyataan dengan bersenang-senang, James menerima kenyataan dengan menjadikan kenyataan itu sebagai lelucon. Enggak ada yang lebih menyenangkan ketimbang menertawakan diri sendiri dan bercanda dengan kenyataan yang suck. James berhasil digambarkan sebagai cowok yang berhati besar—hei siapa, sih, yang tahan kehidupan gebetan lo jadi konsumsi semua orang? Walaupun ujung-ujungnya James sama seperti Victoria, capek dengan sifat self-sentris Audrey.
Tapiii… yang bikin betah baca novel ini terletak di narasinya. Aslik, lucuk. Kata-katanya tuh kekinian banget. Deksripsi kejadian juga kekinian bangetlah, khasnya anak muda gitu. Belum lagi karakter Audrey yang music-geek bener-bener gila musik. Dan James PDKT dengan ngasih mix tape? Di era digital seperti sekarang, sesuatu yang klasik kayak gini selalu sukses bikin mupeng.
Novelnya ringan banget. khas remaja bangetlah. Yah, gampangnya, bayangin 5SOS ketemu Taylor Swift, itulah Audrey, Wait.


Wednesday, February 11, 2015

#7 Stealing Parker by Miranda Kenneally

Stealing Parker
Miranda Kenneally



Parker Shelton punya hidup yang hampir sempurna. Valedictorian di sekolahnya. Cantik. Jago softball dan jadi andalan tim softball cewek di Hundred Oaks High School. Punya keluarga yang bahagia. Hampir keterima di Vanderbilt.
Namun semuanya berubah ketika ibunya came out sebagai lesbian dan cerai dari ayahnya untuk tinggal bareng pacarnya, Theresa. Keluarga Parker yang relijius dan rajin ke gereja, mendadak jadi bahan omongan di gereja. Ibu-ibu melarang anaknya main sama Parker karena takut anaknya ketularan Parker yang dicurigai bisa ngikutin jejak ibunya. Teman-teman orangtuanya di gereja berbalik membelakangi mereka. Dia dianggap sebagai anak seorang pendosa.
Saat Parker stres, teman baiknya, Laura, bitchy-ing her. Parker jadi enggak punya teman, bahkan dibully di tim softball sehingga terpaksa keluar. Kakaknya nge-drugs. Ayahnya berada di state denial karena menganggap semua baik-baik saja. Untuk membuktikan kalau dia enggak kayak ibunya, Parker jadi sering gonta ganti gebetan dan make out di depan umum.
Sampai akhirnya Parker kenalan dengan Brian, asisten pelatih tim baseball tempat Parker menjabat sebagai manajer. Brian yang sudah 23 tahun dianggap seksi dan dewasa di mata Parker. Namun, seiring dengan kedekatannya yang makin serius sama Brian, Parker jadi deg-degan berada di depan Will alias Corndog, kapten tim baseball, sekaligus salutatorian di sekolahnya. Di lain sisi, Parker jadi ragu dengan hubungannya dengan Brian.
Di saat semua masalahnya makin menumpuk, Parker selalu mempertanyakan di mana Tuhan saat dia benar-benar membutuhkannya?
Asli, baca novel ini bikin banjir air mata.
Sebenarnya, gue salah baca. Harusnya baca Catching Jordan dulu, buku pertama dari Hundred Oaks series. Tapi, gue terlanjur terhipnotis oleh kisah Parker. Dan… mau pamer dulu. Buku ini berhasil diselesaikan dalam waktu sehari. Plus, bacanya ebook. Jadi, meski mata perih, bukunya terlalu menarik untuk diistirahatkan.
Konfliknya rumit banget, untuk ukuran anak 18 tahun. Di saat hidupnya sempurna, suatu kenyataan membuat hidupnya hancur. Ditambah, enggak ada yang membantu karena semua orang sibuk judging mereka. Parker jadi marah sama hidupnya, bahkan sama gerejanya dan Tuhan, karena kenapa dia ditinggalkan sendiri?
Dan Laura. Asli, bitchy banget. Mantan sahabat baik yang berubah nge-bully Parker, semata karena akhirnya dia punya kesempatan untuk menunjukkan dirinya oke. Dari awal udah dikasih lihat kalau Laura tipe jealousy yang selalu iri sama temannya. Jadi, ketika ada celah buat menonjol, jadi deh ngebitchy. Tapi jatohnya malah ngeselin dan dibenci. Adegan favorit gue adalah ketika Parker teriak di koridor bilang kalau Laura Cuma iri dan enggak penting. Mampus lo, Laura. Haha.
Selain itu, romance-nya juga bikin gregetan. Makin ke belakang, makin susah nebak akhirnya Parker bakal sama Brian atau Will? Awalnya hubungan Parker dan Brian lucu-lucu unyu. Brian digambarkan sebagai sosok cowok dewasa yang ngertiin Parker dan ngemong. Tapi lama-lama jadi ngeselin dan kelihatan kalau dia cuma cowok childish yang menolak tua sehingga ketika dekat sama Parker, dia bisa keep up dengan jiwa mudanya. Kasian Parker diajak make out di truk Brian tanpa ada keberanian dari Brian untuk negasin hubungan mereka gimana. Di lain sisi, Parker terbuai dengan sosok Brian karena cowok dewasa di hidupnya, ayah dan kakaknya, sama-sama masih struggling dengan masalah mereka sehingga Parker pun mencari perhatian di luar.
Yang sama sekali enggak disangka-sangka itu Will atau lebih sering dipanggil Corndog. Dengan mudahnya dan enggak diduga sama sekali, Parker terbuka di depan Will dan bisa percaya cowok itu.
Selain cerita yang menarik, gaya menulisnya Miranda juga asyik untuk diikuti. ada bagian tulisan berisi curhatan Parker di sini (curhatan yang setiap kali habis ditulis sering dibakar atau dibuang sama Parker. Kadang dia menulis di kertas, serbet, atau di kertas apa pun). Nah, bagian ini nih yang bikin sedih. Ketika Parker mempertanyakan keberadaan Tuhan karena dia merasa ditinggalkan sendiri. sampai akhirnya, dia mendapatkan jawabannya.
It’s all about forgiving and accepting. Dua hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Namun, ketika sudah bisa melakukannya, perlahan, sedikit demi sedikit, permasalahan kita terurai dengan sendirinya.
That’s why I love this novel. Because Miranda taught me to learn to forgive someone and accep everything. forgiving and accepting. Easy to say but hard to do.

