Tuesday, April 29, 2014

Review #11 If I Stay - Gayle Forman

If I Stay
Gayle Forman





Pagi dingin bersalju. Mia Hall enggak pernah menyangka kalau hidupnya di pagi itu akan berubah untuk selamanya. Ketika keluarganya memutuskan mengunjungi keluarga Henry dan Willow, sahabat orangtuanya, kecelakaan terjadi. Dan Mia mendapati dirinya berada antara dunia. Dirinya sebagai ‘arwah’ yang bisa melihat apapun yang terjadi di sekelilingnya, dan dirinya yang terbaring koma. Selama masa itu, Mia menghadapi berbagai kehilangan, juga menyaksikan semua orang terdekatnya berjuang mengatasi kesedihan mereka.
If I Stay…
Okeeee, telat banget gue baca buku ini. Sebenarnya udah penasaran sejak lama karena sebagai penyuka novel genre young adult, Gayle Forman dan If I Stay adalah novel wajib baca. Finally, I read this. Beberapa bulan sebelum filmnya keluar (dan udah nonton traillernya).
Sejak awal, gue udah antisipasi kalau novel ini bakalan sedih banget. Dan… bener banget. Asli, enggak nyangka bakal sesedih ini. Terutama bagian yang berkaitan dengan Teddy. Hiksu.
Cerita ini cuma terjadi dalam waktu satu hari. Sosok arwah Mia yang keluar dari tubuhnya dan melihat apa yang terjadi di sekitarnya. Ide novel ini udah biasa. ada banyak banget yang memakai ide ini. Tapi, apa yang membuat novel Gayle Forman ini sukses besar?
Eksekusinya. Asli, juara. Cuma memakan waktu satu hari, dan teknik flashback di beberapa bagian. Tapi itu sudah mampu mengaduk emosi pembaca. Yang paling gue suka adalah bagian flashback yang letaknya pas dan membawa kita lebih mengenal kehidupan Mia sebelum kecelakaan terjadi.
Gran and Gramps. Gue suka kakek nenek ini. Terutama Gramps yang pendiam, tapi sekalinya ngomong langsung bikin gue nangis kejer.
Kim, best friend that every girl want. Sahabat yang gue yakin bikin mupeng semua cewek yang mengenal Mia. Apalagi bagian Mia dan Adam menyusup ke dalam ruangan Mia. Atau Kim yang mengajak Mia ngobrol. Ikatan persahabatan mereka kuat banget.
Adam. Rocker yang head over heels sama Mia. Adegan Kim dan Adam itu bikin ketawa sekaligus nyes karena romantis bingit. No wonderlah Adam ini jadi saingannya Augustus Waters dalam memperebutkan mahkota favorite book boyfriend (tapi pilihanku tetap Augustus dong, he-he-he).
Karakter Mia sendiri gue suka. Cewek insecure yang merasa enggak bisa diterima di lingkungannya. Cewek yang merasa beda sendiri. Hanya saja sebenarnya masalahnya adalah dia enggak melihat sekelilingnya, cuma berpusat ke dirinya aja. tipikal cewek remaja pada umumnya. That’s why I like her.
Dan ketika pemain cello bertemu rocker, apa yang terjadi?
Silakan menangis ketika baca If I Stay.
Sekarang sih gue sedang baca kelanjutannya, Where She Went. Ditulis dari sudut pandang Adam, kejadiannya tiga tahun setelah kecelakaan tersebut. Hmm… jadi khawatir nasibnya Where She Went jadi kayak Point of Retreat- Colleen Hoover.

