Thursday, February 27, 2014

Review Buku #4 Divergent by Veronica Roth

Divergent
Veronica Roth





Dalam dunia ciptaan Veronica Roth ini, kita dibagi atas lima fraksi yang didasarkan kepada kepribadian. Yaitu, Abnegation the selfless, Dauntless the brave, Candor the honest, Erudite the intelligent, dan Amity the peaceful.
Meet Beatrice Prior (later known by Tris) from Abnegation. Ketika aptitude test, Beatrice mendapati dirinya cocok dengan beberapa fraksi sekaligus (called Divergent). Akhirnya, waktu choosing ceremony, Beatrice memilih Dauntless. Dan dia pun meninggalkan Abnegation untuk ikut masa inisiasi Dauntless. Masa inisiasi ini berat banget dan butuh kemampuan fisik yang oke. Beatrice, yang memakai nama Tris sejak bergabung dengan Dauntless, harus berlatih menggunakan senjata dan melawan semua ketakutannya.
Meet Tobias ‘Four’ Eaton, instruktur untuk faction transfer di Dauntless. Berani, dingin, intimidatif, tapi akhirnya malah membuat Tris jatuh cinta dan pacaran dengan Tris.
Selain melewati masa inisiasi yang berat dan ancaman untuk menjadi factionless kalau gagal melewati masa inisiasi, Tris juga dihadapkan pada kenyataan kalau ada sati fraksi yang ingin menghancurkan Abnegation. Dan dia juga diwanti-wanti untuk menjaga rahasia kalau dia Divergent karena itu katanya bahaya.
And the rest is history.
Oke, gue termasuk telaaaaat banget baca buku ini sekarang karena hebohnya udah lama. Dan sekarang lebih heboh lagi karena filmnya akan tayang 21 Maret ntar (baca ulasannya di kaWanku edisi #173 *promo colongan*) dan digadang-gadang sebagai the next The Hunger Games. Karena hampir sama, dengan heroin cewek remaja biasa, distopia, menghadapi kekuasaan dan tiran lalu ada perang.
Awalnya gue skeptis dengan buku ini. Berdasarkan pengalaman gue dengan bacaan fantasi gue selama ini yang menurut gue high quality, gue enggak berharap terlalu banyak dengan Divergent. Ketika disandingin dengan THG, gue penasaran. Karena THG itu keren banget. Dan berhubung anaknya FOMO, jadilah baca dulu sebelum nanti nonton filmnya.
Surprisingly, I’m falling in love with Veronica’s writing style. To the point dan lugas. That’s why I love it. Dan ini yang jadi faktor penentu kenapa gue bertahan.
Karena ceritanya sendiri menimbulkan banyak pertanyaan. Premisnya oke, tentang kehidupan di masa depan. Tipikal distopialah. Dan gue suka dengan premisnya. Cuma agak terganggu dengan eksekusinya. Dari awal sampai ¾ bagian itu terasa lamaaaa banget. Kita ngikutin gimana masa inisiasi Tris. Seakan-akan kita diajak untuk berpikir kalau semua isi buku terpusat ke perjuangan Tris adaptasi dengan kehidupan Dauntless yang beda banget dengan Abnegation.
Ternyata, ada twist di seperempat akhir. Puncak cerita. Perang di mana-mana. Dan ini terjadinya mendadak. Lalu alur berubah cepaaaaat banget. kontras bangetlah dengan alur ¾ awal buku. Saking cepatnya, ada beberapa bagian yang kurang penjelasan. Ini bikin gue gregetan. Positive thinkingnya adalah, semoga ada penjelasan nanti di buku selanjutnya. Karena menurut gue kemungkinan cerita dikembangin itu banyak banget.
Dan yang bikin gue gondok setengah mati adalah adegan sadarnya Four. Jadi ceritanya Four ini sedang di bawah pengaruh si tokoh jahat dan dia enggak bisa ngebedain mana teman mana musuh. Ketika hadap-hadapan dengan Tris, dia bermaksud bunuh Tris. Tris yang harusnya, normalnya orang berpikir adalah, membunuh Four karena nyawanya terancam malah diam aja, sambil ngebathin minta Four buat sadar. Dan jeng jeng jeng, Four sadar aja gitu. Dan ngomong “I just heard your voice.” Man, ini novel action kok malah di adegan sepenting ini jadi cheesy banget?
Dan kemudian mereka mesra-mesraan. Gue ngelihatnya sebagai anak yang selama 16 tahun dikekang dengan banyak aturan enggak boleh ini enggak boleh itu, lalu saat dilepas jadi bablas. Nah Tris gitu. Di Abnegation dia enggak boleh nunjukin diri sendiri, enggak boleh menonjol. Eh pas masuk Dauntless langsung aja mesra-mesraan.
Jujur gue terganggu dengan adegan cintanya ini.
Dan enggak nemu aja gue awal-awal tumbuhnya chemistry.
Tapi itu enggak membuat gue berhenti di buku satu. Secara anaknya anti berhenti di tengah-tengah kalau baca serial, tetap lanjut ke Insurgent, buku kedua. Sambil berharap semoga banyak jawaban yang gue temuin di sini. Dan so far gue baca Insurgent lebih lancar. Sampai udah di tengah-tengah, gue suka. Karena alurnya teratur. Dan lebih banyak aksi. Reviewnya menyusul yak abis selesai baca.
But most of all, I can’t hardly wait to see this movie. Soalnya ada Ansel Elgort di sana, mwehehehe. Plus ternyata yang jadi Four cakep bingit kak. Si Theo James. Sukak.
This is dedek Ansel as Caleb Prior. Sukak.
A
And this is Tobias 'Four' Easton. Mas macho ganteng, Theo James. Sukak.



