Tuesday, June 17, 2014

Review #16 You Had Me At Hello by Mhairi McFarlane

You Had Me At Hello
Mhairi McFarlane





What happens when the one that got away comes back?
Ben dan Rachel bersahabat sejak kuliah. Sepuluh tahun kemudian, mereka bertemu lagi di perpustakaan di Manchester. Rachel seorang wartawan. Ben seorang pengacara. Rachel baru saja putus dari tunangannya, Rhys, setelah pacaran 13 tahun. Ben sudah menikah dengan Olivia.
Mereka kembali bersahabat, meski Caroline, sahabat baik Rachel, memperingatkan Rachel untuk enggak terlalu dekat dengan Ben karena status Ben. Rachel juga dekat dengan Simon, sahabat sekaligus atasan Ben. Tapi… ada perasaan lain dalam hati Rachel.
Perasaan untuk Ben.
Perasaan untuk Ben sejak sepuluh tahun lalu.
Because he is the one that got away.
This is my first experience with Mhairi McFarlane.
I know nothing about this book when I bought it. I want to have this book simply because of the title. You had me at hello. I love that phrase since Dorothy said “you had me at hello” to Jerry Maguire.
*and I want someone said “you had me at hello” to me*
*abaikan*
Jadi, berbekal judulnya yang adalah frasa favorit gue, tanpa pertimbangan apa-apa langsung beli. Untunglah tindakan impulsif kali ini berakibat poisitif karena gue suka sama bukunya.
Ceritanya simple. About the one that got away. Buku ini menggunakan sistem flashback, di mana setiap adegan di masa lalu berhubungan dengan apa yang sedang dialami Rachel di masa sekarang. Berangkat dari PoV satu, kita diajak untuk mengikuti perjalanan hidup Rachel, mulai dari sepuluh tahun lalu sampai sekarang.
Ada satu pertanyaan di benak gue ketika membaca buku ini: kalau memang Ben dan Rachel sedekat itu waktu kuliah, kenapa mereka malah kepisah tanpa kabar selama sepuluh tahun? It have to be something between them. Pertanyaan ini yang membuat gue bertahan membacanya—selain gaya menulis Mhairi yang asyik banget.
Dan, tebakan gue benar. There is something between them. Tapi hal ini baru kebuka di belakang. Pas cerita hampir selesai. Penjelasan yang membawa kita kembali ke pertanyaan lama: benar enggak sih hubungan platonik, sahabatan cewek dan cowok tanpa cinta, itu benar-benar ada? Hasilnya? Ah, baca aja, haha.
Yang paling juara dari novel ini adalah gaya menulisnya Mhairi yang witty, sarcasm, dan lugas. Meski di beberapa bagian deskripsinya kurang. Padahal kalau deskripsi ditambah jadi bakalan lebih seru sih. Selain itu, setting cerita yang enggak biasa juga menambah daya tarik cerita. Manchester. Biasanya kan kalau Inggris ya London. Dan ini Mhairi mengambil kota lain yang jarang dipakai.
Dalam jurnalistik, ada istilah proximity, alias kedekatan. Sebuah berita akan bernilai lebih bagi seseorang karena unsur kedekatan tersebut. Hal itu gue rasain di sini. Kedekatan dengan background pekerjaan Rachel. Wartawan. Hehe. Hal ini di luar ekspektasi gue, makanya kaget gitu begitu tau pekerjaan Rachel. Jadi, makin suka deh sama buku ini.
Pokoknya, Mhairi bakalan jadi penulis yang karyanya nanti akan gue baca. Lumayan kak buat selingan di antara tulisan-tulisan young adult yang gue konsumsi sekarang. Good job, Mhairi.