Tuesday, April 15, 2014

Review #10 Dirty Little Secret - AliaZalea

Dirty Little Secret
AliaZalea





Jana marah besar terhadap Ben, pacarnya yang menghamilinya tapi malah menyuruhnya menggugurkan kandungan. Jana pun pulang ke Indonesia dan bertekad mempertahankan kehamilannya.
Delapan tahun kemudian, Ben mengambil cuti dari pekerjaanya di Chicago demi mencari Jana. Meski sudah bertahun-tahun lewat, Ben masih merasa mencintai Jana. Tapi Jana enggak semudah itu untuk ditaklukkan. Dan Ben juga kaget ketika mendapati Jana selama ini berbohong dengan bilang dia menggugurkan kandungannya. Karena di depan Ben ada dua anak kembar yang mirip banget dengannya, Raka dan Erga.
This is one of the most anticipated book. Why? Because it’s AliaZalea. Ranah metropop enggak akan sama tanpa Alia. Dan ini adalah karya terakhir dari seri Adri cs. Secara dia salah satu penulis favorit gue dan ini karya terakhir di seri itu, wajib dong hukumnya baca.
Gue agak telat beli dan baca novel ini. Entah kenapa. Enggak sengoyo ketika Devil in Black Jeans yang sampai ikutan PO. Tapi akhirnya selesai baca novel ini cuma dalam waktu beberapa jam saja haha *bangga*
Ternyata gue enggak sedalam itu untuk terjun ke dalam cerita ini. Beda dibanding novel Alia sebelumnya dengan cowok-cowok yang bikin becek, novel ini malah bikin gue pengin bejek-bejek Ben sejak awal. Memang sih dia digambarkan se-hot cowok-cowok bikinannya Alia lainnya tapi gue enggak suka aja dengan sikap pengecutnya Ben yang udah dikasil lihat sejak awal. Meski akhirnya Ben digambarkan serius, FILF, perhatian banget, tetap aja susah untuk mengubah stigma gue.
Ceritanya sendiri udah ketebak endingnya bakal gimana. Enggak ada konflik berarti di sini, karena cerita ya fokus ke Jana dan Ben. Gue suka bagian Jana dan Ben kata-kataan, tapi ketika mereka udah saling cinta, gue udah males. Haha. Tapi Raka dan Erga lucu banget. Gue jadi keingetan si Nakula-Sadewa, he-he-he.
Sebagai penutup, buku ini cukup so so menurut gue. Tapi keselnya enggak ada interaksi dengan tokoh dari buku lain. Cuma sekadar nyebutin nama aja. Kan gue kangen dengan pasangan lain, terutama Nadia dan Kafka. Meski begitu, gue mengikuti banget cerita ini simply karena gaya menulisnya yang gue suka. Engaging banget.
Kalau boleh milih, gue tetap pendukungnya Nadia-Kafka, he-he. Jadi enggak sabar nunggu buku Alia selanjutnya, dengan tokoh baru. Mungkin dibikin serial juga.

