Review #22 Melbourne by Winna Efendi

Melbourne
Winna Efendi





This is the story about the one that got away.
Max kembali ke Melbourne, kota yang dulu ditinggalkannya. Dia pun bertemu dengan Laura lewat sebuah siaran radio. Hal itu memutar kembali kenangan yang pernah dilewatinya bersama Laura di kota itu. Mereka kembali bersahabat.
Bisakan sepasang mantan kekasih bersahabat?
Setidaknya, itulah tema besar dari novel Melbourne karangan Winna Efendi ini.
Fix, telat banget gue baru baca novel ini sekarang, setelah hype STPC selesai. And I like this novel. Very very very like it. Kesan yang gue tangkap selama membaca novel ini tuh sendu, sesuai dengan gaya menulis Winna yang lembut dan unsur di dalam novel itu sendiri (perasaan yang sama yang gue rasain setelah membaca London karangan Windry Ramadhina).
I’m not a huge fans of Winna Efendi. Malah pengalaman pertama gue baca buku Winna, Ai, sama sekali enggak berbekas. I don’t like Ai. Baru di Remember When gue mulai suka sama Winna. Tapi di Melbourne ini, gue head over heels sama Winna. Gue serasa beneran dibawa ke sana oleh Winna, nongkrong tengah malam di Prudence atau keliling Melbourne dengan mobil.
I love Max and Laura. Kedua karakter ini memang gampang banget membuat siapa saja jatuh cinta kepadanya. Giant-real-size Teddy Bear aka Max yang selalu ada buat Laura, cewek yang dicintainya. Juga Laura, quirky girl yang lovable. Gue suka dengan Laura, enggak gengges meski miserable. Gue suka selera musiknya yang aneh tapi bikin dia makin berkarakter.
Dan gue suka sama suasana Melbourne yang ditampilkan Winna. Memang sih kota ini menarik banget sehingga cerita apapun pasti jadi menarik, he-he. Tapi gue suka tone cerita yang sesuai dengan keadaan kota itu. Beberapa tempat digambarkan pas, enggak terlalu mendetail sehingga enggak kayak baca buku panduan wisata.
Satu hal yang bikin gue iri adalah gaya menulis Winna. Dia bisa menulis dengan lembut tanpa menye-menye dan enggak lebay. Pengin sih suatu hari nanti menulis kayak gini.
Oh, kelebihan lainnya, profesi yang enggak pasaran. Two thumbs up buat riset Winna soal arsitek cahaya ini. Kece. Bikin gue jadi mikirin konser-konser yang pernah didatengin dan terpukau sama lighting. Mungkin, ada Max di sana *ngarep haha*
Kalau ada kekurangan, mungkin skip di satu hal aja. Winna menuliskan tentang lagu Someday We’ll Know yang dia dengar dinyanyiin oleh Mandy Moore di film A Moment To Remember. Kak, filmnya A Walk To Remember. A Moment To Remember mah film Korea yang syedih banget itu, he-he. *bener kan ya?* Skip di hal simpel tapi fatal sik (dan kenapa pula gue tumben-tumbenan bisa teliti haha)
Overall, gue puas sama novel ini. sukaaa banget. terutama lagu-lagunya, he-he.

Comments

Popular Posts