Bayangan di Pintu Elevator

Note: cerita ini terinspirasi dari lagu terbaru Jonghyun berjudul Elevator yang dirilis di acara Mnet Monthly Live Connection. Lagu ini terinspirasi dari masa kecil Jonghyun yang bisa dibilang menyedihkan, dan ketika dia menatap bayangannya di pintu elevator, dia teringat masa kecilnya dan pencapaiannya hingga sekarang.



Bayangan di Pintu Elevator
Ifnur Hikmah



Tatapan sayu di pintu elevator itu balas menatapku. Terlihat menantang di balik wajah kuyu. Dia terlihat sangat letih, dengan bercak-bercak peluh bercucuran menetes di pelipis mengalir hingga ke garis rahangnya. Matanya yang sayu terlihat makin redup dengan adanya kantong gelap menggantung di bawah sana.
Aku mengangkat tangan, mengusap peluh yang menetes di keningku. Bayangan di pintu elevator itu pun melakukan hal yang sama.
Aku tersenyum tipis. Bayangan di pintu elevator itu juga melakukan hal yang sama.
“Bagaimana kabarmu?” tanyaku berbisik, berharap bayangan di pintu elevator itu mendengar pertanyaanku. “Apa kamu tidak letih setiap hari harus pulang tengah malam seperti ini? Demi apa?”
Aku menggeleng pelan. Wajah yang tengah menatapku itu terlihat semakin sendu.
“Lihat dirimu. Kamu tidak ada ubahnya seperti mayat hidup.”
Seolah mendengarkan ucapanku, bayangan itu tertawa sinis.
Aku tertawa sinis.
Dan bayangan di pintu elevator itu terus menatapku, membuatku bertanya, benarkah yang kulakukan sekarang?
*

Katanya rumah adalah istana buat kita. Sesederhana apapun, rumah adalah istana terindah yang kita miliki.
Namun, rumah kecil ini membuatku sesak. Ketika aku berlari keluar rumah pun, aku tidak merasakan kelegaan. Malah, sesak di dadaku semakin menjadi-jadi. Jalanan kecil di depan rumah, yang langsung berbatasan dengan rumah lainnya, anak-anak kecil seusiaku yang berlarian kian kemari, ibu-ibu yang sibuk menawar sayuran di kios sayur kecil di depan rumahku—ibuku ada di sana, meladeni ibu-ibu yang sibuk menawar harga itu. Di dekat sana ada kursi kayu seadanya, tempat nenekku sibuk merajut dengan tatapannya yang menerawang entah ke mana sampai nanti tiba saatnya dia beranjak kembali ke dalam rumah saat matahari mulai tenggelam dan kembali mengulang hal yang sama keesokan harinya. Beliau selalu membawa benang dan jarum rajut.
Namun, rajutannya tidak pernah selesai.
Aku menengadah, membiarkan mataku menantang sinar matahari di atas sana. Kuhela napas panjang, berharap aku dapat merasakan ketenangan.
Namun, teriakan anak kecil yang saling berantem berebut kelereng, ibu-ibu yang semakin ganas dalam menawar sayuran, dan adik laki-lakiku yang terus menerus memutar kaset tua hadiah dari ibu di ulang tahunnya beberapa bulan lalu, membuat dadaku kembali sesak.
Ini rumahku. Namun, ini bukan istanaku.
Aku ingin segera pergi dari sini. Pergi dari tempat yang membuatku merasa terjebak di tempat sempit seperti ini. Aku ingin pergi bersama nenek ke tempat yang nyaman sehingga dia bisa menyelesaikan merajut syal itu. Aku ingin pergi bersama ibu sehingga beliau tidak lagi harus menghadapi ibu-ibu menyebalkan yang selalu menawar sayuran kami dengan harga rendah. Juga adik laki-lakiku, ke tempat dia bisa menyanyi dengan tenang dan tidak perlu lagi mendengarkan lagu lama dari kaset tua itu.
Namun, ketika aku menatap kedua kaki kecilku, aku tahu keinginanku itu sangat mustahil.
*
Pintu itu membuka, membuatku segera berlari keluar. Aku menarik napas lega ketika akhirnya bisa keluar dari tempat sempit itu.
Aku ingat perasaan ini. ketika akhirnya aku, adik laki-lakiku, ibu, dan nenek berhasil keluar dari lingkungan sempit yang menyesakkan itu.
Aku menatap lorong di depanku. Lorong yang sudah akrab dalam hidupku karena selama  bertahun-tahun ini aku selalu melewatinya.
Sebaris senyum terkembang di bibirku.
Aku berbalik, dan menatap bayanganku di pintu elevator yang menutup di belakangku. Mata sayu itu masih ada. Wajah kuyu itu masih ada. Tubuh letih yang tak ada ubahnya seperti mayat hidup itu masih ada. Dan sosok itu masih menatapku, menantangku.
“Kamu tahu? Aku pernah memikirkan akan jadi seperti ini, tapi aku tidak menyesalinya. Kenapa? Karena di sini, aku tidak pernah merasa sesak lagi,” bisikku, pada bayangan di depanku.
Aku masih terus berdiri di sana hingga pintu elevator itu kembali terbuka dan memperlihatkan sosok adik laki-lakiku yang sudah tumbuh dewasa. Dia tersenyum hangat dan merengkuhku ke dalam pelukannya.
“Ayo kita pulang. Aku lapar,” ujarnya, dan menuntunku menyusuri lorong di hadapanku menuju ibu yang siap menyambut kami dengan sayuran yang dimasaknya, serta nenek yang masih terus melanjutkan rajutannya dengan senyuman terkembang di wajahnya.

Comments

Post a Comment

Popular Posts