Monday, April 14, 2014

Review #9 To All The Boys I've Loved Before by Jenny Han

To All The Boys I've Loved Before
Jenny Han



Dear Lara Jean…
Meet Lara Jean Song Covey. Lara Jean punya kebiasaan untuk menulis love letter kepada cowok yang dia suka. Bukan surat untuk dibaca cowok itu, tapi surat berisi semua perasaannya lalu dia simpan sendiri di dalam hatbox peninggalan ibunya. Total ada lima cowok.
Suatu hari, Lara Jean dibikin bingung ketika Peter Kavinsky, cowok yang pernah ditaksirnya waktu di seventh grade, nunjukin surat itu di hadapannya. Lara Jean bingung kenapa Peter K. bisa punya surat itu. Ketika dia pulang ke rumah, Lara Jean enggak nemuin hatbox itu.
Gimana kalau Peter cuma permulaan?
Benar saja. Josh, tetangga slash teman baiknya slash mantan pacar kakaknya, Margot, yang dia yakin masih saling cinta dan someday they will be reunion again, menunjukkan surat Lara Jean kepadanya. Karena malu, Lara Jean bilang kalau dia dating someone. Dan yang kebetulan lewat di depannya adalah Peter. Lara Jean pun mencium Peter buat meyakini Josh.
Kemudian mereka malah terjebak dalam permainan pretend-to-be-boyfriend-girlfriend. Soalnya Peter juga pengin membuat mantan pacarnya, Genevieve, cemburu. Mereka pun pura-pura sebagai pasangan di sekolah. Ternyata, Kitty, adik Lara Jean malah senang dengan Peter. Peter pun sering main di rumah Lara Jean, dan Lara Jean juga sering hangout bareng teman-teman Peter. Sesuatu yang tanpa sengaja malah membuat Josh cemburu.
Dan akhirnya Lara Jean sadar kalau perasaannya kepada Josh sudah benar-benar berakhir. Dan dia malah benar-benar suka pada Peter.
To all the boys I’ve loved before.
Siapa sih yang enggak kenal Jenny Han? Pecinta young adult pasti pernah dengar nama ini. My bad, gue belum jadi-jadi juga baca trilogi The Summer I Turned Pretty dan entah kenapa enggak tertarik sama Burn With Burn dan Fire With Fire. Tapi ketika pertama kali lihat novel ini. Dammit! Gue langsung tertarik. Simply karena cover dan judulnya yang super catchy.
Jadilah perkenalan pertama gue dengan Jenny Han dimulai dari buku ini.
Dan ini jelas sebuah perkenalan pertama yang sangat memuaskan.
Ceritanya simple. Memang sih enggak sesuai perkiraan awal gue. Awalnya gue berharap ceritanya seputar Lara Jean dan cowok-cowok yang menerima suratnya, enggak kepikiran sama sekali cerita bakaln fokus ke pretend boyfriend and girlfriend ini. Meski masih ada kaitannya dengan surat yang bocor. But me likey.
Gue suka dengan karakter Lara Jean. Karakter anak tengah yang terlalu mengidolakan kakaknya karena dia satu-satunya contoh yang dipunya. Dan ketika Margot pindah ke Scotland buat kuliah, dia jadi clueless karena terpaksa jadi anak pertama dan harus menjaga adiknya, Kitty. Gue suka dengan penggambaran rapuhnya Lara Jean yang suka bingung harus berbuat apa. Dan gimana dia selalu memikirkan Margot saking clueless-nya.