Thursday, February 20, 2014

After Work Hard, We Need To Play Hard

After Work Hard, We Need To Play Hard





Waktu itu gue lagi di Abu Dhabi ngikutin global conference utusan dari kantor. Berhubung lagi di luar jadi cuma bisa ngandelin wi fi di hotel ya bo, he-he-he. Karena itu, gue enggak terlalu in touch sama internet. Mana kegiatan di sana bikin gue sering lupa sama handphone juga.
Suatu waktu, pas gue lagi di lobi hotel nunggu jadwal kita mau desert safari (tulisan liburan slash kerja ini bakal diposting terpisah), isenglah gue ngecek email. Mata gue tertumbuk ke satu nama. Sebuh saja Miss N. Awalnya gue ignorance karena agak ngantuk dan capek, jadi enggak terlalu ngeh subjek emailnya apa. Tapi pas gue buka, mata gue yang awalnya cuma 5 watt langsung nyala.
Isinya tawaran untuk nerbitin novel gue di salah satu penerbit besar—sebut saja BP. Gue sampai kaget dan mikir, kapan gue ngirim naskah ke sana? Ternyata itu naskah yang gue tulis tahun lalu dan diikutkan sebagai peserta lomba yang diadakan penerbit tersebut. Gue pun memutar otak mikirin naskah yang dimaksud dan hasilnya… nihil.
Oke, itu hanya intro karena ceritanya enggak terfokus ke naskah tersebut, melainkan ke hal-hal yang gue alamin tahun lalu.
Gue inget banget tahun 2013 kemarin gue laluin dengan kerja, kerja, dan kerja. Banyak hal berarti yang terjadi di tahun lalu. Nerbitin buku pertama (duet) dan pindah kerja ke tempat yang lebih baik. kehidupan gue pun ikut berubah and I like it. Tahun lalu juga pertama kalinya gue mencoba menjadi seorang editor untuk novel remaja.
Jika diibaratkan dalam dua kata, tahun lalu adalah work hard.
Pertama, gue adaptasi dengan pekerjaan baru. dunia remaja yang selama ini enggak gue sentuh akhirnya malah jadi keseharian gue. Gue harus struggling dengan sistem kerja baru, lingkungan baru, pekerjaan baru. It’s hard by the way. Di sisi lain, gue juga struggling dengan hobi gue, menulis.
Tahun lalu itu ada banyak banget lomba yang diadain penerbit. Berhubung waktu itu di kantor lama gue serasa punya waktu berlebih, atau entah karena guenya yang terlalu ambisius, gue ikut hampir semua lomba. Yang gue ingat diantaranya lomba Qanita (gue masuk 20 besar), lomba Amore Gramedia (gagal), lomba Wanita Punya Cerita Bentang Pustaka (gagal), lomba Teen And Young Adult Bukune (juara 1), lomba Passion Show Bentang Belia (gagal), dan yang lainnya yang enggak gue ingat. Karena itu, tahun 2013 jadi tahun paling produktif yang pernah gue lewatin.
Dan ditambah tawaran dari Noura Books untuk menulis novel remaja sebagai bagian dari Festival Series mereka.
Jadi, tahun lalu buat gue hanya kerja, kerja, dan kerja.
But I like it (yang bikin gue sekarang merindukan saat-sata berkencan dengan tokoh baru dalam tulisan gue).
Seperti kata pepatah, siapa yang menebar benih akan menuai hasil (bener enggak sih pepatahnya?). Hasil kerja keras yang gue lakuin tahun lalu terbayar di tahun ini.
I’ve got a better job. Gue bisa jalan-jalan ke luar negeri karena pekerjaan ini, which is, berkaca dari rekening gue yang sering menangis, enggak bakallah gue bisa ke UAE dalam waktu dekat.
Novel kedua gue terbit Februari ini. Novel Do Rio Com Amore yang diterbitin Noura Books, yang gue tulis tahun lalu, saat gue harus struggling dengan tanggung jawab baru di kantor karena gue enggak hanya nulis buat print, tapi online juga. I’m proud of myself. Ketika melihat novel itu jadi, masa-masa gue enggak tidur jadi kebayar. Dan yang paling bikin gue bangga, ternyata gue bisa me-manage waktu dengan baik. Kerjaan lancar, novel lanjut. Wohoo….
Ketiga, novel pertama yang gue edit terbit. Judulnya Love Puzzle dari Eva Sri Rahayu, terbitan Noura Books. Satu lagi hasil kerja keras di tahun 2013.
Keempat, novel selanjutnya dari Bukune. Menurut jadwal dari editor gue, Mbak Iwid, terbit sekitar Juni. Baguslah, jadi gue bisa napas dulu setelah berjibaku dengan ngedit Do Rio, he-he-he.
Dan yang kelima tentu aja email dari Mbak N dari penerbit BP. Meski lagi hectic, jelas gue enggak bisa nolak tawaran ini (yaiyalah, mana ada yang mau nolak berita bagus ini).
Berhubung tahun lalu isinya adalah work hard, maka tahun ini pengin menyeimbangkan dengan play hard meski enggak hard-hard banget karena terbentur masalah dana, he-he-he. Jadi kakak-kakak yang mau liburan, monggo lho eike diajak (tag Lescha dan rencana kita. Moga jadi moga jadi meski mungkin gue cengo pas itu, hi-hi).
Berkaca dari tahun lalu yang isinya hanya work hard tanpa play hard, baiknya tahun ini diseimbangkan. Because after work hard, we need tp play hard. Karena ketika play hard pun masih ada kerjaan yang harus diselesaiin. Yaitu ngedit. Which is ngedit tulisan sendiri jauuuuh lebih susah daripada nulis baru.
Jadi, biar enggak stress, tahun ini mari bersenang-senangggg…