Thursday, June 12, 2014

Review #15 Goodnight Tweetheart by Teresa Medeiros

Goodnight Tweetheart
Teresa Medeiros





TOP: What are you wearing today?
Me: Little black dress like Audrey Hepburn in Breakfast at Tiffany with old sweater. You?
TOP: Simple navy shirt with fedora.
Me: Let me guess. The fedora who you always wear in your concert?
TOP: My favorite one.
Me: Wanna wear that too.
TOP: You can wear it if you want. *cough* What about your book? Any progress?
Me: If I say that sitting in front of laptop, daydreaming about you, listening to your music and found that I don’t write anything as a progress. *sigh*
TOP: Don’t push yourself. You need to take a rest, you know that.
Me: I don’t know, actually.
TOP: So, come to my house and I will help you to make some rest.
Me: Can I?
TOP: Yeah
Me: *jump into a bus*
TOP: *waiting for you*
Me: Goodnight Sherlock.
TOP: Goodnight Watson.
Me: Goodning Doctor.
TOP: Goodnight Amy Pond.
Me: Goodnight St. Clair
TOP: Goodnight Anna.
Me: Goodnight Sebastian.
TOP: Goodnight Tweetheart.
*dan kemudian hening*
Percakapan di atas hanya delusional semata. Gabungan antara daydreaming yang enggak kunjung usai dan efek romantis abis baca Goodnight Tweethart.
Meet Abigail Donovan. Penulis yang buku pertamanya sukses besar dan membuatnya jadi terkenal, plus terpilih dalam Oprah Book Club. Sekarang Abby tengah pusing karena stuck di bab lima buku keduanya dan terus-terusan mengalami writer’s block. Sampai akhirnya publisher dia ngenalin Abby ke Twitter.
Di Twitter, Abby enggak sengaja bertemu Mark Baynard. Profesor sastra Inggris yang sedang cuti dan liburan keliling Eropa. Mereka pun DM-DMan yang selalu diawali dengan pertanyaan Mark tentang pakaian yang dikenakan Abby dan dibalas Abby dengan pertanyaan yang sama. Mereka langsung akrab. Mulai dari mengobrol tentang hal umum, balas-balasan seputar pop culture (book, movie, tv serial, etc) sampai ke pembicaraan serius tentang Mark yang selalu menyemangati Abby untuk enggak menyerah menyelesaikan buku keduanya.
Tapi, ada sesuatu yang enggak disangka-sangka Abby disembunyikan Mark darinya.
I LOVE THIS BOOK SO MUCH.
Sumpah, baca buku ini serasa nonton romcom ala-ala Nora Ephron gitu deh. Perasaannya sama kayak abis nonton When Harry Met Sally atau Sleepless In Seattle gitu. Sukaaakkk…
Dan bukunya kekinian banget meski kayaknya ditulis di awal-awal maraknya Twitter. Oke, gue memang telat karena baca buku ini sekarang, tapi seruuu. Formatnya unik, dibikin percakapan ala-ala Twitter. Dan dari percakapan itu kita bisa menebak sifat kedua tokoh utama ini. Tapi isi bukunya enggak melulu kayak twitter. Ada juga bagian kehidupan Abby di luar Mark dan DM-DM mereka, seperti Abby dan buku keduanya, Abby dan nyokapnya yang bipolar sekaligus dementia, Abby dan sahabatnya Margo, Abby dan publisher serta editornya, plus kucing-kucing Abby yang lucu, Willow Tum Tum dan Buffy The Mouse Slayer.
Deskripsi Teresa di beberapa bagian pas. Awalnya gue sempat skeptis enggak akan mengenal kedua tokoh karena cuma berupa dialog 140 karakter. Ternyata gue salah. sifat keduanya tergambar dengan jelas. Good job, Teresa.
Mark Baynard. Sumpah, gue kehabisan kata-kata tentang cowok ini. GIMANA GUE ENGGAK KESENGSEM SAMA COWOK YANG TAHU SEMUA HAL KETIKA NGOMONGIN FILM, BUKU, DAN SERIAL TV? AAKKKK… Mau bangetlah ketemu cowok yang ketika gue ngomongin Gandalf malah bisa nyamber dengan hal lain, bukannya bengong dan menatap gue aneh *curhat dikit*.
Dan endingnya yang super duper manis tapi enggak lebay.
Buku ini termasuk tipis dan ringan. Cocok dibaca saat santai, apalagi jika lo Twitter addict *like me* dan penulis yang struggling sama buku berikutnya karena otak yang mendadak mandeg *like me*. Teresa Medeiros membuat gebrakan hebat ketika menulis dengan format seperti ini. Me likey…
Jadi penasaranlah baca bukunya Teresa yang lain.
(Dan gue beli buku ini di diskonan Periplus dengan harga 10.000 saja. Wohooo…)

Friday, June 6, 2014

Review #14 Prelude - Sam Umar

Prelude
Sam Umar





Tina senang banget ketika bisa kuliah di Leipzig untuk mendalami musik klasik dan cello. Terlebih Leipzig adalah kota yang identik dengan musisi legendaris Johann Sebastian Bach. Dan, Tina bercita-cita untuk bisa berpartisipasi di Festival Bach yang selama ini hanya dinikmatinya lewat YouTube.
Untuk mewujudkan impiannya itu, Tina dibantu oleh dosen favoritnya yang dulu juga pemain selo terkenal, Maria Tan. Selain itu, Tina juga punya teman yang sangat baik dan membantunya karena tinggal sendirian di Jerman, Hans, Nadine, serta teman band Hans di Hans Trio.
Tapi, enggak selamanya impian bisa terwujud nyata. Tina pun harus bersinggungan dengan masa lalunya. Dan pertanyaan yang selama ini memenuhi benaknya, siapa ibunya?, tanpa sengaja terjawab di kota musik ini.
Ini novel ketiga dari Festival Series terbitan Teen Noura yang gue baca. Dan ini novel pertama Sam Umar yang gue baca. Sejak tahu bakalan ada Festival Bach ini, gue langsung excited. Bukan karena gue bisa main musik, tapi karena gue suka musik. Dan gue suka Jerman. Dan keduanya ketemu di satu buku. Alhasil, gue punya ekspektasi tinggi.
Pertama, komentar dari segi cerita dulu ya. Gue suka ceritanya. Konfliknya pas. Sahabat, cinta, dan keluarga. Background setiap tokoh yang membawanya ke gong konflik benar-benar diperhatikan sehingga semuanya terasa make sense dan enggak maksa. Dan, yang bikin gue makin suka adalah, Sam enggak menyajikan tokoh yang too good to be true dengan tokoh utama yang selalu beruntung. Ending untuk Tina pas banget, enggak maksa, dan realistis.
Kedua, deskripsi tempat. Ciamik. Berasa banget riset yang dilakuin penulis. Tapi, di beberapa bagian too much detail. Dan pendeskripsiannya kurang smooth sehingga di beberapa bagian gue serasa baca buku panduan wisata, he-he-he.
Satu lagi, penulis yang emang musisi dan menggeluti musik terlihat jelas bisa menulis soal musik ini. Banyak istilah musik yang dihadirkan tapi enggak menggurui. Dan karena cello, gue jadi inget If I Stay yang gue baca beberapa waktu sebelumnya dan tokohnya pemain cello juga.
Overal, gue suka novel ini. kecuali kalimat pembuka yang menurut gue enggak banget. Untunglah kekesalan di kalimat pembuka tertutup oleh cerita di halaman selanjutnya yang cihui.
Ditunggu cerita selanjutnya, Sam Umar.