Di cerita ini kelihatan jelas gimana perkembangan karakter Lara Jean. Dia yang selama ini mengikuti apa aja yang dilakukan kakaknya tiba-tiba harus menentukan pilihannya sendiri. Dan dia mulai sering hangout, jalan ke luar enggak cuma mendekam di rumah dan ngelakuin yang selama ini enggak pernah dia lakuin. Tipikal pencarian jati diri di masa remaja. That’s why I love this book so much.
Ngomong-ngomong soal surat, penjelasan soal surat ini juga lucu. Paling lucu ya ketika suratnya bocor ke Lucas yang ternyata gay, he-he-he.
Hubungan Lara Jean dan Peter juga lucu. namanya aja pura-pura tapi karena sering bareng ya perasaan itu beneran muncul. Gue suka Peter. Handsomest boy from the handsome boy at school. Goofy. Humble. Charming. Punya pesona yang bisa menaklukkan anak kecil sampai cewek dewasa. Meski awalnya cuma pengin bikin Genevieve cemburu, selama interaksi dengan Lara Jean dan gimana dia memperlakukan Lara Jean, enggak kelihatan tuh kalau dia pengin Gen cemburu. Malah chemistry dia dan Lara Jean kuat banget. Suka sama pasangan ini.
And I hate Josh. Memang sih dia geeky boy yang ternyata pemikiran dan kesukaannya sama kayak gue tapi enggak suka karena dia chicken. Gimana mungkin dia tiba-tiba suka sama Lara Jean setelah baca surat itu padahal selama ini dia benar-benar memuja Margot? Dan kenapa pula dia marahin Lara Jean karena enggak ngomong jujur dulu. Hellooo…. Gue ngerti kenapa Lara Jean jadi kesal sama Josh.
Selain kisah cinta, gue suka kisah persaudaraan di sini. I love Song sisters. I love Margot yang serasa kayak kakak gue, si pintar tukang ngatur dan sedikit dingin padahal sebenarnya baik dan pengertian. Gue ngerti kenapa Lara Jean ngerasa enggak pernah cukup baik jika dibandingin dengan Margot. Because I feel it too. I’m not good enough rather than my sister. And I love Kitty. Anak Sembilan tahun yang gue harap dia tetap kayak gitu. Dan jangan pernah remehin Kitty karena dia megang peranan penting di sini, hi-hi.
Yang bikin gue makin jejeritan ketika baca buku ini yaitu waktu Jenny nyelipin geeky-item di tengah cerita. Such as jadi Cho Chang dan Harry Potter waktu pesta Halloween di sekolah. Gue enggak bisa nahan ketawa waktu Lara Jean jelasin kalau buku ketiga Harry Potter itu yang paling bagus kepada Peter. Trus ide Josh pengin jadi Khal Drogo pas Halloween. Atau Lara Jean nyaranin nama Gandalf the Grey untuk kucing kepada Kitty. Atau Josh yang ngajak Lara Jean marathon Lord of the Rings. Oh my. This book is sooooo me…
Satu lagi, Jenny Han berhasil menyelipkan identitas dirinya sebagai orang Korea yang tinggal di US dalam buku ini. Lewat karakter Lara Jean yang half Korean jadi beberapa cirri khas orang Korea bisa dibaca di sini. Wondering di buku lainnya Jenny masukin ini juga enggak ya.
(Dan yak, selama baca gue ngebayangin kalau Lara Jean ini Sandara Park yang biar kata udah 30 tahun masih bisalah jadi Lara Jean.)
About ending. sumpah, gue gregetan. Begitu aja? Akkk… I need more. Memang sih pembaca bisa menarik kesimpulan sendiri di ending itu, dan overall gue puas, cuma kalau boleh minta sih ya ada lanjutannya. Semacam masih ada unfinished business gitu di antara mereka. Mungkin Jenny sedang merencanakan buku kedua? Entahlah. Mudah-mudahan.