Thursday, February 6, 2014

Book Review #3 Second Chance Summer - Morgan Matson

Second Chance Summer
Morgan Matson





Meet Taylor Edwards, cewek 17 tahun yang selama lima tahun enggak pernah kembali ke rumah peristirahatan keluarganya di Pocono Mountains. Tapi di musim panas ini, orangtuanya mengajak mereka kembali ke sana. Karena pengin menghabiskan waktu sebagai keluarga utuh. Mungkin untuk yang terakhir kalinya.
Karena ayahnya menderita kanker pankreas.
Selama ini, keluarga Edwards sibuk dengan kegiatan masing-masing. Karena itu, ayahnya pengin mereka menghabiskan waktu bersama.
Masalahnya, Taylor meninggalkan kenangan enggak baik di Pocono Mountain. Lima tahun lalu, waktu dia lari dari masalah. Meninggalkan Henry Crosby, pacar pertamanya, dan Lucy, sahabat baiknya, dalam keadaan terluka.
Kembali ke Pocono enggak hanya membuat Taylor menjadi tambah dekat dengan ayahnya, tapi juga memperbaiki masa lalunya.
I love this book (meski bacanya agak tersendat karena sibuk. Tsahhh).
Gue beli buku ini tanpa pertimbangan apa-apa. Tanpa tahu siapa Morgan Matson. Tanpa pernah baca review sebelumnya. Tanpa tahu seperti buku ini. Simply karena gue suka covernya pas enggak sengaja lihat waktu main ke Aksara. Jadi, deh, beli gitu aja. Tapi ternyata bukunya baguuuuussss bingit kak. Enggak nyesel, deh.
Gue suka karakteristik Taylor. Enggak gengges, he-he-he. Dan inti buku ini utamanya adalah masalah keluarga. Gue suka gimana Taylor menolak untuk percaya penyakit bokapnya. Tapi lama kelamaan, dia melihat sendiri gimana penyakit itu menggerogoti bokapnya, membuat dia mau enggak mau harus percaya. Taylor punya kebiasaan kabur ketika ada masalah. Dan untuk masalah ini, dia mencoba kabur dengan memilih enggak percaya. But in the end of the day, she have to admit that she never run again.
Enggak hanya dari masalah keluarga, dia juga enggak bisa lari lagi dari masalahnya dengan Henry dan Lucy. Karena Henry adalah tetangganya dan Lucy malah jadi rekan kerjanya.
Gue suka gimana perlahan-lahan Taylor dan Lucy kembali bersahabat. Gimana Taylor dan Henry kembali berdamai. Dan Morgan enggak memberikan penjelasan langsung sekaligus, melainkan bertahap. Jadi, dijamin akan bikin penasaran dengan apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu antara Henry-Taylor-Lucy. Ketebak, sih, tapi tetap bikin penasaran. Dan semuanya terkuak di sepertiga akhir. Penempatan adegan flashback terasa pas dan enggak bikin pusing. Dan, kaitan dengan masa sekarangnya enggak maksa.
Kisah cintanya enggak terlalu dominan di sini, karena lebih fokus ke masalah keluarga. Meski banyak tokoh terlibat, semuanya saling terhubung dengan benang yang jelas dan keberadaan mereka penting.
Awalnya alur terasa lama karena menceritakan kisah keseharian Taylor. Tapi lama-lama jadi tambah cepat, apalagi di sepertiga akhir. Dan sepertiga akhir ini juga banjir air mata. (Jadi pengin pukpuk Taylor).
Dan baca novel ini jadi pengin tinggal di Pocono.
Mungkin yang sedikit mengganggu buat gue adalah nama Taylor. Karena bikin gue kebayangnya Taylor Swift. Which is gue enggak terlalu suka sama Swift. Somehow, Taylor jadi terlihat gengges pas gue keingat Swift. Jadi, harus susah payah dulu buat fokus ini bukan Swift biar enggak keganggu pas baca haha.
Intinya, buat yang pengin baca novel yang heartwarming, enggak menye-menye, bisa banget intip novel ini. jadi penasaran mau baca novel Morgan Matson lainnya (ini pengalaman pertama baca novel Morgan).

