#7 Stealing Parker by Miranda Kenneally

Stealing Parker
Miranda Kenneally



Parker Shelton punya hidup yang hampir sempurna. Valedictorian di sekolahnya. Cantik. Jago softball dan jadi andalan tim softball cewek di Hundred Oaks High School. Punya keluarga yang bahagia. Hampir keterima di Vanderbilt.
Namun semuanya berubah ketika ibunya came out sebagai lesbian dan cerai dari ayahnya untuk tinggal bareng pacarnya, Theresa. Keluarga Parker yang relijius dan rajin ke gereja, mendadak jadi bahan omongan di gereja. Ibu-ibu melarang anaknya main sama Parker karena takut anaknya ketularan Parker yang dicurigai bisa ngikutin jejak ibunya. Teman-teman orangtuanya di gereja berbalik membelakangi mereka. Dia dianggap sebagai anak seorang pendosa.
Saat Parker stres, teman baiknya, Laura, bitchy-ing her. Parker jadi enggak punya teman, bahkan dibully di tim softball sehingga terpaksa keluar. Kakaknya nge-drugs. Ayahnya berada di state denial karena menganggap semua baik-baik saja. Untuk membuktikan kalau dia enggak kayak ibunya, Parker jadi sering gonta ganti gebetan dan make out di depan umum.
Sampai akhirnya Parker kenalan dengan Brian, asisten pelatih tim baseball tempat Parker menjabat sebagai manajer. Brian yang sudah 23 tahun dianggap seksi dan dewasa di mata Parker. Namun, seiring dengan kedekatannya yang makin serius sama Brian, Parker jadi deg-degan berada di depan Will alias Corndog, kapten tim baseball, sekaligus salutatorian di sekolahnya. Di lain sisi, Parker jadi ragu dengan hubungannya dengan Brian.
Di saat semua masalahnya makin menumpuk, Parker selalu mempertanyakan di mana Tuhan saat dia benar-benar membutuhkannya?
Asli, baca novel ini bikin banjir air mata.
Sebenarnya, gue salah baca. Harusnya baca Catching Jordan dulu, buku pertama dari Hundred Oaks series. Tapi, gue terlanjur terhipnotis oleh kisah Parker. Dan… mau pamer dulu. Buku ini berhasil diselesaikan dalam waktu sehari. Plus, bacanya ebook. Jadi, meski mata perih, bukunya terlalu menarik untuk diistirahatkan.
Konfliknya rumit banget, untuk ukuran anak 18 tahun. Di saat hidupnya sempurna, suatu kenyataan membuat hidupnya hancur. Ditambah, enggak ada yang membantu karena semua orang sibuk judging mereka. Parker jadi marah sama hidupnya, bahkan sama gerejanya dan Tuhan, karena kenapa dia ditinggalkan sendiri?
Dan Laura. Asli, bitchy banget. Mantan sahabat baik yang berubah nge-bully Parker, semata karena akhirnya dia punya kesempatan untuk menunjukkan dirinya oke. Dari awal udah dikasih lihat kalau Laura tipe jealousy yang selalu iri sama temannya. Jadi, ketika ada celah buat menonjol, jadi deh ngebitchy. Tapi jatohnya malah ngeselin dan dibenci. Adegan favorit gue adalah ketika Parker teriak di koridor bilang kalau Laura Cuma iri dan enggak penting. Mampus lo, Laura. Haha.
Selain itu, romance-nya juga bikin gregetan. Makin ke belakang, makin susah nebak akhirnya Parker bakal sama Brian atau Will? Awalnya hubungan Parker dan Brian lucu-lucu unyu. Brian digambarkan sebagai sosok cowok dewasa yang ngertiin Parker dan ngemong. Tapi lama-lama jadi ngeselin dan kelihatan kalau dia cuma cowok childish yang menolak tua sehingga ketika dekat sama Parker, dia bisa keep up dengan jiwa mudanya. Kasian Parker diajak make out di truk Brian tanpa ada keberanian dari Brian untuk negasin hubungan mereka gimana. Di lain sisi, Parker terbuai dengan sosok Brian karena cowok dewasa di hidupnya, ayah dan kakaknya, sama-sama masih struggling dengan masalah mereka sehingga Parker pun mencari perhatian di luar.
Yang sama sekali enggak disangka-sangka itu Will atau lebih sering dipanggil Corndog. Dengan mudahnya dan enggak diduga sama sekali, Parker terbuka di depan Will dan bisa percaya cowok itu.
Selain cerita yang menarik, gaya menulisnya Miranda juga asyik untuk diikuti. ada bagian tulisan berisi curhatan Parker di sini (curhatan yang setiap kali habis ditulis sering dibakar atau dibuang sama Parker. Kadang dia menulis di kertas, serbet, atau di kertas apa pun). Nah, bagian ini nih yang bikin sedih. Ketika Parker mempertanyakan keberadaan Tuhan karena dia merasa ditinggalkan sendiri. sampai akhirnya, dia mendapatkan jawabannya.
It’s all about forgiving and accepting. Dua hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Namun, ketika sudah bisa melakukannya, perlahan, sedikit demi sedikit, permasalahan kita terurai dengan sendirinya.
That’s why I love this novel. Because Miranda taught me to learn to forgive someone and accep everything. forgiving and accepting. Easy to say but hard to do.

Sekarang, mari kita kembali ke buku pertama, Catching Jordan, yang konon kabarnya enggak seberat isu Parker. Sebenarnya ending CJ udah ketebak karena pasangan di novel itu jadi cameo di Stealing Parker. Namun tetap aja. Miranda caught my eyes with her sense of writing. Jadi, itu cukup jadi alasan kenapa novel-novel Miranda jangan dianggap enteng.

Comments

Popular Posts