Buku ini jadi buku pertama setelah sekian lama gue enggak benar-benar into it ke satu buku. I love every part of this book. Jadi enggak sabar baca trilogi Jenny Han yang terkenal itu. Semoga sebagus ini.

Wednesday, April 9, 2014

Giveaway Do Rio Com Amor

Giveaway
Do Rio Com Amor


My second novel is out now.
The title is Do Rio Com Amor.
Mau sedikit cerita soal buku ini. Sebenarnya masih enggak nyangka bisa mendapatkan kesempatan ini. Waktu itu dihubungi oleh editor Teen Noura, Aziz, untuk ikutan di poyek yang lagi digagas Teen Noura, yaitu Festival Series. Di sini, Teen Noura pengin menggambarkan keseruan di suatu festival sebagai latar belakang cerita. Jelas aja gue enggak nyangka ditawarin kesempatan ini, soalnya gue baru nerbitin satu novel, itu pun duet, dan belum pernah nerbitin buku sendiri. Mana penulis lain yang ikutan di Festival Series ini oke-oke lagi, salah duanya Mbak Primadonna Angela dan Aditia Yudis yang notabene bukunya udah banyak bingit.
Jiper? Pastinya, sih.
Tapi secara anaknya ogah rugi, ya jelaslah diterima. Kapan lagi coba bisa menantang diri sendiri, ya kan? He-he-he.
Pesan Aziz cuma satu. Dia pengin cerita berlatar fashion.
Itu doang sih gue masih sangguplah ya nulisnya.
Tapi ketika tahu lokasi festivalnya di mana, eng ing eng. Mati gue.
Rio Carnival.
I have no idea about that.
Dan yang bikin makin mati, waktunya cuma sekitar dua bulan aja. Untung masih bisa dilobi jadi molor sampai tiga bulan.
Baiklah, pertarungan dimulai.
Lalu siapa sangka kalau gue juga mendapat tanggung jawab baru di kantor. Pokoknya, tanggung jawab baru itu bikin gue tambah sibuklah. Meski cuma untuk tiga bulan, tetap aja karena di waktu tiga bulan itu gue udah janji nyelesaiin novel ini sama Aziz.
Bulan pertama. Progress nol besar. Gue yakin si Aziz gregetan setiap kali nanya progress dan jawaban gue enggak maju-maju, hi-hi.
Bulan kedua. Outline mulai dilihat-lihat. Mulai riset. Tapi enggak total.
Bulan ketiga alias bulan terakhir. Digeber semaksimal mungkin. Hasilnya selama bulan ketiga ini gue cuma bisa tidur 4-5 jam sehari. Pulang kerja jam 9 malam lanjut nulis sampai jam 1. Weekend pun buat nulis.
Untungnya gue langsung masuk ke cerita. Dan gue suka dengan karakter yang gue tulis—Lola dan Marlon—jadi rasanya enggak berat. Malah nulisnya enjoy meski matanya berasa berat. Dan gue jatuh cinta sama Rio, hi-hi-hi.
Ketika akhirnya novel ini jadi, enggak ada yang bisa ngalahin kebahagiaan gue waktu itu (mungkin nanti dikalahin oleh perasaan gue ketika menerima buku FROM TOP yang gue pesan jauh-jauh hari itu dengan harga selangit itu hihi). Rasanya, semua utang tidur dan capek kebayar dengan hadirnya buku ini.
Rasanya lega…
Sedikit sinopsis tentang buku ini:
Lola suka banget sama fashion dan dia pengin sekali aja seumur hidup mengunjungi fashion week. Karena itu dia ikut kompetisi Fabolous Trip yang diadain website Fab.com. harapannya, dia pengin ke London Fashion Week dengan supermodel idolanya, Letta.
Dia berhasil pergi bareng Letta. Tapi, Letta malah memilih Rio de Janeiro, tepatnya mengunjungi Rio Carnival.
Lola bĂȘte. Ditambah dengan sikap Letta yang nyebelin dan suka ninggalin dia sendirian. Untunglah dia bertemu cowok local yang cakep bingit, namanya Marlon. Kayak ketiban durian runtuh, Lola malah menghabiskan hari-harinya  bareng Marlon.
Dan terjebak holiday fling.
Gimana pengalaman Lola selama di Rio?
Well, gue punya empat buku gratis yang mau gue bagi-bagiin. Caranya gampang, cukup jawab pertanyaan ini di kolom komentar. Plus, jangan lupa nama, alamat, email, dan akun twitternya jadi gue gampang buat menghubungi pemenangnya.
Pertanyaannya:
Kalau misalnya lo bisa ke Rio de Janeiro bareng idola lo, lo pengin pergi sama siapa? Alasannya? Dan apa yang bakal lo lakuin di sana?
Contoh: gue pengin ke Rio bareng TOP Big Bang. Di sana kita bakal ke Copacabana Beach. Jalan-jalan di pinggir pantai sambil gandengan tangan dan minum kopi. Malamnya kita ke Lapa dan gue bakal minta dia ngerap di salah satu pub lokal di sana.
(Oke, jawabannya cheesy banget)
Jawabannya yang seru dan lucu, ya, he-he-he (jangan se-cheesy contoh yang gue kasih, hahaha). Giveaway ini ditutup tanggal 12 April 2014 jam 20.00. Pengumuman pemenangnya tanggal 13 April 2014 jam 20.00.

RALAT: Periode giveaway diperpanjang sampai 19 April 2014 jam 20.00 ya :))

Ditunggu ya J)