Review #2 Point of Retreat - Colleen Hoover

Point of Retreat
Colleen Hoover





Kehidupan Layken dan Will enggak berakhir di Slammed. Colleen Hoover mengajak kita mencaritahu apa yang terjadi setelah Lake lulus sekolah, ibunya meninggal, dan dia menjadi wali Kel. Plus, hubungan cintanya dengan Will.
Lake dan Will sudah kuliah. Mereka membagi waktu seadil mungkin agar enggak sama-sama kuliah jadi ada waktu untuk menjaga adik mereka, Kel dan Caulder. Jika Slammed diceritakan berdasarkan PoV Lake, Point of Retreat diceritakan dari PoV Will. Jadi, kita bisa lebih mengenal Will karena selama di Slammed ada banyak pemikiran Will yang enggak kebaca karena hanya diceritakan dari sudut pandang Lake.
Di kampus, Will ketemu mantan pacarnya (lupa namanya. Bacanya udah bulan lalu soalnya). Merasa enggak bakal ada masalah sama si mantan, Will enggak cerita sama Lake. Tapi, ketika mereka merencanakan makan malam di rumah Will, si mantan datang. Dan Lake salah paham. Ketika dijelasin, Lake jadi kepengaruh ucapan si mantan.
Si mantan yang mempertanyakan apa iya Will mencintai Lake, atau justru kasihan dan merasa mereka harus ebrsama karena kesamaan nasib. You know, ditinggal mati orangtua saat remaja dan jadi wali adik yang maish kecil.
Dibantu Eddie, Gavin, Kel, Caulder, dan Kirsten, tetangga mereka sekaligus teman sekolah Kel dan Caulder yang jauh lebih dewasa dibanding umurnya, Will mencoba merebut kembali hati Lake di club sambil Slam. Dia berhasil. Mereka bahagia.
Cerita selesai sampai di sana?
Eits, tunggu dulu. Colleen Hoover punya kejutan untuk kita di paruh kedua novel ini.
So, what I like about this novel? Simply because I love Slammed and I want to know what happens next? And I want to know about Will too. Di awal-awal, kita disuguhi PDA Will dan Lake, sapai-sampai Kel dan Caulder suka mengernyit jijik pas melihat mereka, hi-hi-hi. Lalu masalah si mantan. Baikan. Dan kejutan yang diberikan Colleen.
Kayaknya Colleen suka deh memberi kejutan di paruh kedua buku.
But, sorry to say Colleen, I don’t like this twist. Terlalu memanjang-manjangkan masalah. Well, sebenarnya cerita di buku ini cuma memanjang-manjangkan masalah yang sebenarnya sudah selesai di Slammed sih. Jahatnya gue, coba itu Colleen kasih aja satu bab epilog di bagian akhir Slammed dari sudur pandang Will. Kelar cerita, he-he-he.
Tapi, kenapa gue bertahan membacanya? Simply karena gue suka gaya menulis Colleen Hoover. Dan karena gue suka Will. Sayangnya di sini dikit adegan Slam-nya.
Di antara kedua buku ini, gue lebih suka Slammed. Jika Colleen Hoover berniat menulis kelanjutan kisah mereka setelah menikah, well, gue bakalan berpikir seribu kali buat baca. Udah cukup selesai sampai di Slammed aja.
Tapi kalau yang mau membaca cerita ringan dan HEA, buku ini worth to try kok.