Wednesday, July 23, 2014

Review #18 Grey & Jingga: The Twilight by Sweta Kartika



Grey & Jingga: The Twilight
Sweta Kartika

 

Grey dan Jingga adalah sahabat masa kecil. Tapi terpisah ketika mereka lulus SD. Tanpa sengaja, ketika kuliah mereka pun bertemu lagi di klub teater. Jingga yang kuliah di Sastra Indonesia pengin jadi penulis naskah sementara Grey kuliah di jurusan musik dan mengatur musik di teater itu. Mereka pun dekat, bersahabat, dan diam-diam saling suka.
Literally diam-diam meski mungkin mereka saling merasa. Sampai-sampai sahabat mereka, Zahra, gemes sendiri. terus ada Martin, anak basket dari jurusan hukum yang PDKT sama Jingga, dan Nina, cewek masa lalu Grey yang bergabung di teater dan pengin dapetin Grey lagi. Lalu, Grey dan Jingga gimana, ya?
Setelah sekian lama akhirnya gue baca komik lagi he-he.
Dulu, waktu awal-awal Grey & Jingga hype, gue sempat ngikutin komik stripnya. Tapi enggak bertahan lama karena males nungguin tiap minggunya. Lalu lupa deh sama komik ini sampai ketemu kabar kalau akhirnya dibukuin. Wohoo… jadi bisa ngikutin cerita Grey & Jingga lagi deh.
Ceritanya sih simpel. Galau-galau khas remaja gitu. Cuma ya bagi seorang hopeless romantic sikap cool-cool Grey, plus rambut gondrongnya, plus cueknya, plus gitarnya bikin gemes. Aw aw aw, haha. Tokoh pendampingnya juga lucu-lucu. Porsinya pas, enggak lebay. Gue suka sama Zahra dan Dharma yang punya drama sendiri dan itu lucu banget sumpah. Juga ada Zaki yang kocak. Bobby dan Tuti juga. Plus si krucil Zahwa haha. Meski ceritanya simpel dan ketebak, kehadiran tokoh-tokoh yang realistis dan lucu ini menambah seru cerita.
Ini komik Indonesia pertama yang gue baca. Dan secara gue enggak terlalu suka komik (kecual serial cantik Jepang haha). Gambarnya memang enggak kayak gambar komik Jepang meski di beberapa part ada yang penempatannya terkesan Jepang gitu. But it’s okay-lah.
Dan yang paling gue suka adalah quotes di bawah setiap halaman. Quotable banget haha. Lumayanlah komik ini buat pengisi kegalauan. Ditunggu lho om Sweta Kartika komik berikutnya.

Monday, July 7, 2014

Review #17 My Life Next Door by Huntley Fitzpatrick

My Life Next Door
Huntley Fitzpatrick





Satu hal terlarang bagi Samantha Reed adalah The Garretts, alias tetangga di sebelah rumah. Bagi ibunya yang seorang calon senator, The Garretts adalah bukti bentuk ketidakpedulian terhadap masa depan karena punya banyak anak. Ada Joel, Alice, Jase, Duff, George, Harry, Andy, dan Patsy. Soalnya dulu ayah Samantha juga berasal dari keluarga besar dan meninggalkan ibunya yang sedang hamil dirinya dan punya anak berumur satu tahun, Tracy.
Diam-diam, Samantha suka mengintip aktivitas The Garretts. Sampai suatu hari Jase menghampirinya yang sedang mengawasi keluarga itu di balkon kamarnya. Jase tahu tentang kebiasaan Samantha. Sejak malam itu, mereka jadi dekat. Samantha juga dekat dengan anggota keluarga lain, bahkan bekerja sebagai babysitter di sana. Tapi Samantha menyembunyikannya, termasuk dari sahabatnya, Nan.
Sampai suatu kejadian membuat hubungan Samantha dan Jase terancam bubar. Enggak hanya sekadar larangan ibunya, tapi ada nyawa yang terancam di sana.
Finally. Selesai juga baca buku ini. Awal mula baca ada kali tahun lalu terus stop. Padahal dulu sengaja beli buku ini abis baca Lola And The Boy next Door dan gue yang terobsesi dengan cerita-seputar-cowok-tetangga. Sempat bawa juga buat dibaca waktu di pesawat ke Abu Dhabi, tetap enggak ada progress. Enggak ngerti kenapa semangatnya drop. Pas mau mulai lagi, lupa udah baca sampai mana. Akhirnya mulai dari awal lagi. Entah kenapa, agak lama baca buku ini. Mungkin karena pace yang datar. Padahal reviewnya buku ini lumayan.
Tapi cara menulisnya Huntley gue suka. Buat yang cepat bosan dan suka mencari tantangan, enggak cocok dengan buku ini. Soalnya isinya benar-benar menceritakan keseharian Samantha.
Ada banyak isu diangkat di sini. Mulai dari Samantha dan ibunya yang snobbish dan perfeksionis. Ibunya ini calon senator sehingga pengin semuanya terlihat sempurna. Mau enggak mau hidup Sam pun dipolitisasi. Apalagi ada Clay, juru kampanye sekaligus pacar ibunya yang melakukan apa aja asal ibu Sam menang. Pokoknya, semuanya bisa dipolitisasi sama Clay.
Tentang Samantha dan Jase yang sama-sama saling jatuh cinta. Lucu deh mereka ini. mulai dari malu-malu, nge-date berkali-kali, ciuman, sampai coba-coba having sex. Apalagi ada bagian mereka belanja kondom bareng. Jadi inget film First Time, tentang sepasang remaja yang penasaran kayak apa sih having sex untuk pertama kalinya itu. Awkward, pastinya.
Ngomong-ngomong soal Jase, I love him. Tipe boy next door yang sangat bertanggungjawab. Uniknya, Jase ini kamarnya kayak kebun binatang. Semua binatang ada di sana. Termasuk ular. Hiyuuuhhh… secara pribadi, gue enggak bakal pacaran sama Jase. Gila aja lo lagi ciuman dipelototin ular, ha-ha.
Juga ada hubungan Samantha dan Nan, sahabatnya. Ini twist yang enggak disangka-sangka. Tapi gue setuju dengan sikap Nan. Sebaik apapun hubungan persahabatan, pasti ada rasa irinya. Apalagi kalau sahabat kita have a perfect life like a princess, makin menjadi-jadi deh irinya. Gue rasa wajar jika Nan butuh waktu menjauh dari Samantha, apalagi ketika Samantha tahu Nan suka nyontek dan semua nilai bagus selama ini bukan kerjaan dia, melainkan saudara kembarnya yang dicap looser, Tim. Soalnya Nan pasti drop banget.
Ketegangan cerita baru terasa di seperempat akhir. Ketika suatu kejadian yang mengubah semuanya. Gue penasaran dengan penyelesaiannya. Dan tipikal YA ya, penyelesaian pasti manis. Dengan tokoh utama yang bahagia. Semuanya pun bahagia. Bahkan The Garretts pun bahagia.
Banyak yang menyamakan Huntley Fitzpatrick dengan Stephanie Perkins. Meski gue suka novel ini dan gaya menulis Huntley, I prefer Steph. But this book is worth to read. Such a nice and light story.