Sekarang, mari kita kembali ke buku pertama, Catching Jordan, yang konon kabarnya enggak seberat isu Parker. Sebenarnya ending CJ udah ketebak karena pasangan di novel itu jadi cameo di Stealing Parker. Namun tetap aja. Miranda caught my eyes with her sense of writing. Jadi, itu cukup jadi alasan kenapa novel-novel Miranda jangan dianggap enteng.

Monday, February 9, 2015

#6 Chasing Daisy by Paige Toon

Chasing Daisy
Paige Toon



Daisy bekerja sebagai in-front-house girl alias di bagian hospitality yang ngurusin catering dan makannya sebuah tim F1. Atau istilahnya bun tart. Karena pekerjaannya ini, Daisy bisa keliling dunia, ke negara tempat racing sedang berlangsung. Enggak ada yang tahu kalau sebenarnya Daisy ini anak orang kaya terkenal gitu, deh, di Amrik.
Karena pekerjaanya juga Daisy berkenalan dengan Will, salah seorang racer. Dan Luis Castro, second racer di tim itu yang dijuluki si anak ajaib karena di tahun pertamanya tampil di F1 udah memukau.
Daisy diam-diam mencintai Will. Seiring perjalanan waktu, Will juga menyukai dia. Mereka pacaran diam-diam karena Will udah punya pacar, Sarah, dan seluruh dunia tahu soal pasangan ini. Di sisi lain, Daisy terlibat hubungan benci-benci-butuh-tapi-lama-lama-cinta pada Luis.
Gue termasuk lama membaca novel ini. Setahunan ada kali. Awalnya karena pengin menulis novel Do Rio Com Amor (novel keduaku *pamer dikit*) yang setting Brazil, jadilah aku nyari-nyari novel setting Brazil dan nyasar ke sini. Langsung semangat karena background-nya balap, salah satu hal yang aku suka juga. Sayangnya, ketika baca novel ini sering ke-distract novel lain sehingga baru bisa diselesaikan sekarang.
Oke, satu hal yang bikin lama baca novel ini mungkin karena minim deskripsi dan kebanyakan dialog. Termasuk dialog yang sebenarnya enggak penting. Makanya, jadi rada malas di awal-awal. Tapi, makin ke tengah jalan ceritanya makin seru sehingga enggak bisa berhenti baca.
Di balik kelemahan di atas, kekuatan utama di novel ini terletak di twist di tengah cerita. Kirain cuma George RR Martin yang berani membunuh karakter utama di tengah cerita. Paige juga termasuk berani membunuh tokoh utama. Yup, adegan meninggalnya Will di tengah cerita itu sukses bikin kaget. Two thumbs up buat Paige yang menyajikan realita dunia balap. Di mana ada ajal menunggu di setiap tikungan. Scene ini benar-benar mengingatkan kita untuk cherish every moment. Karena hal yang kita suka, bisa saja membunuh kita. Seperti Will yang cinta mati sama balap dan meninggal ketika melakukan hal yang dicintainya itu.
Maybe it’s a coincidence. Ketika baca scene ini, saat itu lagi nonton MotoGP dan Marc Marquez jatoh. Saat itu lagi tanding di sirkuit Simoncelli. Pembalap yang meninggal di sirkuit. Dan seminggu sebelumnya abis nonton Rush, film biopic tentang Niki Lauda yang kecelakaan di sirkuit. Jadi, rasanya tambah lebih ngilu saat baca novel ini.
Novel ini bisa dibilang terbagi ke dua part. Part pertama Daisy-Will yang berakhir di meninggalnya Will. Part kedua dimulai di masa mengasingkan dirinya Daisy lalu perlahan dekat dengan Luis yang sama-sama berbagi duka.
Oh ya, sedikit komentar juga. Novel ini pacing-nya kurang teratur. Di awal sampai ¼ akhir itu lamaaa banget. Santai bangetlah. Trus ¼ akhir berasa diburu-buru, serba cepat.
Terus, pujian juga untuk Paige yang berhasil menyajikan apa yang ada di balik dunia balap. Seru, euy. Jadi kepengin kerja sebagai bun tart juga biar bisa keliling dunia. Biar kata cuma jadi pelayan, enggak apa-apalah, selama bisa nonton balap di garage dan hangout sama pembalap. Oh my God. This is the glamorous job I’ve ever known.
Salah satu efek nyata abis baca novel ini, jadi ingat satu isi bucketlist aku. Nonton F1 live. Nyesek, sih, waktu ke Abu Dhabi kemarin lagi enggak ada jadwal balap, jadinya cuma bisa foto depan sirkuit kosong doang. Mungkin, F1 Singapore masih bisa dijangkau, ya. Someday, if, Someday (kebanyakan bucketlist sik haha).


Thursday, February 5, 2015

#5 Isla and the Happily Ever After by Stephanie Perkins

Isla and the Happily Ever After
Stephanie Perkins



Isla akhirnya bisa ngobrol bareng Josh, kecengannya selama tiga tahun terakhir. Di suatu malam di musim panas, ketika Isla enggak bisa tidur karena sakit gigi, dia pun menyelinap keluar rumah tengah malam dan ke Kismet. Dia ngobrol ngalor ngidul sampai akhirnya ketiduran waktu Josh melukisnya. Kisah mereka pun berlanjut ke Paris, tempat mereka sama-sama sekolah di School of America Paris (SOAP).
Finally I read this book. Setelah sekian lama menunggu-nunggu kisah Josh-Isla. Mereka sendiri sempat muncul di Anna and the French Kiss (Josh sahabatnya Etienne yang pacaran sama Rashmi) sedang Isla adalah anggota geng Amanda yang waktu itu musuhan sama geng Anna. Enggak nyangka, sih, kalau Stephanie bakal nyatuin mereka berdua.
Seperti novel-novel Stephanieyang sebelumnya, Isla and the Happily Ever After dipenuhi dengan banyak adegan yang maniiiis. Gue suka chemistry antara Josh dan Isla yang perlahan-lahan tumbuh. Dua orang loner yang kemudian saling mengerti satu sama lain. Dan saat mereka ke Barcelona, New York, dan keliling Paris itu sweet banget.
Jika ada yang enggak gue suka yaitu insecurities-nya Isla. Memang, sih, seumur itu kita sering insecure. Apalagi kalau punya pacar kayak Josh, ya makin menjadi-jadilah insecure-nya. Dan Josh juga, sih, pake bawa-bawa Rashmi segala, makin insecure ajalah.
Tapi, setelah dipikirin lagi, insecure si Isla ini gengges juga. Josh udah mati-matian berusaha meyakini dia, eh malah didepak aja karena insecure. Soalnya, insecure ini lebay dan semacam diada-adain gitu sama Isla.. Kalau aja dia pede dikit, enggak bakallah mereka kepisah lama nyakitin diri sendiri.
My favorite part di voicemail Josh. Ada satu kalimat yang nendang.
“Take a risk. Take a fucking risk. If you keep playing it safe, you'll never know who you are
That’s right. Gimana kita bisa tahu apa yang sebenarnya kita inginkan atau siapa diri kita yang sebenarnya jika enggak berani mengambil resiko dan tetap bermain aman? Thanks for slapping me, Joshua Wasserstein.
Satu lagi yang gue suka, ketika Stephanie menyelipkan tokoh-tokoh dari novel sebelumnya. Etienne-Anna. Lola-Cricket. Bahkan Meredith dan Calliope. Aish, sukaaaa. Dan enggak maksa. Juga, surprise yang diselipkan Stephanie di menjelang ending (clue: Etienne dan Anna) itu sukses bikin gue menjerit senang karena Etienne yang aaaarghhhh manis banget, sih? He maybe short, but he’s so hot (just like Jjong. Short but hot, hehe)
Meski suka, gue sempat meringis juga, sik? Mereka masih terlalu muda, kak, untuk menjalin hubungan serius seperti ini.
But, afterall. Aku suka. Suka banget malah. Dan sebagai penutup dari Anna series, Isla and the Happily Ever After sukses menghadirkan penutup yang manis dan sesuai dengan judul.
And you, Stephanie Perkins. Looking forward for your new book. Yakin, deh, si mbak Steph ini pasti punya banyak stok cowok lucu manis lainnya.