Tuesday, April 8, 2014

Review Buku #8 Along For The Ride by Sarah Dessen

Along For The Ride
Sarah Dessen






Meet Auden West, cewek yang baru aja lulus SMA dan satu-satunya hal yang dia tahu hanyalah belajar. Ini karena pengaruh ibunya, dosen feminis, yang begitu mementingkan pelajaran. Lagipula, Auden merasa hanya belajarlah satu-satunya hal yang bisa dilakukannya sebagai pelarian dari masalah keluarganya.
Orangtuanya sudah bercerai. Awalnya, mereka hanya bertengkar diam-diam, ketika Auden sudah tidur. Suatu malam, Auden sengaja begadang agar orangtuanya tidak bertengkar, tapi mereka tetap bertengkar. Sejak saat itu, Auden mengidap insomnia.
Sampai sekarang, ketika dia sudah lulus SMA.
Sebelum masuk kuliah, Auden memutuskan untuk menghabiskan liburan di rumah ayahnya, untuk menghindari ibunya yang intimidatif dan snobbish. Kebetulan, ibu tirinya, Heidi baru aja melahirkan. Di Colby, Auden menemukan kalau dirinya perlahan mulai berubah.
Di kota kecil pinggir pantai ini juga Auden berkenalan dengan Eli, cowok yang juga mengalami masalah tidur. Berdua Eli, Auden melakukan pencarian jati diri setiap malam.
Dan dia juga belajar bersepeda.
Here is my review.
Sarah Dessen bukan orang baru di dunia young adult. Udah banyak banget novel dia yang diterbitin dan, my bad, belum gue baca satupun. Semuanya masih numpuk. Ketika gue lihat novel ini baru diterjemahin (aslinya terbitan 2009), gue langsung jatuh cinta sama covernya.
Dan gue jatuh cinta sama isinya.
Ceritanya sederhana. Bukan young adult rumit dengan banyak intrik. Tapi justru kesederhanaan ini yang menjadi nilai lebih novel ini. Kita diajak untuk ikut melakukan pencarian jati diri bersama Auden setiap malam.
Gue suka karakter Auden. Cewek snobbish yang menganggap cewek-cewek lain cheesy dan enggak sepintar dia karena nyokapnya memang membentuknya seperti itu. Tapi akhirnya dia malah enggak mengenali dirinya sendiri. Ketika dia mulai merasa nyaman dnegan lingkungan Colby, dengan adik tirinya yang hobi banget nangis, dengan nyokap tirinya, Heidi, yang selama ini dia anggap cheesy tapi ternyata malah menyenangkan, teman-temannya yang suka ngecengin cowok, bergerombol, dan gosipin artis yang enggak dia banget, Auden malah lupa dengan buku persiapan kuliah yang dia bawa ke Colby.
Karakter Auden ini dekat banget dengan kehidupan remaja. Bikin kita sadar kalau bisa saja selama ini kita justru belum mengenal siapa diri kita sebenarnya. Melainkan, kita sebagai bentukan orang tua. Permasalahan ibu dan anak ini juga yang disorot oleh Sarah di buku ini. Gue suka chemistry antara Auden dan ibunya, juga Auden dan Heidi.
Inti buku ini adalah pencarian jati diri. Termasuk di dalamnya masalah keluarga, sahabat, dan pacar. Siapa sangka kalau Auden malah menemukan teman baiknya di Colby? Juga jatuh cinta pada Eli, yang kalau berangkat dari kaca mata ibunya enggak banget. soalnya Eli ini bukan tipe cowok kutu buku yang suka belajar. Begitu juga teman-teman Auden, yang dipanggil ibunya gerombolan cewek berbikini merah jambu. Meski awalnya menyangkal, Auden malah menyadari kalau dia senang berada di tengah-tengah cewek merah jambu ini.
Satu hal lagi yang gue suka adalah penggambaran latarnya. Sukaaa… benar-benar berasa hawa liburannya. Dan analogi sepeda yang diangkat Sarah. Gue suka kebiasaan remaja Colby yang enggak jauh dari sepeda. Dan hidup itu memang seperti roda sepeda, berputar. Agar bisa terus berputar, kita harus mengayuhnya. Agar enggak jatuh.
Intinya, gue suka novel ini.
Oh salah. gue jatuh cinta sama Along For The Ride.
Fix-lah abis ini harus banget baca buku Sarah lainnya.
Untuk terjemahan, so far gue suka. Kecuali urusan typo yang banyaaaaak banget. Tapi gue pengin mencoba baca tulisan Sarah dalam versi aslinya, untuk melihat cocok enggak ya gue dengan gaya menulis Sarah.
Untuk penyuka young adult, gue saranin untuk membaca buku ini.