Wednesday, May 14, 2014

Review #13 Where She Went by Gayle Forman

Where She Went (If I Stay 2)
Gayle Forman





… cerita cinta Adam dan Mia pun berlanjut.
Tiga tahun setelah Mia sadar dari koma akibat kecelakaan yang merenggut nyawa semua anggota keluarganya, Mia dan Adam menjalani kehidupan masing-masing. Mia menuju Juilliard dan menjadi pemain cello terkenal—sampai dijuluki si anak ajaib saking hebatnya. Sedang Adam bareng bandnya jadi terkenal, dia pun menjalani kehidupan ala rockstar. From concert to concert, dikerubungi groupies, struggling lawan paparazzi, hubungannya dengan aktris besar dan kehidupan yang makin lama dirasanya makin menyesakkan.
Lalu di suatu malam, ketika Adam abis ngamuk di depan wartawan dan beruntung manajernya memundurkan keberangkatannya ke London sampai besok sore, Adam jalan-jalan di New York. Sampai akhirnya dia melihat poster pertunjukan Mia. Entah apa yang mendorongnya, Adam menonton pertunjukan itu. ketika hendak pulang, asisten Mia mencegahnya karena Mia mencarinya.
Dan mereka menghabiskan malam itu keliling New York. Sambil bertanya-tanya, apa alasan Mia meninggalkannya. Adam pun memikirkan ulang pencapaiannya sejauh ini, kecintaannya terhadap musik, anggota band, dan pacarnya.
Apakah Adam dan Mia bisa kembali bersatu?
Setelah dibikin nangis oleh If I Stay, gue pun penasaran pengin tahu lebih soal hubungan Adam dan Mia. Sebelum baca, enggak ekspektasi apa-apa, soalnya pengalaman baca Point of Retreat, lanjutan dari Slammed karangan Colleen Hoover yang ternyata enggak sebagus buku pertama. Polanya pun sama, buku kedua dari PoV si cowok, yaitu Adam.
Untunglah, gue menikmati buku ini (meski enggak segreget buku pertama). Di buku ini kita diajak untuk melirik kehidupan seorang rockstar yang sebenarnya. Gue suka penggambaran sifat Adam di sini, tentang kegamangan dia sewaktu jadi superstar.
Sama seperti If I Stay, novel ini pun memakai formula alur maju mundur. Jadi kita juga bisa mencaritahu kejadian apa saja yang terjadi selama tiga tahun ini, tepatnya sewaktu Mia pergi dan ninggalin Adam gitu aja. Semua pertanyaan-pertanyaan itu perlahan terjawab.
Meski gue baca terjemahan, gue related ke cerita. Terjemahannya bagus. dan di bagian penting dibiarin pake nama asli, yeaii. Dan yang paling juara adalah lirik lagu bandnya Adam yang ada di setiap judul bab. Asli, ada kek gitu yang nyanyiin beneran. Kayaknya seru, he-he-he.
Dan endingnya. Sebuah penutup yang manis. Enggak hanya sebagai penutup di buku ini, tapi penutup serial ini secara keseluruhan.
And now I can’t hardly wait to read another book from Gayle Forman. Just One Day series.

Sunday, May 11, 2014

Review #12 Finale (Hush, Hush Series) by Becca Fitzpatrick

Finale
(last book from Hush, Hush series)
Becca Fitzpatrick





Last book from Hush, Hush series.
Hidup Nora dan Patch enggak bisa tenang meski musuh utama mereka, Hank Millar, aka Black Hand aka pemimpin ras Nephilim di bumi sudah mati. Sebelum mati, Hank sempat memaksa Nora untuk bersumpah darah dan mengangkat Nora menjadi penggantinya memimpin Nephilim serta mengajak kaum mereka ke medan perang. Di sisi lain, Nora sudah berjanji kepada penghulu malaikat untuk membawa perseteruan Nephilim dan Malaikat Terbuang ke jalan damai. Nora pun enggak ingin hubungannya dengan Patch terancam meski sekarang mereka berada dalam dua kubu berbeda.
Permasalahan Nora ditambah dengan ketidakpercayaan kaum Nephilim dia bisa memimpin mereka. Nora akhirnya pura-pura putus dengan Patch dan pacaran dengan Dante Materazzi, kaki tangan Hank yang bersumpah menjadi kaki tangan Nora. Dante pun melatih Nora beberapa kekuatan fisik hingga dia kuat. Enggak hanya itu, Marci Millar, musuh bebuyutannya di sekolah yang ternyata adalah saudara tirinya memutuskan untuk pindah ke rumahnya karena enggak tahan dengan sikap ibunya yang masih berduka atas kematian Hank. Marci juga mencaritahu siapa pembunuh ayahnya.
Enggak cukup sampai di sana, masalah mereka juga ditambah dengan kehadiran Pepper, penghulu malaikat yang memburu Patch. Dan senjata mematikan yang dikembangkan Blakely agar para Nephilim bisa mengalahkan Malaikat Terbuang, Devilcraft.
Pfiuuhh…
Menunggu dua tahun lebih, akhirnya novel ini sampai juga ke tangan gue. Sempat terjadi peperangan antara beli yang Bahasa Inggris atau tetap menunggu terjemahan. Secara Hush, Hush, Crescendo, dan Silence gue punya versi terjemahan, memutuskan buat nunggu versi terjemahan yang entah kapan akan terbit. Secara Ufuk Press, penerbit seri ini, tutup. Akhirnya ada kabar bagus akhir April kalau penerbit Fantasious (yang katanya masih berhubungan dengan Ufuk) nerbitin buku ini. Tadaa… akhirnya seri ini pun lengkap.
Karena sudah lama, gue agak lupa cerita sebelumnya. Untung Becca baik dan menaruh clue cerita sebelumnya di buku ini sehingga lama-lama akhirnya gue berhasil ingat keseluruhan cerita.
Sebagai sebuah penutup, konflik yang disajikan beragam banget. Dan ada satu twist yang menarik dan enggak gue sangka sebelumnya. Duh Dante Materazzi, he-he.
Namun ada yang mengganggu gue. Kenapa Becca harus membuat semua orang jadi Nephilim sik? Gue prefer Vee tetap sebagai manusia. Toh akhirnya dia menikah dengan manusia juga dan belum ngucapin sumpah. Agak maksa sih di bagian ini.
Dan Scott. Tega nian kamu mbak Becca membuat nasib Scott seperti ini. Hiks…
Tentang terjemahan, gue suka sih. Mengalir lancar. Tapi typo bo, di mana-mana. Bahkan Dabria aja sampai ditulis Dahlia. Piye toh. Sayang gue enggak bikin review tiga buku sebelumnya dan udah lupa juga teknisnya gimana (yang gue inget cuma buku Hush, Hush gue ilang beberapa halaman dan enggak bisa diganti. Pfiuhhh).
But at least, gue lega akhirnya bisa nyelesaiin serial ini. Meski sebagai serial ini termasuk cemen (11-12lah sama Twilight) tapi lumayanlah buat dibaca buat refresh otak abis ngikutin high fantasy haha.
Akhir 2012, ada kabar rights buku ini udah dibeli buat difilmin. Tapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda kelanjutannya gimana. So, we’ll be waiting.