#4 The Duff - Kody Keplinger

The Duff
Kody Keplinger



DUFF. Designated. Ugly. Fat. Friend.
Dalam sebuah lingkup pertemanan, pasti ada satu ornag yang biasa aja, unattractive, enggak menarik, dan jomplang banget dibanding teman-temannya yang lain. Duff ini sering jadi pijakan buat ngedeketin temen yang cantik/ganteng.
Itulah definisi Duff menurut Wesley.
Bianca enggak pernah tahu tentang label yang diberikan ke setiap teman-temannya, termasuk dirinya. Sampai ketika Wesley ngedeketin dirinya di The Nest dan menyebut dirinya Duff. Bianca melihat temannya, Jessica dan Casey yang cantik dan seksi. Beda bangetlah sama dirinya.
Sejak saat itu, Bianca merasa minder karena dia Duff.
Apalagi label itu diberikan oleh cowok yang paling dibencinya, Wesley. A playboy. A man-whore. Cowok yang enggak pernah terlihat tanpa cewek. Tapi, suatu hari, Bianca mencium Wesley untuk mengusir pemikiran buruknya karena hidupnya yang bermasalah. Ciuman berujung ke have sex. Sampai akhirnya Bianca menemukan pelarian sementara dari masalahnya, Wesley.
Namun, yang terjadi adalah munculnya masalah baru.
Oke, gue telaaat banget baru baca buku ini sekarang.
Pertanyaan pertama yang terlintas di pikiran gue adalah: man, gue lagi baca young adult apa Rachel Gibson, sik?
Karena ada banyaaak banget adegan having sex. Dan, ini tuh novel young adult, lho. Murid SMA. Oh my…
Tapi, terlepas dari semua itu, gue suka novel ini. Pertama, ide labeling. Telisik punya telisik, ide Duff berasal dari si penulis yang waktu sekolah adalah Duff. Jadi, dia kepengin menulis novel tentang Duff, sosok yang sering dilupakan karena ada sosok sempurna di dekatnya. Dalam kehidupan nyata, tentunya kita sering bertemu Duff ini. atau malah kita sendiri yang Duff?
Bisa jadi.
Namun, gue sedikit kecewa. Ekspektasi gue, novel ini akan membahas tentang Duff dan gimana si Duff ini struggling di kehidupan remaja yang penuh labeling. Namun realitanya, novel ini bercerita tentang Bianca yang bingung sama masalahnya dan memilih pelarian berupa cowok. Enggak ada efek dari labeling atau bullying yang gue pikir bakal ada di cerita ini. Tapi, ini enggak ngurangin keasyikan pas baca, kok.
Gue suka interaksi antar tokoh. Bianca dan teman-temannya, Jessica dan Casey. Persahabatan yang tulus. Gue suka cara Kody menuliskan dinamika persahabatan mereka yang naik turun. Gue juga suka hubungan Bianca dan Wesley. Manis-manis lucu, hi-hi.
Ini juga jadi bukti kalau novel yang seru itu enggak mesti penuh konflik lebay dan tokoh-tokoh lebay. Apalagi untuk young adult. Tokoh-tokoh yang biasa dan membumi, dengan konflik sederhana tapi dalam, dan dikemas dengan cara menulis yang bagus, hasilnya bisa luar biasa.
Duff ini sudah diangkat jadi film yang bentar lagi tayang. Untuuung aja gue bacanya sebelum lihat traillernya karena gue enggak suka dengan yang jadi Wesley, haha. Jadi, ketika baca, imajinasi gue soal Wesley enggak keganggu, deh. Dan satu lagi, gue kok curiganya filmnya dibikin jadi dramatis karena ada sosok Madison (Bella Thorne) yang di trailer bicthy banget. seingat gue, sosok Madison ini enggak ada (please correct me if I’m wrong).

And now, I’m officially a Kody Keplinger’s fans. Looking forward to read her another book.