#6 Chasing Daisy by Paige Toon

Chasing Daisy
Paige Toon



Daisy bekerja sebagai in-front-house girl alias di bagian hospitality yang ngurusin catering dan makannya sebuah tim F1. Atau istilahnya bun tart. Karena pekerjaannya ini, Daisy bisa keliling dunia, ke negara tempat racing sedang berlangsung. Enggak ada yang tahu kalau sebenarnya Daisy ini anak orang kaya terkenal gitu, deh, di Amrik.
Karena pekerjaanya juga Daisy berkenalan dengan Will, salah seorang racer. Dan Luis Castro, second racer di tim itu yang dijuluki si anak ajaib karena di tahun pertamanya tampil di F1 udah memukau.
Daisy diam-diam mencintai Will. Seiring perjalanan waktu, Will juga menyukai dia. Mereka pacaran diam-diam karena Will udah punya pacar, Sarah, dan seluruh dunia tahu soal pasangan ini. Di sisi lain, Daisy terlibat hubungan benci-benci-butuh-tapi-lama-lama-cinta pada Luis.
Gue termasuk lama membaca novel ini. Setahunan ada kali. Awalnya karena pengin menulis novel Do Rio Com Amor (novel keduaku *pamer dikit*) yang setting Brazil, jadilah aku nyari-nyari novel setting Brazil dan nyasar ke sini. Langsung semangat karena background-nya balap, salah satu hal yang aku suka juga. Sayangnya, ketika baca novel ini sering ke-distract novel lain sehingga baru bisa diselesaikan sekarang.
Oke, satu hal yang bikin lama baca novel ini mungkin karena minim deskripsi dan kebanyakan dialog. Termasuk dialog yang sebenarnya enggak penting. Makanya, jadi rada malas di awal-awal. Tapi, makin ke tengah jalan ceritanya makin seru sehingga enggak bisa berhenti baca.
Di balik kelemahan di atas, kekuatan utama di novel ini terletak di twist di tengah cerita. Kirain cuma George RR Martin yang berani membunuh karakter utama di tengah cerita. Paige juga termasuk berani membunuh tokoh utama. Yup, adegan meninggalnya Will di tengah cerita itu sukses bikin kaget. Two thumbs up buat Paige yang menyajikan realita dunia balap. Di mana ada ajal menunggu di setiap tikungan. Scene ini benar-benar mengingatkan kita untuk cherish every moment. Karena hal yang kita suka, bisa saja membunuh kita. Seperti Will yang cinta mati sama balap dan meninggal ketika melakukan hal yang dicintainya itu.
Maybe it’s a coincidence. Ketika baca scene ini, saat itu lagi nonton MotoGP dan Marc Marquez jatoh. Saat itu lagi tanding di sirkuit Simoncelli. Pembalap yang meninggal di sirkuit. Dan seminggu sebelumnya abis nonton Rush, film biopic tentang Niki Lauda yang kecelakaan di sirkuit. Jadi, rasanya tambah lebih ngilu saat baca novel ini.
Novel ini bisa dibilang terbagi ke dua part. Part pertama Daisy-Will yang berakhir di meninggalnya Will. Part kedua dimulai di masa mengasingkan dirinya Daisy lalu perlahan dekat dengan Luis yang sama-sama berbagi duka.
Oh ya, sedikit komentar juga. Novel ini pacing-nya kurang teratur. Di awal sampai ¼ akhir itu lamaaa banget. Santai bangetlah. Trus ¼ akhir berasa diburu-buru, serba cepat.
Terus, pujian juga untuk Paige yang berhasil menyajikan apa yang ada di balik dunia balap. Seru, euy. Jadi kepengin kerja sebagai bun tart juga biar bisa keliling dunia. Biar kata cuma jadi pelayan, enggak apa-apalah, selama bisa nonton balap di garage dan hangout sama pembalap. Oh my God. This is the glamorous job I’ve ever known.
Salah satu efek nyata abis baca novel ini, jadi ingat satu isi bucketlist aku. Nonton F1 live. Nyesek, sih, waktu ke Abu Dhabi kemarin lagi enggak ada jadwal balap, jadinya cuma bisa foto depan sirkuit kosong doang. Mungkin, F1 Singapore masih bisa dijangkau, ya. Someday, if, Someday (kebanyakan bucketlist sik haha).


Comments

  1. Twistnya keterlaluan, saya jadi pengen baca, belum pernah ketemu ada yang ngebunuh karakter di tengah-tengah kecuali charles dickens yang suka banget ngebunuh satu karakter di ceritanya :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts