Monday, March 31, 2014

Review Buku #7 Yuki no Hana by Primadonna Angela

Yuki no Hana
Primadonna Angela



Yuki Matsuri atau festival salju di Sapporo, Jepang, enggak hanya terkenal di negara itu. Tapi juga menarik minat wisatawan dari seluruh dunia. Dan di festival itulah kisah Hana bermula.
Semua berawal dari Hana kecil yang diajak orangtuanya liburan ke Sapporo saat ulang tahunnya yang ke-8. Siapa sangka jika itu adalah liburan terakhirnya bersama keluarga karena orangtuanya memutuskan untuk bercerai. Bahkan di tengah-tengah keindahan Yuki Matsuri, orangtuanya enggak malu untuk bertengkar sehingga Hana memutuskan untuk pergi jalan-jalan sendiri. Saat tersesat, dia bertemu seorang anak kecil yang memberinya temari. Dia pun mengajak Hana makan takoyaki yang enak banget dan janji untuk bertemu keesokan harinya. Saat bertemu esoknya, Hana tahu kalau cowok itu bernama Takahashi.
Dan Taka-kun pun menjadi orang yang berarti bagi Hana, sampai dia dewasa.
Hana berjanji kepada Taka-kun untuk kembali ke Jepang, tepatnya saat Yuki Matsuri. Mati-matian Hana mengumpulkan uang untuk ke sana, tanpa bantuan ayahnya yang jadi dingin kepadanya sejak bercerai. Tapi perjalanan Hana enggak gampang. Ada saja halangan yang membuatnya batal untuk ke Jepang. Beruntung Taka-kun selalu menyemangatinya.
Ketika Hana akhirnya berhasil pergi ke Jepang, dia bertemu Sho. Cowok menyebalkan yang juga kakak Taka. Anehnya, ketika bersama Sho, Hana malah melupakan Taka. Dan dia enggak menyukai situasi itu karena Taka-lah yang selalu ada untuknya sejak dia kecil.
Kenapa hati bisa berubah begitu saja?
Ini buku pertama dari Festival Series yang diterbitkan Teen Noura (dan buku keduanya adalah buku gue, Do Rio Com Amor *promo colongan*). Dari awal tahu judulnya, gue langsung penasaran. Gue suka banget dengan frasa Yuki no Hana ini sejak dengerin lagu Eric Martin, Yuki no Hana, yang diaransemen ulang dari lagu Jepang milik Nakashima Mika. Dan gue baca buku ini diiringi lagu Yuki no Hana dari kedua penyanyi itu.
Di buku pertama, Mbak Donna mengajak kita untuk merasakan keindahan Yuki Matsuri. Deskripsi Mbak Donna juara. Kerasa bedanya antara sudut pandang Hana kecil dan Hana dewasa. Mungkin karena Mbak Donna pernah ke sana kali ya jadi detail dan suasananya dapet banget. Sampe ikut berasa dingin (oke, ini guenya aja yang lupa nutup jendela pas hujan badai haha). Menurut gue, deskripsi inilah yang menjadi kekuatan utama mbak Donna, selain tentunya penokohan. Penokohannya pun kuat. diangkat dari sudut pandang ketiga, kita bisa ikut merasakan kebimbangan Hana antara Sho atau Taka. Dan surprise, Mbak Donna juga mengajak kita melihat dari sudut pandang Sho serta mengetahui masa lalunya.
Satu kata yang menggambarkan buku ini menurut gue adalah drama. Serius, drama banget. Mulai sejak awal sudah berasa dramanya. Affair nyokap Hana yang drama banget. Hana yang kecopetan sehingga nyaris batal ke Jepang, itu berasa kayak sinetron, hihi. Pun ketika ada nenek baik hati yang mewariskan semua hartanya untuk Hana, duh drama banget. Begitu juga sampai Hana di Jepang dan ada adegan penculikan. Sejujurnya, gue agak kurang sreg dengan adegan ini. terlalu tiba-tiba aja tapi lumayanlah untuk meningkatkan tensi cerita yang dari awal sudah bittersweet. Sayangnya, drama yang gye harapkan enggak ada, yaitu antara Hana dan ayahnya. Duh, sayang aja akhirnya begitu. Kasihan aja bokapnya. Ketika dia melepas kepergian Hana, gue rasa mereka nantinya akan baikan karena ada indikasi ke situ. Ternyata… ah sudahlah (sengaja bikin penasaran). Dan drama ini endapat porsi yang lumayan sehingga pas bagian festivalnya sendiri enggak terlalu banyak.
Dan satu hal lagi yang mengganggu gue secara pribadi: baca novel ini bikin lapar (oke, ini sih masalah pribadi). Soalnya tokoh-tokohnya makan mulu. Ramen dan Takoyaki, sumpah jadi ngiler. Untung aja enggak ada sushi. Kalau ada, mungkin gue udah lari ke Sushi Tei haha.
Overall, gue menikmati buku ini. Benar-benar serasa dibawa ke Jepang. But in other hand, gue serasa baca buku terjemahan Jepang saking detail dan dapet banget ngegambari suasananya. Untuk pembuka serial, buku ini pas banget. Jadi enggak sabar menunggu kota atau negara mana lagi yang akan diangkat di serial ini (meski beberapa gue udah tahu sih hihi).


Friday, March 28, 2014

Cinta. Gila


Jadi, ada tiga temen gue yang ulang tahun dalam dua hari ini. Mereka mengadakan giveaway berhadiah buku. Caranya, cukup bikin cerita berupa dialog sebanyak maksimal 250 kata dari tiga gambar yang mereka berikan. Secara anaknya FOMO, ya sudahlah ikutan. Tapi karena antimainstream, ya pake foto sendiri *akhirnya ada alasan bikin cerita dari foto abangnya* Jadi, selamat ulangtahun Danis, Mas Momo, dan Rido. Maklumin aja ya ceritanya enggak nyambung dengan kalian karena emang bagian dari fangirling, hi-hi.
Dan berhubung udah lama enggak nulis, susah juga ya ternyata, hi-hi-hi. Thanks untuk kalian bertiga, akhirnya blog ini ada isinya juga.

Jangan Pergi
(Aku suka foto ini. Ngebayangin abangnya meluk trus ngomong dialog ini dengan suara berat seksinya itu, aw aw aw haha)


“Pass…”
“Pass?”
“Ingat janji kita dulu? Ketika aku membantumu lepas dari pria yang menyakitimu, kamu bilang akan membalasnya. Aku memintamu untuk menundanya sampai aku siap. Sekarang aku sudah siap. Aku ingin menagih janjimu.”
“Baiklah.”
Kurasakan sepasang lengan melingkari pundakku. “Jangan pergi.”
“Pergi?”
“Kamu selalu menemuiku sebentar. Lalu kamu akan pergi, kembali padanya. Jika dia membuatmu menangis, kamu akan kembali kepadaku. Hanya untuk sementara. Selalu begitu. Datang dan pergi.”
“Aku…”
“Kamu bilang akan mengabulkan apapun permintaanku.”
Dekapan di pundakku kian erat. Membuatku terbebani.
“Aku mencintainya.”
“Tapi dia menyakitimu.”
“Ada sakit dalam cinta.”
“Aku tidak setuju.”
“Kamu hanya tidak mengerti.”
“Aku mengerti. Sangat mengerti. Dia tidak mencintaimu seperti aku mencintaimu. Dia menyakitimu, membuatmu menangis, selalu merasa sendiri. Aku mencintaimu dengan baik, melindungimu, memastikan kamu merasakan kebahagiaan. Jadi, kuminta jangan pergi.”
“Aku harus pergi. Maaf, aku tidak bisa memenuhi janjiku. Tapi aku akan membalasnya nanti.”
“Sekarang atau nanti, permintaanku selalu sama. Tetaplah di sini, bersamaku. Jangan pergi.”
“Maaf.”
“Jangan meminta maaf. Hanya, jangan pergi.”
“Maaf, aku harus pergi.”
Karena meski ada rasa sakit, aku terlanjur mencintainya.

Gila
 (Ya ya ya, kamu bikin aku jadi gila bang haha)

“Untuk apa kamu membawaku ke sini?”
“Hei, hari ini ulang tahunku. Bersikap ramahlah sedikit.”
“Ramah? Kepadamu? Untuk apa.”
Perempuan itu duduk di dinding Jacuzzi, setelah sebelumnya mendorongku hingga terbaring di dalamnya. Entah apa yang akan dilakukannya sekarang. Perempuan itu gila, perbuatannya tidak pernah ditebak.
“Karena ini ulang tahunku dan aku spesial untukmu.”
“Dulu.”
“Dulu?”
“Iya. Dulu. Sebelum kamu jadi gila seperti sekarang.”
“Aku tidak gila.” Suaranya mulai meninggi.
“Lalu, yang kamu lakukan sekarang, apa enggak bisa dibilang sebagai tindakan gila? Kamu menculikku, membawaku ke sini, dan bersikap seolah tidak ada apa-apa? Bayangkan apa yang terjadi di luar sana. Semua orang pasti mencariku.”
“Justru aku menyelamatkanmu dari mereka.”
“Kamu membuatku takut.”
Perempuan gila itu menundukkan wajahnya mendekatiku. Membuat asap rokok di tangannya mengaburkan pandanganku.
“Kenapa aku membuatmu takut padahal aku mencintaimu? Aku menyelamatkanmu dari penggemar gilamu itu, membawamu ke sini sehingga kita bisa bersama dan mereka tidak lagi mengganggumu seperti semut mengerubungi gula. Bersama selamanya, bisa kamu bayangkan? Itu hal terindah yang pernah kuimpikan dan sebentar lagi aku akan mewujudkannya.”
“Kamu gila.”
“Ya, kamu yang membuatku tergila-gila.”
“Biarkan aku pergi.”
“Tidak. Ini hari ulang tahunku dan aku ingin kita melewatinya bersama.”
“Lepaskan aku.”
“Aku pernah melepaskanmu sekali dan hal itu membuatku gila. Aku tidak akan melakukannya lagi.” Dia menghembuskan asap rokoknya tepat di hadapanku.
Aku tidak tahu jika cinta bisa berubah jadi obsesi, dan membuat seseorang jadi gila. Seperti perempuan di hadapanku ini.

Takut

“Aku akan membacakanmu suatu cerita, sebagai hadiah di hari ulangtahunmu.”
“Aku akan mendengarkannya.”
“Baiklah.” Aku membuka buku merah yang kubawa. Tepat di halaman 100 yang sudah kutandai sejak semalam. “Aku tidak pernah takut. Ketika terjebak di tengah kegelapan, sendiri, aku tidak akan lari tunggang langgang karena ketakutan. Pun ketika aku terperangkap dalam keadaan yang menyesakkan, aku tidak takut. Tapi sekarang kamu, dan keberadaanmu dalam hidupku, membuatku takut.”
Aku berhenti. Mendengarkan irama napasnya yang menyentuh telingaku.
Kembali kulanjutkan membaca. “Aku takut jika pada akhirnya aku tidak bisa terlepas darimu. Aku takut telah jatuh cinta.”
“Kenapa harus takut untuk jatuh cinta?”
“Aku takut tidak bisa jadi diriku sendiri lagi ketika jatuh cinta.”
“Kamu bisa tetap jadi dirimu sendiri.”
“Tidak. Mereka yang jatuh cinta cenderung akan bersikap sesuai keinginan kekasihnya. Tidak lagi menjadi dirinya. Lama-lama dia akan kehilangan dirinya, tidak lagi mengenal siapa dirinya. Dan pada akhirnya dia akan tiada. Jatuh cinta membuatmu tiada.”
“Tidak selamanya seperti itu.”
“Bagiku tidak. Kamu…” aku menunduk dadanya. “Mengubah dirimu jadi seperti yang dia inginkan. Dan aku tidak lagi mengenalmu.”
“Aku tidak berubah.”
“Kamu berubah. Aku tahu itu.”
Dia berubah. Tidak lagi seperti yang kukenal dulu setelah jatuh cinta.
Dan aku berubah. Jadi lemah. Tak berdaya. Setelah jatuh cinta padanya.

Sumber foto: www.bigbangupdates.com

Thursday, March 20, 2014

Review Buku #6 Allegiant by Veronica Roth

Allegiant





Welcome to Allegiant, 3rd and final book from Divergent series.
Di akhir buku dua, Insurgent, kita dibuat penasaran oleh siapa itu Edith Prior. Di video itu Edith mengatakan tentang kehidupan di luar compound dan mengajak siapa saja untuk tinggal di sana. Video itu membuat beberapa orang yang masih percaya kepada kehidupan dalam bentuk fraksi, dan menolak kehidupan tanpa fraksi dengan Evelyn sebagai pemimpin, membentuk Allegiant, yang dipimpin oleh Cara dan Johanna Reyes.
Dan, Tris serta Tobias tergabung ke dalam kelompok ini.
Allegiant dibagi dua, mereka yang pergi keluar compound untuk mencaritahu maksud video Edith Prior, dipimpin oleh Cara, dan mereka yang tinggal untuk merencanakan perlawanan terhadap factionless tyrant, dipimpin oleh Johanna Reyes. Tris, Tobias, Caleb, Christina, Uriah, Peter, Tori, dan satu anak Erudite yang gue lupa namanya, bergabung dengan Cara. Dibantu oleh Johanna Reyes, mereka berusaha keluar dari compound. Sayang, ada satu yang terpaksa mati, Tori.
Mereka pun berhasil sampai ke Bureau of Genetic Welfare. Sebelum sampai di sana, mereka bertemu dua orang dari Bureau, Zoe dan Amar. Dan, kehadiran Amar membuat Tobias kaget karena setahu dia Amar mati karena ketahuan Divergent (Amar ini mentor Tobias waktu inisiasi pas masuk Dauntless).
Mereka pun akhirnya bertemu pimpinan Bureau, David, yang juga mengetahui masa lalu Nathali Prior alias ibu Tris. Dan Tris mengetahui siapa sebenarnya ibunya.
Dan, mereka juga diberitahu apa sebenarnya kehidupan compound yang mereka tempati. Ternyata, di masa depan, Bureau ini bertanggungjawab membuat ekspresimen gen yang menghasilkan beberapa manusia yang ditempatkan di wilayah tertentu, salah satunya Chicago. Mereka mengadakan percobaan seperti apa kehidupan dengan fraksi-fraksi ini. Dan Tris juga menemukan kalau Divergent itu sebenarnya adalah genetically pure (GP) dan yang lain adalah genetically damage (GD). Which is, Divergent yang selama ini dia tahu berbahaya dan harus dimusnahkan oleh Jeanine Matthews ternyata adalah eksperimen gen yang berhasil. Dan ternyata, meski Tobias memperlihatkan sikap seperti Divergent, hasil pemeriksaan gen menunjukkan kalau dia GD. Nah lho…
Kehidupan di Bureau yang tenang ternyata enggak selamanya aman. Para Allegiant menemukan kenyataan kalau Bureau mengendalikan semua kehidupan mereka. dan, sebelum Bureau bertindak menghancurkan Chicago, mereka harus menghancurkan Bureau terlebih dahulu.
Jika Insurgent banyak action, Allegiant banyak unsur politisnya menurut gue.
Seperti review gue di Insurgent, gue sempat skeptis dengan Allegiant karena tokoh antagonis utama, Miss JM, mati. Jadi, musuh mana lagi yang akan mereka hadapi? Ternyata permasalahan jadi lebih kompleks. Seru sih, cuma rada ngebosenin hehe. Dan sebagai penutup, gue merasa buku ini datar-datar aja.
Yang agak gue sayangkan karena Miss JM mati. Coba dia masih hidup, pasti pertanyaan kenapa dia pengin menghancurkan Divergent, dan apakah dia mengetahui tentang Bureau sehingga itu jadi alasan dia membunuh Divergent, kita enggak pernah tahu. Tapi mungkin saja dia tahu karena dia mengerti asal asul Tris.
Surprise, buku ini diangkat dari dua PoV, yaitu Tris dan Tobias. Jadi, lebih banyak cerita yang bisa dieksplor. Tapi, berhubung tahu seperti apa pemikiran Tobias, gue jadi ilfil sama dia. Cemen bo. Asli. Selama ini cuma tahu dia appearancenya doang dan pendapat Tris, setelah menyelami pemikirannya kok ya cemen banget. Gampang kepengaruh. Duh, bang Theo, kok kamu jadi seperti itu? aku ilfil, he-he-he.
Oke, itu cuma ratapan fangirl haha. Karena secara logika, make sense kenapa Tobias jadi begitu. Gue suka ketika Tris bilang Tobias memilih join sama Evelyn dan enggak dengerin Tris karena dia desperate pengin ngerasain punya ibu. Dan ketika Tobias lagi-lagi berbuat kesalahan dengan join sama Nita dan lagi-lagi enggak dengerin Tris, simply karena dia desperate saat tahu dia GD.
Dan Caleb. Duh, kasiannya kamu punya adek macam Tris, he-he-he *oke, lagi-lagi ini ratapan fangirl*
Seperti buku-buku sebelumnya, penempatan adegan mesra-mesraannya masih ganggu. Man, lo lagi dalam keadaan antara hidup dan mati, waktu yang lo punya untuk nyelametin orang compound dan menghancurkan Bureau cuma tinggal semalam, masiiiiih aja sempat-sempatnya make out. Dooh!
Frankly speaking, gue suka gaya nulis Veronica. Tapi, ketika bercerita dari PoV dua orang, enggak kerasa bedanya. Kalau enggak ada nama di awal bab, gue udah bingung ngikutinnya. Tetaplah Simone Elkeles paling juara urusan ini.
So far, meski kurang memuaskan, gue cukup menikmati buku ini. Bagi penggemar sci-fi akan berasa kurang nendang ya, cuma bolehlah buat refreshing. Ide cerita membagi kehidupan ke dalam fraksi-fraksi ini juara banget, sih. Itu kekuatan utama dari buku ini.
Tapi kalau boleh memilih, gue paling suka Insurgent.
Next, seri apa lagi yang harus kita ikuti?